My Girl Have A Nine-Tails

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Romance

Pair : MinaKushi

Warning : AU, OOC, Typo, dll.


Tiba-tiba keluarlah sesosok wanita cantik dari lukisan rubah berekor sembilan itu. Tangan wanita itu mulai bergerak dan menghapus air mata yang membasahi pipi Minato. Minato terkejut karena makhluk yang di depannya sekarang tengah membelai pipinya.

"K...kau siapa?" Minato bertanya pada wanita berambut merah menawan tersebut.

"Aku... adalah.."

Chapter 2

"Aku adalah seorang putri raja dari kerajaan Uzumaki. Putri yang telah dibuang oleh rakyat sendiri," jawab wanita itu.

Minato mengambil tangan wanita itu yang berada di pipinya, "Lembut. Cantik sekali dia," lirih Minato.

"Ya, ada apa?" tanya wanita itu, yang sebenarnya sudah tahu bahwa Minato telah memujinya. Hanya saja ia berpura-pura tidak tahu dan menyembunyikan rona merah di wajahnya dengan sempurna sehingga rona itu tidak dapat terlihat.

"A-ano, eh, ti-tidak-tidak, aku tidak bicara apapun, kok!" Minato terkejut karena perkataannya dapat didengar oleh wanita itu.

"Oh!" respon wanita itu. Lalu ia tersenyum semanis-manisnya ke arah Minato.

"Deg-deg! Deg-deg!" terdengar suara jantung Minato berdegup sangat kencang. 'Oh, Tuhan! Sangat manis sekali senyumannya itu. Ah tidak! Tidak bisa! Ada apa denganku? Aku tidak boleh seperti ini, aku harus berbuat sesuatu,' pikir Minato.

"Kau kenapa?" tanya wanita itu, ia melihat Minato menggeleng-geleng kepalanya.

"Tidak apa-apa. Oh ya, kau bilang kau adalah putri raja, lalu kenapa kau bisa dibuang oleh rakyatmu sendiri, apa mereka semua telah dipengaruhi seseorang?" tanya Minato sembari mengalihkan pembicaraan.

"Tidak! Mereka tidak dipengaruhi oleh siapapun. Mereka membenciku karena aku dapat membuat para lelaki menceraikan istrinya, semua laki-laki sangat tergoda melihat kecantikanku, mereka semua menginginkanku untuk menjadi istri mereka, sehingga kaum hawa merasa risih atas kehadiranku. Saat aku menjadi putri raja, para wanita sangat tidak senang, lalu mereka mengancamku untuk memilih meninggalkan desa atau mati. Lalu aku memilih pergi meninggalkan desa. Seperti itulah kenapa aku bisa dibuang oleh rakyatku sendiri," terang wanita itu. Ia mulai memasang ekspresi bersedih di wajahnya, membuat Minato terharu.

"Lalu bagaimana bisa kau berada di dalam lukisan rubah berekor sembilan ini?" tanya Minato sambil menunjukkan lukisan rubah berekor sembilan yang saat ini gambarnya telah menghilang.

"Pada waktu itu, setelah aku dibuang aku pergi dari kerajaan uzumaki. Aku tidak tahu harus pergi kemana lagi karena aku tidak punya siapa-siapa lagi selain keluarga di kerajaan Uzumaki. Aku mulai memasuki hutan yang membatasi daerah Uzumaki dengan daerah Konoha. Aku bertemu seorang nenek tua yang terlihat sedang tersesat. Ia menoleh ke arahku dan memasang wajah memelas, hal itu membuatku prihatin."

"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" potong Minato tak sabar dengan cerita sang wanita cantik di depannya.

"Saat aku menghampirinya ia mengeluarkan sebuah kertas ini," ucap wanita itu dengan menunjukkan lembaran kertas yang sebelumnya ada lukisan rubah ekor sembilan, "Lalu ia mengucapkan sesuatu yang tidak dapat aku mengerti, malahan bahasanya seperti acak-acakan. Setelah itu ia menempelkan kertas itu di keningku tanpa izin dariku. Kemudian aku mempunyai kekuatan gaib, tapi aku merasa kalau tubuhku semakin lama semakin kecil, dan sampai akhirnya aku berubah menjadi rubah dan mempunyai sembilan ekor. Lalu aku terhisap masuk ke dalam kertas yang berada di keningku. Setelahnya aku tidak tahu apa-apa lagi. Hingga suatu saat aku merasakan ada air mata yang membasahiku, dan karena air mata itulah aku bisa melihat lagi, dan yang kulihat adalah seorang pemuda yang menangis di wajahku lalu. Lalu ia tak sadarkan diri. Akupun menolongnya dan membawanya ke tempat yang ia ketahui, yaitu sekolah."

"Tidak salah lagi, itu pasti aku," ucap Minato menebak.

"Ya, benar. Itu adalah kau," ucap wanita itu.

"Ehm, jadi, setelah ini... Ah, iya aku lupa menanyakan namamu, maaf! Siapa namamu?" tanya Minato.

"Kushina. Namaku Kushina Uzumaki," jawab wanita itu.

"Hem, nama yang sangat jarang. Perkenalkan! Namaku-."

"Minato!" potong Kushina. ia memang sudah mengetahuinya dari awal karena ia mempunyai kekuatan gaib.

"Wah! Kau hebat sekali, dari mana kau tau namaku?" tanya Minato heran.

"Hehe, apa kau lupa? Tadi aku bilang kalau aku mempunyai kekuatan gaib setelah kertas itu ditempelkan nenek tua itu di keningku, kan?" jawab Kushina.

"Oh, iya!" Minato menyengir ala cengiran kuda. "Jadi setelah ini kau mau pergi kemana?" tanya Minato. Mendengar pertanyaan itu wajah kushina menjadi tertunduk murung. Melihat ekspresi Kushina, Minato cepat tanggap dan berkata, "Kalau kau mau kau bisa tinggal di sini bersamaku. Aku merasa kesepian sekarang. Kau mau?"

Tentu saja Minato merasa kesepian, karena baru beberapa hari ia ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dan hidup sendiri.

"Benarkah? Aku ingin sekali!" Kushina yang tadinya murung menjadi senang dalam sekejap. Ia pun mengatakannya dengan manja kemudian memeluk Minato. Rona merah menghiasi wajah Minato.

"I..iya te..tentu sa..saja," jawab Minato terbata-bata. Ia masih terkejut dengan pelukan manja Kushina.

Kushina melepas pelukannya kemudian ia menghilangkan sayap dan ekor-ekornya dari tubuhnya.

Minato hanya bertanya-tanya dalam hati, 'Mimpi apa aku semalam, bisa bertemu makhluk seperti ini.' Lalu Minato tersadar kalau seekor rubah seharusnya tidak punya sayap, 'Kenapa dia punya sayap, seharusnya kan seekor rubah tidak punya sayap,' pikirnya.

"Hei, Kushina! Bukankah seekor rubah tidak memiliki sayap?" tanya Minato.

"Ya, memang! Kenapa?" jawab Kushina dan berbalik tanya.

"Lalu kenapa kau bisa punya sayap?"

"Aku tidak tau, sudahlah jangan dibahas lagi! lebih baik tanya hal yang lain saja!" *Dasar author pemalas! Udah ngasih sayap nggak mau tanggungjawab*

"Baiklah. Hah, aku lapar sekali. Kau mau makan tidak?" tanya Minato pada Kushina.

"Ya! Aku juga sedang lapar sekarang," jawab Kushina.

"Ya sudah, aku pergi beli makanan dulu ya," ucap Minato.

Minatopun pergi membelikan makanan untuk Mereka berdua. Di saat itu, di rumah Minato, Kushina yang menunggu Minato pulang mendapatkan ide. Ia tahu kalau ia punya kekuatan ajaib yang hebat, dan iapun mencoba menghidangkan makanan dengan kekuatannya itu.

Minato telah pulang membelikan makanan. Saat ia menemui Kushina yang berada di meja makan, betapa terkejutnya Minato melihat makanan yang banyak di meja makan, dari ujung meja sebelah kanan sampai ujung meja sebelah kiri terdapat banyak lauk-pauk, nasi putih, buah, dan minuman.

"Huuaahh! Ba..banyak sekali! Bagaimana bisa?" ucap Minato. Kushina hanya tersenyum melihat tingkah Minato. "Tapi, kenapa semua makanannya adalah makanan tradisional yang seperti sudah berapa puluh tahun yang lalu?" tanya Minato.

"A..apa kau bilang? Makanan yang seperti berpuluhan tahun yang lalu?" tanya Kushina yang sangat terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Minato. Ia menatap heran pada wajah Minato.

"Hemm?" Minato hanya bergumam heran melihat tingkah Kushina yang terkejut, dan ia menaikan satu alis matanya bertanda ia heran.

"Makanan terpopuler saat ini, bisa-bisanya kau bilang makanan tradisional yang seperti sudah berpuluhan tahun!" ucap Kushina tegas dan yakin.

"Hahah! Yang benar saja? Kau bergurau, ya?" tanya Minato.

"Aku bicara apa adanya. Apa kau tak percaya?" ucap Kushina lagi.

Hening sejenak, Minato berpikir kalau ada yang janggal dengan pembicaraan ini. "AAAHH! Apa jangan-jangan kau sudah terlalu lama dikurung dalam lukisan rubah itu. Kalau boleh tahu kau mulai dikurung dalam lukisan itu tahun berapa?" tanya Minato memastikan.

"Hah, kau bercanda. Aku ingat kalau aku dikurung dalam lukisan itu pada tahun 1910. Memangnya kenapa?" tanya balik Kushina.

"Uaahh, benar-benar hebat. Pantas saja kau menyajikan makanan yang sudah lama tidak dijumpai. Sekarang ini kau berada di tahun 2011."

"Ah, benarkah? Tapi rasanya baru satu hari aku dikurung di dalam lukisan itu," ucap Kushina. kemudian ia berpikir kalau semua orang yang ia sayangi telah meninggalkannya. "I..ini be..berarti..."

"Yah, ini berarti kau telah dikurung selama 101 tahun di dalam lukisan itu. Dan semua orang yang kau sayangi, mereka semua sudah tiada lagi di dunia ini," ucap Minato.

"Sudahlah! Lebih baik kita makan saja dulu. Aku sedang tidak ingin membahasnya sekarang," ujar Kushina. Terlihat jelas ia berusaha tetap tegar dan berusaha agar air matanya tidak keluar.

Kushina pun melahap makanannya dengan cepat. Setelah selesai, ia pergi meninggalkan Minato sendiri.

"Kushina, maafkan aku..."

TBC


...Please, R&R...

Kalo bisa mohon usulannya untuk chapter selanjutnya. Nggak ngasih usulan juga nggak papa kok, nggak bakal bayar #BLETAK

Author nggak tau mau nulis apa lagi!