JUST YOUR ORDINARY ROMCOM STORY.
By maplerivers
Oga kayaknya ketularan Misaki-neesan suka nonton Sinetron. – Furuichi
~00~
Kedatangan Hildegarde.
Langit Ishiyama di sore hari mendung gelap tak seperti biasa, petir mulai menyambar-nyambar pohon-pohon besar di sepanjang jalan Ishiyama. Namun demikian, belum ada setetes air pun yang jatuh ke permukaan bumi. Dan orang-orang pun kemudian bergegas untuk mencari tempat bernaung.
Tidak demikian dengan Oga Tatsumi, mata nyalangnya semakin lebar terbuka meski belasan tubuh yang terluka parah akibat kepalan tangannya terkapar di kakinya dan tidak ada satupun yang sepertinya cukup kuat untuk berdiri. Namun kehadiran sosok dengan jubah hitam beludru menutupi kepala itu lah alasannya. Dia tahu sosok ini. Sosok yang beberapa bulan lalu menemuinya lalu memutuskan untuk menghilang dari hidup sang Tatsumi Oga.
Berandalan Top Ishiyama itu masih belum berkedip meski air hujan telah mulai menetes. Sosok dalam jubah itu kemudian memuka parasolnya, hanya dengan satu tangan, Oga sendiri tidak yakin apa itu yang ada di tangan kanannya.
Belum pernah sekalipun pemuda yankee itu merasa gugup dalam hidupnya, jadi dia tidak yakin perasaan berat di ulu hatinya itu adalah kegugupan.
Mengenyampingkan situasi gelap dan menegangkan yang mirip dengan film-film bertema horror itu, Oga Tatsumi mulai melangkah menghampiri sosok berjubah itu. Meskipun dia tidak takut apapun, namun dia masih percaya Tuhan itu ada, dan sosok gelap ini masih dibawahnya.
"Oga Tatsumi," suara pelan terdengar terucap dari bibir pucat pemilik parasol merah jambu itu.
Oga bergeming, setelah berbulan-bulan menghilang tanpa meninggalkan apapun bagi pemuda itu, sosok ini muncul kembali. "Oga," sosok itu kembali memanggilnya. Entah karena kedinginan, atau memang suara aslinya demikian, suaranya terdengar seperti rintihan dari neraka.
Meskipun akhirnya berhasil menelan ludahnya, Oga tidak berniat untuk berkata apapun pada orang didepannya. Hujan semakin deras membasahi tubuh Oga, angin kencang mulai bertiup dan jubah yang menutupi kepala sosok itu tersingkap.
"Hilda."
Benar, setelah berbulan-bulan menghilang tanpa jejak, tak meninggalkan sehelai rambutpun, hampir membuat gila Oga dan sekarang, muncul begitu saja. Oga tidak tahu apakah dia lega karena telah menemukannya atau malah benar-benar kehilangan akal warasnya.
"Onegai.." sebuah kata permohonan terlontar dari bibir gadis berambut pirang itu sebelum akhirnya tubuhnya ambruk tepat didepan Oga. Lebih cepat dari yang ia sendiri duga, Oga berhasil menangkap tubuh gadis itu. Tepat setelah Oga menangkapnya, suara nyaring memilukan terdengar dari buntelan yang tersembunyi dibalik jubah yang dikenakan oleh Hilda. Tangisan dari Baby Beel.
~00~
Meskipun sudah sering –hampir membunuh orang. Semua orang di sekolahan takut dengannya, Kakak kelasnya yang Touhoshinki juga sudah takluk dengannya. Tidak ada lagi anak sekolahan yang berani menatapnya lebih dari lima detik, bahkan kucing tetangga berlari ketakutan karena wujudnya, tapi sungguh hanya Misaki, kakak perempuannya sendiri satu-satunya yang bisa membuat Oga tidak berkutik.
Bukan karena mereka sedang duduk di ruang keluarga –yang sangat dekat dengan dapur –yang banyak menyimpan senjata (benar, Oga menyebut panci dan wajan sebagai senjata, komplimentari dengan pisau) dan bukan pula fakta bahwa saudari tuanya itu pendiri Red tail. Oga menganggap itu bukanlah sebuah prestasi mengingat sebagian besar anggota Redtail perempuan –yang lemah. Melainkan alasan utama mengapa Oga duduk di kursi kepala. Orang tuanya memang tidak menampakkan ekspresi yang tidak begitu berarti. Tapi Misaki.
Sungguh, Misaki sangat seram. Oga memang tidak akan mengakui bahwa dia takut pada Misaki –saat ini, tapi dia mengakui kesalahannya. Meskipun Misaki masih berusaha menanggapi dengan kepala dingin dan belum mau menuduh Oga –yang memangku Baby Beel yang bermain-main dengan makanan yang seharusnya dia makan, tentang gadis yang dia bawa pulang dan Bayi yang menempel dengannya. Tapi Oga tahu apa yang terbaik yang bisa dia lakukan adalah diam, tidak mengeluarkan satu pun suara, takutnya dia akan salah ngomong lalu Misaki ngamuk dan tamatlah riwayat Oga, si Raksasa mengamuk.
Oh iya, Hilda tidak bersuara sedari tadi karena orang itu masih belum sadarkan diri. Oga menggendongnya pulang dengan seorang bayi diatas kepalanya. Hujan-hujan dengan petir yang saling menyambar, banyak orang yang mengira dia akan membuang Hilda dari jembatan melihat ekspresi Oga yang entah menahan sakit di wajahnya yang babak belur atau menahan berat yang dibawanya, yang jelas gambaran setan tidak ada apa-apanya dengan seramnya wajah Oga kala itu.
Secara ajaib Oga bisa sampai rumah.
Terdengar suara lenguhan pelan, kembali Oga tidak yakin apa dia harus merasa lega atau meneruskan rasa khawatirnya. Hilda bangun dan bisa dipastikan akan terjadi huru-hara di kediaman Oga.
Ibu Oga dan Misaki membantu Hilda untuk bangun dan memberinya air minum. Setelah dirasa dirinya cukup kuat, Hilda langsung berlutut di depan keluarga Oga, yang tentu saja terkaget-kaget. Ditambah dengan Baby berambut hijau yang langsung meronta dari pangkuan Oga dan minta diturunkan. Padahal sebelumnya bayi itu terlihat tenang. Setelah mendapat apa yang diinginkannya, bayi lucu itu lalu merangkak dan duduk di dekat Hilda.
"Perkenalkan nama saya Hildegarde, dan Bayi ini adalah Beelze, -adah! Mulai hari ini, tolong terima kami sebagai anggota baru keluarga anda, kalian bisa memanggilku dengan Hilda saja"
CTAARRRR!
Itu bukan efek suara lebay dari kepala Oga yang serasa hampir meledak mendengar kalimat panjang Hilda, tapi petir dari hujan badai diluar yang masih berlangsung. Memang sepertinya Oga sedang dalam acara drama yang dibuat live dan ekslusif oleh Tuhan.
"CHOOOOOOOOOOOTO MATTE KUDASAI TEME!" Oga seketika histeris bak pemeran antagonis yang ditangkap polisi karena terbukti melakukan genosida sebuah keluarga dengan memasukkan detergen di tanki air. Meski begitu, dengan teriakan menggelegar Oga, keluarganya tidak tersadar dari keterpakuan mereka setelah mendengar kalimat yang meluncur dari mulut Hilda. Berbagai spekulasi muncul di kepala mereka.
'K-k k-keluarga baru?'
'Apa-apaan ini? Seorang gadis cantik yang dibawa pulang Tatsumi ingin menjadi anggota baru keluarga ini?'
'P-p-payudaranya besar..'
'Bayi itu…'
"Apa maksud perkataanmu oi! Bagaimana bisa kamu sesantai itu mengatakan hal ini?" Oga mengomel-omel tidak karuan sementara Hilda menutup matanya sambil tersenyum sinis, dia memang sengaja tidak memberitahukan rencana ini sebelumnya, takutnya Oga akan menolaknya mentah-mentah.
"hm, bukannya dulu kamu berkata akan bertanggung jawab menjadi ayah anak ini?" Hilda tersenyum miris. Hatinya sebenarnya teriris perih mengatakannya. Melanggar janjinya sendiri.
'Menjadi ayahnya?!' Tiga kepala berbeda memikirkan hal yang sama, Ayah, Ibu dan Kakak perempuanya Tatsumi langsung cengo mendengarnya.
"ITU DULU, BUKANNYA KAMU SUDAH MENOLAKNYA TAWARANKU?!"
"Huh, apakah semudah itu kau melupakan apa yang terjadi diantara kita?" Hilda bertanya pada Tatsumi, terang saja ekspresi semua orang adalah melongo.
'APA YANG TERJADI DI ANTARA KALIAN?!' jerit batin anggota keluarga Tatsumi.
".. setelah apa yang kau lakukan padaku…" Hilda sepertinya tahu bagaimana menambahi bensin pada obor yang menyala.
'KAMU MELAKUKANNYA YA TATSUMI, DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI….!' Ayah Tatsumi sampai tidak bisa mengeluarkan suaranya, jadi dia berteriak-teriak dalam hati.
".. yang kuminta sekarang hanyalah kau sebagai ayahnya, mau merawatnya," Hilda melirik Beelze yang bermata bola memandang Ayahnya yang rahangnya sudah mencapai lantai.
"Tatsumi, kau harus merawat mereka! Bagaimana pun setelah kau menghasilkan bayi ini!" Ayah Tatsumi akhirnya histeris, sementara Ibu Tatsumi yang hanya memandangi anak laki-laki satunya dengan tatapan tak terbaca itu kemudian melangkah mendekati Beelze.
"ibu.." Tatsumi memandangnya pelan, melihat sang ibu terpekur melihat bayi imut itu.
"TATSUMI…" dengan mata yang sudah berubah warnanya memanggil adiknya. Dia harus memberi anak ini pelajaran. Melihat ibunya sendiri hilang kata-kata setelah melihat hasil kelakuan Tatsumi, Misaki memutuskan untuk mengirim Tatsumi ke neraka.
"B-Beelze..?"
…
Hening.
"Nah, Beelze-kun selamat datang di rumah, ah kamu sangat mirip dengan ayahmu…"
Gubrak.
Bersambung…
hai, hallo, holla..
Perkenalkan, saya Maplerivers.
Ini fic pertama saya loh disini, terimakasih atas semua tanggapannya ya..
ini fic terinsipirasi dari pertanyaan Furuichi tentang kenapa Oga hidupnya kaya settingan drama komedi romantis dan episode pertama anime Beelzebub.
tentang setting cerita ini ngambil beberapa dialog di anime dan manganya, tapi kalau waktunya kuubah, supaya gak aneh aja, anak kelas 1 SMA udah punya anak, jadi Oga dan Hilda adalah anak SMA biasa, gak ada demon-demonan, akuma-akumanan atau iblis-iblisan. Kalopun Oga nyebut Hilda iblis itu cuma perumpamaan aja. Tiada Makai di antara kita.
Nah, segitu dulu ya. Maafkan kalo kemarin saya sudah seperti jalangkung, datang tiba-tiba pergi gak pamit ato apa, ngilang gak dianter.
Sampai ketemu di chapter selanjutnya. Ja na
