~The Dormitory~
.
Super Junior © SM Entertainment
.
Chapter 1 :
Introduction
.
Rating : T
.
Cast :
Super Junior's members and the others support cast.
.
Pairing :
Super Junior's Pure Pairs.
.
Genre :
Romance, Friendship, School Life.
.
Warning :
Boys Love, Typo(s), Confusing Plot, AU, a Little OOC, Over.
.
~oOo~
.
Flames Are Not Allowed!
~Don't Like, Don't Read~
.
~oOo~
.
.
Seoul 08:36 am.
Sudah mendekati awal musim semi. Bunga-bunga Cherry Putih mulai bersemi malu-malu menyambut awal yang indah di musim yang paling ditunggu oleh para wisatawan tersebut. Udara yang begitu bersahabat ditambah nuansa pink-putih yang menghiasi jalanan kota Seoul. Ditengah padatnya arus globalisasi, kota ini tergolong yang paling hebat dalam menyuguhkan pemandangan eksotis musim semi.
Dan itulah salah satu alasan mengapa namja yang kini sedang berjalan kaki di sepanjang jalanan Olympic Park memilih kembali ke kota tercintanya ini untuk menghabiskan liburan musim seminya daripada di tempat kelahirannya sendiri, Beijing - China.
Pagi ini suasana Seoul sangat seimbang dengan moodnya yang begitu baik, mengingat dirinya yang baru menginjakkan kaki di Incheon sekitar satu jam yang lalu. Sepertinya, pilihan namja ini untuk mengambil jadwal penerbangan pagi-pagi buta dari Beijing ke Seoul tidaklah salah. Dia sangat puas dengan sambutan dari suasana kota yang sempat ia tinggalkan selama satu bulan lamanya ini. Entah mengapa, Seoul mudah membuatnya rindu.
'Hyung sudah tiba di Korea?'
"Begitulah."
'Lalu bagaimana hasilnya?'
Sesekali namja itu tersenyum dalam pembicaraannya, yang tentu saja tidak dapat terlihat oleh lawannya.
"Seperti biasa. I got gold medal!"
'Wooow! Daebak! Sudah kuduga! Hyung pasti bisa!'
Sedikit menjauhkan iphone hitamnya, namja itu mengernyit tak nyaman dengan teriakan tiba-tiba dari ujung telponnya.
"Aku ingin berjalan-jalan dulu. Aku harap saat tiba di asrama nanti, kamarku sudah rapi!"
'Issh, aku juga menunggu traktiran darimu! Jangan lupa eoh?'
"Iya, cerewet!"
Pip. Sambungan terputus.
Namja itu segera menyeting profil handphonenya ke modus silent. Ia tidak ingin siapapun mengganggu aktifitas jalan-jalannya.
"Pagi yang cerah di hari minggu..", gumamnya singkat.
"Sempurna!"
.
.
Tap tap tap..
Hh.. Hh.. Hhh..
"Awas! Hh.."
Tap tap tap..
"Minggir!"
Brugh!
"Ouch..!"
Bayangan minggu pagi yang sempurna di mata namja tampan tersebut terpaksa berbalik 180 derajat. Belum 10 meter ia melangkah, dirinya sudah dikejutkan dengan kemunculan tiba-tiba sesosok- ehm, seorang putri yang entah darimana asalnya dan menabrak kasar tubuhnya yang saat itu sedang benar-benar menikmati alunan musik klasik dari sepasang earphonenya.
Yeoja itu sudah akan bergegas pergi lagi sebelum sesuatu menahannya dan ia terpaksa jatuh tersungkur di sebelah sang namja.
"Aww..!"
"Ah, noona kau baik-baik saja?", mau tidak mau namja itu sedikit khawatir dengan keadaan sang yeoja. Dia hendak mengulurkan tangannya kepada yeoja tersebut, namun..
"Baik-baik saja kepalamu? Kau menginjak gaunku bodoh!"
"Hah?", buru-buru sang namja berjingkat untuk menjauhkan kakinya dari gaun panjang milik sang yeoja yang tadi tidak sengaja ia injak sehingga membuat yeoja itu terjatuh.
Tapi tunggu! Alih-alih hendak meminta maaf, namja itu justru terpaku dengan apa yang kini tersuguhkan di depan matanya. Visualisasi gadis terindah yang pernah terekam oleh kedua orbs hitamnya kini sedang berdiri berkacak pinggang tepat di hadapannya. Walaupun kini penampilanya acak-acakan dan sangat berantakan, namun hal tersebut sama sekali tidak mengurangi nilai kecantikannya.
"Kau-", ditelusurinya fisik yeoja tersebut mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Yeoja ini, rambut hitamnya yang tergulung rapi di kepalanya, dan kulit putih susunya yang begitu mulus dengan balutan gaun pengantin putih bersih yang menjuntai hingga ke lantai. Wajah bak cinderella yang sangat cantik dan alami. Mata bundar dan iris hitam bening. Hidung mancung, pipi merona, entah karena make up atau bukan, dan bibir sintal yang sungguh ranum, yang ia yakini tak menggunakan lipstick atau pemerah bibir apapun. Satu hal yang dapat ia simpulkan dari pengamatannya, Perfect!
"Ck, kau membuang waktuku!", rupanya yeoja itu tidak nyaman dengan tatapan dari sang namja yang menurutnya, err- lapar!
Dia memandang gelisah ke suatu sudut di seberang jalan, sesekali mencuri pandang ke arah namja yang kini masih berada di alam fantasinya.
Hei, yeoja ini butuh bantuan..
"Tuan! Itu dia disana!"
Sebuah teriakan dari seberang jalan memecah keheningan antara sang namja dan sang yeoja yang hingga kini masih berdiri berdampingan tanpa percakapan.
Seketika timbul raut ketakutan dari wajah sang yeoja yang dengan reflek meloncat bersembunyi di belakang sang namja begitu manik matanya menangkap ada sekitar 10 orang berjas hitam yang tengah berlari ke arahnya.
"Tolong aku..", lirihnya pada sang namja yang masih tidak mengerti dengan keadaan.
Namun belum sempat mereka melakukan sebuah tindakan berarti, ke 10 orang berjas hitam itu sudah tiba di hadapan mereka, mengepung mereka.
"Tuan putri, Anda harus kembali ke gereja! Calon suami Anda sudah menunggu di altar!", ucap salah seorang di antara mereka.
"Shireo! Aku tidak mau!", yeoja itu membentak brutal dan makin mendekatkan tubuhnya ke tubuh tegap sang namja yang masih tidak mengerti apa-apa.
"Tapi Anda harus kembali! Tuan besar bisa marah kalau tahu Anda kabur seperti ini!"
"Biarkan saja! Aku tidak mau menikah! Aku ingin sekolah!", hardik sang yeoja bersikukuh.
"Tapi- "
"Cukup Jay-ssi, biarkan saya yang berbicara!"
"Sajangnim..", namja berjas hitam itu pun melangkah mundur begitu sebuah suara yang amat ia kenal menginterupsinya.
Seorang namja paruh baya yang masih berfisik tegap diusianya yang mungkin telah mencapai setengah abad, berjalan mendekati sang yeoja yang semakin meringkuk ketakutan di balik punggung sang namja. Raut wajahnya sangat tegas walaupun tatapan matanya melembut.
"Chagi.. Appa mohon, kembalilah ke gereja..", tangan kanannya terulur, mencoba meraih sang yeoja. Namun yeoja itu tetap bergeming.
"Aku tidak mau menikah, appa! Aku tidak mau! Aku ingin melanjutkan sekolah!", tolak sang yeoja mentah-mentah. Sudut matanya mulai berair, ia hendak menangis rupanya.
"Tapi chagi, calon suamimu sudah menunggu, kau tidak ingin appa dipermalukan bukan?"
"Tapi aku tidak ingin menikah dengan namja, appa! Tidakkah appa sadar kalau aku ini juga seorang NAMJA!"
Jdeerr!
"Mwooo?"
Baik namja yang kini menjadi tempat persembunyian sang yeoja, maupun namja-namja berjas hitam yang ada di sekitar mereka, semuanya melotot parah tak berkutik.
Mereka menatap sang yeoja-alias namja yang bergaun pengantin itu dengan tatapan tak percaya. Dengan gerakan seragam, mereka menelusuri secara seksama fisik dari orang yang kini menjadi bahan perhatian nomer satu mereka.
Holy shit! Yeoja-alias namja itu memiliki jakun dan.. berdada rata! Ia memang seorang NAMJA!
"Ya! Kalian! Jangan memandangi putraku dengan tatapan lapar seperti itu! Atau kalian mau aku pecat eh?", sepertinya sang appa mulai merasakan firasat tak beres terhadap bodyguard-bodyguardnya. Dan karena sang tuan besar telah memperingatkannya, mereka pun serentak mengalihkan pandangannya. Tentunya dengan wajah yang sedikit bersemu merah, mengingat bahwa anak dari bosnya begitu cantik walaupun kenyataanya ia adalah namja.
"Kau- namja?", hanya sang namja yang tadi menjadi tempat persembunyian sang putrilah yang tetap bergeming dengan mata yang tak berkedip sedikit pun. Berkali-kali menelusuri bentuk tubuh orang yang kini berada di sampingnya dengan teliti. Naik-turun-naik lagi hingga otak jeniusnya dapat menerima kenyataan bahwa seseorang yang sempat ia nilai cantik sempurna tersebut adalah seorang namja, sama seperti dirinya.
"Ish, lihatkan? Gara-gara appa, semuanya jadi memandangku dengan tatapan aneh! Haah, appa benar-benar merusak citraku!", sungut yeoja- ck, namja itu kesal.
"Chagi, appa mohon, kembalilah ne?", bukannya mencairkan keadaan, sang appa justru bersikeras.
"Aku tidak mau, appa~ Anakmu yang tampan ini ingin melanjutkan sekolah.. Kumohon appa~ sekali saja turuti permintaan anakmu satu-satunya ini ne?", pintanya dengan wajah yang begitu memelas dan mata yang dibuat berkaca-kaca sedemikian rupa. Ia beringsut mendekati appanya dan dengan sekali lompat, ia pun mengalungkan kedua tangannya ke leher appanya sembari melancarkan puppy eyes mematikan miliknya.
"Oh, chagi~ jangan seperti ini.. Appa akan mengabulkan permintaanmu, tapi jangan menatap appa dengan mata seperti itu lagi.. Appa jadi kehilangan akal sehat..", sekuat tenaga sang tuan besar menahan hasrat terlarangnya untuk tidak menerkam putranya sendiri saat itu juga, karena jujur, putranya itu benar-benar cantik dan menggemaskan.
"Gomawo appa~ Saranghae~"
Sedangkan para bodyguard dan namja tak berdosa tadi? Sekarang kondisi mereka justru lebih mengenaskan. Dengan darah mengalir dari hidung dan rahang yang menganga parah. Mereka seakan terhipnotis dengan aura sang putri yang begitu membakar adrenalin.
.
.
"Ah, jadi siapa namamu nak?", tanya sang appa begitu mereka bertiga, ia, putra cantiknya, dan namja tak berdosa tadi sedang duduk di sebuah bangku taman yang terletak agak jauh dari keramaian. Sang appa dan namja cantik itu memaksa si namja tampan untuk mengobrol sejenak bersama mereka. Dan berhubung ia juga sedang tidak ada acara, maka namja itu pun menerima ajakan sepasang ayah dan anak tersebut.
"Nama saya..."
"Wah? Kau murid SM International High School?", potong si namja cantik itu tiba-tiba begitu ia tak sengaja membaca label dari map yang selalu namja itu bawa sedari tadi.
"Ne, aku murid di sana. Kenapa?", jawabnya sambil melempar senyum manis miliknya.
"Kebetulan sekali! Aku calon murid di sana! Aku pindahan dari Kangwondo, lulus tes di SMI dan diterima sebagai murid tahun kedua!", namja cantik itu menjelaskan dengan menggebu-gebu. Nampaknya ia begitu menginginkan bisa bersekolah di sekolah impian itu.
"Jinjja? Wah, benar-benar kebetulan kalau begitu! Aku juga murid tahun kedua semester depan.", entah mengapa, namja tampan itu menjadi ikut terbawa suasana. Ada suatu rasa yang membuatnya merasakan hal yang 'berbeda' dari orang yang baru saja dikenalnya ini, sebuah perasaan nyaman yang unik.
"Ah, aku rasa kita bisa menjadi teman dekat- "
"Heechul, namaku Kim Heechul!"
Namja itu tersenyum kembali, "Senang berkenalan denganmu Kim Heechul-ssi."
"Kalau begitu appa bisa tenang kalau kau bisa berteman dengan anak muda ini, chagi.. Dia tampan dan juga baik hati. Appa jadi tidak khawatir lagi.", ucap Tn. Kim lega sambil mengusap-usap pundak putranya sayang.
"Appa saja yang terlalu mengkhawatirkanku, aku ini sudah besar, appa!", Heechul mengerucutkan bibirnya sebal. Dia tidak suka dimanja berlebihan dengan appanya.
Sebenarnya alasan Tn. Kim menjodohkan Heechul adalah, karena ia tidak ingin jauh dari putra semata wayangnya itu. Tn. Kim sudah 10 tahun menjadi single parent, dan ia sangat menyayangi Heechul lebih dari apapun. Namun, melihat Heechul yang sangat bersemangat untuk melanjutkan pendidikannya, ia pun dengan berat hati melepaskan putra cantiknya itu untuk tinggal di Seoul, lebih tepatnya, di asrama sekolahnya kelak.
"Oh ya, siapa tadi namamu anak muda?"
Sekali lagi namja itu menyunggingkan senyum terbaiknya yang memamerkan kedua lesung pipi mungilnya.
"Siwon. Nama saya Choi Siwon, Kim ahjussi-nim."
.
~oOo~
.
"Lee Ji Eun.. Sapphire.."
"Lee Seung Hyun.. Blue.."
"Lee Sung Min..."
Namja berpipi chubby itu sontak menutup matanya erat-erat begitu mata rubahnya berhasil menemukan rangkaian kata berupa nama lengkapnya yang terpampang di sebuah situs resmi sebuah sekolah menengah atas paling populer impiannya. Jantungnya berdegup dua kali lebih keras dari normalnya. Telapak tangannya mengepal erat dan buku-buku jarinya memutih. Dia tidak sanggup untuk meneruskan kalimat yang masih tertera setelah namanya.
"Dor!"
"Woooaaa~~", hampir saja namja chubby itu terjengkang dari kursinya kalau saja seseorang tidak menahannya dari belakang.
"Min, kau baik-baik saja?", tanya seseorang yang tadi nyaris membuatnya jantungan mendadak dengan wajah polos yang mengandung seribu tipu muslihat.
"Kibum-ah! Kau mau membuatku mati muda hah?", sungut si namja chubby itu sebal masih dengan mengelus-elus bagian dadanya yang tadi berdetak kencang.
Namun namja yang tadi dipanggil Kibum justru balas tersenyum manis. Benar-benar penuh muslihat!
"Ani Min.. Habisnya aku lihat kau serius sekali menatap laptopmu! Lihat apa sih?", selidik Kibum penasaran.
"Aku melihat pengumuman pembagian asrama di sekolahku kelak, Kibum-ah."
Sedangkan Kibum hanya mengangguk paham.
"Lalu?", tanyanya kemudian sambil memposisikan duduknya senyaman mungkin di atas meja belajar milik si namja chubby. "Kau masuk asrama apa?"
Nampak si namja chubby yang ternyata bernama lengkap Lee Sung Min itu sedang merenggut cemas. Telapak tangannya mengepal erat. "Aku tidak berani melihat hasilnya."
Kibum menaikkan sebelah alisnya heran. "Wae?"
"Aku takut!", Sungmin menggigit bibirnya kuat.
"Ck, biar aku saja yang melihatkan!", dengan dan tanpa izin dari sang pemilik laptop, Kibum dengan sopannya langsung menyambar kursornya dan dengan cepat memindai segala informasi yang berkenaan dengan calon siswa bernama lengkap Lee Sungmin.
"Ya! Kibum-ah!", ucap Sungmin tak terima dengan tingkah semena-mena sepupunya itu.
"Ah!"
"Mwo?", kali ini Sungmin malah menutup matanya erat-erat.
Pluk!
Kibum meremas pundak Sungmin pelan. Seolah-olah menekankan pada sebuah hal yang buruk. Dan itu makin membuat Sungmin berkeringat dingin.
"Kau-"
"Jangan katakan.. Jangan katakan.. Kumohon..", racau Sungmin sambil berkomat-kamit tak jelas.
"Kau masuk asrama Blue!"
1 detik.
2 detik.
"MWO?", Sungmin sontak membuka matanya lebar-lebar!
"Kkkkyyyyyaaaaa!", reflek Kibum langsung menyumpal kedua telinganya. Ia masih sayang dengan indra pendengarannya itu. Dan teriakan spektakuler Sungmin ia pastikan bisa merusak sedikit syaraf pendengarannya.
Sedangkan namja chubby bergigi kelinci bernama Sungmin itu kini malah melompat-lompat heboh di tempat tidur full color pinknya.
"Kenapa kau malah bangga kalau masuk asrama Blue eh?", tanya Kibum sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan sepupu yang sebenarnya seumuran dengannya itu.
"Tentu saja aku senang Kibumie..", ucap Sungmin ceria. "Dengan begitu aku bisa selalu dekat denganmu.."
Sejenak Kibum pun sweatdrop. Jadi cita-cita sepupunya hanya sedangkal itu? Yah walaupun Kibum juga murid asrama Blue, namun Kibum sudah memasuki tahun kedua. Itu artinya dia akan semakin sibuk setelah ini. Dan tentu saja tidak bisa selalu melindungi Sungmin.
"Semua calon murid berlomba-lomba untuk dapat memasuki asrama Ocean. Tapi kenapa kau tidak?"
Sungmin terlihat berpikir keras sembari mengerucutkan bibir shape M-nya. Benar-benar menggemaskan namja kelinci pecinta pink satu ini.
"Karena aku mau jadi siswa yang biasa-biasa saja! Tidak mencolok seperti ceritamu tentang murid-murid asrama Ocean.", katanya kemudian sambil memasang wajah super duper polosnya.
Lagi-lagi Kibum hanya mampu melongo. Sepupu imutnya ini tidak pantas masuk SMA, pantasnya Sekolah Dasar! -_-
"Haah, aku tidak terima kau bilang biasa-biasa saja! Aku ini jenius! IQ-ku 180, dan aku berhasil lompat kelas saat aku sekolah menengah pertama dulu. Aku juga juara 1 dalam olimpiade matematika tahun ini! Kalau kau bilang asrama Blue biasa-biasa saja, aku tidak terima!"
Dan kali ini ganti Sungmin yang menganga. Sepupunya itu terkenal dengan sifat dinginnya. Tapi mengapa jika sedang tersinggung dia bisa berubah menjadi amat sangat cerewet!
"Tapi kau tidak lulus seleksi untuk menjadi wakil Korea pada olimpiade Sains di Beijing kemarin kan?", ucap Sungmin polos namun berarti mendalam bagi seorang Kim Kibum.
Dada Kibum seketika berdenyut nyeri. Ia tahu jika Sungmin tidak bermaksud menyindirnya. Tapi asal kalian tahu, kejadian itu begitu membekas bagi Kibum hingga saat ini.
"Jangan bahas itu lagi, Lee Sungmin!", titah Kibum. Moodnya langsung rusak, dan dengan kesal ia beranjak keluar dari kamar Sungmin.
Meninggalkan Sungmin yang kini hanya mampu terdiam sambil memandangi punggung keluarga satu-satunya itu sampai menghilang di balik pintu. Rasa bersalah mulai merambati hatinya.
.
~oOo~
.
Seorang namja dengan kaca mata hitamnya sedang duduk santai di sebuah mini cafe yang terletak di kawasan salah satu water park terbesar di dunia. Manggo juice di hadapannya sudah tinggal setengah gelas. Namun dia tidak juga bosan dengan kesendiriannya, menunggu kedatangan seseorang..
Beruntungnya, cafe bergaya tradisional tempatnya bersantai saat ini terletak pada area yang sangat strategis. Dari sini ia bisa menyaksikan serunya bermain di zona Wild River dan betapa menegangkannya bermain ombak di Wave Pool. Tidak salah jika water park ini disebut sebagai wahana air impian. Salah satu tujuan wisata yang patut disinggahi jika sedang bertamasya ke Korea. Sebuah surga bermain air termegah di dunia yang terletak di kawasan Everland Park, bernama Caribbean Bay.
.
Di lain tempat, beberapa kilometer dari Caribbean Bay, seorang namja tampan sedang mengendarai mobil sport putih tulangnya menuju sebuah tempat dimana seseorang yang sangat spesial baginya mungkin sedang jenuh menunggunya.
Berkali-kali namja itu melirik risau ke arah jam pada dashboardnya. Tak jarang ia mengumpat kesal karena kebodohannya sendiri, semalaman menghabiskan koleksi videonya, sehingga tadi pagi ia terpaksa bangun terlambat. Alhasil, ia benar-benar lupa akan acara spesialnya dengan seseorang yang mampu membuat setiap detiknya penuh warna.
Dengan kecepatan diatas rata-rata ia melajukan Pajero putihnya. Melenggang membelah jalanan kota Seoul menuju sebuah tempat yang harus ia tempuh setidaknya hanya dalam waktu 1 jam.
"Ish! Nae paboyaaa~ tunggulah chagi, aku pasti akan datang!", tekadnya sembari memindahkan gear ke angka 5.
.
.
45 menit waktu berjalan sejak kedatangannya di cafe ini. Namun sosok yang sedari tadi menyita seluruh pikirannya tak juga menampakkan batang hidungnya. Panggilan-panggilan telponnya tidak diangkat, begitu pun smsnya, nihil balasan! Sungguh membuatnya khawatir bukan kepalang.
Jika saja dirinya sekarang tidak sedang berada di sebuah tempat umum seperti ini, bisa dipastikan ia akan berteriak-teriak tak jelas untuk meluapkan segala rasa cemasnya.
.
Tak lama waktu berselang, dari arah selatan, nampak seorang namja tampan berambut auburn sedang berlarian kecil kearahnya. Selama perjalananya menghampiri sang namja berkaca mata, ia tak luput untuk menyunggingkan senyum manisnya. Padahal sudah jelas jika dirinya telah datang terlambat. Tapi rupanya namja ini terlalu senang, wajahnya tidak absen untuk memancarkan keceriaannya. Membuat namja yang sejak empat puluh lima menit yang lalu menunggunya itu reflek ikut tersenyum melihatnya. Ah, malaikatnya itu memang selalu bisa membuatnya bahagia..
.
"Hh.. Hh.. Mianhae sudah membuatmu menunggu lama.. Aku benar-benar minta maaf..", ucapnya sambil mencoba mengatur nafasnya.
"Gwenchana chagiya.. Melihatmu sekarang telah berada di hadapanku saja sudah cukup membuatku lega.", balasnya dengan senyuman manis yang tersungging di bibir tipisnya.
"Kajja, duduklah. Kau mau pesan apa?", tawar namja berkaca mata tadi sembari melepas kacamata hitamnya. Memperlihatkan kedua bola matanya yang teduh dan menawan.
"Orange juice! Ah, dan strawberry juice juga!", ucap si namja auburn bersemangat. Membuat namja yang duduk di hadapannya terkikik geli melihat tingkah kekanakan dari namjachingunya tersebut.
"Algeseo.. Kau lelah ya? Jangan bilang kau juga belum sarapan?", selidiknya.
Dan seketika namja berambut auburn itu pun tertunduk malu. Dia bahkan lupa untuk mengisi perutnya. Benar-benar ceroboh!
Rupanya gerak-gerik dari namjachingunya ini membuatnya segera tahu kalau ucapannya tadi benar. Dia pun langsung merubah ekspresinya menjadi pura-pura marah.
"Chagi! Sudah kubilang kalau kau tidak boleh terlambat makan! Tapi kenapa pagi ini kau tidak sarapan?", tanyanya protektif.
Sedang namja yang sedari tadi menunduk itupun mencoba sedikit memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan membalas tatapan kesal dari namjachingunya.
"Mianhae chagi.. Aku tadi terburu-buru..", katanya dengan nada memelas dan rasa menyesal yang sungguh-sungguh.
Namja berambut hitam itu mendengus panjang. Ia memang tidak suka jika namjachingunya tersebut lupa atau terlambat makan. Namjachingunya itu memiliki gejala maag, dan sialnya, dia suka lupa mengatur waktu. Termasuk waktu makannya. Namun semarah-marahnya ia pada sosok malaikat di hadapannya, tetap saja dirinya tidak bisa mendiamkannya begitu saja. Wajah polos namja itu selalu sukses meluluhkan hatinya.
"Hh, lain kali jangan sampai lupa lagi ne?", diacaknya pelan surai coklat kemerahan milik kekasihnya tersebut. Kemudian turun ke pipi mulus yang seketika langsung diwarnai semburat merah muda begitu tangannya membelai lembut benda kenyal itu.
Sebuah anggukan manis sebagai jawaban untuk meyakinkan sang kekasih tercinta.
"Sekarang kau mau pesan makanan apa, chagi?", tawar si namja berambut hitam yang saat itu sedang mengenakan kaos v-neck berwarna putih, senada dengan kemeja yang dikenakan oleh namjachingunya.
"Aku mau pie apple saja dua porsi..", namja auburn itu meletakkan buku menunya. Kemudian beralih menatap ke wajah kekasihnya setelah seorang waitress mencatat pesanannya.
"Chagi.. Setelah aku sarapan, aku mau kita berenang. Bagaimana?", lanjutnya menggebu-gebu dengan mata berkilat penuh semangat.
Dan namja berambut hitam itupun mengangguk mengiyakan. Sekali lagi mengacak rambut auburn nan lembut milik pujaan hatinya penuh sayang.
"As your wish my fishy.., Lee Donghae chagi~"
.
~oOo~
.
"Ahh.. Jangan tekan bagian itu Hyung!"
"Ssht, tenanglah.. Percayakan padaku.. Just look and relax, oke?"
"Tapi nanti keluar Hyung! Aaaahh.."
"Diamlah baby~"
"Hyuungg~ plis.. Jang-sshhiitt!"
"Oh yeah~~"
'LEVEL 18 COMPLETED!'
"Geezz!"
Tiga ekor beruang berbulu salju menari sembari melempar konfeti berbentuk hati, memenuhi layar monitor 14 inch itu dengan serpihan-serpihan berwarna pink dan merah menyala. Setelah beberapa detik penuh euforia, ketiga beruang tersebut berhenti menari dan perlahan menghilang dari pandangan dengan ber-moonwalking. Disusul munculnya sebuah tulisan jumbo berbunyi, Next Level : 19!
"Gotcha!", ucap seorang namja berambut sedikit cepak dengan cengiran lebar yang senantiasa menghiasi wajah monkey-nya. Membuat namja lain yang sedang duduk di sebelahnya terpaksa menahan dongkol bukan main.
Wajah monkey-nya itu cantik, cantik sekali.. Sampai-sampai membuat namja yang kini terus memandanginya itu jadi ingin menonjok habis wajah sok innocentnya.
"Hyung-ah! Kenapa kau menyebalkan sekali huh? Kau membuat permainan ini jadi tidak asyik! Haah, kau curang!", sungut si namja yang lebih muda frustasi.
Kali ini dia benar-benar sebal dengan hyung anchovy-nya satu itu. Baru kali ini ia mendapat kekalahan memalukan sepanjang sejarah bermain gamenya. Dirinya yang notabene adalah namja paling jenius sekaligus pemegang rekor permainan game online seantero sekolah, dikalahkan oleh namja yang hanya tahu cara mendownload video dewasa? Oh.. Sungguh menggelikan!
"Huahahaha~ salahmu sendiri yang terlalu sombong! Mungkin kau memang masternya online game, tapi untuk permainan ketelitian seperti ini, kau payah, Cho!"
"Issh!", dan namja bermarga Cho itu hanya mampu menelan kekesalannya mentah-mentah. Seribu sumpah serapah hanya dapat ia teriakkan di dalam hatinya. Hh~ kalau bukan karena si hyung penyayang ikan-nya yang saat ini entah sedang berada dimana, ia tidak akan mau menjatuhkan martabatnya seperti ini.
'Awas aja kau, Donghae hyung!'
.
"Ya~~!"
Bola mata angelic itu menatap lelah pada pemandangan rutin yang hampir tiap hari mewarnai hari-harinya.
"Ya! Kalian mahluk-mahluk hyperaktif! Bisakah kalian tidak berteriak barang sekali saja?", bentak seorang namja bertubuh kekar dengan urat pelipis berkedut menahan amarah. "Lihatlah Teukie! Dia jadi stres karena kalian!"
Leeteuk, alias Teukie, alias angel, alias uri mother, hanya bisa menghela nafas panjang melihat ketiga dongsaengnya yang bertingkah layaknya anak dengan masa kecil kurang bahagia. Dan parahnya, pemandangan tersebut belum seberapa jika dibandingkan dengan hari-hari sebelum ini. Saat semua komplotan 'The Super Big Time Trouble' sedang bersatu.
Sesekali Leeteuk merasa ingin mempunyai kekuatan x-man.
"Kangin-ah..", panggil Leeteuk lembut kepada namja bertubuh kekar yang saat ini sedang menjitak dua mahluk berbeda alam itu. Setan dan monyet.
"Ne?", namja yang merasa dipanggil itupun seketika menghentikan siksaannya.
"Peluk aku.", hanya itu. Hanya itu cara untuk meredam segala huru hara yang mungkin akan berlangsung dalam kurun waktu yang tak terkira.
.
~oOo~
.
06:20 pm.
"Sebaiknya aku pulang saja, Cho. Sudah jam segini, tapi dia belum juga datang. Aku lelah..", namja monkey berjuluk dance machine itu beranjak dari posisi rebahannya, merapikan kaosnya sekilas sebelum meraih ranselnya dan berpamitan pada ketiga temannya.
Tersenyum simpul kemudian membungkuk untuk izin meninggalkan ruangan. Tak mengindahkan tatapan simpati dari mereka yang sedari tadi memperhatikannya.
"Hyukkie.."
.
10 menit kemudian, terdengar suara bel dari arah pintu utama. Leeteuk lah yang berinisiatif untuk membukanya.
"Eh?"
Pintu terbuka. Menampakkan sesosok namja berwajah oriental yang sedang meringis menahan sesuatu yang sedang bergelayut lemah di punggungnya.
"Hankyung?", alis Leeteuk bertaut saat melihat dongsaeng tertuanya sedang dalam kondisi yang menurutnya tidak biasa.
"Hyung-ah, kajja izinkan aku masuk.. Beraaatt~", pinta namja bernama Hankyung itu memelas. Sesekali ia mencoba membenarkan letak dari 'sesuatu' yang ada di gendongannya.
"Ah, nde.. Mianhae. Kajja masuklah!", Leeteuk yang akhirnya 'ngeh' pun segera memberikan ruang untuk Hankyung masuk.
Brugh..
"Euuhh~"
"Dia kenapa?", tanya Leeteuk sambil menunjuk objek yang sedari tadi dibopong oleh Hankyung.
"Seperti biasa..", jawab Hankyung ringan. Dia memijat pundaknya sekilas sembari merenggangkan otot-otot lehernya. Menggendong beban seberat 43 kg sambil menaiki anak tangga setinggi 2 lantai sungguh membunuh segmen tulang punggungnya.
Leeteuk hanya manggut-manggut memaklumi. Memandang lelah pada sosok yang kini sedang terlelap di alam bawah sadarnya.
"Oh ya, tadi aku bertemu Hyukkie. Dia kenapa? Wajahnya murung sekali.", lanjut Hankyung.
Sedang yang ditanya malah mengusap dahinya pelan. Sebenarnya dia juga bingung dengan keadaan si Hyukkie itu.
"Eng.. Dia.. Entahlah..", jawab Leeteuk absurd. Sejujurnya dia tahu benar apa yang sedang terjadi pada dongsaengnya satu itu, ia hanya tidak tahu cara menjelaskannya pada Hankyung.
Tap tap tap!
"Ada apa ini?", namja kekar bernama Kangin itu berujar penuh selidik. Mata sipitnya ganti beralih menatap ia-yang-sedang-tertidur. Memicing sembari menajamkan indera penciumannya.
"Mabuk?"
Hankyung dan Leeteuk mengangguk kompak.
Mereka bertiga sudah hendak beranjak untuk mengambil tindakan berikutnya, sebelum suara bass yang sedikit cempreng tiba-tiba menyela kegiatan mereka.
"Ya! Ige mwoya?"
"Psssttt!", koor Hankyung, Leeteuk dan Kangin.
Tapi bukannya menurunkan volume suaranya, namja itu justru mendekat ke tubuh yang sedang tertidur di satu-satunya sofa yang ada di ruangan itu.
"Cih, dasar yeoja bar-bar!", cemoohnya pelan. Namun tidak cukup pelan untuk tertangkap sepasang telinga Kangin.
Plak!
"Aww! Apa sih Hyung?", protesnya ketika Kangin dengan indahnya memukul kepalanya.
"Jaga bicaramu bocah! Kalau Victoria dengar dia bisa membantingmu!"
Dan Cho Kyuhyun pun hanya bisa merenggut kesal. Tidak mau mengambil resiko untuk memperpanjang masalah, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya, meneruskan gamenya yang tadi sempat ia 'pause'.
Oh iya! Namja itu ya..
Penggila games bermulut pedas itu..
Yup betul! Namanya Cho Kyuhyun. ^^
.
~oOo~
.
Seoul 06:30 am.
Kim Heechul nyaris lupa untuk mengatupkan kedua belah bibirnya, tatkala iris matanya telah terkunci pada sebuah objek yang berdiri gagah tepat di hadapannya.
"Inilah gedung impian para siswa SMA se-Korea! Selamat datang di surga kami.."
Seorang namja tinggi tegap ber-name tag Choi Siwon, sibuk memperkenalkan gedung kokoh yang menjulang angkuh di hadapannya kepada namja berwajah manis di sampingnya dengan bahasa tubuh penuh sahaja dan gaya berbicara yang cukup persuatif. Dan jangan lupakan kedua lesung pipi yang selalu terlukis di wajah tampannya. Kombinasi sempurna sosok Presiden Siswa impian seluruh remaja SMA se Korea.
"Hella damn awesome!", gumam Heechul terpesona. Baginya, gedung setinggi 5 lantai bergaya semi klasikal itu jauh lebih menarik daripada sosok modern seorang Choi Siwon.
"Ayo kita masuk. Upacara penyambutan akan dimulai satu jam lagi.", ajak Siwon ramah. Namun cukup menyadarkan Heechul dari keterpukauannya.
.
"Oh ya, ngomong-ngomong kau masuk asrama apa?", tanya Siwon ketika mereka sampai di lobby utama.
"Asrama?", Heechul mengerutkan keningnya bingung. Reflek keduanya sama-sama menghentikan langkah mereka.
"Iya, asrama. Kau pasti sudah tahu kan kalau ada sistem seperti itu di sekolah ini?"
Heechul nampak memutar otaknya. Dia memang merasa ada yang mengganjal sejak dirinya mengikuti tes masuk 3 minggu yang lalu. Salahkan ia yang terlalu bersemangat, sehingga ia tidak mendengarkan apa yang disampaikan oleh pengawas ujiannya waktu itu.
Melihat Heechul yang nampak berpikir keras. Siwon sedikit banyak mulai paham dengan arah pikir teman barunya tersebut.
"Kau belum mengetahui penempatan asramamu?", tanyanya hati-hati. Takut menyinggung lawan bicaranya.
Kim Heechul menggeleng pelan. Dalam hati ia mengumpat keras. Kalau saja ia tidak terlalu bersemangat saat itu! Dan andai saja ahjussi pengawas ujiannya bersuara seindah Kim Jaejoong.. Pasti ia dengan senang hati mendengarkan ceramahnya dan tidak akan malu seperti sekarang!
Untungnya Siwon adalah namja dewasa yang pengertian. Ia tetap memperlakukan Kim Heechul dengan sabar.
"Kalau begitu ayo kita lihat pengumuman penempatan asramamu."
Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan mereka ke sebuah tempat dimana segala informasi mengenai calon murid baru tersedia.
Setibanya mereka. Sekali lagi Heechul disuguhkan dengan sisi lain dari gedung impiannya ini. Ya, tempatnya sekarang berdiri adalah tempat dimana kita bisa melihat sebuah taman dengan fountain raksasa bergaya Renaissance yang terletak di jantung gedung utama. Membuatnya sejenak lupa akan tujuan awal mereka.
"Di sekolah ini terdapat tiga asrama khusus. Yang pertama adalah asrama Sapphire, asrama khusus yeoja. Yang kedua adalah asrama Blue, asrama khusus namja. Dan yang terakhir adalah asrama Ocean, asrama campuran.", ucap Siwon mulai menjelaskan.
Namun Kim Heechul hanya menganggukkan kepala seadanya. Perhatiannya hanya terfokus pada megahnya gedung sekolahnya kelak.
.
.
"Bagaimana dengan tahun ini?"
Kedua tubuh namja itu otomatis sedikit merenggang. Memberikan ruang untuk Leeteuk yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"Tidak ada perkembangan Hyung. Sepertinya asrama kita memang dikutuk.", ucap Donghae. Salah satu dari kedua namja yang sedari tadi fokus memandangi LCD raksasa dihadapannya.
"Hyukkie bagaimana?", tanya Leeteuk sembari merangkul pundak namja berambut cepak kecoklatan di sebelah kirinya.
Lee Hyukjae, atau yang biasa dipanggil Eunhyuk itu pun hanya bisa membalas tatapan Leeteuk dengan muram. Ia menggeleng lemah dan kemudian menunduk dalam.
"Tidak lolos, Hyung. Aku memang bodoh. Aku tidak akan pernah bisa masuk ke asrama kalian.", ratapnya.
"Gwenchana, Hyukkie-ah.", Leeteuk mengusap punggung Eunhyuk sekilas. "Kita akan tetap bersahabat walaupun kita tidak satu asrama. Selamanya kami akan tetap menyayangimu."
Sontak Eunhyuk langsung mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk. Binar-binar haru terpancar di kedua bola mata jernihnya.
"Gomawo.. Gomawo Hyung..", ucapnya seraya menahan isak tangisnya.
"Kajja, kita ke halaman. Upacara penyambutan akan segera dimulai.", ajak Leeteuk sembari merangkul pundak kedua dongsaeng tercintanya.
"Walaupun tahun ini kita tidak bisa satu asrama, aku janji akan lebih sering main ke asramamu, Hyuk. Kau kan monyet tercintaku~", kata Donghae saat dirinya dan Eunhyuk berjalan sedikit lambat dari Leeteuk.
Tidak ada jawaban. Baik Leeteuk yang telah berjalan mendahului mereka, maupun Lee Donghae yang berjalan di sampingnya. Keduanya tidak ada yang menyadari bahwa kini rona merah padam sedang bersemu di wajah seorang Lee Hyukjae.
.
.
Halaman seluas 70 meter persegi itu kini telah dipadati oleh lautan manusia berseragam biru sapphire yang melambangkan keagungan dari almamater sebuah sekolah menengah atas ternama di Korea Selatan.
Suasana khidmat menaungi prosesi pendiklatan para calon siswa ajaran baru yang berjumlah kurang lebih 300 siswa. Sebuah upacara penyambutan khas yang selalu dilaksanakan setiap setahun sekali.
Barisan itu terdiri dari beberapa banjar dan dibagi berdasarkan tingkatan kelas. Setiap kelas terdiri dari 3 kelompok dengan jenis asrama yang berbeda, yaitu Sapphire yang terdiri dari siswa yeoja, kemudian Blue yang terdiri dari siswa namja. Dan terakhir adalah Ocean, yang terdiri dari siswa namja dan yeoja, alias campuran.
Upacara dimulai dengan pembacaan pidato dari kepala sekolah. Yang kemudian akan diteruskan dengan sambutan dari kepala asrama, presiden siswa, dan komite sekolah.
"Selamat datang para siswa dan siswi baru SM International High School. Selamat atas keberhasilan kalian menembus ujian masuk sekolah ini hingga sekarang kalian telah resmi menjadi penerus-penerus generasi sukses dari SM Internasional."
Tepukan tangan riuh bergemuruh mengiringi upacara pembukaan tahun ajaran baru di salah satu sekolah menengah atas ternama di Korea Selatan ini. Seiring dengan itu, terdengar letupan ringan dari beberapa sudut, lalu muncullah konfeti-konfeti putih yang kini berterbangan menaungi halaman dengan ratusan manusia di dalamnya.
Semua menyambut perayaan tersebut dengan suka cita. Beberapa ada yang merentangkan tangannya lebar-lebar, menengadah menyambut konfeti-konfeti yang berjatuhan, berteriak lepas dan bahkan saling berpelukan.
Tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan selain awal yang baru sebagai titik tumpu dari rangkaian hari-hari panjang yang siap menanti para siswa pilihan ini.
Namun hal tersebut tidak berlaku untuk ia yang kini sedang berada pada lingkaran hidup miliknya sendiri. Lingkaran kecil yang tidak akan pernah melebur dengan lingkaran raksasa disekitarnya.
"Selamat datang di neraka berkedok ilmu pengetahuan, hoobae-deul.", sebuah gumaman singkat disertai senyuman miris tersungging di wajah stoic seorang namja yang berdiri di barisan paling belakang.
.
.
..To Be Continue..
.
.
Itu juga masih termasuk intro teman2~ T^T *tunjuk chapter di atas*
Jangan kabur ya~ Jangan lempari saya pake elpiji~ lempar Donghae aja.. /plak
Eniwei, ini adalah FF chapter pertama saya..
Selama ini saya hanya suka membuat oneshot, dan itupun Hanchul semua..
Sekarang saya ingin belajar membuat FF berchapter, dengan beberapa pairing pula! Omo~ saya nekat sekali~~ T^T
Tapi saya ingin mencoba..
Dan saya mohon dukungan dari readers sekalian..
Saya butuh pendapat, masukan, kritik, saran, koreksi, atau apapun, yang penting membangun..
Jika banyak yang mendukung saya melanjutkan FF ini, saya pasti akan berusaha memberikan yang terbaik.. :)
.
Special Thanks To:
eL-ch4n . rhie sparkyu'min . Cho minyoung . Chwyn . creaamypeachELF . S.J. 1315 . bunny pinka . linftg13 . Lee HyoJoon . PumpkinChoi . Viivii-ken . Secret BlackHeart . winterheenim . RyeoRim . Park Hyo Ra . Choi Sung Mi . Lee Shurri . ressijewelll . cloud3024 . Cho SungHyun . BunnyLu LuV Ming . Gaemdin . Princess kyumin . Teacher . pearl2811 . Kim Minra1709 . Cloud'sHana . kucing liar . RyeoCi69 . ChocoMing
.
Maaf ya saya lagi-lagi belum bisa balas review.. *deep bow*
Jeongmal gomawo buat segala dukungan, saran dan masukkannya.. I love you all~ :'D *hugs*
Semoga chapter ini tidak mengecewakan.. ^^
.
A/N:
-Tidak ada yuri dan straight di sini, just boys love.. :D
-Betul! Judul manganya: Natural Honey Dormitory.. Kkk~ :D
-Saya yeoja, istrinya Kim Heechul.. Bangapseumnida ne.. Hehe..
-Soal pairing, kurang lebih akan sama seperti yang tergambar di teaser.. (read: ch.1) Jadi bagi para pecinta pure couple, teman-teman tidak usah merasa gundah gulana(?) Just trust me! Okeh? ^^b
.
Sorry For:
Any typos..
Eja'an Yang Kurang Sempurna..
Kalimat sumbang, ambiguitas dan poor dictions..
.
Terima kasih banyak bagi yang sudah mau membaca~ ^^
Apa FF ini masih layak untuk dilanjutkan? Kalau masih, ayo tebak siapa main pairnya? ^^
Saya tunggu feedbacknya ya~ dan saya harap tidak ada pair war di sini..
Gamsahaeyo.. SarangHEE~ ^^
