Pagi itu di dunia nyata di ruang VVIP , seorang gadis dengan rambut biru terbaring lemah. Seorang wanita tua dengan suaminya sedang mengobati Gadis itu. Gadis itu adalah Kio, Kio memakai wig karena kemoterapi yang di jalaninya membuat dia kehilangan rambutnya. Kemo terapi itu tidak membuat perubahan apapun minggu lalu, serta terapi penyambung nyawa di dunia game. Ibunya pasrah dia harus di copot ECGnya, tetapi dokter menyarankan memakai itu bila terjadi sesuatu. Rika dan Yuko yang melihat Kio koma dengan badan kurus dan memakai wig dan berdandan mengingatkan kenangan saat taun ajaran mereka mulai masuk kuliah. Mereka keterima meleati jalur undangan. Rika mengingat kenangan manis saat Kio masih sehat, dia duduk di ruang tunggu.
"Kak Yuko tau tidak, saat kami masuk sekolah. Saat itu Kio bilang wah kamu sastra juga ya." Ucap Rika yang bertanya kepada Yuko sambil menirukan suara Kio. Yuko menepuk punggung Rika. "Yang Kio ingin liat bukan tangisan karena kita kasihan kepadanya, tapi senyuman yang membawa semangat kita." Saat Yuko dan Rika masuk, Kio keadaannya mengedrop dia kejang-kejang. Rekaman jantung dan otaknya tidak beraturan.
"Mama...mama...papa...papa..." Kio hanya bisa menyebut nama ayah dan ibunya saat dia ngedrop, Rika yang melihat Kio keritis mengguncang tubuh Kio. "Kamu jangan keliatan kuat dia dunia maya, nyatanya kamu di dunia nyata lemah. Percuma kami mengutusmu jadi ketua." Yuko yang melihat tingkah kekanak-kanakan Rika karena tersayat melihat Kio yang kritis menampar wajah Rika. "Hentikan ucapanmu di depan orang sakit, kamu tidak merasa sakit yang lebih. Liatlah wajah orang tua Kio. Dia juga sedih mengetahui putrinya terkena bakteri yang menyebabkan lemah jantung dan tumor rahim. Apa kamu tidak tahu betapa lebih tersayat ketika Kio menjadi makin lemah." Yuko memeluk Rika, dia membungkuk kepada orang tua Kio untuk memohon maaf. "Maafkan kami, paman, bibi." Rika meneteskan air mata dan menangis. " Kamu tidak perlu minta maaf, ini bukan salahmu dan salah kita juga. Ini takdir dari Tuhan dan ujiannya." Ucap Ayah Kio, ibunya sedang menyuapkan bubur ke Kio. "Ma...hap...hap...hap..." Kio berbicara dengan napasnya yang kecil di masa kritisnya ia menggerakan tangannya dan menjatuhkan rekaman yang Viona berikan padanya ketika Vio sedang menjenguk Kio yang koma. "Yuko fujiwa, ini rekaman Kio yang di jatuhkan dari tangannya. Dia ingin kamu mendengarkan ini." Orang tua Kio kembali ke ruang VVIP, yah karena penyakitnya yang sudah tergolong terminal harapan Kio untuk sembuh sangat minim. Orang tuanya ingin Kio di ruang VVIP supaya Kio tidak stress dan membuatnya lemag lagi. Saat itu Rika dan Yuko memutar isi pikiran yang di setel di laptop Viona dengan terjemahan.
Hai, namaku Kio. Hem aku sudah ingat siapa aku dan kalian. Mungkin ini mustahil bagiku untuk bisa hidup normal...hup...hup...hup. Maaf aku sesak napas, aku pakai oksigen dulu ya. Nah, udah tidak sesak lagi. Aku tau ini akan menyakitkan bagiku, aku tau siapa yang membuatku sakit begini. Hup...hup...hup... aduh asma ku kumat semenjak aku penyakitan, penyakit ku muncul semua, dan aku sekarang cacat dan difable. Yang membuatku begini adala pacarku yang jauh dan balas dendam denganku namanya. Ketika sedang mendengarkan rekaman pikiran Kio, perawat menuju ruang Viona. "Wah Yuko dan Rika sedang mengunjungi viona ya. Bagaiama kamu keadaannya viona?" Suster tersenyum kepada Viona yang duduk di kasur sambil makan. "baik sus, sudah mendingan walau masih sakit." Suster menggantikan infusan Viona dan membuang isi kateter, yah Viona juga mempunyai penyakit yang sama seperti Kio. Namun Viona mempunyai daya tahan tubuh yang kuat syarafnya tidak terpengaruh obat dan lain-lain. Berbeda dengan Kio, Kio adalah gen Z yang mudah terkena penyakit sedangkan Viona, Rika dan Yuko adalah Gen G. Gen Z orang yang mempunyai kekuatan tinggi namun daya tubuh dan sistem imunnya lemah mudah kelelahan jika sakit dan terkena bakteri bahkan menimbulkan cacat syaraf. Sedangkan Gen G bisa bertahan bakteri hanya mampu menyerang rahim dan jantung saja tida menjalar ke semua tubuhnya. Namun Gen Z dan Gen G bisa meninggal jika tubuhnya kritis. Yuko mengetahui nyawa adiknya juga seperti nyawanya Kio.
" Kak, aku mohon tolong selamatkan perempuan yang lahir tanggal 23, menurut mereka orang yang lahir tanggal 23 membuat proses eksperimen mereka berhasil." Viona menangis dia melihat tubuhnya yang lemah dan memikirkan Kio yang malah tambah parah.
Jelas ini membuat dunia akan kiamat, bila orang-orang yang bertubuh seperti mereka akan di jadikan bahan tikus percobaan. Sebagian di antaranya bisa bertahan seperti Viona namu sebagian di antaranya seperti Kio dan ini menguntungkan bagi pihak Swasta untuk menjual obat dan alat kedokeran. Mereka berbicara dengan nada pelan, karena suster masih membersihkan kateter. Pintu kamar mandi berbunyi suster keluar dan mengecek keadaan Viona.
"Nah, Viona kamu mengalami peningkatan di jaga ya kesehata." Suster meninggalkan ruangan Viona, di ruang VVIP termpat Kio terbaring koma dengan keadaan yang kritis. Zetto mencium bau rambut dan bibir Kio.
"Kamu menguntungkan bagiku Kio, aku hanya memanfaatkan dan aku mewujudkan keinginan mu di dunia game." Ucap Zetto yang memegang pisau dan menodongkannya. "Oh, bodohnya aku, jangan sampai kulit cantikmu terluka di saat kamu sudah sembuh aku akan menjadikan mu mempelai ku, kamu juga berkata kan Ingin menikahiku di dunia nyata dan bulan madunya di dunia maya." Kio yang lemah hanya bisa melihat dengan mata yang terbuka sedikit, pandangannya kadang buram dan jelas.
Tuhan, kenapa aku begitu bodoh. Dan berkata kepada orang yang hanya memanfaatkan ku untuk bisnis dan menikahiku saat tubuhku lemah. Kio berpura-pura masih hilang ingatan, mungkinYuko dan Rika belum membaca isi hatinya Kio sampai tuntas. "Uhu...uhu...uhu..." napas dari masker oksigen yang dipakai Kio membuat Kio susah beradaptasi dengan oksigen alami dan buatan.
Dia melihat sosok berambut hitam dan berjas hitam serta memakai kaca mata, Zetto yang dia ingat adalah pacarnya. Namun Kio hanya mengetahui bahwa Zetto balas dendam, perkataannya berbeda dengan ucapan saat ini dia sedang mabuk. Yuko dan Rika yang memasuki ruang game kembali ke dunia maya. Ia langsung menuju rumah sakit, seketika dia melihat ruangan yang Kio tempati kosong. Suster pilihan Yuko memberi tahu, Nona Kio sedang terapi jalan. Yuko dan Rika berlai menuju ruangan terapi. Kio melambaikan tangannya, Yuko dan Rika balas melambai tangan dan terharu.
"Lihat Rika yang hanya di butuhkan Kio adalah kebahagiaan bisa melihat kita di dunia nyata dan maya." Yuko menahan Rika yang mau masuk dan menolong Kio. Kio yang latihan terapi seminggu setelah perang berjuang keras, setiap langkah Kio terjatuh. Ia tidak patah semangat, ia akan perang melawan mimpi buruk di dunia maya. Kio istirahat dan keluar menggunakan kursi roda.
"Aku ini Wanita tangguh jangan di tangisi." Ucap Kio yang menunjukkan dirinya seolah dewasa. "Kio ada-ada saja, kita masih remaja di usia 18 Kio." Yuko menjawab dan membenarkan perkataan Kio yang salah. Rika yang menangis kembali tersenyum. Maafkan aku Kio, aku tidak mempercayaimu dan aku hilang harapan ketika melihat kamu koma dalam keadaan kritis di rumah sakit.
Baru saja mereka berjaan, Kio kejang-kejang. Kali ini membuat Kio muntah dan Yuko yang melihatnya langsung menolongnya.
Alarm tanda bahaya di jamnya berbunyi serta di rumah sakit menandakan akan ada bakteri muncul lagi, Kio yang ingin melawan penyakitnya berubah kostum.
"Kio, kamu istirahat saja." Ucap Rika yang memegang tangan Kio.
"Percayalah padaku Rika, aku sudah berjanji akan bertahan melawan penyakitku. Aku berjanji denganViona jika aku bertemu di dunia maya aku akan mengajaknya jalan-jalan." Ucap Kio, Yuko yang melihat Kio menangis mencium Kio. Dan mengangguk pada Rika supaya Rika mau mempercayai Kio.
"Aku, di dunia maya sebagai kakak tingkatmu dan pacarmu. Namun di dunia nyata hanya sebatas teman dan kakak tingkat." Kio terkejut ketika dia berciuman dengan Yuko.
"Ehem, jadi di sini kita ngedate dulu atau perang dulu." Rika yang melihat temannya berciuman dan saling berpelukan merasa kaku, dirinya bagaikan obat nyamuk. "Ah, Rika maafkan aku ya." Ucap Kio dengan nada yang lemah. "Ia tuan putri bawel, sudah kita katanya mau bertempur." Rika memegang pipi Kio yang cabi.
"Sudah kubilangkan, Kio hanya membutuhkan senyuman bukan tangisan." Rika yang emosi menginjak kaki Yuko dengan sengaja. "Kenapa Yuko?, apakah kamu sakit." Kio melihat wajah Yuko yang kesakitan. "Ah, mungkin asam urat Yuko kambuh kan dia belakang ini sering cek darah." Yuko dan Rika saling melotot dan marah, mereka bertiga memasuki gerbang pertama tempat virus menyerang data penting di dunia game. "ah, kita sudah mau sampai ayo bersipa." Rika menyiapkan panah, Yuko menyiapkan pedangnya, dan Kio menyiapkan pedang saljunya.
Kio mengelap mulutnya yang mengeluarkan liurnya sehabis epilepsi. "Kak Yuko, ambilakan obatku di tas." Tubuh Kio kejang-kejang, dia tidak bisa menahan sakitnya.
"Kak...aku...ingin bertempur...aku tidak ingin mati..."Yuko meminumkan obat Kio, Kio terbaring dengan tubuh lemah dan kejang-kejang. "Rika sepertinya di dunia nyata ada seseorang yang memberi dosis tinggi kepada Kio. "Terima kasih kamu sudah mengingatnya Kio." Zuko menepuk pundak Kio dan Kio kembali sehat setelah meminum obat dan menghirup oksigen.
Kio mendorong sekuat tenaga dan membekukan musuh dalam sekejap. Setelah mereka berhasil mengalahkan musuh, Kio kembali kejang-kejang.
"Huppp...hup...hup...huk...huk...huk" Suara napas Kio makin melemah. Yuko dan Rika membawa ke rumah sakit dunia maya. Di dalam mobil Kio kejang-kejang dengan keadaan yang lemah. "Kak...apakah ...tubuhku... di dunia nyata kritis lagi." Kio kejang-kejang kesakitan. "Kio, kamu harus semaangat dan jangan kalah sama penyakitmu." Rika teekejut sebelumnya Kio berubah wujud menjadi robot, apakah karena sistem sarafnya di dunia nyata jadi dia tidak bisa berimajinasi lagi.
"Kio... tarik napas dalam-dalam, apakah kamu bisa mendengarku." Yuko memakirkan mobilnya. Ia bergegas ke rumah sakit dan membawa ke ICU. Kio di ICU kondisinya parah, dia melihat tubuhnya juga di ruang ICU VVIP. "Hukkk...huk...huk...huk..." napasnya semakin cepat, Yuko menanyakan keadaan Kio. Kenapa mendadak kio jadi begini. "Sus, kenapa Kio." Yuko menanyakan kondisi Kio yang di ICU sedang sakit parah dan kejang-kejang. Suster berpaling dan meninggalkan Yuko dan Rika.
"Kak, sebaiknya kita ke dunia nyata mungkin di sana Kio membutuhkan kita." Ucap Rika yang bergegas berganti baju, Yuko menyusul Rika. Sesampai di dunia nyata ia berada di depan ICU melihat kondisi Kio yang memburuk. Rika dan Kio tidur di dekat ruang ICU, Hari berganti pagi Rika melihat Kio masih koma dengan tubuhnya yang kejang-kejang. Dadanya naik ketasa dan menggigil, Kio di pasang masker oksigen dan di pasang helm penyambung nyawa.
"Hukk...huk...huk...huk..." Napas Kio terpenggal-penggal, ia ingin berbicara namun tidak bisa karena dia mengalami lumpuh otot. "Kio ini aku Rika dan di sampingku ada Kak Yuko, kamu harus semangat jangan menyerah." Yuko memasang syal di kaki Kio supaya Kio tidak kedinginan.
"Kio, kita sudah berjanjikan akan melaksanakan pertunangan kita di dunia maya. Yuko menangis di hadapan Kio. Rika sahabatnya mengompres Kio yang sakit. "Ka- se-a-da-sa-ku." Kiu yang pandai berbicara dan berpidato serta berbakat akting bicaranyanya mulai melemah. Saat itu ibu Kio dan Ayahnya datang, saat mereka datang Zetto coba bersembunyi dan lari dari hadapan mereka. Banyak pasien rumah sakit yang di rawat, rata-rata dari sebagian adalah eksperimen Dokter dan pemilik Gedung Universitas.
"Kio, anakku. Kenapa kamu begini nak?." Ibu dan Ayahnya lari menuju ruang ICU, saat itu Kio bicara lagi pada Yuko dan Rika. "Ri-ri-Ko-mat-dik-pat." Kio berbicara dengan nada yang lemah mulutnya mengeluarkan air liur, dia masih dalam keadaan epilepsi namun menguatkan visiknya.
"Yuko, saya ingin berbicara empat mata mengenai pembicaraan yang di omongkan dengan anak saya." Yuko terkejut perasaan ini apa sebenarnya, kenapa rasa ini sangat begitu menekan dan menyayat dadanya.
Yuko dan ayahnya Kio keluar ruang ICU, mereka mengobrol dan berbisik. "Apa, jadi semua cewek yang ada di universitas ini akan jadi eksperimen?." Yuko menangis dan gemetar dugaan tentang adiknya tepat seratus persen akurat. Bahwa pemilik dan Dokter di rumah sakit Universitas se gede ini korupsi. Mereka membeli alat dan membuat eksperimen berbahaya pada manusia. "Rika, ayo keluar. Kita menemui adikku." Rika keluar menyusul Yuko, dia berlari dan berbicara apa yang sebenarnya terjadi. Ketika menuju VVIP kamar 3 di lantai atas Yuko membahas bahwa Rika dalam bahaya, bukan sesuai tanggal lahir namun perempuan yang di Universitas adalah memiliki Gen aneh dan bisa membuat Pemilik Universitas dan dokter dapat untung banyak.
"Kamu dalam bahaya Rik, mereka memang mengincar perempuan." Yuko mengarahkan tangannya ke Rika untuk memberikan pil buatan ayahnya. Pil itu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ayah Yuko adalah seorang ilmuan yang cerdas dia menolak untuk berpatisipasi dengan Universitas ternama. Gaji kecil yang penting menolong banyak rakyat, dari pada Gaji besar tapi banyak manusia jadi percobaan dan menjadi sakit. Karena orang tua Yuko menolak, Yuko merelakan dirinya jadi bahan percobaan namun gagal karena sistem kekebalan laki-laki mengalahkan bakteri ciptaan dokter Universitas ternama dan Pemilik gedung itu. Universitasnya ternama tapi tidak seperti Universitas negeri, Universitas itu Universitas swasta yang banyak menciptakan aktor. Namun banyak aktris cewek yang mendadak menghilang setelah mereka lulus dari Universitas itu. "Aku juga sudah menduga, aku baca di berita koran mei lalu. Banyak artis yang hilang setelah terkenal dan lulus dari Universitas swasta ternama. Dan banyak juga suster dan perawat yang berwajah pucat. Makanya aku memilih kamu sebagai divisi pertahanan dunia maya untuk memilih dokter dan perawat wanita berpatisipasi di dunia game demi menyelamatkan generasi kita." Rika menaiki tangga dan Yuko memberikan pilnya. "Minumlah ini ada air mineral, ini demi keselamatan adikku dan kalian semua. Jika mereka gagal satu orang rencana kita menyelamatkan Kio dan Viona berhasil." Saat mereka sampai di tangga, perawat di ruangan Viona penuh dan dokter juga di sana. Tangan Viona gemeteran, Yuko yang melihat adiknya tiba-tiba lemah kembali bersedih.
Tangan Viona gemeteran, Yuko yang melihat adiknya tiba-tiba lemah kembali bersedih
"Sampai kapan, manusia cantik dan lemah di jadikan bahan percobaan." Rika menepuk pundak Kakak tingkatnya, dia melakukan persis yang dilakukan Yuko kepada Rika ketika Rika melihat Kio yang berlatih visio terapi. "Kamu kemarin keliatan gagah ya, percuma kamu menangis. Kamu tau tidak Ayah dan Ibumu yang menentang korupsi ini sakit hatinya karena melihat anaknya yang berbakat harus jadi bahan percobaan. Kamu sok kuat sok bijak ya." Rika yang kecewa karena sikap Kak Yuko yang tiba-tiba berubah drastis melihat adik tercintanya sakit.
"Percuma kak, kakak memberikan pil yang aku makan." Rika masuk ke kamar Viona, kamar Viona terdapat VVIP ICU karena mereka anak konglomerat berbeda dengan pasien yang lain kamar-kamar tidak ada ICU di kamar kelas biasa.
"Rik, maafkan aku jangan begitu." Rika tidak memerhatikan Yuko yang meminta maaf. "Kalau kamu minta maaf, ubah sedihmu jadi bahagia. Kalau di ucapkan percuma." Rika duduk di ruang VVIP ruangan sedang menata pakaian Viona. "Aku tahu kamu juga sedih, kemarin kamu menamparku karena memperlihatkan rasa bersalah sama Kio. Sekarang giliranmu yang memperlihatkan keadaanmu." Rika menuju ruang ICU, dia melihat Viona yang sama persis dengan Kio. Namun Kio gadis lemah karena Gennya sama seperti Rika, sedangkan Viona Gennya kuat sama seperti Yuko. Bakteri yang di suntikan ke tubuh Viona hanya mampu melawan rahim dan jantungnya.
"Ayo, kita ke kelas. Latihan teater dan mengisi soal kuis teater." Rika membawa mantelnya untuk memerankan adegan kerudung merah. Yuko yang berjanji dengan adiknya meneteskan air mata di depan ICU.
"Tinggal selangkah lagi vio, Kak Rika akan gagal jadi bahan percobaan. Dan misi menyelamatkan manusia akan lancar." Rika melihat wajah serius Yuko yang sedang berbicara sendiri dan bergumam.
"Kenapa, kamu pasti merasa bersalahkan sama Vio. Udah cepat 10 hari lagi kita konser." Rika dan Yuko menuju ke gedung seberang. Dia melewati taman dan kantin, menuju ke gedung teater. Sesampai di sana Rika mengapalkan dialognya sebagai Gadis berjubah merah. Yuko dan Rika berjanda, mereka latihan teater. Saling melempar kertas dan waktu itu Rika tersadar. Dia menangis karena paham kode yang di berikan oleh Vio dan Kio.
"apa kamu sadar, aku di ruang Kio selalu di suruh berdekatan dengan mu. Di ruang Vio juga. Mereka di dunia maya tidak marah sama aku." Kata Rika yang memegang cincin persahabatan Kio dan Rika saat perkenalan Universitas. " Dan waktu itu, Vio memberiku syal warna kesukaanmu sesuia dengan apa yang kamu pakai." Rika melihat pemberian teman tercintanya.
"Aku paham, Cuma aku tidak ingin membuatmu terpukul." Yuko mengemaskan peralatan teaternya. "mereka sudah pasrah karena penyakitnya, jika mereka berdua hilang dari maya dan nyata kembali ke alam. Dan kamu bertahan misi kita akan sukses. Kamu akan menyenangkan Kio dan Vio adikku ketika mereka sudah tidak ada." Rika meremas botol plastik minumannya. Rika kesal kenapa hanya dirinya yang terpilih dan teman-temannya. Sebegitukah Rezim jaman sekarang mempermainkan manusia bagaikan tikus eksperimen.
"Kamu kenapa tidak bicara itu lebih awal, walau nyawa Kio dan Viona terancam. Tapi kita bisa bersenang-senang di dunia maya demi kebahagiaan mereka." Rika memukul badannya kak Yuko. Yuko menahan dan memeluk Rika. "Kalau sampai kamu berhasil dalam percobaan ini, aku tidak akan maafkan mereka. Aku akan bawa kabur kamu, Vio dan Kio. Aku akan menikahi Kamu dan Kio." Bisik Yuko di telinga Rika, Rika terkejut mendnegar suara gantle Yuko yang gemetar ketika menangis.
Yuko dan Rika berciuman mereka saling berciuman di teater, tidak ada satupun orang di gedung itu. Sementara di ICU tempat Kio terbaring, Zetto menyuntikan obat yang membuat syaraf otot Kio melemah. Kio bukan hanya jadi bahan percobaan melainkan sebagai calon istri yang akan di persunting Zetto dalam keadaan sakit.
"Ini akibat kamu menolak rencana kita menikah lebih awal, Semua ini ulahmu. Jika kamu mempercepat pernikahan Ibuku tidak akan meninggal, aku tidak akan menjadi korupsi." Zetto mencium rambut Kio, sedangkan kio kambuh epilepsinya.
Tuhan, apakah ini akibat ulahku. Apakah aku tidak pantas membahagiakan orang tuaku. Kio tubuhnya menjadi struke permanen dia ingin berbicara namun tidak bisa, bibirnya miring ke samping. Keadaannya makin kritis, suster menuju ruangan. Sementara Zetto memakai topeng dia pergi sebelum suster menuju ruang ICU kio. Saat itu suster menuju ke ruang ICU tempat kio di rawat. " Nona Kio apakah kamu mendengarku, tarik napas dalam-dalam nona Kio." Dokter menyuntikan obat penghilang rasa sakit dan membuang cairan racun di tubuh Kio.
"Kenapa kamu mempertahankan hasil eksperimenmu, direktor Zetto?." Ucap Dokter ia bergumam sendiri. "sus, obatnya sudah merusak syaraf otaknya. Sehingga Kio mengalami cacat total."
"Hah, kesal-kesal." Ucap Rika di ruang teater." Kalau aku selamat gimana. Apakah kamu mau taruhan jika aku gagal dan selamat dalam eksperimen kamu harus membelikan aku eskrim satu ember kecil. Dan berfoto bersama kami bertiga." Rika menggoda Yuko yang tetap mencium Rika tanpa henti. "Baiklah gadis boros, jika Kio dan Viona bisa sembuh dan tidak akan meninggal. Pasti mereka berdua akan menjitakmu. Kekuatan mereka dayat lo di bandingkan kamu seorang olah ragawan tapi boros." Rika mencubit Kak Yuko yang genit.
"aduh sakit gadis kuat, oke kamu kuat tidak lemah." Yuko meminta ampun atas ucapannya yang membuat Rika kesal. Mereka di ruang teater merasakan tepuk tangan penggemar dan penonton. Mereka membayangkan jika teater mereka sukses di acara pertemuan orang tua dan dosen untuk pembukaan semester Universitas ini. " Ga kebayang ya, sudah 1 minggu lebih dan hampir akhir bulan tidak terasa ini udah mau berganti bulan. Di luar masih salju."
Suasana hati Yuko dan Rika bercampur antara sedih Kio dan Viona tidak bisa hadir. Dan waktu yang begitu cepat karena perubahan iklim. Waktu yang terasa lama, tapi begitu mereka beraktivitas tak terasa jika mereka melupakan waktu.
Untungnya Rika dan Yuko mencatat jadwal dan hari-hari sehingga mereka dapat mengingat hari dengan sempurna meski terkadang juga lupa sedikit. Salju di luar tebal sekali, suasana sangat dingin mereka segera kembali ke rumah sakit untuk memasuki dunia portal demi menyalamatkan Kio dan Viona. Sesampai di ruang laboraturium penyambung nyawa. Setelah itu mereka memakai helm dan memasuki dunia portal, di sana mereka sudah di jemput oleh Vio dan Kio.
"Viona adikku, kamu ke sini juga ya. Lalu tentara dan perawat ini semua siapa yang suruh." Yuko heran apakah ini suruhan dirinya.
"Ini bukan kamu dan Rika yang menyuruh mereka ikut perang, Ini aku yang menyuruh mereka." Kio yang memakai kursi roda sama seperti dengan vio. "Maafkan aku di dunia nyata aku seperti orang gizi buruk, rahim bengkak, lemah jantung dan struke." Yuko yang melihat Kio menangis langsung memeluknya, Rika ikut terharu, dia menyapa Vio dan mendampingi vio. " itulah kakakku kalau dia setia sama adiknya dan pacarnya begitu. Hum aku tau kenapa raut wajah kalian ketika masuk dunia portal." Rika mencubit Vio.
"Hei, jangan begitu kepada pasien yang sakit." Vio bergurau kepada Rika. "Kenapa kamu jadi bersikeras aku akan menjadi dokter di dunia maya?."
Rika terkejut, keinginan keras Viona untuk Rika supaya terbebas dari eksperimen tujuannya untuk menyenangkan hatinya yang gundah. Karena selama ini Rika memendam rasa sakit kepergian keluarganya yang aneh dan kakaknya yang meninggal misterius membuat dirinya terpukul. Setelah bertemu dengan Kio kesedihan itu pudar, namun ketika melihat temannya yang sakit Rika malah tersayat hatinya.
"Rika, aku bisa membaca isi hatimu. Kekuatanku membaca pikiranmu." Ucap Kio yang memeluk sahabatnya. "Terima kasih telah mengerti isi hatiku, aku akan berjuang sebisa mungkin menjadi dokter di dunia maya. Aku sudah latihan bersama kakakku selama ini." Yuko memasangkan syal kepada adiknya, ia juga tak lupa memasangkan syal kepada Kio dan Rika calon istri mereka.
Suasana di dunia maya tiba-tiba berubah menjadi cerah, isi hati Kio sedang senang di mimpinya juga. Yuko membaca statistik mimpi Kio, kembali sehat di dunia nyata. Tak disangka adiknya Yuko juga berubah. Semua orang yang di rawat suasananya juga berubah.
Saat mereka sedang bicara di hutan, muncul virus aneh. Langit kembali gelap. "mungkinkah pasien yang di rumah sakit tiba-tiba memburuk keadaannya di ruang ICU. Yuko melihat adiknya dan kio kembali pucat.
"Aku tidak apa-apa kak, aku masih kuat." Vio tersenyum dan ia memanah virus dengan kekuatan supernya. Seketika Vio memanah, Vio muntah darah dia pingsan. Yuko melihat Vio pingsan dan perawat membawa ke tenda. "Rika tolong jaga Kio, jangan sampai dia kesakitan." Yuko menembak awan menjadi hujan obat herbal monster musnah. Kio saat itu tubuhnya masih lemah karena serangan jantung yang di amali di dunia nyata. Virus menyerang jantung pasien dan rahim pasien.
Rika setelah selesai menyerang musuh dia kembali ke tenda dia mengompres Kio dan Viona yang kejang-kejang. "Suster bagaimana keadaan Viona?." Rika menanyakan kondis Viona, dia tau dokter dan suster di dunia maya sudah di suntikan sistem imun oleh Yuko. Jadi di dunia maya dia tidak merasakan sakit, namun Kio dan Viona dia terlambat di beri suntikan sistem imun oleh Yuko.
Pip...pip...pip...pip... detak jantung Kio dan Viona melemah. Rika memanggil Yuko. "Kak, tolong suntikan sistem imun ke Viona dan sahabatku." Ucap Rika dengan menangis dia tidak bisa melihat kedua sahabatnya kesakitan di dunia maya. Yuko bergegas menuju ke tenda, ia terpukul keadaan kedua orang yang mereka cintai kritis.
"Ini mungkin akan membantumu menghilangkan rasa sakit, tapi aku tidak bisa menyembuhkan kalian berdua." Yuko menyuntikan sistem imun ke Viona adiknya dan Rika menyuntikan sistem imun di tubuh Kio. Vio dan Kiona berhenti kejang-kejang di dunia maya, detak jantungnya kembali normal.
"Syukurlah, kalian berhasil melalui kritis. Meskipun nyawa kalian tidak lama lagi." Rika terkejut melihat kesembuhan dua teman ceweknya yang kokoh.
Kekuatan Gen yang di miliki kami memang sempurna di dunia maya, mungkin para ilmuan di universitas mengincar kami.
"Syukurlah, mereka berdua di dunia nyata membaik juga keadaannya meskipun kejang-kejangnya tidak bisa di hentikan di dunia nyata. Tetapi di dunia maya kita bisa menyelamatkan mereka." Rika membaca catatan harian si Yuko.
"Hei gadis sembrono, kembalikan catatan harianku." Kata cowok berkulit putih dan mata berwarna biru laut. Dia kesal karena Rika berani membuka catatan miliknya.
Yah, ketauan kan. Pikiranku sudah di baca sama si nona boros. Yuko menghela napas dan menjitak kepala Rika. "Aduh cowok mesum dan harem. Jangan memperlakukan calon istrimu begini." Ucap Rika dengan manja.
"Aku menjitakmu karena mereka berdua yang sedang baring ketika bertempur, memesan aku suruh menjitak Rika ketika Rika tidak sopan." Kali ini Yuko bener-bener tegas, dia tidak bermain-main.
Sampai kapan tingkah mesumnya, semoga aja hilang. "Kamu mau berhenti tidak perbuatanmu yang lebih tidak senonoh lagi, jika adik dan calon istrimu yang pertama tau bakal hancur."
"Oh, jadi kamu main manjanya dengan aku." Waktu yang lama ini bisa membahagiakan wajah Yuko yang musam karena melihat Kio dan adiknya sakit. "Tidak, inikan demi membahagiakan Vio dan Kio."
Vio dan Kio sudah siuman, mereka tersenyum melihat Rika dan Yuko yang salaing mengejek.
"Hah, rasa sakit ini sudah sembuh ya." Ucap vio.
"Ia berkat siapa dulu, berkat dua dokter yang kekanak-kanakan." Saut Kio yang mengejutkan Yuko dan Rika. "Stop, Yuko. Ternyata kita diliatin dua pasien yang jail." Rika mencium muka Kio dan Viona. "Sana dasar sesuka jenis, kamu ngapain mencium adikku." Yah begitulah si Yuko candaannya jadi terkesan pedas. "Mesum, sok cakep. Kakak tingkat kepedean."
