A/N: Yak, jangan lempar saya karena telat sesangat-sangatnya publish chap yang ini.

Saya sedang tergila-gila sangat dengan Kingdom Hearts! Dan dengan senang hati menelantarkan fic ini sementara saya sibuk namatin Game, wuhuuu! Karena itu, mungkin -atau pastinya? Whatever?- bakal ada beberapa hal yang mirip KH-mungkin-#gak pasti, tapi seengaknya ada referensi buat genre fantasy#. Auuuh, Ventus, Roxy! Kyaa, RikuSo nya so sweeet! Donalddd! Lama tak mendengar suara cemprengmu sejak di Walt Disney Indonesia di Indosiar! Gue kangen sama tokohnya Walt Disney! Gue kangen ama para bebek-bebek, tikus-tikus,anjing-anjing, je-jangkrik-an yang bisa bicara ituuu! *gelundungan* kembalikan masa kecilku! Pluissss! hwahwahwa...*mewek*


.

Don't Like, Don't Read

Warning: cerita didominasi oleh konten Boys Love a.k.a Yaoi, OOC demi keperluan cerita, miss typo. Terinspirasi dari komik coret-coret saya saat SMP yang terinspirasi dari komik MÄR milik Nobuyuki Anzai.

Pairing: Many Pairing Yaoi (masih belum yakin pairnya ada apa saja)

Summary: Bagi Alfred. F. Jones ini adalah musim panas yang luar biasa membosankan. Sekalipun dia tak pernah berpikir akan terjebak dalam dunia yang benar-benar familiar namun asing baginya. Yaoi. Setting AU.

Opening Sound Track: Simple and Clean (Remix) by Utada Hikaru

Ending Sound Track: Bring Me To Life by Evanescence

.


.oOo.


"Fuh..."

Seulas senyum terpampang pada sepasang pipi agak tembam pemuda dengan blonde pendek membingkai. Violetnya memancarkan kepuasan akan sesi kerjanya yang sudah selesai. Menjemur pakaian.

"Ahhh, selesai juga. Tinggal memasak makan siang, setelah itu aku istirahat." ucapnya sambil merenggangkan kedua tangannya. Bola matanya menengadah kelangit, menatapi arak awan yang putih terpadu dengan langit biru dikala mentari bersinar cerah. Menikmati sepi angin yang bertiup sejuk, mengembangkan pakaian-pakaian yang tengah dijemurnya. Memandangi sebuah bintang yang berkelip diatas sana.

'Eh, tunggu.'

Ngiiing!

'Bintang? Ada, ya bintang siang-siang?'

BRUAAAAAK!

Seulas senyum damai pada rona kemerahan hangat, bukti menikmati alam yang tengah berkicau. Berubah drastis 175 derajat memandang menjadi pucat keunguan mendapati bintang dilangit yang berubah menjadi meteor dan kenyataannya bahwa bintang jatuh itu adalah seekor mahluk kelebihan lemak yang bernafas dan hidup yang jatuh tepat MENIMPA tiang jemuran tempatnya menjemur pakaian.

Violet makin horror memandangi kain-kain putih yang berterbangan bebas diudara. Dan dengan saaangat perlahan kain-kain putih yang sudah bersih tak ternoda dan diberi pewangi itu jatuh ketanah. Yang berlumpur kalau mau ditambahkan.

"ARRRRGHHH! CUCIANKUUUU!"

Hei, Tiino, ada orang pingsan tuh.

"BINTANG JATUH BRENGSEEEEK!"

Waw, rupanya seorang Tiino juga bisa memasang wajah yang mengerikan sekaliber Berwarld! Tamatlah nyawa kalian wahai siapapun atau apapun dari wujud bintang jatuh.


.oOo.


.

Parallel Mirror

( Memantulkan sisi diri yang lain. Dunia yang sama. Namun, berbeda disaat bersamaan.)

.

Original Story by Rin

Disclaimer © Hidekaz Himaruya

Another World Inspired by MÄR © Nobuyuki Anzai

Friendship, Family, Humor, Adventure, Supernatural, Fantasy

Rated T (Might Change)

.


Chapter. 2


.

Kaki dikepala. Kepala dikaki. Istilah yang tepat untuk posisi tidur kacau bak diterjang gempa. Dimana kaki dibantal, kepala nyaris jatuh kelantai. Seprai sudah tak jelas apa bentuknya. Kaki tangan bergerak-gerak gelisah, kepala toleh kiri kekanan panik. Dan banjir keringat disekujur tubuhnya. Bibir terus meracaukan igauan yang tidak jelas, terkadang kejang-kejang dalam tidurnya.

Entah apa yang dimimpikannya yang pasti jauh dari kata bagus.

"Uhh, Mama, jangan Shinning Wizard..."

Mimpi jadi samsak uji coba jurus baru? Mimpimu tidak elit sekali, Al.

"Uhh... Jangan yang dibagian situ... Ahhh!"

Entah kenapa racauan igaunya akan terdengar seperti cowok puber yang sedang mimpi basah sama pasangan homoan-nya di telinga orang lain yang mendengar. Apalagi yang beraliran Fujodanshi. Pasti mereka berpikir kalau dia yang ada 'dibawah'. Hhmmm. Ini hanya curcol numpang lewat author, kok.

"Ahhh...! Stop it mom!"

Bruk!

Mata terbuka membelelak ketakutan, nafas ngos-ngosan. Bibir meneriakkan permohonan ampun. Badan jatuh dengan sangat tak elitnya kelantai —ngangkang. Mimpi buruk yang berakhir buruk.

Berguling kelantai, kemudian mengambil posisi duduk. Kedua tangan menopang sisi tubuh, sebelah terangkat mengusap pada bagian dada, bermaksud menenangkan jantungnya yang bergerak lebih cepat dalam satuan detiknya. Bermimpi menjadi percobaan sasak gulat mama, bukan hal bagus untuk teman tidur.

"Hhh..." menghela nafas lega, mengusap peluh yang mengucur pada wajah dengan kedua tangan, mengusapnya kebagian atas. Rambut pirang yang rapi sedikit berantakan, basah oleh keringat, mata yang sewarna langit terlihat lebih jelas tanpa kacamata yang menempel. Jujur dia terlihat lebih keren sedikit dengan wajah bangun tidurnya.

"Ngg?" kok rasanya kamarnya sempit sekali, ya?

Menoleh kekanan dan kekiri, tangan menggaruk sebelah kepala. Perlu proses loading cukup lama sampai akhirnya kepalanya dapat menerima informasi, mengolah, kemudian menerka-nerka apa yang terjadi.

Mengingat-ingat apa yang terjadi, Yak, Configurating System...

1%...

...20%...

Rekaman ingatan yang tersendat-sendat terputar dikepala. Liburan musim panas. Ditinggal sendiri dirumah. Menghajar papa yang dikira maling. Di smack Down mama. Terus kaca pecah...

Kaca? Benar juga, cermin itu. Gerbang. Suara orang.

Dirinya tersedot masuk.

Dia ditempat lain.

"!" tersentak sekali lagi. "A-aku dimana?" loading lama kau, Al.

Beranjak dari ranjang. Menjeblak jendela kamar kasar. Sinar matahari menyorot mata. Dan dihadapan... Terhampar padang luas, rerumputan hijau, langit pagi yang biru saling terpadu membentuk horizon, hutan kecil diseberang sana, pegunungan terbentang dibelakang. Cicit burung yang damai, kupu-kupu hinggapi bunga, angin berhembus semilir, rasanya seperti didalam Negeri Dongeng. Tidak ada bising klakson bersahutan. Tidak ada bombardir konstruksi jalan. Tidak ada asap knalpot jadi polusi yang menyebabkan bertambahnya pemanasan global dibumi. Tapi, siapa yang peduli? Yang jadi panas bumi bukan dirinya ini.

Tidak ada kata mutiara papa yang sudah menjadi sarapan untuk telinganya. Tidak ada kemarahan mama yang menanggapinya. Apa yang terjadi dengan New York? Apa mereka tengah tenggelam dan berorasi secara revolusi? Sehingga sekarang negara yang katanya adalah Industri terbesar didunia menjadi desa damai nan tenteram pada zaman jadul begini? Dimana gedung tinggi bertingkat itu? Dimana toko hamburgernyaaaaa?

Dasar pemerintah sialan! Kalau mau berrevolusi toko hamburger jangan ikut dihilangkan! Bagaimana dirinya bisa hidup tanpa tumpukan ham diatas roti ditumpuk lagi dengan keju, selada, tomat dan bumbu mayonaise sebelum roti lagi ituu! Ini kiamaaat!

Sementara kita abaikan Alfred yang mencak-mencak sendiri dikamar orang. Ditempat lain. Tepatnya didapur rumah pasangan suami-suami bahagia SuFin kita bisa lihat sang suami merangkap istri alias Tiino Väinämöinen yang memasang tampang kusut plus awut-awutan sambil memasak makan siang —yang perlu diragukan rasa serta gizi yang terkandung didalamnya.

Crak!

Potongan wortel mental entah kemana. Pisau ditangan diayun-ayunkannya dengan sadis, menjadikan bahan makanan tak berdosa dan penuh vitamin itu hancur menjadi bentuk 'tak ada bentuknya' yang sangat artistik. Mencacah beringas —taktotaktok —crakcrokcrakcrok. Sementara bibirnya menggerutu nyaring —grmmblgrmmbl, ngedumel, kesal plus nggak terima.

Alasannya?

Pertama. Karena dia capek. Semua pekerjaan rumah tangga dia lakukan setiap hari. Dari menyapu, mengepel, me-lap jendela, cuci piring, membuat makanan, cuci baju (tidak pakai mesin), dan menjemur pakaian sampai dirinya bosan akan rutinitas itu!

Kedua. Entah kejatuhan bintang apa. Mungkin ada hubungannya dengan dia jatuh dari tangga pas mengepel tadi, hari ini hari yang sial untuknya! Pakaian dan kain yang sudah susah payah dicucinya teronggok jatuh begitu saja ditanah. Dikarenakan sebuah bintang jatuh siang bolong yang ternyata adalah manusia obesitas —dia tidak mau tahu kenapa bisa— jatuh dari langit. Dan dengan enaknya mendarat diatas tiang jemuran, hingga para kain itu, terutama yang putih, berterbangan layaknya burung yang lepas dari sangkar, dan kemudian mendarat ditanah yang berlumpur. Dan karena itu terpaksa ia mencuci ulang. (INGAT! TANPA MESIN) capeknya dua kali lipat!

Ketiga. KENAPA BERWARLD MALAH PERGI DISAAT BEGINI! HINGGA DIA HARUS MENGANGKAT TIMBUNAN DAGING BERLEMAK BERWUJUD MANUSIA ITU SENDIRIAN KELANTAI DUA! Itu bukan capek lagi. Ya, Tuhann! Pinggangku mau patah mengangkatnya!

—BRUAK!

Seorang Tiino bukanlah orang yang akan tega meninggalkan begitu saja orang pingsan untuk terpanggang ditengah terik matahari siang. Meski semenyebalkan, semerepotkan, setak tahu malunya, dan seberat apapun massa orang yang ditolongnya. Memang pada dasarnya dia baik hati. Hahh, kenapa Tuhan menciptakannya dengan sifat seperti ini. Terkadang ia merasa sangat repot sendiri dengan hal itu. Ahh, takdir kali.

—Dzing!

Bum! Bum! Bum!

Ngomong-ngomong diatas ribut sekali? Jangan-jangan anak itu sudah bangun. Pikir Tiino. Entah dia yang memang koneksinya sedang lola, sama sekali tidak tanggap dengan getaran bak gempa yang dirasakannya tiap suara yang identik dengan kata 'hancur', rusak', 'binasa' terdengar.

KRAK!—

Mematikan kompor dan melepas celemek. Kemudian, berlari kecil menuju tangga lantai dua. Sedangkan hatinya komat-kamit sendiri.

DUAKH! BUK!

'Aku berharap kasurnya kuat. Kuharap dia ribut bukan karena jatuh dari kasur karena patah tidak kuat menahan beratnya... Dan, Tuhan! Kasur itu dibuat dari kayu yang mahaal!

—BLAAAAR!—

Suara ledakan ketika pintu kamar terbuka, asap mengepul, debu bertebangan. —truktruktruk—dan suara batu berjatuhan.

Atau yang lebih parah lagi, mendapati interior kamar tidurnya kini sudah berganti cat menjadi langit biru dan padang hijau, plus bercak macam tembok hancur dan jendela yang dinyatakan raib, juga beberapa barang dikamarnya rompal. —Intinya, kamarnya jebol.

"GYAAAAAA... —ukh!"

Oh, dan dari siapa teriakan itu? Pastinya bukan dari Tiino. Dia terlalu shock hingga hanya tersisa raga yang melongo dengan tampang cengo. Berdiri mematung dengan wajah tirus yang memutih, membisukan kosakatanya, sementara arwahnya melayang entah kemana.

"YOOO! TIINO! Hei, tadi aku melihat ada yang mau maling dirumahmu!"—menunjuk Alfred yang terbujur pingsan ditengah reruntuhan— "Dia kuat banget, aku sampai mau muntah terkena pukulannya!" —menunjuk perut dan pipi yang terluka— "Tapi, tenang saja dia sudah kuamankan! Berterima kasihlah pada Raja Skandinavian ini! Hahahahaha!" menunjuk dirinya sendiri dan tertawa lebar.

Angin bertiup dingin, hanya suara tawa dari pria berkapak itu yang menggema disekeliling latar.

Sekali lagi, Tiino merasa bahwa sifat keibuan bawaan dari lahirnya ini merepotkan— karena tidak bisa segera menghajar pria kambing yang membuat jebol kamarnya dan membiarkan tertawa nista menganggap dirinya pahlawan —masa bodoh dengan hubungan darah, satu tembakan dikepala belum tentu bisa menyembuhkan ketidakwarasannya—. Oh, tuhan. Kemana sisi jahatku kau sembunyikan disaat kubutuhkan?


.oOo.


Kita kembali kebeberapa menit lalu disaat semua masih tentram dan damai.

Disuatu siang, seorang pria Denmark yang diketahui bernama Mathias Kohler —sikambing berkapak yang -sumpah-ribut-banget— tengah berpetualang menjelajahi setapak jalan, menuju rumah sepupunya yang manis nan baik hati—sekalian numpang makan siang, hehehe.

Ditengah perjalanannya, terdengar suara teriakan dari rumah sepupunya dikejauhan. Insting penyelamatnya bekerja, dia pun segera berlari. Ketika rumah sudah dipelupuk, dia melihat seorang asing yang tidak ia kenal tengah bergelagat aneh dijendela kamar —yang ia tahu kamar sepupunya.

"Karena itu, aku langsung mendobrak kamar Tiino dan menghajarnya dengan kapak —pakai ujung yang tumpul, kok— kusangka dia maling."

Berakhirlah kisah Perjalanan Si Kambing Denmark yang berujung pipinya terdapat cap tangan merah dan dirinya harus mengkerut dibawah tatapan sadis suami sepupunya diruang tamu layaknya narapidana yang diinterogasi.

Kapan Berwald datang? Pastinya, setelah Tiino menampar wajah Mathias keras-keras sambil menangis protes dan mendapati ada ribut-ribut juga bagian rumahnya hancur.

Terus, Alfred bagaimana? Sudah bangun dan diobati —tambah luka lagi dia—, dan dengan wajah masam, bibir monyong komat-kamit, duduk berdampingan dengan Mathias —yang dari tadi diacungkan jari tengahnya, diam-diam. Menunggu diinterogasi.

"K'n'p' k'u t'd'k m's'k l'w't p'nt' d'p'n?" tanya Berwald pada Mathias dengan aksen 'tidak jelas' nya.

"Hah? Hei, Ber, ngomong apa kumur-kumur? Bicara yang jelas."

"K'n'p t'd'k l'w't' p'nt'u?" ulangnya.

"Jangan pakai bahasa alien, dong! Bikin naik darah kalau bicara denganmu!"

"K'n'pa m'l'h k'mu y'ng m'r'h?"

Melihat tanda-tanda akan dimulainya perang dirumah, Tiino buru-buru menengahi.

"Sudah Mathias, Berwald bilang, 'kenapa kamu tidak masuk lewat pintu depan', maksudnya kenapa kau harus menghancurkan kamarku sementara jelas rumah ini punya pintu masuk?" ulang Tiino yang duduk disamping Berwald. Setidaknya dia sudah cukup tenang untuk sekedar menerjemahkan bahasa tidak jelas kekasihnya.

Menanggapi itu, Mathias hanya cengengesan, nyengir bego."Biar kelihatan lebih keren gitu, hehe." sungguh tipe orang yang minta digampar.

Alfred terdiam. Sedari tadi tiga orang disekelilingnya itu berdebat dia lebih memilih memerhatikan mereka. Wajah mereka. Sungguh sangat tidak asing. Dan seyakin-yakinnya, ia tahu ketiga orang ini.

Hanya yang ia herankan, kenapa mereka bersikap seolah mereka tidak mengenalnya. Meski tidak dekat, setidaknya mereka pasti tahu tentangnya, bukan?

Melirik pada Tiino —yang berwajah merana, mencoba menenangkan Mathias dan Berwald yang menunjukkan tanda-tanda bakal adu gulat—, dia itu —mirip— guru Matematikanya disekolah, dia lumayan populer —untuk jadi incaran— dikalangan siswi aneh macam Elizaveta. Entah mengapa? Mungkinkah karena sifat keibuannya dalam mengajar —ini yang jadi alasan kenapa satu sekolah menolak keras ketika ada rumor bahwa Tiino akan diganti. Hei, diajari sama Tiino sama dengan nilai bagus ditangan, tergantung anaknya juga, sih.

Dan —melirik sedikit pada Berwald— lelaki dengan sorot mata menyeramkan, wajah yang bikin anak-anak langsung pada ciut ketika disuruh berhadap-hadapan dengannya, sangat cocok jadi guru BP. Selain itu Mr. Oxenstierna disekolahnya juga memiliki kebiasaan dengan cara bicaranya yang tidak jelas. —oh, ya, ada kabar mereka nikah siri (by: Elizaveta Herdevary) , gak percaya sih, tapi melihat kejadian ini mungkin semua itu benar.

Dan sikambing berisik disampingnya, bukan hanya kenal, murid kelas tiga ini tidak jarang alias terlalu sering (plus kata banget ) adu bacot dengannya. Membanggakan siapa yang terhebat —berhubungan dengan kata 'aku', 'Hero', dan 'Raja pada zaman viking itu'—.

Yang berbeda mungkin hanya pakaian yang dikenakannya. Pakaian yang mereka kenakan terlihat ribet —dimata Alfred yang hanya memakai T-Shirt dan Jeans— dengan kain macam jubah dililitkan—Yang dipakai Berwald dan Mathias—. Seperti pakaian para yang ada di game RPG masa kolonial yang sering dimainkannya.

Pakaian yang cukup aneh bila dilihat dari sudut pandang sebagian masyarakat New York —karena akan terlihat bahwa orang itu sedang adalah dari masa lalu. Pikirnya.

Kesimpulannya ini bukan dunia yang ia tahu. Memang mirip. Tapi, berbeda.

Terlepas dari lamunan Alfred, ditengah racauan seorang Mathias, Berwald sedarinya memandangi Alfred dengan pandangannya yang menakutkan —pastinya—. Mungkin bertanya-tanya siapa gerangan anak ini? Atau ada alasan lain? Mungkin.

"D'n, k'u?" tanyanya tak lama.

Sebuah suara yang membuatnya lepas dari lamunan. Alfred melihat ketiga orang disekelilingnya tengah memasang mata menatap lekat kepadanya, menelitinya seakan dia sebuah barang mahal yang dijual terbatas waktu grosiran.

"Eeeh..." dilihati begitu cukup bisa membuat Alfred yang tergolong anak ribut menjadi kikuk. 'Uhh, ada apa denganmu Al? Bersikaplah seperti biasa!'

"Tiino bilang kau jatuh dari langit, benar?" potong Mathias.

"Hah? Aku tidak tahu kalau begitu. Yang kuingat saat aku bangun aku sudah disini."

"N'm'm'?"

"Hah?" —sedikit tidak yakin dengan apa yang ditanyakan, tapi jawab saja—"Alfred. Alfred .F. Jones."

"..."

"Bagaimana kalau kau ceritakan apa yang kau ingat, mungkin kami bisa bantu?"

Alfred pun menjelaskan bagaimana bosannya ia sendirian dirumah ketika matahari bersinar terik diluar dan anak-anak remaja lainnya bersenang-senang, bagaimana ia mendapat tabokan cinta dari sang Mama karena sudah menganggap papanya maling dan menghajarnya — "Kalau begitu karma, dong." celetuk Mathias lagi, dan mendapat jeweran dari Tiino— tidak mempedulikan perkataan Mathias, Alfred melanjutkan dengan berapi-api bagaimana tidak adilnya ketika disuruh membereskan pecahan cermin ulah papanya. —"Itu kan salahmu sendiri." dan terdengar bentakan Tiino.—

Tapi, anehnya tidak ada pecahan kaca didalam sana dan ketika mendekati sumber permasalahan dari semua insiden yang menimpanya —berwajah seperti mau nangis—, gantinya ada sebuah gerbang aneh yang terpantul dalam cermin,—Tiino sedikit menahan nafas— dan suara aneh yang memanggilnya seakan dia adalah orang yang dicari —sejenak berhenti berkata, berpikir apa perlu menceritakan kejadian selanjutnya—... Juga... Seseorang yang —firasatnya bilang —mirip dengannya.

—Berwald berjenggit, semakin menatap tajam pada Alfred. Mathias tak memberikan reaksi apapun, hanya diam mendengarkan. Tapi, tak tahu apa yang dipikirkannya.

Dan setelah itu, seperti yang mereka tahu, dia terdampar disini. Ditempat asing yang ia yakin adalah dunia yang berbeda dengan dunianya.

Selesai. Alfred menunggu bagaimana tanggapan setelah mendengar ceritnya yang terkesan tidak masuk akal untuk diproses dalam memori otak manusia itu. Tapi, itu lah yang terjadi padanya. Apa yang perlu disembunyikan?

Sekian detik dilalui suasana bernama hening, sampai Tiino akhirnya angkat bicara pertama kali,"Kalau dipikir-pikir itu mustahil." ucapnya tersenyum miris.

"Itu seperti petualangan fantasi bocah ingusan." tanggap Mathias mengejek —dibagian ini Alfred ingin segera menonjok mukanya, tapi ditahan. Jaga image, ini dirumah orang. —kalau diluar baru kuhabisi dia. Pikirnya—

"K'l'u k'u k't'k'n p'd' 'rang l'in, m'r'ka p'sti t'd'k 'kan p'rc'y'." —tidak jelas dia ngomong apa, tapi pastinya juga tanggapan negatif—

Mendengar semua kemungkinan menjadi nol. Alfred mendesah, mengerang frustasi. 'Sudah kuduga mereka tidak akan percaya. Argggh! Apa artinya aku tidak bisa pulang?'

Tiino melirik Berwald, mencoba menyampaikan isyarat dengan matanya. Memang Alfred telah merepotkannya —merubuhkan tiang jemuran hingga akhirnya dia harus mencuci ulang semua pakaian. Pinggang encok karena mengangkatnya kelantai dua, sudah tahu beratnya nauzubillah. Dan bertengkar dengan Mathias yang mengorbankan nyawa kamar tidurnya —jebol (sebenarnya 90 persennya itu ulah Mathias, tapi Alfred tetap ada andil dengan melemparkan meja hingga patah jadi dua)— tapi, dilihat dari ceritanya Alfred tidak punya tempat untuk pulang. Dan tidaklah manusiawi mengusir seseorang begitu saja (selain itu dia masih harus bertanggung jawab membetulkan kamarnya).

'—apalagi disaat begini.'

Selain itu, Tiino merasa dia tidak berbohong.

"..." Berwald terdiam, —memang pada dasarnya Berwald lemah dengan kekasihnya yang satu ini.

"T'p', s't'd'kny' k'mi b'sa m'ngangg'pm' t'rs'sat d'tm'p't as'ng. K'u b'leh t'nggal d's'n' s'mp'i k'u m'nem'k'n p't'njuk t'm'ptm' p'lang."

"A—h, terima kasih."

Tersenyum, menatap kekasihnya. Membuat yang ditatap sedikit bersemu merah, sembari memalingkan wajahnya. Tiino mengalihlan pandangya pada Alfred.

"Oh, ya. Ngomong-ngomong kau mau ganti baju? Kupikir kau tidak punya baju ganti." usulnya beranjak dari sofa. "Kau pakai saja baju lama Berwald, pasti pas."

"Hehe, baiklah pak guru!"

"Pak guru?"

"Ahh, bukan. Lupakan saja. Hanya selip dikit. Hahaha..." 'Ini gawat, aku malah mengira dia pak Tiino.'

Sebuah seringai terpampang sepeninggal dua orang lainnya diatas. Dalam hening itu Mathias terkekeh, melirik pada Berwald yang bersikap tidak peduli pada sekelilingnya.

" 'Bila mengatakan pada orang lain, pasti mereka tidak percaya.' Tapi beda kenyataan lagi bila mengatakannya pada 'kita', heh?" dengusnya sinis. "Kau percaya ceritanya?" jempol mengarah pada tempat kosong dimana Alfred berada tadinya.

"50%." Jawabnya. Berwald membetulkan letak duduknya. Sebelum melanjutkan. "R'aks'ny' t'r'l'l' 'n'h 'nt'k' s'or'ng y'ng t'rd'mp'r d'dmens' l'in." lanjutnya.

"Sudah kubilang jangan pakai bahasa alien, ikan kaleng!" sengit Mathias. Mencibir kesal.

'Yah, tapi benar juga apa katanya.' melirik pada tangga yang meninggalkan jejak keberadaan dua orang yang berada pada lantai dua. Tangan terangkat mengatup hidung dan bibirnya, bersangga kepala pada satu tangan.

'Seakan dia sudah lama berada disini. Atau—memiliki ingatan yang terkait dengan dunia ini. Selain itu —'

Kening berkerut, geram gemelutuk gigi. Safir berkilat tajam, dalam hening alam sadarnya yang dominan.

TikTik. Sejenak terlalui dalam sunyi, cekam menjadi atmosfer. Berwald hanya membisu, menatap sosok yang biasa hyper itu terdiam dalam pikirannya. —dalam kemarahannya, kalau mau dibilang jujur.

"Ng'm'ng-ng'm'ng, ad' ur's'n 'pa k'u k'm'ri?" mencoba memecah atmosfer kelam, dimulai dengan percakapan enteng. Mathias mendongak, menepuk dahinya, merasa bodoh —untuk pertama kalinya— karena melupakan hal penting. "Aaaah, benar juga~" tangannya meraba kantung dibalik terusan auburn yang dipakai. Meraih sejumlah map yang terikat rapi dengan tali.

"Ini." lemparnya.

Meraih tumpukan map pada meja, membuka ikatannya, membacanya satu. Dan terkejut wajah keras itu kemudiannya. "Ini..."

"Seperti yang kau tahu..." seringai jahil terpoles. "Aku sudah berbaik hati mengantarkannya padamu, heh. Nanti bicarakan saja sisanya dengan Tiino... Dan untuk anak itu" menoleh sebentar, memastikan mereka yang diatas tidak mendengar, "Akan kubicarakan dengan Norge."

Hanya anggukan yang diterima Mathias.

"Yaah, sementara tampung saja dulu dia disini. Kasihan juga kalau membiarkannya terlunta-lunta ditempat asing. Nah, makan, makan~." beranjak dari kursi, sembari menepuk-nepuk perutnya tanda ia kelaparan.

Melihat itu, sekejap mata Berwald menajam —diiringi dengan sound effect 'CLING'— cepat tangannya meraih lengan Mathias, menahan lajunya menuju dapur.

"Aduh!"

"M'th'as."

'Hek!' tersedak ludah sendiri menatap wajah sangar yang menariknya.

"J'ng'n c'b'-c'b' k'bur, k'u m's'h h'r's m'mb't'lk'n k'mar T'ino y'ng k'u h'nc'rk'n." deliknya sangar.

'Cis, kupikir dia lupa.'—"Arrrrhh! berisik kau ikan kaleng bisu! Jangan memerintahku, biarkan aku makan."

"Hm, ak' ak'n tag'h, n'nti."

"Gah! Dasar Kaleng ikan!"


.oOo.


"Sudah kuduga cocok!"

Seruan senang keluar dari mulut Tiino menatap Alfred yang menjadi hasil karyanya.

Kini Alfred mengkenakan turtleneck biru muda dengan sambungan resleting tidak sampai leher, sebuah rompi coklat—sayang bukan jaket bomber, seperti jaket kesayangannya, ihiks— tergantung tanpa terkancing. Ditangan kanannya tersemat handband merah miliknya. Sementara kedua tangannya memakai sarung tangan buntung hitam. Celana kain 3/4 hitam. Sementara, sepatu sneakersnya tidak diganti —tidak ada yang cocok untuknya.

Alfred menatap pakaian barunya. 'Lumayan juga.' pikirnya. Berlapis-lapis, tidak sesimpel pakaiannya, tapi karena mengingat udara cukup sejuk, tidak masalah untuknya.

"Untuk sementara kau pakai ini saja. Aku akan carikan pakaian lama Berwald yang lain." Ucap Tiino melipat kembali pakaian yang dikeluarkan. "Kau boleh tinggal disini. Untuk sementara kita akan cari cara untuk memulangkanmu."

Mengangguk senang. "Ya, baiklah!"

Mungkin tidak akan apa-apa. Sementara ini aku nikmati saja dunia ini. "Hehe." tawanya kecil.

DRAPDRAPDRAPDRAPDRAP!

BRAK!

"TIINO! MANA MAKANANNYA!" seiring dengan pintu masuk bertemu tembok hingga retak, Mathias muncul diambang dengan wajah frustasi gak dikasih nasi.

"Ah, aku lupa! Aku tinggalkan begitu saja!" Tiino segera beranjak, dan lari kearah dapur.

Melihat Berwald memakai celemek, dan kelihatannya dia melanjutkan masakan Tiino yang sempat terlupa. "Ahh, Ber, biar aku yang masak!" paksanya mengambil celemek yang satu lagi.

"T'd'k 'pa-'pa, k'u 'st'r'hat s'ja." dorong Berwald hingga Tiino terduduk di kursi.

"Ta-tapi..." berusaha berdiri lagi.

Melihat kekeraskepalaan kekasihnya, Berwald menatap Tiino dengan pandangan khasnya. "Hngg..."

"Hiiii! Iyaa, iyaaa!" terbirit-birit Tiino menempatkan pantatnya lagi dikursi dimeja makan. Kelihatannya cinta tetap sulit untuk menghilangkan rasa takut pada pandangan tajam kekasihnya itu.

.

.

.

"Ahhh! Itu dagingku kambing! Makan rumput saja sana!"

"Siapa yang bilang itu dagingmu, mahluk obesitas!"

"Kau sudah makan 5 paha ayam!"

"Kau sendiri menghabiskan daging sapinya! Hei, Tiino! Keluarkan bir!"

"Hwaaa, maaf pa —eh, Berwald!"

"Gendut! Itu supku!"

"Kambing! Yang kau makan itu mie-ku!"

"..."

Berwald hanya bisa menatap sangar. Sementara Tiino hanya bisa tersenyum kecut menjadi penonton pertarungan makan —yang dibumbui makian dan sendok, garpu, juga gelas —dua mahluk ribut kurang kasih sayang ini. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau setiap hari —kali 3x waktu makan— selalu seperti ini.

Melihat porsi makan Afred (plus Mathias) —yang bisa bikin gaji didompet langsung ti'is. Tiino jadi berpikir ulang tentang pemikirannya. Apa benar, ya, menampung anak itu disini?


.

.

TBC

.

.


A/N: aneh, ya? Arrrh! saya gak mu komen apelagi. Seiring waktu fic ini mungkin akan menghilangkan humornya dan beralih ke hurt/comfort *DZIKK!* hweee, saya emang susah bikin humorrrr. TT^TT! PLUIS HELEP MIH SAUDARA SEJAWATKU ! agar aku tak mengecewakan kalian! Huhuhu.

Seluk beluk dunia ini belum digambarkan secara jelas, karena tokoh penting yang akan menerangkan dunia ini belum muncul.. hayyoo, siapa aja tokoh yang berperan sebagai semacam guidenya Alfred? Nanti tak kasih bonus pairing deh. Hehehe.

For Reviewers:

Miss. Lavender Calesta: hooo, makasih telah meripiu. Ehh, sama kayak fic buatanmu. Kenapa gak dipublish aja, aku yakin menarik. Makasih ripiunya.

Aiko no Nyo to Clover Project: Aiko: sesama penggemar MAR? Auhh, cerita itu emang keren. Nobuyuki Anzai adalah inspiren pertamaku dalam dunia peranime-an! EHHH, KENAPA? KAMU GAK SUKA Alfred? Terus maunya siapa? Ngg, saya coman make canada versi cewe sebage ibunya Al. Tapi, disini bakal muncul canada yang co juga kok. #GAK MUNGKIN AKU MENGHILANGKAN COWOK IMUT- IMUT EN SOCUTE ITU DARI FANFICKU!# nggg, genrenya bisa ditambah dan dikurangi sesuai keperluan. Aduhh mbakk, ampun mbak, saya belum mau mati jangan bunuh saya. Nanti nih fic gak selese, looo. Bunuhnya ntar aja kalo nih fic dah selese, ya? tapi sebelum itu saya akan minggat jauh-jauh dari kampung rambutan ke perapatan munjul (lho?) terus nyemplung ke kolong jembatan, hidup mewah disana. (hah?)

Kazumi: oucch, kenapa kamu mukul pake kayu? Kenapa gak sekalian aja pake batu, tiang besi? Atau tembak aja sekalian pake RPG, wihhhh, maknyus tenan... ahh, bener saya salah tulis! Gomen, gomen, authornya gak teliti. Ngetiknya pas lagi ngambang dikali sihh, makannya error. Terimakasih ripiunya kalian berdua!

RikuSena: bener bangeettt! Alviss-chan emang mantanku yang paling kereeen, cakep, uawaaah! Eh, eh, kira-kira suka gak dengan pair RolandxAlviss #dihajar# soalnya mereka sama-sama kena kutuk sih...

OOT! Back to answer Review!

Wakwakwakwak! Mencerminkan saya sangat itu all! Lagi libur tuh enakan gegulingan dikasur sambil makan krupuk! Sambil pegang psp, dan Ol, beuhhh, gak ada duanya deh! Apa lagi kalau ruangannya ber-AC. Auhhh, mantap sudahhh! Libur is SANTAI! Hahahaha! Eh, sapa cewek malang yang gak punya mata itu? *digampar* random aja kok, aku gak niat mereka dijadiin pair. *soalnya ada satu reviewer yang niat banget ngerequest USUK* *bisikbisik*

Heeee, pasif agresif? Ouhhh.. entah kenapa kata-kata itu membuat adegan very kinky Mattie bertebaran dikepala! Ahhhh, so hot~ *bocah mesum*. Papanya sapa? Hmmm, sapa yah? Sapa yahhh? Yaaahhhhhh? Silakan tebak! Ini termasuk pair crack yang saya pikirkan. Hekhekhekhek. Yang narik al kecermin siapa? Mattie? Uhhm, gak tau deh. Baca aja!

Aiko-Chan Lummierra: nah ini! Reviewer nista saya tapi senantiasa yang selalu mengharapkan USUK! Cermin mamanya kenapa? dibahas dichepie depann, depan, depan,depannya lagi! *itu juga kalau inget* *dibalang torpedo* hohohoho, tapi nginget Canada pernah ngehancurin gedung putih, aku yakin sebenanya Mattie itu mengerikan dalamnya, coman belum keliatan aja topengnya. Hehehhe. Madeline? Terima aja deh. Kabar Fate Line? Kayaknya aku dah upload 2 chap sebelum aplod chap yang fic ini deh. Jadi gak usah dibalang saya ya.

Shinju Ageha: saya turut berduka cita atas HP-mu yang malang. Kena kecelakaan apa dia? Wajib USUK dan PruCan? Kayaknya Prucan mau aku buat tragis lagi deh. Hehehhe...! WUHUUUU! HIDUP TRAGIS!

Oh, ya? kenapa kamu gak bisa disms? Ada kendala, ada masalah? Wat happen? *basa inggris jeblok*

Thank's a Lot For You

REVIEW?