Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Warning : Genre, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya
Summary : Saat alunan piano itu mulai berakhir disaat itu pula Sasuke sadar. Dia sadar akan janjinya dulu, janji yang pernah ia ucapkan. Dan semuanya sudah terlambat, sosok itu sudah terlanjur terluka karena ulahnya.
Just Cant't Let You Go
By
Sentimental Aqumarine
Pagi ini sebelum berangkat ke kampus Naruto akan terlebih dahulu datang ke rumah Kyuubi. Dia sudah berjanji untuk datang kemarin saat Kyuubi mengatarnya pulang ke rumah. Dan disinilah dia berada, di depan gerbang bercat coklat itu. Naruto menekan bel.
"Iya, siapa?" tanya seseorang diseberang sana
"A-aku Naruto, guru les yang diperintahkan Kyuubi untuk mengajar adik perempuannya"
"Oh, kau ternyata. Baiklah, aku akan segera kesana untuk menjemputmu"
"Hai!"
Beberapa menit kemudian, gerbang dibelakang Naruto terbuka. Naruto menoleh, mendapati seorang pria berdiri tak jauh darinya. Naruto membungkukan badan memberi hormat dan pria itu juga melakukan hal yang sama.
"Silakan, Kyuubi-sama sudah menunggu anda, Nona"
"Jangan panggil aku Nona, panggil saja Naruto" ujar Naruto sambil tersenyum
"Baiklah, Naruto"
Naruto sedang menunggu Kyuubi dan adik perempuannya di ruang tamu, sesekali gadis itu menyampu pandangannya ke seisi ruangan. Ruangan ini besar sekali, lebih besar dari ruang tamu yang ada di rumahku, batinnya miris.
Naruto menyesap tehnya saat Kyuubi datang. "Sudah lama menunggu?" tanya pemuda itu. Naruto menggeleng. "Tidak juga" ujar Naruto. Kyuubi mendudukan dirinya disebrang tempat duduk Naruto, pemuda itu mengambil kopinya kemudian menyilangkan kakinya.
"Jadi, kau sudah siap memulai pekerjaanmu hari ini?" tanya Kyuubi seraya menyesap kopi miliknya, sesekali pemuda itu melirik kearah Naruto. "Aku siap" ujar Naruto
"Baiklah"
Tiba-tiba seorang gadis yang sepertinya seumuran dengan Naruto memasuki ruangan itu, memberikan sebuah kesupan di pipi Kyuubi. "Dimana guru les yang dijanjikan Kyuu-nii untukku itu?" tanya gadis pirang itu.
Sekilas Naruto melihat gadis pirang itu dari balik topinya. "Dia sedang duduk disana" tunjuk Kyuubi ke Naruto. Gadis itu melihat kearah Naruto kemudian menghampiri Naruto dan duduk disebelahnya.
"Kau yang jadi guru les-ku?" tanya gadis itu. "Iya" ujar Naruto. "Kalau begitu, perkenalkan aku Namikaze Deidara" ucap gadis itu sambil mengulurkan tangannya didepan Naruto. Naruto menyambut tangan itu dengan ragu.
Deg!
Tiba-tiba Naruto merasa jantungnya berdetak lebih cepat saat tangannya bersentuhan dengan tangan Deidara. 'Perasaan apa ini?' gumamnya
"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Deidara khawatir saat Naruto malah diam saat mereka bersalaman
"I-iya, aku baik-baik saja. Namaku Naruto" ujar Naruto kikuk
"Nah, Naruto. Kapan kita akan memulai belajar bermain piano?" tanya Deidara semangat
Kyuubi tertawa pelan mendengar betapa semangatnya adik perempuannya itu. "Jika kau mau, sekarang juga tidak masalah" tawar Naruto. "Benarkah?" tanya Deidara memastikan. "Tentu saja" jawab Naruto.
"Kalau begitu, ayo kita ke ruang musik sekarang" ajak Deidara sambil menarik pergelangan tangan Naruto, tapi sebelum itu ia mendaratkan ciumannya lagi ke pipi Kyuubi.
"Arigatou, Kyuu-nii" bisik Deidara pelan
Dan kemudian pergi sambil menarik Naruto dari ruangan itu. Kyuubi hanya menatap punggung kedua gadis itu sambil tersenyum. Menaruh kopinya di meja dan kemudian beranjak dari sana untuk menuju kantor.
Sasuke menikmati sarapannya dalam diam begitupun dengan para anggota keluarga yang lain. Sampai Fugaku, sang kepala keluarga bersuara.
"Ada yang ingin Tou-san sampaikan padamu Sasuke" ucap pria paruh baya itu. Sasuke tak menjawab dia masih terus fokus dengan makanannya. "Tou-san ingin kau menikah dengan putri dari kolega Tou-san" ujar Fugaku.
Sasuke menghentikan acara makannya, menatap sang ayah dengan tajam, sedangkan yang ditatap malah meminum minumannya dengan santai, seakan tak terpengaruh oleh tatapan mematilan milik sang anak.
"Aku tak mau" ucap Sasuke datar
"Tou-san tak menerima penolakan Sasuke"
Sasuke mendengus. "Kenapa kau selalu mengatur hidupku?" tanya Sasuke sengit. "Jaga bicaramu Sasuke! Aku ini ayahmu" ujar Fugaku. Sasuke bangkit dari kursi, melempar serbet keatas meja dengan kasar kemudian berbjak pergi.
"Kau tak bisa memaksaku menikah dengan anak kolegamu itu, karena aku sudah memiliki kekasih" ujar Sasuke sambil membelakangi sang ayah.
"Kau memilih kekasih miskinmu itu?" ucap Fugaku. "Dengar Sasuke, mau atau tidak kau harus menikah dengan gadis pilihan ayah"
Sasuke mengepalkan tangannya erat membuat buku-bukunya memutih. Pemuda itu kemudian berlalu meninggalkan ruang makan. Mikoto hanya menghela napas berat melihat pertengkaran ayah dan anak itu sedangkan Itachi, si sulung Uchiha itu masih menikmati sarapannya dalam diam tak terpengaruh sedikitpun dengan pertengkaran itu.
"Aku sudah selesai" ucap Itachi kemudian beranjak pergi dari tempat itu
.
.
.
.
.
.
Sore ini hujan sedang turun, Naruto semakin mempercepat laju berlarinya. Beberapa meter dari rumahnya, Naruto melihat Sasuke sedang berdiri di depan pagar rumahnya dengan pakaian yang sudah basah kuyub.
"Sasuke" ucap gadis itu
Naruto berlari menghampiri pemuda itu. "Sasuke, apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto. Sasuke menoleh, tapi beberapa detik kemudian tubuh tumbah, untung saja Naruto yang memiliki gerak refleks yang bagus langsung menangkap tubuh itu.
"Sasuke! Hei! Sadarlah"
Naruto membawa tubuh Sasuke ke dalam rumahnya, membaringkannya keatas kasur. Menganti pakaian Sasuke dengan pakian miliknya, untung saja dia memiliki pakaian yang pas dengan tubuh Sasuke. Walaupun acara menganti pakaian itu memakan waktu yang lama karena Naruto tak berani membuka celana Sasuke. Dengan menutup mata untuk melakukannya karena bagaimanapun juga ia tidak mau melihat benda sakral milik kekasihnya itu. Dan sekitar 30 menit kemudian akhirnya ia berhasil mengganti pakaian Sasuke.
Naruto membawa sebaskom air dan handuk putih untuk mengompres dahi Sasuke. Naruto mangambil alat pengukur suhu tubuh dari mulut Sasuke.
"39 derajat, pantas saja dia sampai pingsan begitu" ucap Naruto. Dengan telanten dan sabar gadis itu merawat Sasuke, setiap 15 menit sekali dia mengganti kompres Sasuke kemudian menaruhnya lagi. Hingga dia tertidur disebelah Sasuke karena kelelahan.
Sasuke mengerjapkan matanya, kepala pusing sekali seperti habis dipukul dengan karung beras. Tanpa sengaja tangan Sasuke menyentuh kepala Naruto. Dia pandanganya gadis yang tengah tertidur itu. Dia ingat, dia sedang menunggu Naruto di depan rumah gadis itu sampai hujan turun. Dia juga ingat saat gadis itu pulang dan memanggil namanya, tapi setelah itu dia sudah tak ingat apa-apa lagi.
Tangan itu mengelus lembut surai pirang Naruto, senyum terkembang dibibir Sasuke. Naruto terbangun saat merasakan ada tangan yang mengelus-elus kepalanya.
"Sasuke, kau sudah sadar?" tanya Naruto
"Aku kenapa?"
"Kau pingsan, suhu badanmu tinggi sekali. Membuatku takut saja"
"Kau yang mengganti pakaianku?"
"Iya"
"Kau juga melihat punyaku?"
Blush!
Naruto merona saat mendengar ucapan Sasuke. "T-tidak" ujar Naruto gugup. "Kalau tidak kenapa gugup begitu?" goda Sasuke. "Aku tidak melihatnya Sasuke!" ucap Naruto sebal. "Benarkah?" tanya Sasuke lagi. "Tentu saja" ujar Naruto. "Kalau kau lihat juga tidak apa-apa" ucap Sasuke.
Naruto mendengus kesal kemudian membalikkan badan dan beranjak pergi dari kamar itu. Dasar menyebalkan, umpat Naruto. Sasuke tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya itu apalagi saat dia melihat rona merah di pipi Naruto. Itu benar-benar menggemaskan.
Naruto membawa tampan berisi makanan dan juga segelas air minum "Makanlah, setelah itu minum obat. Suhu badanmu masih belum normal" ucap Naruto seraya menyodorkan nampan itu ke pangkuan Sasuke. "Hn" gumam Sasuke. untuk beberapa detik Sasuke hanya memandangi makanan dihadapannya itu.
"Itu untuk dimakan bukan untuk kau lihat saja, Sasuke"
"Aku tahu itu" ujar Sasuke datar
"Lalu, kenapa tidak kau makan?" tanya Naruto
"Tubuhku masih lemas, Naruto"
"Apa hubungannya tubuhmu yang lemas itu dengan memakan makananmu?"
"Tentu saja ada, aku tak bisa memengang sendok jika tubuhku lemas"
"Jadi, kau memintaku untuk menyuapimu begitu?"
"Bukan meminta tapi menyuruhmu untuk menyuapiku"
"Aku bukan pembantumu, jadi kau makan saja sendiri"
"Tapi kau kekasihku, sebagai kekasih yang baik kau harus merawat kekasihmu yang sedang sakit"
"Terserah" ujar Naruto malas sambil mengambil nampan yang berada dipangkuan Sasuke kemudian menyuapi pemuda itu. Sedangkan Sasuke, dia tentu saja sangat senang dengan perlakuan Naruto. Jarang-jarang 'kan dia menerima perlakuan manis dari kekasih pirangnya itu.
Sasuke memakan buburnya hingga habis setelah itu meminum obat pemberian Naruto. "Istirahatlah, aku ada di dapur jika kau butuh sesuatu" ujar Naruto dengan nampan berisi mangkok kosong. Sasuke menahan Naruto dengan menggegam pergelangan tangan gadis itu. "Ada apa?" tanya Naruto.
"Tetaplah disini" ujar Sasuke pelan. Naruto menghela napas berat. "Baiklah" ucap Naruto sambil menaruh kembali nampan itu keatas meja kemudian mendudukan dirinya disamping tubuh Sasuke yang sedang terbaring.
Naruto mengelus-elus rambut hitam Sasuke dalam diam. "Aku tak akan meninggalkanmu, kau tahu itu 'kan?" ucap Sasuke tiba-tiba. Naruto menghentikan tangannya yang sedari tadi mengelus-elus rambut Sasuke sejenak kemudian kembali melanjutkan kegiatannya itu. Naruto tersenyum getir setelah mendengar ucapan Sasuke. "Jangan bercanda Sasuke" ucap Naruto.
"Aku tak bercanda Naruto!" ujar Sasuke seraya bangkit dari posisi berbaringnya kemudian menangkup wajah Naruto. "Dengar! Aku mencintaimu. Sangat. Aku tak akan meninggalkanmu, Naru" ucap Sasuke sambil mentap langsung ke biji mata Naruto. Naruto menghela napas. "Jangan berjanji untuk sesuatu yang belum pasti kau lakukan, Sasuke" ujar Naruto lirih.
"Kau tak percaya padaku?" tanya Sasuke
Naruto menggeleng lemah. "Aku percaya padamu, Sasuke. Aku hanya…" ucap Naruto menggantung.
"Hanya apa?"
"Aku hanya tidak yakin hubungan ini akan berhasil"
"…."
"Kau bilang, ayahmu yang mengatur hidupumu. Aku juga yakin jika… ayahmu juga mengatur tentang masa depanmu, tentang wanita yang akan menjadi kekasihmu bahkan mungkin…menjadi istrimu kelak"
"….."
"Aku tidak ingin nantinya aku…merasakan sakit Sasuke" lirih Naruto. "Tak 'kan ku biarkan dia mengatur hidupku lagi, kau wanita satu-satunya yang kucinta. Aku tak akan menyakitimu" ucap Sasuke sembari menempelkan dahinya dengan dahi Naruto.
Naruto memejamkan kedua matanya saat dirasakannya bibir Sasuke menyentuh bibirnya. Menyapu bibirnya dengan lidahnya. Ciuman lembut itu berubah menjadi ganas, saat Sasuke mulai menggigit, menghisap dan bahkan melumat bibir Naruto. Lidah Sasuke menekan-nekan bibir Naruto, menyuruh kekasihnya itu untuk membuka mulutnya. Sasuke menggigit bibir bawah Naruto saat dirasanya Naruto tak jua membuka mulutnya. Lidah terlatih Sasuke itu langsung menerobos masuk, mengambsen setiap gigi Naruto, menghisap lidah milik kekasihnya itu dan mengajaknya untuk bermain.
"Mmmmph" erang Naruto tertahan saat lidah Sasuke menyentuh langit-langit mulutnya dan ciuman itu masih berlangsung untuk beberapa menit kedepan. Mencicipi rasa pasangannya, menikmati setiap detik dan sentuhan yang diberikan oleh pasangan mereka.
.
.
.
.
.
.
Siang ini adalah jadwal Naruto untuk mengajar Deidara. Gadis itu melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Masih ada waktu satu jam sebelum dia mengajar, jadi dia putuskan untuk membeli ramen dan serangkai bunga. Entah kenapa dia ingin sekali memberikan sesuatu untuk muridnya itu. Setalah selesai membeli ramen dan bunga yang akan ia berikan untuk Deidara, Naruto langsung pergi menuju rumah Deidara.
Naruto sedang duduk di sofa ruang tamu, dia sudah sampai beberapa menit lalu. "Konichiwa, Naru" sapa Deidara. Naruto menoleh. "Konichiwa mo, Dei" sahut Naruto sambil tersenyum. "Apa itu?" tanya Deidara saat dilihatnya Naruto membawa sesuatu.
"Ini ramen dan bunga Lily untukmu" ujar Naruto sambil menyodorkan kedua benda itu kearah Deidara
"Untukku?"
"Iya, untukmu"
"….."
"Kau tidak su…"
"Bagaimana bisa kau tahu kalau aku suka sekali dengan ramen dan bunga Lily?"
"Hehehe, anggap saja itu tebakan yang beruntung" ujar Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya
"Arigatou, Naru" ucap Deidara kemudian menghambur kerah Naruto dan memeluk gadis itu
Deg!
'Perasaan itu lagi' batin Naruto
Entah kenapa setiap kali mereka berdua bersentuhan, jantung Naruto akan berdetak lebih cepat dan dia juga merasakan perasaan berbeda saat Deidara menyentuhnya.
"Ne, Naru" ucap Deidara sesaat seetelah melepaskan pelukannya dari Naruto
"I-iya"
"Apa aku boleh memakan ramenku sebelum kita memulai latihannya?"
"Tentu saja" ucap Naruto seraya mengacak-acak rambut pirang Deidara
"Arigatou"
Keesokan harinya…
Sasuke sedang menunggu Naruto di ruang tamu, hari ini meraka akan pergi ke taman bermain. "Ayo kita berangkat" ajak Naruto. Sasuke memandang tajub kekasihnya, hari ini gadis itu tampak berbeda. Tak ada lagi celana jeans, sepatu kets, kaos atau kemeja bahkan tak ada lagi topi orange yang sering digunakannya itu. Sasuke tersenyum kearah Naruto, melihat kekasihnya itu mengenakan dress berwarna putih selutut, dengan kalung berbandul biru. Rambut pirangnya yang sengaja ia gerai serta sepasang flat shoes yang juga senada dengan warna dress yang ia kenakan. Benar-benar cantik, bantin Sasuke.
"Ayo kita pergi, Hime" bisik Sasuke
Dan disinilah mereka berada, di area taman bermain. Menaiki setiap wahana yang ada. Sasuke memeluk erat pinggang Naruto saat mereka sedang duduk di sebuah bangku yang berada tepat dibawah pohon Sakura. Naruto sedang memakan ice creamnya.
"Kau mau?" tawar Naruto
"Aku tidak suka makanan manis. Naruto"
"Hmm, tapi ini enak lho. Ayo, cicipi sedikit Sasuke"
"Tidak"
"Ayolah"
"Baiklah jika kau memaksa. Tapi aku tak mau manis yang itu" tunjuk Sasuke kearah ice cream yang dipegang Naruto
"Eh?"
"Aku ingin manis yang ini" ucap Sasuke seraya melumat bibir Naruto yang ternyata belepotan ice cream
"Sa-suke, mmmph" desah Naruto ditengah ciuman mereka
Sasuke melepas ciuman mereka saat pasokan oksigen sudah mulai menipis, dilihatnya wajah kekasihnya yang sudah memerah itu. Ditariknya tengkuk Naruto dan mencium bibir Naruto kembali. Tapi, kali ini ciuman itu hanya sebentar saja. Tanpa nafsu seperti saat tadi, ini benar-benar tulus, Sasuke hanya menempelkan bibirnya di bibir Naruto. Menikmati setiap hembusan nafas Naruto yang menerpa kulit wajahnya.
"Aishiteru, Naru" ucap Sasuke setelah melepas ciumannya
"Aishiteru mo, Sasuke"
.
.
.
.
.
.
2 bulan kemudian…
"Kau berhasil membuat adikku pandai bermain piano, Naruto" ucap Kyuubi yang kini sedang berdiri diambang pintu
"Kyuu-nii" ujar Deidara kemudian berlari kearah kakaknya itu. "Kapan Kyuu-nii pulang dari New York?" tanya Deidara. "Baru saja, Tou-san juga sudah pulang" ucap Kyuubi. "Benarkah? Dimana Tou-san sekarang?" tanya Deidara lagi. "Sedang ada di ruang tamu" jawab Kyuubi. "Kalau begitu, Dei akan menemui Tou-san" ujar Deidara dan kemudian pergi ketempat ayahnya berada.
Naruto menghampiri Kyuubi. "Dia tampak senang sekali" ujar Naruto. "Ya, begitulah. Setiap kali Tou-san pulang dia pasti akan seperti itu".
"Ne, Naruto . Ayo, aku akan mengenalkanmu pada Tou-san" ajak Kyuubi yang dibalas anggukan kepala oleh Naruto
"Terima kasih sudah membuat adikku bisa bermain piano. Kau benar-benar pengajar yang berbakat" puji Kyuubi
"Itu juga karena Deidara berlatih dengan sungguh-sungguh" ujar Naruto
"Tapi tanpa kau yang mengajarnya itu tidak akan terjadi"
"Anda terlalu memujiku, Kyuubi-sama"
"Itu kenyataan Naruto dan panggil aku Kyuu-nii saja"
"Baiklah"
Natuto dan Kyuubi sudah sampai di ruang tamu kediaman itu. Tampak Deidara sedang bergelayut manja di lengan sang ayah, membuat Naruto iri. Jujur saja, dia tak pernah merasakan memiliki seorang ayah, jangankan memiliki, memeluk saja tak pernah. Naruto tak dapat melihat wajah pria itu karena dia kini tengah membelakangi Naruto.
"Tou-san ada yang ingin kukenalkan padamu" ucap Kyuubi
"Siapa, Kyuu?" tanya sang ayah
"Naruto kemarilah" panggil Kyuubi dan kemudian Naruto melangkah mendekati pria berambut pirang tersebut. Pria paruh baya itu menoleh. Rambut pirang, sepasang mata beriris sapphire. Naruto memandang sosok dihadapannya itu tak percaya. Sosok itu seperti pantulan dirinya sendiri.
"Lihat, apa Dei bilang. Tou-san dan Naruto mirip sekali bukan?" ucap Deidara
"Siapa namamu, nak?" tanya pria itu
"N-naruto"
"Nah, Naru-chan, perkenalkan. Saya Namikaze Minato, ayah dari Kyuubi dan Deidara" ucap Minato sembari tersenyum
'Kenapa dia mirip sekali denganku' batin Naruto dan Minato bersamaan
"Maaf mengganggu Tuan, saya hanya ingin menyampaikan jika makan malam sudah disiapkan" ujar seorang Maid yang Naruto tahu bernama Iruka
"Baiklah, kami akan segera kesana"
"Baik Tuan"
"Kalau begitu, ayo kita makan malam bersama. Kau juga Naru-chan" ajak Minato
"T-tapi saya…"
"Ikut saja" ucap Deidara yang kini sudah berpindah kesamping Naruto seraya merangkul gadis itu
"B-baiklah" ujar Naruto
Makan malam itu terasa sangat menyenangkan. Deidara selalu mengajak Naruto mengobrol, Naruto yang awalnya merasa tidak nyaman, lama kelamaan menjadi lebih santai. Sesekali gadis itu membuat lelucon yang membuat Minato, Kyuubi dan Deidara tertawa. Naruto juga menceritakan pengalaman buruknya saat masih duduk dibangku SMP, saat ia berkelahi dengan teman laki-lakinya untuk menolong seorang anak kecil yang mereka ganggu. Dan saat ia pulang, dia dimarahi oleh ibunya karena pulang dalam keadaan tubuh kotor karena bergulat diatas lapangan yang basah serta beberapa luka lebam di wajahnya. Naruto bercerita apa saja, saat dia memenangkan perlombaan bermain piano, saat dia dihukum kerena meloncati pagar sekolah, saat dia memulai pekerjaan part time-nya untuk membeli sebuah skateboard. Semua ia ceritakan pada keluarga itu. Entah kenapa, merasa nyaman berada didekat keluarga ini.
'Apa ini rasanya memiliki ayah dan saudara' batin Naruto
Makan malam sudah selesai beberapa menit yang lalu dan Naruto meminta ijin untuk pulang karena hari sudah malam.
"Aku akan menyuruh Kyuubi untuk mengantarmu"
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri"
"Kau anak perempuan Naruto dan terlalu berbahaya jika anak perempuan berkeliaran di malam hari"
"Ayahku benar Naruto, biar aku yang mengantarmu pulang" ujar Kyuubi
"Baiklah"
"Kalau begitu ayo" ajak Kyuubi
"Aku pulang dulu Deidara dan terima kasih atas makan malamnya Minato-sama" ucap Naruto
"Panggil saja Jii-san jangan terlalu formal begitu"
"Baiklah, Jii-san. Aku pulang dulu"
"Hati-hati dijalan" ujar Minato
.
.
.
.
.
.
Naruto sedang berbaring diatas tempat tidurnya. Dia sudah sanpai di rumahnya satu jam yang lalu. Dipandanginya kalung berbandul batu biru miliknya itu dan kemudian dibaliknya. Tertera dua huruf disana, sebuah inisial sepertinya.
"ND, bahkan sampai sekarang aku tak pernah tahu apa artinya itu" gumam Naruto seraya memeluk kalungnya. "Kaa-san, Naru… rindu" bisiknya pada udara. Dan kemudian mata itu terpejam, membawa Naruto kealam mimpi.
Di tempat lain, disebuah balkon terdapat Deidara sedang memandangi langit malam sambil menggenggam sebuah kalung berbandul batu biru ditangannya. Deidara memembalik kalung itu kemudian memandangnya.
"Apa yang kau lakukan disini, Dei?" tanya Kyuubi
"Tidak ada"
"Kenapa kau melihat kalungmu seperti itu?"
"Aku hanya bingung saja"
"Bingung kenapa?"
"Kyuu-nii tahu inisial yang ada dibelakang kalung ini?" tanya Deidara
"Iya, Kyuu-nii tahu. Memangnya ada apa?"
"Aku tak tahu arti NN itu, Kyuu-nii"
"Jadi, kau memikirkan hal itu?"
"Begitulah, aku hanya heran saja. Kenapa harus NN bukan ND? Itu 'kan inisal namaku"
"Kyuu-nii juga tidak tahu"
"Haah~ Kyuu-nii sih enak, punya kalung berinisial nama sendiri"
"Jadi kau iri, begitu?"
Deidara mengangkat kedua bahunya kemudian memakai kembali kalung itu ke lehernya. "Sudah ah, Dei ngantuk. Oyasumi, Kyuu-nii" ucap Deidara seraya mencium pipi kakaknya itu. " Oyasumi little imoutou".
Keesokan harinya….
"Kita akan pergi kerumah kolega ayah untuk membicarkan hari pertunanganmu dengan putrinya besok malam" ucap Fugaku
"Aku tidak bisa, aku sudah ada acara"
"Acara apa? Acara kencan konyolmu dengan kekasihmu itu?!"
"….."
"Sudah berapa kali ayah bilang, jangan dekati gadis itu lagi. Apa kau ingin ayah menghacurkannya? Membuatnya menderita, begitu?"
"Jangan coba-coba melakukan hal itu!" ucap Sasuke dingin
"Kalau kau tak ingin ayah melakukan itu, jangan membantah perkataan ayah. Jadilah, anak yang baik. Kau memgerti?"
"….."
"Kau mengerti, Sasuke?!"
"Aku mengerti" ucap Sasuke datar kemudian beranjak pergi menuju kamarnya
Minato dan kedua anaknya sedang manyantap sarapan mereka. Saat Minato berkata kediaman mereka akan kedatangan tamu besok malam. "Siapa tamu kita itu Tou-san?" tanya Kyuubi. "Salah satu kolega ayah, dia bermaksud untuk menjodohkan Deidara dengan putranya" ujar Minato.
"Apa?!" kata Deidara kaget. "Menjodohkan Dei? Tou-san ingin menjual aku ya?" hardik Deidara. "Siapa yang akan menjualmu sayang?" tanya Minato. "Tou-san bilang ingin menjodohkan Dei dengan putra kolega Tou-san itu. Apa itu tidak menjual Dei namanya?" ucap Deidara kesal.
"Bukan begitu maksud Tou-san, sayang" ujar Minato membela diri
"Lalu apa?" tanya Deidara
"Tou-san hanya…"
"Hanya apa?"
"Hanya…"
"Ah! Tou-san tak bisa menjawabkan. Sudah Dei duga, pokoknya Dei tak ingin dijodohkan oleh siapapun. Titik!" ujar Deidara kemudian beranjak pergi dari ruang makan tersebut
Naruto sedang berada di cafetaria, meminum orange juice-nya sambil menulis formulir pedaftaran peserta untuk Tokyo International Open Piano Competition yang akan diadakan seminggu lagi saat dengn tiba-tiba Sakura datang bersama dengan Shikamaru.
"Kau sedang apa, Naruto?" tanya Sakura
"Bisakah kau datang dengan cara yang lebih halus, Sakura"
"Hahaha, kau saja yang terlalu serius dengan pekerjaanmu itu Naruto sehingga tak menyadari kehadiran kami"
Naruto melirik kearah Shikamaru, pemuda malas yang hobi tidur tapi memiliki IQ diatas 200 itu. Naruto berbisik ketelinga Sakura "Kau benar-benar pacaran dengan si nanas itu ya".
"Merepotkan, kau mendengar ucapanmu itu Naruto"
"Eh? Bagaimana bisa?"
"Itu karena volume suaramu ketika berbicara normal maupun berbisik tetap sama saja Naruto" ucap Sakura santai kemudian mengambil minuman Naruto dan menegukknya.
"Hei! Itu punyaku"
"Iya, aku tahu kok" balas Sakura
"Kalau kau tahu, kenapa masih kau minum?" tanya Naruto sebal
"Karena kau haus"
"Dasar menyebalkan"
"Kau ikut kompetisi itu?" tanya Shikamaru pada Naruto
"Huum"
"Sainganku semakin bertambah saja, merepotkan" ujar Naruto
"Kau juga ikut, Shika?"
"Begitulah" ucap Shikamaru sembari menguap
"Tak kusangka anak kedokteran bertampang malas sepertimu ingin ikut kompetisi seserius ini"
"Hei! Apa maksudmu, Naruto? Aku juga sebenarnya tidak mau, tapi Kurunei-sensei memaksaku. Lebih baik aku tidur daripada mengikuti kompetisi merempotkan itu" ujar Shikamaru
Naruto hanya mengangkat kedua bahunya kemudian kembali mengisi formulir pendaftarannya sedangkan Sakura dia sedang asyik dengan handphonenya tak peduli dengan sang pacar yang kini sedang menelungkupkan kepalanya dikedua tangannya. Bersiap-siap untuk tidur.
To be Countinue
Pojok Suara :
Terima kasih atas reviewnya, banyak yang meminta saya untuk membuatkan fic dengan pairing NarufemSasu. Sebenarnya fic-nya sudah saya tulis dan saya simpan di flasdisk saya. Saya, juga rencananya mau pusblish tapi nanti setelah fic ini selesai. Jadi, satu-satu dulu ya. Karena saya juga sedang menulis kelanjutan fic saya yang lain. Dan, fic ini akan selesai sekitar 1 atau 2 chapter lagi. Sekali lagi terima kasih sudah membaca fic ini.
Akhir kata saya ucapkan terima kasih.
Sentimental Aqumarine pamit
See you and bye bye bye
Mind to review?
