Sebelumnya di Love Sorrow…
Waktu bebas ini di gunakan Akashi dengan sebaik-baiknya. Yang dia lakukan adalah: memeriksa ruangan kelasnya terlebih dahulu. Tentu, dia perlu tahu seperti apa suasana kelasnya sebelum orang lain.
Akashi menghela nafas panjang. "Siapa namamu?" lelaki heterochrome itu berharap lelaki di depannya ini dapat menjawab pertanyaanya.
"Kuroko…Tetsuya"
"Aku–" sebelum kalimatnya selesai, lelaki itu sudah berlari keluar secepat kilat.
"Kuroko Tetsuya, hm? Ada apa ya dengannya?"
.
愛の悲しみ
-Love Sorrow-
A Kirigaya Kyuu Fanfiction
Fujimaki Tadoshiki©
Divergence
.
Malam sudah berganti pagi. Dan pagi ini–yang pastinya akan terus monotone–aku melakukan hal yang sama seperti kemarin.
"Seijuro-sama…apa hari ini mau diantar?" –Shuuzo Nijimura, seorang butler pribadiku. Sebenarnya aku tidak begitu membutuhkan hal-hal seperti ini. Tapi otoo-san–yang sudah hampir tidak pernah tinggal denganku lagi–mengatakan 'kau pasti membutuhkan orang sebagai teman, Okaa-san kan sudah tidak ada di sini lagi', akhirnya dia memberikanku seorang butler. Dia juga tidak buruk. Tipenya adalah 'talk less, do more', dan itu yang kusukai–dari caranya bekerja–darinya.
Aku meletakkan english breakfast–ku ke meja. "Tidak usah. Aku bisa berangkat sendiri"
"Lalu, apa ingin di jemput?" tanyanya lagi. Wajahnya yang tidak pernah menunjukan ekspresi itu, jujur membuatku sedikit kesal. Yah, meski kata banyak orang–maksudku kise–wajahku juga seperti Nijimura. Kise adalah orang kedua–setelah Midorima–yang mengenal Nijimura.
Lantas aku menoleh ke arahnya. Ugh, berlagak seperti bangsawan di rumah ini sungguh membuatku muak. "Tidak usah. Aku bisa berangkat dan pulang sendiri. Kau boleh melakukan apapun sampai aku pulang" titahku. Ya, kata-kataku mutlak. Untuk butler ini, dan untuk siapapun.
Nijimura mengangguk tanda setuju.
Gigitan roti panggang terakhir sudah tertelan, dan aku berangkat.
"Itte rashai, Seijuuro-sama" aku menoleh. Ah, sejak kapan aku tidak mendengar ini? Bahkan kemarin dia tidak menampakan hidungnya. Aku baru sadar.
"Hm, itte kimasu" tanpa gensi, aku membalas ucapan Nijimura.
.
.
"AKASHI-CCHIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!" ugh. Telingaku mendenging.
"Berisik" ujarku ketus.
"Mou…Akashi-cchi tara…" rajuknya. Guh. Sebentar lagi mungkin aku akan menuju kamar mandi.
Dalam perjalanan menuju kelas, selalu. Selalu Kise yang banyak bicara. Dan selalu. Selalu aku eneg dibuatnya–meski tetap saja aku dengarkan–. Dan se-la-lu. Kise selalu membicarakan tentang perempuan. Entah yang telah menjadi kekasihnya lah, yang menjadi gebetan barunya lah, ataupun yang menjadi selingkuhannya. Seperti tiada topik lain.
Dan kita sampai di depan pintu kelas. "Nee..nee Akashi-cchi! Kau mau masuk klub apa, hn?"
Aku mengabaikan pertanyaan Kise. Pintu itu terbuka. Dan mataku tertuju pada satu titik.
Rambut baby blue, dan mata yang senada. Badan kecil dan ramping. Tangan kurus yang menyanggah sebuah buku. Buku apa itu? Manga? Buku pelajaran? Novel? Bahkan hal-hal tak berguna malah mengiang-ngiang di kepalaku. Lelaki itu, lelaki yang menangis–atau memang pada dasarnya cengeng–karena mendengar lantunan pianoku.
Dia menoleh. Mata kita bertubrukan.
Dengan segera orang itu membalikan wajahnya–yang sepertinya tersipu–. Dan aku berjalan menuju meja di belakangnya, di ujung pojok dekat kaca. Sepertinya belum ada yang menghuni.
"Hiyaaa! Akashi-cchi! Hidoi-ssu! Aku dikacangin-ssu!" rengek Kise di belakangku. Aku tak peduli. Ku letakkan tas jansport berwarna merah polos ke gantungan di samping meja. Dapat ku lihat dari sudut mata, kalau Kuroko sedang melirik ke arahku.
Mungkin merasa ketahuan, lelaki yang tubuhnya sedikit lebih kecil dariku itu langung berjalan keluar kelas dan meninggalkan bukunya. Aku yang melihatnya bingung. Antara kejar atau tidak.
"Akashi-cchi! Mou! Aku mau ke toilet dulu-ssu! Tunggu ya!" kuputuskan. Ku kejar.
Kise berjalan ke-kiri, aku berjalan ke-kanan. Mengejar Kuroko. Aku sangat yakin kalau dia berbelok ke-kanan tadi. Suara bising obrolan remaja terdengar masuk telingaku. Namun aku dapat mendengar suara derapan kaki yang tergesa-gesa namun lembut itu. Aku yakin, itu pasti Kuroko.
Sebenarnya, aku masih bingung. Kenapa juga harus ku kejar orang yang tidak ku kenal asal-usulnya. Sayangnya rasa ke-ingin tahuanku lebih tinggi dari pada rasa bingung.
'hm? Suara langkah kakinya berhenti?' batinku.
Sekarang aku sedang berada di pojokan lain lantai dua. Sepertinya aku terlalu fokus pada suara langkah kaki dari pada melihat sekeliling. Pertigaan jalan terpampang di depanku.
BUGH!
'huh? Suara apa itu?' aku mendengar suara dari arah kanan–jalan buntu–.
"Heh! Dasar freshman! Kalau menabrak orang itu minta maaf! Bukannya malah ngeluyur pergi! Dasar tolol!"
BUGH!
"S-su…sumi…masen…" tunggu. Suara ini…agak familiar di telingaku.
"Heh? Harusnya kau bilang itu dari tadi!" dan pukulan lainya di luncurkan kepada orang itu.
Tanpa takut aku berjalan ke-kanan. Melihat siapa yang telah menjadi korban bully itu. Gasp! Pipi kiri dan kanannya sedikit lebam. Bibirnya mengalirkan sedikit cairan pekat berwarna merah. Dan yang lebih parah, itu adalah Kuroko.
"Hoi! Lepaskan dia!" teriakku. Entah angin apa yang lewat sampai-sampai aku mengurusi urusan orang lain.
"Heh? Ada apa bocah? Mau ikut di pukul, hah?!" dapat kulihat di pelupuk mata Kuroko ada cairan bening yang siap keluar kapan saja. Ah, sudah menetes rupanya. Dia mentapku dengan tatapan 'jangan kesini' atau apalah itu.
"Lepaskan dia." Aku menatap sepatunya yang berkaret hijau "Senpai" tambahku.
"Hoo…berani juga dia. Kalian berdua! Cepat tangkap dia!" titahnya menyuruh anak buah–teman paksaan–nya.
Aku mengeluarkan sesuatu dari kantung celana. Persediaan jika ada kejadian yang tidak di inginkan.
Siiiiiiinggggggg
Satu goresan gunting mengenai pipi lelaki ber-surai hitam itu. Heh, itu yang terjadi bila meremehkanku.
"A-apa yang…" "Cepat lepaskan dia. Jika kau masih ingin hidup, senpai" ucapku dengan suara mengintimidasi.
"CK! Suki ni sureba. Guzu yarou!" para senpai itu pergi meninggalkan Kuroko yang di hempaskan begitu saja menyentuh lantai sekolah.
"Hey. Kau tak apa?" guh. Sejak kapan aku jadi sebaik ini pada orang lain?
Bekas air mata yang mengalir tertinggal di pipi lebamnya. Bodohnya aku, dia sedang tidak apa-apa.
Aku menggendongnya, ala bridal style. Yah, itu satu-satunya cara supaya tidak melukai lengan ataupun kakinya. Hm? Tidak begitu berat rupanya.
"A-Akashi-san…to-tolong turunkan aku. Ma-maaf merepotkanmu" pintanya. Kau Kira aku akan langsung melepaskan mu begitu saja? Tentu tidak, Kuroko. Kau seharusnya berterima kasih karena aku sudah mau menolongmu.
"Kita harus ke ruang kesehatan. Wajahmu lebam begini. Kau mau di hujamkan pertanyaan ambigu guru hah?" ugh. Sepertinya kalimatku ini lebih ambigu.
Dia menyembunyikan wajahnya–yang sepertinya merona–ke dadaku. "Arigatou…Akashi-san" ucapnya.
"Hn. Dan jangan pakai surfix –san." Tambahku.
"H-hai. Akashi-k-kun…" aku menyeringai.
.
.
Beruntung kami bisa sampai kelas sebelum bel pelajaran berbunyi. Tanganku senantiansa menggandengnya tanpa memikirkan ataupun mendengarkan ocehan-ocehan orang-orang yang kami lewati. Entah kenapa aku merasa berbeda dengannya.
"A-Akashi-kun…bi-bisa dilepas? Ba-banyak yang melihat…" ucapnya malu. Fuh. Mana mau aku melepasnya.
Eh. Tunggu. Kenapa juga aku tidak mau melepasnya?
"Hn? Tanggung sudah mau sampai" jawabku. Jujur saja ya, aku seperti tidak ingin melepas genggaman tangan ini. Tangan yang lebih kecil dari milikku. Tangannya lembut dan hangat, membuatku nyaman untuk terus menggenggamnya.
Akhirnya kami sampai di kelas. Dan aku harus melepas genggaman tangan ini. Ugh, aku tidak mau. Tak tahu kenapa aku tidak mau. GAH. Hilangkan perasaan aneh ini sekarang wahai diriku! Sadarlah! Dia laki-laki!
"Ma-maaf merepotkanmu Akashi-kun" dia berjalan masuk mendahuluiku. Tatapan mata mengintimidasi mengawasi setiap langkah Kuroko. Dan aku.
"Apa yang kalian lihat?" tanyaku dengan menyilangkan tangan di dada. Kesal.
Lalu dengan gertakan kecilku itu, mata mereka mencari objek lain untuk di lihat. Payah. Tak kusangka teman-teman satu kelasku seburuk ini. Kimochi warui.
"Akashi-cchi!" baru saja aku ingin melangkah mendekati kursiku. Baru saja. Dan Kise tiba-tiba muncul dengan raut wajah–sok–cemas. Hm? Siapa laki-laki di belakangnya itu?
"Mou! Akashi-cchi! Kan sudah kuperingati untuk menungguku!" cih. Siapa juga yang mau nungguin orang ini. "Ah. Mari kukenalkan. Ini Kasamatsu Yukio-senpai. Pengurus OSIS di sini." Jelasnya. Oh.
"Akashi Seijuuro" ucapku mengambaikan tangan yang dia julurkan. Kise mendelik ke arahku.
"Hm. Aku dengar dari beberapa siswa, Haizaki Shogo memukuli freshman ya?" tanyanya. Entah pada siapa. Padaku, mungkin.
Siapapula Haizaki Shogo itu? "Ah, mungkin kau tidak mengenalnya. Kau bisa melihat foto ini" seakan membaca pikiranku, dia menyodorkan ponselnya. Lelaki berambut coklat yang di mode seperti penyanyi-penyanyi raggae dengan wajah sangar. Oh. Senpai yang tadi.
"Ah, aku mengenalnya" jawabku enteng.
"Apa kau melihatnya memukuli freshman? Apa kau tahu siapa yang dipukuli? Kami membutuhkan bukti untuk menjatuhkan hukuman–kesekian–kepada Haizaki. Mungkin kali ini yang terberat." Tanyanya.
Aku tidak peduli. Tapi lelaki itu yang memukuli Kuroko. Aku harus–yah setidaknya sedikit–peduli. "Kau bisa tanya pada laki-laki itu, senpai" aku menunjuk ke arah Kuroko. "Shitureishimasu" dan langsung menuju tempat duduku. Bel sudah berbunyi. Sepertinya sensei akan segera datang memasuki ruang kelas.
"Terima kasih!" ujarnya. Aku mengangguk kecil.
"Nah Kise, terima kasih ya" wakama-wa-waka…ergh aku buruk dalam menghafal nama orang–minus Kuroko. Wakamatsu, ah iya. Aku melihat wakamatsu mengelus kepala kuning Kise. Dia bersemu. Melihat adegan semu-bersemu itu, aku jadi ingat laki-laki yang berada didepanku ini. Dia, sempat bersemu karenaku.
Guru pelajaran bahasa inggris pun datang memasuki kelas
.
.
Tak terasa waktu bergulir, dan sekarang sudah waktu pulang sekolah.
"Akashi-cchi! Gomen-ssu! Sepertinya Akashi-cchi harus pulang sendiri hari ini-ssu! Aku ada, err… kau tahu lah…" aku melihat Kise yang menoleh ke arah samping. Ah. Kencan.
"Ya terserah" jawabku sambil membenahi isi tas. Aku juga punya rencana untuk pulang dengan Kuroko.
"Arigatou! Akashi-cchi!" dengan cepat dia menghilang dari hadapanku. Aku tidak peduli.
"Kuroko, mau pulang bersam–" aku tertegun. Sejak kapan dia sudah tidak ada di depanku?! Perasaan tadi masih duduk di kursinya! "Kemana dia? Cepat sekali menghilang"
.
.
Kakiku melangkah dengan sendirinya menuju ruang musik yang berada di ujung lainnya gedung ini. Entah kenapa, aku merasa kalau dia sedang berada di sana.
'hm? Lagu apa ini?' aku mendengar suara yang melantun dengan indahnya sepanjang lorong sepi ini.
'Violin?' dari bunyi musiknya sih, aku yakin kalau ini violin.
Langkah kakiku mulai mendekati ruang musik, dan suara itu semakin membesar.
'nada ini…rasanya familiar' langkah terakhir. Aku berhenti tepat di depan pintu.
Rambut baby blue yang berkibar terkena hembusan angin dari jendela ruangan yang dibuka. Sebuah violin yang terhimpit diantara tulang selangka. Tangan kanannya memegang sebuah bow. Badannya menyerong dari kaca sedikit jauh dari piano classic hitam. Dari tempatku berdiri aku dapat melihat sebagian wajahnya. Wajahnya yang menitihkan air mata saat bermain violin. Dia menghayati permainannya.
Lembut, penuh rasa sakit yang mendalam, kesedihan. Tiga hal yang dapatku rasakan dari permainannya.
Ah, lagu ini. Liebesleid versi violin. Versi aslinya.
Gesekkan bow pada senar, nada-nada yang di hasilkan, dapat membuat siapapun menitihkan air mata. Beruntung aku dapat menahan gejolak di dada dan di mataku.
Aku terpukau.
Sampai nada terakhir di mainkan. Aku terkejut. Pegangannya pada neck violin terlepas. Badannya jatuh ke lantai. Membuka pintu ruangan dan melihat keadaannya yang dapat ku yakini dia tidak baik-baik saja.
"Astaga! Hoi! Hoi! Kuroko!" panggilku sambil menepuk pelan pipinya yang terbasahi air mata.
Matanya mulai mengatup.
"Kuroko!"
.
.
"Engh…di mana…ini?" sontak aku terbangun dari lamunanku. Akhirnya dia terbangun.
"Hey, kau tidak apa?"
"A-Akashi-kun?!" nampaknya dia terkejut. "K-kenapa aku bisa di sini?!" tanyanya. Klise.
"Kau pingsan. Masa tidak ingat?" jawaban yang tidak kalak klise.
Kuroko tertunduk "Maaf ya Akashi-kun…aku merepotkanmu lagi."
Aku menatap pipinya yang sudah mengempis dari pukulan senpai kurang ajar "Hm. Tak apa. Ngomong-ngomong kau bisa bermain violin?" pertanyaan untuk menghindari kecanggunan di ruang kesehatan ini.
"Uhm…iya…apa Akashi-kun mendengarnya?" kepalanya mendongak.
"Ya. Permainanmu bagus. Lagunya juga tak kalah bagus" ugh. Aku tidak pandai memuju orang.
Dia menunduk lagi. Ah, menyembunyikan rona merah rupanya. "A-arigatou…Akashi-kun…"
"Um. Ah, apa aku boleh memanggilmu Tetsuya?" tanyaku. Yang aku yakini seperti perintah dari pada permintaan di telinganya.
"A-ah…tentu…" jawabnya malu-malu. Aku tersenyum tipis melihat tingkah lakunya.
"Kau…" Tetsuya menatapku "…mengapa saat bermain tadi kau menangis?"
Sunyi.
Kesunyian melanda ruang kesehatan ini lagi.
Hampir dua puluh–atau lebih–menit ruangan ini di isi ke sunyian, dan sekarang mulai sunyi lagi. Apa pertanyaanku begitu frontal? Apa dia ada masalah hidup? Kalau iya, aku bersedia menjadi teman curhatnya–tunggu. Sejak kapan aku menjadi seperhatian ini pada orang lain?!
"A-aku…"
Tess…
Langit di luar yang sudah mendung mengeluarkan rintik-rintik air. Hujan.
"Te-Tetsuya…" begitu pula dimata orang ini. Dia menangis.
"A-aku… aku…"
Hup
Setidaknya hanya ini yang bisa ku lakukan. Aku bukan orang yang bisa mengucapkan kata-kata penyemangat.
"Ssh…kalau ingin menangis, menangis lah"
Aku mengeratkan pelukanku pada pinggangnya. Dapatku rasakan kalau–akhirnya–dia memilih untuk membalas pelukanku dan membenamkan wajahnya pada dadaku.
"Hiks…Akashi-kun…" Tetsuya menangis sejadi-jadinya di dalam dekapanku. Entah masalah apa yang terjadi padanya. Aku ingin bertanya, tapi tidak ingin merusak momen ini. Ah. Perasaan aneh apa ini?
Kami berpelukan hingga malam tiba. Saat hujan reda. Genggaman tangan kami tidak kulepas, melainkan ku eratkan. Beruntung rumahku dan Tetsuya searah.
'Arigatou…Akashi-kun'
.
.
.
"Jangan berfikir kau sendirian melalui masalah hidup ini. Aku akan selalu berada di sampingmu. Melewati rintangan demi rintangan" –Akashi Seijuuro.
Kalimat penenang yang membuat tangisan seorang misterius–Kuroko Tetsuya berhenti.
TBC
A/n:
Hellow~ #muncul dari belakang aomine
Ahahah... iya aku bilang aku hiatus kok... iya aku masih UKK :v aku ngepost ini karena greget kepengen :v jadi jangan marah :v
ADA APA DENGAN CHAPTER GAJE INIIIIIII OMAYGATTTT
:v yah... ampuni saja ya?
aku juga gaa tau mau ngomong apa lagi #Kyuu adalah Author Anti Bacot (AAB) :v
Balasan Review aja deh ya~
Lily Kotegawa: Hai~ ini udah lanjut :v meski gaje :v ah.. aku juga buahaha :v
Kuro: Iya...ini terinspirasi dari Shigatsu wa kimi no uso.. tapi ini bukan canon! ini divergence. bukan judul film lho ya :v maksudnya itu kayak ngikutin sedikit... tapi alurnya totaly beda... ya kalo kurang jelas bisa googleing :3
V Vee-chan: Ini lanjut~ meski gaje :v.. smoga ini udah banyak ya :v makasih semangatnya Vee-chan ;3
Akari Kareina: Haiiii~ ini udah lanjut~ meski gaje :v
Mama Teteh: mah. please deh. reviewnya yang bener napa :v aduh... gawat fic aku udah di jagain emak :v jangan baca lagi ya mak :v
Yap segitu aja :v bilang ya kalo chap ini mengecewakan.. aku ngebet publish buahaha :v meski lama banget WB nya :V
Peluk Cium,
Kirigaya Kyuu
