Share...
.
.
.
Hai Minna-san
Otha kembali dengan fict gaje bin abal ini...
Otha minta maaf tentang chapter kemarin yang terkesan sangat memaksa. Anchur bin Mahrudin.
Sesuai Janji, Otha sudah berusaha membuat fic ini lebih baik. Tapi, apakah reader sendiri puas? Tolong beri komentar tentang fic ini. Semoga berkenan... ^_^
Tapi sebelum itu, Otha mau membalas review yang udah masuk.
Tantand~- Iya, Otha udah update nhe. Gomen kalau telat. Thx udah Review. ^_^
Hiru'Na' Fourhthok'og~- Iya, Kita belajar sama-sama yach. Kalau soal masalah Senpai... ~itu lah bodohnya saya~, udah tidak bisa bahasa Jepang, sok-sok'an pake bahasa Jepang lagi.
Karna itu, sebagai pelajaran pertama, maukah kau menjadi *Halaaaah*, Maukah dikau mengajarkan daku bahasa Jepang? (Lebay mode:on PLUS Puppy eyes).
Hippo ~- Bukan salah ketik, tapi pas lagi nulis, udah nggak kepikiran sama hal itu. Pokoknya pikiran ane melayang. Makanya saya bilang "~itu lah bodohnya saya~". N satu lagi, Aib gue, gue buka sendiri nhe. Waktu SMA saya nggak pernah masuk sekolah. Bolos terus kerjanya. Pas lagi pelajaran yang saya suka baru saya masuk. Baru sekarang, udah nyampe bangku kuliah, baru rasa sulitnya gak ketulungan. hehe Sory, Curhat. Nggak apa-apa kan? hehe.
Dani No Baka~- Cuman satu yang saya mau bilang, lagi. "~Itulah bodohnya saya~". Tapi thankss ya udah muji fict ini. Padahal saya saja nyesel udah nge-publish ni fict ancur. Tapi nggak apa-apa udah kepalang basah. TEROBOS KEDEPAN... hehehe Gomen!
Oke Mina-san. CEKIDOTTT!
Disclaimer : Aku ngak mau nyari perkara. Naruto Belong to MASASHI KISHIMOTO. Aishiteru belong to CLOWN OF ITACHI-SAN. Jangan bilang ini punya lo Juga (PLAKK). Iya-iya gue cuman pinjam Chara-nya doang, Sensitif amat.
Rating : K+ T (Ralat Caphter kemarin. Boleh ya!)
Pairing : Naruto x Hinata
Genre: Romance/Humor
Warning : AU, OOC, TYPO bertebaran Ngak tau pada kabur kemana, alur berbelit, Anchur ngak karuan. Gara-gara Mahrudin tuh.
Summary : Naruto sudah bertemu dengan Hinata, adik kelas yang tak pernah di lihatnya. Ia langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Ia terus mencari cara untuk bisa mendapatkan hati Hinata, namun kelihatanya sedikit sulit. Sementara Sasuke mengatakan sesuatu yang membuat Naruto terkejut setengah tiang dan memohon-mohon pada Sasuke agar tidak melakukannya. Apa yang sebenarnya ingin dilakukan Sasuke hingga Naruto kaget setengah hidup? Dan apakah Naruto berhasil mendapatkan hati gadis pujaan-nya? Just Need a several minutes to read and please REVIEW;
AISHITERU
Chap. 2
Disebuah kelas dilantai dua Konoha High School, terdengar keributan dari dalam kelas itu. Ya, tidak sampai mengundang kepala sekolah untuk masuk dan menegur mereka sih. Tapi, apa yang menyebabkan mereka ribut sih? Apa tidak ada guru yang mengajari mereka?. Halah, dari pada aku memeras otak sendiri tak jelas, mari kita lihat apa yang sedang dilakukan oleh anak-anak itu didalam kelas. CEKIDOT.
"Eh, Kakashi-Sensei hari ini tidak masuk untuk mengajar ya?" kata seorang siswa berambut bob hitam, bermata bulat besar, beralis tebal, bermulut tipis, berhidung mancung, berHMPP HMPP... *Dibekep pake sendal jepit*.
"Oh, Kakashi-Sensei, palingan dia lagi sementara mengolesi minyak pada jam karet-nya agar semakin lentur dan sekalian saja, selamanya tidak usah masuk lagi kekelas ini" kata Kiba sedih bercampur senang ditambah haru kemudian ditebarin amarah? pada gurunya sambil membaca buku dan mendengarkan lagu dari earphone-nya.
"Ah, Pasti dia lagi pergi mengejar edisi terbatas Icha-icha Paradise hingga tidak sempat datang kesekolah. Iya, kan Shika?" timpal Chouji beranjak dari tempat duduknya mengambil minuman energi yang ada dimeja Kiba dan tanpa ijin, langsung meminumnya tanpa beban.
"Mendokusai.."jawab Shikamaru malas sambil menguap lebar.
"Ahhhh, Chouji apa yang kau lakukan pada minuman energi ku Hah?" Kata Kiba meninggikan suaranya kesal sambil menunjuk botol minuman yang sudah selesai diminum Chouji.
"Apa? aku'kan hanya meminumnya sedikit?" balas Chouji dengan muka polos, Innocent.
"Sedikit mata lu katarak. Lihat, tinggal botolnya doang" gerutu Kiba sambil *PLANGG* membanting botol itu di lantai kelas.
"Ihh.. Kiba, perhitungan sekali sih kamu sama teman sendiri" goda Chouji sambil memajukan wajahnya didepa wajah Kiba dan mengedipkan mata kanannya.
"ARGGGHH... terserah kau lah" seru Kiba kesal sambil mengacak-ngacak rambutnya sendiri.
"Eh, Kiba, kamu kepikiran sesuatu nggak?" Sergah Naruto yang ahkirnya membuka mulut yang sedari tadi terkunci.
"Apa!" tanya Kiba ketus sekaligus kesal pada Chouji dan Naruto yang mengerjainya pagi tadi.
"Gini, kitakan kelas 12 IPS 2, kan. Tapi kenapa ada pelajaran kimia?" selidik Naruto dengan wajah serius.
"Tidak tau tuh..!" jawab Kiba sekenanya sambil kembali pada kegiatan awalnya, yaitu membaca buku dan mendengar music dari earphonenya (Kiba menyetel Volumenya tidak terlalu keras).
"Tidak tahu bagaimana. Kamukan yang pagi-pagi udah nyerocos tentang PR Kimia. Aku hanya melakukan apa yang aku baca dinaskah!. Gimana sih?" gerutu Naruto sambil memanyunkan bibirnya kedalam ?.
"Jawabannya simple. itu, Author goblok-Nunjuk author yang lagi ngelap kaca-, salah menulis naskah, atau lebih tepatnya sengaja melakukannya. Dan yang lebih bodohnya lagi, si Bences Karat Orochimaru ikut-ikutan masuk dalam perangkapnya dan masuk dalam kelas ini. Tujuan author goblok itu adalah membuat Sasuke sengsara dikejar-kejar Orochimaru. itu Jawabannya. Menurut aku sih." jawab Kiba santai sambil membalikkan halaman buku yang dibacanya.
"Ooo. Jadi Author itu.. heh?. Mana author nista itu? tadi di jendelakan?"
"Palingan udah kabur. Kayaknya dia tahu kalau kita sudah tahu Aib-nya."
"Sial, cepat sekali lari. Padahal aku baru mau ngasih dia pelajaran... huh dasar" kata Naruto geram.
"Oh.. Iya, kalian mau dengar cerita ku tidak?" kata Naruto yang sudah hilang greamnya, sambil melirik Shikamaru yang sedang tidur sambil senyum-senyum sendiri, sesekali ia menghisap kembali ilernya yang telah membanjiri meja. Entah apa yang tengah dimimpikannya.
Kiba berdehem meliirik Naruto , maksudnya agar Naruto tidak menceritakan kejadian nista pagi tadi, Naruto mengangguk mengerti apa yang dimaksudkan Kiba.
"Okelah kalau begitu. Apa ceritamu?" tanya Lee yang mulai tertarik tentang apa yang akan diceritakan Naruto.
"Jadi begini..." Naruto menghentikan sejenak ceritanya kemudian berpindah tempat duduk didepan Chouji dan Lee yang mulai berwajah serius. Kiba kembali membaca bukunya santai.
"Saat aku dan Kiba baru pulang dari kantin, aku bertemu seorang adik kelas kita. Dia manis sekali. Tanpa sengaja aku..."
"Halah.. itu palingan cuman mimpi lu doang, Dobe" Potong Sasuke yang sedang berdiri santai didepan pintu kelas mengagetkan ketiga orang yang sedang bercerita dan diceritakan dengan serius.
"Hah? Teme, kamu bisa kabur dari Orochimaru-sensei juga ya?" tanya Naruto yang masih belum yakin. Pasalnya (pasal berapa bang), beberapa yang menit yang lalu dia masih melihat Orochimaru masih mengejar Sasuke seperti film India yang biasa ditontonnya.
"Huh, memangnya kau pikir orang tua bangka itu bisa menyamai kecepatan ku hah?" jawab Sasuke sombong.
"Oh" Naruto hanya ber'oh ria. Kemudian dengan tiba-tiba ia mendapat'kan sebersik harapan (?) untuk mengerjai Sasuke yang masih berjalan pelan dari pintu ketempat duduknya. Ia menyeringai Licik.
"AHHH, SASUKE AWAS. DIBELAKANGMU ADA OROCHIMARU-SENSEI..." teriak Naruto dengan muka khawatir yang dibuat-buat.
"A-apa" tanpa menoleh ke belakang dan merasakan curiga pada temannya itu, ia langsung nyunsep bersembunyi di kolong meja seorang siswa yang ada didepannya. Dia was-was. Jantungnya berdeguk kencang DUK...DUK. Tidak lama kemudian ia mendengar suara siswa-siswi dalam kelas tertawa keras menguncang kelas itu.
HAHAHAHAHA. Karna merasa aneh, ia keluar dari tempat persembunyiannya itu dan langsung menatap Naruto yang sedang terkikik geli dengan tatapan membunuh.
"DOBEEEEEEE!" teriak Sasuke kesal kemudian berlari kearah Naruto hendak memberi pelajaran pada Dobe-nya itu. Naruto langsung sigap menggambil gerakan. sontak ia langsung lari menaiki meja, menuruni kursi, menaiki kursi, menuruni meja ketika melihat Sasuke sudah ada didekatnya.
"AMPUUN TEME, NGAK LAGI-LAGI"
"HALAH.. KEMARI LOE DOBE. CHIDORIIIIII"
"ADOOOOWW PANTATKU,.. AMPUNNNNNN"
"HEY, JANGAN LARI LOE DOBE"
"AMPUNNNNN!"
Aishiteru
Sementara dikelas lain atau lebih tepatnya kelas 11 IPA 1.
Terlihat seorang guru sedang menerangkan pelajaran pada murid-muridnya. Guru itu berambut panjang merah (?), pupil matanya beriak, seperti iak air, memakai setelan wanita karier dengan jas berwarna silver. Guru yang cantik. Jadi ingat ibu gue, hah... (Inget-inget tempoe doeloe).
Kelas itu sangat tenang, anak-anak mendengar dengan serius materi yang diberikan oleh guru cantik itu. Ada yang maen hape narsis sambil foto-foto diri sendiri, ada yang main mobil-mobilan remote kontrol, ada yang main layang-layang(?), ada yang main boneka barbie, jelangkung bahkan ada yang maen lompat tali dalam kelas. Apakah ini yang dinamakan dengan kelas yang tenang?, Sudah pasti jawabannya tidak. Ini lebih tepat disebut Taman Kanak-kanak atau Taman anak Autis bertaraf internasional. Ya, tak apalah, si guru cantik itu pun tampaknya tidak ambil pusing dengan keadaan itu.
"Jadi, kalimat di bedakan menjadi dua jenis yaitu kalimat majemuk dan bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla..." Kata guru cantik itu panjang lebar tampa intonasi yang jelas dan tidak memperhatikan tanda baca titik atau koma. Pokoknya lurus wussssss. Wong kelihatan gurunya GENDENG, ya muridnya juga ikutan SABLENG. "PLAKK *di tendang Kurenai*.
HANYA SELINGAN...
~~~^w^~~~
"Oii, Hinata..." panggil ehm, Ino pada ehm, Hinata yang di depannya.
"Iya. Ada-apa Ino~?" jawab dan tanya ehm, Hinata tanpa menoleh kebelakang.
"Cowok tadi siapa?" tanya Ino penasaran sambil mencoel-colek punggung Hinata.
"Apa..." Jawab Hinata lagi tampa menoleh.
"Itu, cowok yang tadi pagi?"
"Apaaan sih..."
"itu, Cowok yang pada jam istirahat jalang, ee jalan bareng kamu"
" Ada apa sih Ino, aku tidak dengar apa yang kamu katakan" kata Hinata sedikit tinggi kemudian menoleh ke belakang dan melepas earphone yang terpasang ditelingga-nya.
"Hi-hinata..." kata Ino gugup.
" Apa sih,.." tanya Hinata sedikit kesal karna Ino telah menggangu aktivitasnya !.
"Ehemm"
"Ini siapa lagi sih yang toel-toel" kata Hinata kesal sambil menepis dengan kasar tangan yang mencoleknya dari belakang. Alangkah terkejutnya Hinata, saat melihat Kurenai berdiri melipat tangan di dada.
"Eh,.. Ku-Kurenai-sensei" Sapa Hinata sambil tersenyum malu pada gurunya itu.
Kurenai tersenyum ramah membalas senyuman Hinata kemudian kembali ke meja guru. Hinata membuang nafas lega. Kurenai mengambil sebuah spidol kemudian menulis sesuatu di papan tulis. Murid-murid bengong melihat apa yang ditulis Kurenai. Mau tahu apa yang ditulis Kurenai?, Nih...
~HYUGA HINATA, YAMANAKA INO. KELUAR DAN BERDIRI DIDEPAN KELAS!~
Hinata dan Ino lansung bangkit dari tempat duduk mereka tanpa membantah sedikit pun dan mulai berjalan keluar dengan tertunduk lesu.
Sakura terkikik geli.
Kemudian Kurenai menulis lagi di papan tulis.
~HARUNO SAKURA. KAU JUGA!.~ (Nih guru gak punya bacot ya?)
"Tapi sensei, aku kan han..." Bantahan Sakura terhenti saat ia melihat Kurenai menunjuknya, kemudian menarik kembali tangannya dan menarik sebuah gari horizontal didepan bibirnya sendiri. Dan ahkirnya menunjuk pintu keluar.
Sakura menaruh buku yang dari tadi dipegangnya dan mulai berjalan keluar dengan kesal.
"Oke kita lanjutkan contoh kalimat majemuk adalah sebagai bla bla bla bla bla..." Kata Kurenai melanjutkan pelajaran.
Di luar kelas.
Hinata dan Ino sedang berdiri melipat tangan sambil menyandarkan diri dipintu kelas. Mereka berdua membisu, mungkin masih kesal sama guru Bahasa yang tak mengenal tanda baca dan intonasi itu. Hingga ahkirnya Sakura keluar kelas dan memecah keheningan.
"Kamu diusir juga ya Forehead" tanya Ino sedikit senang.
"Kenapa?, kelihatannya kau senang sekali, Pig" Balas Sakura ketus.
"Yaiyalah. Kalau hanya kami berdua ngak rame. Kita bertigakan disebut THE THREE MUSKETIR FROM DOTA, YEI!" teriak Ino Narsis sambil melompat.
Kurenai berdehem dari dalam kelas. Sakura dan Hinata bersweetdroop ria.
"Kamu dapat semboyan itu dari mana sih Pig? kedengarannya Norak banget deh!" kata Sakura yang sudah bangun dari sweetdropnya. Hinata mengangguk.
"Hehe, Nggak tahu, Cuman keceplosan saja. Hehe" jawab Ino terkekeh malu.
"Tapi, kenapa kamu juga ikut diusir sih, Forehead?" sambung Ino.
"Gara-gara kalian tahu!"
"Hah?, kok gara-gara kami sih?. Perasaan kami ngak ngundang kamu untuk ikut sibuk dalam kelas?"
"Maka dari itu. Karna tingkah menggelikan kalian berdua, aku secara tak langsung jadi ikut terlibat dan sibuk ketawa-ketiwi. Dan ahkir Kurenai-sensei melihatku dan menyuruhku keluar" terang Sakura panjang lebar.
"Oww... gitu. Kalau begitu Forehead, kamu harus berterima kasih kepada kami, karna kami telah menyelamatkan'mu dari ocehan tidak jelas si 'Miss Bacot' itu. Iya kan Hinata?" ceker Ino sambil melirik Hinata yang dari tadi diam mendengar mereka berdua mengoceh.
"I-iya" Jawab Hinata yang udah kembali ke sifat aslinya.
"Hmm, 'Miss Bacot'? apa tuh?" tanya Sakura bingung.
"Gini, tadikan Kurenai-sensei marah tanpa menggunakan mulutnya. Jadi aku dan Hinata sepakat memberikannya nama 'Miss Bacot". Miss itu hilang, truss kalau bacot aku dengar-dengar artinya mulut. jadi kalau disimpulkan artinya 'Nona nggak punya mulut'. hehehe" terang Ino
"heheh Ngaco. tapi Boleh Juga tu hehehe..." jawab Sakura setuju.
"Oh iya. Hinata, Kamu belum menjawab pertanyaanku" serang Ino pada Hinata yang sedang terkekeh pelan.
"Eh?.. Pe-pertanyaan a-apa?" Jawab Hinata bingung
"Itu. Tentang Cowok yang tadi pagi jalan bareng kamu"
"Eh? Co-cowok ma-mana sih, ino?" tanya Hinata yang kelihatan mulai gugup.
"Eit. Tunggu. Apa kalian nggak ingin melibatkanku dalam pembicaraan ini?. Cowok apa sih?" tanya Sakura yang ikut melibatkan diri tanpa disuruh.
"Jadi gini Forehead. Tadi waktu aku dikantin, aku melihat Hinata berjalan dengan seorang cowok. Dan cowok itu membantu Hinata membawa buku-buku yang Hinata bawa buat pelajaran si 'Miss Bacot', bener gak Hinata?" terang Ino lagi.
"Ya-yang mana sih? a-aku ti-tidak ingat tuh?" bohong Hinata yang mulai berkeringkat dingin.
"Oh ya?, Apa perlu aku mengatakan ciri-cirinya Hinata?" goda Ino.
Hinata berkeringat dingin. Bulir-bulir keringat sebesar biji nangka telah menjamah kening putih mulusnya. Ia menatap Ino dan Sakura yang sedang menyeringai licik. Seram katanya. Ia sudah tidak dapat bertahan lagi dari godaan kedua sobatnya itu. Ahkir dia memejamkan matanya kemudian berteriak sekuat tenaga.
"IYA. IYA... NAMANYA NARUTO. UZUMAKI NARUTO. HANYA TEMAN!" teriak Hinata lancar tanpa cacat, alias nggak pake batu bata. Setelah selesai berteriak, ia membuka matanya dan terkejut melihat Kurenai berdiri didepan kelas bersama anak-anak lain (-Ino, Sakura) yang menunjukkan kepala mereka dari bawah ketiak Kurenai yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Gomen.. Kurenai Sensei" Hinata langsung berbungkuk meminta maaf seraya menyembunyikan mukanya yang memerah.
"Sekali lagi kalian bertiga membuat keributan maka..." Kurenai menghentikan perkataannya dan dilanjutkan dengan Jari telunjuk kanannya yang menarik garis horizintal di lehernya, kemudian kembali memasuki kelas.
'Gila nhe guru. Kayak preman pasar malam aja. Auranya menyeramkan' batin Sakura menggerutu karna merasa ngeri melihat Kurenai.
"Oh, gitu toh. Jadi hanya teman saja.." kata Ino yang sudah bersandar santai ditembok pada Hinata yang masih membungkuk.
"Eh I-ino..." Hinata terkejut dan berdiri tegak menatap Ino.
"Bener nih hanya teman saja, kamu benar-benar sama sekali gak tertarik sama dia, hah?" Goda Ino.
"Eh.. itu. I-iya cu-cuman teman kok" jawab Hinata ragu..
"Ooo, Kalau begitu kamu nggak marahkan kalau aku mengambilnya sebagai pacarku kan?" Lagi Ino menggoda Hinata yang sudah mandi keringat.
"Eh? Ino..." Hinata menatap ino bingung.
"Aku juga ah, kalau melihat ekspresi kalian berdua, kayaknya cowok itu tampan. Aku juga mau menjadikannya pacar." timpal Sakura ikut-ikutan.
"Eh Sakura?" Lagi. Hinata menatap kedua temannya itu bingung.
"Nggak bisa Forehead. Kamukan udah punya sasaran. Si Uchiha itu.."
"Ya, hanya sebagai batu loncatan kalau Sasuke menolakku.."
"Pokoknya nggak bisa FORE HEAD!"
"Kamu harus terima Pig, ini persaingan..."
"Pokoknya nggak bisa. DASAR TESTA JENONG SELUAS LAPANGAN GOLF...!"
"APA? DASAR BABI BELANDA TERUSAN AFRIKA.!"
"FOREHEAD"
"PIG"
"FOREHEAD"
"PIG"
"CUKUPPPPP!. KALIAN BERTIGA BERDIRI DILAPANGAN! SEKARANGGGGGG!"
"I-IYAAAA SENSEI"
Aishiteru
"APAAAAA?" teriakan cempreng seorang Naruto memecahkan gendang telinga temannya yang berada disampingnya, Sasuke.
Mereka berdua telah selesai dari kejar-kejaran mereka dan ahkirnya mereka berhenti diatas atap sekolah. Mereka berdua merebahkan diri diatas sebuah bangku panjang dan mengatur nafas setelah berlari memutari sekolah 10 kali. Ampun!.
Mereka saling bercerita, hingga ahkirnya, seperti diatas, Naruto berteriak sehingga Sasuke menutup kedua telinganya karna takut virus-virus tingkat akut yang keluar dari mulut Naruto menyerang telinganya (?). Biaya THT kan mahal. *Kakuzu mode: ON*.
"Hushh, Dobe. Jaga tuh Monyong. Nggak bisa apa, kamu berteriak pelan saja?" bentak Sasuke sambil menurunkan tangannya dari telinga.
"Gomenn! Teme. Tapi, apa harus kamu melakukan itu?"
"Tidak cara lain, Dobe. Aku sudah tidak tahan dengan Bances Karat itu" kata Sasuke memberi tekanan pada kata Bances Karat.
"Tapi Teme. Apa kamu tega pada Dobe-mu ini. Aku akan kesepian"
"Aku tidak tega, tapi... OH KAMI-SAMA, APA DOSAKU HINGGA ENGKAU MEMBERIKAN COBAAN MELEBIHI KAPASITAS BERAT BADAN CHOUJI, CHOUJI SAJA TAK SANGGUP AKU PIKUL APA LAGI COBAAN-MU INI. AKU TIDAK BISA MENINGGALKAN SAHABAT BAIK'KU, DOBE. DAN LAGI, AKU BELUM MENYATAKAN CINTA PADA SAKURA-CHAN, BORO-BORO MENYATAKAN CINTA, JALAN BARENG SAJA TIDAK PERNAH, APA LAGI KENALAN. KAMI-SAMA BANTULAH AKU. CABUTLAH COBAAN MU" doa Sasuke sambil berlutut menyatukan kedua tangannya didepan wajahnya dan mendongak menatap langit biru.
GUBRAK!. Naruto jatuh dari bangkunya.
"Hah?. Dobe, kamu tidak apa-apa?"
"Tidak. tidak apa-apa" jawab Naruto sambil mengelus benjol dikepalanya akibat benturan keras dengan lantai atap.
TENG TENG TENG TENG TENG TENG...
"eh..? itu bel pulang sekolahkan?" tanya Naruto pada Sasuke yang masih menatapnya khawatir.
"Iya. Memang kenapa?" tanya Sasuke
"Tidak ada apa-apa. Aku pergi dulu yah, ada janji" kata Naruto kemudian berlari meninggal Sasuke. Namun ia berhenti dan berbalik menatap Sasuke yang masih duduk dibangku atap.
"Teme. Kamu tidak usah pindah sekolah. Soal Orochimaru-sensei biar aku yang urus. Aku pergi dulu ya. Daaaa!" kata Naruto sebelum ahkirnya berbalik dan meninggal kan Sasuke.
Sasuke menatap Naruto. Ia terus menatap arah naruto pergi hingga ahkirnya berbalik dan mendongkak wajahnya menatap langit biru. Senyum tipis terbentuk di wajahnya.
"Hn" gumamnya.
Aishiteru
Dikelas 11 IPA 1.
Anak-anak sedang bersiap-siap untuk kembali kerumah mereka masing-masing. Tidak bisa dibayangkan betapa senangnya mereka bisa kembali ke rumah setelah hampir setengah hari memeras otak dan keringkat disekolah.
Tidak terkecuali, tiga cewek cantik kita. Yang tadi disuruh berdiri dilapangan sekolah malah merubah haluan ahkirnya nyungsep di kantin sambil bergosip ria. Dasar, anak muda jaman Doeloe.
"Hinata, kamu pulang sama Neji-San ya?" tanya Sakura pada Hinata yang masih menaruh buku-bukunya dalam tas. (Benar gak tuh embel San nya?)
"I-Iya. Tadi Aniki bi-bilang dia mengantar ku pu-pulang" jawab Hinata.
"ooO... Kalau begitu kamu duluan ya Hinata" sergah Ino sambil mengandeng tangan Sakura dan berjalan keluar kelas.
"I-Iya" jawab Hinata. Tapi...
"HINATA!" Naruto muncul didepan kelas dengan suara cempereng dan berlari menghampiri Hinata yang kaget atas kedatangannya.
"Hinata, jadikan kita pulang bareng?" sergah Naruto pada Hinata yang masih terkejut.
"Eh? Ta-tapi aku su-sudah ja-janji dengan aniki pu-pulang bareng" jawab Hinata gugup.
"oh.. Begitu.." kata Naruto sedikit kecewa. DUKK
"Sudah tidak apa-apa emmm" kata Ino mendorong punggung Hinata sehingga Hinata sedikit terdorong kedepan Naruto sambil memasang wajah Inocent pura-pura tidak tidak mengetahui nama Naruto.
"Ohhh.. Naruto. Uzumaki Naruto. Salam Kenal" Sergah Naruto memperkenal diri.
"Oh.. Iya Naruto-san. Pergilah bersama Hinata. Soal Aniki Hinata nanti kami yang urus. Tapi jangan sampai lecet, awas ya..." Kata Ino sambil tersenyum manis.
"Eh, iyah. Terima kasih ya. Nanti tolong sampai kan pada Aniki Hinata kalau aku, Si Naruto inilah yang mengantar Hinata pulang" kata naruto bangga ? sambil menepuk-nepuk dadanya pelan.
"Eh, Iya. Nanti kami sampaikan pada Neji-san.." timpal Sakura sambil tersemyum manis juga.
"Eh? Neji" guman Naruto pelan sambil bergidik ngeri. Bagaimana tidak, Neji adalah ketua OSIS sekolah itu yang terkenal dengan ke'seram'annya.
"Ada apa Naruto-san?" tanya Sakura bingung dengan ekspresi Naruto.
"Eh tidak apa-apa. Kalau begitu kami pergi dulu ya. Oh iya, Soal yang tadi tidak usah dikatakan pada Neji. ya sudah, Daaa" kata Naruto terburu-buru kemudian meraih pergelangan tangan Hinata dan menyeretnya paksa berlari keluar kelas.
"Dia lucu ya..." kata Ino yang tersenyum melihat tingkah Naruto.
"Iya, Banget. Kalau dia tidak mengincar Hinata, pasti aku akan mencalonkan diri sebagai pacarnya" kata Sakura sambil melihat pintu kelas arah Naruto dan Hinata pergi.
Di tempat parkir...
Naruto celingak-celinguk mencari sepeda motornya yang terselip di antara kendaraa-kendaraan lain. Sesudah melihatnya, ia mengajak Hinata ketempat motornya nangkring sendirian.
"Teman-teman mu tadi namanya siap" tanya Naruto pada Hinata yang sedang tertunduk menyembunyikan rona merah diwajahnya.
"Oh. Me-mereka. Yang ber-berambut pirang panjang na-nama Ino. Yang be-berambut Pink na-namanya Sakura" jelas Hinata Gugup, Biasa.
"Ohh.. Mereka baik, ya" kata Naruto sambil menstarter motornya. BRUMMM
"Ayo naik Hinata." ajak Naruto diatas motor.
"Ta-tapi" Kata Hinata tidak yakin pada Orang yang baru tadi pagi dikenalnya tapi sudah langsung bisa menyentuh bagian hati terdalamnya. *Halah*.
"Sudah. Naiklah Hinata. Kamu aman bersamaku" Naruto menyakinkan Hinata
"Ba-baiklah" ahkirnya Hinata mau juga.
Hinata naik dimotor Yamaha Vixonnya Naruto dengan gaya duduk laki-laki. Kedua tangannya ia gantungkan di punggung Naruto. Masih malu-malu, hihihi.
"Pegangan yang erat ya Hinata!" perintah Naruto, dengan suara lembut tentunya.
"I-iya" jawab Hinata.
Naruto langsung menjalankan motornya. Perlahan-lahan mereka mulai menjauh dari sekolah. Naruto meminta Hinata agar dia menunjukkan jalan ke rumahnya. Selama dalam perjalanan, tidak ada seorang pun yang membuka mulutnya untuk memulai percakapan. Naruto ingin sekali berbicara dengan Hinata, tapi ia maklum pada sifat Hinata dan lagi, mereka masih diatas kenderaan. Ahkirnya Naruto hanya berkonsentrasi pada jalan.
Mereka sudah masuk dalam sebuah gang kecil yang sepi. Naruto masih fokus pada jalan, namun tiba-tiba seekor kucing memotong jalan mereka.
Naruto terlambat meremas stang remnya, refleksnya terlambat. Ahkirnya PRANG' TUANG ZRRRTTTTT GEDUBRAK, Mereka terjungkal dari motor dan mendarat dijalan, terguling dan ahkirnya berhenti tak sadarkan diri.
Darah mengalir deras dari kepala mereka, mulut, tangan mereka tergores oleh kasarnya jalan.
Dan ahkirnya, tamatlah fict gaje Nan abal ini. Dengan berat hati, aku mem-print fict ini kemudian memajangnya dikamar kemudian dibingkai dengan bingkai bunga. Aku punk menangis tersedu-sedu dalam kamar, mengunci kamar dan ahkirnya bunuh diri. Hihihihihi...
Hehehe, nggak kok.
Saat kucing itu memotong jalan mereka, dengan sigap Naruto langsung menghentikan motornya tepat didepan si kucing. Tapi kucing itu langsung melepaskan tanggung jawabnya dan melarikan diri.
Hinata kaget, tanpa sadar ia memeluk pinggang Naruto dengan erat. Kepalanya ia sandarkan dipundak lebar Naruto. Naruto yang masih mengatur nafasnya, tersadar akan pelukan tiba-tiba Hinata. Ia menoleh kebelakang untuk menanyakan keadaan cewek yang sedang diboncengnya itu.
"Hinata!... Kamu tak apa-apa?" tanya Naruto khawatir yang hanya dijawab dengan anggukan pelan dari hinata yang masih memeluknya erat dan tak bergerak sedikit pun.
"huff... syukurlah. Tapi ini, Hinata..." Naruto menunjuk tangan yang memeluknya dengan malu-malu.
Hening. Hingga ahkirnya Hinata berkata kaku dan dingin datar.
"Jangan suruh aku melepaskannya... biarkan aku menenangkan diri..." kata Hinata yang masih menyandarkan kepalanya kaku dan tak bergerak sama sekali dari pundak Naruto sambil menatap badan jalan.
"Hmm... Baiklah. Akan ku tunggu kau tenang baru kita lanjutkan perjalanan" kata Naruto sambil tersenyum senang, tak berniat memegang stank motornya dan menjalankannya. Ia hanya duduk diam diatas motornya, menunggu Hinata melepas pelukan Hangatnya.
Hening. Tak ada satupun suara yang mengganggu ketenangan mereka, bahkan burung pun tak berani berkicau. Hanya angin yang berhembus lembut membelai tubuh mereka, mengusir perasaan khawatir yang sempat menghantui mereka. Memberikan sensasi sejuk menaungi hati kedua insan yang sedang bertamu dalam dunia hayalan yang indah. Menyuguhkan nyanyian indah yang menenangkan hati.
Watashi wa anata o hoji suru koto ga dekimasu
Shiranai subete no kanji o kaihe
Anata mo karedatta ni mo kakawarazu,
Watashi ni anata no tsubasa o kasu
Node, watashi wa anata ni shitagau koto o tobu koto ga dekiru
Ichi-nichi no utsukushi-sa wots o jite,
Watashi wa kono komochi o tamotsu koto ga dekimasu
Anata ga oto shinai baai demo...
"Hmm... Terima kasih Naruto-san..." kata Hinata yang sudah tenang sambil melepas pelukannya.
"Hah?, sudah sadar toh. Padahal aku masih ingin lama-lama...hehe" kekeh Naruto sambil menoleh kebelakang menatap Hinata sedang melihat ketempat lain menyembunyikan wajahnya yang memerah. Hinata tersenyum tipis.
"Baiklah. Ayo kita pulang yah sekarang..." kata Naruto lagi kemudian mengarahkan kepalanya kedepan sam menstarter motornya. Namun belum sempat ia menjalankan motornya, Hinata menjitaknya dari belakang.
"Ittai... sakit Hinata kenapa sih?" rengek Naruto sambil mengelus kepalanya.
"Lain kali lebih hati-hati..." kata Hinata yang pura-pura melihat kearah lain karna takut Naruto melihat senyum yang terlukis diwajah putih bersihnya.
"Umm... baiklah" naruto menyeringai. Ia menstrater motornya lagi kemudian langsung menancap gas sehingga membuat Hinata kaget
"NARUTO!"
"Hehehe"
Aishiteru
Mereka berdua sudah sampai di pintu pagar sebuah rumah besar bercat putih. Pekarangan rumah itu sangat luas, ada sebuah kolam air mancur yang membagi jalan setapak kecil menuju empat buah pilar besar yang menyangga teras rumah itu. Berbagai macam bunga ditanam sepanjang setapak kecil itu. Pohon cemara ditanam menghiasi tembok-tembok pagar. Pokoknya terlihat elegan dan indah.
"Te-terima Ka-kasih Naruto-san. Ma-mampir du-dulu sebentar" tawar Hinata yang telah turun dari motor dan berdiri didepan pagar rumah dengan malu-malu.
"Ah, iya. Terima kasih, tidak usah. Aku mau pulang cepat soalnya ada urusan sediki" tolak Naruto yang masih duduk diatas motornya. Tiba-tiba ia melihat Neji keluar dari rumah dan berniat menghampiri mereka.
"Ah, Hinata aku pergi dulu ya. Eh, nanti kapan-kapan aku antar kamu pulang lagi yah, daaa..." kata Naruto terburu-buru kemudian melajukan motornya karna takut pada Neji. Hinata cengok.
"Kenapa sih. Buru-buru sekali.." gumam Hinata pelan sambil menatap arah Naruto pergi.
"Si kumis kucing itu kenapa?, kelihatannya gugup sekali melihat'ku" tanya Neji yang sudah sampai di belakang Hinata.
"Eh? Aniki.." kaget Hinata sama kehadiran Neji yang menurutnya tiba-tiba.
"Hmm..." tanggap Neji, tidak melihat Hinata tapi malah melihat arah Naruto pergi.
"Hm, Aniki ke-kenal Na-Naruto-san juga?"
"Anak paling hiperaktif disekolah, sekaligus si pembuat onar" jelas Neji yang melihat Hinata yang tengah memegang gagang pagar.
"Eh, Tapi Aniki tidak marahkan aku tidak pulang sama-sama dengan Aniki?" tanya Hinata lagi.
"Hmmm, ayo masuk" kata Neji tersenyum tidak menghiraukan pertanyaan Hinata, kemudian melangkah masuk kedalam rumah.
"Fiuuu" Hinata lega melihat ekspresi Neji.
"Tunggu Aniki.."
TBC
Huffff... Ahkirnya selese juga nih fic.
Betul-betul habis-habisan dicapter ini. Maksa ide sampe batas kemampuan sendiri, dasar, sampe tidak tahu ceritanya nyelonong kemana.
Author udah ngebenirin semua yang salah dichapter kemarin, yah meski kedengarannya memaksa sih.
Tapi ada satu yang masih bergejolak dibenak ku, embel San udah benar belum ya? sebutan untuk Ibu, ayah apa yah?
Kalau ada yang tau tolong beri jawabannya lewat review.
Sekali lagi author minta maaf kalo ceritanya tidak memuaskan. Sekali lagi tolong beri kan Komentar agar author dapat meng'koreksi nya.
Sebagai kata terahkir...
REVIEW PLEASE.,
