Disclaimer: BTS di bawah naungan BigHit Entertainment, seluruh karakter yang muncul di ff ini adalah milik Tuhan Yang Maha Esa dan orangtua masing-masing, saya hanya pinjam nama.
Drable Threesome © Kaizen Katsumoto
Warning: OOC, AU, Typo, BL, Yaoi, bad language, mengandung unsur humor cinta segitiga.
.
.
.
Mohon periksa penerangan dan jaga jarak mata anda dari layar saat membaca fanfic ini. Bagi yang merasa di bawah umur atau punya phobia homo bisa meninggalkan tempat ini.
Enjoy!
.
.
.
Ice cream stick
Jimin sedang asyik menjilati es krim vanilla dari stick di tangan kanan. Lidah kemerahan -berkat suhu rendah- terjulur, gerakan atas-bawah seduktif lalu melahap objek dingin ke dalam mulutnya. Sepasang manik terpejam kala gerakan kepala meninggi. Jilat-kulum-hisap-jilat, kadang memainkan lidah liat basah untuk menyapu seluruh permukaan.
Keringat panas turun melewati pelipis, memperlihatkan betapa kerasnya ia mencari kenikmatan. Pipi merona, sepasang onyxnya mengintip.
"Eumph... mmh~"
Jimin melenguh tertahan, perlahan memelankan tempo. Melepas kuluman hingga menciptakan benang saliva menggoda serta embun dari mulutnya.
"Fuwaahh~ makan es krim di saat panas begini memang paling enaak! Ahaha~" Riangnya.
Tak sadar jika ada dua orang yang kini menatapnya intens dalam diam.
.
Lebah Madu
Jimin sedang bosan. Di apartemen, Yoongi sedang sibuk mencoret-coret kertas untuk membuat lirik lagu, sedang Hoseok berkutat dengan laptop guna menyelesaikan tugas kuliah.
Jimin cemberut. "Hyung, aku bosaaan!" Ia merengek.
Hening.
Bahkan kedua kekasihnya tak beranjak dari masing-masing tempat.
"Honey bee sedang bosan?" Hoseok menyahut. Jimin hampir berselebrasi mendapatkan perhatian tapi nyatanya Hoseok tak melepaskan pandangan dari laptop keparat sialan.
Jimin bangun dari sofa, mendekati kedua hyungnya dengan langkah dihentak persis anak kecil. "Aku bukan lebah!"
"Berkacalah." Yoongi menyahut singkat.
Mendengarnya, Jimin langsung berlari menuju kamar Hoseok dimana ada cermin besar di depan lemarinya. Pemuda berhelai cokelat itu mematung diri di depan cermin.
Rambut cokelatnya agak berantakan dengan poni jatuh mengenai frame kacamata tebal berbingkai hitam pekat. Balutan sweater kuning cerah dengan hiasan garis-garis hitam melintang. Lengan panjang menenggelamkan Kesepuluh jemari mungilnya. Bawahan jeans hitam modis. Persis seperti lebah madu. Jimin menggembungkan pipi chubby kesal. Tidak rela membenarkan ucapan kedua pacarnya.
Ting!
"Aha!" Sebuah ide terlintas di otak brilian Jimin.
.
Jimin berlarian di ruang tengah, mendengung riang, memutari Yoongi dan Hoseok yang berkutat menyelesaikan pekerjaan masing-masing di atas meja.
Hup!
Jimin menghinggapkan kedua lengannya di leher Yoongi, mengecup leher pucat singkat. "Aku menyengat Yoongi hyung~"
Yoongi mendelik, hampir membanting bulpoin dalam genggaman.
Jimin sudah berpindah tempat, menghinggapi Hoseok dan bergelayut manja, melingkarkan sepasang lengan pendek di leher. Melakukan hal sama persis seperti yang dilakukannya pada Yoongi. Bedanya saat dia mau kabur, Hoseok sudah lebih dulu menarik lengannya agar duduk di pangkuan.
Tak bisa dipungkiri, Jimin senang mendapatkan perhatian juga pada akhirnya. Yoongi bahkan sudah mendekatinya, menghimpit tubuh mungil di antara dirinya dan Hoseok. Jimin terjebak. Terkunci. Tidak bisa bergerak.
"H-hyung!" Kesulitan menggerakkan kedua tangan yang dibelengu, Jimin malah merasa senang.
Hoseok dan Yoongi menyeringai kecil. "Kau tahu apa yang kusuka dari lebah madu?" Suara berat Hoseok meremangkan tengkuk. Jimin menggeleng kecil, menggigit bibir bawah menyadari jemari Yoongi mulai melepas kancing celana jeans penuh perasaan.
Bibir tipis pucat itu tersenyum kecil. "Tentu saja madunya." Ia menurunkan jeans perlahan, sangat perlahan.
"Jadi, bisa kau memberikan kami madu milikmu, little bee?"
.
Horror
"HUWAAAAAAAA!"
"MENGERIKAN HYUNG! KUMOHON HENTIKAN!" Jimin menutup rapat kedua telinganya menggunakan telapak tangan.
Hoseok sudah mengubur wajahnya dalam bantal sofa. "MATIKAN! MATIKAAN! MATIKAAAN HYUUNG! AKU BISA NGOMPOL KARENA INI!"
Duo berisik itu entah sejak kapan sudah berpelukan dengan badan gemetar ketakutan. Suara teriakannya memekakkan telinga mengudara, terpantul di dinding dalam apartemen minim cahaya.
Yoongi mendengus, mematikan mp3 player hpnya dan menyalakan lampu. "Ya Tuhan, yang tadi itu hanya ost anime." Gerutunya.
"Tapi itu lagu Lacrimosa-nya Kalafina!" Potong Jimin geregetan.
"Dan itu lagu pengantar kematian..." Hoseok mencicit, mengintip dari balik bantal.
.
Terjebak
Jimin sudah sering bilang untuk jangan mengumpat di dalam lift tapi nyatanya kedua pemuda yang biasanya akur itu kini sedang berdiri bertolak belakang di sisi kiri dan kanannya. Min Yoongi dan Jung Hoseok. Ketiganya berencana menyelesaikan tugas kuliah masing-masing dengan pergi ke perpustakaan kampus guna mencari buku referensi. Namun dewi Fortuna tampak belum perpihak pada mereka ketika tiba-tiba lift perpustakaan berlantai 13 itu berhenti mendadak. Mereka berdua—Yoongi dan Hoseok saling menyalahkan sampai sebuah suara dari speaker menginterupsi keributan.
"Maaf, telah terjadi kesalahan teknis. Mohon pengunjung tidak panik, kami akan segera memperbaiki kesalahan yang ada."
Setelah itu hening. Diam. Bergeming. Ketiganya larut dalam pikiran masing-masing.
Suasana mendadak sunyi. Tak tahan akhirnya Jimin angkat suara duluan. "Panas!" Gerutunya.
Dan memang benar. Udara dalam lift semakin lama memang memanas, tanpa ventilasi, ditambah tiga orang lelaki di dalamnya. Jika dihitung mungkin sudah setengah jam mereka bertiga terjebak, Hoseok melirik arloji untuk membenarkan. "dan pengap." Sambungnya tanpa sadar.
Hanya Yoongi yang masih datar di kiri Jimin.
Jimin maju, menggedor pintu lift tak sabar. "Keluarkan aku!"
Hoseok melihat itu dan ikut maju, "Hei siapapun tolong kami!"
"Tempat ini seperti di sauna! Kalian tak lihat keringatku sudah cukup banyak, bahkan mungkin lemak di tubuhku sudah luntur sekarang!"
Hoseok dan Yoongi hanya sweatdrop mendengar protesan konyol si helai cokelat dalam hening.
"Kalian membuang tenaga. Diam saja sampai bantuan datang, tolol."
Jimin mendelik pada pemuda silver di sudut ruangan. Hoseok berdehem, menginterupsi tatapan mesra Jimin sekaligus menyadarkan keduanya kalau masih ada orang ketiga di dalam sana.
Jimin menjadi makin brutal—menggedori pintu saat 20 menit berlalu begitu lambat. Di menit ke-30, pemuda itu sudah bersimpuh di lantai. Napas terengah dengan kesepuluh jari mencakari pintu persis seperti kucing. "Keluar... aku mau keluar..." ia merengek, hampir mengigau lemah.
"Sudahlah, Chim. Percuma saja, kau hanya membuang tenaga." Hoseok berjongkok di sebelah kanan, mengusap helai kecokelatan penuh sayang. Rupanya pemuda itu menuruti saran Yoongi untuk menghemat tenaga.
"Hyuung~!" Jimin menghambur pelukan manja. Menubruk Hoseok hingga terjungkal ke belakang. Mengusapkan kedua pipi chubbynya di dada bidang, sepasang mata terpejam membentuk garis lurus.
Hoseok gelagapan. Panas oleh ruang pengap dan sekarang dipeluk terlalu erat. Ditambah wajah manis yang kini bergumam tidak jelas dalam dekapannya.
Siapa yang tahan coba?
"Kelihatannya dia sudah mencapai batasnya."
"Ap-apa maksudmu, hyung?" Hoseok bertanya, melihat Yoongi beranjak dari tempatnya lantas duduk menghadap pantat Jimin yang sedang menungging memeluk pinggangnya. Ia meremas kedua bongkahan itu santai.
Seringai kecil terukir di atas bibir tipis lalu memandang Hoseok menggunakan tatapan penuh makna. "Kau sangat tahu apa maksudku, Hobie."
Hoseok meneguk ludah kasar. Tahu persis maksud Yoongi tanpa susah payah bertanya. Ruang tertutup dengan Jimin setengah sadar. Apa lagi yang mereka harapkan selain menusuknya—menusuk bukan dalam artian sebenarnya.
"Jangan munafik Hobie, aku tahu penismu juga sudah tegang sekarang." Telunjuk pucat menekan tengah belahan bokong kenyal berulang.
Jimin menggelinjang tidak sadar, rahangnya tanpa sengaja menggesek turun, tepat di gundukan keras di antara kaki Hoseok. Membuatnya menggeram namun tak dapat menampik kenyataan bahwa ucapan Sang Hyung memang begitu adanya. Hoseok berpikir cukup lama, diiringi suara lenguhan Jimin saat Yoongi kembali mempermainkan lubang berkedut di balik jeans ketat.
"Tapi ini di tempat publik, hyung. Bagaimana kalau ada yang memergoki kita?"
"Liftnya macet. Kalau sudah benar pasti ada pengumuman, saat itu kita langsung menghentikan permainan." Yoongi membuat kesepakatan begitu gampang. Jelas mengetahui kebutuhan masing-masing pihak.
Licik. Hoseok membenci cara kotor dalam hubungan mereka. Tapi—
"Angh... nhh... hyu...ungh..."
—Suara Jimin terlalu kuat menggelapkan mata. Terlalu sialan untuk ditolak.
Kemudian anggukan pasra membuat seringai di bibir pucat itu kian mengembang. "Mari kita mulai..."
Detik selanjutnya, dua pasang tangan terampil sudah bekerja sendiri-sendiri. Kali ini Yoongi di belakang, sedang Hoseok memilih posisi di depan.
.
Udara Dingin
Udara dingin menerpa kulit menandakan akan berakhirnya musim gugur, dan penyambutan musim dingin. Jimin, Hoseok, dan Yoongi berjalan-jalan di dekat taman kota. Niatnya malam ini mereka ada double date bersama pasangan Kim-Jeon untuk menonton film di bioskop.
Saat ketiganya sibuk menunggu, Yoongi dan Hoseok mendadak membulatkan mata ketika menatap sosok Jimin. Fokus mereka bukan di wajah tapi lebih turun hingga bagian dada. Lebih detail lagi maka di sana ada dua tonjolan mengeras di balik fabrik putih. Sangat kentara.
Nipple Jimin tegang!
Yoongi dan Hoseok secara reflek menutup bagian itu menggunakan sebelah tangan. Yoongi di kiri dengan tangan kiri, sementara Hoseok di kanan dengan tangan kanan. Jimin tersentak kaget, wajah memerah sulit diartikan.
"Apa yang kalian lakukan?" Suara Taehyung -baru datang bersama Jungkook- menginterupsi.
"Kami menjadi bra Jimin."
.
Terjebak Part II
Ting!
Jimin melengkungkan dada, kedua tonjolan depannya di tekan dan tarik, lalu dipelintir sadis. Bibirnya di bungkam oleh penyatuan, kedua lidah bergelut. Saling tindih, saling hisap, saling mencari kepuasannya sendiri. Lenguhan bercampur desahan memanaskan suasana. Kedua tangannya melingkar di leher Hoseok.
Sementara di bawah sana, Yoongi memasukkan sebelah tangannya ke dalam jeans bagian depan. Jari-jari panjang kurus pucatnya bergerak lincah memanja, sebelah tangannya membuka sweater kuning cerah bergaris-garis hitam melintang. Bibirnya mengecap rasa tulang belakang, menghisap dan gigit sampai timbul bercak kemerahan. Mencetak karya bite mark terindah sepanjang masa di atas tubuh porselen.
Ting!
Lift tiba-tiba bergerak. Pintu terbuka sendiri tanpa ada peringatan dari sound system. Hoseok dan Yoongi sama kaget, kepala bergerak lambat-lambat seperti robot ke arah pintu keluar. Dua orang pemuda. Memergoki mereka. Keempatnya membeku di tempat.
"Aah... hyung... ayo lanjutkan~" Jimin memprotes di saat yang salah. Mata terpejam dengan wajah memerah penuh lelehan keringat dan saliva.
.
Terjebak Part III
Yah...
Kedua pemuda itu masuk ke dalam lift setelah Yoongi membenarkan posisi dan Hoseok memapah sebelah lengan Jimin untuk berdiri tegap. Pemuda mungil itu bersandar di bahu Hoseok , terlihat seperti sedang tidur.
Yoongi dan Hoseok sepakat menunda pencarian buku referensi. Persetan tugas. Kebutuhan biologis mereka jauh lebih emerjensi dengan gundukan gunung di masing-masing celana. Mengerikan.
"Ekhem." Salah satu pemuda menginterupsi bisik-bisik kedua pacar Jimin. Membuat tiap pasang mata tertuju pada sumber deheman, kecuali Jimin. "Aku baru tahu kalau Yoongi sunbae dan Hoseok sunbae menyukai seks di tempat publik."
"Sebenarnya tidak. Tapi tadi ada kesempatan saja." Yoongi berujar cepat tanpa saring.
"Oh? Aku dan Jungkook juga akan melakukannya kalau ada dalam posisi kalian."
"Taehyungiee!" Jungkook memekik, mencubit lengan Taehyung di sampingnya lantas ngambek tanpa alasan.
Taehyung tertawa puas. "Ayolah Jungkookie, pasti menyenangkan melakukannya di lift, iya kan sunbae?"
Yoongi dan Hoseok membalas tawa hambar mendengar penuturan mantan hoobae sekaligus teman sekelas Jimin di masa SMA itu.
Ting!
Sekali lagi lift tiba-tiba berhenti bergerak.
"Maaf, telah terjadi kesalahan teknis. Mohon pengunjung tidak panik, kami akan segera memperbaiki kesalahan yang ada."
Suara wanita dari sound system membuat mereka saling pandang dalam diam.
"Jadi?"
"Sepertinya akan seru."
.
Tulus
Akhir-akhir ini Jimin sering berkutat di dapur. Ia bahkan meminjam buku resep turun-temurun milik keluarga Seokjin—teman kuliah Yoongi yang tinggal di samping apartemen mereka. Sebenarnya bakat memasak Jimin pas-pasan tapi mengingat ucapan Taehyung bahwa: "Kemampuan manusia sebenarnya tak ada batasnya selama mereka mau bersungguh-sungguh!"—entah kutipan dari anime mana yang ia ambil.
Namun hanya dengan deret kalimat itu mampu membuat Jimin berkobar mengaduk adonan bahan di dapur seorang diri. Yoongi dan Hoseok sampai bertanya-tanya setan mana gerangan yang merasuki lebah mungil mereka.
Pukul 6 sore, Jimin memukul piring, kebiasaan memanggil kedua hyungnya untuk makan malam. Keduanya sedang bersantai di ruang tengah. Segera saja mereka menghampiri meja makan. Di sana Jimin berdiri, celemek putih berenda terpasang apik di tubuhnya dengan hiasan pita, tambahan noda-noda bekas minyak dan bumbu lain yang sulit dideskripsikan. Wajah penuh peluh itu tersenyum manis dan tulus seakan ada kelopak bunga berterbangan di apartemen mereka.
"Waktunya makan, hyung~!" Riangnya.
Oh, betapa manisnya makhluk Tuhan satu itu. Yoongi dan Hoseok tidak pernah tahu kalau kepolosan natural lebih menggoda iman mereka.
Secara serempak mereka bertiga duduk di kursi ruang makan. Jimin di tengah. Yoongi di kiri. Hoseok di kanan.
"Selamat makan!"
Yoongi menyendok sup. Hoseok mengiris daging. Keduanya melahap menu secara bersamaan. Jimin tidak berkedip.
Hap!
.
.
.
Terlalu asin.
.
.
.
Terlalu manis.
.
.
.
Jimin menatap bergantian kedua kekasihnya dengan raut wajah penuh harap. "Bagaimana rasanya, hyung?" Tanyanya tak sabar.
Yoongi berusaha menelan potongan brokoli. Hoseok meneguk air mineral di gelas bening. Demi koleksi doujin-nya author! Siapa yang tega menampar malaikat kecil itu pada kenyataan kejamnya dunia?
Yoongi dan Hoseok saling kedip, saling berkontak mata, bahasa sesama seme yang hanya mereka ketahui maknanya. Sangat singkat sampai Jimin tidak menyadari kode komunikasi mereka.
"Rasanya sangat enak, Jiminie..." lihat? Bahkan Yoongi berbohong sangat pintar.
"Ya. Aku bahkan ingin nambah lagi." Oh, Hosiki tolong lebih natural dan masuk akal.
Tapi di tengah mereka, Jimin tiba-tiba menangis. Menangis haru. Ia sampai menutup wajah menggunakan sepasang tangan mungil yang penuh balutan plester, memperlihatkan betapa kerasnya ia membuat hidangan makan malam untuk kedua kekasihnya.
"Gomawo, hyung..." isakan kecil menohok Yoongi dan Hoseok di waktu bebarengan. Merasa bersalah sekaligus bahagia. Jimin mereka sangat tulus.
Yoongi menarik lengan kiri Jimin. Hoseok menarik lengan kanan. Keduanya mengecup kedua pipi chubby Jimin di kiri dan kanan. Hampir bersamaan.
"Kami menyayangimu, Jiminie/Chimchim."
Menciptakan semburat merah muda di wajah mungil. Kedua kekasihnya sangat mencintai Jimin.
.
Tulus part II
Hari Esok
"Biarkan aku memakannya, hyung!"
"Tidak Jimin. Jangan, kumohon…"
"Biarkan Hobie saja yang menghabiskan semuanya."
"Hyung! Kau juga!"
"Hah?"
Jimin kesal. Dia kan juga ingin makan masakannya. Apa yang salah dengan itu?
Memaksa, akhirnya Jimin memakan sesendok.
Kunyah.
Hening.
Diam.
Krik krik
Maaf, jangkrik siapa ini?
Yoongi dan Hoseok bergeming, nyaris seperti patung pancuran air di depan pekarangan apartemen.
Jimin menangis. Kali ini menangis penuh kemalangan. Yoongi dan Hoseok menepuk kedua sisi bahu Jimin.
"Masih ada hari esok." Ujar keduanya bebarengan.
.
.
.
End
.
.
.
A/N: Saya kena WB! Argh! Harusnya saya mikirin kelanjutan ff lain tapi malah kejatuhan ide sarap dan absurd, dan hampir semua YoonMinHose. Tusuk aku ya, kami yaoi-sama! Tolong. Hiksu, melipir. Ah, Lacrimosa itu ost-nya anime Black Butler. Yang suka shotta kudu nonton. Lol.
Terima kasih yang sudah unjuk diri dan nongol di kotak review. Saya menggelinjang sendiri tiap baca kotak review dari kalian. Hehe. Tapi maaf, saya gak bisa Menuhin NC di ff ini, ya mentok juga menjurus seperti di chapter ini. apa rate ff ini perlu dinaikkan? Lalu ada yang nanya kapan Swag, Cute, and Hope update? Ya. Saya akan update kalau dapat ide dan mood yang bagus. Doakan saja, ne? Terakhir, terima kasih yang sudah membaca sampai sini, annyeong~
