Disclaimer : Yana Toboso

A PROMISE TO BESIDE YOU, ALWAYS

Pair : Sebastian x Ciel

Warning : boyxboy, typo bertebaran, deskripsi minim, OOC, alur kecepetan, akan banyak OC disini, and many more.

DONT LIKE, DONT READ! HAPPY READING MINNA!


Badai salju telah berhenti dan menyisakan berbagai tumpukan salju disana sini. Sepanjang mata memandang, hanya terlihat tebalnya saju dan beberapa batang pohon tanpa daun. Beberapa mobil besar tampak sibuk membersihkan jalan dari gunungan salju tersebut namun siapa yang peduli pada seorang pemuda yang tengah menggendong seorang anak berusia tiga belas tahun? Sebastian, sang mantan butler mencoba untuk terus menahan dinginnya salju yang mengenai tangan dan juga kepalanya. Tangannya dan kakinya perlahan mulai terasa kaku namun dia mengabaikannya. Ia yang telah lama hidup menjadi seorang iblis, kini harus bisa beradaptasi menjadi manusia biasa. Dia mengeratkan pelukannya pada Ciel yang kini tengah ia gendong. Ia tidak ingin Ciel merasakan kedinginan seperti yang ia rasakan saat ini. Mereka kini tengah berjalan kaki hendak menuju London. Hell berjalan kaki? Ya dengan terpaksa karena sedari tak ada kendaraan yang dapat mereka tumpangi.

Flashback

"Saya hanya menemukan ini di kamar Tanaka-san." Ujar Sebastian sambil memberikan sebuah buku dan sebuah kantong berukuran cukup besar kepada Ciel. Ciel menerimanya dan mulai membaca buku tersebut.

"Ini… ini berisi kejadian setelah aku dan kau menghilang." Gumam Ciel dengan ekpresi terkejut. "Ya semua yang dikatakan oleh pemuda itu benar, mereka mengira bahwa Ciel Phantomhive telah mati." Lanjut Ciel sambil terkekeh pelan.

"Lalu, apa yang akan anda lakukan, bocchan?" tanya Sebastian dengan nada penasaran.

"Jangan memanggilku seperti itu. Panggil saja Ciel." Ujar Ciel dengan ekpresi dingin. Hubungan ia dan Sebastian kini memang bukan sebagai majikan dan pelayan lagi. Ya itu yang ada di pikiran Ciel.

"Baiklah Ciel. Apa yang akan kau lakukan?" tanya sang raven lagi dengan bahasa informal. Ciel tampak terlihat sedang berpikir.

"Kau sudah memeriksa kembali ruang bawah tanah itu?"

"Ya, dan ruang itu tidak dapat berfungsi. Sepertinya kita benar-benar terjebak di abad ini." Gumam Sebastian sambil berjalan menghampiri jendela. Tampaknya badai salju tengah turun dengan lebatnya.

"Ya apa boleh buat. Kita tidak bisa disini terus. Ini bukan rumahku lagi." Gumam Ciel sambil melihat koin-koin emas miliknya yang masih tersisa. Ia kini tak memiliki apapun lagi selain Sebastian.

"Maksudmu, kita akan ke London?" tanya sang mantan butler sambil sedikit membulatkan matanya, memandang Ciel dengan memberi isyarat -apa kau yakin?-

"Ya, kita akan memulai hidup baru disana. Earl Ciel Phantomhive telah lama mati. Dan kini hanya ada Ciel, ya hanya Ciel." Ujar si pemilik iris biru sambil berjalan menghampiri Sebastian.

Flashback off

Mata crimson Sebastian menyipit tak kala ia melihat sebuah mobil yang terlihat lebih modern mengarah kepada mereka. Tepat seperti dugaannya, mobil berwarna kuning mencolok itu berhenti tepat di samping mereka. Ia dan Ciel nampak menengok ke arah mobil itu secara bersamaan.

"Anda butuh tumpangan tuan?" tawar sang supir taksi yang telah membuka kaca jendela mobilnya. Tanpa ragu Sebastian mengangguk pelan. Ia sedikit membungkuk untuk berbicara lebih dekat dengan sang supir.

"Ya, kami hendak menuju London. Tapi sayangnya uang dan pakaian kami tadi di curi oleh seorang kelompok orang tak dikenal dan kami hanya mempunyai ini." Sebastian memperlihatkan beberapa koin emas yang tentu saja membuat mata sang supir membulat. Siapa juga yang bisa menolak emas murni berkilau tersebut.

"Tentu tentu, akan saya antarkan anda dan juga anak anda." Gumam sang supir yang telah keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil belakang, mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam mobil. Supir tersebut ternyata memiliki tubuh gempal dan tidak terlalu tinggi. Supir itu juga memiliki kumis yang cukup tebal dengan iris kecoklatan. Tampak banyak basa-basi lagi, Sebastian dan Ciel segera memasuki mobil tersebut. Nampak guratan urat kesal terlihat di kening Ciel. Anak? Jadi si supir itu mengira dia adalah anak Sebastian? Rasanya ia ingin mencekik si supir yang sudah seenak jidatnya mengatakan hal tersebut, namun ia lebih memilih diam.

Sebastian menghela nafas lega karena ia tidak jadi untuk berjalan kaki menuju london sambil menggendong Ciel. Jika saja ia masih menjadi iblis, ia tidak akan mempermasalahkan hal tersebut. Menjadi manusia membuat ia cukup kerepotan. Ia juga sebenarnya ingin tertawa saat si supir mengira bahwa Ciel adalah anaknya. Dan lihatlah Ciel masih setia dengan death glare terbaiknya, menatap sang supir dari kurisi penumpang. Mobil itu mulai berjalan.

"Maaf tuan, yang disamping saya ini adalah adik saya." Gumam sang raven dan Ciel langsung menoleh kepada Sebastian. Adik katanya?

"Oh begitu. Maaf maaf." Gumam si supir sambil terkekeh. Ciel hanya mendengus kesal dan masih menatap tajam pada Sebastian. Dia sedikit berdiri untuk berbisik pada pemuda tinggi itu.

"Kenapa kau menganggapku sebagai adikmu hah?" bisik Ciel kesal.

"My my, jadi kau ingin aku menganggapmu apa? Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa hubungan kita bukan sebagai majikan dan pelayan lagi? Oh atau kau ingin aku menganggapmu sebagai kekasihku, begitu?" pertanyaan beruntun dari Sebastian membuat Ciel terdiam. Sebastian hanya terkekeh pelan karena ia berhasil mengerjai mantan majikannya. Ciel kembali duduk dan memalingkan wajahnya.

"Bodoh." Desis Ciel tajam. Dan pertanyaan dari Sebastian itu akan ia pikirkan nanti. Hubungan ia dan Sebastian—apa hubungan ia dan Sebastian sebenarnya? Kini mereka berdua memilih untuk diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Sepanjang perjalanan Ciel hanya memandangi butiran salju yang kembali turun tanpa henti. .

Xxx

Kini mereka berdua—Sebastian dan Ciel telah sampai di kota London. Ciel sempat mengernyitkan dahi tak kala ia melihat banyak perubahan yang terjadi di kota tersebut. Banyak kendaraan modern mondar mandir kesana kemari dan ada juga sebuah kendaraan besar berbentuk kotak yang ia tak tahu apa namanya. Mereka berdua sebenarnya sedang mencari toko untuk menukarkan emas dengan uang kertas. Tak disangka, banyak orang yang menoleh ke arah mereka. Mungkin mereka heran dimusim dingin seperti ini ada dua manusia yang tidak memakai pakaian hangat. Ciel terlihat kesal saat beberapa wanita melirik Sebastian yang tampaknya tidak menyadarinya.

"Benar-benar sebuah kemajuan zaman yang pesat." Gumam Sebastian sambil mengusap dagunya. "Ah itu dia tokonya. Ayo Ciel!" ajak Sebastian sambil menarik tangan Ciel. Ciel hanya mengangguk dan mengikuti mantan butlernya itu. Mereka masuk ke dalam toko tersebut dan langsung menukar sekantong penuh koin emas. Sang pemilik toko lalu memberikan mereka berdua satu koper berisi uang. Sebanyak itukah harga emas mereka untuk jaman sekarang? Sebastian langsung mengambil koper tersebut lalu mengucapkan terimakasih. Mereka berdua lalu keluar dari toko tersebut.

"Sekarang kita akan membeli perlengkapan musim dingin." Gumam Sebastian dan langsung menarik tangan Ciel begitu saja. Ciel hanya mendengus namun tak memberikan protes. Sejujurnya jas yang Sebastian berikan kini tak lagi dapat menghangatkan tubuhnya yang mungil- maksudnya lembut. Tak berapa lama, Sebastian menemukan sebuah toko pakaian dan mereka berdua masuk ke dalam.

"Bagaimana dengan yang ini Ciel? Nampaknya pas dengan tubuhmu?" tanya Sebastian sambil mencocokan sebuah jaket tebal pada Ciel. Sang mantan Earl tak menjawab dan hanya menatap Sebastian datar.

"Baik, coba kau ganti pakaianmu dengan semua ini di ruang ganti sana." Ujar Sebastian sambil menujuk sebuah ruangan kecil. "Dan maaf Ciel, aku tak bisa membantumu menggantikan pakaian." Tambahnya dan berhasil mendapatkan deat glare terbaik dari anak yang masih berusia tiga belas tahun itu.

"Ya, aku tahu!" Ujar Ciel yang langsung mengambil beberapa pakaian yang dipegang Sebastian lalu berjalan begitu saja menuju ruangan yang ditunjukan oleh mantan butlernya. Sebastian hanya terkekeh mendengar ucapan super singkat dari Ciel. Setelah sampai di ruangan tersebut, Ciel segera melihat dirinya sendiri di hadap cermin besar. Dia menghela nafas dan mulai menanggalkan pakaiannya sendiri. Meskipun ia berada di dalam toko, Ciel masih bisa merasakan udara dingin yang menerpa tubuh polosnya. Cepat-cepat ia memakai pakaian yang Sebastian belikan dan nampaknya semuanya pas sesuai dengan tubuhnya. Ia memungut pakaiannya sebelumnya lalu keluar dari ruangan tersebut.

Sebastian hanya menggesekan telapak tangannya mencoba mengurangi rasa dingin dan terhindar dari hiportermia. Sesekali dia meniupkan nafasnya pada jari-jarinya. Ia kini duduk di sebuah kursi, menunggu Ciel keluar. Tadi ia sempat berbicang dengan pemilik toko pakaian itu. Wanita yang menurutnya berusia tiga puluhan itu berkata bahwa ia baru melihat pemuda setampan dirinya. Sebastian tentu saja hanya memberikan senyum dan menjawab seperlunya. Untung saja keadaan toko tersebut cukup ramai dan membuat wanita itu tak bisa lama-lama berbincang dengannya. Dan keuntungan dari pembicaraan singkat itu adalah mereka berdua mendapat diskon dari sang pemilik toko. Lumayan untuk menghemat pengeluaran mereka. Tak lama dari situ, ia melihat Ciel berjalan menuju kearahnhya. Senyum terlihat mengembang di bibir Sebastian.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Ciel dengan nada malas. Ia menatap Sebastian datar.

"Perfectly." Jawab sang mantan butler sambil memperhatikan pakaian yang dikenakan Ciel sekarang. Mari saya deskripsikan, Ciel memakai jaket tebal khas musim dingin sampai lututnya dengan warna biru dan bulu-bulu tebal yang berwarna hitam. Biru dan hitam adalah perpaduan yang pas bagi sang bocchan. Menurut Sebastian, Ciel nampak lebih imut tanpa memakai penutup matanya itu.

"Kenapa kau melihatku seperti itu?" desis Ciel tak suka. "Cepat ganti pakaianmu." Gumamnya tanpa menatap Sebastian. Sebastian masih setia dengan senyumnya.

"Baik, tapi aku bingung mesti memilih pakaian yang mana." Gumam sang mantan butler sambil terlihat berpikir. Ciel menghela nafas lalu berinisiatif memilihkan pakaian untuk pemuda bertubuh tinggi itu.

"Yang ini sepertinya cocok untukmu." Gumam Ciel yang tengah berusaha mengambil sebuah jaket selutut berwarna hitam kecoklatan. Ia sedikit kesulitan karena jaket tersebut berukuran lebih besar dari tubuhnya sendiri. Sebastian yang melihat kesulitan Ciell, segera membantu sang mantan majikan. Tak disengaja, tangannya bersentuhan dengan tangan Ciel dan entahlah membuat anak lelaki berusia 13 tahun itu terdiam.

"Ciel?" panggil Sebastian untuk menyadarkan Ciel. Anak berambut kelabu itu segera menoleh dengan semburat merah yang menghiasi kedua pipinya. Dia tidak mengerti kenapa Sebastian masih memegang tangannya.

"Cepat pakai!" Ujar Ciel sambil melemparkan jaket tersebut. Sebastian masih menatap ciel dengan ekpresi bingung. Namun, senyum tipis menghiasi wajah tampannya. Ciel Nampak sangat imut jika sedang berblushing ria seperti itu, menurutnya.

"Baik." Ujar Sebastian lalu berjalan menuru ruang ganti. Kini giliran Ciel yang menunggu. Dia menatap arah sekitar. Pandangannya tertarik pada satu keluarga untuk yang tengah asik memilih pakaian untuk anak mereka yang sepertinya seumuran dengannya. Mereka tampak akur dan juga bahagia. Ciel memalingkan wajahnya—entah mengapa tiba-tiba dadanya terasa sesak.

"Tou-sama, Kaa-sama…" lirih Ciel pelan sambil mengusap cincin biru miliknya. Tak sadar, Sebastian yang telah berganti pakaian tengah berada tepat dihadapannya, menatap intens wajah sang mantan bocchan.

"Ciel?" panggil Sebastian lagi dan ekpresi wajah Ciel berubah menjadi biasa, datar. Ia membalas pandangan pada si pemilik manic crimson itu.

"Apa?" desis Ciel tajam namun segera ia dikejutkan dengan tampilan Sebastian sekarang yang menurutnya cukup keren. Tenang, dia tidak akan memuji penampilan sang mantan butler, itu terlalu gengsi. Nanti Sebastian bisa besar kepala.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Sebastian sambil sedikit berpose dan sukses membuat banyak perhatian mengarah pada pemuda yang tidak diketahui usia sebenarnya itu.

"Ya, bagus." Jawab Ciel singkat dan hanya membuat Sebastian tersenyum maklum dengan sikap dingin ciel. Ah dia hanya sedikit tsundere menurutnya. Tsundere yang manis. Tiba-tiba saja Sebastian mengacak-acak rambut Ciel pelan. Ciel cukup kaget dan hanya diam saja. Ia merasakan kilasan balik saat ayahnya melakukan hal yang sama seperti Sebastian. Entahlah, ia merasa hatinya menghangat di musim dingin seperti ini, hanya karena sentuhan sang mantan butler.

"Ayo kita beli pakaian lagi, setelah itu kita akan mencari rumah baru untuk beristirahat." Ujar Sebastian dan mendapat jawaban anggukan dari Ciel.

Xxx

Setelah sekitar satu jam mereka berburu pakaian, kini Sebastian dan Ciel telah keluar dari toko tersebut dengan membawa koper dan juga beberapa stel pakaian yang telah mereka beli. Sebastian menghentikan langkahnya saat ia melihat sebuah papan bertulisan apartemen. Sepertinya mereka akan menyewa sebuah apartemen kecil untuk menjadi tempat mereka tinggal untuk sementara. Namun, tampaknya Ciel tengah tertarik pada dua orang pengamen jalanan yang tengah memperlihatkan pertunjukan mereka. Seorang lelaki berambut pirang tengah memainkan biola, dan seorang wanita yang sepertinya hendak bernyanyi. Sebastian yang mengetahui antusiasnya Ciel, hanya mengikuti laki-laki bersurai kelabu itu dari belakang.

With our elonganting shadows on the paved street line up

I'm walking together with you in the twilight

As our hands are held, if only you could stay beside me forever

I would be so happy that I could end up in tears

The wind has become frigid

And the scent of winter is apparent

Very soon that season will ariived iat this town

The season when i can stay close with you

I have a feeling that we'd be able to overcome any kind of hardship

I sincerely pray that days like this will continue forever and ever

The wind knocks on the window, and shakes the night awake

No matter what kind of sorrows, I'll help you turn them into smiles

The snowflakes keep falling outside our window

Not knowing when to stop, they continue dyeing our town white

The impulse to do something for a certain someone you care about is called "love"

As I have just learned

Even if I should have lost sight of you

I can become a star and continue shining on you

Be it smiles or nights soaked in tears

I'll always stay by you forever

When we cuddle up together

Gazing at the first snow of this year, during this moment

Happiness begins to flow all over me

I'm neither being spoiled nor weak

I simply want to stay this way together with you

I think so from the bottom of my heart

The pure-white snowflakes piled up on the streets will sketch new memories onto our hearts

From now on, too, we'll stick together...

"Sebastian, ayo pergi…" ujar Ciel sambil melengos berjalan mendahului sang mantan butler. Sebastian mengangguk sambil memberikan beberapa uang kepada pengamen tersebut.

"Yes, my lord.."

Xxx

Akhirnya mereka kini mempunyai sebuah apartemen untuk tempat tinggal sementara. Tidak terlalu besar namun cukup untuk mereka berdua. Dengan dua kamar, satu dapur, satu ruang makan yang menyatu dengan ruang tamu, dan satu kamar mandi. Semua ruangan berlapisi cat berwarna cream yang membuatnya makin terasa nyaman. Setelah mereka membersihkan diri masing-masing lalu menyelesaikan makan malam, tak banyak kata yang mereka ucapan. Ciel lebih memilih untuk beristirahat di kamarnya, secepatnya.

Ciel phantomhive, kini meringkuk di atas sebuag tempat tidur yang berukuran tidak terlalu besar. Malam ini adalah malam pertamanya yang ia habisakan di zaman yang terlalu baginya dan juga Sebastian. Iris sapphirenya menatap datar pada satu-satunya jendela yang berada di kamar tersebut. Dia bangun lalu mendudukan dirinya sendiri sambil memeluk lututnya.

"Hidup tanpa tujuan itu….. menyakitkan.." gumamnya lirih sambil mengepalkan kedua telapak tangannya. Jam kini telah menunjukan pukul sebelas malam, dan ia tiba-tiba terlintas di benaknya akan bagaimana keadaan mantan butlernya saat ini. Ciel merangkak lalu berjalan pelan berniat keluar dari kamarnya. Di bukanya pintu itu secara perlahan dan matanya sedikit melebar saat ia melihat Sebastian tengah diam tak bergerak, menatap keluar dari jendela. Dia jadi penasaran apa yang sedang dipikirkan pria bertubuh tinggi dan besar tersebut. Apakah Sebastian menyesali akan janji kepadanya? Entahlah. Yang jelas, dia memutuskan untuk mendekati pemilik manic crimson tersebut.

"Kenapa kau belum tidur?" tanya Ciel dengan nada biasa. Dia melipat kedua tangannya sambil menatap pria berambut raven itu tajam. Sebastian yang mendengarnya sedikit terkejut dan segera menoleh ke arah Ciel.

"My my, sebentar lagi aku akan tidur. Kau perhatian sekali, Ciel.." ucap Sebastian yang tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda mantan tuan mudanya. Ciel mendesah pelan sambil memalingkan wajahnya.

"Jangan berbesar kepala terlebih dahulu, aku hanya bertanya." Jawab Ciel kalem sambil berjalan menuju kamar mandi. Alasan yang cukup masuk akal—ya padahal dia sendiri cukup mengkhawatirkan keadaan Sebastian. Entah mengapa..

"Segera tidur, Ciel. esok pasti akan lebih baik.." ujar Sebastian dan tak mendapat respon dari pemilik manic biru tersebut. Sebastian kembali menatap keluar setelah Ciel menutup pintu kamar mandi. Dia sedari tadi berpikir bagaimana caranya agar dia dan Ciel bisa kembali ke abad dimana mereka seharusnya berada. Namun, sekeras apapun dia berpikir, dia tak pernah menemukan jawaban. Ya mungkin ini takdir yang harus mereka berdua jalani. Di luar, hujan salju nampak turun semakin lebat. Musim dingin pertama mereka di abad ke dua puluh.

"Aku yang telah lama hidup menjadi seorang iblis, kini di beri kesempatan untuk kembali hidup menjadi seorang manusia. Aku bingung, apakah aku harus bersyukur.. atau tidak…" gumam Sebastian sendiri.

Ciel kembali merebahkan diri di atas tempat tidur miliknya. Rasanya lagu yang di nyanyikan oleh pengamen tadi terus saja berputar di otaknya. Dia menghela nafas lalu menutup matanya. Mau tidak mau, dia harus segera tidur. Tak lama berselang, anak bersurai kelabu itu mulai mendatangi alam mimpinya. Dunia yanghanya ia miliki sendiri.

TBC


Hallo minna-san, saya dateng dengan chapter kedua yang seharusnya masih chapter satu/hah. Saya cukup terharu ternyata ada yang mau baca fict dengan ide pasaran ini. Arigatou Gozaimasu *bows* Saya akan balas review kalian disini saja ya.

Alif ryeosomnia : makasih untuk reviewnya xD yups ini khayalan saya selama ini/? huhu

om howa lagi sakit : panas? / wih mungkin next chapter kali ya. Saya lagi insap untuk hal begituan/? /ditendang

ahominedaiki07: thank you x3

Hamano Emi : akhirnya setelah sekian lama, saya punya pens juga *terharu* /nak. Maaf ya updetnya /sangat/ lama -,-a

Kim Victoria : omg xD nanti saya jawab di next chapter deh. Thanks untuk reviewnya x3

Okay, see you guys. Keep love for SebasCiel x3