Everytime You Kissed Me: Extra Drabble © Park Hyesung
The Artist Characters not mine but this Fict and OCs is mine
Warn: Lime detected
Enjoy Reading! ^^
.
.
.
Extra Drabble II
Phone Talking Complex
.
.
.
Ada kalanya Kyuhyun dan Yesung berpisah dengan kontraktor mereka. Bukan saat tidur maupun saat di sekolah, melainkan benar-benar terpisah akibat pekerjaan mendesak Sesepuh.
"Nenek tua itu menyuruhku pergi menyelidiki sesuatu. Para Whisper terluka jadi tak bisa melakukan tugasnya. Aku akan segera kembali. Kau diam-diam saja di sini dengan KA Project."
Yah, segera kembali, katanya. Tapi seminggu lewat tidak bisa dikatakan sebagai segera. Bagi Ryeowook, segera adalah secepatnya yang tak lebih dari sehari. Tak lebih dari dua hari.
Kemana penjaga sialan itu? Kerja atau liburan?!
"Apa Tuan baik-baik saja ya?"
Untuk sekian kalinya Ryeowook mendesah mendengar Sungmin bergumam seperti itu. Dia saja lelah, apalagi namja yang manjanya minta ampun dengan Kyuhyun satu itu?
"Dia baik-baik saja. Selama Sesepuh tak memanggilku, mereka dipastikan sehat walfiat." Franca menyahut, fokus menonton televisi sembari memasukan potongan buah ke mulut.
"Tapi ini sudah lewat seminggu. Memangnya mereka pergi kemana?"
"Kutub utara."
"MWO?" Pekik kedua 'target' kompak.
"Siapa yang hidup di tempat beku seperti itu?! Jangan bercanda!" Cerocos Ryeowook masuk akal.
"Tenanglah sedikit." Hikari muncul, merangkulnya dari samping. Lalu seraya mengusap pipinya seduktif, ia menambahkan, "Menurut Taeyeon, ada Black Wizard menyiapkan lubang neraka. Susah nanti kalau Kutub Utara bocor. Negeri Sihir bisa kebanjiran."
"Dunia Sihir juga punya Kutub?"
"Tentu saja. Kalau tak punya, mana mungkin ada musim salju. Kutub juga pusatnya arah magnet. Lucu, kan, kalau tak punya Kutub? Para pengembara bisa tersesat."
"Hikari-kun, jangan sentuh dia lebih dari itu. Susah nanti kalau Yesung ngamuk, seramnya bukan main." Yukari mendorong dada Hikari dan Ryeowook ke arah berlawanan, menjauhkan mereka.
Tidak tertarik, Sungmin membuang napas berat. Membayangkan apa saja yang dilakukan Kyuhyun saat ini. Mungkinkah sedang berperang? Mencari siasat menutupi lubang neraka? Atau bersantai bersama segerombolan perempuan?
Membayangkan yang terakhir, rahang Sungmin mengeras hendak mengeluarkan amarah.
"Nee, Joonki hyung,"
Tiba-tiba Sungmin memekik, sebuah tangan tersodor menunjukkan sebuah bungkus DVD tepat di sampingnya.
"Gakuro! Berhenti mengejutkanku!" Omelnya, menengok pada Kage yang entah sejak kapan duduk di sampingnya.
"Sumimasen. Aku tak bermaksud." Balasnya datar, mengundang tawa Yukari.
"Ngomong-ngomong,hyung, ini apa? Phone sex?"
"Oh, itu. Phone sex semacam... Chakaman! DARIMANA KAU DAPATKAN DVD ITU?"
"Di lemari." Jawab Kage polos tak berdosa.
Ryeowook sigap menutup telinga Franca. "Kalian! Ada anak kecil di sini! Sungmin, bawa Franca ke kamar. Kalian tidur saja. Aku akan bernegoisasi dengan para penyihir ini."
"Laksanakan! Franca, ayo kita tidur."
"Eh? Tapi filmnya belum habis!"
"Besok kita cari filmnya di toko DVD. Cha, jalja!"
Pintu ditarik hingga merapat dengan sisinya. Meninggalkan sejuta keheningan di ruang tengah tersebut. Ryeowook mendelik ketika Kage menggeser duduknya.
"Mau apa kalian?"
"Bukannya kau mau bernegoisasi?"
"Negoisasi macam apa yang kau inginkan?"
"Beritahu aku di mana Yesung. Kalian jangan coba-coba berbohong. Hikari nyaris cekikikkan dan Yukari sejak tadi memasang senyum polos. Pasti ada yang kalian sembunyikan."
"Tuduhanmu tidak berdasar, Eomma."
"Eomma!?" Sewot Ryeowook. Apa dia sefeminim dan setua itu sampai Kage berani menghinanya?
"Ne, eomma. Jadi, kau mau memberi jaminan apa?" Timpal Yukari nyengir lebar, memeluk lehernya dari belakang.
"Betul, eomma. Aku juga tak mau kalau tak ada imbalan."
"Ish, kalian ini. Aku mau bernegoisasi, bukan taruhan atau apa."
"Sou desu ne."
"Hinata... Umh..." Mendadak racauan kecil datang dari layar televisi.
Ryeowook melotot horor. "Gakuro! Apa yang kau setel itu?!"
"Hm? DVD yang tadi kutunjukan. Yang judulnya Phone Sex."
"Mworago? Ya! Matikan! Akh! Yukari! Lepaskan leherku!"
"Sirheo~ Kau harus menontonnya~"
Hikari terkekeh sinis. "Yup, kami akan mengerjaimu sebelum memberitahu keberadaan Yesung appa."
Wajah Ryeowook pucat pasi. Sekuat tenaga berteriak,
"YESUNG! TOLONG AKU!"
.
.
.
"Akhirnya selesai juga!"
Kyuhyun mendesah lega, melompat duduk di lantai saking lelahnya setelah mendarat di balkon Istana.
Hembusan angin terbuat ketika Yesung mendarat sempurna di lantai marmer cantik. Ia mempertahankan aura mengintimidasinya, memicu keseganan para teman seperjuangannya yang juga mendarat di sekitar balkon tower lain.
Ia mendengus. "Ayo kita pulang."
Kyuhyun menggeleng mala, bersandar ke tralis. "Nope. Aku mau beristirahat dulu."
"Kita pulang." Tegasnya lagi, agak menggeram.
"Hyung, kau ini kenapa? Ryeowook pasti baik-baik saja. Jam Yukari tak mungkin membiarkan seorang pun menculik mereka."
"Bukan begitu. Aku cuma punya firasat buruk." Gumam Yesung, mengusap dagunya sejenak. "Pokoknya kita pulang."
"Capek. Sebentar saja ya? Kita temui Sesepuh dulu. Sebagai pemimpin kelompok, kau seharusnya melapor, kan?"
Oh, persetan dengan laporan. Yesung mulai benci diagung-agungkan sebagai pemimpin. Lihat sekarang, waktu santainya disita habis dan ia belum tahu sedikit pun kabar Ryeowook.
"Setelahnya kita kembali."
Kyuhyun mengangguk dan memperhatikan langkah tegap Yesung. Bersamaan dengan efek cahaya lampu, kesan dingin kibar jubahnya seakan mengumumkan bahwa ia tak akan pernah kembali.
Layaknya seorang pahlawan siap bertarung.
Kyuhyun meringis, mendongak tinggi pada rasi bintang Cancer.
"Firasat buruk. Dua kata itu berhasil meresahkanku sekarang."
.
.
.
Tepat setelah Yesung menempuh seperempat jalan menuju kamar Sesepuh, sebuah panggilan masuk mengganggunya.
"Yeobosaeyo, Ryeong-ah?"
"Engghhh..."
"Yeobosaeyo? Ryeong? Neo gwaenchana?" Kaki Yesung sontak berhenti bergerak.
"Yesunghhh, tolonggghhh."
"Hoi! Kemana tiga keparat itu? Franca mana?"
Sayup-sayup, suara gemerisik terdengar.
"Hm? Aku di sini, oppa~ Waeyo?" Yukari pun menjawab kalem, agk manja sebenarnya tetapi Yesung yakin dia tengah tersenyum sekarang.
"Kau melakukan apa pada Ryeowook?!" Bentaknya garang.
"Betsuni~ [Tidak ada~] Kami cuma memuaskan nafsu Ryeowook eomma."
"Kami? Eomma? Jangan bilang Song Brothers di sana juga?!"
"Ha'i! Hikari desu!"
"H-Hikari! Jangan sentuh itu!" Terdengar pekik panik Ryeowook, seakan-akan sangat tak berdaya.
Terbayang Hikari yang menyeringai setan. "Eomma jangan khawatir, cairan precumnya sudah keluar."
Lama sekali Yesung tercenung. Terus diam guna mengambil kesimpulan tetapu yang terdengar daritadi hanyalah desahan dan lenguhan tiada akhir Ryeowook.
"Emh... Yesung-ah... Tolong aku... Akh! Ohhh jangan digigit!"
Dalam hati Yesung mengumpat. Pikiran kotornya mulai muncul ke permukaan.
"Nee, Yesung-kun, kau masih di sana? Mau kuberitahu sesuatu?"
"Cih, katakan saja apa maumu dan lepaskan Ryeowook." Sambarnya pedas, berusaha menutupi getar suara.
"Dasar tsun. Bilang saja kau sudah panas-dingin." Yukari mencibit. "Bayangkan ya. Tangan Ryeowook sudah kuikat. Aku duduk di belakangnya dan salivanya mengalirkan kemana-mana. Omo, bahkan jatuh ke pahaku. Ah, terus terang, agak geli juga membiarkan selangkanganku sebagai bantal."
"Apa?!"
"Lalu di sisi kiri, lidah Kage asik menjilati lengan Ryeo-kun. Meninggalkan sedikit gigitan dan hisapan. Kurasa dia—Ya, Hikari-kun! Lebih pelan dan tekan sedikit. Dipijat, oke? Jangan dikocok terus. Oh ya, aku lupa bilang. Hikari yang mengurus di bawah. Katanya precum Ryeowook manis sekali."
Sesuatu di selangkangkan Yesung mulai mengembang. "Sialan kalian semua! Apa yang kalian lakukan pada Ryeong, hah?"
"Kami? Mungkin, gangbang?"
"Gangbang?!"
"Engghhh... Yesungieeehhh... Akh!"
"Ryeong?" Telinga Yesung memerah mendengarnya. Ia berusaha tenang tapi bayangan betapa seksinya bocah itu saat telanjang membuatnya gerah.
"Yesunghhh... Hngghh... Tolong aku... Mereka—Ah! Sakit! Hentikan! Keluarkan jarimu! Yesung, tolong aku! Aku tak melakukannya dengan mereka... Hahh... Akh! Aku hanya ingin denganmu!"
"Oh, persetanlah kalian berempat!"
.
.
.
Yukari dan Hikari mengatup bibir rapat-rapat, takut sewaktu-waktu tawa mereka meledak. Yesung pasti marah, tapi dugaan Yesung sengsara di medan perang jauh lebih menyenangkan.
Yukari berani bertaruh, pria yang selama ini dingin dan memiliki aura membunuh pasti juga kalah terhadap godaan semacam ini.
"Eomma, masih mau lagi?" Kage kembali bertanya datar, seolah tak terjadi apa-apa.
Ryeowook mengangguk lemah, memakai suara paling parau miliknya, "Lagi... Lagi... Aku menginginkan lebih..."
Zrat! Satu cahaya menyilaukan di tengah ruang tamu membutakan berpasang-pasang mata. Lingkaran sihir kemudian perlahan menghilang, menampangkan wajah garang seorang Yesung dengan senyuman setan.
"Nah, apa aku ketinggalan sesuatu?"
Ketiga penyihir di sofa meneguk ludahnya bulat-bulat.
Berbeda jauh dari kedengarannya, sebenarnya mereka tidak sedang melakukan apapun. Ryeowook masih di posisi tadi, duduk di tengah tiga penyihir. Tanpa pemandangan tersiksa seperti otak mesum pikirkan.
Damn it, ketiga penyihir membatin, kenapa Yesung sungguhan pulang?!
"Yesung-sama, penyelidikkannya—"
"Sudah selesai. Baru saja selesai. Dan aku baru siap pergi melaporkan hasil pada Sesepuh. Jadi, anak-anak sialan, apa yang kalian lakukan huh? Jawab pertanyaanku."
"M-Menggodamu, Appa."
"Bukankah tubuh ini terlihat menggoda?" Yukari masih berusaha tenang.
"Brengsek kalian semua."
Satu gerakan, rantai-rantai itu melesat melilit tubuh mereka, mengangkat mereka seperti kardus kosong lalu melempar mereka keluar jendela.
Sehabis mengucapkan serentetan mantra penutup jalan masuk, ia maju ke jendela. "Dengar, tidurlah di sana untuk malam ini, anak-anak keparat."
"Appa!"
"Andwae! Di sini banyak nyamuk!"
"Yesung-sama..."
"Selamat menikmati waktu hukuman kalian."
Jendela terkunci rapat. Ryeowook merinding hebat, meringkuk ketika Yesung mendekatinya tanpa ekspresi yang bisa ddijelaskan.
"I-Itu... Aku bisa menjelaskan—"
Terlalu mendadak. Tahu-tahu Yesung sudah menahan dua tangannya di sandaran sofa.
"Bertanggung jawablah sedikit. Kau sudah membangunkan sesuatu."
Yesung langsung melahap ganas sepasang bibirnya. Melampiaskan segala pikiran kotornya tadi pada tindakan nyata. Dan rasa jilatannya pada setiap saliva di dalam rongga mulut Ryeowook terasa manis.
Yesung tak pernah seagresif ini sebelumnya.
Ryeowook juga sadar itu. Apa dia masuk ke lubang buaya sekarang? Oh, tidak. Membangunkan buaya dari tidur memang menakutkan.
Tangan mungil itu merambat ke tengkuk, menekannya kuat-kuat agar ciuman mereka tak terlepas. Tak berhenti di situ saja, Yesung mengajak bermain lidahnya, mendorong-dorong dan sesekali membuat gerakan menggelitik.
Ryeowook bisa apa selain pasrah? Membalas sebisanya dan meladeni apapun yang Yesung inginkan. Terkadang dia berpikir, kenapa penjaga yang yang bertindak bos di sini? Seharusnya kontraktor, kan?
Dan seolah dapat membaca pikirannya, Yesung menjauhkan kepalanya. Meraih tangan kiri Ryeowook dan menjilat punggung tangannya.
Malu luar biasa menerjang Ryeowook. Tenggorakkannya pun mendadak tercekat. "Y-Yesung..."
"Yukari bilang anjing sialan itu melakukan ini padamu." Jelas Yesung singkat, datar tanpa ekspresi.
Jujur itu mampu mendiamkan Ryeowook. Selain tegas, ia terlalu absolut untuk dilawan. Dan kenyataannya, Yukari memang berbohong soal jilatan Kage.
Lama kelamaan, jilatan itu berubah menjadi hisapan dan gigitan kecil. Yesung melakukannya di sekitar pergelangan kemudian naik ke lengan dan terakhir di leher.
Ryeowook mendongak setinggi-tingginya, memejamkan mata. Sensasi geli serta nikmat berlomba-lomba merusak pikiran jernihnya. Mulutnya seolah tak terkontrol, terus mengeluarkan desahan.
Cukup lama mereka di posisi seperti itu, hingga akhirnya Yesung bangkit, duduk di samping Ryeowook. Mengambil jeda napas sebanyak yang ia bisa sebelum berkata yakin.
"Ryeong, pinjamkan tanganmu."
"Eh?"
Menolak respon lambat sang malaikat, Yesung segera menarik tangan terdekat. Menurunkan resletingnya dan mengeluarkan sesuatu yang telah keras sejak tadi. Kemudian mengarahkan tangan Ryeowook ke miliknya secara paksa.
Warna merah menutupi pipi Ryeowook. Lantas memekik kaget, "Y-Yesung!"
"Ini akan segera selesai. Diam saja."
"T-Tapi ini memalukan—"
"Diam. Bersyukurlah aku tak mau memasukimu. Jadi lakukan saja."
Ryeowook merasa setengah gembok yang menahan sesak napasnya berkurang satu. Ia panik dan belum siap dengan segala sesuatu berbau seks tapi beruntung Yesung sangat pengertian, dia peka.
Meski enggan, perlahan ia mengurut benda besar dan sedikit keras itu. Memijatnya lembut tanpa berani mendongak. Napas kekasihnya yang memburu begitu terasa di sekitar poninya.
Ryeowook tergoda melakukan hal lebih. Pikirannya sontak dipenuhi spekulasi lain ketika Yesung bergumam pelan, seolah mengatup bibirnya rapat-rapat.
Jika diperhatikan, penis Yesung lebih besar dari bayangannya. Tak salah kalau sampai satu tangan Yesung ikut memainkan miliknya sendiri. Iris Ryeowook berpaling sejenak.
Tidak adil. Entah kenapa Ryeowook seakan terdesak untuk terus menunduk dan melihat benda panjang itu semakin lama semakin mengeras. Sedangkan Yesung, matanya setengah terpejam dan mati-matian menekan tenggorokan agar tak bersuara.
Yesung masih punya gengsi tinggi meski dalam keadaan ini.
Namun Yesung tak mungkin terus menahan hasratnya yang mengemis minta dipuaskan.
"Ryeowook, lebih kuat sedikit."
"E-Eh? Bukannya sakit?"
"Bodoh. Memangnya kau tak pernah main single?" Hardik Yesung dengan nada rendah, persis di keningnya.
Ryeowook mencicit minta maaf, lantas mengencangkan pegangannya menjadi maksimal dan itu berhasil membuat Yesung mengumpat. Dari situ lenguhan serta engahan seksi Yesung terus mengalir bagaikan alunan musik.
Semakin penasaran, Ryeowook memberanikan diri untuk mendongak. Betapa terkejutnya ia melihat wajah Yesung dipenuhi peluh.
Pria itu nampak kecapekan. Poninya setengah basah, tatapannya sayu dan mulutnya sedikit terbuka, menimbulkan ekspresi mesum luar biasa bagi Ryeowook dan sialnya, libido Ryeowook ikut naik karenanya.
"Ukh..." Milik Yesung mengeras sempurna, pikir Ryeowook dalam hati. Rona pipinya menjadi-jadi ketika jarinya memberanikan diri untuk bermain di sekitar lubang penis Yesung.
"Sial. Itu menggelikan." Umpat Yesung, masih pada gengsinya.
Ryeowook tak membalas. Memainkan precum Yesung sebentar dan kembali memijat junior tersebut. Kali ini dengan kedua tangan.
"Bagus. Terus seperti itu... Enghh..."
Bukan sesuatu yang patut dibanggakan tapi Ryeowook senang mendengarnya. Ia tersenyum dan mengecup bibir Yesung sekilas. Tak bermaksud apapun. Hanya kecupan ringan karena ingin saja.
Yesung tersenyum tipis. Sepintas pikiran iseng seperti membalas mempermainkan junior Ryeowook melewati benaknya namun secepat itu juga ia tepis itu.
Tidak, dia tak boleh mengotori kepolosan Ryeowook. Sama sekali tidak. Dosa namanya mengotori kepolosan seorang malaikat Tuhan.
Tapi main single ini saja juga termasuk dosa.
"Yesung, kau mesum sekali." Komentar Ryeowook, semakin mempercepat kocokannya pada junior penjaganya.
Tak mau kalah, Yesung menyeringai kecil. "Sialan. Aku bertaruh kau akan mendesah leboh keras jika aku yang melakukannya padamu. Bahkan sampai memohon untuk berbuat lebih."
Air muka Ryeowook semakin merah tak karuan. "B-Berisik! Dasar mesum!"
Yesung mengerang, Ryeowook mengencangkan pegangannya secara tiba-tiba, nyaris membuatnya klimaks.
Dengan amarah setengah meletup-letup dan bayang-bayang rasa sakit akan klimaks tak jadi, Yesung menggeram. "Brengsek, sini kau!"
"Ap—Hmph!" Lidah Yesung melesak masuk, dan menusuk-nusuk lidah pasangannya, mengajaknya berpangutan mesra dan pasrah di bawah hisapan antar bibir.
"Panggil namaku." Titah Yesung disela ciumannya.
Ryeowook merasa pandanganya agak kabur. Konsentrasinya mulai pecah antar mengocom dan membalas. "Anghh... Umhh... Yesung..."
Yesung cepat-cepat mencengkram tangan Ryeowook dan seketika cairan putih keluar mengotori sofa dan sebagian baju mereka.
Menikmati masa-masa orgasmenya, bibir Yesung berhenti bergerak tanpa berniat menjauhkan wajahnya. Dikesempatan itu, Ryeowook mengatur napas sebisanya sebelum jatuh dalam ciuman panas yang seolah tak memiliki jeda tersebut.
.
.
.
"Kotor. Lengket. Agak bau." Protes Ryeowook ketika selesai dari aktivitas mereka. Ia ambruk, berbantalkan lengan sofa yang empuk.
Yesung membetulkan letak celananya, bangkit berdiri. "Bersihkan. Jangan sampai ada yang tahu. Aku mau ke kamar dulu."
"Eh, tunggu!" Ryeowook hendak menahannya tapi terlambat, pria itu telah menghilang. Bahkan sebelum Ryeowook melihat wajahnya.
Dia pun meringis, mencoba perlahan bungkuk dan meracau kesal.
"Yesung sialan! Lihat apa yang kau lakukan padaku!"
Matanya melirik sesuatu di balik celana pendek yang ia kenakan. Kemudian meringis lagi, nyaris menangis.
"Ah, sial, sial, sial! Dia kabur begitu saja setelah melakukan kekacauan. Aku ben—Tunggu, cairannya lumayan bisa kupakai untuk main single."
Dengan polosnya Ryeowook menempelkan tangannya disisa kubangan sperma tersebut dan mulai mengocok juniornya dengan itu. Lumayan licin, hampir menyamai penggunaan sabun.
Ia memejamkan mata dan menyandar pada sandaran sofa.
"Ukh... Ohhh... Yesung..."
Sekedar informasi, sejak tadi ada sebuah kamera yang mengintai pergerakan dua namja Kim. Jika kau bertanya dari mana asalnya, asalnya dari jendela. Dan yang memegangnya adalah seorang gadis bersayap iblis.
"Kalian pikir menendangku keluar bisa membuatku menyerah merekam?" Gumamnya entah siapa.
Sementara Song Brothers, mereka berdua menguping ke kamar Yesung setelah mendaki tangga es buatannya yang ada di balkon.
"Apa yang kulakukan? Bermain-main dengan malaikat? Tuhan pasti akan mengutukku! Dia masih polos dan rapuh. Kalau ku masuki bisa-bisa nyawaku dicabut langsung oleh Tuhan."
Hikari mengumpat.
"Apa Yesung lupa kalau mereka sudah menikah? Sex bukannya sah-sah saja saat sudah menikah?"
Kage mengangkat bahu.
"Yesung-sama 'kan anak Tuhan. Melakukan sex pada Ryeowook sama saja menjadi pedofil. Umur Ryeowook masih enam belas tahun, ingat?"
"Damn. Jadi selama ini aku pedofil padamu?"
"Usia kita beda setahun, hyung. Jadi hitunganya masih sex dibawah umur."
"Persetan dengan itu, ayo kita lakukan sekarang di kamar."
"Kalau lain kali kita ajak Appa dan Umma melakukannya bareng-bareng, aku mau."
"Lain kali, kan? Oke, tidak masalah."
Sebenarnya sungguh sial Yesung menampung tiga orang mesum dan berpikiran gila di rumah.
Semoga saja Yesung (mau pun Ryeowoook) bisa menahan hasrat masing-masing.
"Oh, shit!"
.
.
.
The End
A/N:
Anggep aja saya lagi sue bin ngenes bin stress sama UCUN dan sebangsanya sampai ketika pembicaraan ngawur dua teman saya sampai saya salah dengarin jadi Phone Sex.
Dan dimulailah plot ini. Awalnya pengen bikin Yesung nggak balik dan tersiksa beneran tapi thanks banget buat ketiga OC saya yang bisa saya nistain. Yang satu hard fujo, yang satu gila sex, satunya lagi anteng mau diapain aja.
P.S: Pas nge-edit fict ini, saya beneran kepikiran pengen buat semacam gangbang dari mereka berlima. Seems Yukari yang bakal paling heboh nyiksa dua uke hm #Abaikan
Last, mind to review? ^^
