~Sequel~
Sebulan sudah Tao berbaring di ranjang rumah sakit, Kris—mantan suaminya—tetap setia menunggunya untuk terbangun. Selama sebulan itupun ia menganggap rumah sakit sudah seperti rumahnya sendiri, mandi, makan, bekerja, ia lakukan didalam kamar rawat Tao—mantan istrinya, sebuah kamar rawat yang mempunyai fasilitas seperti kamar hotel. Tentu saja, itu demi kenyamanan sang pasien serta karena kekayaan yang dimiliki keluarga Kris.
Namun pagi ini, pagi di hari ke 32 sejak Tao tertidur dengan cantik diatas ranjang berwarna putih itu, nampak gerakan kecil di tangan yang terlihat kurus dengan selang infuse yang menempel di sana. Gerakan kecil. Gerakan itu cukup membuat seorang Kris Wu berteriak panic memanggil dokter melalui intercom yang berada tepat disebelah ranjang Tao.
"Dokter!" teriaknya melalui intercom yang terpasang didinding itu. Tak berapa lama, dua orang dokter datang ke kamar rawat nan mewah itu. Secara seksama mereka mulai memeriksa kondisi sang pasien yang masih terbaring.
"Sepertinya pasien sudah sadar," Kris merasa sangat senang mendengar kabar yang diberikan oleh sang dokter. Iapun bergegas mengeluarkan ponselnya dan menghubungin keluarganya serta keluarga Tao.
"Tapi, kenapa matanya masih terpejam dok?" Kris telah selesai menelepon kedua keluarga itu. Ia memasukkan ponselnya dan nampak heran karena kedua mata sang pasien masih belum terbuka.
Salah satu dokter yang berada dalam kamar itu menjelaskan bahwa sang pasien memang sadar tapi masih belum sepenuhnya, maka dari itu ia masih belum bisa membuka matanya, mungkin dalam beberapa menit ia akan bisa melakukannya. Kris hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
Tak ada sepuluh menit, kedua keluarga—Huang dan Wu—datang dengan tergesa-gesa. Mereka nampak kelelahan setelah berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Mereka langsung menghujam Kris dengan berbagai pertanyaan. Terutama nyonya Wu.
"Bagaimana Tao? Apa dia baik-baik saja?" Kris dengan pelan melepaskan cengkraman dari nyonya Wu pada bahunya. "Kata dokter ia akan segera bangun eomma," nyonya Huang nampak menghela nafas dengan lega. Walaupun sebenarnya Kris telah bercerai dengan Tao, tapi panggilan Kris terhadap nyonya Huang tetap seperti panggilannya saat ia masih berstatus sebagai suami dari si pemuda panda itu. Dan Kris beruntung, ia tidak mendapatkan penghakiman dari pihak keluarga Wu. Dan hubungan kedua keluarga masih terjalin dengan baik, mereka menganggap ini hanya sebagai sebuah ujian bagi kedua putra mereka, dan sebagai orang tua yang baik, mereka berusaha untuk bersikap bijaksana dengan membiarkan masalah yang lalu itu menjadi tugas anak mereka untuk menyelesaikannya.
"Dengan keluarga Huang?" seorang dokter keluar dari kamar rawat Tao. "Kami. Kami keluarganya," dengan cepat nyonya Huang menjawab pertanyaan sang dokter. Dokter menutup pintu itu, dan berkata "Bisa anda ikut dengan saya sebentar nyonya? Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan mengenai keadaan putra anda," Kris maju dengan wajah yang cemas, "Dok, bagaimana dengan Tao?"
"Sampai saat ini keadaannya sudah cukup stabil," sang dokter hendak menuju keruangannya tapi dihentikan oleh pertanyaan dari Kris.
"Apakah sudah boleh kami jenguk dok?" sang dokter nampak berpikir sejenak.
"Tentu, tapi jangan sampai membuat pasien terganggu," ditanggapi dengan anggukan oleh kelima orang itu.
.
.
"Apa ada hal buruk yang terjadi dengan putra saya dok?" nyonya Huang menatap sang dokter dengan sedikit khawatir akan penuturan yang akan dokter tersebut katakan mengenai putranya.
"Tidak begitu buruk nyonya," terlihat sedikit kerutan di dahi nyonya Huang.
"Lalu?" sang dokter menyerahkan map berisi catatan kesehatan milik sang putra.
"Itu adalah hasil dari kesehatan terakhir putra anda," tunjukknya pada kertas-kertas yang telah digenggam oleh nyonya Huang.
"Disana tertera putra anda tidak mengalami gangguan apapun sampai saat ini, namun, yang saya herankan ketika putra anda terbangun, saya merasakan sedikit hal ganjil,"
"Dok? Apa putra saya menderita penyakit yang parah setelah kejadian itu?" cemas nyonya Huang
"Tidak, bukan begitu nyonya. Yang saya herankan, putra anda terus menatap kearah pojok ruangan, seolah-olah ada sesuatu disana, dan sekilas pendengaran saya ia mengucapkan kata seperti "anakku, anakku". Bukan maksud saya menakut nakuti, prediksi saya sampai saat ini putra anda mungkin mengalami halusinasi."
"Maksud dokter?" nyonya Huang semakin mengeratkan genggamannya pada kertas ditangannya.
"Putra anda mengalami sebuah halusinasi, dimana ia melihat sesuatu yang memang tidak ada tapi ia sendiri menganggap sesuatu itu ada, mengingat bahwa janinnya telah meninggal, dan ia menghalusinasikan janin itu tetap ada,"
"Apakah putra saya mengalami gangguan jiwa dok?" tanyanya bingung.
"Saya tidak bisa mengatakan seperti itu, saya masih memerlukan beberapa pemeriksaan lagi untuk membuktikannya, tapi kemungkinan putra anda untuk mengalami hal itu ada, walaupun menurut prediksi saya sekitar 15% saat ini," nampak nyonya Wu menatap sang dokter dengan terkejut.
Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, kertas yang tadi ia pegang berjatuhan dilantai ruangan itu.
"Nyonya?" ujar sang dokter khwatir melihat raut pucat dari nyonya Huang.
.
.
Setelah keluar dari ruangan dokter, nyonya Huang berjalan dengan sangat lemas. Ia nampak terhuyung-huyung. Ia memijat kepalanya yang terasa pening. Ia pun berusaha menahan tangisnya. Pikirannya saat ini berusaha untuk tetap berpikir positif.
'Masih ada 75% aku yakin Taozi akan sembuh,' ukirnya dalam hati.
.
.
Sedangkan didalam ruangan tempat Tao berbaring, nampak tuan Huang, sang ayah dan ibu Kris, Kris serta Lay sang kakak mengelilinginya.
Tao yang memang telah terbangun nampak tidak menganggap mereka yang hadir disana sebagai sosok yang nyata. Ia hanya terus memandangi pojokan ruangan itu. Menatapnya sendu.
Dan mereka yang melihat keadaan Tao hanya diam, dan bingung. Mereka bertanya-tanya sebenarnya apa yang tengah dipandang Tao saat ini? hingga ia mengabaikan kehadiran mereka disampingnya.
Kris yang merasa cukup menatap tingkah aneh Tao, mulai bersuara "Tao, baby, gege disini sayang," ia menggenggam tangan pucat nan kurus milik Tao. Namun, Tao nampak menarik tangannya dari genggaman tangan Kris. Respon yang memang menjadi salah satu ketakutan dalam benak seorang Kris Wu. Tao menarik tangannya tanpa memalingkan sedikitpun tatapannya dari arah pojok ruangan itu.
"Tao… maafkan gege… Tao, maafkan gege ya.." Kris sekali lagi menggenggam tangan pucat Tao. Ia mencium tangan itu dengan lembut. Sekali lagi Tao menariknya dari genggaman Kris.
Kris menatap Tao menyesal, ia menatapnya dengan sedih.
"Tao, sayang ini appa nak," kali ini sang ayah mendekati Tao, ia mengelus pelan surai hitam putranya yang nampak lebih panjang dari sebelumnya.
Tao hanya diam, ia perlahan tersenyum. Dan itu membuat kelima orang itu sedikit lega. Tapi itu hanya sekejap sebelum mereka menyadari kearah mana senyuman itu diarahkan. Tepatnya kepojokan ruangan.
"Tao, hei.. sayang, apa yang kau lihat disana hum?" sang ayah kini menangkup wajah putranya, ia mengarahkan agar wajah itu menatap kearahnya, namun ditolak oleh sang putra.
"Tao…." Ujar Lay bingung.
Melihat tingkah Tao yang cukup aneh itu membuat mereka bingung. Walaupun ia merespon apa yang dikatakan oleh sang ayah maupun Kris, tapi mereka rasa pikiran serta jiwanya tidak berada disini.
Dan hal itu cukup menjadi sebuah pukulan telak untuk mereka, terutama Kris.
.
.
Nyonya Huang yang melihat tingkah laku sang putra dari kaca itu hanya bisa meremat jari-jarinya. Kali ini sesak didadanya menghimpit. Ia tak tahan. Ia menangis. Menangisi nasib yang diterima putranya. Pikiran mengenai 75% kesempatan itu tiba-tiba saja kandas.
Ia berlari menjauhi kamar itu. Ia tak mau jika ia ketahuan menangis dihadapan mereka semua. Ia masih belum bisa mengungkapkan apa yang akan terjadi pada putra bungsunya itu.
Tidak. Ia belum siap.
Lalu kapan?
.
.
.
.
.
"Eomma, sebenarnya apa yang dikatakan oleh dokter, eomma?" Lay yang mendapati sang ibu tengah duduk sambil menatap langit biru di taman rumah sakit mendekatinya.
Nampaknya sang ibu tak menyadari kehadiran putra sulungnya itu. Terlihat ia masih asyik memandangi langit ketika sang putra sudah mendudukkan dirinya disebelahnya.
"Yixing…" terdengar lemah, itulah yang ditangkap oleh pendengaran Lay.
"Eomma, eomma nampak lelah, apa yang terjadi eomma?" Lay menggenggam tangan sang ibu erat. Ia menatap kedalam mata sang ibu.
Sang ibu menatap Lay cukup lama. Dan ia pun tak bisa menahan tangisnya begitu memandang sang putra sulungnya itu.
"Eomma?" Lay bingung melihat sang ibu menangis tiba-tiba.
Iapun mengusap aliran airmata yang mengalir itu.
"Tao, yixing…" mendengar nama sang adiknya diucapkan keningnya berkerut.
"Ada apa dengan Tao, eomma?" tanyanya cemas.
"Tao, hiks… Tao akan menjadi gila, yixing… ia akan menjadi gila, hiks.." ia meremat sweater yang digunakan oleh Lay.
Lay yang mendengar apa yang diucapkan oleh ibunya nampak sangat terkejut.
"Bagaimana mungkin eomma berkata seperti itu pada Tao?! Ia masih baik-baik saja eomma!" kali ini Lay menggoyangkan kedua pundak sang ibu cukup keras.
"Eomma!" Lay yang nampak tak sabaran dengan jawaban sang ibu.
"Eomma juga tidak bisa menerimanya yixing! Tapi, setelah apa yang terjadi dengan Tao tadi serta penjelasan dari dokter, pikiran eomma mengatakan seperti itu! Eomma juga tak ingin berpikiran negative yixing namun melihat Tao seperti itu, Tao yang seperti itu… eomma..hiks..eomma.." sang ibu semakin menangis dengan kencang didada sang putra.
"Tenanglah eomma, aku yakin Tao pasti sembuh dan ia akan baik-baik saja, jadi eomma tidak boleh berpikiran seperti itu… nee, eomma?" Lay mengelus-elus punggung sang ibu berusaha menenangkannya.
"Taozi… hiks..hiks.." tangisan itu mulai memelan.
Lay memeluk erat sang ibu. Berbagi rasa sakit yang sama. Yang ditujukan untuk sang adik dan sang anak tercinta, Tao.
.
.
.
.
"Dokter mengatakan, Tao kemungkinan mengalami gangguang jiwa. Prediksi ini hanya sekitar 15% sampai saat ini, dan akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, jadi, sepertinya Tao masih akan terus dirawat sampai ia dinyatakan benar-benar sembuh dan sehat," keempat pasang mata itu menatap nyonya Huang tak percaya.
"Tidak mungkin," ujar Kris pada dirinya sendiri. ia mengepalkan kedua tangannya.
"Akupun tak ingin percaya, tapi…" nyonya Huang menatap kearah Tao yang tengah tertidur nyenyak. Memberi jeda sejenak kemudian melanjutkannya lagi.
"Setelah melihat apa yang ia lakukan ketika terbangun, pikiran itu semakin bertambah. Kenyataan yang membuat persepsi sementara itu menjadi sebuah hal nyata," jelas nyonya Wu. Ia menatap sedih kearah sang putra.
"Kita harus menunggu hasil pemeriksaan Tao," ujar Lay. Nyonya dan tuan Wu tak bisa berkata-kata. Mereka terdiam dan memandang sendu kearah Tao.
"Saat ini kita hanya bisa berdoa dan menjaganya," saran tuan Wu. Yang diterima anggukan oleh keempat orang lainnya.
"Maafkan aku…" Kris berujar. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Kris, sudahlah…" ujar tuan Huang.
"Kita hanya bisa mengusahakan yang terbaik untuk Tao, " ujar sang ayah bijak. Ia mengelus punggung Kris yang nampak bergetar menahan tangis.
.
.
"Eomma~ eomma~ bisa melihatku?" ujar sosok yang selalu ditatap oleh si pemuda panda.
Tao yang tengah tertidur hanya tak bisa menjawab pertanyaan sosok itu.
"Hiks… terimakasih eomma~ aku sayang eomma~" sosok itu menangis memandangi Tao yang tertidur. Sesekali ia menghapus lelehan air mata di kedua pipinya yang transparan.
The end of sequel
