.
Ujian akhir semester pertama telah berakhir seminggu yang lalu. Saatnya para siswa menikmati surga dunia berupa liburan sebulan penuh. Tapi namanya juga hidup, ada suka dan dukanya.
"Kalau liburan di rumah terus ujung-ujungnya tiduran…" ucap Chanyeol sambil melompat ke ranjang kesayangannya kemudian sibuk bergelung dalam selimut.
Yah, dari zaman purba pun Chanyeol memang tidak pernah suka liburan di musim dingin. Dia tidak bisa main di luar ruangan dengan bebas akibat salju dan udara dingin yang bisa menyerang kapan saja bila syal-nya sedikit longgar. Maka dari itu, Chanyeol memilih untuk tetap di rumah bersama playstation tercinta.
Tapi kedamaian dalam hidupnya harus ia relakan saat ponsel bututnya berbunyi nyaring. Chanyeol yang hampir berlayar ke pulau kapuk dengan kaget menyambar ponselnya—dan hampir saja membuang benda itu ke luar jendela sebelum Chanyeol melihat siapa yang menelpon.
Yang Mulia Byun Baekhyun.
"Kenapa, bocah?"
(("Chanyeol, antar aku."))
Hei, aku bukan petugas delivery— "Kemana?"
(("Sekolah. Aku ada les selama liburan ini."))
Hah? Liburan macam apa itu namanya— "Err… bagaimana, ya…" Chanyeol melirik ranjangnya yang butuh kehangatan. "Sepertinya aku tidak bisa, hehe…"
Hening sejenak. Chanyeol sudah keringat dingin saking khawatirnya Baekhyun marah.
(("Baiklah,")) jawab Baekhyun, membuat Chanyeol menghela napas lega, (("padahal dulu aku senang sekali saat Chanyeol bilang akan menjadi pengawalku. Tapi sepertinya hari ini Chanyeol sedang sibuk—"))
"Aku kesana dalam sepuluh menit! Kalau terlambat, uang Anda kembali!"
Secepat kilat Chanyeol menyambar jaket dan mengambil kunci sepedanya. Pintu kamar tertutup, di luar sana pemiliknya tengah mengebut menerobos salju.
Sekarang Chanyeol benar-benar jadi petugas delivery.
.
Daisuki!
[02. a little rival, a little friend]
.
Baekhyun sudah kelas enam, sudah akan mengikuti ujian akhir untuk bisa melangkah ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Sudah sepantasnya juga sekolah mengadakan les untuk menyiapkan para siswa menghadapi ujian yang akan berlangsung kurang dari enam bulan lagi.
Tapi Chanyeol—yang dulunya sering bolos mengikuti kegiatan macam itu—malah mengeluh sepanjang jalan, mengatakan bahwa liburan itu tujuannya untuk refreshing dan bukannya menambah beban kapasitas otak.
Baekhyun yang lama-lama kesal mendengar omelan Chanyeol pun berucap, "Kalau begitu Chanyeol pulang saja dan kembali tidur."
Chanyeol menoleh secepat cahaya, "Ha? Bagaimana kau tahu kalau aku tidur—eh, m-maksudnya tidak mungkin aku mengingkari janjiku, Baek, ehehehe…"
Baekhyun memutar bola mata. Syal merahnya ia rapatkan, kedua tangan kecilnya yang terbalut sarung tangan ia gosokkan berulang kali. Anak itu memang tidak tahan dingin, lihat saja perlindungan berlapisnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Chanyeol yang melihat adanya kesempatan memodusi sang bocah kemudian lekas menyambar tangan kanan Baekhyun dan menautkannya dengan miliknya. Merasakan kehangatan, Baekhyun makin merapat. Chanyeol nyengir senang, walaupun Baekhyun tak berkata apa-apa. Chanyeol sudah cukup tahu dengan melihat semburat merah mewarnai pipi gembul bocah itu.
Mereka sampai di tujuan tak berapa lama kemudian. Banyak bocah-bocah terlihat berlarian ke gedung sekolah dan hal itu membuat Chanyeol mengernyit; seingatnya siswa kelas enam di sekolah Baekhyun tidak sebanyak ini.
"Kami bekerjasama dengan sekolah tetangga untuk mengadakan les bersama, jadi mereka menggabungkan kami disini. Wajar kalau Chanyeol bingung." Jelas Baekhyun, padahal Chanyeol tidak bertanya. Chanyeol jadi sedikit khawatir dengan kemampuan observasi anak itu yang kelewat batas logika.
"Lalu… aku bagaimana? Jam berapa kau pulang? Akan kujemput."
Baekhyun menggeleng, "Tidak lama, kok, sekitar satu jam. Daripada Chanyeol pergi bolak-balik, menurutku lebih baik Chanyeol main saja di sekitar sini..." Baekhyun menunduk, "… atau Chanyeol menungguku saja…" lanjutnya berbisik, untungnya telinga lebar Chanyeol berfungsi dengan baik.
Maka remaja itu tersenyum lembut, "Aku akan menunggumu, bocah."
Kelas itu dimulai pukul sembilan pagi. Chanyeol mendudukkan dirinya pada bangku di bawah pohon, tepat di samping kelas Baekhyun. Dari situ Chanyeol dapat melihat aktivitas Baekhyun di dalam sana tanpa mengganggu konsentrasinya.
Chanyeol merapakatkan jaket dan syal hijau miliknya, merasakan dingin mulai merambati punggung dan tengkuknya. Salju menumpuk setinggi mata kaki, rasanya Chanyeol ingin kembali ke rumah dan menikmati ranjangnya dengan damai.
Namun niat nistanya itu langsung sirna tatkala manik hitamnya menangkap keberadaan sosok anak laki-laki yang duduk dua bangku di belakang Baekhyun, tengah memandang si bocah stroberi dengan tatapan berkelap-kelip.
Chanyeol iritasi.
Pengawasannya makin serius. Ibu guru tengah menjelaskan di depan kelas dan anak laki-laki itu malah melihat ke arah Baekhyun. Chanyeol mengomel untuk apa anak itu mengikuti kegiatan les kalau tidak untuk belajar. Dia lupa seribu persen kalau dirinya dulu tidak ada bedanya dengan si anak, malah lebih parah.
Ketika Baekhyun maju untuk menjawab soal, si anak justru makin berbinar-binar, membuat perut Chanyeol mendidih, serasa ditantang tawuran. Apalagi ketika jawaban Baekhyun benar semua. Anak itu makin menatap intens dengan mulut sedikit menganga. Chanyeol sampai harus mengingatkan dirinya sendiri kalau dia bisa membuat Baekhyun malu jika dia melempari bocah kurang ajar itu dengan batu.
"Sial, ternyata Baekhyun populer juga."
(Tiang listrik jejadian saja dia taklukkan, apalagi seonggok kapas.)
Mungkin karena Chanyeol terlampau menikmati pekerjaan barunya, ia sampai tidak sadar bahwa satu jam telah berlalu. Para bocah segera membereskan perlengkapan sekolah mereka. Chanyeol melihat Baekhyun yang telah selesai dengan buku-bukunya, tengah menanti semua anak keluar kelas. Mungkin Baekhyun ingin keluar terakhir, pikir Chanyeol. Dia tenang-tenang saja, seandainya si anak laki-laki yang memandang Baekhyun kagum itu tidak berusaha mendekati Baekhyun.
Sekarang Chanyeol bisa melihatnya dengan lebih jelas. Bocah itu lebih tinggi sekitar sepuluh senti dari Baekhyun. Dia punya rambut hitam seperti Chanyeol, namun lebih terang. Matanya cokelat mirip mata Baekhyun, dan sepertinya dia anak yang tidak percaya diri—karena Chanyeol melihat anak itu hampir menyapa Baekhyun, tapi suaranya tidak muncul. Baekhyun yang tidak menyadari kehadiran si anak akhirnya keluar ruangan dengan santai, meninggalkan si bocah lelaki yang seketika beraura suram.
Chanyeol ngakak dalam hati, "Rasakan itu!" batinnya kejam.
Baekhyun yang melihat Chanyeol tersenyum-senyum sendiri saat perjalanan pulang akhirnya gatal bertanya, "Chanyeol kenapa?"
Yang ditanya hanya menggeleng sambil tertawa, lalu mengusak kepala Baekhyun yang tertutup kupluk. "Tidak apa-apa. Aku senang kau berwajah teflon di kelas! Ahahahaha…"
Baekhyun menyesal sudah bertanya.
.
.
.
Tawa Chanyeol tak berlangsung lama. Karena les tersebut berlangsung lima hari berturut-turut dalam seminggu, otomatis Baekhyun dan si bocah kapas (Chanyeol menjulukinya begitu) akan sering bertemu. Chanyeol yang awalnya ogah-ogahan mengantar Baekhyun sekarang jadi bersemangat, bersemangat melihat perjuangan seorang bocah kapas dihancurkan oleh wajah teflon Baekhyun.
Tapi karma masih ada. Tidak ada perjuangan yang berakhir sia-sia. Di hari kedua itu, bocah kapas duduk tepat di belakang Baekhyun. Karena satu tempat duduk hanya untuk satu orang, Chanyeol sempat bersyukur dalam hati. Namun kemudian memaki, masa gurunya sama sama sekali tidak sadar bahwa ada sebiji muridnya yang tidak memerhatikan pelajaran? Padahal si bocah kapas duduk di deretan depan, karena Baekhyun memang duduk di bangku paling depan. Heran. Apa perlu Chanyeol benar-benar harus melemparinya dengan batu?
Tepat ketika bel berbunyi, Chanyeol melesat menuju pintu kelas Baekhyun dan memanggil si bocah stroberi, tidak ingin kecolongan start dari seonggok kapas. Baekhyun mendekat dengan patuh, dan lagi-lagi meninggalkan si bocah kapas dengan aura suram.
.
Hari ketiga, Chanyeol kembali mengawasi dengan lebih serius. Dia bahkan membawa teropong mini untuk melihat dengan jelas setiap inchi pergerakan saingan barunya. Ketika waktu pulang hampir tiba dan Baekhyun mulai merapikan peralatannya, tak sengaja buku-buku Baekhyun terjatuh. Melihat kesempatan, si bocah kapas segera membantu Baekhyun merapikan buku-bukunya.
Adegan yang sangat sinetron sekali sampai-sampai Chanyeol histeris, "Hoi, apa-apaan itu!" perutnya bergejolak saat menangkap semburat merah di pipi sang bocah kapas, tapi kemudian normal kembali akibat ekspresi Baekhyun yang sedatar penggaris. Chanyeol terlampau senang karena Baekhyun masih berada dalam daerah yang aman(?).
Saking senangnya, Chanyeol sampai mengayun-ayunkan gandengan tangannya dengan Baekhyun dalam perjalanan pulang. Baekhyun menatap bingung, menerka-nerka apakah Chanyeol terkena virus langka atau bagaimana.
"Pokoknya aku mendukungmu! Pertahankan wajah datarmu itu, bocah!"
Baekhyun menahan diri untuk tidak melempari Chanyeol dengan buku Fisika.
.
Hari keempat, Chanyeol mulai berasap. Pasalnya, hari itu Ibu guru menyuruh anak-anak mengerjakan soal berkelompok dua orang dan coba tebak, Baekhyun benar-benar sial sekelompok dengan si bocah kapas.
Chanyeol harus rela menahan letup-letup tak menyenangkan di dadanya. Rasanya satu jam itu bahkan lebih lama dari satu abad. Lihat saja bagaimana pintarnya si anak kapas menyita perhatian Baekhyun dengan selalu bertanya padanya, yang juga selalu diladeni Baekhyun walau wajahnya masih sedatar papan triplek.
Pulang dari sana, Chanyeol tak menggandeng tangan Baekhyun seperti biasa. Hal itu sontak membuat rasa penasaran Baekhyun meledak. Sang bocah menarik kencang ujung jaket Chanyeol kemudian bertanya kesal, "Sebenarnya Chanyeol kenapa, sih?!"
Bukannya menjawab, Chanyeol malah memegang kedua bahu Baekhyun dengan erat dan berkata, "Baek, berjanjilah untuk tetap mempertahankan ekspresi papan triplekmu selama les apapun yang terjadi!"
Kali ini Baekhyun benar-benar melempari Chanyeol dengan buku Fisika.
.
Hari kelima, Chanyeol hampir menjatuhkan rahangnya kala melihat si bocah kapas menawarkan cokelat pada Baekhyun saat anak itu baru saja masuk kelas. Dari teropongnya yang hampir ia belah menjadi dua, Chanyeol berusaha membaca gerak bibir dari kedua bocah itu. Kira-kira seperti ini :
"Anu, Baekhyun-sshi… te-terimalah cokelat ini, sebagai tanda terima kasih karena kau mau mengajariku kemarin!"
Bocah kapas menyodorkan sekotak cokelat sambil membungkuk gugup. Baekhyun masih memasang muka tembok. Chanyeol dag-dig-dug, komat-kamit meminta Baekhyun untuk tidak menerimanya.
"Aku tidak suka cokelat." Jawab Baekhyun, membuat Chanyeol menyeringai dari telinga sampai telinga.
Tapi kemudian Baekhyun melanjutkan, "Mungkin kalau kau memberi sesuatu berisi stoberi, aku akan menerimanya." sambil tersenyum tipis. Tipiiiiis sekali sampai membuat Chanyeol mengamuk.
"ASDFGHJKLKFJG AAAARGGH—APA-APAAN ITU?!"
Fix. Detik itu juga Chanyeol menaikkan kasta si bocah kapas dengan mengakuinya sebagai rival.
Pulang sekolah, Chanyeol melingkarkan lengan panjangnya di bahu kecil Baekhyun dan menariknya mendekat. Baekhyun protes tapi Chanyeol mendadak tuli. Semua semata-mata demi membakar api cemburu di dada seorang bocah kapas yang melihat 'kemesraan' mereka dari pintu kelas dengan aura super suram.
"Chanyeol akhir-akhir ini aneh sekali! Bilang padaku ada apa!" seru Baekhyun ketika mereka tiba di rumah anak itu. Mata sipitnya memicing tajam memandang Chanyeol, kedua tangannya bertumpu di pinggang.
Chanyeol gelagapan, tidak mau mengakui kalau dia cemburu pada anak kecil, "Ti-tidak apa-apa, kok! Aku hanya ingin lebih dekat dengan Baekhyun saja, hehe…"
Tapi Baekhyun malah menendang kakinya, "Chanyeol tidak bisa bohong padaku! Cepat bilang."
"Anak yang duduk di belakangmu—ups," ya ampun, Chanyeol keceplosan, "—anu, di-dia temanmu?"
Baekhyun diam dengan bibir mengerucut, kelihatannya berpikir keras apa hubungannya tingkah aneh Chanyeol dengan bocah lelaki yang duduk di belakangnya. Saat sebuah kesimpulan konyol melintas di kepalanya, Baekhyun menunduk dengan semburat di pipi.
"Chanyeol… cemburu."
"Bena—TIDAK, KOK! ENAK SAJA!"
"Kalau Chanyeol menyangkal keras, berarti itu benar."
"PERATURAN DARI MANA ITU."
"Besok hari Sabtu." balas Baekhyun, sama sekali tidak nyambung.
"Nenek-nenek juga tahu besok hari Sabtu—"
"Aku libur." lanjut Baekhyun, menatap Chanyeol dengan ekspresi datar.
Dan entah mengapa hari itu otak Chanyeol yang biasanya korslet mulai bisa berpikir dengan benar, "O-oh, iya. Besok aku akan menjemputmu, Baek. Ayo ke Game Center!" ucapnya ceria sambil mengusak rambut Baekhyun, membuat wajah si bocah berseri-seri.
"Um!"
.
.
.
Sabtu. Libur yang benar-benar libur. Dan walaupun Chanyeol membenci salju, tapi dia lebih menyukai Baekhyun. Maka hari itu dia menyetrika kaosnya, menyemprotkan parfum pada pakaiannya, membersihkan sepatunya dan merapikan rambutnya. Yura sampai terheran-heran, kemudian segera mengecek ramalan cuaca di televisi—siapa tahu ada badai besar atau tornado yang bisa membuat adiknya jadi manusia biasa lagi.
Pukul tiga sore, Chanyeol berjalan santai menuju kediaman Baekhyun sambil sesekali melantunkan sembarang nada dari mulutnya. Tinggal beberapa meter lagi dari tempat tujuan dan mata besarnya menangkap sosok seseorang yang—entah mengapa—terasa familiar. Refleks saja Chanyeol bersembunyi di balik tiang listrik terdekat, berniat menguping.
Orang itu tidak lain tidak bukan adalah si bocah kapas. Heran, sejak kapan dia tahu alamat rumah Baekhyun? Chanyeol tak sempat berpikir karena sosok mungil Baekhyun telah keluar dari rumahnya.
Chanyeol baru sadar kalau si bocah kapas membawa sekotak kue—yang Chanyeol yakin seribu persen adalah strawberry cake—dan memberikannya pada Baekhyun dengan malu-malu.
"Te-terimalah, Baekhyun-sshi."
Baekhyun menjawab, "Astaga, padahal aku cuma bercanda." dengan nada super datar.
"Ti-tidak apa-apa! Kumohon, terimalah!"
Baekhyun menghela napas, dan akhirnya menerima pemberian si bocah, "Terima kasih. Kau tidak perlu melakukan ini lagi."
"Tapi…" sang bocah kapas menunduk, binar matanya meredup. Chanyeol memajukan tubuhnya, menajamkan telinga. "Tapi… aku benar-benar berterima kasih pada Baekhyun-sshi…"
Sang bocah melanjutkan, "Se-selama ini aku menjadi seorang pengecut, dan aku tidak percaya pada diriku sendiri. Tapi saat aku melihat Baekhyun-sshi mengalahkan preman tempo hari hanya dengan ilmu pengetahuan, aku sangat terpesona! A-aku sangat mengagumimu!"
Gawaaat! batin Chanyeol, alarm kebakaran di kepalanya berbunyi nyaring.
"A-aku…" bocah kapas meremas-remas ujung kaosnya. Mata hitamnya bergulir gugup. Menarik napas, anak itu kemudian memandang Baekhyun sungguh-sungguh.
"Baekhyun-sshi, maukah kau—"
"GAAAAH—TUNGGU, TUNGGU! TIDAK BISA BEGITU!"
Chanyeol keluar dari persembunyiannya dan secepat kilat menamengi tubuh mungil Baekhyun dengan tubuhnya sendiri. Alisnya menukik, Chanyeol bertanya galak, "Kau mau apa, bocah?!"
"—Eh?" bocah kapas gelagapan, kaget melihat Baekhyun tiba-tiba berubah jadi raksasa.
"Chanyeol, minggir aku tidak bisa lihat."
"Tidak bisa, Baek. Kau harus tetap disana sampai perang usai."
Baekhyun sweatdrop.
"Anu—itu, kakak siapa?" tanya bocah kapas sembari meremasi syal oranye-nya.
Chanyeol memajukan wajahnya dan mendengus, "Sebelum kau bertanya nama orang, sebutkan namamu dulu, bocah!"
"Na-namaku Han Saewook."
"Hm, aku Chanyeol. Dan apa yang mau kau lakukan pada Baekhyun, huh?! Tunggu, jangan dijawab—aku tahu kau pasti mau meminta Baekhyun jadi pacarmu, kan? Tidak boleh! Dia sudah sold out, tidak bisa ditawar lagi!"
Baekhyun mendorong Chanyeol dengan bringas, "Memangnya aku sepatu! Saewook-ah, jangan pedulikan Chanyeol—"
"Tidak, tidak! Kalau kau mau menyatakan perasaan pada Baekhyun sebaiknya menyerah saja. Baekhyun itu milikku!" Chanyeol merangkul Baekhyun posesif, membuat si bocah kap—Saewook speechless sesaat.
"Loh, memangnya kakak pacarnya Baekhyun?"
Hening.
Baekhyun menatap Chanyeol, wajahnya datar tapi matanya bintang-bintang.
"…"
"…"
"… Tidak, sih."
"…"
"…"
Baekhyun melepaskan diri dari pelukan Chanyeol, kemudian berbalik menuju rumah dengan langkah menghentak-hentak dan gumaman; "Chanyeol bodohbodohbodoh—" berulang kali.
Tinggal lah dua manusia beda usia di sana, sama-sama memandangi Baekhyun yang menghilang dibalik pintu rumah. Setelahnya Chanyeol kembali menghadap Saewook, terbesit rasa tak tega tapi cemburunya tidak bisa diabaikan.
"Baekhyun itu suka padaku," ucap Chanyeol penuh percaya diri, "jadi sebaiknya kau menyerah saja, karena yang akan berada di sisi Baekhyun adalah aku. Hanya aku. Dia tidak butuh orang lain lagi."
Saewook terdiam. Uap panas absen keluar dari hidungnya ketika ia tanpa sadar menahan napas. Dingin yang merambati punggung berpindah tepat ke hatinya. Saewook nampak ingin bicara, namun urung. Sebagai gantinya, bocah itu membungkuk sopan pada Chanyeol kemudian berjalan pergi dan akhirnya menghilang di ujung jalan.
.
.
.
Dua hari kemudian, Baekhyun kembali ke jadwal les satu jam-nya. Chanyeol tetap mengantar bocah itu, namun kali ini minus teropong. Si remaja yakin kalau Saewook tidak akan berani lagi mendekati Baekhyun setelah perkataannya yang cukup kejam itu.
Dan benar saja. Sepanjang pelajaran, Saewook lebih sering melamun dan berusaha untuk tidak mencuri pandang ke arah Baekhyun. Chanyeol tersenyum puas, sampai tidak sadar kalau ponselnya berbunyi sedari tadi.
"Halo?"
Suara Yura menggema di telinganya, (("Yeol, kau nganggur, kan? Cepat bantu aku di toko—ada barang baru yang datang."))
"Err… tapi jangan lama-lama. Satu jam lagi aku ada urusan."
(("Makanya kau cepat kesini!"))
"I-iya!"
Dengan itu Chanyeol berlari tergopoh menembus jalanan bersalju, setelah sebelumnya mengirim pesan singkat untuk Baekhyun.
.
["Baek, aku pulang sebentar. Tidak lama, kok."]
Tapi sampai bel penanda pelajaran berakhir berbunyi pun, Chanyeol belum juga datang.
Baekhyun memutuskan untuk pulang sendiri. Ditulisnya pesan balasan buat Chanyeol, ["Chanyeol tidak perlu jemput. Aku sudah pulang."]
Memasukkan kembali ponselnya di saku celana, Baekhyun melangkah santai dalam balutan sepatu merah. Hari ini Saewook tidak mengganggunya, entah apa yang Chanyeol katakan kemarin. Baekhyun sih, tidak masalah. Namun yang membuatnya kepikiran kemudian, adalah ketika ia menangkap Saewook tengah dihadang seorang anak berbadan besar di gerbang sekolah.
Baekhyun ingat, anak berbadan besar itu berasal dari sekolah tetangga seperti halnya Saewook. Dia seharusnya masuk les seminggu yang lalu, tetapi dia malah membolos. Hari ini si anak besar mengikuti les untuk pertama kalinya.
Lingkungan sekolah sudah sepi. Baekhyun pun memutuskan untuk pergi sebelum ia melihat Saewook dipukuli hingga tersungkur.
"Kau mulai berani padaku, ya!"
Anak berbadan besar itu membentak Saewook dan memasang pose siap memukul lagi bila Saewook melawan. Baekhyun jelas tahu apa yang terjadi karena dia pernah mengalaminya. Bedanya, Baekhyun mengalaminya secara mental, sementara Saewook secara fisik.
Saewook mencoba untuk berdiri, namun ia masih menunduk. Kentara sekali bahwa ia takut pada si anak yang lebih besar. Namun Saewook tidak menyerah. Ia berusaha membalas dengan suara kecilnya. "Bu-bukan begitu, Minhyun-ah… hanya saja tidak baik kalau kau terus memintaku mengerjakan PR-mu. Di ujian nanti, aku tidak bisa membantumu lagi. Kau harus berusaha sendiri, Minhyun-ah."
"Sialan kau!" anak besar bernama Minhyun itu kembali mendorong Saewook, tak membiarkan anak bersurai hitam itu sekedar untuk berdiri. "Sombong sekali! Ingatlah kalau kau hanya anak miskin yang bisa sekolah di tempat kami karena belas kasihan Ketua Dewan!"
Pandangan Saewook berubah nanar. Ia membuang muka dan saat itulah ia melihat Baekhyun, berdiri diam menonton apa yang Minhyun perbuat padanya.
"Baekhyun-sshi…"
Minhyun ikut-ikutan menoleh. Kenyataan kalau Baekhyun hanya melihat tanpa berbuat apa-apa membuat Minhyun terbahak keras. "Lihatlah! Tidak ada seorang pun yang mau membantumu di sekolah maupun di tempat ini! Sungguh menyedihkan! Anak yang Ibunya gila sepertimu memang menyedihkan!"
Saewook tersentak. Pelan-pelan kemarahan mulai menguasai dirinya. Saewook berdiri, dengan cepat ia menarik kerah seragam Minhyun kemudian balas mendorong anak itu hingga terjatuh.
"Ibuku tidak seperti itu! Tarik kembali kata-katamu!"
"Kau—beraninya kau!"
Saewook tahu dirinya baru saja melakukan kesalahan besar. Dia sadar mungkin ekspresinya kini tidak enak untuk dilihat orang lain.
Ketika Saewook menoleh, Baekhyun telah menghilang.
.
.
.
Malam harinya, pintu rumah Chanyeol diketuk sopan. Chanyeol dan Yura yang tengan menonton televisi saling memandang, bertanya-tanya siapa yang datang malam-malam begini di musim dingin.
"Sebentar."
Akhirnya Chanyeol beranjak, membuka pintunya perlahan. Hal pertama yang dilihatnya adalah topi kupluk biru favorit Baekhyun, kemudian rasa hangat di perutnya karena Baekhyun menubruk Chanyeol, memeluk erat pemuda tinggi itu sambil bergumam, "Chanyeool…"
Chanyeol melirik kepala pelayan yang menunggu di mobil, yang juga melirik Chanyeol tajam, seakan-akan sedang berkata; kalau kau menyakiti Tuan Muda, kau akan berakhir di selokan.
Chanyeol merinding tanpa sebab.
"Se-sebaiknya kita masuk dulu, di sini dingin."
Chanyeol membawa Baekhyun ke kamarnya, dengan alasan bahwa Yura punya penyakit bernama 'ingin tahu berlebihan' dan dia tidak mau pembicaraannya dengan Baekhyun dijadikan bahan lelucon. Di ruangan yang tidak terlalu besar itu, Baekhyun memeluknya terus-terusan seperti bayi koala. Chanyeol sampai harus mengancam kalau dia tidak akan menjemput Baekhyun lagi bila sang bocah tidak mau lepas. (Dan tentu saja dia hanya bercanda.)
"Jadi katakan apa yang membuatmu datang malam-malam ke rumahku, bocah."
Baekhyun terlihat murung, Chanyeol yakin masalahnya pasti serius. Ia mengelus lembut surai Baekhyun, memberinya senyum tulus dan menariknya mendekat, mendudukkan anak itu di pangkuannya.
"Katakan saja, siapa tahu aku bisa membantu."
"Chanyeol… aku tidak bisa berhenti memikirkannya."
"Memikirkan apa? Memikirkanku, ya?"
Baekhyun facepalm. Rambutnya bergoyang ketika ia menggeleng tegas.
"Tadi aku melihat Saewook di-bully." cicitnya.
Chanyeol melebarkan mata terkejut, "Yang benar? Lalu kenapa kalau dia di-bully?"
"Aku ada disana… tapi tak melakukan apa-apa." Baekhyun menatap Chanyeol bersalah, seperti awan mendung dan Chanyeol tidak suka melihatnya.
Anak itu menunduk dalam, "Aku… tidak pintar mencari teman, soalnya aku selalu bisa menangani masalahku sendirian. Kupikir kalau aku punya teman, aku akan terikat dengannya. Setiap langkah yang kubuat nanti akan dipengaruhi temanku. Makanya…"
Chanyeol tahu. Dulu dia pernah bertanya juga pada guru Baekhyun dan katanya anak itu memang sedikit susah bersosialisasi. Mungkin saja sepanjang usianya kini, Baekhyun tidak pernah punya teman… memikirkannya saja membuat Chanyeol sedih. Rasanya pasti sangat kesepian.
"Aku dulu juga pernah di-bully—"
"HAH?! Katakan padaku siapa yang melakukannya!"
"—tidak secara fisik, kok. Chanyeol berlebihan. Aku cuma dikucilkan, dan dianggap seolah-olah tidak ada. Saat melihat Saewook tadi, aku seperti melihat diriku sendiri. Apalagi kudengar dia tidak punya teman di sekolahnya…"
Sesuatu seolah menghantam Chanyeol, seperti baru saja disadarkan. Segera saja rasa bersalah langsung hinggap di dadanya tatkala mengingat apa yang sudah dia katakan pada Saewook tempo hari. Sial, ternyata dia memang jahat.
"Lalu apa yang membuatmu murung begini, Baek?"
Baekhyun terpaku, lama, seakan-akan ragu mengatakannya. Namun akhirnya anak itu kembali menubruk Chanyeol, melingkarkan lengan-lengan pendeknya di leher Chanyeol, menyembunyikan emosinya di bahu bidang Chanyeol.
"Chanyeol… a-aku ingin menolongnya, aku ingin membantu Saewook… tapi kalau kulakukan, na-nanti kami bisa berteman…"
Chanyeol menyembunyikan tawa di balik suara rendahnya. "Kau phobia berteman, ya? Dasar, tidak ada yang namanya begitu!"
"Aku tidak phobia," sangkal Baekhyun, suaranya teredam kaos Chanyeol. "Hanya… tidak biasa saja. Soalnya aku tidak pernah punya teman… jadi aku tidak tahu harus bersikap bagaimana."
Baekhyun meremas bagian kaos yang membalut punggung Chanyeol, "Bagaimana ini, Chanyeol? Aku ingin membantu, tapi…"
Chanyeol mengerti. Baekhyun juga butuh orang yang seusia dengannya, untuk mengubah pola pikir anak itu yang terlampau dewasa. Tidak mungkin Baekhyun terus sendirian sampai besar nanti. Sudah saatnya… Baekhyun keluar dari zona nyamannya.
"Hei, bocah. Kalau kau takut berhubungan dengan orang lain, lalu kenapa kau berani menyatakan perasaanmu padaku dulu?"
Walau ia tak melihatnya, Chanyeol bisa merasakan kalau wajah Baekhyun tengah memerah. "I-itu beda! Itu karena aku suka Chanyeol!"
Chanyeol nyengir, "Bagiku tidak ada bedanya."
Si tujuhbelas sedikit mendorong bahu Baekhyun, membuat keduanya berhadapan, "Saewook itu mirip denganmu, bocah. Kalian sama-sama menunggu. Ingat saat kau menungguku tanpa lelah di ayunan? Bila sore itu aku tidak datang, bagaimana perasaanmu?"
Baekhyun diam. Ekspresinya berkata seakan ia telah dihantam telak oleh benda kasat mata. Pertahanannya luruh, hatinya tersadar ketika Chanyeol berkata lembut,
"Bila sekarang kau tidak datang, bagaimana perasaannya?"
.
.
.
Jika di hari-hari sebelumnya Chanyeol datang dengan rasa kesal, hari ini sepertinya dia lebih jinak. Teropongnya sekarang tidak berguna, ia tinggalkan di meja kamar. Chanyeol tetap mengawasi di tempat biasa, namun kali dengan perasaan luar biasa lapang.
Baekhyun memasuki kelas, melihat Saewook datang lebih awal darinya. Ada beberapa plaster di kening dan pipi Saewook, dan Baekhyun tahu pasti siapa yang membuat plaster-plaster itu bisa menempel di sana.
"Kalian berkelahi?"
Saewook terperanjat, untuk pertama kalinya Baekhyun yang memulai percakapan.
"Uh… iya."
Baekhyun membuka mulut, namun suaranya tertahan di ujung lidah. Ia berusaha mengumpulkan keberanian, mengingat-ingat lagi apa yang Chanyeol katakan padanya kemarin malam. Dengan satu tarikan napas, akhirnya Baekhyun mengatakannya secara jelas.
"Yang kemarin… aku minta maaf, Saewook-ah. Aku pergi begitu saja…"
Saewook terkesiap dan sontak menggeleng-geleng, "Tidak! Ini bukan salah Baekhyun-sshi. Lagipula ini urusanku dengan Minhyun, tidak ada hubungannya dengan Baekhyun-sshi." ia tersenyum, membuat Baekhyun semakin merasa bersalah.
"Um… Baekhyun-sshi," Saewook memandangnya penuh harap. Di luar sana Chanyeol juga melakukan hal yang sama. "Bolehkah… aku menjadi temanmu?"
Baekhyun tercekat. Lidahnya macet. Hatinya terenyuh begitu tahu Saewook malah ingin jadi temannya setelah Baekhyun mencampakannya. Kenapa? Baekhyun tak pernah mengerti bagaimana rasanya mempunyai seorang teman yang memikirkan dirimu seperti dia memikirkan dirinya sendiri. Baekhyun tak pernah tahu, karena dia memang tak pernah memilikinya.
Baekhyun tak pernah menyangka rasanya akan sehangat ini.
"A-aku—"
Bel tanda pelajaran dimulai berdering, memutus jawaban yang sulit Baekhyun ungkapkan.
.
Baekhyun gugup. Ini pertama kalinya bagi anak itu untuk memutuskan mempercayai seorang lagi sebagaimana ia mempercayai Chanyeol, walau dalam konteks yang berbeda. Tapi janji adalah janji. Baekhyun sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjawab Saewook dan ia akan menepatinya.
"Hei, Saewook!"
Tapi kedatangan Minhyun tak ada dalam rencananya.
"Jangan harap kau bisa lolos setelah berani memukulku, ya!"
Baekhyun terheran-heran. Satu jam yang lalu Minhyun membolos, dan sekarang setelah semua orang pergi dia baru datang. Ada juga bocah seperti ini.
"Minhyun-ah," berbeda dengan kemarin, kali ini nada suara Saewook terdengar lebih berani. "Daripada kita melakukan hal yang tidak perlu dan merugikan diri sendiri, bukankah sebaiknya kita berdamai saja?"
Minhyun yang juga ditutupi plaster di bagian dahi—tak sebanyak Saewook—mendengus geli, "Berdamai, katamu? Kalau aku melakukan itu artinya aku sejajar denganmu. Orang kelas atas sepertiku tidak akan pernah sejajar denganmu!"
Kepalan tangan Minhyun melayang menuju Saewook yang justru diam sambil memejamkan mata, namun—
"Berhenti!"
Teriakan cempreng Baekhyun mengudara, menghentikan pukulan Minhyun yang hanya berjarak sejengkal saja dari hidung Saewook. Baekhyun kesal, daritadi dia berdiri di depan Saewook tapi sama sekali tidak dilirik oleh Minhyun. Padahal kehadirannya begitu jelas tapi Minhyun seakan-akan tidak melihat sosok Baekhyun. Dasar, memangnya dia butiran debu?
"Kau yang kemarin, kan?" Minhyun tersenyum sinis, "jadi kau juga mau berakhir seperti Saewook?"
"Dasar lemah," balas Baekhyun. Minhyun sampai menggosok telinganya saking tidak percaya dengan apa yang Baekhyun ucapkan.
"Lemah, katamu? Lihat dulu dirimu sendiri, bodoh!"
Minhyun menertawainya sampai puas, tapi Baekhyun tidak peduli. Dengan penuh percaya diri dia menaikkan dagunya.
"Saewook memang miskin, tapi dia punya tata krama. Sementara kau cuma bisa menutupi kelemahanmu dengan menyakiti orang lain. Kasihan sekali, bahkan disebut kelas atas pun kau tak pantas, Min-hyun-ah."
Tawa Minhyun berhenti, berganti dengan geraman marah, "Apa kau bilang? Kalau mau dipukul akan kukabulkan!"
Belum sempat Minhyun melancarkan aksinya, Baekhyun kembali memotong, "Kau memukulku karena kau tahu aku benar, dan kau tidak bisa membuktikan kalau aku salah. Iya, kan?" katanya, meniru tokoh anime yang sering ia tonton.
Minhyun semakin geram. Ingin memukul, tapi harga dirinya setelah dikatai Baekhyun masih ada. Kalau saja hanya ada ia dan Baekhyun disini, Minhyun pasti sudah menonjok anak itu. Tapi masih ada Saewook, yang bisa menjadi saksi akan keruntuhan harga dirinya.
"Awas kau!" Minhyun memutuskan untuk pergi dari sana dengan kepalan tangan erat dan emosi yang membuncah.
Saewook yang sedari tadi melihat dengan mulut menganga langsung bertepuk tangan kagum, "Kau hebat sekali, Baekhyun-sshi! Terima ka—"
"Mulai sekarang, panggil Baekhyun saja." Baekhyun tersenyum setipis tisu, teduh sekali hingga membuat mata Saewook berkaca-kaca. "Dan sebagai ucapan terima kasih, kau harus jadi temanku, Saewook-ah."
Saewook terseyum, menghapus lelehan air di sudut matanya kemudian mengangguk semangat, "Siap!"
Baekhyun tersenyum sekali lagi, dadanya terasa begitu hangat. Ditariknya tangan teman pertamanya keluar kelas, dimana Chanyeol telah menunggu dengan cengiran di wajah.
.
.
"Baekhyun-ie, jangan sedih. Kami akan kembali secepatnya. Sebelum itu, carilah teman yang benar-benar peduli padamu. Tidak perlu banyak-banyak, cukup sedikit saja tapi yang benar-benar bisa kau percaya."
Ibu, Ayah… sekarang aku sudah punya teman.
.
.
Friendship is the hardest thing in the world to explain. It's not something you learn in school. But if you haven't learned the meaning of friendship, you really haven't learned anything.
– Muhammad Ali
.
.
end
—masih dilanjut, kok XD
.
.
Kim's note.
Alurnya kecepetan, kan? hshshshs /kamu mah suka gitu
Dan apapula itu bahasanya udah kek anak SMA aja padahal masih SD yaampun -_- nista banget sih saya /buang diri sendiri/
Mungkin ada yg sadar soal umur Baekhyun yg sepuluh tapi udah kelas enam. Jadi sebenarnya dia masuk SD langsung loncat kelas tiga. Tapi karena banyak temen-temennya nggak suka dia setara dengan mereka (padahal harusnya jadi hoobae kan) bikin Baekhyun gamau lagi ikut percepatan, walau sebenarnya dia mampu XD makanya dia kayak dikucilkan gitu, dan jadinya kebentuk pribadi yg seperti itu.
setelah membaca ulang Suki da, saya baru sadar kalau saya jahat amat bikin Baekhyun ga punya temen T.T padahal kan kehadiran sosok teman dalam hidup itu penting banget. Makanya saya mikir, kesian kalo Baekhyun yg nggak pinter bergaul ini nanti cuma punya Chanyeol doang sampe dia besar. Jadi saya putuskan untuk membuat karakter Han Saewook, semoga cocok dengan Baekhyun yang kecepetan dewasa :D
Dan sedikit klarifikasi(?), pas Saewook ke rumahnya Baekhyun itu tujuannya bukan nembak, dia murni cuma pengen temenan aja sama Baekhyun, Chanyeol-nya aja yang suka salah paham XD dan Ibu Saewook emang pernah masuk RSJ karena sebab yang tidak ingin disebutkan /ciah/ tapi sekarang udah sembuh kok.
Saya mencoba bikin kehadiran Saewook ada hubungannya sama hubungan (ga jelas) ChanBaek, tapi sepertinya gagal orz maafkan saya T_T
Terima kasih yang udah mau review chap sebelumnya :
chika love baby baekhyun , syahidaayu10 , indrisaputri , GitaPark , hikari . chania , 48BemyLight , DvaElf1 , 7D , chepta chaeozil , hunniehan , suhoelfirda , Nevinna LEa , anaknya cabe , baguettes , rabielaaa , Krasivyybaek , BLUEFIRE0805 , neli amelia , Raensung jones , secret , BByunBaek , nikesulliha , dolenny1328 , CussonsBaekby , noonatokki , exaxoxo , Hyunsaa , Guest , V3 , nur991fah , svn , MeyCBhs , Re . Tao , yeolinbaek
Maaf banget saya nggak bisa bales satu-satu karena sinyal ngajak berantem orz
.
.
OMAKE
"Tunggu. Kalau Baekhyun bukan pacar kak Chanyeol… berarti aku masih punya kesempatan?"
"HAH?! APA MAKSUDNYA ITU?! KUBILANG BAEKHYUN SUDAH SOLD OUT! SOLD OUT!"
Baekhyun yang kesal membalas ketus, "Bisa saja, Saewook-ah, asal kau berusaha."
"A-APA?! BAEK, KAU TIDAK SERIUS, KAN?!"
"Dua rius."
"TIDAAAAAAKK!"
.
.
(Saewook-nya becanda kok, wkwkwk)
Dan—Happy (belated) Birthday, Byun Baekhyun~ /tebar confetti/ semoga selalu sehat dan bahagia, dan makin lengket sama Chanyeol wkwkwk /plak/
Terima kasih sudah membaca! :D
