Genius
Diclaimer
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
This story belongs to Matsukata Sakura
Pairing : SasuSaku
Warning : OOC (Out of Character), Typo(s)
Don't Like, Don't Read!
Happy reading, minna~
.
.
Chapter 2
Sakura sudah sembuh dari sakitnya. Ia sudah bersekolah seperti biasa lagi. Namun, ia tetap tidak mau merubah kebiasaannya. Ia tetap belajar dengan serius dan sama sekali tidak mau diganggu oleh siapapun.
Kalau sekarang, Ino sudah tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Dua minggu lagi ujian akhir akan dimulai. Ia sendiri sering berkunjung ke rumah Sakura untuk bertanya tentang ini itu. Sakura sampai heran karena hampir tiap hari Ino datang ke rumahnya.
Naruto beberapa kali mengajak untuk belajar bersama lagi. Namun Sakura selalu menolaknya. Bahkan ia akan tetap menolak jika Ino yang mengajaknya. Alasannya, tentu saja karena ia ingin lebih fokus.
"Baiklah, anak-anak. Sekian dulu untuk hari ini. Jangan lupa belajar untuk ujian akhir, ya." pesan Kakashi, wali kelas mereka.
"Ha'i, sensei." jawab semuanya serentak.
"Hn. Jaa." kata Kakashi sambil berjalan keluar kelas.
"Arigato, sensei." ucap murid-murid kelas itu serentak.
Kelas mulai rame setelah Kakashi keluar dari kelas. Tak ada yang masih duduk di bangkunya. Semuanya berjalan-jalan ke tempat teman mereka.
"Yo, teme!" seru Naruto sambil mendekati Sasuke.
"Hn?" balas Sasuke singkat.
Naruto nyaris hafal dengan jawaban Sasuke tiap kali ia menyapa pemuda itu. Ia hanya memutar mata bosan dan duduk dihadapan Sasuke.
"Hei. Kenapa kau tidak mencoba membujuk Sakura?" tanya Naruto.
"Membujuk untuk apa?" Sasuke malah balik bertanya.
"Kita ingin membuat Sakura santai sebentar sebelum ujian akhir." jelas Naruto.
"Itu tidak mungkin, dobe." decih Sasuke.
"Hah, sudahlah. Aku tahu datang padamu adalah ide yang salah." kata Naruto sambil berjalan pergi.
Sasuke yang tidak tahu-menahu kenapa Naruto repot-repot datang padanya hanya untuk memintanya melakukan hal tidak jelas itu hanya terdiam. Belakangan ini, ia juga jadi sering memikirkan Sakura. Sebegitunya kah Sakura ingin mengalahkannya?
Sasuke melamun memikirkan hal itu. Sampai Sakura datang dan duduk di depannya.
"Hei, Sasuke. Daijoubu?" tanya Sakura kepadanya sambil melambaikan tangannya di depan wajah Sasuke.
Sasuke masih belum tersadar dari lamunannya. Sementara itu, tahu-tahu Kurenai, guru pelajaran selanjutnya, sudah memasuki kelas.
"Konnichiwa." sapa Kurenai kepada semua murid saat memasuki kelas.
"Konnichiwa mou, sensei." jawab semua murid kelas itu.
Tanpa basa-basi, Kurenai langsung memulai pelajaran. Untungnya ia tidak melihat Sasuke yang masih melamun di belakang sana.
"Psst.. Sasuke, Kurenai-sensei sudah datang." bisik Sakura masih mencoba menyadarkan Sasuke.
"Apa, hah?" tanya Sasuke dengan suara agak keras ketika ia tersadar.
Semua murid termasuk Kurenai mendengar suara Sasuke dan langsung menoleh ke arah pemuda itu. Naruto tertawa melihat wajah bingung Sasuke.
"Hahahahahaha.." semuanya menjadi ikut tertawa.
Sasuke harus menahan malu karena kejadian itu. Semburat pink yang sangat tipis muncul di kedua pipi Sasuke. Meskipun begitu, ia tetap mempertahankan wajah datar khas-nya.
"Apa kau melamun, Uchiha? Datanglah ke ruang guru saat istirahat nanti." perintah Kurenai.
"Ha'i, sensei." jawab Sasuke dengan nada sedikit menyesal.
oOo
Ting.. Tong.. Ting.. Tong..
Bel istirahat berbunyi. Murid-murid langsung berhamburan keluar kelas.
"Aku ikut ke kantin, teme?" ajak Naruto.
"Tidak. Aku kan harus ke ruang guru." tolak Sasuke.
"O iya. Lagipula itu salahmu sendiri." tawa Naruto.
"Urusai." ucap Sasuke yang kemudian berjalan meninggalkan Naruto.
Wajah Sasuke terlihat cemberut sejak Kurenai menyuruhnya untuk datang ke ruang guru. Sakura jadi merasa bersalah pada pemuda itu. Ia lah yang menyadarkan Sasuke dari lamunannya dan kemudian ia membuatnya malu. Tapi Sasuke tidak akan merasa malu jika ia tidak melontarkan kalimat itu dengan suara agak keras.
"Hei, Saku. Sudahlah, kejadian yang tadi bukan sepenuhnya salahmu." kata Ino menghibur Sakura seolah ia tahu apa yang sedang Sakura pikirkan.
"Kau benar, Ino. Lagipula itu kan salahnya berbicara sekeras itu waktu ada Kurenai-sensei."
"Baguslah kalau kau berpikir begitu. Mau ke perpustakaan?" ajak Ino.
"Ya. Ide bagus." ucap Sakura.
Kedua gadis itu berjalan menuju perpustakaan. Ino sudah tahu kebiasaan Sakura, yaitu menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan.
oOo
Sakura tidak hanya belajar di sekolah, tapi ia juga belajar di rumah. Belajar adalah prioritas utama bagi gadis itu. Ia tidak mau ada hal yang menghalanginya untuk belajar. Sepulang sekolah ia langsung mengunci diri di dalam kamarnya. Ia baru keluar kamar saat makan malam.
"Sakura-chan, kamu harus istirahat sebentar. Nanti kamu sakit lagi." saran Mebuki dari depan pintu kamar Sakura.
Sakura yang mendengar suara ibunya hanya bisa mendesah kesal. Selalu saja begitu, ibunya terus-terusan menyuruhnya beristirahat padahal ujian sudah semakin dekat.
"Iya, kaa-san." sahut Sakura dari dalam kamar.
Gadis itu mencoba menuruti saran Mebuki. Ia meletakkan bukunya di meja belajar dan merebahkan diri di atas ranjangnya. Yang benar saja, meskipun berulang kali ia berkata kalau ia tidak lelah, faktanya ia sangat lelah. Matanya langsung terpejam begitu saja.
Mungkin aku akan tidur sebentar dan setelah itu lanjut belajar lagi, pikir Sakura.
Sakura memejamkan matanya dan mencoba masuk ke alam mimpi.
Drrt! Drrt! Drrt!
Ponsel yang ia letakkan di samping tempat tidurnya bergetar. Tampaknya ada seseorang yang menelepon. Telepon masuk itu sukses menggagalkan acara tidur Sakura. Gadis itu melihat layar ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon.
Ino's Calling...
Begitulah tulisan yang tertara di layar ponsel Sakura. Sebenarnya ia malas mengangkat telepon dari sahabat blonde-nya itu, namun siapa tahu telepon kali ini penting.
"Moshi-moshi."
'Moshi-moshi, Sakura-chan?'
"Ya. Ada apa, Ino?"
'Tumben sekali kau menjawab telepon dariku. Begini, besok kau ada di rumah tidak?'
"Aku selalu ada di rumah. Memangnya kenapa?"
'Kita akan mengadakan les di rumahmu. Aku, Naruto, Sai, dan Hinata akan datang.'
"Sudah kuduga. Sasuke tidak ikut?"
'Tidak. Katanya ia mau belajar sendiri di rumah. Lagipula, bukankah kau lebih senang kalau tidak ada Sasuke-kun?'
Sakura terdiam sejenak. Ia merasa wajahnya memanas dan muncul semburat tipis di kedua pipinya. Ada benarnya juga perkataan Ino. Buat apa ia menyanyakan apa Uchiha itu ikut atau tidak. Memang lebih baik jika ia tidak ikut.
'Sakura-chan? Apa kau masih di situ?'
"Eh? Ya, aku masih di sini. Baiklah besok kalian bisa datang ke rumahku. Bagaimana kalau jam 8?"
'Memang kita maunya jam segitu. Ya sudah, jaa.'
"Jaa."
Klik
Sakura menutup ponselnya setelah Ino selesai berbicara. Ia kembali mencoba memejamkan matanya. Besok teman-temannya akan datang, termasuk Naruto. Jadi besok kemungkinan rumahnya akan menjadi lebih ramai dari biasanya.
oOo
Tak terasa, ujian akhir akan dimulai tiga hari lagi. Semua siswa belajar dengan serius karena tidak ada satu pun dari mereka yang mau tinggal kelas. Tak ada lagi yang masih bermain basket atau futsal di lapangan sepulang sekolah. Yang ada hanya mereka yang menyempatkan diri untuk belajar sebentar di perpustakaan sebelum pulang.
Sasuke yang terkenal sebagai murid terpintar malah masih santai-santai. Ia sama sekali belum mulai belajar. Ia baru akan belajar sehari sebelum ujian berlangsung. Meskipun begitu, pada akhirnya ia tetap akan menempati peringkat pertama.
Mengetahui hal itu membuat Sakura makin kesal. Sejak tahun pertama mereka di Konoha High School, Sakura tidak pernah sekalipun mengalahkan pemuda itu. Sakura kadang heran dengan otak Sasuke. Tak jarang ia tidur pada saat pelajaran, namun anehnya ia tetap bisa mengerjakan setiap tugas dan ulangan.
"Yosh! Semuanya sudah siap. Pensil, pulpen, kartu ujian dan papan alas ujian." ucap Sakura ketika ia mengecek perlengkapan yang hendak ia bawa saat ujian.
Gadis bersurai pink itu meletakkan tasnya di atas meja belajarnya. Berhubung ini sudah malam, ia memutuskan untuk tidur. Sakura segera masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian menjadi pakaian tidur. Kemudian ia naik ke ranjangnya dan mematikan lampu.
oOo
"Ohayo, jidat!" sapa Ino saat ia baru memasuki kelas.
"Ohayo mou. Kau sudah belajar kan, pig?" balas Sakura.
"Pasti. Aku tidak mau ada nilai jelek lagi." jawab Ino yakin.
Sakura dan Ino berada di satu ruang ujian, tapi duduk cukup berjauhan. Ino duduk di depan dekat pintu, sedangkan Sakura duduk di pojok belakang dekat jendela. Dan perlu diingat, bukan suatu hal yang mengejutkan jika Sasuke datang dan langsung duduk di depan Sakura. Daridulu Sasuke memang selalu duduk di depan Sakura karena absen mereka yang berdekatan.
Ting.. Tong.. Ting.. Tong..
Bel masuk berbunyi. Murid-murid yang masih berada di luar kelas segera berhamburan masuk ke kelas masing-masing. Ino yang sendari tadi di tempat Sakura pun langsung kembali ke tempat duduknya. Pelajaran pertama yang akan diujikan adalah Matematika. Sakura tidak begitu khawatir karena ia sudah sangat menguasai materinya.
Seorang guru berambut perak mencuat ke atas memasuki kelas. Betapa leganya murid-murid di kelas itu mengetahui bahwa Kakashi adalah pengawas ujian mereka. Sebab, Kakashi sering tidur kalau sedang mengawasi ujian. Jadi anak-anak yang kurang bisa Matematika bisa dengan leluasa menyontek saat Kakashi tidur.
"Baiklah, silahkan oper lembar jawab ke belakang. Jika kalian sudah menerima lembar jawab, silahkan isi identitas kalian." jelas Kakashi.
Para murid mulai mengoper lembar jawab itu ke teman di belakang mereka. Beberapa sudah mulai mengisi identitasnya. Bahkan ada yang mengisi jawaban soal tanpa menunggu soal dibagikan. Beberapa dari mereka terlihat sudah frustasi sebelum ujian dimulai.
Tak lama setelah semua lembar jawab dioperkan ke semua murid, Kakashi membagikan lembar soal. Bel tanda ujian dimulai pun berbunyi. Tanpa basa-basi, Sakura langsung mengerjakan soal-soal itu.
oOo
Setelah perjuangan yang berat, ujian akhir pun selesai. Sekarang adalah saat yang sudah ditunggu-tunggu. Hari ini akan ada pengumuman peringkat dan pembagian rapor. Sakura sengaja datang pagi-pagi untuk menghindari kerumunan anak-anak yang melihat peringkat mereka.
"Hei!" seru Ino ketika melihat Sakura berdiri di depan papan pengumuman.
"Hei, Ino. Kenapa mereka belum memasang pengumumannya?" tanya Sakura sambil memandang papan kosong di depannya.
"Baka. Bel masuk saja belum berbunyi. Mereka pasti akan memasang pengumumannya saat sudah banyak murid yang datang." jelas Ino sambil tertawa kecil.
Sakura langsung cemberut mendengar perkataan Ino. Bukan karena pengumuman yang belum dipasang, tapi karena ia dikatai baka oleh sahabatnya sendiri.
Dari kejauhan, Ino melihat Tsunade berjalan ke arah mereka. Ia membawa sebuah gulungan yang diyakini oleh Ino sebagai pengumuman yang telah ditunggu-tunggu Sakura.
"Ohayo, Yamanaka, Haruno. Kalian datang pagi sekali." sapa Tsunade.
"Ohayo, sensei. Hahahaa, hanya kebenaran saja." ucap Sakura sambil tertawa agak canggung.
"Baguslah kalau begitu. Ini pengumuman peringkatnya. Sasuke Uchiha menempati peringkat pertama lagi untuk angkatan kalian. Dia benar-benar tidak terkalahkan." kata Tsunade berbasa-basi sambil memasang pengumuman tersebut.
Raut wajah Sakura langsung berubah menjadi muram. Ia yakin ia sudah berusaha sekeras mungkin untuk meraih peringkat pertama dan mengalahkan Sasuke Uchiha. Tapi ternyata ia gagal. Yang membuatnya semakin kesal adalah ia berada persis di bawah Sasuke dengan selisih nilai hanya dua poin.
"Apa kau baik-baik saja, Sakura-chan?" tanya Ino yang melihat kilatan marah di mata Sakura.
"Y-Ya. Aku baik-baik saja. Ayo kita pergi dari sini, Ino." ajak Sakura.
Ino mengikuti Sakura yang berjalan pergi dengan kepala menunduk. Ia yakin sahabatnya ini benar-benar kecewa dengan hasil ujian itu.
Tiba-tiba ada seorang bertubuh kekar menghalangi jalan mereka.
"Sudah kubilang kau tidak mungkin mengalahkanku." kata orang itu.
Sakura mendongakkan kepalanya menatap orang tersebut. Benar saja, ia adalah Sasuke. Sekarang pemuda itu sedang tersenyum penuh kemenangan. Sakura mengabaikannya dengan hendak melanjutkan berjalan pergi.
"Kurasa kau pasti tahu mengapa aku dibilang jenius oleh semua orang, kan?" tanya Sasuke pada Sakura.
"Iya, Tuan Sok Pintar. Sudahlah jangan ganggu aku." kata Sakura ketus.
Sebuah tangan kekar tiba-tiba memegang tangannya seolah mencegahnya untuk tidak berjalan pergi.
"Apa maumu?" tanya Sakura tanpa membalikkan badan.
"Kau tahu, sebenarnya kau juga seorang jenius. Kau mau tahu kenapa?" ucap Sasuke.
"Jangan berbicara tentang itu lagi. Aku—"
"Kau jenius karena kau telah berhasil mencuri hati seorang Uchiha, Sakura." Sasuke memotong perkataan Sakura dengan kalimat yang langsung membuat wajah gadis itu memerah.
Iris emerald itu membulat sempurna akibat perkataan Uchiha yang satu itu. Sakura merasakan pipinya memanas dan ada sebuah perasaan aneh mengalir di hatinya. Tanpa aba-aba, Sasuke menarik Sakura mendekat dan mengecup keningnya.
"Jadilah kekasihku." bisik Sasuke tepat di telinga Sakura.
Jantung Sakura berdebar semakin cepat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia terdiam selama beberapa saat.
"Y-Ya." jawab Sakura sangat pelan sehingga dapat dibilang bahwa ia membisikkan jawabannya.
"Hn. Arigato."
Sasuke mengecup kening Sakura untuk yang kedua kalinya.
Fine
.
.
A/N:
Yokatta.. akhirnya bisa update juga. Biarpun udah malem, tapi aku usahain update hari ini. Sebenernya sih udah gak bisa dibilang hari ini soalnya udah tanggal 2 nih. Hehehe..
Arigato buat yang udah setia menunggu chapter ini. Semoga ending-nya memuaskan ya..
Mind to review?
