yoo minna balik lagi nih author amatiran, update kilat nih. saya rasa gak perlu banyak basa-basi ya, soalnya ceritanya juga basi T_T

selamat membaca~

warning : author amatiran, fict abal-abal. mohon perhatian untuk menyiapkan kantung muntah.

rate : T

disclaimer : Naruto selalu milik masashi kishimoto

*promise*

Mentari pagi bersinar, kembali menyapa bumi dengan kehangatannya, pagi ini seharusnya menjadi pagi yang ceria seperti pagi-pagi biasanya tetapi tidak menurut sakura. bagaimana tidak? Jika lelaki yang sangat di cintainya membuatnya sedih khawatir setengah mati karena sudah dua hari belum sadarkan diri sampai sekarang, bahkan bukan hanya gadis itu yang cemas, begitupun juga dengan keluarga dan para sahabat sasuke.

"kaa-san, mengapa sasuke-kun belum juga sadar? Ada apa dengannya kaa-san?" tanya sakura pada uchiha mikoto yang juga sedang kebingungan.

"tak apa sakura, dokter bilang sasuke baik-baik saja" ucap mikoto, ibu sasuke sambil memeluk tubuh gadis mungil itu dan mengelus puncak kepalanya. Mencoba menenangkan sakura yang sudah ia anggap sebagai putri kandungnya sendiri.

Sakura kembali teringat kejadian kemarin saat sasuke jatu tak sadarkan diri, dan banyak sekali darah yang keluar dari hidung milik sasuke 'kau baik-baik sajakan sasuke-kun?' batinnya, dan tiba-tiba sakura teringat pada mendiang sang ibu yang menderita leukemia.

―flashback on―

Hari ini adalah akhir pekan, dimana orang-orang menghabiskan waktu bersama sahabat, kekasih atau keluarga seperti yang dilakukan oleh keluarga Haruno sekarang. Mereka bertiga sedang berpiknik di taman , terlihat sekali mereka adalah keluarga kecil yang bahagia. Kizashi dan mebuki haruno sangat bersyukur karena diberikan anugerah oleh kamisama yaitu seorang anak yang sangat cantik jelita, cerdas dan selalu ceria membuat keluarga itu menjadi penuh warna.

"kaa-san, aku ingin selai strawberry lagi" ucap gadis kecil itu, sambil menyodorkan roti tawar miliknya. lalu sang ibu mengolesi lagi selai strawberry ke roti sang putri.

"cukup sayang?" tanya sang ibu dengan senyum manisnya.

"cukup kaa-san, terimakasih" jawab sang putri, dengan senyum yang tak kalah manisnya.

"sama-sama sayang" mebuki haruno mengelus puncak kepala pink milik sakura dengan penuh perasaan sayang miliknya.

"tousan, besok umur saku genap dua belas tahun, boleh tidak saku ajak teman-teman saku untuk merayakannya di rumah kita?" tanya sakura.

"mmm.. bagaimana istriku, boleh tidak yaa putri kita ini merayakan ulang tahunnya besok dirumah?"ucap kizashi sambil meledek putri kesayangannya.

"tentu saja, apa sih yang tidak untuk putri kesayangan kita" sang ibu pun mengecup pipi manis anaknya, di ikuti pula oleh sang suami.

"terimakasih kaa-san, tousan. Saku sayang kalian" sakura mencium balik pipi kedua orang tuanya, gadis itu sangat menyayangi keluarganya melebihi apapun.

Keluarga kecil itu melanjutkan acara piknik bersama, dengan penuh canda dan tawa namun semua itu tak berlangsung lama, tiba-tiba ibu sakura merasakan kepalanya sangat pusing dan berat bibirnya pun menjadi sangat pucat. Kizashi haruno sang suami menjadi sangat khawatir saat mebuki haruno tiba-tiba saja pingsan tak sadarkan diri di tempat dan banyak mengeluarkan cairan merah berbau sengit seperti besi berkarat, sakura yang bingung dengan keadaan sang ibu yang lemah tak berdaya kemudian menangis karena khawatir terjadi sesuatu pada ibunya. Lalu kizashi haruno segera mengangkat tubuh ramping istri tercintanya itu menuju ke tempat parkir mobilnya dan menyuruh sakura mengikutinya segera ia masukkan sang istri kedalam mobil, ia nyalakan mesin mobilnya dan langsung melesat menuju rumah sakit.

"tousan, ada apa dengan kaa-san?" tanya gadis kecil itu dengan air mata yang berlinang di pipi manisnya.

"to-tousan tidak tau saku" jawab ayahnya yang tak kalah panik.

Sesampainya di rumah sakit, kizashi haruno langsung memanggil suster untuk segera mengurus istrinya. Dua jam sudah ayah dan anak itu menunggu di ruang tunggu, kizashi terus menenangkan putrinya yang masih menangis dalam rengkuhannya. Perlahan sang gadispun memejamkan matanya yang lelah karena tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.

.

.

.

Malam telah berganti, sang rembulan telah kembali beristirahat setelah semalaman menerangi bumi dan di gantikan oleh sang surya yang mulai menampakkan cahanyanya. Membangunkan sang gadis yang terlelap dengan emeraldnya yang membengkak karena menangis semalam. Sakura mengerjab-ngerjabkan matanya agar penglihatannya jelas namun gadis itu menemukan sesuatu yang ganjal pada lingkungan di sekitarnya 'bukankah seharusnya aku dirumah sakit bersama tousan? Mengapa sekarang aku berada di kamar ku?' begitulah batinnya. Riuh ia dengar di luar kamar nampaknya banyak orang, entah apa yang sedang mereka lakukan sakura tidak tau. Segera ia rapikan dirinya dan segera ia mendekati pintu dan membukanya. Tepat di depan pintu ia dapati sasuke tengah berdiri memakai jas rapi berwara hitam emerald bertemu dengan onyx yang sulit diartikan itu "sasuke-kun sedang apa disini? Dan ada apa disana? Kenapa ramai sekali?" sasuke terdiam, membuat gadis itu bingung. Sakura penasaran dan segera melangkahkan kakinya untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya, belum niatnya tersampaikan sasuke segera menarik lengan sakura dan mendekap tubuh mungil itu erat "bersabarlah sakura" ucap sasuke.

"a-ada apa sasuke-kun?" gadis itu bingung, perasaannya tidak enak.

"ibu mu.." ucap sasuke setengah berbisik dan ragu untuk mengatakannya.

"ada apa dengan kaa-san sasuke-kun? Ada apa?" wajah mungil itu jelas terlihat sangat panik, emerald menatap sang onyx berharap menemukan jawaban disana. Namun nihil, akhirnya sakura melepaskan dekapan sasuke dan berlari pergi ke lantai satu pusat orang-orang berkumpul. Terlihatlah disana, sosok yang menurut sakura adalah perempuan paling kuat di dunia, yang sangat sakura cintai sedang terbaring dengan tenang didalam peti mati tempat terakhir ia berbaring, dengan gaun putih bersih membuat sosok perempuan itu terlihat sangat anggun dan cantik bak malaikat. Ya, dia adalah ibu sakura.

Kedua kaki gadis musim semi itupun melemas, emeraldnya kini mulai basah dan perlahan-lahan bulir-bulir bening yang sebelumnya ia tampungpun kini telah tumpah membasahi pipi ranum milik sakura dengan derasnya. Ia pun berharap bahwa ia sedang terbaring lelap di tempat tidurnya dan berharap bahwa ini hanyalah mimpi buruk, tetapi semua ini benar-benar nyata ia tidak sedang bermimpi ataupun berhayal. Lama-kelamaan kakinya yang lemas mulai tak kuat untuk menopang berat badannya sendiri, lalu gadis itupun terjatuh dengan lemasnya. Hatinya begitu sakit dan teriris.

"KAA-SAAAAAANNNN!" teriak gadis itu, ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi dengan dirinya pada saat ini. Semakin deraslah air mata itu, sang ayah segera mendekat pada anak gadis semata wayang kesayangannya. Memeluk erat putri kesayangannya seakan takut jika putri kesayangannya juga akan pergi meninggalkannya seperti istrinya.

"kenapa tousan? kenapa kaa-san meninggalkan kita? Hiks.. Mengapa kamisama memanggil kaa-san untuk hiks.. hikss.. pulang terlebih dulu? Ke-kenapa bukan aku saja tousan? kenapa tousan? kenapaa? Hikss hiks.. " gadis itu tersedu-sedu, meratapi kepergian sang ibu. Dadanya mulai sesak seperti kekurangan oksigen .

Sasuke mendekat kearah gadis musim semi yang sedang menaburkan bunga pada tempat peristirahatan terakhir ibu dari gadis musim semi itu. Ia pegang pundak sang gadis seolah memberi kekuatan agar gadis itu tetap tabah dan tegar dalam menghadapi cobaan tersebut. Ia usap perlahan pundak yang terlihat bergetar itu. Perlahan terdengar isakan tangis dari bibir mungil gadis musim semi tersebut, Bunga sakura yang kuat seketika menjadi terlihat rapuh dan layu. Emerald itu semakin sayu dan membengkak sasuke tak tahan melihat orang yang sangat dia sayangi terus larut dalam kesedihan. 'akan ku tukar kebahagiaan ku dengan kesedihan mu jika kau bisa bahagia dan tersenyum kembali sakura' batin lelaki itu. Kemudian sasuke merapatkan tubuhnya dan memeluk erat sang gadis, ia kecup puncak kepala gadis itu berharap agar sang gadis tak larut dalam kesedihannya.

"hiks.. mengapa kamisama hiks.. begitu jahat sasuke-kun? Mengapa ia mengambil kaa-san ku? Dan seharusnya hiks.. yang ia panggil untuk pulang adalah aku, bukan kaa-san. Mengapa sasuke-kun? Hiks.."tanya gadis itu pilu, ia masih menatapi nisan sang ibu dengan kepedihan yang amat sangat mendalam.

"kamisama tau yang terbaik untuk mu sakura, ambil hikmah dari semua ini. Bersabarlah, mungkin kamisama ingin membuat mu menjadi perempuan yang tegar dan kuat. Kau harus bisa menjadi lebih dewasa lagi, karena semua manusia yang hidup pasti akan kembali ke tempat dimana dia berasal, kamisama sangat menyayangi mu maka dari itu ia menguji mu. Percayalah sakura dan aku akan selalu berada di sisimu" ucap sasuke, memberikan keyakinan pada gadis itu dan sakura pun mengerti ia mencoba terima ujian yang sedang kamisama berikan itu. Sakura membalas dekapan sasuke dan menangis sejadi-jadinya dalam dekapan sasuke.

"sudah sakura, tidak baik menangisi kepergian orang yang telah tiada. Lagipula aku yakin jika ibu mu juga sedih jika melihatmu terus seperti ini" sasuke menyeka air mata di pipi manis sakura, ia tersenyum pada sang gadis mencoba untuk memberi kekuatan pada gadis itu namun sakura tetap bungkam.

"ayo kita pulang sakura, kau harus beristirahat" kemudian keduanya pun beranjak meninggalkan pemakaman milik klan Haruno.

―flashback end―

"kaa-san sebenarnya ada apa dengan sasuke-kun? Apa kata dokter yang menangani sasuke-kun kaa-san?" gadis itu panik ia tidak ingin apa yang terjadi pada ibunya terulang pada kekasihnya.

"tenang sakura, sasuke tak apa. ia hanya sedikit kelelahan dan perlu banyak istirahat saja. Tenangkan dirimu nak " ucap mikoto meyakinkan sakura bahwa sasuke dalam keadaan baik-baik saja.

"tapi kaa-san, mengapa sasuke juga belum sadar? Ada apa?" sakura menatap mata ibu dari sang kekasih, mencoba mencari kejujuran disana.

"sasuke akan baik-baik saja sakura, percayalah pada kaa-san. Ayo tenangkan dirimu nak" mikoto mengelus pundak sakura dengan lembut seolah memberi keyakinan pada sakura, padahal ia sendiri tak yakin dengan ucapannya jika melihat kondisi saasuke saat ini.

"ba-baiklah kaa-san" jelas terlihat di raut muka sakura ada sedikit keraguan, mendengar bahwa sasuke baik-baik saja.

Sakurapun masuk kedalam kamar rawat sasuke. Ia melihat lelaki itu masih belum terbangun dari tidurnya, damai sekali wajah tampan rupawan itu jika sedang tertidur membuat kaum hawa akan berdecak kagum akan ketampanannya, begitupu dengan sakura. tapi ini bukan saatnya untuk mengagumi ketampanan lelaki tersebut, karena lelaki itu dalam keadaan lemah tak berdaya terbarinng diatas ranjang dengan jarum infus yang bertengger manis di lengan kirinya membuat sang gadis merasa sedih dan selalu bertanya-tanya 'ada apa dengan dirimu sasuke-kun?' begitulah batinnya. Gadis itu mendekat menghampiri bangku didekat ranjang lalu mendudukinya. Ia pandang raut muka itu, perlahan ia ulurkan tangannya yng mungil untuk sekedar mengelus lembut kepala si bokong ayam kesayangannya. Ia belai lembut pipi tirus milik sasuke berharap dalam hati agar lelaki itu cepat bangun dari tidur panjangnya.

"sasuke-kun, ayo cepatlah kau sadar. Akan ku kabulkan segala permintaanmu jika kau cepat kembali membuka mata mu, aku berjanji" bulir bening berhasil lolos dari pelupuk mata milik sasuke saat sakura mencium kening sang kekasih.

*promise*

Hari berlalu seperti biasanya, sakura kembali mendatangi rumah sakit untuk menjenguk sang kekasih. "ohayou sasuke-kun" sapa gadis itu pada lelaki yang tengah tertidur pulas diatas ranjang. Sakura mendekati meja yang berada tepat disamping ranjang yang sasuke tiduri, gadis itu meraih bunga lili dan menggantinya dengan bunga yang baru dan segar. Sudah hampir seminggu lelaki itu tertidur dengan tenangnya dan membuat sakura selalu merasa sedih, sakura mendekati sasuke dan menarik bangku untuk di duduki olehnya.

"hei, sudah hampir seminggu kapan kau akan membuka mata mu? Aku sangat merindukanmu. Apa kau tau sasuke-kun? Aku merasa bahwa ada yang mereka tutupi dariku tentang dirimu, ada apa denganmu sasuke-kun?" ucap sakura sambil membelai halus raven milik sasuke yang terasa sangat halus ditangan mungilnya.

"ayolah sasuke-kun, sebentar lagi ada ujian. Sudah lima hari kau tidak sekolah, aku tau kau pintar. Tapi jangan tunjukkan kesombongan mu dengan cara seperti ini bodoh! Kau juga harus belajar, agar menjadi lebih pintar! Memangnya kau mau aku merebut status mu sebagai murid terbaik di sekolah? Haha ayolah bangun, aku merindukan mu" gadis itu terus berbicara dengan panjang lebar, namun percuma saja karena tak ada jawaban dari lelaki itu.

"hhhh.. baiklah jika kau belum mau membuka matamu, aku akan menemani mu tidur disini sampai kau bangun" Gadis itu menarik panjang napasnya, lalu membaringkan kepalanya di ranjang, ia dekap tangan sasuke layaknya orang yang sangat takut kehilangan. Lambat laun emerald sang gadis tertutup dan ia tertidur dengan lelapnya.

.

.

.

Siang telah berganti dengan malam langit kembali menjadi gelap, bulan dan bintang kembali menampakkan dirinya di dalam gelapnya malam. tak terasa gadis itu sudah tertidur lama, ia pun membuka kedua matanya dan membenarkan posisi duduknya. "sudah berapa lama aku tertidur disini?" ucapnya asambil mengucek kedua matanya yang masih terasa berat untuk dibuka.

"sudah bangun?" suara baritone milik seseorang menyapa pendengaran sakura dikala ia sudah terbangun. Suara yang sangat ia kenali dan juga suara yang sudah hampir seminggu tak ia dengar. Emeraldnya membulat sempurna saat ia tatap sosok laki-laki yang tengah tersenyum lembut padanya, laki-laki yang seminggu ini membuatnya was-was, membuatnya khawatir setengah mati.

"sa-sasuke-kun?" matanya mulai berkaca-kaca.

"ada apa cherry?" sang empunya nama menjawab dengan senyum yang masih belum luntur dari bibirnya.

"kau jahat! Aku merindukan mu" tangispun pecah saat sakura menghamburkan pelukannya pada sasuke, ia dekap erat sasuke dengan air mata yang terus mengalir dari emeraldnya yang cantik.

"ssstt jangan menangis, ada apa? Kenapa kau merindukan ku?" sasuke membelai rambut sakura dengan lembut dan ia kecup puncak kepala sakura.

"hiks.. sudah seminggu kau tak sadarkan diri bodoh! Hikss.. K-kau membuat ku khawatir hikss.. bodoh! Bodoh!" sakura memukul pelan dada sasuke.

"ssshh aku sudah sadar sakura, ayolah jangan menangis. Aku tak suka melihat mu menagis cherry" sasuke mengecup puncak kepala sakura mencoba menenangkannya.

"jangan membuat ku khawatir lagi sasuke-kun, jangan!" sakura mengangkat kepala pinknya untuk menatap sasuke.

"lihat dirimu, kau terlihat begitu jelek jika menangis. Jangan salahkan aku jika aku jatuh cinta pada gadis lain yang lebih cantik darimu" ledek sasuke. Ia menampung kedua pipi sakura dengan kedua tangannya ia menyingkirkan air mata dari pipi sakura menggunakan ibu jarinya.

"ish, sasuke-kun bodoh! Kau menyebalkan!"

"haha, aku bercanda. Tak mungkin aku meninggalkan mu cherry, sudah-sudah sini kembali kepelukan ku lagi" sasuke membuka kedua tangannya dan disambut oleh sakura yang kembali memeluk erat dirinya.

"ngg.. sasuke-kun, aku ingin memberitau kaa-san dan dokter dulu ya? Kaa-san harus tau kalau kau sudah pulih" ucap sakura dan bergegas mengambil ponsel pink miliknya.

"tidak usah, nanti saja. Kau bilang kau rindu padaku bukan? Saat ini aku hanya ingin berdua saja denganmu sakura" ucap sasuke sambil menahan lengan mungil milik sakura agar sakura menggagalkan niatnya untuk mengabari ibunya.

"mm.. baiklah" sakurapun kembali dalam dekapan sasuke dan membiarkan dirinya dalam posisi senyaman mungkin.

*promise*

Langit yang gelap kembali mengubah warnanya menjadi biru kembali, perlahan-lahan cahaya milik sang surya mulai terlihat di ufuk timur. Sasuke pun terbangun dari tidurnya yang lelap semalam perlahan ia buka onyxnya yang kelam sekelam langit malam. Ia bergegas pergi kekamar mandi untuk membersikan badannya setelah ia selesai merapikan diri ia bergegas menuju lantai bawah untuk sarapan, seperti biasa sang ibu telah menyidangkan makanan utuk suami dan kedua putra tercintanya.

"ohayou sasuke" sapa wanita setengah baya dengan paras yang masih sangat cantik.

"ohayou kaa-san, dimana si pengganggu? Kenapa dia belum berada di meja makan?" jawab sasuke sekaligus menanyakn keberadaan kakanya yang di maksud 'si pengganggu' olehnya.

"sstt.. dia kakak mu sasuke, dia masih ada di kamarnya. Sebaiknya kau bangunkan sebelum telat berangkat kerja, kaa-san mau merapikan meja dulu" titah sang ibu.

Sasuke dengan malas menuju kamar sang kakak, jujur saja jika bukan karena perintah sang ibu ia takkan mau membangunkan kakaknya yang menurutnya menyebalkan itu. Karena jika mereka berdua bertemu atau berpapasan pasti selalu ada saja insiden yang terjadi diantara mereka berdua.

―cklek―

Terbuka sudah pintu kamar itachi, sasuke langsung berjalan mendekat kearah ranjang yang ditduri oleh sang kakak.

"hei kau, bangun" ucap sasuke sambil mengguncang pelan pundak milik itachi. Namun tak di gubris olehnya.

"baka aniki bangun sekarang, kau bisa telat bodoh!" titah sasuke untuk yang kedua kalinya masih dengan mengguncang pundak sang kakak namun kali ini agak kencang, tetapi itachi tetap tak merespon dan malah memeluk guling kesayangannya.

"arrghh susah sekali kau! Ayo bangun, kau sudah ditunggu kaa-san di meja makan" sasuke mengguncang pundak sang kakak semakin lama semakin kencang karena kesal tak ada respon apapun dari sang kakak.

"mmm? Apa? Kau mengganggu ku, kau saja yang kesana!" ucap itachi seperti gumaman yang tidak jelas. Lelaki duapuluh tahun itupun malah menarik kembali selimutnya membuat sang adik geram akan tingkahnya yang terkadang masih kekanak-kanakan.

―buk buk buk―

"kau bisa telat datang ke kantor bodoh, bukankah kau ada meeting hari ini?" sasuke yang kesal memukul sang kakak dengan bantal agar lelaki itu bangun dari ranjang keasayangannya.

"arrrghh kau mengganggu ku saja, bisakah kau sopan sedikit dengan tidak memukul ku dengan bantal? Aku ini kakak mu bodoh. Dasar adik tidak sopan!" ucap itachi dengan ekspresi kesal di wajah tampannya dan juga dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih.

"meeting? Meeting ya.. ngg―"

"―ASTAGA MATI AKU! ADA MEETING PAGI INI" lanjut itachi lagi dan kesadarannya pun langsung pulih saat ia ingat ada meeting pagi ini dengan beberapa orang penting, sasukepun menaikkan sebelah alisnya keatas karena melihat kelakuan sang kakak yang menurutnya sangatlah bodoh karena tiba-tiba saja terbangun dan langsung berdiri di atas kasur king size kesayangan kakaknya itu. sasuke pun mengembalikan bantal yang ia pegang kembali ke ranjang milik itachi dan lekas meninggalkan kamar sang kakak pergi menuju meja makan untuk menikmati sarapan paginya.

Setelah sarapan selesai sasukepun pamit untuk berangkat ke sekolah, ia pun bergegas pergi kerumah sakura untuk menjemput kekasihnya seperti biasanya, sasuke berjalan ke garasi dan segera menghidupkan mesin mobil ferari hitam miliknya, setelah cukup panas ia pun berangkat kerumah sakura.

*promise*

Seperti biasa setelah selesai sarapan sakura menunggu sasuke di halaman depan, ia menunggu sambil membaca beberapa buku yang akan dipelajari olehnya hari ini atau jika sedang bosan ia membaca beberapa komik dan novel kesukaannya.

"hhhh.. lama sekali sasuke-kun, tidak biasanya dia telat" gumam gadis itu setelah menghembuskan nafasnya dengan kasar. Gadis itu menangkup kedua pipinya bosan karena sang kekasih tak kunjung datang karena memang tiak biasanya sasuke telat menjemput sakura, biasanya sakura hanya perlu menunggu sepuluh menit tetapi sudah lewat dari dua puluh menit sosok laki-laki itu tak kunjung datang.

"ayolaah sasuke-kun, kau ini dimana?" gumam gadis itu lagi sambil melirik arloji kesayangannya pemberian dari uchiha sasuke kekasihnya.

"ohayou cherry" keluarlah sosok laki-laki yang sedari tadi sudah di tunggu kedatangannya oleh gadis musim semi itu, dengan membawa setangkai mawar merah yang masih sangat segar. Dan sakura? dia hanya mematung dengan mimik wajahnya yang terlihat bingung 'ada apa dengan sasuke?' begitulah batinnya.

"ohayou, ada apa dengan mu sasuke-kun?"ucap sakura sambil memiringkan kepala pink miliknya.

"maksud mu?" tanya sasuke sambil menaikkan sebelah alis miliknya.

"ah, tidak biasanya kau telat menjemput ku, dan… tak biasanya kau membawakan aku.. mawar merah" sakura berjalan mendekati sasuke sambil menunjuk kearah mawar merah yang sasuke pegang.

―cup―

"aishiteru haruno sakura" dengan tiba-tiba sasuke mencium pipi milik sakura, meninggalkan rona merah disana membuat sakura terlihat seperti kepiting rebus saat ini karena ulah sasuke.

"mengapa k-kau tiba-tiba bersikap seperti ini sasuke-kun? Kau mebuatku jadi salah tingkah sasuke-kun" sakura menutupi wajah yang terlihat seperti kepiting rebus itu dengan kedua tangannya yang mungil, membuat sasuke semakin gemas dengan sikap sakura. lelaki itupun meraih kedua tangan milik sakura dan menyingkirkannya dari sakura yang sedang terlihat bak kepiting rebus itu sasuke menurunkan tangan mungil kekasihnya perlahan ia mendekat kearah sakura, semakin dekat menghilangkan jarak antara keduanya, wajahnya pun kini saling berdekatan menyisakan beberapa centimeter saja. Wajah sasuke pun semakin mendekat.

Sepuluh centimeter….

Tujuh centimeter….

Lima centimeter…

Satu centimeter….

―CUP― sasuke mendaratkan bibir tipis miliknya tepat di kening lebar milik sakura lagi dan lagi lelaki itu membuat sosok perempuan musim semi menjadi merona hebat karena perlakuannya yang selalu saja tiba-tiba dan tidak bisa ditebak.

"aku hanya mencium kening mu sakura, tidak perlu memejamkan mata seperti itu kau pikir aku akan…." Kata-kata sasuke menggantung.

"kyaaaaa! Sasuke no baka! Kau menyebalkan!" sakura yang kesal memukul-mukul dada bidang milik sasuke.

"menyebalkan kenapa nona? apa karena hanya pipi dan kening mu yang aku cium?" goda sasuke habis-habisan.

"b-bukan itu bodoh! Kau tidak boleh mencium ku sebelum kita punya ikatan resmi, kau mengerti?" sekarang gadis itu bertolak pinggang dan menggembungkan pipi chubby miliknya yang masih merona.

"apa kau yakin? Sepertinya aku tidak bisa. Aku selalu gemas jika melihat pipi mu nona, jangan salahkan aku jika pipimu menjadi sasaran empuk bibir ku lagi pula bukannya kau sudah terbiasa jika aku tiba-tiba menciummu nona?" sasuke berjalan meninggalkan sakura yang masih protes dengan kelakuannya. Ia segera menaiki motor sport miliknya dan bersiap untuk pergi ke sekolah seperti biasanya bersama dengan gadis pink kesayangannya.

nee, gimana? udah ada peningkatan atau malah tambah hancurkah alur ceritanya? mohon ripiu nya tinggalkan kritik dan saran T_T terimakasih yang sudah berkenan membaca~