THREAD OF DESTINY

.

.

BY: CNARA-CHAN NAMIUZUKAGE

DISCLAIMER: MASASHI KISHIMOTO

RATING: T

WARNING: YAOI, OOC, DLL

Sebelumnya C would like to thank you for your reviews..

thank you very much for cnaru-chan namiuzukage, cmina-chan namiuzukage, minae cute, shika kukouki 777, Lnarusasu, hikari no onihime,

happy reading minna~ ;)

—Cnara-chan Namiuzukage—

CHAPTER 2 : I'M NOT A GIRL!

.

.

.

.

"Hei Otoutou! Bangunlah!" Sasuke berguling dikasurnya, tepatnya dikasur pinjamannya dari Itachi. Malam itu Sasuke menginap dirumah Itachi. Itachi hanya bisa menduga-duga kalau Otoutou nya itu bertengkar lagi dengan sang ayah.

Hubungan kedua bersaudara itu memang tidak bisa dibilang bagus dengan ayah mereka, Fugaku Uchiha. Hal ini disebabkan wataknya yang keras.

Mungkin tidak akan seperti ini jika Kaasan masih hidup... pikir Itachi.

"Kau bilang malam ini akan ada festival?" tanyanya lagi. Dengan keras pria berambut hitam panjang itu menarik selimut sang adik.

Sasuke langsung terlonjak dari kasurnya seperti per.

"Kenapa kau baru membangunkan ku sekarang!?" ujarnya, yang menurut Itachi bisa dikategorikan kedalam histeris versi Sasuke Uchiha. Sasuke langsung melompat dari kasur dan berlari kekamar mandi.

Itachi hanya mengangkat bahunya, "Aku sudah membangunkanmu dari tadi," jawabnya santai. Terdengar teriakan kesal dari kamar mandi. Terdengar kata-kata tidak jelas seperti 'membangunkan' dan 'berusaha' dan mungkin 'lebih pagi'.

"Turunlah untuk makan malam dulu nanti," jawabnya dengan teriakan juga, dan dengan sigap langung pergi untuk menghindari gerutuan lebih lanjut dari sang ketua panitia acara festival desa mereka.

.

.

Itachi sedang memotong-motong sayur untuk makan malam. Tapi benar-benar kesal karena tidak bisa berhenti memikirkan si 'gadis'. Kemanapun matanya memandang, selalu bisa dihubungkan otaknya yang jenius dengan sosok penyelamat hidupnya.

Matanya melirik ke tomat. Makanan kesukaan si bungsu.

Mengingatkannya pada betapa merah rambut gadis itu.

Ia mengalihkan matanya kearah lain. Matanya dengan segera menangkap sekeranjang apel dimeja makan, mengingatkannya akan rasa kecupan si gadis. Tanpa sadar Itachi menyentuh bibirnya lembut.

Itachi tersentak, 'apa yang sedang kulakukan?' pikirnya histeris.

'aku tidak boleh seperti ini'.

Matanya kini melirik kearah mangkuk nasi yang berwarna putih dan lagi-lagi membuatnya teringat akan kulit putih si 'gadis'.

"HWAAA!" teriaknya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

.

.

—Cnara-chan Namiuzukage—

.

.

Sasuke memakan makanannya dengan kecepatan kilat, tapi begitu melihat kakaknya terlihat seperti berniat untuk mencuci piring, ia langsung berseru.

"Mau apa kau?" tanyanya.

Itachi mengernyitkan alisnya dalam,

"Cuci piring?" jawabnya bingung.

"Kau... Memangnya kau tidak mau ke festival?" tanya Sasuke lagi.

Itachi mengerti maksud adiknya ini. Festival ini adalah acara yang sudah dikerjakan sang adik selama sebulan terakhir.

Itachi menyeringai diam-diam,

"Memang kenapa Otoutou?" ucapnya innocent, dengan kepala yang dimiringkan sedemikian rupa.

Sasuke hanya menatapnya—setengahnya jijik melihat sikapnya yang sok imut—tajam.

"Kau harus membantuku mengangkut benda-benda festival yang ada dikamarku," ucapnya datar.

Itachi terdiam. Tenyata dugaannya salah.

Ia...

Seorang Itachi Uchiha berniat dijadikan...

..babu?

"Ck, baiklah," ucapnya getir.

Sasuke hanya tersenyum puas, diluar penglihatan Uchiha sulung tentunya. Sejujurnya mana rela ia membiarkan kakaknya sendirian dirumahnya yang suram ini sedang dirinya melihat festival, yang dirancangnya sendiri lagi. Hanya saja harga dirinya sebagai Uchiha yang terlampau tinggi tidak akan membiarkannya mengatakan hal-hal yang kiranya berada diluar nalar sibungsu.

.

.

—Cnara-chan Namiuzukage—

.

.

"Grrr... makhluk itu," terdengar bunyi geraman, "berani-beraninya dia keluar sembarangan," Kyuubi terus menggerutu selama perjalanannya ditengah kerumunan orang-orang yang berlalu lalang. Pemuda siluman itu sempat terkejut begitu mengetahui adiknya, Naruto pergi ketengah-tengah desa, sendirian lagi, yah si anjing itu tak perlu dihitung baginya.

"Apa sich yang ada diotaknya itu?" gerutunya lagi. Ia tidak peduli walau dirinya menjadi pusat perhatian, sampai tiba-tiba seorang pemuda tinggi besar yang jelek—bagi Kyuubi—menyapanya.

"Hai, kau cantik sekali. Aku yakin kau bukan penduduk disini karena jika begitu, aku pasti tidak akan mungkin melupakan gadis semenawan dirimu," pemuda itu mecolek dagu Kyuubi sambil menyeringai.

Kyuubi benar-benar emosi kali ini. Pertama, ia harus berlari kedesa dari tempatnya bernaung, yang notabene jauh banget. Kedua, ia masih harus berdesak-desakkan dengan makhluk-makhluk kotor disekitarnya. Perlu dicamkan disini kalau Kyuubi paling tidak suka dirinya tersentuh kecuali dengan adiknya yang sekarang berada entah dimana. Dan sekarang ada pemuda yang bentuknya gak jelas berani menyapanya dan menyebutnya..

Cantik?

Seorang gadis, begitu katanya?

Berani-beraninya dia menyentuhku?!

Kyuubi membalikkan tubuhnya perlahan menatap si pemuda asing dihadapannya.

Ia tersenyum manis, "Permisi? Tadi kau memanggilku apa?" tanyanya lembut.

Pemuda itu tersenyum lagi, sepertinya berpikir yang 'iya-iya' dengan dirinya.

"Gadis cantik," ujarnya lagi.

Kyuubi hanya diam, ia mendekatkan dirinya ketelinga si pemuda.

"Kubunuh kau.." bisiknya pelan. Membuat bulu kuduk pemuda itu berdiri seketika, seluruh tubuhnya menjadi dingin.

"Menjauhlah dariku sekarang juga atau kau akan berakhir mengenaskan dengan tubuh yang berceceran, kau sampah kotor tidak tahu malu..."

Kyuubi menjauh lagi, dan tersenyum manis seolah hanya membisikkan sesuatu seperti rayuan. Sedangkan pemuda asing itu menatapnya horor dengan wajah pucat pasi.

Ekspresi Kyuubi berubah datar seketika dan pergi melanjutkan perjalanannya mencari si adik.

.

—Cnara-chan Namiuzukage—

.

Dilain tempat..

"Hahaha," Naruto tertawa heboh melihat Kiba yang terlihat seperti orang bodoh ketika melihat sesuatu yang berbentuk seperti adiknya, Akamaru, sayangnya adik dari pemuda bertato segitiga terbalik itu tidak bisa ikut karena bentuknya yang melebihi kapasitas pada umumnya.

Kiba menatap pemuda pirang itu dengan sengit yang jelas kentara, "Bukan salahku kalau aku tidak tahu!" ucapnya dengan semburat merah dipipinya. Tanpa sadar membuat para pria yang berpotensi memiliki orientasi yang menyimpang bersemu merah.

Naruto kehabisan napasnya, "Kurasa yang seperti ini namanya.."

DZING! CTAR!

Ucapan Naruto langsung terputus mendengar sebuah suara asing yang tertangkap telinganya. Ia panik sekaligus terpesona memandang cahaya merah yang meledak diangkasa. Kontras dengan gelapnya malam sebagai latarnya.

Kedua pemuda siluman itu langsung panik dan menoleh kesana kemari. Tapi melihat para pengunjung yang malah terlihat santai menikmati 'benda aneh' yang meledak dilangit itu membuat mereka sedikit merasa lebih tenang. Setidaknya hal itu bukan hal yang berhubungan dengan hal-hal mistis seperti mereka.

"Jangan katakan padaku kalau kau tidak tahu apa itu kembang api," sebuah suara bariton mengagetkan Naruto yang masih memandang kembang api dihadapannya dengan tatapan kagum seorang anak berusia 5 tahun. Naruto menolehkan wajahnya cepat, dilihatnya seorang pemuda berambut emo yang berdiri tepat disisinya.

Pemuda yang sedang menatap cahaya yang terus meledak diangkasa itu mengalihkan pandangannya pada pemuda orange. Mata onyxnya menatap tajam.

"Siapa kau?"

.

.

—Cnara-chan Namiuzukage—

.

.

Itachi sekarang berjalan seorang diri diantara stand-stand makanan tradisional didesanya. Matanya menangkap sesosok bayangan yang menyelinap diantara kerumunan penduduk yang tengah menikmati kembang api. Tampaknya orang itu sama sekali tidak peduli dengan benda warna-warni yang meledak diudara. Matanya menangkap sesuatu yang janggal.

'apa yang salah ya?' innernya blo'on.

Postur tubuh itu.. sepertinya nampak tak asing.

Kulitnya putih, rambutnya merah, dan matanya..

Ah! Itachi tersentak, bagaimana mungkin dia bisa melupakannya tadi?

Gadis itu. Itachi langsung berlari menembus kerumunan dihadapannya. Mengejar sosok penolong yang ditemuinya beberapa hari yang lalu. Ia merutuki otaknya yang begitu lamban memproses kejadian penting ini.

Napasnya tersengal-sengal. Gadis itu sudah hilang dari hadapannya. Lagi.

Itachi merutuki segalanya. Otaknya yang lamban. Banyaknya keumunan yang menghalanginya bertemu dengan gadis yang sudah mencuri hatinya itu. Bahkan merutuki kecepatan lari si gadis yang baginya terlampau cepat untuk seorang gadis dengan kimononya yang panjang.

"Hahhh.." Itachi menghela napasnya.

Apa mungkin aku hanya berkhayal?

.

.

—Cnara-chan Namiuzukage—

.

Kiba melongo memandangi wajah-wajah asing dihadapannya. Ya Tuhan, kenapa ia begitu bodohnya hingga meninggalkan Naru seorang diri? Naruto pasti tersesat dengan tidak elitnya, pikir Kiba. Tidak sadar diri kalau dirinyalah yang sedang tersesat. Tadi ia hanya mampir sebentar ke sebuah stand yang menarik perhatiannya. Ada banyak ikan-ikan kecil yang berenang kesana-kemari seperti memintanya untuk menelan mereka sekaligus. Pemuda bertaring itu terkejut ketika melihat seorang anak bisa dengan mudahnya membawa pergi sekantung plastik berisi makanannya sehari-hari itu.

Tentu saja hal pertama yang dilakukannya adalah langsung beranjak meninggalkan Naruto yang masih melongo dan menghampiri sang ikan yang memanggil-manggil dirinya. Ia hanya jongkok memandangi ikan-ikan gemuk dihadapannya. Matanya terus mengekor pergerakkan makhluk bersisik itu. Membuat si pemilik stand terkikik geli melihatnya.

Kiba menengadahkan wajahnya, "Bibi, boleh aku memintanya?" tanya Kiba dengan matanya yang polos.

"Apa kau punya uang?" tanya sipemilik stand lembut kepadanya. Pemuda dihadapannya terlihat seperti orang yang tersesat dan tidak mengerti apa-apa.

Kiba mengerutkan keningnya, secara tidak sadar memiringkan wajahnya seperti seekor anjing, "Uang iu apa, bi?" tanyanya lagi.

Walau bingug, wanita tua dihadapan Kiba hanya memandangnya lembut. Ia yakin pemuda itu tidak sedang membodohinya. Tidak ada yang pernah bisa membodohinya.

Waita itu ikut berjongkok dihadapan Kiba, mensejajarkan tinggi mereka.

"Baiklah, kau bolh bermain secara gratis, tidak apa," ucapnya lagi sambil tersenyum. Ia mengelus kepala Kiba pelan.

Mata Kiba langsung berbinar senang, "Benarkah?"

Wanita tua itu hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Itu tidak perlu Chiyo baasan," sebuah suara yang merenggut kesenangan Kiba membuatnya menoleh pada esosok pemuda berambut nanas dibelakangnya. Ia memandang pemuda yang sedang mengup itu dengan sengit.

Shikamaru berjalan kesamping orang asing yang sedang menatapnya kesal. Shikamaru menatapnya dengan tatapan menyelidik. Membuat orang itu terlihat sedikit tidak nyaman.

'Ck, sepetinya dia jujur,' inner Shikamaru.

"Aku saja yang akan membayarnya," ujar Shikamaru.

Dan sekarang disinilah dia, memegang sebungkus plastik berisi ikan ditemani seorang pemuda yang diperintahkan oleh sang nenek penjaga stand untuk menjaganya. Ck, dia kan bukan anak kecil yang harus dijaga dan diantar kemana-mana. Ia hanya tidak mengerti ada topeng yang berbentuk seperti anjing yang mirip sekali dengan Akamaru, atau benda yang bisa membuatnya mendapatkan ikan berbentuk bulat yang dinamakan uang. Ia kan hanya tidak mengerti itu, hal itu tidak membuatnya harus dikhawatirkan bukan?

"Ck, kau tidak perlu repot-repot menemaniku kok," gumam Kiba meggerutu.

Shikamaru hanya memandangi pemuda disebelahnya, sebenarnya ia sudah penasaran dari tadi. Bagaimana bisa ada orang yang tidak mengerti tentang uang? Apa orang ini amnesia? Tapi hanya ada satu hal yang jelas, ia jelas setuju dengan keputusan nenek Chiyo. Tentu saja sebagai seorang kepala polisi daerah ini, ia tidak bisa membiarkan seseorang dalam kondisi sepertinya berkeliaran seorang diri.

"Kau memang mengkhawatirkan," jelas Shikamaru pendek, "karena itu Chiyo-baasan memintaku menemanimu," lanjutnya singkat.

Tapi nampaknya pemuda dihadapannya ini sama sekali tidak setuju. Malah sepertinya terlihat tersinggung.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dariku. Aku sepenuhya dalam kondisi yang baik-baik saja," jawab Kiba dengan angkuhnya.

Secara tiba-tiba Shikamaru menariknya dan memerangkap dirinya disebuah pohon. Kiba terkejut, tapi sebelum ia bisa mengungkapkan protesnya, Shikamaru sudah lebih dulu memotong perkataannya.

"Kalau begitu, apa kau seorang penipu?" tanyanya tajam. Ia benar-benar dibuat penasaran oleh 'gadis' didepannya ini.

Butuh beberapa saat bagi Kiba utuk memproses apa yang sudah diucapkan pria yang diketahuinya bernama Shikamaru Nara itu.

Pencuri..? Dirinya..?

Kiba menatap mata kuaci itu dengan sengit, "Siapa kau berani mengataiku penipu?"

"Lalu apa yang dilakukan seorang gadis sepertimu dimalam hari dan didaerah yang asing, seorang diri lagi?" ucapnya menatap Kiba dihadapannya.

"Apa?" tanya Kiba sedikit tersingung.

"Bahkan kau mengaku tidak mengerti apa itu uang?" Shikamaru masih melanjutkan kata-katanya yang tajam, setajam silet.

Kiba menggelengkan kepalanya keras, "Woo.. Woo.. Aku tidak baru saja mendengar kau menyebutku gadis'kan?" katanya dengan tatapan tidak percaya, kurang macho apa dirinya, coba?

Shikamaru mengernyit bingng.

Kiba mengerti sekarang, sepertinya pemuda ini salah mengenai sesuatu.

"Biar kuperjelas," terang Kiba yang melihat wajah bingung si kepala polisi, "kuberitahu kau sesuatu. Aku adalah seorang lelaki, lelaki tulen!" tegasnya. Sebenarnya ia tersinggung juga dikira seorang perempuan, gadis lagi! Tapi ya sudahlah... Ia memang terlalu manis untuk jadi nyata, innernya pede.

"Hahahaha," Shikamaru tertawa dengan keras, "Kau? Lelaki?" Ia tertawa lagi, kali ini lebih keras.

"Tidak mungkin!" katanya.

.

.

—Cnara-chan Namiuzukage—

.

.

Dilain tempat.

Naruto terlihat seperti orang yang kelelahan. Nafasnya ngos-ngosan. Ia berhenti berbicara sejak beberapa saat yang lalu. Lawannya kali ini terlalu tangguh, batinnya.

"A-aku menyerah Teme," katanya memproklamirkan diri. Membuat pemuda onyx dihadapannya tersenyum puas.

"Memang begitu seharusnya," katanya angkuh.

Naruto harus menahan dirinya untuk membalas kata-kata menyebalkan pria dihadapannya. Pemuda pirang itu geleng-geleng kepala meratapi nasibnya yang berakhir dengan adu mulut dengan pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya sebelumnya.

.

Flashback.

.

.

"Jangan katakan padaku kalau kau tidak tahu apa itu kembang api," sebuah suara bariton mengagetkan Naruto yang masih memandang kembang api dihadapannya dengan tatapan kagum seorang anak berusia 5 tahun. Naruto menolehkan wajahnya cepat, dilihatnya seorang pemuda berambut emo yang berdiri tepat disisinya.

Pemuda yang sedang menatap cahaya yang terus meledak diangkasa itu mengalihkan pandangannya pada pemuda orange. Mata onyxnya menatap tajam.

"Siapa kau?"

Naruto mengernyit bingung, "Apa itu kembang api?" tanyanya pelan.

Sasuke menatapnya tidak percaya, "Kau bersungguh-sungguh?"

Naruto mengernyit bingung. Apa ia bersungguh-sungguh? Tentu saja!

Naruto menolehkan wajahnya pada pemuda asing dihadapannya, mendengar tawa tertahan yang sepertinya sedang menertawakan dirinya.

"Apa yang sedang kau tertawakan?" tanyanya tersinggung.

"Kau benar-benar Dobe ya?" Sasuke memandang Naruto. Masih terlihat sirat tawa meremehkan dimatanya yang sekelam malam itu.

Ukh! Dobe?

Bahasa apa lagi itu? Inner Naruto kesal.

Rasa ingin tahunya yang terlampau besar membuatnya memberanikan dirinya bertanya sekali lagi pada pemuda menyebalkan yang berani-beraninya menertawakan dirinya.

"A-apa itu?" tanyanya pelan.

Sasuke menatap Naruto dengan pandangan bertanya, tidak mengerti dengan apa maksudnya 'itu'.

"I-itu.. Yang kau katakan barusan itu loch!" omel Naruto kesal dengan tidak sabaran.

"Maksudmu Dobe?" tanya Sasuke lagi.

Naruto mengangkat dagunya arrogant, "Yah itu, katakan padaku!" katanya memerintah Sasuke dengan angkuhnya.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya, "Dobe artinya bodoh, dasar bodoh!"

Naruto langsung merona merah, kesal dan malu setengah mati.

"Kau! Dasar Teme!" teriaknya emosi.

Dan percecokkan itu berlangsung hingga beberapa menit yang lalu, entah mengapa tidak ada satupun yang mau mengalah diantara mereka, hinnga Naruto dengan warasnya memutuskan untuk menghentikan perdebatan yang sungguh amat sangat tidak berguna.

"Uchiha Sasuke," gumam pemuda itu. Naruto langsung mengalihkan pandangannya pada pemuda disampingnya.

"Namaku Uchiha Sasuke," ulangnya lagi.

"Ohh..," Naruto berbaring dibawah pohon besar itu, memandangi langit yang sudah gelap, tidak ada lagi pancaran warna-warna indah seperti sebelumnya.

Sasuke hanya mengangkat alisnya menatap sosok yang mulai menutup matanya, menunggunya mengatakan sesuatu mngkin? Sesuatu yang disebut dengan nama?

"Naruto, panggil saja aku Naruto," gumamnya pelan, sepertinya ia terlalu lelah untuk melakukan apapun. Sasuke tersenyum.

"Kau gadis yang menyenangkan," katanya bermaksud memuji Naruto, tapi sayangnya hal itu adalah hinaan bagi pemuda saphire itu. Naruto membelalakkan matanya kaget. Ia memandang Sasuke yang tetap dalam posisi duduknya.

"Gadis?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya. Sasuke memandangnya terkejut, pemuda itu terlihat sedikit kaget,

"Jadi kau bukan gadis lagi ya? Sudah menikah?" tanyanya antusias.

Mulut Naruto menganga lebar.

"Sasuke," ia mulai berkata-kata, bingung harus menjelaskan dari mana, "Kurasa kau salah paham.."

"NARUTOOO!" terdengar suara yang memotong perkataan pemuda berkulit tan itu.

Naruto menelan ludahnya dengan susah payah. Wajahnya horor. Dengan perlahan ia memalingkan wajahnya kearah sumber suara.

Kyuubi datang dengan ekspresi seperti dewa kematian yang siap mengambil nyawanya. Pemuda berambut merah itu berjalan semakin dekat.

"Sasuke! Aku harus pergi sekarang!" ujarnya dengan gugup, "nyawaku dalam bahaya!" katanya horor. Membuat Sasuke terbelalak salah paham.

Naruto langsung berlari sekencang-kencangnya, takut akan tertangkap Kyuubi yang terlihat sedang murka tingkat tinggi.

"NARUTO! JANGAN LARI KAU, SIALAN!" Teriak Kyuubi dengan keras, ia langsung berlari sekencang-kencangnya mengejar si pirang yang sudah lari duluan meninggalkannya.

"TIDAK TAHU DIRI!" Kyuubi semakin emosi mengejar sang adik, sementara Sasuke hanya diam. Cengo, memandang kecepatan lari kedua orang dihadapannya.

.

.

To Be Continued...

Gimana menurut ente-ente kabeh?

Mind to review maybe?

Atau mungkin mau kasih ide buat kelanjutan ceritanya... itu juga boleh,

Saran atau protes?

C terima kritik, saran, apalagi pujian kok..

By. Cnara-chan Namiuzukage

Sekian... ^_^