Title : A Pieces Of My Heart
Main Cast(s) : Sehun & Luhan
Support Cast(s) : EXO members
Pairing : all EXO couples
Author : Xi Nu Rin
Genre : Sad, School Life, brothership, friendship, action, Bad Boys
Rate : T
Lenght : CHAPTERS
Summary : "if you loved me so much, why you walked away?"
Warning : Typo bertebaran di mana-mana, ambrul adul, tak sesuai EYD, panjang overdosis
A/N :
FF ini FF ketiga author tentang HunHan terinspirasi dari novel yang author baca sampe buat author kejer2 T^T pengen banget bisa buat orang nangis-nangis juga #hoho.
Oh yeah, disini author buat member EXO jadi manly yaak #mimisan. Kalian akan mendapatkan perubahan sikap dari sosok sosok member EXO yang pada kalem2 *tahu siapa yang author maksud kan?* jadiii, selamat membaca!
IZIN, SHARE, COPY, SALIN, SEMUANYA HARUS IZIN DENGAN AUTHOR!
FANFIC INI 100% MURNI DARI HASIL PEMIKIRAN OTAK SEMPIT AUTHOR!
CERITA MILIK AUTHOR,CASTS MILIK YANG DIATAS DAN LUHAN MILIK AUTHOR #PLAAK
Hai!
Alhamdulillah ternyata ada juga yang suka fanfic saya hihi.
Karena yang reviews lumayan lah, jadi author next dongg~
Kebetulan sudah masuk tahap libur panjang (habis UN) jadi ada waktu banyaak yehet\m/
Oh yah mianhae, ini fanfic chapters yahh T^T maaf itu lupa di edit. Awalnya emang mau oneshoot, tapi kepanjangan-_-
Buat yang udah reviews, follow, and faves neomu kamsahamnida *bow.
Ini bukan insect yah hihi. Belum berani nulis genre yang dangerous gitu. Maklum rookie T^T
Tapi kalau reviews nya makin banyak, mungkin bakalan ganti genre di tengah jalan, entahlah, hanya tuhan yang tau *eh.
Thanks buat yang udah read fanfic saya!
TAPI SEKALI LAGI, PLS NO DARK READERS!
.
.
.
.
.
.
.
THIS IS EXO FANFICTION
.
.
.
.
.
.
.
IF YOU DIDN'T LIKE EXO CLOSE THE TAB
.
.
.
.
.
.
.
THIS IS HUNHAN BROTHERSHIP
.
.
.
.
.
.
.
DONT BE A SILENT READERS PLEASE
.
.
.
.
.
REVIEWS JUSEYO
.
.
.
.
.
CHAPTER2
.
.
.
HAPPY READING~
~The Pieces Of My Heart~
"Jangan memberontak! Ikut saya!"
Suara tinggi Suho seongsaenim menggema di seluruh sekolah. Sehun menoleh ke arah pintu. Dia tahu apa yang terjadi.
"Ampun, Seongsaenim! Jangan hukum saya!"
Mendengar suara tersebut, seluruh mata spontan tertuju kepada Sehun. Sehun hanya mendesah kesal. Kakaknya itu, selalu saja menjadi pusat perhatian.
Sehun berdiri dari bangkunya, dan berjalan menuju pintu kelas. Guru yang sedang menulis di papan tulis tak dihiraukannya. Tak ada yang mempedulikan Sehun, mereka sudah sering melihat kejadian ini. Saat dimana Luhan dihukum dan Sehun akan keluar dan membantunya.
Sehun berdiri di ambang pintu, menatap Suho seongsaenim yang terus berjalan sembari menjewer telinga kiri Luhan dan mengaraknya menuju kantor. Sehun bersandar di dinding dan mendengus sebal. Dia yakin, Luhan dihukum karena tak datang ke sekolah lagi selama seminggu. Sehun berjalan menuju kantor dengan langkah gontai. Dia tak suka melihat kakaknya diperlakukan seperti itu.
Setelah 15 menit menunggu, Luhan keluar dari kantor dengan wajah yang cemberut sambil meringis kesakitan. Tangannya menggenggam Kain pel dan sapu. Sehun tersenyum. Kakaknya yang seperti ini, dia sangat senang melihatnya.
Luhan hampir saja terjatuh karena terkejut melihat Sehun yang kini sudah berada di hadapannya. Dia menggerutu kesal dan memegang dadanya.
"Tak bisakah kau berhenti mengejutkanku, babo?" gerutu Luhan kesal. Sehun hanya mengangkat bahunya dan segera mengambil kain pel yang berada digenggaman Luhan. Luhan terdiam, lalu kemudian tersenyum.
"Kau akan membantuku?" tanya Luhan dengan wajah berbinar-binar. Sehun mencibir.
"Jangan bersikap seolah-olah aku tak pernah membantumu, Lu." Jawab Sehun kesal. Luhan hanya tertawa lalu berjalan mendahului Sehun menuju kamar mandi. Yeah, Luhan diberikan hukuman untuk membersihkan SELURUH kamar mandi di sekolah mereka. Dan tentu saja Sehun tak kan membiarkan itu, walau Luhan bersikeras akan menyelesaikannya sendiri karena merasa dirinya macho. Setiap kali Luhan mengatakan hal itu, Sehun hanya mendengus kesal. Kakaknya ini sangatlah overconfident.
"Darimana saja kau kemarin?"
Sehun memulai percakapan saat mereka berdua sedang membersihkan kamar mandi.
"Aku yakin kau tahu jawabannya." Jawab Luhan singkat. Sehun menghela napas.
"Sudah kubilang, berhenti Lu."
"Kau mengenalku, anak kecil." Ucap Luhan dengan senyuman menggoda diakhir katanya. Sehun memutar bola matanya malas. Disaat dirinya hendak berbicara serius, Luhan justru menanggapinya dengan bercanda.
"Eomma dan appa menghawatirkanmu."
Perkataan Sehun barusan sukses membuat aktifitas Luhan berhenti sejenak. Luhan menghela napas pelan. Ditatapnya wajahnya melalui cermin yang berada di hadapan mereka berdua. Sehun ikut menolehkan wajahnya, namun tak jadi karena melihat sorot mata Luhan yang berubah drastis. Dia tak ingin melihat sorot mata penuh kebencian itu.
"Mereka tak pernah peduli."
"Kau salah, Hyung. Kau tak pernah mengetahui perasaan mereka."
"Justru kau lah yang tak mengerti semua ini."
"Aku hanya ingin kau bahagia, Hyung."
"Bahagia?"
Luhan melangkahkan kaki nya semakin mendekat ke arah cermin. Tangannya menyentuh cermin tersebut, seolah-olah menyentuh dirinya sendiri.
"Tak ada kebahagiaan di kamusku, bocah." Luhan menyentuh matanya melalui cermin tersebut. "Dan menurutku, keadaan yang seperti ini merupakan kebahagiaanku." Lanjutnya.
"Mata ini.. telah dipenuhi dendam."
Sehun menutup matanya. Hati nya tak sanggup melihat tatapan itu. Dia tak mampu melihat kakaknya yang berubah menjadi iblis melalui sorot mata tajamnya. Seandainya Sehun bisa menangis, mungkin dia telah menangis sekarang.
"Yak Oh Sehun! Kau bilang kau akan membantuku, kan!?"
Lengkingan suara Luhan menyadarkan Sehun dari lamunannya. Dia mengangguk pelan lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
- 0 – 0 – 0 –
Sehun berjalan gontai menuju kantin sekolah. Badannya terasa pegal setelah membantu kakaknya membersihkan kamar mandi selama 30 menit. Wajah Sehun menjadi lesu. Luhan yang di sampingnya hanya tersenyum senang. Dari raut wajahnya, terlihat jelas guratan-guratan kasih sayang yang dia berikan kepada Sehun. Namun semakin kau perhatikan, guratan itu juga menggambarkan keangkuhan Luhan dan juga tatapan dinginnya.
"Dasar manja. Baru begitu saja, kau sudah kelelahan." Cibir Luhan. Sehun hanya meliriknya sinis.
"Temani aku makan, Lu."
"Aku tak bisa, bocah kecil. Aku tak ingin makan bersama adikku yang manja ini. Itu merusak imageku." Jawab Luhan dengan nada menggoda. Wajah Sehun merah padam.
"Yak! Aku bukan bocah kecil! Dan lagi, aku tak manja!" hardik Sehun kasar. Alhasil seluruh manusia yang berada di koridor sekolah menjadikan mereka sebagai pusat perhatian. Namun sebenarnya, kehadiran mereka berdua selalu disoroti para siswa-siswi di sekolah ini. Terutama para siswinya. Tak ada yang tak mengagumi sosok namja rupawan seperti mereka berdua. Kadang kala, kalau mood Luhan sedang baik, dia akan menyapa gadis-gadis tersebut dan membuat mereka berteriak histeris.
"Arraseo. Kau ini, begitu saja marah. Dasar bocah."
Perkataan Luhan membuat wajah Sehun semakin kusut. Setiap kali dia jalan dengan Luhan, entah kenapa mood nya tak pernah membaik. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, moment seperti ini merupakan hal terindah yang pernah dia rasakan. Dia tak pernah merasakan kasih sayang seorang kakak, karena itu, saat Luhan sedang baik, Sehun pasti akan merasa senang. Karena Luhan akan menemani kesendiriannya seharian. Dan Sehun berharap, ini akan berjalan selamanya.
Setelah sampai di kantin, teriakan histeris dari beberapa gadis yang melihat kemunculan Luhan memecahkan keheningan. Luhan tersenyum kepada mereka. Sehun mencibir kesal.
"Luhan!"
Luhan menoleh. Bibirnya langsung tertarik mengukir senyuman yang sangat manis di wajahnya. Melihat kakaknya tersenyum seperti itu, Sehun tertegun. Dia lupa kapan saat terakhir kali dia melihat Luhan yang tersenyum seceria itu. Sehun tersenyum tipis. Saat Luhan bahagia, dia juga akan bahagia.
"Yo~ Byun Baekhyun~"
Sehun segera menghampiri kakaknya yang kini duduk di kelilingi teman sekelasnya. Luhan segera memberikan tempat kepada Sehun di sampingnya. Adik kesayangannya ini memang selalu ikut kemanapun Luhan pergi saat mereka di sekolah. Namun, Luhan tak merasa risih. Karena dia tahu, adiknya itu kesepian.
"Darimana saja kau? Sudah satu minggu kau tak masuk." Cerocos seorang namja mungil dan berwajah cute dihadapan Luhan saat pesanan mereka telah datang.
"Aku dari berlibur bersama Orang tuaku." Jawab Luhan singkat dan hampir membuat Sehun tersedak. Namun, dia tahu. Kakaknya ini memang tak pernah mengatakan hal yang sebenarnya kepada orang yang hanya dia anggap teman biasa. Luhan terkenal cukup misterius di sekolah, begitupula dengan Sehun. Sifat mereka yang dingin dan seolah tak peduli membuat banyak orang yang penasaran akan kehidupan mereka yang sebenarnya.
"Kenapa adikmu tak ikut?." Seorang namja berwajah dingin dan bertubuh tinggi besar yang duduk disamping kiri Baekhyun bertanya. Luhan melirik Sehun sekilas.
"Dia ada ulangan. Oh yah Kris, lama tak jumpa. Annyeong!" Sapa Luhan dengan riang. Tangan kirinya diulurkan ke depan Kris membuat namja itu tersentak kaget.
"Eh?."
Sehun menatap kakaknya heran. Begitupula dengan Baekhyun dan Kris yang terkejut melihat perubahan sikap Luhan. Luhan yang merasa dilihati memasang wajah bingung.
"Kalian kenapa?." Tanya Luhan heran. Kris menjadi gelalapan, Baekhyun berdehem pelan dan kembali melanjutkan makannya, sementara Sehun memutar bola matanya malas. Kakaknya ini, benar-benar bodoh.
"Ssst, Sehun, Apa ada yang salah?"
Luhan menyikut sikut Sehun yang berada disampingnya dengan pelan. Sehun hanya mengangkat bahu malas dan mengacuhkan Luhan.
"Ka-"
"Oh-ssi!"
Belum sempat Sehun membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Luhan, sebuah suara sudah lebih dahulu mendahuluinya. Spontan Sehun dan Luhan membalikkan badannya, menoleh ke arah suara. Namun bukan hanya Duo Oh itu, hampir seluruh penghuni kantin pun menoleh. Tentu saja, suara orang tersebut sangatlah besar. Dan lagi dia memanggil dengan sebutan Oh, yang merupakan satu-satunya marga di sekolah ini. Marga anak pemilik sekolah.
"Yo Luhan~"
Lanjut pria tersebut sambil berjalan dengan riang menuju kearah mereka berempat yang sedang duduk di pojok ruangan. Bibir Luhan tertarik membentuk senyuman manis. Dia melambaikan tangan mungilnya kearah pria tersebut. Park Chanyeol—orang yang memanggil mereka. Sehun membuang mukanya begitu tahu siapa yang memanggil marga mereka. Pandangannya beralih kepada pria yang kini terlihat gelisah dihadapannya. Kening Sehun berkerut. Byun Baekhyun?
"Annyeong Brother~" Luhan menyapa Chanyeol dengan riang begitu pria tersebut telah berdiri dihadapan mereka berempat. Sehun melirik Chanyeol sekilas, lalu kembali berkutat dengan gadgetnya. Kris hanya berdehem ria sementara Baekhyun terlihat sangat gelisah. Chanyeol memasang cengiran khasnya dan menatap mereka satu-satu. Mencari tempat duduk yang kosong. Retina mata Chanyeol menangkap sebuah bangku kosong yang berada tepat di samping Baekhyun. Cengiran bodohnya kini berganti menjadi smirk aneh. Baekhyun yang merasa dilihati semakin gelisah.
"Aku duduk disini oke? Taeyeon's boyfriend~"
"Uhuk!"
Perkataan konyol Chanyeol sukses membuat Kris, Luhan, dan Baekhyun tersedak. Ketiga pria itu tampak SANGAT terkejut dengan kalimat yang namja jangkung itu ucapkan. Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan yang sulit diartikan. Kris memasang wajah heran dan Luhan melirik Baekhyun tajam. Chanyeol yang sama sekali tak merasa bersalah itu dengan entengnya duduk disamping Baekhyun dan meminum ice coffee latte yang dipesannya. Dia sama sekali tak menghiraukan tatapan tak suka dari ketiga teman sekelasnya. Terutama Byun Baekhyun.
"A-Apa maksudmu,babo!?" bentak Baekhyun kasar. Chanyeol melirik Baekhyun, lalu tersenyum aneh dan membuat Baekhyun muak.
"Come on, Byun Baekhyun-ssi. Jangan berpura-pura menjadi anak suci. Berita ini sebentar lagi akan tersebar, kalau kau adalah pacar dari sosok wanita bitch itu." Jawab Chanyeol santai. Baekhyun melototkan matanya mendengar perkataan yang diucapkan pria yang selalu mengganggu hidupnya itu.
"Jaga ucapanmu, bodoh!"
"Oh.. apa kau akan tetap mengelak, Taeyeon-ssi?"
"Berhenti!"
"Bagaimana kalau aku tak mau?."
Sehun memutar bola matanya malas. Ini salah satu alasan kenapa dia tak pernah ingin duduk bersama teman-teman kakaknya. Mereka hobi berdebat. Dan perdebatan mereka tak pernah dimengerti oleh Sehun.
"Kau hanya anak haram! Jadi berhenti!"
"YAK!"
Baekhyun terlonjak kaget begitu mendengar teriakan keras dari Chanyeol. Spontan kedua tangan mungil nya membungkam mulutnya. Baekhyun sadar, dia mengucapkan kata yang seharusnya tak dia ucapkan. Akibat emosinya yang meluap-luap, dia jadi menyakiti Chanyeol. Menyebutkan satu kata yang selalu berhasil membuat Chanyeol menjadi sosok yang berbeda.
Mereka berlima kini kembali menjadi pusat perhatian. Sehun berdecak malas dan Luhan berlagak acuh sambil memakan nachos yang dipesannya. Chanyeol menarik napas dalam-dalam dan menatap Baekhyun dengan tatapan tajam. Baekhyun menundukkan kepalanya ketakutan.
"M-maaf.." lirih Baekhyun pelan.
"Kau tahu? Perkataanmu itu tidak lucu." Ucap Chanyeol dingin. Tatapannya tajam. Menusuk ulu hati Baekhyun yang paling dalam. Chanyeol tampak sangat berbeda. Tadinya dia sangat ceria, namun sekarang dia menjadi sosok pria yang berhati dingin. Sedingin es.
Chanyeol beranjak dari kursinya. Baekhyun mendongakkan kepalanya. Masih ketakutan.
"Ayolah Park Chanyeol, jangan jadi kekanak-kanakan begitu. Sudah kenyataan kan? Kalau kau memang anak haram?"
Perkataan Luhan yang terdengar polos namun menusuk itu seakan membuat siapapun yang mendengarnya akan tercekat kaget. Begitupula dengan Chanyeol yang shock mendengar perkataan Luhan. Sehun hanya menarik napas dalam-dalam. Kakaknya memang begitu. Frontal.
"L-Luhan?"
Baekhyun menatap Luhan tak percaya. Wajah anak itu pucat pasi. Keringat mengalir di pelipisnya. Dia tak ingin mendengar Luhan dan Chanyeol berdebat. Itu menyeramkan.
"Aku tahu itu, Oh-ssi." Jawab Chanyeol singkat dan dingin. Keempat pria tersebut mengalihkan perhatian mereka kepada Chanyeol. Pria itu kini kembali duduk disamping Baekhyun dan menyeruput ice coffee latte nya dengan tenang. Seolah tak ada yang terjadi sebelumnya. Baekhyun tercengang kaget, namun kemudian menghela napas lega. Kris bersikap tak peduli, begitupula dengan Luhan, sementara Sehun memandang keempat pria di hadapannya dengan heran. Selalu begini. Pertengkaran mereka selalu berakhir dengan sikap aneh seperti ini. Sehun tak pernah mengerti jalan pikiran mereka. Tadinya Chanyeol bersikap sangat dingin, namun stelah Luhan mengintrupsinya, dia kembali normal dan seceria ini? Apa Chanyeol takut kepada Luhan?. Atau, teman kakaknya ini adalah seorang pengidap autis?.
"Oh Sehun!"
Seruan Luhan membuat lamunan Sehun buyar. Dia menatap kakak nya dengan pandangan terkejut. Luhan hanya mencibir kesal.
"Sedaritadi gadgetmu bergetar dan kau sama sekali tak mengangkatnya. Ada apa denganmu, eoh?"
Sehun menjadi gelalapan dan segera mengangkat telfon tersebut tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"yeobeoseyo?"
"Sehun?"
Deg!
Sehun mengenali suara itu. Suara yang telah menghancurkan sahabat karibnya 1 tahun yang lalu. Suara yang selalu dibencinya. Sehun melesat pergi dari kakaknya dan teman-temannya. Dia tak ingin siapapun mendengar percakapannya dengan sosok yang bagaikan iblis tersebut.
"Apa mau mu?" tanya Sehun to the point ketika dia telah sampai ditempat sepi, belakang kantin. Orang yang meneleponnya terdiam sejenak.
"Apa kau sudah memikirkan tawaranku?."
Sehun menghela napas.
"Sudah. Aku sudah memikirkannya."
"Lalu?"
"Aku memutuskan untuk menolaknya, D.O-ssi."
Hening sesaat.
"apa kau serius?"
Sehun tertawa mengejek. Dia tak akan semudah itu dipengaruhi orang yang sudah menghancurkan hidup Kai. Sehun bukan orang bodoh seperti sahabatnya.
"sebenarnya aku masih heran dengan permintaanmu yang menawarkanku untuk menjadi model itu, Do Kyungsoo. Aku tak bisa secepat itu mempercayaimu."
Yang ditanya tertawa pelan. Namun terdengar menyeramkan.
"hanya karena aku membuat Kai menjadi bodoh sehingga kau tak mempercayaiku?"
Tangan Sehun mengepal erat. Ingin rasanya dia meninju kyungsoo.
"kau tak tahu penderitaan yang dialami kai setelah kepergianmu, brengsek."
Nada suara sehun menjadi dingin. Sedingin es dan itu membuatnya terlihat semakin menakutkan. Bahkan siswa-siswi yang sempat berlalu lalang disampingnya langsung lari terbirit-birit begitu merasakan aura gelap Sehun.
"ohh ceritakan padaku. Apa yang terjadi dengan Kkamjongie-ku?"
Wajah Sehun merah padam. Urat-urat ditangannya semakin kencang menandakan amarahnya benar-benar sudah dipuncaknya. Giginya bergetar hebat. Pria yang diajak bicaranya ini benar-benar seorang iblis.
"berhenti memanggil Kai dengan sebutan laknat itu. Dan jangan menelfonku lagi."
"hei hei hei, jangan terburu-buru seperti itu Oh-Sehun. Aku masih ingin berbicara denganmu."
Sehun mencibir.
"just go to hell, shit."
Pip
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
Haihaihai!
gimana chapters ini? Gaje yah? Duhh maafin author T^T
Ini otak pas ngetik lagi rada-rada lemot, jadi yahh gini.. mohon maaf yang ga dapet feelnya juga T^T
NEXT CHAP? REVIEWS!
kalo yang reviews banyak insya allah update nya bakalan sering-sering \m/
-XI RU LIN-
