Part 2

Malam sebelumnya...

"Song Qian, bawa anak-anak dan sembunyi di basemen!" perintah Zhou Mi setelah menutup keras pintu kamar mereka. Song Qian segera membuka pintu rahasia di sisi lemari pakaian, lalu menggendong Yi Yun dan menggandeng Wu Fan. Mereka bertiga masuk ke ruangan bawah tanah yang terhubung dengan pintu rahasia itu. Song Qian menutup pintu dan ruangan itu langsung gelap gulita.

"Kita aman di sini." Suara Song Qian sedikit parau karena debu-debu di ruangan yang lama tak dipakai itu memasuki tenggorokannya. Wu Fan memandang pintu di atas kepalanya, lalu dengan raut sedih bertanya pada ibunya, "Apa Baba akan baik-baik saja di atas sana?"

"Mama harap begitu." Song Qian mencoba tetap tersenyum dalam keadaan genting ini. Wu Fan menyandarkan tubuhnya di lengan Song Qian sambil terus menatap pintu, masih khawatir.

Rumah Song Qian sudah beberapa kali kemasukan perampok dan orang-orang berbahaya lainnya, tetapi Song Qian dan Zhou Mi selalu bisa mengatasinya berdua. Masalahnya, hal itu membuat orang-orang yang berambisi untuk mengambil harta milik dua artis tersebut menggalang kekuatan. Ujung dari semua itu adalah hari ini, di mana orang-orang jahat itu berjumlah cukup banyak dan bersenjata pula. Song Qian dan Zhou Mi tak bisa menghadapinya berdua, tetapi anehnya, Zhou Mi malah memaksa Song Qian untuk pergi, sementara dia sendirian bertarung melawan musuh-musuhnya. Pertimbangannya, akan lebih baik jika ada satu orang yang tersisa untuk menjaga anak-anak daripada mereka berdua mati -apaan? Menurut Song Qian, dua pilihan itu sama-sama tidak bagus. Jika Zhou Mi mati...

Song Qian menggeleng-geleng cepat. Ia tidak boleh berpikir macam-macam. Zhou Mi pasti masih bisa bertahan karena pria itu sangat kuat.

Brak!

Tiba-tiba, pintu ruangan bawah tanah itu terbuka dengan kasar. Song Qian dan Wu Fan terkesiap, sedangkan Yi Yun menangis karena terkejut.

"Ketemu tiga ekor!"

Iris mata Song Qian memerah. Zhou Mi benar-benar tak bisa mengatasi mereka sendiri. "Wu Fan sayang, Mama minta tolong, jaga Yi Yun, ya. Mama akan segera kembali." Song Qian menyerahkan Yi Yun pada Wu Fan. Anak lelaki itu langsung memeluk adiknya erat-erat, protektif. Song Qian melompat keluar dari basemen sambil menyeret manusia yang berhasil menemukannya keluar. Dengan menggunakan kuku-kukunya yang lebih tajam dari pisau, Song Qian mengoyak siapapun yang mencoba mendekati basemen. Matanya terus beredar mencari Zhou Mi, tetapi ia tak menemukannya. "Di mana kau, Mi?" batinnya takut. Apa orang-orang itu membawa jantannya pergi?

Pertarungan itu menjadi sulit karena jumlah dan persenjataan, tetapi selain itu, tidak ada penyulit lainnya. Song Qian masih punya cukup tenaga untuk menghabisi manusia-manusia itu, sehingga ia akhirnya berhasil menuntaskan pertarungan itu ketika fajar menyingsing. Beberapa yang masih sadar dan cukup pengecut di antara manusia-manusia itu ia perintahkan untuk membawa tubuh-tubuh itu pergi—tentu saja setelah Song Qian menghilangkan ingatan mereka. Rona cahaya yang masuk lewat jendela membuat Song Qian sadar bahwa pagi telah datang. "Setelah ini, waktunya beres-beres," gumamnya, lalu melongok ke bawah basemen, "Wu Fan, naiklah. Sudah aman sekarang."

Sedikit ragu, Wu Fan menjejakkan kakinya keluar dan melihat kamar di atas kembali seperti ... tidak juga, sih. Ada beberapa bercak darah yang sedikit menakutkannya. Ibunya pun tampak lain dengan tubuh dan rambut kacau serta berlumuran darah. "Wu Fan, tak usah takut... Ini Mama, kok, hanya saja Mama agak kotor. Mama akan membereskan semua ini; kamu kembali ke kamarmu dengan Yi Yun, ya." pinta Song Qian sembari menghapus darah yang menodai pipinya. Wu Fan mengangguk, dekapannya pada Yi Yun makin erat. Anak itu berjalan ke kamarnya, dibimbing ibunya, tetapi kemudian ia terpaku.

"Wu Fan, ayo jalan."

Wu Fan menggeleng. Air matanya mengalir sunyi. Tangannya yang gemetar menunjuk sesuatu di lorong gelap.

Di arah yang ditunjuk Wu Fan, Zhou Mi terkapar, tak sadarkan diri di lorong. Cairan merah pekat mengalir keluar dari dadanya yang terkoyak, membasahi ubin di Qian yang terkejut refleks memalingkan wajah Wu Fan dari pemandangan mengerikan itu. "Wu Fan, jangan takut... Baba baik-baik saja, Mama akan mengobatinya. Ayo, kita ke kamarmu... Terus lihat ke dinding, ya?"

Wu Fan akhirnya tertidur dengan tenang bersama adiknya setelah Song Qian meyakinkannya bahwa semua baik-baik saja. Song Qian mengunci pintu kamar anaknya dari luar, memastikan anak-anaknya aman, lalu segera menolong jantannya yang terluka parah. Ia tersenyum senang karena kondisi Zhou Mi normal kembali dengan cepat setelah lukanya dibersihkan dan dibalut. Tugas Song Qian belum selesai sampai di situ. Ia mencuci sprei, mengepel lantai, dan membersihkan dinding dari bercak-bercak darah. Tubuhnya yang sudah minta diistirahatkan karena semalaman tidak tidur masih ia paksa bekerja. Lorong masih sangat merah. Sofa ruang tamu tercabik di mana-mana. Peluru-peluru bersarang di dinding ruang keluarga. Song Qian membereskan semua itu sendiri selama empat jam, lalu segera pergi mandi dan menyiapkan sarapan setelahnya.

Zhou Mi terbangun di sofa ruang tengah pukul setengah sepuluh. Rumah sudah bersih seluruhnya, sangat berbeda dengan semalam. Linglung, pria itu bangkit dari sofa. "Semalam... bukankah sangat kacau?" tanyanya pada Song Qian sambil menggeleng-gelengkan kepala, menghilangkan denyutan di kepalanya. Song Qian menghampirinya—cantik, harum, dan bersih. "Aku sudah membereskan semuanya, tenang saja," betina itu membantu Zhou Mi bangkit, "Bagaimana denganmu? Sudah baikan?"

"Agak nyeri sedikit di dada, tetapi... tidak terlalu parah, kok. Maafkan aku tidak bisa membantumu beres-beres, Qian."

"Kau sudah membantu cukup banyak malam tadi. Terima kasih banyak, Mi," Song Qian mencium pejantannya di pipi dengan sayang, "Oh ya, bisa minta tolong bangunkan Wu Fan dan Yi Yun, tidak? Ajak Wu Fan mandi sekalian selagi aku menyiapkan sarapan."

"Tentu," Zhou Mi tersenyum, "Masak yang banyak; aku sangat lapar. Kalau masakanmu enak, kau boleh mengajak Wu Fan dan Yi Yun jalan-jalan ke tempat teman-temanmu."

Song Qian tertawa kecil. "Masakanku tak pernah tak enak, 'kan?"

Zhou Mi berjalan menuju kamar anak-anaknya, tetapi kemudian berbalik. "Song Qian, kau tak ingin tidur saja hari ini? Kantung matamu sangat tebal dan hitam."


Tiga tahun berlalu lagi. Kali ini, Victoria diundang ke acara peluncuran produk baru dari sebuah brand kosmetik yang dulu menjadikannya sebagai ambassador brand. Sebenarnya, Victoria agak minder dengan penampilannya yang sekarang, tetapi harus ia akui ia rindu menghadiri acara-acara seperti ini. Zhou Mi juga mengizinkannya pergi, jadi yah... kenapa tidak?

Malam itu, dengan agak ragu, Victoria melangkahkan kakinya memasuki gedung launching. Ia memegang erat clutch bag merahnya, berusaha meredam ketegangan. Tentu saja ia tegang. Ada yang bermasalah dengan penampilannya dan itu sangat terlihat, ia yakin. Ini bukan masalah outfit atau gaya rambut; Victoria menggerai rambut panjang kecoklatannya yang indah dan mengenakan gaun cantik selutut berwarna putih, plus high heels merah yang sangat ia sukai—padu-padan sempurna. Ini bukan juga masalah postur tubuh; berat badan Victoria memang naik, tetapi masih cukup imbang dengan tinggi badannya. Tubuh yang lebih 'berisi' malah membuat Victoria kelihatan segar dan seksi. Ini pun bukan masalah make-up; Victoria terlalu paham masalah ini dan selalu mengenakan make-up yang natural.

Seperti biasa, Stella dan Jessica-lah yang menyadari 'kesalahan' dalam penampilan Victoria.

"Oh, Vic, apa yang terjadi dengan bibirmu? Kok terluka lebar begitu?" Stella dan Jessica berebut bertanya mengenai luka lecet yang cukup terlihat di sudut bibir Victoria. Tuh, 'kan, langsung kelihatan, batin Victoria. Wanita itu tertawa getir. "Ini bukan masalah besar. Beberapa hari lalu, aku pergi belanja dan bertemu teman lama di sana. Kami berbincang dan tertawa-tawa santai, tetapi aku lupa kalau bibirku kering karena tidak pakai lip balm. Akhirnya, saat tertawa, bibirku terkelupas dan jadi begini." elaknya, menutupi apa yang sebenarnya terjadi.

"Aku ingat berita tentang terorisme di sekolah putramu beberapa hari lalu. Apa kau terluka karena itu?" tanya Stella lagi, cemas. Victoria menggeleng. "Tak ada yang terluka—teroris-teroris itu cuma sekelompok orang iseng. Mereka akhirnya menyerahkan diri mereka sendiri setelah membuat takut orang-orang di sekolah Wu Fan."

Jessica mengangguk-angguk, tetapi tiba-tiba, di benaknya terlintas suatu hipotesis lain tentang luka Victoria. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu berbisik, "Rose tidak menyiksamu di rumah, 'kan, Vic?"

Victoria memukul pelan kepala Jessica dengan clutch bag. "Zhou Mi terlalu lembut untuk menyiksaku. Kau ini, Sica..."

"Itu tidak menutup kemungkinan. Kau bisa langsung bilang pada kami kalau dia menyakitimu. Aku dan Stella akan siap menolong." kata Jessica, sok tahu. Victoria tertawa, kali ini lebih lepas. "Jangan konyol, deh. Kalau Zhou Mi menyiksaku, aku tak mungkin membiarkan Wu Fan, Yi Yun, dan Zi Tao bersamanya, 'kan?"

Jessica terdiam. "Benar juga, sih... Kalau ia menyiksamu, mana mungkin kau bisa punya anak terus dengannya, ya?"

"Sica!"


Seminggu lalu...

"Wu Fan, menurutmu kamu dapat ranking berapa?" tanya Song Qian dengan binar di mata. Ini pertama kalinya wanita itu mengambil laporan hasil belajar putra sulungnya yang sekarang duduk di kelas 2 SD.

"Tidak tahu." Wu Fan yang sedang digandeng Song Qian menjawab singkat.

"Eh? Kamu tidak berharap dapat ranking berapa, begitu?"

"Tidak."

"Ah, masa? Setiap anak berharap setidaknya masuk 10 besar. Kamu juga perlu punya keinginan seperti itu, Wu Fan." Song Qian mengusap puncak kepala anaknya.

"Kalau aku tidak berhasil meraih itu, Mama akan marah. Seperti teman-teman yang lain, mereka selalu dimarahi jika tidak berhasil mendapatkan ranking."

Song Qian tersenyum lembut. Anak kaku seperti Wu Fan ternyata juga takut dimarahi. "Tidak. Wu Fan 'kan anak yang rajin. Kenapa Mama harus marah?"

Melihat senyum ibunya membuat Wu Fan tersenyum juga, walaupun tak terlalu lebar—sesuai dengan ciri khasnya.

Setelah rapat tahunan orang tua siswa selesai, ini saatnya pengumuman peraih peringkat 10 besar di kelas. Song Qian tidak terlalu berharap, walaupun Wu Fan anak yang pandai. Wu Fan-lah yang kelihatan begitu menginginkannya; wajahnya sedikit tegang ketika peraih peringkat dibacakan. "Tidak apa-apa kalau tidak dapat, Wu Fan." Song Qian merangkul bahu putranya dengan sebelah tangan.

Nama Wu Fan tidak disebut di tujuh peringkat terbawah. Tiga besar menjadi sangat menegangkan bagi anak laki-laki itu—yang tahun lalu menyabet juara empat. Song Qian bisa merasakan denyut jantung di punggung Wu Fan, menandakan betapa tegangnya sang anak. Song Qian sekali lagi mengusap bahu putranya.

Peringkat tiga dan dua tidak diraih Wu Fan. Keputusasaan membayangi wajah anak laki-laki itu. Ia menunduk.

"Nyonya Song Qian, selamat. Putra Anda meraih peringkat pertama di kelas 2-B tahun ajaran ini."

Ucapan sang wali kelas sontak membuat Wu Fan mengangkat wajahnya. Tepuk tangan semua orang yang ada di kelas membahana. Song Qian tersenyum lebar, bangga. "Dengar itu. Kau hebat, Sayang.Mama senang sekali." Song Qian melayangkan satu kecupan singkat di pipi putranya. Wu Fan terpaku, masih belum percaya bahwa dirinya meraih peringkat pertama. Ketika sang ibu maju untuk mengambil laporan hasil belajarnya, barulah beberapa teman sekelasnya menghampiri.

"Selamat ya, Wu Fan! Kau memang hebat, tetapi lain kali, aku akan mengalahkanmu!" Seorang bocah laki-laki yang tampan dan menggemaskan menjabat tangan Wu Fan dengan senyum optimis. Bocah itu meraih juara dua tahun ini, sementara tahun kemarin, ia berhasil mengalahkan Wu Fan sebagai juara tiga. Wu Fan tersenyum kikuk. "Terima kasih..."

Mendengar anaknya yang begitu ambisius ingin mengalahkan Wu Fan, seorang wanita muda seumuran Song Qian berdiri dan menggendong putranya itu. "Lu Han... jangan bicara macam-macam." kata wanita itu pada putranya. Lu Han, anak yang tampan dan menggemaskan itu, hanya menelengkan kepalanya bingung saat menatap ibunya, tidak merasa mengatakan sesuatu yang salah.

Song Qian geli melihat sikap kikuk Wu Fan yang menerima banyak ucapan dari teman-temannya. Sang wali kelas pun sama. "Putra Anda sangat berbakat, Nyonya. Prestasinya terus naik, apalagi ia juga menunjukkan keahliannya di luar bidang akademis." kata sang wali kelas ketika memberikan laporan hasil belajar Wu Fan. Song Qian merendah. "Dia masih perlu banyak belajar dan tidak boleh cepat puas dengan ini. Saya dan suami saya akan terus mendukungnya."

"Harus itu. Wu Fan memiliki motivasi belajar yang tinggi. Anak yang pertama memberi selamat padanya tadi adalah rivalnya di kelas."

"Oh? Kompetitor, maksud Anda?" Song Qian tertawa kecil, "Ada-ada sa—"

"Angkat tangan!"

Song Qian belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat dua orang dengan topeng hitam menyerbu masuk kelas. Salah seorang dari mereka mengarahkan pistolnya pada Song Qian, sedangkan orang yang lain menembakkan peluru ke udara untuk menciptakan ancaman. Hampir semua orang ketakutan. Ya, hampir, karena ketika orang-orang tiarap dengan anak-anak mereka dalam pelukan, Wu Fan masih duduk tegak di kursinya. Ia menatap orang-orang gila itu tak suka.

"A-apa yang kalian inginkan?" tanya sang wali kelas dengan gemetar. Pria yang menodong Song Qian tertawa. "Mengambil laporan hasil belajar, ya? Pasti sangat menyenangkan, tetapi kalian harus bersiap menghadapi kematian kalian!"

Song Qian masih diam sambil mengangkat kedua belah tangannya. Ia terus mengawasi orang-orang itu dari sudut mata.

"Kami akan pastikan kalian terus berada di sini sampai gedung sekolah ini meledak!"

Mulai terdengar tangisan ketakutan anak-anak, tetapi Wu Fan masih terpaku di tempat.

"Siapapun yang hendak pergi dari tempat ini akan mati!" Orang-orang itu mengancam lagi. Song Qian mulai kesal mendengar ancaman orang-orang aneh ini, tetapi ia harus menunggu saat yang tepat untuk benar-benar beraksi. Orang-orang ini hanya kurang pekerjaan. Song Qian ingin membuat mereka mengerti bahwa meneror orang di waktu luang bukan pekerjaan yang baik. "Kalian akan meledakkan sekolah?" tanya Song Qian, "Jadi, kalian sudah memasang bom di sekolah ini?"

"Tepat sekali. Kau wanita yang pintar, sama seperti anakmu yang di sana itu," pria yang menodong Song Qian terkekeh, "Hei, kau, todong anaknya."

Pria yang satu lagi berjalan cepat ke arah Wu Fan dan mengarahkan moncong pistol ke bagian belakang kepalanya. "Pasti menyenangkan melihat otak encer anak ini hancur."

Wu Fan mengepalkan tangannya. Ia tidak takut diancam di bawah senjata. Ia lebih takut ibunya terluka.

"K-kami tidak akan keluar, j-jadi tolong turunkan senjata kalian..." pinta sang wali kelas. Para teroris langsung membentaknya. "Kalau ada yang berbicara lagi, aku akan ledakkan kepala wanita ini, juga anaknya!"

Kelas langsung sunyi. Orang-orang menutup mata ngeri. Dari sudut matanya, Song Qian bisa melihat mata Wu Fan mulai memerah. Wu Fan bisa saja menyalurkan 'insting' yang tertahan dengan cara yang berbahaya. Song Qian harus cepat bertindak. Wanita itu tersenyum pada putranya, seolah berkata 'tidak apa-apa'. Mata Wu Fan kembali menjadi hitam...

...dan Song Qian langsung mematahkan tangan orang yang menodongnya dengan tangan kosong. Direbutnya pistol dari tangan si penodong setelah membenturkan kepala si penodong ke papan tulis hingga berdarah. Penjahat satunya tampak panik. "Sialan!" geramnya, siap meledakkan kepala Wu Fan dengan senjatanya, tetapi kemudian, seseorang sudah menjegalnya dan membantingnya ke arah loker anak-anak.

Seseorang itu adalah ibu Lu Han.

Kedua wanita itu membalikkan situasi. Mereka balik menodong para teroris itu. "Ibu-ibu, maaf, bisa tolong tutup mata putra-putri Anda sekalian?" kata ibu Lu Han dengan tenang, "Saya mungkin akan melakukan hal yang sedikit berbahaya bersama dengan Nyonya Song Qian."

Ibu-ibu menurut dan langsung menutup mata anak-anak mereka. Song Qian mengalihkan pandang pada dua anak yang tak tertutup matanya. "Wu Fan dan... mm, Lu Han, kalian juga harus tutup mata, ya." pinta Song Qian sambil tersenyum. Wu Fan dan Lu Han akhirnya menutup mata mereka. Ibu Lu Han tertawa geli ketika anaknya menutup mata dengan dua belah tangan sambil berkata, "Aku tidak melihat!" Wu Fan sendiri hanya memejamkan mata.

"Kurang ajar! Makhluk apa kalia—"

Brak! Song Qian membenturkan kepala si penodong sekali lagi ke papan tulis. "Jangan berisik. Sekarang, tunjukkan di mana kau menyimpan bom itu dan cepat jinakkan."

Sambil mengunci tangan para teroris dan pistol masih terarah ke kepala para penjahat itu, Song Qian dan ibu Lu Han mendorong keduanya ke luar kelas. "Ah, tak saya sangka, Anda manusia serigala juga. Siapa nama Anda?" tanya Song Qian pada wanita di sebelahnya. Wanita itu mengangguk sopan. "Saya Li Yin, senang berkenalan."

Song Qian tampak berpikir sejenak. "Astaga, bukankah Anda istri aktor itu? Han Geng, benar 'kan?"

"Begitulah. Saya jarang tampil bersama suami saya, jadi jarang diingat."

"Tidak, tidak. Maksud saya—"

"Kalian ibu-ibu berisik!"

Buak! Salah seorang penjahat berhasil lepas karena kelengahan Song Qian. Penjahat itu memukul Song Qian hingga pipi Song Qian lebam dan bibirnya lecet. Li Yin tak tinggal diam. Ditembaknya kaki kedua penjahat itu hingga keduanya jatuh tersungkur. "Bisakah kami, para ibu rumah tangga ini, mendapatkan sedikit hiburan di sela tugas kami melindungi anak kami?" tanya Li Yin, nada bicaranya sungguh berlawanan dengan raut kalem Qian mengusap pipinya yang luka, lalu menyeret 'korban'nya setelah menodongkan pistolnya kembali ke kepala penjahat itu. "Setelah ini, ke mana? Kalian harus memberitahukan kami jalan yang benar dan menjinakkan bom itu dengan benar pula."

"Hh, memang kalian ini siapa?" Salah satu teroris masih berani menantang Song Qian.

"Eh, rupanya dua orang ini tidak cukup ditangani dengan rasa takut. Kita harus menggunakan cara lain." ucap Li Yin, lalu menghempaskan penjahat yang diseretnya ke lantai. Song Qian melakukan hal yang sama. Dua wanita itu menginjak dada para teroris, pistol mereka arahkan ke dahi pria-pria lemah itu. Iris wanita-wanita cantik itu memerah, mempengaruhi para teroris dengan tatapan intens.

"Tunjukkan di mana bom disimpan, jinakkan, setelah itu kalian harus menyerahkan diri."

Beberapa menit setelah bom dijinakkan, polisi datang dan menangani dua teroris aneh yang tampak linglung itu.

"Mama, apa orang-orang jelek itu sudah pergi?" tanya Lu Han polos. Li Yin mengangguk. "Bilang terima kasih pada ibunya Wu Fan juga."

Lu Han mengangguk sopan pada Song Qian. "Terima kasih, ibunya Wu Fan..."

"Sama-sama. Wu Fan, kau juga harus melakukan hal yang sama." perintah Song Qian. Wu Fan pun mengangguk pada Li Yin. "Terima kasih, ibunya Lu Han..."

Song Qian dan Li Yin tertawa. Kepolosan anak kecil memang sangat manis. Mereka terlalu sibuk mengamati anak-anak mereka itu, hingga tidak menyadari berpasang-pasang mata orang tua dan anak di kelas menatap mereka ngeri. Bagaimana mungkin ada yang bisa tertawa tenang setelah peristiwa terorisme di sekolah macam ini?


"Mama!"

Victoria terbelalak. Ia kenal betul suara itu. Benar saja; kakinya ditubruk-peluk makhluk kecil yang tak asing baginya. Victoria melihat ke bawah dan ternyata, itu Yi Yun. "Hai, Cantikku!" Victoria menggendong anak perempuannya, "Kok kamu ke sini? Bersama Baba?"

"Mm!" Yi Yun mengangguk bersemangat, lalu menunjuk ke arah pintu masuk, "Bersama Fan-ge dan Taotao!"

Mata orang-orang yang hadir di pesta teralih pada karpet merah di pintu masuk gedung. Rose alias Zhou Mi ada di sana, bersama Wu Fan dan Zi Tao si bungsu. "Aaa!" Zi Tao berteriak, tidak ingin ditinggal jiejienya, tetapi bocah yang baru bisa berjalan itu tak bisa secepat Yi Yun. Ia masih tertatih-tatih. Masih dipegangi Wu Fan, lagi. Victoria-lah yang menghampirinya. Zi Tao tertawa senang, terlebih ketika Victoria juga menggendongnya. "Kalian datang? Bagaimana caranya kalian masuk? Kalian 'kan tidak punya undangan?" tanya Victoria pada Zhou Mi.

"Siapa bilang?" Zhou Mi menunjukkan undangan miliknya sambil mengedipkan sebelah mata, "Rose TRAX diundang ke sini untuk menyanyi solo. Aku sengaja datang belakangan dan menyembunyikan ini darimu sebagai kejutan."

Beberapa orang tamu undangan berbisik-bisik, beberapa lagi tersenyum, beberapa lagi bersorak riuh, tetapi Stella dan Jessica cuma bisa terpaku menyaksikan scene romantis itu. Wajah Victoria merona seketika. "Tidak usah pakai acara romantis-romantisan, deh. Biasa saja, aku malu..." bisiknya. Zhou Mi tertawa kecil. "Kenapa, sih? Eh, bibirmu masih sakit?" Pria itu menyentuh lembut sudut bibir Victoria, yang semakin memancing keriuhan di acara itu. Victoria semakin merah mukanya; debaran jantungnya juga ikut meningkat. Wu Fan, Yi Yun, dan Zi Tao hanya bisa memandang bingung pada para undangan pesta. Memangnya apa yang spesial? Baba melakukan itu hampir setiap hari, mungkin itu pikir mereka.

"Ck, kebiasaan." Victoria menyembunyikan wajahnya, malu. Zhou Mi tersenyum. "Jangan pasang wajah begitu. Kau kelihatan semakin manis." Sekali lagi, Zhou Mi berbisik dan mengundang keriuhan di gedung itu.

Hari itu menjadi hari tak terduga sekaligus paling membahagiakan bagi Victoria. Ia sudah lupa dengan luka lecet di bibirnya yang, menurutnya, merusak penampilan. Luka lecet itu sudah menjadikannya makin dekat dengan Zhou Mi dan anak-anaknya, terutama Wu Fan. Ia tak lagi malu menjadi ibu di usia muda, walaupun ada beberapa perubahan fisik yang ia dapat setelah menjadi ibu—ralat, induk. Ya, menjadi induk membawa kebahagiaan tersendiri, dan Victoria ingin terus seperti ini.

Sementara itu, Stella dan Jessica mulai berpikir ulang tentang karir dan pernikahan mereka kelak.


THIRD STORY OF HOMO HOMINI LUPUS SERIES: END

Author's note: check-check, satu, dua (dikirain test mic kalo mau upacara apa?)

OK, dengan di post-nya FF ini, aku bukannya berniat untuk kembali ke sini dengan RPF (maafkan aku miminnya FFn... karena melanggar guideline). Aku cuma ngetest, apakah FF ini cukup menarik? Karena selama publish di luaran, review yang aku terima sangat sedikit T.T Mungkin juga karena castnya kurang banyak yang ngefans? (apa?! Victoria-chan secantik itu!) Lupakan. Kalau ternyata review yang ada di sini banyak, aku harap kalian mau membaca cerita ini di tempat publishku yang lain dan memberikan review kalian... Ini sangat kubutuhkan untuk improvement (ketahuan banget deh kalau pingin dapet review banyak -.-). Arigatou ^^

Oh ya, sekilas tentang Homo Homini Lupus Series, ini adalah kisah tentang manusia serigala yang castnya adalah SMEnt's China-line (Hangeng, Zhoumi, Henry, Victoria, Amber, Zhang LiYin, Kris, Luhan, Lay, Tao). Dan seperti kalian lihat, cerita ini adalah THIRD STORY, jadi sudah ada FIRST dan SECOND story, bahkan FOURTH story sudah dirilis juga. Kalau penasaran, bisa mulai browse yah, aku mempublish ceritanya dalam bahasa Indonesia secara terpisah di beberapa blog, juga di Archive of Our Own. Would you mind to read n review? *blink-blink attack

Dan mohon maaf, keseluruhan series tidak akan kuupload di sini. Ini cuma tes apakah aku harus meneruskan cerita ini atau tidak ^^