Hajimemashite, Minna…

Watashiwa ~ Ruki ~ desu

Disclaimer : Tite Kubo-Sensei

Warning : OOC, AU, Typo.

Pairing : IchiRuki


Trim'z ama yang udah ngereview fic terbaru aku ini


Aya-na Byakkun_ Makasih dah di jadiin fav. padahal masih chap 1 en lom kelihatan ceritanya.. makis banyak ya, ay... nyempetin r'viu fic gaje Ruki yang satu ini..

Sarsaraway_ Tri'z pujiannya.. ne chap 2, enjoy en RnR agi yah!

Aine Higurasi_Lagi-lagi cari gara-gara ma Ruki ya.. awas kamu..!! tapi Trim'z dah r'viu.

ZheOne Quin_Benarkah? Apa terlalu? Aku jadi takut ndiri nih!

Kuroi no yuki_Wakakak mungkin Ruki emang gila saat itu.. makasih 10 jempolnya.. Ditunggu loh jempol-jempolnya? Kapan dikirim kemari? ^_^

Ichirukiluna Gituloh_Yap nih dah Update. Makasih loh! Luna Dah r'viu.. maaf kalo s'andainya keganggu ma sesuatu di dalamnya.. Peace yah!

Sora Chand_Trim'z atas pujiannya. Nih dah Update..Enjoy..

Dr. 0taku_Trim'z dah r'viu yah... r'viu'na lucu, Ruki pek ketawa gaje loh! Nice!


^_^ Kilas balik chap 1


Ichigo dan Rukia merupakan sepasang kekasih yang bisa dibilang lumayan unik. Ichigo lebih suka membagi kasih sayangnya hanya berdua saja. Sedangkan Rukia? Apa dia juga setuju akan hal itu? Tapi Rukia sama sekali tidak pernah complain dengan prinsip Ichigo tersebut. Dan apakah tidak ada yang sadar bahwa seseorang berada di antara mereka?


~THE DAYS AFTER DIE~

== Ruki ==

Chapter 2


Tanpa mereka berdua sadari sejak tadi, telah mematung seseorang yang kini membawa obat dan segelas air minum. Seseorang itu kemudian berbalik dan pergi entah kemana.

Sekarang seseorang itu tengah berjalan santai menuju ke arah depan rumah.

"Konnichiwa, Kak Kaien!" sapa seseorang di depan gerbang Rumah Kaien.

"Oh! Kau Orihime. Silakan masuk!" kata Kaien sedikit berteriak karena jarak mereka lumayan jauh.

Inouepun masuk dan menuju ke arah Kaien.

"Bagaimana keadaan Kakak sekarang?" tanya Inoue yang memiliki rumah tidak jauh dari Rumah Kaien.

"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu menghawatirkanku." jawab Kaien seadanya.

"Oh! Begitu... Kurosakinya ada, Kak?"

"Ada di dalam bersama Kuchiki."

"Baiklah, aku ada sedikit perlu dengan Kurosaki. Aku masuk dulu ya, Kak?" kata Inoue menuju ke arah pintu masuk.

"Tunggu, Orihime! Lebih baik kau disini saja."

"Kenapa, Kak?" kata Inoue penuh tanda tanya.

"Aku tidak ingin melihatmu terluka."

"...?"

"Kau menyukai Ichigo, kan?" kata Kaien tanpa melihat ke arah Inoue.

"Kenapa Kakak berkata seperti itu?" kata Inoue berusaha menutupi.

"Karena aku juga merasakan hal yang sama sepertimu. Aku menyukai Kuchiki." kata Kaien yang kini berjalan menuju ke bangku taman rumahnya yang luas dan duduk santai sambil melihat Ikan Koi yang berenang kesana-kemari.

"Ka..Kak menyukai Kuchiki?!" kata Inoue terkejut dan kini mengikuti jejak Kaien dan duduk di samping kanannya.

"Ya! Sejak dulu.. Sebenarnya aku dululah yang mengenal Kuchiki sebelum Ichigo."

"Kenapa bisa begitu, Kak? Seharusnya Kakak mendapatkan Kuchiki lebih dulu."

"Hahaha.. Itu menurutmu. Tapi Kuchiki lebih menyukai kepribadian Ichigo daripada aku." kata Kaien yang disertai dengan senyum kecutnya.

"Kita sama ya, Kak?" Kata Inoue yang kini memandang langit diatasnya.

"Ya, begitulah. Aku merasa Ichigo mulai menyadari perasaanku. Dia sama sekali tak pernah mengumbar kemesraan layaknya sepasang kekasih didepan mataku, malahan sering bertengkar. Dia selalu terlihat cuek pada Kuchiki setiap ada aku. Aku merasa menjadi penghalang hubungan mereka." kata Kaien dengan wajah yang begitu sendu.

"Kakak jangan bilang begitu. Ichigo pasti memiliki alasan tersendiri karena sifatnya itu. Bukan karena Kakak."

"Mungkin saja? Tapi aku sungguh bahagia bisa melihat Rukia tersenyum dan tertawa saat bersama dengan Ichigo. Sehingga rasaku untuk memilikinya kujadikan prioritas kedua. Aku hanya ingin melihatnya bahagia. Itu sudah cukup bagiku asal dia tidak pergi dari kehidupaku."

"Kakak sangat berhati besar, ya? Apa aku bisa seperti itu?"

"Aku memiliki satu permohonan untukmu, Orihime.." kata Kaien menatap lekat-lekat Inoue di sampingnya.

"Apa itu, Kak? Katakan saja."

"Maukah kau membiarkan mereka berdua bahagia? Aku ingin mereka selalu bersama selamanya. Aku merasa hidupku tidak cukup lama untuk menjaga hubungan mereka?"

"Apa yang Kakak katakan?! Jangan bicara seperti itu!" kata Inoue yang kini matanya mulai berkaca-kaca.

"Aku tau ini sulit bagimu. Tapi anggap saja ini permintaan terakhirku padamu. Kau harus menjaga hubungan mereka bila seandainya aku pergi. Apa kau mau Orihime?" kata Kaien yang kini kembali menatap kosong kolam Ikan Koi di depannya.

Inoue terdiam cukup lama. Ia merasa itu merupakan tugas yang teramat sulit baginya. Tapi berhubung sesorang yang sama dengannya pun bersedia, Inouepun merasa bahwa ia harus melakukan hal yang sama.

"Baiklah, Kak! Aku akan melakukannya demi Kakak." Kata Inoue tegas.

"Terima kasih, Orihime. Aku harap kita akan bahagia melakukan itu semua." kata Kaien yang kini memandang langit yang mulai mendung.

"..." Inoue hanya diam setelah itu. Ia merasa sangat kasihan pada Kaien padahal ia juga terlihat sangat menyedihkan.

"Baiklah, sepertinya akan hujan. Ayo kita masuk saja."

"Baiklah."

Di sisi lain. Tepatnya di dalam Rumah.

"Kau habis makan apa sih, Pendek! Asem banget." kata Ichigo bercanda tapi dengan nada menghina.

"Apa maksudmu?! Aku tidak memakan apapun sebelum kemari."

"Tapi kenapa rasanya asam?!"

"Kau menghinaku, Jeruk?!"

"Aku hanya jujur saja." jawab Ichigo enteng.

"Apa kau bilang?!" kata Rukia yang kini mengambil bantal di sampingnya dan mulai memukulkan bantal tersebut pada lengan kiri Ichigo.

"Hei! Hentikan! Sakit!" kata Ichigo yang kini berlari mencari perlindungan.

"Hei! Jangan lari, Jeruk bodoh!" teriak Rukia mengejar Ichigo.

"Kak, ada monster pendek marah!" kata Ichigo yang kini berlindung di balik tubuh Kaien yang baru saja masuk.

"Kaien-dono, Bawa dia kemari! Aku akan menghajarnya!" kata Rukia dengan marah yang mencapai tingkat maksimum.

"Dasar penakut!" lanjut Rukia yang kini berlari menuju ke balik tubuh Kaien yang digunakan tempat sembunyi oleh Ichigo. Ichigopun berlari dan menuju ke balik tubuh Inoue dan memegang kedua bahu Inoue untuk menghalangi Rukia.

"Hei! Lepaskan Inoue!" bentak Rukia pada Ichigo yang tengah tertawa gaje di belakang Inoue.

"Tidak akan pernah." kata Ichigo dengan sedikit menjulurkan lidahnya.

Inoue hanya blushing di perlakukan seperti itu oleh Ichigo. Melihat reaksi itu Rukia langsung berhenti dan menuju ke arah Kaien berada.

"Kaien-dono sudah diminum obatnya?" tanya Rukia yang saat ini tengah menggeret tangan Kaien menuju ke sofa, ia jadi teringat tujuannya kesini adalah untuk merawat Kaien bukan untuk beradu mulut dengan Ichigo.

"Oh! Iya aku lupa!" kata Kaien yang memang sengaja dilupakan.

Ichigo yang malihat pemandangan di depannya pun tidak mau mengalah begitu saja, ia mengira Rukia sengaja menantang Ichigo.

"Inoue, kita duduk disana saja, ya?" kata Ichigo manis menunjuk sofa di depan tempat Rukia dan Kaien duduk.

"I..iya Kurosaki." kata Inoue gugup.

Merekapun duduk bersama dan Rukia hanya memasang wajah datar.

"Baiklah! Akan aku ambilkan ya, Kaien-dono?" kata Rukia pada Kaien.

"Inoue, kau mau minim apa?" tanya Ichigo manis pada Inoue sambil memainkan sedikit rambut Inoue.

Rukia yang mulai dongkol menghampiri Ichigo dan mulai marah.

"Apa maksudmu, Jeruk?!" teriak Rukia tepat di depan Ichigo.

"Apa juga maksudmu, Pendek?!" bentak Ichigo tak kalah kencang.

"Aha..!! Kau membalasku?!" kata Rukia sedikit berteriak.

"Hahaha.. Apa pedulimu?!" jawab Ichigo dingin.

"Aku benci padamu!!"

"Aku juga muak padamu!!"

"Baiklah, aku pergi!"

"Silakan saja. Aku tidak peduli!" kata Ichigo tegas.

"Kuchiki, kau mau kemana?" kata Kaien.

"Aku permisi dulu, Kaien-dono, Inoue. Maaf merepotkan."

Rukiapun berlari gaje meninggalkan Rumah Ichigo. Ichigo hanya diam dan menundukkan kepalanya.

"Kau menyakitinya lagi, Ichigo." kata Kaien pada adiknya.

"Biarkan saja! Aku tidak peduli lagi padanya!" jawab Ichigo yang dibuat setegas mungkin.

"Em.. Sepertinya.. lebih baik aku permisi dulu." Kata Inoue tiba-tiba.

"Baiklah hati-hati Orihime. Terima kasih sebelumnya." kata Kaien dengan senyum khasnya.

"Ya, sampai jumpa, Kak Kaien, Kurosaki." Inouepun pergi dan tak terlihat lagi.

"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu itu, Ichigo." kata Kaien yang kini berjalan menuju ke kamarnya di lantai dua.

Saat ini hanya tinggal Ichigo di dalam ruang keluarga itu. Hujanpun mulai turun membasahi bumi. Tanpa pikir panjang lagi, Ichigo langsung berlari ke luar rumah dan menembus hujan yang disertai angin saat itu. Dan seseorang dari lantai atas tengah tersenyum melihat Ichigo berlari meninggalkan rumah.

"Jangan lepaskan dia, Ichigo." kata seseorang itu.

Kemudian ia pergi menjauhi jendela dan kini ia tengah melihat tumpukan obat yang sama sekali tak pernah ia minum. Kemudian ia mengambil semua obat tersebut dan membuangnya ke tempat sampah.

"Semuanya tidak berarti." katanya dengan wajah sendu dan memilih untuk tiduran di kasur bersprei bendera AS itu. Saat ia memejamkan mata tak henti wajahnya menunjukkan ekspresi kesakitan namun ia tetap memejamkan mataya dan memaksa untuk tidur.

Di sisi lain.

Rukia kini tengah berjalan gontai menuju sungai kecil yang tidak begitu jauh dari Rumah Ichigo. Rukia berjalan diantara derasnya hujan dan kencangnya angin tanpa alas kaki, karena sepatu miliknya basah di siram Ichigo tadi. Ia berhenti dan kini berdiri didepan derasnya arus sungai di depan matanya.

"Aku muak dengan sifatnya! Aku benci padanya! Apa dia benar mencintaiku?! Tapi kenapa sifatnya seperti itu. Aku tidak mengerti... Hiks.. hiks... Ha.. hachim!!!" Runtuk Rukia yang di selingi dengan bersin berkali-kali dan isakan tangis pastinya.

"Aku menyayanginya lebih dari apapun. Tapi kenapa dia bersifat seolah tidak membutuhkanku?! Ini semua membuatku gila!" teriak Rukia yang tetap diselingi dengan bersin-bersin sedari tadi.

"Aku.. muak!! Hiks..hiks.." teriak Rukia lebih kencang.

"Maafkan aku, Rukia.." kata seseorang yang kini memeluk Rukia dari belakang dan mengeratkan kedua tanganya di perut Rukia.

"Maafkan aku..." kata Ichigo yang kini sedikit merengkuhkan badannya dan menyandarkan dagunya di bahu kanan Rukia.

Rukia hanya diam menanggapi penuturan seseorang yang sangat ia sayangi itu.

"Aku sangat menyayangimu lebih dari apapun, Rukia. Apa kau tau itu? Aku sangat menyukaimu bahkan aku sangat mencintaimu." kata Ichigo lembut namun Rukia masih diam tanpa kata.

"Apa kau tidak percaya padaku lagi, Rukia? Akan kulakukan apapun asal kau percaya lagi padaku."

"Hiks... hiks.." Rukia tidak mampu membendung air matanya. Ia menangis dalam diam. Hanya isakannya saja yang terdengar. Sedangkan Ichigo lebih mengeratkan pelukannya pada Rukia dan mulai memejamkan mata karena lelah.

Semakin lama pandangan Rukia semakin kabur oleh air mata yang menumpuk di kantung matanya. Namun semakin lama pandangannya menjadi gelap. Dan tubuhya merosot dalam pelukan Ichigo. Ichigo yang menyadarinya segera mengankat tubuh Rukia dan segera membawa Rukia ke rumahnya.

"Maafkan aku Rukia.." gumam Ichigo yang kini berlari menuju rumah menembus hujan lebat dan angin kencang yang sungguh menyakitkan.

Saat sampai di rumah, Ichigo langsung membawa Rukia menuju ke kamarnya. Ia membaringkan Rukia di kasur miliknya kemudian ia mengambil handuk dari dalam lemarinya dengan sangat tergesa-gesa.

"Rukia-nee? Kenapa dengan Rukia-nee, Ichi-nii?" tanya Yuzu yang kebetulan saja lewat.

Ichigo mengacuhkan adiknya itu. Dan kini Ichigo mulai mengelap tubuh Rukia. Saat Ichigo akan membuka kancing bagian atas dari rok terusan Rukia..

"Tunggu, Ichi-nii! Biar aku saja." teriak Yuzu pada kakaknya. Dan kini Yuzu memberanikan diri untuk mendekat.

Ichigo sadar, ia terlalu panik sehingga tidak berfikir bahwa Rukia dalah seorang perempuan.

"Tolong Yuzu!" kata Ichigo dengan tampang cemas.

"Iya.. iya Ichi-nii, tak perlu tergesa-gesa seperti itu. Aku akan mengambil baju Rukia-nee yang baru saja aku keringkan di mesin cuci. Ichi-nii diam saja disini dan jangan melakukan apapun!" kata Yuzu dengan nada sedikit mengancam. Kemudian Yuzu menuju ke arah dapur.

Ichigopun tak tinggal diam ia terus mengelap tubuh Rukia yang masih lumayan basah.

"Rukia, sadarlah! Maafkan aku Rukia." kata Ichigo tak henti-hentinya.

Beberapa saat kemudian..

"Nah Ichi-nii sekarang keluar dulu." kata Yuzu yang kini sudah membawa setelan baju Rukia.

Ichigopun meninggalkan Rukia dengan sangat terpaksa dan menutup pintu kamarnya. Sedangkaan ia saat ini hanya bisa bersandar di tembok samping pintu kamarnya dengan cemas...

--u_u--

Cklek

Yuzu keluar dari kamar Ichigo kemudian menatap Ichigo dengan tatapan mengintimidasi.

"Apa yang Ichi-nii lakukan sih?! Kasihan Rukia-nee kan?! Di basah-basahin terus dari tadi.. Biarkan Rukia-nee istirahat dulu. Jangan dibangunkan dulu ya, Ichi-nii?! Nanti kalau Rukia-nee sudah bangun. Suruh minum obat yang sudah aku siapkan di meja itu." kata Yuzu sambil menunjuk meja di samping kasur Ichigo.

Ichigo hanya mengangguk mengerti. Kemudian Yuzu pergi meninggalkan kakaknya begitu saja. Ichigo perlahan masuk ke dalam kamarnya. Kemudian ia duduk di bawah tepatnya di karpet lantai kamarnya dan saat ini berhadapan dengan Rukia. Kemudian Ichigo menggenggam tangan Rukia dan meletakkan kepalanya di samping lengan Rukia.

"Aku akan mejagamu dan takkan pernah meninggalkanmu. Aku berjanji." kata Ichigo yang masih dengan baju basahnya membiarkan dirinya tidur dalam keadaan setengah duduk.

1 jam kemudian..

"Kepalaku pusing.." desis Rukia yang kini memegangi sabelah kepalanya dengan tangan kanan miliknya.

Kemudian Rukia menoleh ke arah kiri. Dilihatnya saat ini Ichigo tengah tidur pulas dengan tetap menggenggam tangan miliknya. Rukia tersenyum kemudian meletakkan tangannya yang satu lagi di atas tangan Ichigo dan mulai memejamkan matanya kembali dengan senyum lebar.

"Aishiteru mo, Ichigo."

Beberapa saat kemudian Kaien keluar dari kamarnya menuju dapur. Namun saat ia sampai di depan kamar Ichigo, ia tersenyum tipis sebentar dan mulai berjalan menuju ke arah meja dimana telah diletakkan sebuah telepon rumah berwarna hitam berkelap kelip dengan alas berwarna keemasan.

Kaien memencet-mencet nomor yang memang sudah ia hafal di luar kepala. Kemudian ia mulai menunggu suara dari seberang.

"Halo, dengan keluarga Kuchiki disini?" kata seorang wanita yang tak lain adalah Hisana.

"Selamat sore.. Disini Kaien Kurosaki. Saya hanya ingin memberitahukan kalau Kuchiki akan pulang terlambat hari ini. Jadi saya harapkan Anda tidak mencemaskannya."

"Oh.. Kurosaki-san. Iya, saya mengerti. Terima kasih sudah memberi tahu."

"Iya. Baiklah selamat sore."

"Ya."

Tut... tut...tut..

Kaienpun meletakan telepon itu kembali ke tempat asalnya. Dan memilih untuk menonton TV di ruang keluarga.

Pukul 6 malam

"Tadaima..!!" Isshin baru saja pulang dari RSUnya.

"Oh! Ayah sudah datang." kata Yuzu kepada Ayahnya.

"Kemana kakak-kakakmu, Yuzu?"

"Ada di dalam, Kaien-nii sedang nonton TV dan Ichi-nii ada di kamar bersama Rukia-nee."

"Apa.. ?! bersama Rukia-chan! Tidak bisa dibiarkan!" kata Isshin Kurosaki yang kini bergegas menuju ke kamar Ichigo.

"Tu.. tunggu ayah, Rukia-nee sedang sa.."

"Ichigo! Apa yang kau laku..." teriak Isshin namun semakin pelan melihat apa yang ada tidak seperti yang ia pikirkan.

"Em... siapa?" kata Ichigo yang kini tengah berusaha membuka kedua matanya dengan terpaksa.

"Oh! My son, ada apa dengan Rukia-chan?"

"Sssttt.. Rukia sedang sakit, ayah keluar saja."

"Iya.. iya... ayah keluar." kata Isshin dengan suara yang sangat teramat pelan.

Setelah ayahnya keluar, Ichigo segera melihat keadaan Rukia. Ia sentuh dahinya perlahan.

"Pa.. panas sekali." kata Ichigo terkejut.

Menyadari hal itu, Ichigo langsung saja menemui ayahnya.

"Ayah, Rukia demam?!" kata Ichigo panik.

"Apa?! Kuchiki demam?!" teriak Kaien mendengar perkataan Ichigo barusan.

"Waah..!! Aku akan menelepon keluarganya dulu." kata Isshin segera menuju ke arah telepon berada.

Kaien segera masuk kedalam kamar diikuti Ichigo di belakangnya. Perlahan Kaien memegang dahi Rukia.

"Benar! Badannya panas sekali! Ichigo, cepat bawa kompres es kemari."

"I.. Iya, Kak." kata Ichigo sedikit binggung.

"I..Ichi.." igau Rukia dalam tidurnya.

"Bahkan dalam tidurpun kau selalu mengingatnya, Kuchiki." kata Kaien sendu.

"Ini, Kak!"

Dengan cekatan Kaien mengompres dahi Rukia dan Ichigo memperbaiki selimut Rukia yang merosot.

Tak lama kemudian Isshin masuk ke dalam kamar Ichigo.

"Berhubung ini sudah malam dan Byakuya sedang ke luar kota. Hisana mempercayaiku untuk menjaganya. Jadi kalian jangan coba-coba menyentuh, Rukia-chan sedikitpun, Mengerti?!" kata Isshin tegas.

"Aku sih dapat di percaya, kalau si rambut orange itu.. Sepertinya perlu penjagaan ekstra ketat." kata Kaien melirik ke arah Ichigo.

"Apa maksudmu?!" kata Ichigo tidak terima.

"Kau tau sendiri kan, Ichigo? Hahahaha.." kata Kaien yang kini pergi meninggalkan kamar Ichigo.

"Benar juga kata kakakmu, Ichigo. Aku harus waspada terhadapmu." kata Isshin meyakinkan dirinya.

"Kenapa ayah juga berpikiran seperti itu sih?"

"I.. Ichi.. go.." gumam Rukia sekali lagi. Bedanya kini Rukia telah sedikit membuka matanya.

"Ru.. Rukia, ada apa? Aku disini Rukia.. Aku tak kan meninggalkanmu." kata Ichigo cemas yang langsung menghampiri Rukia dan memegang sebelah tangannya.

"Kau.. berisik sekali.." kata Rukia yang kini memejamkan matanya lagi.

Ichigo langsung saja drop dan pergi meninggalkan kamarnya dengan aura hitam yang tidak bisa terdefinisikan.

"Yuzu, kau tidur disini bersama Rukia-chan ya?" kata Isshin kepada anaknya itu.

"Iya, ayah! Aku akan menjaga Rukia-nee."

Tengah malam.

Cklek

Bunyi pintu kamar Ichigo terbuka.

Kemudian seseorang masuk kedalamnya dilihatnya saat ini Yuzu telah tertidur pulas jauh dari Rukia. Seseorang itu kini tengah mendekat kerah Rukia. Ia semakin mendekatkan wajahnya pada sosok yang tak berdaya di tempat tidur itu. Semakin dekat dan dekat. Ia mencium bibir Rukia dengan sangat putus asa.

"Sayonara, Kuchiki.." katanya pelan kemudian ia pergi meninggalkan kamar Ichigo dengan senyum yang terlihat begitu dipaksakan. Disisi lain, Rukia yang masih tertidur meneteskan air mata tanpa membuka matanya. Ia bergumam, "Kaien-dono..."

Namun semakin lama gumamannya menjadi teriakan

"Kaien-dono!" Sontak Rukia terbangun tiba-tiba.

"Ke... kenapa aku menangis? Ka.. kaien-dono? Aku harus mencari Kaien-dono." kata Rukia yang tidak mengetahui arti tangisannya sendiri.

Dengan keadaan yang masih lemah Rukia keluar dari kamar Ichigo dan menuju ke lantai 2, tepatnya menuju ke kamar Kaien.

Dengan perlahan Rukia membuka pintu kamar itu. Dan begitu terbuka...

"Ka.. Kai..en... Kaien..dono..?" kata Rukia begitu pelan.

"Ti.. tidaaaakkkk... Kaien-donooo... Ichigo! Ichigo! Tolong Kaien-dono! Ichigo! Ichigoooo..!!" teriak Rukia histeris begitu melihat seseorang telah tergantung tak berdaya di dalam kamar itu.

"Kaien-dono? Jawab aku! Kaien-dono?! Ichigooo..! Ichigo! tolooong..! Hiks..hiks.." teriak Rukia bingung harus bagaimana. Air mata tak terbendung keluar dari kedua mata violetnya. Ia terus terisak, berteriak bahkan mengacak-ngacak rambutnya tidak jelas.

"Rukia..?!" kata Ichigo yang langsung terlonjak kaget mendengar teriakan Rukia. Ichigopun langsung berlari menuju ke sumber suara tanpa memperdulikan rasa kantuknya yang amat sangat mengganggu itu.

Begitu Ichigo sampai di kamar Kaien, Rukia langsung berlari kearah Ichigo dan memeluknya erat.

"I..Ichigo, tolong Kaien-dono! Ichigo cepaaat! Kaien-donoo.. Tidak!..Hiks..hiks.." kata Rukia histeris dan memukul-mukul punggung Ichigo serta nada bicaranya yang terlihat sangat ketakutan.

Ichigo hanya bisa mematung ditempat, tidak mengatakan apaun dan tidak bergerak sama sekali.

"Ada apa i..." kata Isshin terputus.

"Kaien... kaien.. kenapa kau lakukan ini, nak...? kenapaa..?!" lanjut Isshin melebarkan matanya menuju ke arah Kaien yang sudah tak bernyawa lagi.

"Ichigo! Cepat tolong Kaien-dono! Ichigo cepat! Ichigooo.. Ce..." teriak Rukia yang kemudian pingsan di tempat.

"Ru..Rukia..." kata Ichigo perlahan yang kini telah berlinang air mata.

Bruak

"Kenapa kau melakukan ini, Kak? Kenapa?!!" jerit Ichigo yang kini meninju tembok di sampingnya dan itu berhasil membuat tangan Ichigo berdarah dan membiru. Dan tembok itupun retak dan sedikit meluruh.

"Siaaal!!!" umpat Ichigo tak berdaya dan masih meneteskan air mata dengan Rukia yang kini masih belum tersadar di pelukannya.

Di Pemakaman.

"Kenapa Kak Kaien melakukan ini?" kata Inoue yang kini tengah berada di depan makam Kaien.

"Kakak..." desis Yuzu yang baru pagi hari tadi mengetahui kematian kakaknya.

"Sabarlah, Yuzu." kata Inoue dengan air mata yang tak bisa berhenti.

"Iya, Kak.. aku akan kuat." kata Yuzu yang kini mengelap air mata di pipinya.

"Aku akan memenuhi janjiku, Kak! Pasti!" kata Inoue yang kini pergi menuju kearah Ichigo yang tengah menemani Rukia di bawah pohon teduh. Rukia sempat pingsan untuk kesekian kalinya saat melihat Kaien-dononya di kebumikan.

"Bagaimana keadaan Kuchiki, Kurosaki?" tanya Inoue pada Ichigo yang air mukanya terlihat begitu sedih.

"Dia baik-baik saja. Hanya saja mungkin dia masih syok melihat kejadiannya langsung."

"Aku mengerti, Kurosaki. Aku turut berduka atas meninggalnya Kakak. Yang sabar ya, Kurosaki?"

"Terima kasih Inoue."

Begitu sakit hati Inoue melihat Ichigo yang begitu rapuh saat ini.

"Kak Kaien benar, aku tidak ingin dia sedih sedikitpun. Karena itu lebih menyakitkan ketimbang melihatnya bahagia dengan gadis lain." kata Inoue yang kini telah pergi menuju ke tempat pemakaman lagi.

Dan dari kejauhan nampak seseorang tengah tersenyum namun kemudian bersedih.

"Maafkan aku, Rukia..."

"Dan selamat tinggal semua..."

Kemudian bayangan itu menghilang...

TB'C'


Ruki : (nangis gaje)..

Ichigo : Kamu sih! Bikin Kaien mati.

Rukia : Iya, jahat banget sih!

Ruki : Huwaaaaaa... maafkan aku Kaien-donooo.. Aishiteru 4ever...

Sumpah Ruki Gak Tega Sebenernya Bikin Kaien Yang udah Mati Di Mati'in Lagi di Sini...


Mata Ashita and Arigatou *(u_u)*... Hiks..Hiks..


R P

E L

V E

I A

E S

W E