Happy Reading!
Disclimer: Super Junior milik Tuhan YME
This story is MINE!
Cast: Lee Donghae/Aiden Lee, Lee Hyukjae/Eunhyuk, Choi Siwon, Choi Minho, Cho Kyuhyun/Marcus Cho, Jung Yunho, Kim Jongwoon/Yesung/Jeremy Kim, Kim Ryeowook, and other.
Genre: Romance, Action 'gagal'
Rate: T
WARNING!
YAOI/BL/Sejenisnya, Super GJ, M-PREG, super abal, typo(s), EYD dipertanyakan, OOC, dan lain sebangsanya.
.
.
One Hundred Million Dollar Boy
~Secret~
.
.
SEOUL, October 16th 2002
Suara sirine yang keluar dari sebuah mobil ambulance seakan membelah jalan utama kota Seoul. Tiap mobil ataupun kendaraan lain yang berada didepan ambulance tersebut sudah pasti menyingkir guna memberi jalan.
Rumah sakit internasional Seoul merupakan tujuan akhir dari mobil ambulance tersebut. Beberapa petugas keluar dari ambulance dengan tergesa-gesa sembari mengeluarkan dua tandu dorong yang berisi dua bocah dengan kondisi memprihatinkan.
Beberapa bagian dari tubuh salah satu bocah itu dipenuhi luka lebam. Sedangkan tubuh salah satu bocah yang lain terlihat basah, bibirnya bergetar halus menandakan bahwa ia sedang kedinginan, beberapa bagian tubu bocah itu juga dipenuhi luka akibat terjatuh ke dalam sungai dan menghantam beberapa batuan sungai.
Dua bocah itu memang masih hidup namun, denyut nadi mereka sangat lemah.
Keduanya segera dilarikan ke ruang gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan pertama.
.
.
Seorang namja berbadan gempal ditemani seorang lagi namja berwajah cantik menyusuri koridor panjang sebuah rumah sakit, langkah mereka tidak bisa dibilang santai, raut wajah mereka terlihat cemas. Bahkan tangan si namja berwajah cantik itu bergetar hebat menandakan bahwa dirinya sedang ketakutan.
Dua namja yang nyaris berusia 40 tahun itu secara tiba-tiba menghentikan langkah mereka di depan salah satu kamar rawat. Rupanya kamar itulah yang menjadi tujuan mereka.
Mengumpulkan semua keberaniannya, Leeteuk—si namja berparas cantik—dengan cepat membuka pintu dan masuk ke dalam kamar rawat itu.
"OMONA!" Teriak Leeteuk. Namja cantik itu membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya untuk meredam rasa kagetnya. Namja berparas cantik itu berlari kearah dua bocah yang tak sadarkan diri diatas ranjang rumah sakit.
"Mereka sudah stabil, anda tidak perlu khawatir," ucap seorang suster yang ada dalam ruangan itu.
"Dimana kalian menemukan mereka?" tanya Kangin—sang namja berbadan gempal tadi.
"Di kebun dan sungai belakang rumah salah satu anak ini," Jawab sang suster.
"Dimana orang tua mereka?" tanya Leeteuk.
Suster itu hanya bisa tertunduk diam, tak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan Leeteuk.
CKLEK
"Kami sudah mengusahakan yang terbaik. Tapi, saat kami tiba dikediaman itu nyawa mereka sudah tidak bisa ditolong," ucap seorang polisi yang baru saja memasuki ruangan itu. Jung Yunho—polisi itu—memberi isyarat supaya sang suster meninggalkan kamar itu.
"Yunho-ah, jadi kau yang membawa mereka kesini?" Kembali Leeteuk bersuara.
Yunho menggangguk untuk menjawab pertanyaan Leeteuk. Beberapa saat kemudian pandangannya beralih pada sosok Eunhyuk yang masih tak sadarkan diri. "Mereka sudah bergerak, anak itu yang terakhir," ucap Yunho.
"Sudah kuduga hal ini cepat atau lambat akan terjadi," sahut Kangin.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Leeteuk frustasi.
"Hanya ada satu cara," ucap Yunho yakin. Kangin dan Leeteuk menatap Yunho dengan penuh tanda tanya.
"Kita harus menyembunyikan anak itu di suatu tempat, kita buat seolah anak itu sudah meninggal," lanjut Yunho.
"Mereka tidak akan semudah itu mempercayainya apalagi jika tidak ada jasad, kalau pun ada mereka pasti akan membongkar kuburnya dan memastikan dengan mata kepala mereka sendiri bahwa jasad itu benar-benar jasad anak ini," ucap Leeteuk panjang lebar.
"Setidaknya jasad palsu itu bisa sedikit mengalihkan perhatian mereka selama kita menyembunyikan anak itu," sela Yunho.
Kangin mengacak rambutnya frustasi, sebagaian dari dirinya memang menyetujui ide Yunho, namun sebagian dari dirinya yang lain juga menolak ide itu.
"Lalu bagaimana dengan Hae? Dia pasti akan bertanya tentang Eunhyuk, apa Donghae boleh mengetahui hal ini? Supaya dia tidak terlalu sedih."
"Kita harus menyembunyikan ini semua dari Hae, jika Hae tahu hal ini, dia pasti akan mencari Eunhyuk, dan itu hanya akan mengundang reaksi orang-orang tak bertanggung jawab itu," Jelas Kangin. Leeteuk menatap sendu bocah blonde di hadapannya sambil menggenggam erat tangan kecil Eunhyuk. "Mereka akan bertemu lagi chagiya, aku janji," ucap Kangin lembut.
"Malang sekali nasibmu chagiya. Kenapa kau bisa terlahir sebagai Spencer?" ucap Leeteuk lembut sambil membelai surai blonde Eunhyuk dengan penuh rasa sayang.
Spancer adalah nama keluarga besar Eunhyuk. Awalnya nama itu hanyalah sebuah julukan individu bagi kakek Eunhyuk yang berkedudukan sebagai kepala salah satu mafia terbesar di Korea, namun karena kakek Eunhyuk ingin keluarganya memiliki karakter tersendiri dibanding keluarga besar penduduk Korea yang lain, jadilah nama tersebut digunakan sebagai nama keluarga besarnya. Sayangnya nama itu juga lah yang membuat kakek Eunhyuk beserta seluruh orang yang mempunyai hubungan dengannya meninggal. Ada seseorang yang menyimpan dendam pada kakek Eunhyuk dan bersumpah akan menghabisi seluruh keturunan spancer, tak peduli itu dengan tangannya sendiri atau tangan orang lain. Jika orang lain yang berhasil menghabisi seorang Spancer, orang tersebut akan mendapatkan hadiah dari pemilik dendam tersebut—semacam sayembara.
"Bukan anak itu yang harus kita salahkan. Salahkanlah orang-orang serakah diluar sana yang hanya memikirkan harta untuk dirinya sendiri dan tentunya orang-orang yang menyulut api peperangan ini," ucap Kangin ketus.
"Kau benar, mereka bahkan mengumumkan pada seluruh mafia di Korea untuk membunuh semua orang yang berhubungan dengan Spancer dengan imbalan menggiurkan. Cih benar-benar!" geram Yunho.
Suasana menjadi hening sesaat, semua mata yang ada dalam ruangan itu menatap sendu sosok kecil Eunhyuk yang masih betah menutup mata.
"Aku tahu bagaimana menyelamatkan anak itu!" seru Kangin sambil merogoh saku celananya mencari ponsel. Melihat manisnya wajah Eunhyuk, otaknya tiba-tiba menemukan sebuah ide untuk menyelamatkan Eunhyuk. "Semoga mereka bisa membantu." Kangin pun mulai mendekatkan ponsel ke telinganya, tak lama kemudian terdengan suara diseberang sana. Kangin pun tersenyum lega.
.
.
Seorang namja cantik paruh baya ditemani namja tampan berwajah khas Cina tengah duduk manis di samping ranjang rawat rumah sakit sambil menatap sendu seorang bocah berusia 7 tahun. Sesekali namja berparas cantik tersebut mengusap surai blonde lembut milik bocah itu.
CKLEK
Dua namja yang tengah menatap bocah malang itu mengarahkan pandangan mereka pada pintu yang telah terbuka sempurna.
"Kangin-ah, Leeteuk-ah," sapa Hankyung—namja tampan berwajah khas Cina.
"Annyeong Hankyung, Chullie. Gomawo. Aku senang kalian mau menuruti permintaanku Chullie, Hankyung-ah, aku sempat ragu saat mendengar suaramu di telpon tadi," ucap Kangin sambil melangkah mendekati kedua sahabatnya—Heechul dan Hankyung.
"Gwaenchana Kangin-ah. Kau benar, pertama kali melihat anak ini, aku langsung menyukainya. Tapi, kenapa anak ini bisa seperti ini? Dan anak siapa ini?" tanya Heechul prihatin.
"Dia Spancer terakhir."
Hankyung dan Heechul terlonjak mendengar penjelasan Kangin.
"MWO?!" jerit keduanya.
Heechul tidak bisa menahan teriakan histerisnya. Namja cantik itu menatap dan menggenggam erat tangan mungil Eunhyuk, hatinya tiba-tiba merasa iba pada sosok kecil itu. Mata Heechul berkaca-kaca seakan ikut merasakan kesedihan bocah dihadapannya, Heechul tahu benar apa arti Spancer itu.
"Namanya Lee Hyukjae, tapi dia lebih suka dipanggil Eunhyuk, dia anak yang pintar, tapi sayang harus bernasip seperti itu," jelas Leeteuk. Tangannya tergerak untuk mengusap surai blonde Eunhyuk. "Eum... jika kalian tidak bisa merawatnya seperti permintaan kami tadi, tidak apa-apa kok. Kami tidak akan memaksa," sambung Leeteuk sambil menatap ragu-ragu Heechul, akan tetapi dalam hatinya, Leeteuk sangat berharap sahabatnya mau merawat Eunhyuk.
"Aku akan tetap merawatnya, benarkan Hannie?"ucap dan tanya Heechul sambil menatap Hankyung dengan penuh harapan.
Namja keturunan Cina itu tersenyum lembut pada sang istri. "Benar, kami akan merawatnya. Anak ini sudah memikat kami," tambah Hankyung.
Kangin dan Leeteuk menatap pasangan HanChul dengan tatapan tidak percaya, tapi hal itulah yang sebenarnya mereka inginkan. "Gomawo Chullie." Tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, Leeteuk langsung memeluk Heechul. Senyuman tak henti-hentinya terukir di bibir namja cantik pemilik senyum malaikat itu.
'Mianhae, ahjumma tidak bisa merawatmu, tapi sekarang kau sudah berada di tangan yang tepat chagiya,' batin Leeteuk.
.
.
Dua orang berwajah beringas duduk berhadapan dalam satu ruangan yang di dominasi dengan perabotan berwarna coklat pekat. Salah satunya merupakan seorang harmoni dan yang satu lagi adalah seorang namja beringas yang baru saja melakukan pembantaian terhadap keluarga Eunhyuk. Keduanya nampak serius.
"Jadi apa kau sudah memastikannya Sooman-ah? Apa yang dimakamkan benar jasad anak itu?" tanya sang harmoni santai.
"Itu bukan dia, itu hanya boneka lilin yang dibuat menyerupai anak itu." Harmoni itu mengerutkan dahi bingung, namun beberapa saat kemudian seringaian mengerikan muncul dari bibirnya.
"Aku sudah menduganya, mereka memang pintar. Dan sekarang, apa kau tahu dimana anak itu?" tanya sang harmoni, dan hanya dijawab dengan gelengan lemah oleh Sooman.
BRAAAKKK
"Bagaimana kau bisa kehilangan anak itu? Payah!" bentak sang harmoni.
"M-Mianhamnida, pihak rumah sakit tidak memberitahu sedikitpun informasi tentang anak itu, data tentang anak itupun tidak ada, ditambah lagi ada kepala polisi Jung juga di sana. Sangat sulit untuk mencari informasi tentang anak itu."
"Yunho? Ish namja itu!" Harmoni itu mengepalkan tangan menahan amarahnya, suasana hening sesaat "Apa 'dia' juga ada disana?" tanpa perlu harmoni itu menyebutkan sebuah nama, Sooman bisa langsung mengerti siapa yang dimaksud harmoni itu.
Sooman menganggukan kepalanya pelan.
Harmoni itu menyandarkan tubuh lemahnya dan menghela nafas berat.
.
.
SEOUL, October 18th 2002
Hanya ada dua tanda kehidupan di dalam rumah besar kediaman keluarga Tan, dapur dan sebuah kamar. Di sana, di dalam sebuah kamar yang didominasi warna biru muda, terdapat 4 orang yang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Salah satunya adalah seorang namja paruh baya bernama Hankyung, namja tampan itu tengah duduk bersila sambil melipat tangannya didada, matanya mengawasi gerak-gerik anak-anaknya. Disebelahnya ikut duduk putra pertamanya yang bernama Siwon, usianya sepuluh tahun. Bocah itu sedang sibuk menidurkan seekor anjing cihuahua coklat yang baru beberapa hari lalu dibawa pulang oleh kedua orang tuanya bersama seorang bocah yang manis, namun sayang bocah manis tersebut datang dalam keadaan pingsan. Masih ada lagi dua anak Hankyung dalam ruangan itu, keduanya berada di atas ranjang, hanya saja yang satu sedang tidur dan yang satu sedang memperhatikan bocah yang tertidur itu.
"Hannie apa dia belum bangun?" tanya Heechul yang baru saja memasuki ruangan, ditangannya terdapat sebuah nampan yang berisikan teko, beberapa cangkir dan juga sekantong infus.
Hankyung menggeleng.
"Eomma, appa, hyung!"
"Ya, Minho-ah! Jangan berteriak didekat dongsaeng-mu!" Seru Heechul kesal.
"Eomma dia bergerak, Hyuk bergerak!" teriak Minho antusias.
Heechul dan Hankyung tak percaya dengan apa yang dikatakan Minho, namun mereka tetap berjalan mendekati Eunhyuk diikuti Siwon untuk memeriksa keadaan bocah berumur tujuh tahun yang sudah lama tidak membuka mata itu.
"Ya! cepat buka matamu!" ucap Minho tak sabar.
PLETAK
Satu jitakan sayang(?) dari Heechul berhasil mendarat dikepala Minho yang tidak sabaran.
"Aduuuuh." Minho merintih sambil memegangi kepalanya dan menatap sang eomma yang tadi menganiaanya dengan tatapan sebal.
Eunhyuk membuka matanya, setelah pandangannya menajam diedarkan pandangannya keseluruh ruangan itu. ASING, kata pertama yang terlintas dibenaknya saat memperhatikan ruangan itu, terlebih saat ia melihat orang-orang yang tak pernah ia jumpai sebelumnya.
"Aigoo, dia terlihat jauh lebih manis saat bangun, benar kan Hannie?" Heechul hampir meneteskan airmata menahan rasa bahagianya karena melihat sosok Eunhyuk telah bangun dari tidur panjangnya. Namun, tak lama kemudian Heechul harus menahan rasa bahagianya karena Eunhyuk menunjukkan ekspresi lain, ekspresi yang tidak ingin ia lihat saat ini.
"Hiks Hiks" isakan kecil terdengar dari bibir Eunhyuk.
"Waeyo chagiya?" tanya Heechul sambil mendudukkan dirinya disebelah Eunhyuk, menggeser posisi Minho yang dari tadi tidak beranjak dari samping Eunhyuk.
"Eomma, appa, hiks, Hue~" tangisan Eunhyuk langsung pecah tanpa aba-aba, semua yang ada diruangan itu kebingungan.
"Gwaenchana chagiya... uljima.. eomma dan appa ada disini. Mulai sekarang kami orang tuamu, kami keluarga barumu. uljima, ne?" ucap Heechul lembut, sepasang tangannya yang ramping tergerak untuk memeluk tubuh kecil Eunhyuk, mengusap punggung Eunhyuk penuh rasa sayang.
Merasakan tulusnya kasih sayang dalam tiap belaian Heechul, Eunhyuk mulai tenang, meskipun matanya masih mengucurkan airmata.
"Eomma dan appa dibunuh oleh ahjussi itu. Hiks Hiks."
Heechul dan Hankyung saling melempar pandangan terkejut. Mereka tidak mengetahui jika Eunhyuk melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika orang tuanya dibantai. Perasaan sayang dan keinginan untuk melindungi yang dimiliki oleh Heechul semakin besar.
"Kau sudah aman disini chagiya, eomma jamin orang itu tidak akan berani kesini. Sekarang jangan menangis lagi ya," pinta Heechul lembut. Namja cantik itu terus mendekap Eunhyuk sampai akhirnya bocah yang baru saja menjadi anaknya itu tertidur kembali. 'Benar-benar malang, sampai-sampai dia harus melihat kematian kedua orangtuanya.'
.
.
SEOUL, October 31th 2002
Eunhyuk terlihat senang bermain dengan Minho dan Siwon, senyuman terus terukir diwajah cantik Eunhyuk, bocah berumur 7 tahun itu mulai bisa menerima keluarga barunya, meskipun kenangan tentang keluarga lamanya masih belum bisa ia lupakan.
Eunhyuk memang harus melupakan masa lalunya yang suram dan menyambut masa depan cerah yang telah dijanjikan keluarga itu.
.
.
Dalam tidurnya Eunhyuk terlihat tak tenang, tubuh kecil itu berguling kesana kesini, badannya terasa gerah, kejadian naas beberapa minggu yang lalu masuk dalam mimpinya. Eunhyuk mengigau dalam tidurnya, sampai ia rasakan sebuah tangan mendekapnya, memberikan rasa nyaman dalam tidurnya, menghapus semua mimpi buruk nyata itu dan akhirnya Eunhyuk kembali tenang dalam tidurnya.
.
.
SEOUL, January 1th 2007
Eunhyuk dan Minho tengah bersembahyang di depan 3 makam, yang mana salah satu dari makam itu bertuliskan 'Lee's Child'. Hari ini untuk pertama kalinya Eunhyuk diberi ijin oleh Heechul untuk mengunjungi makam orang tuanya dan makam palsunya sendiri.
Hankyung dan Heechul sudah menceritakan semuanya pada Eunhyuk. Dari luar bocak cantik yang kini berumur 12 tahun tersebut memang terlihat tenang, tak menunjukkan reaksi negatif, namun dalam hati Eunhyuk mulai tumbuh sebuah api dendam.
Kini, yang ada dibenak Eunhyuk hanya satu yaitu membalaskan dendam keluarganya dan menemukan orang yang telah membantai keluarganya.
Selesai sembahyang Eunhyuk menatap nanar kedua makam orang tuanya, tanpa terasa air matapun menuruni pipi Eunhyuk yang sedikit tirus.
"Gwaenchana?" tanya seorang pemuda tampan yang sejak tadi menemani Eunhyuk di pemakaman.
"Nan gwaenchana, Minho-ah."
Dengan kasar Eunhyuk mengusap air mata yang mengalir itu dengan punggung tangannya supaya pemuda tampan yang bernama Minho itu tidak lagi menanyainya.
"Jinjja?" tanya Minho lagi. Namja tampan itu benar-benar menghkawatirkan Eunhyuk, selama ini Minho tidak pernah melihat Eunhyuk serapuh ini—setidaknya setelah Eunhyuk membuka mata untuk pertama kali di hadapannya.
Eunhyuk mengangguk lemah dan Minho hanya bisa terdiam. Minho tau jika saat ini Eunhyuk tidak baik-baik saja, tapi tidak ada gunanya memaksa Eunhyuk untuk menceritakan semua kegundahan hatinya dalam keadaan seperti ini, bisa-bisa Minho tidak akan disapa Eunhyuk selama satu minggu karena telah memaksa Eunhyuk bercerita.
Minho menghela nafas berat dan ikut menatap tiga makan yang ada di depannya, secara tidak sengaja mata elang itu menangkap sebuah hal aneh di atas makam palsu Eunhyuk.
"Hyuk, apa kau tadi membawa bunga lili kesini?" tanya Minho sembari menunjuk satu buket bunga yang ada diatas makam palsu Eunhyuk.
"Ani! Aku hanya membawa satu buket aster china."
Merasa tak membawa bunga itu Eunhyuk tak ambil pusing, Eunhyuk kemudian pergi meninggalkan pemakaman setelah memberi hormat pada makan orangtuanya.
Tapi berbeda dengan Minho, bocah yang lebih tinggi dari Eunhyuk itu masih terdiam dihadapan makam palsu Eunhyuk sambil menerka siapa kira-kira orang yang menaruh bunga itu. "Apa eomma? Appa? Atau mungkin hyung?"
.
.
SEOUL, August 6th 2007
"Chullie kita harus segera mengirim anak-anak ke China," ucap Hankyung panik.
"Waeyo?"
"Mereka benar-benar bergerak sekarang. Tidak ada waktu lagi Chullie! setidaknya mereka tidak akan mengejar sampai ke China, jika mereka mengetahuinya aku akan menggunakan hak kewarganegaraanku untuk meminta perlindungan, itu juga yang disarankan Kangin padaku."
"Tapi Hannie, aku tidak ingin berpisah dengan Hyukkie."
"Aku juga tidak, tapi saat ini keselamatannya dan juga anak-anak lebih penting."
Heechul pasrah, dan akhirnya namja yang masih terlihat cantik tersebut menyetujui apa yang diucapkan Hankyung.
.
.
CHINA, April 2th 2012
Di sebuah restoran yang terletak di pusat kota Beijing, di sana terlihat seorang namja cantik bersurai redbrown tengah sibuk menempelkan ponsel pada telinganya menunggu sebuah jawaban dari seberang sana.
/"Yeobosaeyo?"/
"Eomma, bogoshippo!"
/"Nado Bogoshippo Hyukkie chagi."/
"Eomma, kapan aku boleh pulang ke Korea? Wonnie hyung dan Minho sudah eomma pulangkan, apa eomma tega membiarkanku disini sendirian? Aku kesepian eomma! Apa eomma mau anak eomma yang imut ini diserang 'seme' pervert karena tidak punya pengawal disini?" rengek Eunhyuk.
/"Ya! Tan Hyukjae, jangan macam-macam! Kau harus tetap disana!"/
"Tapi aku mau pulang eomma! Aku rindu eomma, appa, hyung, Minho dan yang lain,." ucap Eunhyuk dengan suara yang ia buat serak, seakan-akan ingin menangis. Namja manis itu sangat yakin dengan cara ini sang eomma pasti akan luluh.
/"Huft, arrasseo. Kau akan pulang besok dengan penerbangan pertama, kau puas sekarang, chagiya?"/
Sekalipun kesal, tidak ada yang bisa Heechul lakukan saat Eunhyuk sudah menunjukan sikap seperti itu. Heechul memang kesal karena Eunhyuk bertingkah semaunya, tapi jika dia tetap bersikeras menahan Eunhyuk di China, Heechul tidak bisa membayangkan kemarahan putra cantiknya itu.
Eunhyuk meletakan ponselnya saat Heechul mengakhiri sambungannya secara sepihak, kemudian menyeringai.
"Lihat saja, aku akan kembali, dan kau, yang telah membuatku seperti ini, harus mati di tanganku. Tunggulah, cepat atau lambat aku akan menemukanmu dan mengakhiri permainan ini," gumam Eunhyuk sambil menggenggam kalungnya.
.
.
SEOUL, April 3th 2012
~Eunhyuk POV~
Disinilah aku sekarang, tempat pemakaman kedua orangtuaku dan tentunya makam palsuku, sungguh sulit dipercaya aku masih bisa berdiri disini sampai saat ini, jika bukan karena keluarga baruku yang amat sayang padaku, mungkin aku sudah menyusul kedua orang tuaku dan makam palsuku ini pasti berisi jasad ku yang sesungguhnya..
Appa, eomma, aku datang, aku sudah kembali. Bogoshippo appa, eomma, apa kalian juga merindukanku? Appa, eomma, diam-diam aku sudah banyak mengumpulkan informasi tentang 'orang itu', aku akan segera menemukan orang yang telah membuat kita seperti ini, aku akan mebalaskan dendam kalian dan saat semua ini selesai aku akan menyusul kalian.
Aku memberi hormat pada tiga makam dihadapanku dan segera melangkahkan kakiku untuk meninggalkan tempat ini, namun entah setan apa yang tengah menahanku saat ini.
Demi apapun, kakiku terasa kaku, tak bisa digerakkan.
Aku menunggu rasa kaku dikakiku menghilang sambil mengedarkan pandanganku kesekitar pemakaman, sampai akhirnya mataku berhenti pada sebuah benda yang selalu aku temukan saat aku mengunjungi makam ini, sebuket bunga lili putih, kali ini juga ada strawberry cake kesukaanku, tapi siapa yang melakukan semua itu? Apa mungkin Minho kesini? Tidak! Dulu saat pertama kali aku menemukan bunga itu, Minho malah menanyakan siapa yang meletakkan bunga itu di makam palsuku, pasti bukan Minho, lalu siapa?
Saat kuamati bunga lili itu, tiba-tiba memori diotakku berputar, menampilkan sesosok bocah berumur 10 tahun yang pernah memberiku setangkai lili merah, namun aku membuangnya dan memintanya membawakanku setangkai lili putih, aku ingat betul siapa dia, Hae hyung, raja ikan paling pervert diseluruh lautan.
Benar juga, sudah lama sekali ya aku tidak bertemu dengannya, seperti apa rupanya saat ini? Apa dia makin pervert? Jadi dia juga menganggapku sudah meninggal? baguslah, semakin sedikit yang mengenalku semakin baik.
Bagaimanapun, gomawo hyung, kau masih menginggatku, mengingat semua yang aku sukai.
Rasa kaku di kakiku perlahan menghilang, aku mengangkat wajahku hingga menghadap langit. Bagaimanapun juga, terima kasih karena Engkau masih mau memberikan kasih sayangmu padaku, setelah Kau mengambil kedua orang tuaku.
.
.
Seperti biasa, saat aku berkumpul dengan keluargaku eomma pasti memanjakanku seperti seorang yeoja kecil, bukannya aku tidak senang, tapi itu sedikit berlebihan bukan untuk seorang namja berusia 17 tahun. Selesai makan malam aku memilih beristirahat dikamarku. Badanku terasa lelah, mataku sangat berat, aku berusaha keras untuk tidak tertidur karena ada satu hal yang ingin aku kerjakan, namun ternyata mataku tak sekuat itu, perlahan pandanganku mengabur dan aku tertidur tak beraturan diranjangku.
.
.
Saat mimpi buruk itu kembali datang, lagi-lagi aku merasakan sebuah tangan mendekapku erat, berusaha menenangkanku yang mengigau dan memang dia berhasil. Aku sangat tenang dalam pelukannya. Aku pernah berfikir bahwa tangan yang aku rasakan adalah tangan dewi mimpi yang sedang berbaik hati untuk mengusir mimpi buruku, tapi itu mustahil. Hal-hal seperti itu hanya ada dalam dongeng anak kecil saja kan?
Saat merasakan semua itu, kesadaranku sebenarnya sudah kembali namun mataku masih tidak mau terbuka. Pernah sekali aku berusaha keras membuka mataku demi melihat seseorang yang menenangkanku tersebut, saat itu juga aku merasakan tangannya perlahan melonggar.
Setelah pintu kamarku ditutup dengan sangat pelan barulah aku bisa membuka mataku dengan sempurna. Ini bukan pertama atau kedua kalinya, tiap kali aku bermimpi buruk tangan itu selalu mendekapku, siapa sebenarnya dia? apa itu hantu? Tidak! Pasti itu bukan hantu, tangannya sangat hangat, itu pasti manusia. Ya Tuhan, bisa-bisanya aku 'parno' seperti ini. Aish, kenapa hidupku jadi seperti ini?!
~Eunhyuk End POV~
.
.
Seorang namja brunette tampan dengan setelan tuxedo putih tengah duduk santai disudut ballroom hotel berbintang, matanya terus berkelana kesana-sini mengamati satu persatu manusia yang tengah menikmati sebuah pesta yang diselenggarakan dalam ruangan itu.
Manik mata namja tampan itu terhenti tepat pada sosok namja paruh baya yang wajahnya nampak tak asing baginya.
Namja paruh baya itu menoleh pada sosok namja brunette yang tengah menatapnya intens.
"Catch me if you can, Aiden!" gumam namja paruh baya itu sambil menyeringai ke arah namja brunette yang dipanggilnya dengan sebutan Aiden.
Namja brunette itu bangkit dari tempat duduknya kemudian mengikuti langkah santai namja paruh baya itu. Sayangnya, langkah namja brunette itu harus terhenti ketika dua orang berbadan gempal menghadang langkahnya.
"Apa kalian sudah bosan hidup, huh?" tanya namja brunette itu tajam. Dua orang berbadan gempal yang menghadangnya hanya mencibir.
Namja brunette tampan itu menabrakkan dirinya pada dua sosok gempal dihadapannya namun, kedua orang itu tak bergeser sedikitpun dari tempat mereka berdiri.
Perlahan 10 orang berbadan gempal keluar dari persembunyian masing-masing dan mengerubungi namja brunette tampan itu. Para tamu yang ada dalam ruangan tersebut mulai ricuh menyaksikan kejadian yang tidak direncanakan itu.
"Jadi kalian ingin bermain curang, huh? Kalian tidak akan menang dariku jika hanya mengandalkan otot kalian, bodoh!" ucapnya tajam. Namja brunette tampan itu mulai menyerang satu persatu lawannya, bukan hal yang sulit untuk saat ini, namun keadaan berbalik saat segerombolan lain muncul dan menyerang namja brunette tampan itu.
"Shit!" Namja brunette itu mengumpat mengetahui lawannya bertambah banyak.
/"Aiden, cepat keluar dari sana, jangan memancing kerusuhan."/
Suara yang berasal dari alat komunikasi yang terpasang ditelinga namja brunette itu membuyarkan sedikit konsentrasi namja brunette itu.
/"Aiden! Lee Donghae! cepat keluar dari sana!"/ bentak suara itu.
"Berisik!" umpat sang namja brunette.
Namja brunette tampan itu, melepas dan melempar benda yang terpasang ditelinganya, tak sedikitpun peduli pada seseorang di seberang sana.
Tak tahan melihat lawan-lawannya yang semakin banyak, namja brunette tersebut dengan cepat mengeluarkan dua senapan dari balik jas putihnya dan...
DOOR
1, 2, 3, 4, 5 ,6, 7, 8 ,9, 10
10 lawan berhasil dilumpuhkan dengan mudah oleh Donghae. sisanya berusaha melarikan diri karena keadaan tidak seimbang. Percuma melawan jika tidak memegang senjata, mereka tidak menyangka jika Donghae sangat mahir menggunakan senjata laras pendek itu.
Tak puas dengan itu, Donghae terus menembaki semua penjahat yang berusaha kabur darinya sampai akhirnya mereka semua terkapar tak berdaya.
Donghae berjalan mendekati salah satu korbannya, tak ada satu pun orang yang berhasil lolos darinya. Donghae menjongkokkan badannya dan menarik kasar rambut salah satu orang yang sudah tidak berdaya itu.
"Apa yang kau ketahui tentang Sooman?" tanya Donghae tajam. namun sayang karena kondisi lawan yang nyawanya sudah diujung tanduk, Donghae tak bisa mendapat jawaban yang ia inginkan. Dihempaskannya tubuh lemah itu setelah tak bernyawa dan pergi begitu saja. "Cepat atau lambat kau akan kutemukan, Sooman."
.
.
Eunhyuk terduduk resah menunggu seseorang di sebuah cafe, berulang kali ia melilirik jam tangan yang ia kenakan sambil berharap seseorang yang ia tunggu segera muncul dihadapannya.
Setelah satu jam menunggu dengan raut wajah cemberut, akhirnya Eunhyuk mengembangkan senyuman manis saat melihat seorang namja imut berpipi chubby berjalan menghampirinya.
"Maaf En He ge, kau pasti bosan menungguku, kan? Gege kapan sampai di Korea? Bukankah kemarin saat mencariku gege masih di Cina?" tanya namja chubi itu.
"Gwaenchana henry-ah, mungkin aku yang terlalu cepat datang kesini, aku sampai kemarin malam," jawab Eunhyuk.
Peemuda berpipi chuby itu menggangguk paham.
"Eum... Apa kau membawa apa yang aku minta?" lanjut Eunhyuk.
"Ne." Henry mengeluarkan sebuah amplop coklat besar dan mengulurkan amplop tersebut pada Eunhyuk.
Dengan sigap Eunhyuk mengambil amplop itu, membuka, mengeluarkan isi amplop dan menelitinya lembar demi lembar. Tak lama kemudian Eunhyuk sudah selesai dengan isi amplop itu.
Eunhyuk menatap tajam Henry, namja imut yang ditatap oleh Eunhyuk terlihat sedikit tak nyaman, Henry tahu benar arti tatapan itu. Henry mengerti jika hasil kerjanya tidak memuaskan.
"Maafkan aku ge, aku sudah berusaha semampuku, tapi sepertinya aku tidak bisa menemukan orang yang kau cari," ucap Henry sambil tertunduk.
Eunhyuk menghela nafas berat mendengar jawaban polos Henry, "Apa tidak ada data lain?" desak Eunhyuk, namja berparas manis itu tentu saja belum mau menyerah.
Terpaksa Henry memutar otaknya. Namja imut itu memperhatikan wajah Eunhyuk beserta penampilannya dari atas hingga bawah. Tak lama kemudia Henry menjentikan jarinya dan tersenyum penuh arti kearah Eunhyuk.
Demi apapun, Eunhyuk bisa merasakan firasat buruk saat melihat sennyuman Henry. "Ya! Mochi, jangan memandangiku smbil tersenyum sepetri itu!" pekik Eunhyuk.
Namja berpipi chubby itu tersenyum tanpa dosa saat mendengar bentakan Eunhyuk.
"Ada satu cara untuk menemukan orang itu ge," ucap Henry dengan nada yang dibuat semisterius mungkin.
"Cepat katakan mochi! jangan berbelit-belit!" teriak Eunyuk tak sabar.
Henry menghela nafas dan mulai merogoh tas yang ia bawa.
"Tapi kau harus menggunakan 'sisi lain'mu jika ingin berhasil. Jika tidak, mungkin ini akan sedikit sulit ge," ucap Henry sambil mulai mengutak-atik sebuah ipad yang baru ia keluarkan dari tasnya.
Eunhyuk nampak bingung, perkataan namja berwajah imut itu sama sekali tak dimengerti Eunhyuk.
Setelah cukup lama tangannya menari(?) di atas layar gedget canggihnya, namja berpipi chubby itu menyodorkan ipadnya pada Eunhyuk.
"Untuk apa kau menunjukkan padaku gambar ini, aku bukan mau mencari jodoh mocha!"
Henry menghela nafas frustasi. Ingin sekali Henry membenturkan kepalanya ke meja karena mendengar kata-kata polos yang keluar dari namja cantik yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri sewaktu ia duduk di bangku SMA di Cina. Tapi Henry sadar jika pertanyaan Eunhyuk tadi terbilang wajar karena Henry tidak mengeluarkan sepatah katapun sebelumnya untuk menjelaskan gambar yang ia tunjukan pada Eunhyuk.
"Ge, mereka itu KDY, salah satu agen rahasia Korea, mereka lebih cocok membantumu saat ini, aku dengar mereka belum pernah gagal dalam satu misipun, kau tinggal memilih," ucap Henry.
"Benarkah? Woah. Menurutmu yang cocok untuk mencari informasi tentang Sooman yang mana?" tanya Eunhyuk dengan mata berbinarnya.
Henry menepuk jidatnya mendengar kepolosan Eunhyuk untuk yang kedua kalinya.
"Ah, Aku lupa menjelaskan. Namja yang memiliki senyum evil serta kulit pucat itu bernama Marcus Cho, dia sangat teliti dan pandai, dia pemilik Sparkyu, sebuah bar yang ada di seberang jalan itu," ucap Henry sambil menunjuk sebuah bangunan yang ada di seberang jalan.
"Lalu, namja yang kepalanya besar itu Jeremy Kim, dia mahir dalam merekomendasikan senjata, kecepatan analisanya hampir sama dengan marcus, jika sedang terpojok kadang otaknya sering memunculkan ide-ide brilliant, dia pemilik Y Style, mungkin gege pernah mendengar nama itu sebagai toko akesories, tapi itu hanya kedok ge, ada ribuan benda yang tidak pernah gege duga dalam Y style. Sebenarnya Jeremy Kim adalah pedagang senjata api, dan itu masih satu bangunan dengan Sparkyu."
Eunhyuk mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti dengan penjelasan Henry.
"Namja brunette ini bernama Aiden Lee, dia pemilik showroom kendaraan mengagumkan keluaran Eropa, dia sangat gesit dan emosional kabarnya dia itu pembunun berdarah dingin. Dia juga sangat mahir menggunakan senjata api."
Eunhyuk ternganga mendengar penjelasan terakhir Henry.
"Dan dari kesemua itu mereka punya satu kesamaan, pervert. Dan yang paling penting serta alasanku merekomendasikan mereka adalah, karena mereka sama-sama menyukai type orang sepertimu ge, mereka sama sekali tidak tertarik dengan yeoja-yeoja seksi sekalipun yeoja-yeoja itu menari stripteas di hadapan mereka. Mereka lebih tertarik dengan namja berwajah cantik sepertimu ge. Kau tau, mereka akan langsung berubah menjadi serigala kelaparan jika melihat orang sepertimu," ucap Henry dengan nada yang dibuat seseram mungkin.
Eunyuk sedikit bergidik ngeri saat mendengar penjelasan Henry. Pemuda berpipi chuby itu benar-benar berhasil membuat Eunhyuk berfikir untuk tidak jadi meminta bantuan pada salah satu dari tiga namja tampan yang bru saja dijelaskan Henry.
Beberapa saat Eunhyuk menimbang untuk menolak ide yang ditawarkan Henry, tapi jika mengingat bahwa ia tidak bisa lagi meminta bantuan pada siapapun, Eunhyuk segera membuang jauh rasa ragunya. Namja manis itu tak punya pilihan lain selain memilih salah satu dari anggota KDY yang harus ia mintai pertolongan.
"Jadi kau memilih yang mana ge? Aku jamin jika meminta bantuan pada salah satu dari mereka, kau pasti dapat menemukan orang yang kau cari itu," ucap henry.
Eunhyuk menunjuk salah satu gambar KDY. "Dia."
Henry tersenyum penuh arti mendapati keputusan Eunhyuk.
"Aku yakin kau pasti segera bisa menemukannya, ge," ucap Henry mantap.
Eunhyuk mengangguk menyetujui perkataan Henry. "Semakin cepat semakin baik."
.
.
Seorang namja brunette berjalan sedikit gontai di sebuah pemakaman, pemandangan yang sangat tidak pantas bila mengingat tubuhnya yang sedikit berbentuk.
~Donghae POV~
Entah mengapa jika berada ditempat ini aku selalu lemah, aku tidak menyukai diriku yang seperti ini, aku juga tidak menyukai tempat ini. Jika bukan karena Hyukkie ada di tempat ini aku tidak akan mau mengunjungi tempat ini.
Kuhentikan kakiku tepat didepan makam Hyukkie "Hai," sapaku lemah. Aku sangat tahu jika saat ini Hyukkie ada dihadapanku dia pasti sudah berlari ke arah ahjumma Lee dan berkata "Eomma jauhkan aku dari ikan pervert itu". Huft, dia itu memang sangat lucu, dia suka sekali mengataiku dengan kata-kata yang tidak ia tau artinya, seperti kata pervert itu.
Hah, mungkin jika hari itu aku tidak memaksanya bermain dirumahnya, dan memaksanya bermain di tempat lain, pasti saat ini dia masih bersamaku.
"Saengilchuka Hyukkie..." ucapku lirih, kuletakkan sebuket lili putih, dan strawberry cake di atas makamnya.
"Bogoshippo Hyukkie." Ini memang konyol, sudah 10 tahun Hyukkie pergi, tapi aku tak juga bisa melupakannya, kerinduan yang kurasakan semakin hari rasanya semakin bertambah. Entah kenapa tapi aku tidak bisa berhenti memikirkannya, aku tetap merasa Hyukkie masih hidup. Tapi aku tau bahwa ini pemikiran yang konyol, aku melihat dengan mataku sendiri jasad Hyukkie dimasukkan ke dalam peti mati dan dikubur, walaupun eomma tidak mengijinkanku menyentuhnya.
Tuhan, kenapa Engkau mengambilnya? Kenapa bukan aku yang kau ambil?
~Donghae End POV~
.
Tanpa aba-aba setetes air mata meluncur menuruni wajah tampan Donghae. Sungguh, hal yang sangat tidak pantas untuk dilakukan oleh seorang yang mendapatkan julukan pembunuh berdarah dingin.
'TAP'
Donghae mendongakan kepalanya, merogoh bagian belakang jasnya, bersiap mengeluarkan senjatanya saat menyadari kehadiran seseorang di makam itu.
"Aku tidak pernah menyangka seorang pembunuh berdarah dingin sepertimu bisa menangis di tempat seperti ini," ucap orang itu.
Dengan cepat Donghae berbalik dan menghadap pada orang tersebut.
"Aku sedang tidak ingin bermain-main denganmu," balas Donghae. Dan entah sejak kapan senapan Donghae sudah berada tepat di jidat namja yang menghampirinya.
.
.
(T.B.C)
.
.
Inilah hasil dari perbaikan saya.
Saya tau FF saya ini masih jauh dari kata sempurna, saya sudah berusaha yang terbaik buat benerin FF ini, dan bagi siapa saja yang masih menemukan kekurangan dalam FF saya ini ataupun yang lain, saya harap jangan sungkan untuk meberitahu ke saya ya.
Untuk semua pihak yang sudah memberikan perhatian lebih pada FF saya ini, saya benar-benar mengucapkan terimakasih.
tanpa kalian semua FF ini tidak akan jadi seperti ini. Neomu Gamsahamnida.
Special thanks to:
nyukkunyuk, Kamiyama Kaoru, lucifer84, anchovy, RieHaeHyuk, Amandhharu0522, love haehyuk, kyukyu, anchofishy, dhianelf4ever, Chwyn, potatostar, hana ryeong9, ShillaSarangKyu, SSungMine, cosmojewel, ressijewelll, rianalupamelulu, minmi arakida, 333LG, Dyna, skyMonkey3012, AULN KEY, Melodyna, AidenLee15, AranciaChru, Arit291, Asha lightyagamikun, Bloody Angel From Hell, Elf hana sujuCouple, Haehyuk addict, Isnaeni love sungmin, JeJeSalvatore, Kamiyama Kaoru, Kim Ji Yoon, Lee Ah Ra, Lee Eun Jae, Lee Eun In, Lee Hyuk Nara, Park Min Gi, Qhia503, RianaTrieEdge, haehyuk86, kei20wu, loupeu, myhyukkiesmile, nanda0404137 ryeosomNia14, saranghaehyukkie, Arum Junnie, Lee Ah Ra, anchofishy, kyukyu, maria8, athena137, dew'yellow, Eunmi2210, nevi lee onyu, christina, Riyu, dinie teukie, I was a Dreamer, Aiyu Kie, AyaKYU, Anami Hime, Me Naruto, nhoerhyuk'jae Elf EunHae, dinEunHae, Fitri jewel hyukkie, sweetyhaehyuk, nurul. p. putri, okoyunjae, Anonymouss, Haehae, Kim Ji Yoon, SilverBling, KyuMinEunHae30, vi-H2, plsgoaway, Lee Chan88, nhoerHyukjaeEunHaeElf, nvptr, hana ryeong9, heeli, , RianaTrieEdge, aya clouds, KimRyeonii, Mrs. EvilGameGyu, Kim In Sook, MyDecember, FisyMonkey, WooChaHyunHyuk8, sullhaehyuk, Jung En-Yeon,0212echy, Asha lightyagamikun, Ayugai Risa, JeJeSalvatore, KimRyeonii, Lee Hyuk Nara, fallforhaehyuk, loupeu, shovariah, sweetink, Thania Lee, aninda. c. octa, and any reviewer who use GUEST name.
NB: Yang namanya belum disebutkan segera kasih tau Rizuka ya!
Gamsahamnida! #bow
