Devil Spiders

Chapter 2

Pairing : HiruMamo

Disclaimer : Riichiro Inagaki & Yusuke Murata

Written : Sasoyouichi

Story : Sasoyouichi

© Sasoyouichi


- サソヨウイチ -

Sasoyouichi kembali^^

Gomennasau lama fff-nya baru keluar, 1 bulan lo readers

Kekekeke

*tertawa tanpa dosa*

Maklum sibuk *plaak*

Mulai dari UH, tugas dan diakhiri dengan UTS T.T

Terus Saso buat 4 chapter untuk Award dg tokoh SakuSara [Sakuraba x Sara]^^ makanya lama update yang ini :D

Ini dia chapter ke-2 dari Devil Spiders

*nebar komik*

Promosi acc. resmi author disini aja dah..

(fb : Sekar D. Saso) (twitter : sekarrns – double 'r')

Happy reading^^


- サソヨウイチ -

Cerita sebelumnya...

"I-itu su-surat cinta!" teriak Kuroki.

"Ternyata Hiruma menyukai Akaba," ucap Togano.

"Itu tidak mungkin terjadi Kuroki, Togano," kata Suzuna dengan ekspresi wajah aneh.

CEKREEKK..

Hiruma mendengar perkataan Togano dan Kuroki. Hiruma siap menembak Togano dan Kuroki. Mereka langsung kabur ketakutan. Mamori hanya mampu mengeluarkan pandangan aneh mendengar perkataan mereka.

"Aku pergi dulu ya Hiruma," ujar Mamori.

"Hm." Hiruma hanya berdeham dan kembali melanjutkan latihannya yang tertunda.

Mamori, Mizuno dan Taiga pergi ke Bando dengan mengggunakan kereta bawah tanah sampai ke stasiun terdekat dari sekolah Bando.


- サソヨウイチ -

Normal P.O.V

JEESS.. JEESS.. JEESS..

Suara kereta api menggema di lorong bawah tanah kota Tokyo. Mamori, Mizuno dan Taiga duduk berjejer di bangku penumpang kereta listrik bawah tanah. Mereka bertiga akan menuju ke sekolah Bando yang kurang lebih bisa ditempuh dalam waktu 45 menit dari Deimon menggunakan kereta listrik bawah tanah.

Mamori tampak sedang mempersiapkan beberapa usulan yang akan ia sampaikan saat rapat dengan Bando nanti. Seorang cowok di sebelah kiri Mamori tampak sedang menggoyangkan kepalanya pelan. Mizuno sedang mendengarkan lagu dari Ipod-nya, menggoyangkan kepalanya mengikuti irama lagu yang didengarnya. Lagu itu berjudul A-Cha, sung by Super Junior. Taiga dengan duduk disebalah kanan Mamori sambil membaca buku tentang seorang detective terkenal.

Empat puluh lima menit waktu sudah berjalan. Kereta listrik yang mereka tumpangi berhenti di stasiun yang dituju dengan selamat. Dengan berjalan kaki beberapa menit saja mereka sudah bisa sampai ke sekolah Bando. Mereka hanya perlu melewati beberapa pertokoan besar di tepi jalan.

"Akhirnya sampai juga di Bando," kata Mamori. Mamori, Mizuno dan Taiga berdiri di depan gerbang sekolah Bando. Mata mereka bergerak melihat sekolah Bando dari depan pagar.

"Selamat datang di sekolah Bando!" seru seorang cowok berkacamata dan berambut merah sambil tersenyum ramah. Ia memakai seragam sekolah Bando dengan dasi ungu melengkapi penampilannya. Cowok itu berlari-lari kecil menghampiri mereka.

"Ah, Akaba, konnichiwa!" sapa Mamori. Mamori menundukkan kepalanya sedikit dan diikuti oleh Mizuno dan Taiga.

"Konnichiwa!" Akaba menyapa balik ketiga orang itu. "Maaf tadi aku membuat kalian menunggu disini,"

"Kami juga baru aja sampai kok," ucap Mizuno dengan senyum super ramah menghiasi wajahnya. "Watashi wa Mizuno desu," Mizuno memperkenalkan dirinya pada Akaba.

"Dan yang di sebelah ku ini, Taiga," kata Mamori memperkenalkan Taiga.

"Yoroshiku ne Akaba-san," Taiga membungkukkan badannya sedikit.

"Tidak usah pake –san, cukup Akaba saja," ujar Akaba. "Sepertinya selera musik kita cocok," Akaba tersenyum penuh arti kepada Taiga. Taiga yang cool dan selalu tenang memang cocok dengan Akaba yang juga terlihat cool.

"Apa kami terlambat?" tanya Mamori khawatir.

"Kami belum memulai rapatnya. Kalian nggak terlambat kok. Aku akan mengajak kalian untuk berkeliling sekolah Bando," ajak Akaba.

"Arigatou ne Akaba," kata Mamori.

"Terimakasih sudah mau direpotkan," lanjut Taiga.

"Kapan lagi kalian bisa melihat sekolah Bando kalau nggak sekarang." Akaba tersenyum.

Dari gerbang sekolah, mereka beranjak masuk ke dalam gedung sekolah. Mereka mengitari lantai bawah dan lalu menaiki anak tangga menuju ke lantai atas. Sebagai tour guide yang baik, Akaba terus menjelaskan sejarah sekolah Bando dan tempat yang ada di dalam gedung sekolah. Setelah puas melihat isi gedung, mereka beralih ke luar lapangan yang cukup luas.

Di sinilah lapangan olahraga Bando. Banyak orang-orang berseragam Amefuto sedang berkumpul di pinggir lapangan. Yap, inilah tim Amefuto sekolah Bando, Bando Spiders. Sepertinya, mereka sedang istirahat sebentar. Tampak, seorang cewek cantik berambut pendek sedang sibuk memberikan minuman dan handuk kepada yang lainnya.

"Hai Julie!" cewek yang sedang membagi-bagikan minuman tadi berlari menghampiri Akaba. Sepertinya, orang ini yang bernama Julie.

"Anezaki! Sudah lama nggak ketemu ya," sapa Julie dengan ramah.

"Iya Julie," jawab Mamori.

"Pasti mau rapat bareng Akaba ya?" tanya Julie.

"Haha, iya Julie. Julie pasti lagi repot ya ngurusin mereka," Mamori mengangkat telunjuk tangan kanannya dan mengarahkannya ke anggota tim Amefuto Bando yang sedang tidur-tiduran di tanah.

"Yah, ini sudah tugasku. Tapi pasti Anezaki lebih repot, 'kan ada kapten yang mengerikan itu,"

"Hiruma maksudnya? Hahaha. Benar! Dia memang merepotkan ku," jawab Mamori.

"Fuuh.. Baiklah nona-nona cantik. Kalian bisa melanjutkan obrolan kalian setelah kita rapat, oke?" kata Akaba.

"Haha, baiklah Akaba. Sampai nanti Anezaki." ucap Julie.

Mamori melambaikan tangannya ke arah Julie. Akaba, Mamori, Mizuno dan Taiga segera menuju ruang rapat. Mereka masuk ke sebuah ruangan yang besar. Terdapat papan nama bertuliskan "Seitokai Room's". Ini adalah ruang untuk organisasi siswa di sekolah Bando. Murid-murid Bando sudah duduk rapi di bangkunya masing-masing. Mereka masuk ke dalam ruangan itu dipimpin oleh Akaba yang berjalan di depan memimpin barisan.

"Konnichiwa minna-san!" ucap Akaba.

"Konnichiwa!" kata murid-murid lainnya serentak.

"Ini wakil dari Deimon yang akan ikut rapat dengan kita di sini," Akaba mengarahkan tangannya ke arah Mamori, Mizuno dan Taiga berdiri.

"Yang perempuan namanya, Mamori Anezaki," Mamori mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum manis. Siswa Bando banyak yang seketika terpesona dengan Mamori. Mereka belum tau siapa lawan mereka untuk mendapatkan seorang Anezaki Mamori.

"Di sebelah kanan Anezaki, namanya Mizuno dan di satu lagi namanya Taiga," Mizuno dan Taiga mengangkat tangan mereka dan mengeluarkan senyuman maut. Siswi Bando yang terhipnotis dengan Mizuno dan Taiga, terus memperhatikan mereka yang sedang berjalan menuju tempat duduk.

"Hei, ternyata siswa Deimon cakep-cakep ya," bisik seorang siswi Bando kepada teman di sampingnya.

"Aku setuju! Nanti kita kenalan yuk!" usul temannya. Siswi tadi cukup tersenyum dan mengacungkan jempol tanda ia setuju dengan ide temannya itu.

"Mohon perhatiannya! Kita akan mulai rapatnya!" teriak Akaba dari depan kelas. Semua mata tertuju pada Akaba.

"Terimakasih. Untuk tema festival, pastinya sudah di tentukan. Temanya musim gugur dan akan diselenggarakan selama 2 hari, Sabtu dan Minggu," kata Akaba. Semua mengangguk setuju.

"Kita akan mengadakan festival ini di sekolah Deimon. Karena, sekolah Deimon mempunyai tempat yang luas untuk menjadi tempat festival sebesar ini," sambung Akaba.

"Setiap kelas di Bando harus ikut dalam meramaikan festival ini. Kita mempunyai waktu 3 minggu untuk merencanakan festival ini. Dan untuk menyiapkan tempat atau meletakkan properti yang akan digunakan, kita diberi waktu libur 3 hari dari sekolah. Dari hari Rabu, Kamis dan Jum'at sekolah diliburkan, karena kita semua akan datang ke sekolah Deimon untuk menata tempat yang akan kita pakai hari Sabtu dan Minggu. Semua keputusan ini sudah diterima oleh kedua sekolah dan mendapat persetujuan dari kepala sekolah. Ada yang ingin bertanya?" tanya Akaba.

"Bagaimana kita akan memberitahukan kepada semua murid Bando? Apa lewat pengeras suara?" tanya seseorang peserta rapat.

"Kita akan buat poster tentang festival ini. Kita akan mendiskusikan tentang poster ini saat rapat bersama Deimon. Oh ya, masing-masing dari kalian akan menangani beberapa kelas untuk melancarkan festival ini. Kalian yang akan mengatur tempat dan mengatur mereka agar bisa melakukan persiapan ini dengan baik dan lancar. Yuki, Sora dan Takahashi akan menangani kelas 1. Kelas 2 akan ditangani oleh Minami, Kisuke dan Rie. Kelas 3, dipercayakan pada Takeru, Misae, dan Yukko. Sedangkan sisanya diharuskan membantu yang lain. Yang tadi namanya disebutkan bisa memilih sendiri temannya. Setelah terkumpul, berikan nama-namanya kepadaku. Apa ada yang keberatan?"

Peserta rapat hanya menggelengkan kepala. Setelah itu, rapat terus berlanjut dengan sesi tanya jawab dan penyampaian usulan-usulan dari para anggota rapat. Inilah saatnya bagi Mamori untuk menyampaikan usulnya Hiruma. Mamori mengangkat tangannya untuk meminta ijin berbicara.

"Ya, Anezaki silahkan," kata Akaba mempersilahkan Mamori untuk berbicara.

"Aku ingin menyampaikan suatu usulan. Sebenarnya ini bukan usul dariku, tapi dari Hiruma," kata Mamori.

"Hiruma? Kapten tim Amefuto itu?" tanya Kisuke.

"Iya. Namanya Youichi Hiruma. Hiruma mengusulkan, pada saat festival nanti, tim Amefuto Deimon Devil Bats dan tim Amefuto Bando Spiders akan melakukan pertandingan terbuka. Ini sekaligus menambah daya tarik dalam festival itu sendiri. Itu usul Hiruma. Terimakasih." Mamori duduk kembali setelah mengakhiri kalimatnya.

Mereka tampak mengangguk-ngangguk setuju. Akaba sebagai ketua panitia juga ikut mengangguk kecil. "Itu ide yang sangat bagus sekali! Kita akan membicarakannya saat rapat besar bersama Deimon!" seru Akaba bersemangat. Mamori tersenyum senang karena ide Hiruma sepertinya disambut dengan baik.

Mereka meneruskan kembali diskusi mereka. Setelah dirasa sudah cukup, Akaba menutup jalannya rapat ini tepat pada pukul 6 sore. Deimon dan Bando akan mengadakan rapat besar pada hari Minggu ini. Pada saat rapat besar itulah, semua akan direncanakan sedemikian rupa agar semuanya bisa berjalan dengan baik dan lancar.

Akaba mengantarkan Mamori, Mizuno dan Taiga sampai ke depan gerbang. Mereka kembali melewati lapangan olahraga Bando. Anggota tim Bando masih berlatih untuk meningkatkan kemampuan mereka. Mamori berhenti untuk menyapa kembali Julie. Lalu, Akaba mengantarkan mereka sampai ke depan gerbang.

"Arigatou ne Akaba," Mamori, Mizuno dan Taiga menundukkan badan mereka sedikit. Akaba membalasnya dengan senyuman.

"Aku pulang duluan ya. Aku sudah ada janji dengan pacarku di sekitar sini. Jaa!" ucap Mizuno sambil berlalu meninggalkan mereka.

"Kalau begitu aku juga. Jaa mata Anezaki, Akaba!" Taiga melambaikan tangannya. Punggungnya menghilang dari pandangan setelah ia belok ke jalan yang lain.

"Oh iya, hampir aja lupa!" seru Mamori tiba-tiba. Akaba menatap bingung kepada Mamori.

"Ini," Mamori mengeluarkan sepucuk surat dari dalam tasnya. Mamori memberikan surat itu pada Akaba.

"Untukku? Dari siapa?" tanya Akaba penasaran.

"Dari Hiruma," jawab Mamori singkat.

"Hiruma?" Akaba mengernyitkan dahinya. Ia membuka surat itu dan mulai membacanya.

"Fuuh.. Baiklah kalau begitu," ucap Akaba sambil menaikkan sedikit kacamatanya setelah selesai membaca surat dari Hiruma.

"Kalau begitu apa?" tanya Mamori.

"Aku akan mengantarkanmu pulang Anezaki," ucap Akaba.

"Ah, nggak usah Akaba. Aku bisa kok pulang sendiri. Nanti jadinya ngerepotin Akaba," tolak Mamori.

"Nggak ngerepotin kok. Malah lebih repot kalau aku nggak nganterin Anezaki pulang,"

"Loh? Kenapa Akaba?"

"Fuuh.. Nih, baca surat dari Hiruma. Ayo jalan Anezaki." ucap Akaba. Akaba mulai berjalan dengan Mamori yang mengikutinya dari belakang. Mamori membaca dengan serius isi surat dari Hiruma itu. Sepucuk kertas berwarna hitam dengan tinta putih di atasnya.

Jangan macam-macam dengan manajer sialan itu! Sedikit aja kegores kau bakal ilang dari hadapan semua orang! Ingat itu mata merah sialan! Kekeke!

"Jadi ini isi suratnya. Kirain surat cinta," kata Mamori.

"Kalau terjadi apa-apa saat perjalan kau pulang ke rumah. Aku nggak bakal selamat dari Hiruma,"

"Maaf ya merepotkan Akaba. Hiruma itu memang merepotkan!"

"Ini 'kan juga untuk kebaikanmu Anezaki," Mamori hanya tersenyum.

"Ngomong-ngomong, apa hubunganmu dengan Hiruma lebih dari sekedar manajer dan kapten?" tanya Akaba.

Blush. Rona merah muncul di wajah Mamori yang manis. Mamori memegangi wajahnya yang memanas. "Apa segitu mencoloknya hubunganku dengan Hiruma? Padahal aku dan Hiruma bersikap biasa-biasa saja. Nggak pernah seperti pasangan lainnya." ucap Mamori di dalam hati.

"Fuuh.. Mukamu memerah. Sepertinya hubungan kalian lebih dari manajer dan kapten," Akaba tertawa kecil.

"Apa begitu terlihat?" tanya Mamori.

"Hahaha.. Ya begitulah. Aku nggak nyangka setan itu yang mendapatkanmu,"

"Akaba jangan membuatku bertambah malu dong," ucap Mamori seraya menutup wajah dengan kedua tangannya.

"Haha, baiklah aku nggak akan tanya lebih jauh. Tapi, apakah Hiruma pernah menciummu Anezaki?" tanya Akaba dengan jahilnya.

Blush. Mamori bertambah malu mendengar pertanyaan Akaba. "Akaba! Udah dong!" seru Mamori. Mamori memukul pelan bahu Akaba. Akaba membalasnya dengan tawa renyah serenyah kerupuk.


- サソヨウイチ -

Naik kereta api listrik, dilanjutkan dengan kembali berjalan kaki dari stasiun sampai ke rumah Mamori. Hari sudah gelap dan Mamori sudah berada di depan rumahnya. Mamori berdiri menghadap Akaba yang berdiri di depannya.

"Akaba, makasih udah mau nganterin sampai rumah,"

"Yap, sama-sama. Ini juga demi hidupku. Bisa gawat kalau aku berurusan dengan Hiruma,"

"Haha. Aku akan menahan Hiruma, kalau benar dia berani melukaimu Akaba," ujar Mamori.

"Aku akan berlindung dibelakanganmu kalau gitu, hehe,"

"Oh iya Akaba, dari dulu aku penasaran, kenapa rambutmu bisa merah kayak gitu?" tanya Mamori sambil menunjuk rambut Akaba yang merah.

"Fuuh.. Dulu waktu aku kecil, kepala aku ketumpahan cat merah. Karena keluarga aku berpendapat aku bagus dengan rambut merah ini, sampai sekarang aku sengaja terus numpahin cat merah ke kepala aku biar rambutnya tetap merah. Apalagi namaku Akaba, Aka yang artinya merah," jawab Akaba dengan senyum sumringah di wajahnya.

"Hahaha, kok aneh gitu ya?" Mamori tertawa garing.

"Gak usah dipikirin, nanti tambah aneh. Masuklah. Udara sangat dingin," Akaba mengusap-usapkan kedua telapak tangannya.

"Baiklah. Aku masuk duluan, konbawa Akaba,"

"Oyasumi nasai Anezaki." Akaba meninggalkan Mamori yang berjalan masuk ke dalam rumahnya.


- サソヨウイチ -

"Aku pulang!" seru Mamori. Mamori melepaskan sepatu sekolahnya dan menggantinya dengan sandal rumah berwarna putih polos. Mami, ibunya Mamori menyambut anaknya dengan pelukan hangat.

"Darimana aja Mamori?" tanya Ibunya.

"Setelah pulang sekolah tadi aku ke sekolah Bando," jawab Mamori seraya duduk di meja makan.

"Mmmm. Tadi sepertinya bukan Hiruma yang nganterin kamu pulang,"

"Tadi itu Akaba, kapten tim Amefuto Bando Spiders," Mamori mulai memakan makanan yang dihidangkan di meja makan oleh ibunya.

"Terus bagaimana dengan Hiruma? Apa kalian sudah putus? Padahal Kaa-san suka lo sama Hiruma,"

"Nggak kok Kaa-san. Mamo masih sama Hiruma. Tadi, Akaba nganterin ke rumah juga karena Hiruma,"

"Apa Hiruma yang memintanya?" tanya Mami.

"Tepatnya memerintahnya," Mamori menenggak segelas minuman dingin yang dipegangnya.

"Hiruma perhatian banget ya, dia takut kamu bakal kenapa-kenapa kalau pulang sendirian. Kaa-san jadi pengen ketemu sama Hiruma," Mamori yang sedang minum, tersedak mendengar perkataan ibunya.

"Kenapa Mamori?"

"Ng-nggak apa-apa Kaa-san. Cuma tersedak aja."

"Wah, bisa gawat kalau Kaa-san ketemu sama Hiruma. Hiruma 'kan gak sopan, bisa-bisa dia ngasih embel-embel 'sialan' sama Kaa-san!" kata Mamori di dalam otaknya.

Mamori meneruskan acara makannya sambil ditemani dengan ibunya yang duduk dihadapannya. Ia bercerita tentang festival yang akan digelar oleh sekolah Deimon dan sekolah Bando. Mamori menceritakan semua yang dia lakukan hari ini pada ibunya.


- サソヨウイチ -

Mamori P.O.V

Selesai makan yang sekalian menjadi ajang curhatku dengan ibu, aku segera naik ke lantai atas menuju kamarku. Aku masuk ke kamar dan menyalakan lampunya. Badanku lengket karena seharian hanya mandi satu kali di pagi hari. Jadi aku memutuskan untuk mandi dahulu sebelum tidur.

"Capeknya!" aku menghempaskan badanku ke atas kasurku yang tidak terlalu besar dan dialasi dengan sprei bergambar rocket bear. Aku sudah siap dengan seragam tidurku. Piyama berwarna ungu muda bergambar kue sus. Handuk yang sedari tadi menggantung di bahuku, aku gunakan untuk mengeringkan rambutku yang basah.

"Hiruma lagi ngapain ya?" tanyaku tiba-tiba.

Tiba-tiba saja aku teringat dengan Hiruma. Aku memang tidak pernah tau apa yang sedang Hiruma lakukan atau yang Hiruma pikirkan selama di luar jam sekolah dan latihan Amefuto. Hiruma tidak pernah memberi tauku dan aku juga tidak pernah bertanya padanya. Mungkin suatu saat nanti Hiruma mau bercerita denganku tentang kehidupannya.

Aku mengambil ponselku dan mengetik sesuatu. Aku menekan keypad di ponselku yang memunculkan angka-angka berupa sebuah nomor ponsel. Nomor salah satu ponsel Hiruma tepatnya. Aku ingin sekali berbicara atau paling tidak mengirim pesan teks pada Hiruma. Jadi aku mengirim pesan ini untuk Hiruma.

To : Youichi Hiruma

Hei Hiruma, tadi Akaba mengantarkanku pulang ke rumah dengan selamat. Kenapa kau mengancamnya seperti itu?

Satu lagi, aku sudah menyampaikan usulmu pada Akaba saat rapat tadi, dan sepertinya mereka memberikan respon yang baik. Usulmu akan dibahas lagi saat rapat hari Minggu ini ^o^

Pesanku sudah terkirim. Aku kembali sibuk mengeringkan rambutku dengan handuk. Rambutku sudah lumayan kering. Aku memposisikan diriku senyaman mungkin di atas tempat tidur dan menyandarkan kepalaku di atas bantal yang empuk. Hiruma belum juga membalas pesan dariku.

DRRRTTT..

Ponselku bergetar. Aku cepat-cepat membuka pesan baru yang kuterima. Aku berharap ini dari Hiruma.

From : Youichi Hiruma

Kekeke! Kapan aku mengancamnya? Aku hanya menuliskannya.

Bagus! Itu sudah seharusnya manajer sialan.

"Huh! Kenapa cuma ini balasannya! Dasar! Terlalu to the point!" rutukku. Padahal aku ingin lebih lama bisa mengobrol dengan Hiruma. Hari ini, waktuku bersama dengan Hiruma sangat sedikit. Memang sering seperti ini, tapi hanya hari ini aku sedikit yah bisa dibilang aku kangen dengan yang namanya Youichi Hiruma. Aku membalas kembali pesan dari Hiruma.

To : Youichi Hiruma

Jangan panggil aku manajer sialan!

Aku punya nama Mamori Anezaki, Hiruma!

Aku menekan tombol send. Tak berapa lama kemudian, ponselku kembali bergetar. Ada pesan yang masuk. Pasti dari Hiruma! Dan benar saja!

From : Youichi Hiruma

Kau kangen padaku manajer sialan? Kekeke!

JLEEEB. Bola Amefuto berhasil menancap di kepalaku. Kenapa dia bisa tau? Aku harus membalas apa? Aku berpikir sebentar dan mengetik kembali beberapa kata.

To : Youichi Hiruma

Kekeke! Bagaimana kalau aku jawab iya?

Aku tersenyum melihat balasan pesanku untuk Hiruma. Aku tak sabar menunggu pesan darinya lagi. Aku deg-deg-an karena pesan dari Hiruma kembali datang ke ponselku.

From : Youichi Hiruma

Aku bisa membayangkan seorang Komite Disiplin Sekolah tertawa seperti itu! Kekeke!

Jadi kau kangen padaku manajer sialan? Kau sudah berani menunjukkan perasaanmu padaku ya manajer sialan?

Baiklah, aku akan memberitahumu, apa yang sedang aku lakukan sekarang.

Hiruma mengirimkan sebuah foto bersama pesan singkatnya tadi. Foto laptop VIAO kesayangannya bersama satu cangkir kopi hitam yang masih panas dan mengeluarkan asap di atasnya. Aku tersenyum melihat fotonya. Ternyata yang ia kerjakan sama saja seperti di sekolah, mengotak-atik laptopnya dan berkutat dengan Amefuto serta secangkir kopi hitam.

To : Youichi Hiruma

Huh! Kau ini Hiruma selalu aja kayak gitu!

Yang kau lakukan selalu sama setiap saat! Laptop, Amefuto dan kopi hitam.

Aku juga akan mengirimkan foto apa yang sedang aku kerjakan sekarang ^3^

Aku mengirimkan foto pemandangan luar yang ku ambil dari dalam kamarku. Pemandangan bulan purnama yang bulat sempurna menyinari malam hari. DRRRTTT. Pesan singkat dari Hiruma sudah sampai lagi.

From : Youichi Hiruma

Kekeke! Aku kira kau akan mengirimkan fotomu memakai baju tidur yang terbuka.

Aku merengut kesal dan menggembungkan kedua pipiku. Aku kembali membalas pesan dari Hiruma dan segera mengirimnya.

To : Youichi Hiruma

Dasar Hiruma mesum! Aku nggak akan melakukannya! Huh! Aku mau tidur aja! Jaa!

Aku menarik selimutku dan bersiap untuk tidur. Aku memejamkan kedua mataku tetapi aku kembali terjaga karena ponsel bergetar. Ternyata ada pesan baru lagi yang seharusnya dari Hiruma.

From : Youichi Hiruma

Tidur aja sana manajer sialan! Mimpiin sadako! Kekeke!

Tunggu besok pagi manajer sialan.

Aku merinding membaca kata 'sadako', nama hantu Jepang. Saat-saat mau tidur malah ingat sesuatu yang menyeramkan. Hiruma nyebelin! Besok pagi apanya coba? Dia mengirimkanku sebuah foto. Aku ragu untuk membukanya. Jangan-jangan ia mengirimkan foto sadako lagi. 'Kan bahaya kalau benar. Aku akhirnya menetapkan hati untuk membukanya dan ternyata isinya foto sebuah tempat tidur berukuran besar dengan sprei berwarna hitam dan bantal berwarna putih. Aku langsung membalas pesan dari Hiruma.

To : Youichi Hiruma

Apakah itu tempat tidurmu? Wah, itu sesuai dengan karaktermu yang hitam.

Jangan terlalu larut bekerja. Kau juga harus istirahat untuk menjaga kesehatanmu. Jadi, kau harus tidur sekarang. Puppu ^o^

Oyasumi nasai* Hiruma!

Aku mengirimkan pesan terakhirku pada Hiruma untuk malam ini. Beberapa pesan singkat dari Hiruma tadi sudah cukup untukku. Walaupun isinya biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Tapi, kalau Hiruma yang mengirimnya semua jadi tidak biasa. Aku kembali melihat foto tempat tidur yang Hiruma kirimkan. Aku menelitinya lebih dalam.

Tunggu!

Di sudut kanan foto itu ada tulisan, walaupun tidak kentara. Warna tulisannya hampir sama dengan warna seprei tempat tidur Hiruma yang berwarna hitam. Aku mencoba membacanya.

Oyasumi nasai, YH.

Itu tulisan yang tertulis di sana. Kenapa aku baru menyadarinya? Rasanya aku ingin sekali berteriak karena saking senangnya. Bayangkan saja, seorang Hiruma bisa memberikan kata-kata seperti itu! Tapi aku urungkan karena hari ini sudah malam. Teriakanku akan mengganggu orangtuaku yang sedang tidur dan tetangga yang ada di sekitar rumahku.

Aku kembali melihat foto itu untuk kesekian kalinya. Aku memejamkan mataku dan tersenyum di dalam tidurku. Sebuah kata yang sangat tidak biasa dari Hiruma mengantarkanku tidur dengan mimpi yang indah.

"Kira-kira maksud pesan Hiruma yang 'tunggu besok pagi' itu apa ya?" ucapku pelan.


TO BE CONTINUED...


*Oyasumi nasai : selamat tidur

Apa ya yang akan Hiruma lakukan besok pagi?

Apa Hiruma akan melakukan hal yang tidak biasa lagi seperti malam ini?

Bagaimana hasil rapat besar Deimon-Bando hari Minggu ini?

Apa Monta lebih suka susu stroberi daripada susu pisang?

Jawabannya bisa ditemukan di Devil Spiders - chapter 3!^^

Jadi harus review ya! *kedip kedip*

YA-HA!

Alhamdulillah selesai juga fanfic ini hari ini^^

Dari tadi siang, pulang sekolah Saso kerjain sampai jam 9.30 malam 07-10-11 :D

Setelah terbebas dari segala UH dan UTS makanya dipuas-puasin buat fanfic seharian

Semoga nilai UTS Saso dan nilai UTS yang baca fanfic ini bagus semua, Amin.

Hehehe

Review Anda selalu dibutuhkan^^