Chapter 2
.
.
.
Shintarou memperhatikan pelajaran yang diterangkan gurunya di depan kelas dengan serius. Tapi, jangan tanya apa yang dilakukan si poni belah tengah, Takao, yang duduk di depan Shintarou.
Dia tertidur pulas sekali di mejanya. Seolah penjelasan bahasa Inggris di hadapannya adalah cerita pengantar tidur. Gurunya tidak pernah marah, toh, Takao adalah salah satu murid terbaiknya di kelas ini.
Yah, memang sih, selepas menonton acara ledakan yang mereka buat, Takao tidak langsung tidur sesampainya mereka di kamar mereka di panti.
Tolong catat kalau Shintarou dan Takao sudah sekamar semenjak mereka datang ke panti ini.
Dan jangan berpikiran aneh-aneh. Mereka nggak menyimpang, saya berani jamin.
Takao mengoceh, sepanjang sisa malam, soal rencana mendemolisi bangunan milik target mereka.
Takao membuka peta, menandai seluruh bangunan milik orang 'itu' dan mengoceh lagi, bahkan sampai keluar dari topik 'rencana demolisi', dan akhirnya dia berhenti mengoceh karena tahu Shintarou sudah tidur dengan earphonenya. Takao mengumpat, maunya marah-marah tapi Araki-sensei keburu memarahinya dan menyuruhnya tidur.
Dan, di sinilah dia, di ruang kelasnya, tertidur untuk mengganti jatah tidurnya yang hilang tadi malam.
.
.
.
Midorima Shintarou, 16 tahun.
Kazunari Takao, 16 tahun.
Masih bukan siswa SMA biasa.
.
.
Disclaimer : Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki
Warning : Standart Applied
Enjoy!
.
.
.
Jam istirahat tiba. Guru yang mengajar barusan sudah keluar. Shintarou sedang merapikan bukunya tapi Takao belum juga bangun.
Shintarou menggulung buku tulisnya yang tersisa di meja dan memukul pelan punggung si pemilik mata rajawali.
"Takao, bangun!" Shintarou kini memukul kepala Takao dengan buku tersebut. "Takao bangun! BAKAO!"
Setelah satu teriakan Shintarou tepat di depan telinga Takao, Takao bangun sambil tersentak.
"Shin-chan!" serunya.
Shintarou menaikkan kacamatanya dan menatap Takao cuek.
"Ah, sudah jam istirahat, 'ya? Hoamm..." dia berkata sambil menguap.
Tanpa perlu memalingkan kepalanya untuk melihat seisi kelas, Takao sudah bisa melihat seputaran kelasnya, berkat kemampuan mata rajawalinya.
Takao membereskan bukunya lalu memekik kaget.
"SHIN-CHAN!?" pekik Takao.
Mengerti maksud pekikan Takao, Shintarou segera mengambil kotak bento dan lucky itemnya hari ini, boneka kodok, nya dan keluar dari kelas.
"Shin-chan!" Takao mulai merengek dan mengejar Shintarou.
Takao menarik-narik kemeja putih Shintarou. "Shin-chan, lihat PR matematika, 'ya? Kumohon!"
"Tidak." jawab Shintarou tegas.
"Kubelikan sup kacang merah! Iya! Kubelikan sup kacang merah dingin 5 kaleng! Aku janji!"
"Kubilang tidak, Bakao!"
"Ayolah, Shin-chan," Takao masih merengek padahal sudah sampai kantin. "Sup kacang merah! Jangan malu-malu begitu, aku tahu kau ingin sup kacang merah! Ini yang terakhir. Ayolah?"
Shintarou menaikkan kacamatanya lagi. "Tidak."
Shintarou mulai menaiki tangga menuju atap. Di bawahnya, Takao cemberut.
"Aku balik dulu ke kantin," Takao menuruni tangga kembali.
Saat Shintarou berhasil menapaki kakinya di atap sekolah, Takao menyadari satu hal.
Dia melihat Shintarou yang sedang membuka sapu tangan yang membungkus bentonya dan tak memperhatikannya, Takao berpura-pura masih kecewa dengan keputusan Shintarou yang tak membiarkannya mencontek PR matematikanya.
"Aku ke kantin, Shin-chan." ucap Takao berpura-pura lesu dan Shintarou hanya menyahutinya dengan 'Hn' yang singkat.
.
.
.
Takao masuk kembali ke kelasnya dan membuka tas Shintarou. Dia mengambil buku matematika si jenius maniak peruntungan itu dan segera mengambil buku miliknya.
Dia menyalin pekerjaan Shintarou dengan cepat, sebelum Shintarou kembali ke kelas dan mendapatinya menyalin PR tanpa izin.
Tak sampai 7 menit, Takao berhasil menyalin seluruh pekerjaan Shintarou. Dia mengembalikan buku-buku itu ke tas masing-masing.
Dia berlari keluar kelas menuju kantin, dia harus menyempurnakan alibinya!
Dia membeli sebungkus roti dan dua kaleng minuman yang isinya berbeda. Satu soda dan satu lagi sup kacang merah dingin.
Sekembalinya Takao ke atap, dia mendapati Shintarou sudah selesai menyantap bento buatan Araki-sensei.
"Bukannya aku peduli, tapi kenapa lama sekali?" tanya Shintarou sambil menangkap kaleng sup kacang merah dingin yang dilempar point guard Shuutoku itu.
"Kantinnya penuh, hehehe," Takao beralibi.
Takao menyandarkan dirinya di teralis pembatas dan membuk bungkus rotinya.
"Ledakan kemarin," Takao membuka topik pembicaraan setelah matanya telah memastikan tidak ada orang lain selain mereka. "Pasti berdampak kemana-mana."
"Setidaknya, kita tidak menimbulkan korban, 'no dayo," jawab Shintarou sambil menaikkan kacamatanya.
"Ah, jadi itu alasannya, kenapa kita sebulan terakhir meneliti mall itu," Takao manggut-manggut.
"Kita, 'kan cuma mendemolisi bangunan, 'no dayo. Bukan berniat membunuh orang."
Takao tersenyum kecut. "Bukan berniat membunuh, 'ya?"
.
.
.
Sore harinya, sepulang sekolah, Kuroko Tetsuya mengunjungi reruntuhan mall tempat dia bekerja sebagai penjaga salah satu toko boneka di sana.
Dia ditemani oleh seorang pemuda yang sudah hampir dua tahun menjadi cahayanya dalam permainan basket, siapa lagi kalau bukan si pemilik alis bercabang, Kagami Taiga.
"Jadi, ini mall tempatmu kerja?" Kagami mengamati reruntuhan dari luar garis polisi.
"Dulunya," Kuroko berucap sedih. "Sekarang sudah rata dengan tanah."
Angin bertiup dan menerbangkan sejumlah besar debu. Kagami, Kuroko, dan seluruh warga yang berkerumun jadi terbatuk dan bersin karenanya.
Kagami menutupi hidung dan mulutnya dengan tangan.
"Kuroko," kalimat Kagami terputus karena dia kehilangan Kuroko. Gila, baru tutup mata sebentar sudah hilang!
Sebenarnya, Kuroko nggak pergi jauh-jauh. Dia ada di tengah reruntuhan, berdiri di samping pemilik toko yang tingginya beda 10 centi dengan Kagami. Yup, dia bukan menghilang tapi terhalangi.
Sesudah selesai diwawancarai petugas kepolisian, wanita pemilik toko itu hendak berbalik, meninggalkan reruntuhan.
"Saya turut berduka," Ucap Kuroko terdengar sangat menyesal.
Wanita itu kaget bukan kepalang. Sejak kapan pemuda berambut baby blue itu ada di sampingnya?!
Mengurungkan pertanyaannya, wanita itu memilih menepuk bahu Kuroko. "Terima kasih, Kuroko-kun. Aku, ah, kurasa aku akan mengurus asuransi tokoku pada pemilik mall. Aku harus pergi sekarang. Mata ne, Kuroko-kun."
"Ah, ha'i!" Kuroko membungkukkan badannya.
"Hei, nak, keluarlah! Tim penyelidikan akan kesini!" seru orang di luar garis pembatas.
Kuroko mengangguk dan berlari keluar tapi sesuatu menarik perhatiannya. Di dekat pilar penyangga yang masih utuh, ada sebuah boneka beruang berwarna merah muda.
Kuroko ingat, boneka itu adalah boneka yang mereka pesan dari sebuah panti yang tak jauh dari mall.
Kuroko mengambil boneka itu dan memasukkannya ke dalam tas. Dia keluar dari reruntuhan, dua menit sebelum tim penyelidik datang. Dia menghampiri Kagami yang sedang mencarinya.
"Kagami-kun," Kuroko menepuk pundak si harimau liar.
"KUROKO! KEMANA SAJA KAU?!"
"Tidak kemana-mana," jawab Kuroko datar. "Kagami-kun sendiri yang kemana,"
"KAU MENYALAHKANKU?!" Kagami masih saja berteriak. "Apa isi tasmu?"
"Bukan apa-apa," Kuroko mendorong tasnya sedikit ke belakang punggungnya.
Alis bercabang Kagami bertaut, tadi sebelum dia menghilang tasnya masih kempis dan begitu kembali, tasnya menggembung besar.
"Itu apa?" tanya Kagami lagi.
"Bukankah tadi kubilang bukan apa-apa?"
Kuroko menyembunyikan sesuatu.
Kagami merampas tas Kuroko dan membukanya.
"Whoa, boneka?" Kagami mengeluarkan boneka itu dari tas Kuroko. "Untuk siapa? Momoi-san?"
"Bu-bukan!" Kuroko merampas balik kedua benda itu dan reaksi itu memicu Kagami mengembangkan senyum liciknya. "Jadi, beneran nih, isu itu?"
"Isu apa?"
"Banyak yang bilang, kau jadian dengan Momoi-san,"
"Aku tidak mungkin jadian dengan Momoi-san, Kagami-kun," jawab Kuroko sambil menyimpan kembali boneka itu ke tasnya.
"Lalu bonekanya untuk apa?" Kagami bingung sendiri.
"Aku hanya ingin menyimpan boneka sebagai kenang-kenangan atas kejadian ini,"
"Ha?! Kenapa harus boneka? Mungkin kau bisa menyimpan batu atau potongan besi? Biar sedikit terlihat lebih jantan begitu?"
Kuroko nggak akan memajang batu atau potongan besi dan menceritakan pada keturunannya bahwa batu atau potongan besi itu adalah bekas ledakan mall, Kagami. Dia bukan seperti kau yang bodoh itu.
"Aku tidak suka batu, Kagami-kun." jawab Kuroko. Kagami hanya mendengus tak suka.
"Ayo pulang!" ajak Kagami.
"Ha'i!" Kuroko segera mengekori Kagami.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul delapan malam, setelah makan malam bersama 'keluarga'nya, Kuroko memutuskan untuk masuk ke kamar.
Yap, Kuroko bukanlah seseorang yang memiliki ikatan darah dengan orang-orang yang dianggapnya sebagai keluarga.
Kuroko juga merupakan salah satu korban selamat dari kejadian itu.
Kejadian enam tahun lalu, kejadian yang membebaskannya dari kasus perdagangan anak. Dimana sang provokator pembakaran 'kandang' itu adalah dua anak seumurannya pada waktu itu.
Mereka yang sudah membebaskan Kuroko dan yang lainnya, meskipun, menurut berita, ada sekitar 10 anak meninggal akibat kebakaran itu.
Kuroko menghela nafas.
Dia melirik tasnya, ingat bahwa ada tugas sekolah yang harus diselesaikannya.
Ah, dia ingat, bukankah dia harus menyelidiki boneka anak panti yang mencurigakan itu?
Kuroko membuka tas dan mengeluarkan boneka itu.
Secara visual, boneka ini memang terlihat normal meskipun bekas jahitan di punggungnya agak berantakan. Yang membuat Kuroko curiga adalah, kenapa boneka itu lebih berat dari biasanya.
Kuroko mengambil cutter di meja belajarnya dan menyobek punggung boneka itu.
Kapas yang mengisi boneka itu mencuat.
Kuroko mencubit kapas tersebut. Hmm, cuma kapas normal.
Kuroko mengeluarkan kapas-kapas itu dan menemukan sesuatu.
Sebuah ponsel layar sentuh dengan simbol apel tergigit dan serbuk aneh berwarna hitam yang dibungkus plastik yang sangat tipis.
Kuroko mengamati ponsel tersebut. Ponsel keluaran 2 tahun lalu, yang saat launching pertama membuat toko ponsel kebanjiran manusia.
Kuroko memisahkan ponsel dan plastik itu.
Tunggu dulu...
... Pengantar boneka ini adalah pemuda bernama Kazunari yang memang tinggal di panti asuhan itu.
Kuroko segera membuka loker bukunya dan mencari koran yang berisi foto-foto seluruh anak-anak penampungan yang kabur dan meninggal.
Kuroko menemukannya!
Di atas fotonya, ada foto anak laki-laki berambut hitam dengan nomor 3111.
Kuroko meraih ponselnya, menelepon Kagami.
"Bisa ke Maji Burger, Kagami-kun?"
Sesuatu yang penting sudah dia temui.
.
.
.
"Nee, Shin-chan, apa tidak apa-apa kita mendemolisi klinik mereka? Menurutku itu fasilitas penting. Bagaimana kalau ada orang yang dirawat?" Takao bertanya sambil menatap Shintarou yang sedang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya.
"Makanya, kubilang kita harus survey terlebih dahulu, 'no dayo?" Shintarou memutar kursinya dan menatap Takao jengah. Pertanyaan itu sudah empat kali ditanyakan sepanjang hari ini.
"Oh, kalau begitu bagaimana caranya kita melakukan survey?" tanya Takao lagi.
"Itu yang sedang kupikirkan, 'no dayo. Kenapa kau tidak ikut berpikir?"
Takao menjepit dagunya, melakukan pose berpikir yang sok ganteng.
"Aku sempat berpikir, kenapa kita nggak menyamar seperti di film-film. Memakai seragam kerja yang sama seperti di klinik, memakai masker dan tutup kepala. Tapi kurasa itu tak akan berhasil," Takao membeberkan ide gilanya yang kesekian. "Apalagi, seragam kerjanya beda dari yang lain gitu. Lagipula, itu, 'kan, klinik perawatan anak-anak."
"Siapa yang bilang kita akan mendemolisi klinik anak-anaknya, 'no dayo?" Shintarou menyeringai, sangat OOC. "Kita akan mendemolisi klinik mereka yang dekat universitas yang ada di dekat kota. Bukannya aku memuji, tapi kurasa, kita akan memakai idemu, nano dayo."
Shintarou menaikkan kacamatanya tegas dan Takao bersorak, tumben ide gilanya diterima oleh otak waras Shintarou.
"Pulang sekolah, mulai besok, kita mulai surveynya, setuju?"
Takao menyeringai.
Shintarou menyambut kepalan tinju Takao.
.
.
.
Aomine Daiki, polisi berkulit redup, jorok, tapi gesitnya minta ampun, sedang tiduran di atas sofa dengan bantal buku-buku referensi kasus yang tebalnya menyaingi ensklopedia tiga jilid yang disatukan.
Sementara wakilnya yang malang, polisi detektif gateng menawan, mantan model majalah fashion ternama, mantan ace klub basket SMA Kaijou, Kise Ryouta, sibuk dengan laptopnya. Dia sedang menuliskan laporan kerja mereka hari ini.
"Kise, kau ngapain?" tanya Aomine sambil mengupil dan menyusutkan kakinya ke kaki. Astaga, jorok sekali.
"Mengerjakan laporan, ssu," jawab Kise lesu. "Kenapa Aominecchi-kanshikan sangat tidak mau mengerjakan laporan?"
"Karena aku tidak mau, bego,"
Kise meringis.
Astaga, kenapa Tuhan sangat kejam? Kenapa Tuhan menakdirkan dia yang tampan ini seruangan kerja, bahkan jadi bawahan polisi malas dan jorok macam Aomine?
Kise hanya bisa meratap sedih dalam hati sementara tangannya masih asyik menari di atas keyboard laptopnya.
"Kise, kau sudah dengar soal mall yang runtuh semalam, 'kan?" Aomine merubah posisinya menjadi duduk lalu menguap. "Bukankah itu terlihat seperti demolisi bangunan? Seperti bukan sekedar teror biasa."
Kise menghentikan aksi mengetiknya dan berbalik lalu menatap Aomine serius.
"Bukan seperti teror biasa? Apa maksud Aominecchi-kanshikan?" tanya Kise.
"Begini, kalau ini teror, pasti pelakunya akan memberikan petunjuk, 'kan?" Aomine membuka kulkas dan meminum teh oolong botolan milik Kise.
Kise mau protes, tapi niatnya diurungkan karena jika dia melakukan itu, Aomine akan keluar dari zona seriusnya dan mengamuk.
"Sama seperti penculikan," Aomine menegak teh oolongnya. "Pasti ada maksud dibaliknya. Penculik akan meminta tebusan untuk mengganti sandera. Penculik akan meneror keluarga si sandera, benar, 'kan?
"Ibaratkan teror si penculik adalah petunjuk kasus pemboman ini dan sanderanya adalah tujuan pelaku si pemboman."
Aomine menegak habis teh oolongnya.
"Jadi, yang mau Aominecchi-kanshikan bilang adalah siapa yang jadi target pemboman mereka? Begitu?" tebak Kise.
Aomine mengangguk. "Yap, tumben kau pintar,"
JLEB!
Sakit betul hati Kise saat ini. Jadi, selama ini Aomine menganggapnya bodoh.
Meratap dalam hati, Kise pundung di tumpukan berkas.
"Betul. Target pelaku pemboman ini kita ibaratkan seperti orang tua sandera," Aomine berdiri. "Aku kencing dulu,"
Kise berbalik lagi, baru saja menempatkan jari-jarinya di atas keyboard, tapi...
"KISEEE! KELUARKAN MOBIL! AKU INGAT SESUATU!" Aomine keluar dari toilet dengan satu gebrakan pintu dramatis, sepertinya dia bahkan belum sempat menurunkan retsletingnya.
"Nggak jadi kencing?" tanya Kise sambil mencari kunci mobil.
"Nggak usah! Aku bisa pakai toilet umum!" Aomine menarik kerah kemeja Kise setelah makhluk malang itu menemukan kunci mobil dinas mereka.
.
.
.
Kise menyetir di jalanan kota Tokyo dengan kecepatan yang melanggar peraturan lalu lintas.
"Masa iya taman bekas kau pipis ada petunjuknya? Itu, 'kan, tempat ramai!" Kise berucap sambil menginjak rem tanpa meninggalkan pedal gas dan memutar roda kemudi dramatis, berbelok ala pembalap profesional yang meninggalkan jejak ban di aspal.
"Tentu saja! Itu maksud mereka! Supaya terlihat oleh masyarakat!" jawab Aomine sambil menahan dirinya agar tak terpental ke kiri, ke kanan, atau ke depan karena cara mengemudi Kise yang gila.
Kise melakukan drift kembali, mungkin dia terbawa suasana balap salah satu game playstation yang disingkat NFS.
"Kise!" Aomine niat menegur tapi dia malah terpental sampai kepalanya menabrak dasbor mobil lumayan kencang. Salahkan Kise yang mengerem tiba-tiba.
"KIISSSEEE..." Aomine menahan amarahnya.
"Sudah sampai Aominecchi-kanshikan,"
Kise berkata santai dengan senyum lebar, cuek dengan amarah atasannya yang bisa saja sewaktu-waktu membantingnya dengan gaya wrestling.
Aomine turun dari mobil setelah dia mengambil senter di laci dasbor mobil dan Kise segera mengikuti.
Aomine mencari spotnya kencing waktu itu dengan menyenteri kawasan taman itu pelan-pelan. Dia menemukan tembok yang dicoreti oleh pemuda misterius bermasker gas dan segera berlari ke sana.
"Jadi, ini petunjuknya?" ucap Kise.
"Berikan ponselmu," Aomine meminta ponsel Kise.
Kise mengeluarkan ponselnya. "Kenapa harus punyaku?"
"Satu, karena ponselku tidak secanggih punyamu. Dua, karena memori internal dan eksternal ponselku sudah penuh dengan Mai-chan,"
Alasan kedua yang disampaikan Aomine membuat Kise membenturkan kepalanya ke tiang terdekat.
Sepertinya, dia harus pergi ke kuil untuk menjauhkan sial atau mengikuti peruntungan ramalan zodiak bernama Oha-Asa yang sedang digemari anak muda akhir-akhir ini.
Aomine memotret tembok berisi, yang menurutnya, petunjuk itu dengan kamera 15 megapixel dan blitz juga fokus otomatis ponsel canggih milik Kise.
"Ayo kembali dan cek font-font yang sama dengan petunjuk ini di komputer dan," Aomine menyeringai. "Siap-siap naik pangkat, Kise."
Mungkin ini alasan mengapa Tuhan menakdirkan Kise dalam satu institusi bersama dengan Aomine...
.
.
.
Seorang pemuda berambut merah duduk jengkel di depan meja ayahnya.
Iris heterokrom miliknya menatap tajam sang Ayah.
"Ayah, satu dari bangunanmu sudah dihancurkan! Bagaimana caranya kau bisa tenang seperti ini?!"
Ayahnya tak menjawab.
"Ayah!" pemuda itu berdiri. "Ini namanya penghinaan harga diri! Ayah mau tetap diam?! Mentang-mentang mereka tak memberi satu pun?! Apa ayah lupa soal ancaman anak-anak yang membakar penampungan ayah itu?!"
Pria paruh baya itu menatap anaknya yang tengah keluar dari karakter aslinya.
"Ayah lupa ancaman anak-anak itu?" volume bicara pemuda itu menurun.
"Kalau begitu, apa yang akan kau lakukan?" tanya pria itu tenang.
Pemuda itu menyeringai. "Aku tak akan membiarkan rencana mereka berjalan sampai akhir. Aku akan mengacaukannya. Aku akan memenangkan permainan yang mereka buat."
"Lalu bagaimana jika kau kalah?"
Pemuda itu berdiri dan berbalik. Dia berjalan pelan menuju pintu. Senyum liciknya belum juga pudar.
"Aku akan membunuh diriku sendiri."
Pemuda itu berkata seolah dia sedang bersumpah.
"Kau yakin kau akan menang? Kau kalah di permainan basketmu saat musim dingin lalu,"
Pemuda itu menggertakkan giginya geram. Kekalahannya yang satu itu memang memalukan untuk keluarga dan sekolahnya.
"Aku.." Pemuda itu membuka pintu tanpa berbalik lagi untuk menatap ayahnya. "Aku tak akan kalah lagi."
"Bagaimana caramu menemukan dua anak yang membakar penampungan itu?" tanya pria paruh baya itu. "Mereka tak punya nama, ingat?"
"Aku bisa melakukan apapun, Ayah," pemuda itu tersenyum. "Karena aku mutlak."
Pemuda itu meninggalkan ayahnya dengan senyum licik yang belum hilang dari wajahnya.
.
.
.
Keesokan harinya, sepulang sekolah, Kuroko ngebut dengan sepeda pinjamannya menuju salah satu sekolah saingannya dalam permainan basket.
Dia berhenti mengayuh ketika melihat satu gerobak sepeda yang dikayuh oleh sang musuh alamiah kemampuan misdirectionnya, sang point guard SMA Shuutoku, Kazunari Takao, dan sang shooting guard SMA Shuutoku dan shooter nomor satu di Jepang, Midorima Shintarou, di puncak tanjakan curam yang menguras tenaga.
"Shin-chan.. Ugh.. Bagaimana caranya.. kita.. ugh.. pergi.. ugh.. ke.. klinik?" Takao bertanya pada makhluk hijau di belakangnya dengan napas tertahan akibat tenaganya semuanya terfokus pada kaki.
"Jangan dulu bertanya, nano dayo. Kalau kedengaran orang bagaimana?!"
"Ugh," Takao belum sempat meneruskan bicaranya karena gerobak sepeda mereka sudah sampai di puncak tanjakan dan Takao menyadari keberadaan Kuroko.
"Kuroko-san!" sapanya ceria.
Shintarou menegok ke arah Kuroko berdiam dengan sepedanya.
"Doumo, Kazunari-san, Midorima-san," Kuroko membungkuk sopan setelah turun dari sepedanya.
"Ada apa menyusul kita kemari? Seirin-Shuutoku lumayan jauh, tuh," tanya Takao sambil meregangkan kakinya.
"Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian," Kuroko menjawab. "Singkatnya, aku ingin bergabung dengan kalian."
Kali ini, ucapan Kuroko membuat Takao mangap tak terkendalikan dan Shintarou memecahkan katak keramik yang merupakan lucky itemnya untuk hari ini.
"Aku mau menuntaskan dendam anak-anak yang lain," Kuroko berucap tegas. "Kita akan membuka tirai yang menutup kasus kita!"
Diam.
Takao diam. Shintarou diam dengan kacamata yang sudah melorot.
"Aku akan menjadi bayangan kalian untuk menghabisi Akashi."
Kuroko berjanji lagi. Seperti janjinya pada Kagami, kini dia berjanji pada Takao dan Shintarou dengan kalimat yang sama dengan akhiran berbeda.
Kuroko tak akan menjadikan mereka sebagai nomor satu di Jepang, tapi dia akan menjadi bayangan Takao dan Shintarou untuk mengalahkan keluarga Akashi.
"Bagaimana kau tahu kalau.." Takao menahan kalimatnya.
Kuroko mengeluarkan boneka, ponsel, dan serbuk aneh itu.
"Ini perbuatan kalian, 'kan?" tanya Kuroko.
Shintarou terkejut. Jadi bom mereka gagal satu?
"Ini bubuk potassium perklorat, 'kan?"
Itu alasan mengapa Kuroko meminta Kagami untuk menemuinya di Maji Burger malam-malam.
Asal tahu saja, Kagami tahu banyak soal bom komersial berkat kawannya di Amerika.
Takao masih termangap sambil menengok ke belakang. Dia tak menyangka Shintarou bisa meleset seperti itu. Takao juga melihat wajah Shintarou yang baru saja keluar dari mode OOC-nya.
"Asal tidak mengacau, boleh saja, 'no dayo." Shintarou menyetujui sambil menaikkan kacamatanya.
Takao tersenyum lebar. "Selamat datang, Kuroko."
Mengulurkan tinjunya, Takao mengadakan acara sambutan kecil-kecilan, kekecilan malah.
Kuroko menyambut kepalan tangan Takao dan Shintarou segera bergabung.
Mereka bertiga, mengikat janji untuk mengalahkan target mereka.
Untuk mengalahkan sang pemilik 'kandang', keluarga Akashi.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Author's Note :
Hallooo! Makasih udah baca chapter 2!
Uhm, saya mau memberitahukan beberapa hal.
1. Ini cuma terinspirasi dari my favorite criminal theme anime beside P*****-Pass, Zankyou no Terror. Alasan pake karaketer Midorin, bukan cuma karena dia mirip sama Nine, tapi saya suka pairing MidoTaka (NB : hanya sebagai partner basket). Tadinya mau mau make KagaKuro, tapi Kagaminya kagak masuk. Ntar, over OOC malah :v
2. MAKASIH BANGET UDAH REVIEW/FAV/FOLLOW. SUKI DA YO! :*
3. Oh ya, makin banyak review, makin cepat update :*
Oke, goshujin-sama, aku nggak ada nulis DLDR, 'kan? Jadi, bash atau sebagainya diperkenankan. Sekali lagi, kalo ada kata-kata di luar bahasa Indonesia yang nggak aku Italic, itu karena ponselku lagi nggak support.
.
..
.
MIND TO REVIEW?
.
.
.
Shintaro Arisa, out.
