Author Note:

Akhirnya chapter 2 selesai. Sekarang aku akan menjawab beberapa pertanyaan yang ada di bagian review.

Q:Kenapa Naruto harus pakai kacamata segala? Lagi nyamar atau gimana? Pasti Kurama-sensei yang disebut Naruto tadi itu Kyuubi no Kitsune, iya gak? Apakah disini Minato itu ayahnya Naruto?

A: Naruto memakai kacamata karena tidak ingin dirinya mencolok dan mengundang perhatian yang tidak diinginkan. Ya, Kurama adalah Kyuubi no Kitsune. Benar, Minato adalah ayahnya Naruto. untuk alasan kenapa aku bilang Naruto itu yatim piatu akan dijelaskan di chapter-chapter kedepannya.

Q: Jadi Naruto tidak menonjolkan kemampuannya disini, senpai?

A: Ya, betul. Sama seperti pertanyaan diatas, Naruto tidak menonjolkan kemampuannya karena tidak ingin mengundang perhatian yang tidak diinginkan.

Q: Apa Naruto itu sebenarnya Arashi no Ou?

A: Benar sekali. Langsung ketahuan ternyata. Apa karena pendeskripsiannya terlalu mencolok ya?

Q:Jadi disini tokoh antagonis-nya siapa?

A: Akatsuki tentunya.

Segitu saja yang bisa aku jawab. Dan terima kasih kepada Kai Anbu-senpai karena telah memberikan kritik yang bermanfaat. Aku sudah membaca fic Anbu Team 8 :Kakashi Hatake Lost Legacy. Setelah membaca, aku sadar aku masih banyak kekurangan pada saat mendeskripsikan adegan pertarungan terutama di bagian emosi pertarungan. Aku akan mencoba memperbaikinya untuk chapter-chapter ke depannya. Sekali lagi terima kasih, Kai-senpai. Btw, aku sudah memutuskan untuk fic yang kali ini, pairnya adalah NaruHina. Baiklah, segitu saja yang ingin aku katakan, selamat membaca!

Disclaimer: Aku tidak memiliki Naruto.


Malam sudah tiba.

Di apartemen terlihat Kurama sedang duduk bersandar di sofa berwarna coklat di ruang tamu Naruto. Mantel tua berwarna coklatnya tergantung di sudut ruangan. Dia hanya memakai baju kemeja putih dan celana hitamnya. Senyuman riang masih terukir di mukanya. Dari dapur, muncul Naruto yang membawakan 2 cangkir teh untuk disuguhkan pada Kurama dan dirinya sendiri. Naruto telah mengganti pakaian sekolahnya menjadi baju kaos hitam dan celana panjang berwarna krem. Naruto lalu menempatkan 2 cangkir teh tersebut di meja lalu Naruto duduk di sofa, berhadapan dengan Kurama. Naruto dan Kurama lalu mengambil cangkir teh mereka masing-masing dan meminumnya. Setelah minum, keadaan menjadi hening. Naruto bertatap muka kepada Kurama. Senyum Kurama masih terpampang di mukanya. Naruto akhirnya menghela nafas dan memulai pembicaraan.

"Jadi, kenapa kau datang kesini, Sensei?" Naruto bertanya dengan datar.

"Oi, Oi, Naruto, masa itu sikapmu terhadap gurumu? Harusnya kau senang aku datang kemari." Kurama berkata kepada Naruto, senyum lebarnya masih terpampang di muka.

"Jangan salah mengerti Sensei, aku senang bisa bertemu denganmu setelah 2 tahun tidak bertemu. Tapi siapa yang tidak kesal jika kau hampir dibunuh oleh gurumu sendiri? Dan kalau kau kesini untuk minta uang, aku tidak mau meminjamkan." Jawab Naruto santai.

"Naruto, kata-katamu menyakitkan hatiku! Tega sekali kau menuduh gurumu ini datang hanya untuk meminjam uang? Aku hanya ingin melihat wajah muridku yang tampan ini setelah tidak berjumpa selama 2 tahun. Lagipula, aku jarang meminjam uang padamu." Kurama mengeluarkan air mata buaya sambil berkata pada Naruto.

Naruto hanya menatap datar mata Kurama.

"Ok, aku sering meminjam uangmu. Tapi tenang saja, aku datang kali ini untuk membicarakan sesuatu padamu. Sebelum itu, aku ingin bertanya padamu. Bagaimana kehidupan sekolahmu sekarang?" tanya Kurama.

Naruto tersenyum lalu berkata.

"Baik-baik saja. aku sudah memiliki beberapa teman disini. Nara Shikamaru, Akamichi Chouji,Aburame Shino dan Hyuuga Hinata."

"Ara, dari keluarga terkenal semua ternyata. Aku dengar kau merupakan murid kelas E, murid dengan kelas terendah di sekolah. Kenapa bisa begitu?" Tanya Kurama, di mukanya masih terpampang senyuman, menandakan dia tidak peduli dengan kelas muridnya yang sekarang.

"Kau tahu sendiri Sensei, aku benci perhatian yang berlebihan. Jika aku berpura-pura menjadi murid dengan kemampuan terendah, aku bisa bebas bergerak. Lagipula dengan cara ini aku bisa mendapatkan teman yang memilihku sebagai diriku sendiri." Jawab Naruto pelan.

"Sepertinya kau bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang, Naruto." Kurama hanya melempar senyum tipis mendengar perkataan Naruto.

"Kehidupanku sekarang memang agak sulit, namun aku bahagia. Aku juga bisa seperti ini karena kau mendaftarkanku ke KMF, Sensei."

Naruto berterima kasih pada Kurama. Walau gurunya itu sangat menyebalkan, tapi dia lah satu-satunya orang yang paling peduli dan paling dekat dalam kehidupan Naruto.

"HAHAHA, baguslah kalau begitu." Kurama hanya tertawa mendengar respon dari murid kesayangannya itu. Tiba-tiba muka Kurama berubah menjadi serius.

"Aku senang mendengar kau baik-baik saja selama 2 tahun ini. Namun mari kita hentikan basa-basinya dan langsung ke inti permasalahan."

Naruto yang mendengar hal itu, mukanya yang lembut berubah menjadi dingin, menandakan kalau dia sedang serius.

"Naruto, selama 2 tahun terakhir ini, aku pergi mengembara ke berbagai Negara. Di perjalanan, aku mendengar rumor-rumor munculnya sebuah organisasi misterius yang berbahaya. Namanya Akatsuki. Kau pernah dengar?"

Naruto menggelengkan kepala.

"Tidak, aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya."

"Akatsuki merupakan organisasi kriminal yang bekerja dibawah tanah dan sangat berbahaya. Mereka ahli dalam soal pembunuhan, penculikan, sabotase, pengeboman, dan lain-lain. Dan yang aku dengar, mereka terdiri dari sekumpulan kriminal kelas S." Kurama menjelaskan.

"Sensei, apakah kau tahu tujuan mereka apa?" Naruto bertanya pada Kurama.

"Untuk sekarang, belum. Namun mereka sedang aktif dalam bidang perdagangan senjata, jasa pembunuhan ke beberapa daerah bahkan negara. Namun untuk sekarang mereka aktif di Jepang. Yang aku khawatirkan adalah eksistensi Akatsuki bisa menjadi pemicu perang antar organisasi mercenary bahkan seluruh daerah Jepang bisa terlibat."

Perkataan Kurama membuat rasa dingin menjalar ke seluruh badan Naruto. sebagai mantan prajurit kelas S, Naruto paling benci dengan pertarungan. Namun jika informasi dari gurunya itu benar, Naruto harus mempersiapkan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi: Naruto kembali terjun ke medan pertempuran.

"Jadi, apa yang kau ingin aku lakukan, Sensei?" Naruto kembali bertanya kepada Kurama.

Kurama menarik nafas panjang, lalu berkata pada Naruto.

"Naruto, aku ingin kau mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai Akatsuki. Laporkan padaku jika ada pergerakan dari Akatsuki. Dan Naruto..."

Kurama berhenti sejenak. Kurama menarik nafas panjang lalu berkata dengan nada lembut kepada Naruto.

"Naruto, aku tahu ini tidak adil padamu, Tapi aku harus mengatakan ini. Naruto, aku ingin kau kembali aktif sebagai prajurit kelas S, kembali menjadi Arashi no Ou. Aku tahu kau tidak ingin kembali menjadi prajurit lagi. Apalagi semenjak kejadian 2 tahun yang lalu. Namun aku membutuhkan bantuan sebanyak-banyaknya. Aku tidak akan memaksamu kembali menjadi prajurit, tetapi aku ingin kau setidaknya memikirkan hal ini secara baik-baik. Apa kau bisa, Naruto?"

Kurama bertanya dengan sungguh-sungguh. Sebenarnya Kurama tidak ingin melibatkan Naruto kedalam masalah ini. Namun Kurama butuh segala bantuan yang bisa dia dapat.

"Aku...Berikan aku waktu 2 minggu untuk memikirkannya, Sensei." Jawab Naruto pelan. Naruto tidak menyangka kalau sewaktu-waktu dia akan diperlukan kembali menjadi seorang prajurit.

"Baiklah jika itu maumu. Ngomong-ngomong, aku membawakanmu hadiah!" Kurama kembali mengeluarkan senyuman-nya yang lebar, menghilangkan suasana tegang yang baru saja terjadi.

Kurama lalu sebuah koper dan kotak persegi panjang yang ramping lalu menaruhnya diatas meja. Lalu Kurama dengan riang membuka koper dan kotak persegi panjang tersebut.

"I-I-Ini!?"

Ketika koper dan kotak itu dibuka, Naruto melihat sesuatu yang membuat dia terkejut bukan main. Di dalam koper tersebut terdapat 2 buah pistol masing-masing berwarna putih dan hitam.

"Naruto, ini adalah pistol lamamu yang sudah aku modifikasi. Nama kedua pistol ini adalah Kibou(Hope) dan Zetsubou(Despair). Kedua pistol ini sudah kumodifikasi untuk dapat menembakkan peluru lebih kuat, mengisi peluru lebih cepat, dan eksterior dari kedua pistol ini sudah ku buat lebih kuat sehingga kau bahkan bisa menahan serangan pedang menggunakan kedua pistol ini tanpa membuat pistol ini rusak. Dan kau bisa mengisi pistol ini dengan peluru karet atau peluru asli semaumu." Kurama menjelaskan dengan bangga hasil pekerjaannya itu pada Naruto.

"Itu berarti..."

"Ya, kau bisa membawa kedua pistol untuk di sekolah ataupun untuk misimu kedepannya. Dan kau bisa menembakkan pistolmu pada musuh untuk menimbulkan rasa sakit tanpa membunuh mereka jika kau menggunakan peluru karet. Jika kau memutuskan untuk membunuh, dengan menggunakan peluru asli, satu kali tembakan pelurumu bisa menembus tubuh lawanmu secara mudah. Oh ya, aku lupa hadiahku yang satu lagi."

Kurama lantas membuka kotak panjang yang belum dibuka. Didalamnya ada sebuah katana. Katana itu cukup panjang dan memiliki sarung berwarna biru tua. Katana itu memiliki gagang berwarna putih. Katana itu terlihat elegan,

"Naruto, coba kau keluarkan katana itu dari sarungnya." Kurama membujuk Naruto untuk segera mengeluarkan katana tersebut.

Naruto mengangguk lalu menarik keluar katana tersebut dari sarungnya. Katana tersebut berwarna putih. Katana ini unik. Yang membedakan katana ini dengan yang lain adalah katana ini tidak memiliki sisi tajam yang biasa dimiliki oleh katana biasa. Seluruh bagian katana itu menggunakan bahan yang sama seperti punggung pedang, yang membuat katana itu tidak cocok untuk membunuh.

"Sensei, kenapa katana ini tidak memiliki sisi tajamnya?" Naruto kebingungan melihat katana yang tidak biasa itu.

"Aku tahu kau itu benci membunuh. Dengan katana itu, kau bisa menyerang lawan tanpa ada keraguan karena katana itu tidak akan membunuh. Namun lain cerita jika kau mengalirkan chakra ke katana tersebut. Coba kau alirkan sedikit chakramu ke katana itu." Kata Kurama.

Naruto mengalirkan sedikit chakra. Tiba-tiba katana berubah. Katana itu tiba-tiba memiliki mata pedang yang cukup tajam.

"Dengan mengalirkan chakra, katana itu tiba-tiba akan memiliki mata pedang. Sisi tajam katana tersebut dapat dengan mudah menebas besi. Jika suatu saat kau berhadapan dengan musuh yang menggunakan senjata yang memiliki material cukup kuat, kau akan membutuhkan katana itu suatu hari nanti. Nama katana itu adalah Tsubasa. Bagaimana, hebat kan!?"

Kurama tersenyum lebar sambil membangga-banggakan hasil pekerjaannya itu.

"Terima kasih, Sensei!" Naruto mengucapkan terima kasih kepada Kurama. Di sudut matanya terdapat air mata karena haru.

Kurama yang melihat hal itu hanya tertawa kecil.

"Oi, usap air matamu. Kau sudah 17 tahun kan? Masa umur segini kau masih menangis?" Kurama menyindir Naruto.

Naruto yang mukanya memerah karena malu langsung mengusap kedua matanya.

"Ya, itu saja yang ingin kusampaikan. Kalau tidak keberatan, aku akan menginap disini untuk hari ini. aku akan tidur di kamar kosong dekat ruang tamu. Aku sedang lelah,jadi aku akan tidur sekarang. Selamat tidur Naruto!" Kurama lalu pergi ke kamarnya.

Naruto hanya terdiam di ruang tamu sambil melihat hadiah yang diberikan Kurama.

'Dasar, guru bodoh itu...'

Naruto hanya menghela nafas lalu menaruh kembali kedua pistol dan katana itu kedalam koper dan kotak lalu membawanya ke kamar di lantai atas. Walau gurunya itu menyebalkan, sering menghutang, suka pergi kemana-mana bagaikan angin, Naruto tetap sayang kepada gurunya itu.

'Arigato...Tou-san.'

Naruto dengan senyum kecil di wajahnya pergi ke kamarnya dengan koper dan kotak tersebut lalu tidur di kamarnya.


Hari itu api berkobaran di sekitar. Bau mesiu dan darah tercampur dimana-mana. Di tengah kekacauan itu terlihat seorang laki-laki sedang jongkok sambil merangkul badan seorang gadis. Gadis itu memiliki kulit putih mulus yang sudah memucat, rambut hitam mengkilatnya sudah bernodakan darah. Terdapat luka tembak di sekitar perut dan terdapat sekumpulan darah yang dapat terlihat di sudut bibirnya.

Gadis itu sedang dirangkul oleh seorang laki-laki berambut kuning acak-acakan yang rambutnya sudah bercampur dengan darah. Baju laki-laki itu kotor oleh darah. Luka tembak dan sayatan dapat terlihat dimana-mana. Di sudut kepala laki-laki itu terdapat darah yang mengalir ke bawah, bibir laki-laki itu terluka. Mata biru laki-laki itu redup dan di kedua bola matanya terdapat air mata yang terus mengalir tanpa henti. laki-laki itu merangkul gadis tersebut tanpa peduli kalau di depan mereka ada beberapa orang menggunakan senjata laras panjang siap menembak mereka kapan saja.

"Hei...Bertahanlah! kau pasti bisa selamat! Jangan tinggalkan aku disini!" Laki-laki itu berkata dengan terisak-isak. Suaranya serak dan matanya berlinang dengan air mata.

Gadis yang dirangkul itu berkata dengan pelan.

"Hei, kalau misalnya aku mati..."

"Jangan kau teruskan omonganmu itu, Shiori! Kau masih bisa selamat ! jangan berani-beraninya kau menyerah disini!" Laki-laki itu berteriak marah sambil mencoba menahan air mata yang keluar lebih banyak.

"Aku...ingin kau...meneruskan hidupmu."

"Shiori, sudah cukup! Simpan tenagamu!" Laki-laki itu mulai panik.

"Temukanlah gadis lain...dan hidup bahagia...Ohok!" Gadis itu memuntahkan darah dari mulutnya. Darah segar berwarna merah yang keluar cukup banyak. Menandakan kalau waktu Gadis itu sebentar lagi habis.

"Apa yang kau bicarakan!? Bukankah kita berjanji akan hidup bahagia berdua!? Kenapa kau berkata seperti ini!?" Laki-laki itu semakin banyak mengeluarkan air mata.

"Waktuku sebentar lagi habis...jika kau menemukan gadis lain, aku mohon..."

Gadis itu mengeluarkan senyuman walaupun tahu dia sedang berhadapan dengan maut.

"Shiori hentikan!"

"Jangan lupakan aku."

Kalimat itu membuat laki-laki itu tertergun.

"Sebelum aku pergi dari dunia ini...aku ingin mengatakan sesuatu untuk terakhir kalinya padamu."

"Shiori..."

laki-laki itu akhirnya diam, ingin mendengar kalimat terakhir gadis itu.

Shiori lalu mencium bibir laki-laki itu. Mata laki-laki itu melebar lalu dia juga membalas ciuman gadis tersebut. Ketika mereka mulai kehabisan nafas, mereka menghentikan ciuman mereka. Gadis itu lalu berkata.

"Aku mencintaimu, Naruto-kun."

Laki-laki yang diketahui bernama Naruto itu kemudian menjawab sambil menangis.

"Aku..Aku juga mencintaimu, Shiori!" Naruto menatap mata gadis itu, mencoba untuk tegar.

"Terima kasih...sudah membawakanku...kebahagian...setiap hari. Dan maaf... aku harus meninggalkanmu seperti ini."

Gadis itu berhenti sebentar lalu mengeluarkan kalimat terakhirnya.

"Aishiteru, Naruto-kun. Sayonara."

Shiori lalu menutup kedua matanya. Dan tubuh gadis itu menjadi lemas dan terbujur kaku.

Naruto yang mengetahui kenyataan tersebut hanya memeluk tubuh gadis itu lebih erat.

"Shiori."

"Shiori..."

"SHIORI!"

Teriakan memilukan Naruto terdengar pada hari itu.


"SHIORI!"

Naruto tiba-tiba bangkit dari tidurnya. Badannya penuh dengan keringat dingin. Jantungnya berdetak kencang. Dan dari kedua bolah matanya ada air mata yang mengalir. Naruto lalu menutup mukanya dengan tangan kanannya.

'Kenapa...aku bermimpi tentang hari itu...'

Pikiran Naruto bercampur aduk. Ketika mengingat hari itu, perasaan perih di dadanya mulai muncul kembali. Naruto mencoba melupakan mimpi tadi dan bangkit dari tempat tidurnya untuk bergegas mandi dan pergi ke sekolah. Naruto lalu pergi membawa handuk dan masuk ke kamar mandi. Naruto membuka baju dan celananya lalu dia menghidupkan shower.

SRASH...

Air panas mulai datang dari shower tersebut. Tubuh Naruto yang biasanya disembunyikan oleh pakaian sekolahnya mulai terlihat. Badan Naruto cukup bidang dan di perutnya terdapat six pack yang tidak kalah dengan olahragawan lain. Di sekujur tubuhnya terdapat bekas luka kecil bagaikan sayatan pisau. Namun yang paling mencolok adalah sebuah bekas luka besar terdapat di dadanya. Sebuah guratan luka tebasan diagonal yang besar terukir di tubuh Naruto. Mata Naruto sedikit redup karena mimpinya tadi.

'Shiori, sudah dua tahun sejak hari itu terjadi. Apakah kau mengawasiku di atas sana? Aku sudah cukup bahagia sekarang. Dan maaf Shiori,aku masih belum bisa mencari pengganti dirimu. Dan aku tidak tahu apakah aku akan menemukannya atau tidak. Aku rindu padamu...Shiori.'

Naruto yang memikirkan itu hanya bisa terdiam di dalam kamar mandi tersebut.

Akhirnya Naruto selesai mandi. Naruto lalu mengenakan pakaian sekolahnya. Di sabuk dadanya terdapat dua pistol yang diberikan oleh Kurama, kibou dan zetsubou. Pisau militernya kali ini terdapat di belakang pinggangnya. Naruto kemudian kembali memakai kacamata culunnya itu dan turun kebawah.

Di bawah Naruto melihat Kurama sedang membuatkan sarapan untuk Naruto dan dirinya.

"Oi Naruto, aku membuatkan omelette buatmu. Kau tidak akan keberatan kan? Kau tahu sendiri kalau aku tidak bisa ma-" Kurama baru saja akan melanjutkan kalimatnya ketika dia melihat Naruto dengan kacamata culunnya. Kurama hanya bengong melihat penampilan Naruto.

"Hm? Kenapa kau diam saja, Sensei?" Naruto kebingungan melihat gurunya itu bengong melihat dirinya.

"Oi, Naruto...kenapa kau memakai kacamata itu?" Kurama bertanya pada Naruto.

"Oh ini? aku selalu memakainya setiap hari ketika ke sekolah. Kenapa memangnya?" Naruto kebingungan melihat sikap gurunya itu.

"Kenapa memangnya!? Coba kau lihat ke kaca! Kau terlihat seperti orang bodoh!"

"Jadi? Bukannya ini lebih baik? Siapa yang akan menyangka Uzumaki Naruto yang lemah dan culun itu adalah Arashi no Ou? Tidak akan ada yang menyangka bukan?" Naruto hanya berkata santai pada Kurama.

Kurama hanya menggelng-gelengkan kepala.

"Pantas saja kau tidak punya pacar sampai sekarang. Aku heran kenapa kau bisa sampai sulit punya pacar. Ternyata ini alasannya. Waktu aku seusiamu, banyak cewek yang ingin menjadi pacarku. Setidaknya kau juga harus mengikuti langkahku, Naruto." Kurama berkomentar.

"Kalau kau memang dikejar-kejar wanita, kenapa kau masih sendiri sampai sekarang? Dan tidak terima kasih. Aku tidak ingin menjadi seseorang yang sering pinjam uang pada muridnya sendiri dan pergi kemana-mana tanpa arah dan tujuan." Naruto berkata datar.

"Cih, setidaknya hormati sedikit gurumu ini Naruto."

"Aku hanya akan memberikan hormat padamu jika kau sudah melunasi hutangmu padaku dan tidak pergi berkeliaran kemana-mana."

"Bah."

Kurama akhirnya kalah telak melawan omongan Naruto.

"Sensei, apakah makanannya sudah siap. Kalau sudah aku ingin makan. Aku lapar." Naruto berkata pada Kurama dengan santai.

"Makanannya sudah siap. Mari kita mulai sarapan sekarang." Kurama berkata pada Naruto.

Lalu keduanya makan sarapan yang sudah disediakan oleh Kurama. Setelah selesai, Naruto pamit kepada Kurama dan berjalan menuju pintu apartemen untuk pergi ke terminal. Naruto baru saja mau keluar dari apartemennya ketika suara Kurama menghentikan langkah kaki Naruto.

"Naruto, aku lupa mengatakan sesuatu padamu."

"Apa?" Naruto menoleh ke arah Kurama.

"Aku tidak tahu kapan, tapi adikmu akan mendaftarkan diri ke KMF tahun ini."

Perkataan Kurama membuat Naruto terkejut. Namun Naruto menjadi tenang kembali dan berkata kepada pada Kurama.

"Begitu ya. Terima kasih atas informasinya Sensei." Naruto baru saja membuka pintu apartemennya ketika Kurama mengeluarkan pertanyaan terakhirnya.

"Naruto, seandainya adikmu mengetahui tentang keberadaanmu, apakah kau akan bergabung bersama keluarga Namikaze, Naruto?"

Naruto hanya diam. Setelah beberapa menit kemudian, Naruto menjawab pertanyaan Kurama.

"Aku tidak akan kembali ke keluarga tersebut. Uzumaki Naruto sudah mati 12 tahun yang lalu. Itulah yang diketahui oleh keluarga Namikaze. Aku tahu seandainya aku ingin kembali, aku akan diterima dengan hangat oleh keluarga Namikaze. Namun, aku dan mereka sudah berbeda. Aku adalah seorang pembunuh di masa lalu. Itu adalah kenyataan yang tidak akan berubah. Lagipula, aku tidak ingin melibatkan mereka dengan masalah kita sekarang. Biarkanlah aku menanggung beban ini sendirian dan membiarkan mereka hidup dengan damai. Itu saja yang ingin aku katakan. Aku pergi dulu Sensei."

Setelah itu Naruto keluar dari apartemen itu.

"Kau terlalu keras pada dirimu sendiri...Naruto."

Lalu di apartemen itu hanya ada Kurama sendiri didalamnya.


Di Sekolah.

Seperti rutinitas biasa, Naruto hanya duduk dibangkunya membaca buku. Naruto sedang membaca daftar nama buronan kelas S yang berpotensi termasuk anggota Akatsuki.

"N-Na-Naruto-kun."

Suara lembut nan indah terdengar dari belakang punggung Naruto.

Naruto menoleh ke sumber suara dan melihat Hinata, salah satu wanita idaman murid-murid KMF, sedang berdiri di belakangnya. Mukanya sedikit merah.

"Ada apa, Hinata-chan?" Naruto melemparkan senyuman kepada Hinata. Senyuman Naruto membuat Hinata menunduk untuk menyembunyikan mukanya yang memerah.

"Ano, Naruto-kun...aku mebuatkan bento untukmu. Tolong dicicipi!" kata Hinata dengan muka yang merah merona lalu menyodorkan sebuah kotak bento yang terbungkus rapi.

"Terima kasih Hinata-chan." Lalu Naruto mengambil bento tersebut dari tangan Hinata. Naruto baru saja ingin kembali membaca bukunya ketika dia melihat tatapan Hinata tertuju ke Naruto.

"Err...Hinata-chan, apakah aku harus makan bento itu sekarang?"

Hinata mengangguk. Naruto lalu membuka bungkusan dan kotak bento tersebut. Naruto melihat daging, sayur-sayuran, dan telur dadar ditambah nasi sudah tersedia didalamnya.

"Itadakimasu."

Naruto lalu mengambil satu suap dari bento tersebut. Mata Naruto melebar lalu dengan lahap dia memakan habis isi bento tersebut.

"Naruto-kun, apakah makanan buatanku lezat?" tanya Hinata dengan malu-malu.

"Hinata-chan, makanan buatanmu sungguh lezat. Kau akan menjadi istri yang baik, Hinata-chan!" jawab Naruto.

"Te-terima kasih, Naruto-kun." Muka Hinata memerah bagaikan tomat.

DING DONG DANG DONG!

Tiba-tiba bel berbunyi, menandakan pelajaran akan segera dimulai.

"Naruto-kun, waktu pelajaran akan dimulai...A-aku permisi dulu." Hinata lalu beranjak pergi menuju bangkunya.

"Hinata-chan?"

Suara Naruto membuat Hinata terhenti sejenak dan melihat kearah Naruto.

"Terima kasih atas makanannya." Naruto berkata kepada Hinata.

"Tidak, terima kasih, Naruto-kun." Hinata menjawab dengan lembut dan senyuman kecil terhias di wajahnya.

Naruto hanya membalas dengan senyum kecil di bibirnya.

Akhirnya seluruh murid kembali ke bangkunya masing-masing. Pelajaran telah dimulai.


Ketika pelajaran usai, seluruh murid di kelas Naruto diminta menunggu di kelas untuk mendapatkan instruksi dari gurunya. Setelah menunggu lama, Hatake Kakashi akhirnya masuk ke dalam kelas.

"Maaf anak-anak! Aku telat karena tersesat didalam jalan kehidupan."

Murid-murid yang kesal hanya diam saja mendengar alasan Kakashi. Mereka sudah terlalu sering mendengar alasan ini, sehingga mereka tidak mau berteriak kepada guru mereka yang satu ini, buang-buang tenaga saja.

"Baiklah anak-anak, saya punya pengumuman untuk anda. Karena kalian sudah kelas 2 dan di kelas 1 sudah diajarkan seluruh dasar-dasar menjadi mercenary, kalian sekarang diperbolehkan untuk mendapatkan dan menjalankan misi." Kalimat Kakashi sempat terhenti karena suara yang berasal dari murid-murid di kelas.

"YAHOO! AKHIRNYA TIDAK ADA LAGI LATIHAN YANG MEMBOSANKAN! BENAR KAN AKAMARU!?"

"ARF!"

"Hn."

"Cih, sungguh merepotkan."

"A-aku harus lebih kuat..."

"KYA! AKHIRNYA AKU BISA MENUNJUKKAN KEMAMPUANKU KEPADA SASUKE-KUN, DENGAN KESEMPATAN INI AKAN KUBUAT SASUKE JATUH CINTA PADAKU!"

"JANGAN BERHARAP YANG TIDAK-TIDAK, JIDAT LEBAR!"

"DIAM KAU, WANITA KUNCIR KUDA BODOH!"

"APA KAU BILANG!?"

"Aku ingin cepat pulang dan makan."

"..."

Inilah sebagian reaksi yang datang dari kelas tersebut.

"Baiklah kalau kalian sudah selesai berteriak tidak karuan, sekarang giliranku berbicara. Kalian akan dibagi menjadi beberapa tim yang bisa mendapatkan misi kapan saja. setiap tim akan terdiri dari 3 orang dan akan didampingi oleh pembimbing selama 5 bulan. Ketika dirasa sudah mampu, murid-murid diperbolehkan untuk menjalani misi secara mandiri. Sekarang akan aku beritahu siap saja anggota tim kalian dan siapa pembimbing kalian. Kakashi lalu mengeluarkan kertas dari sakunya.

Kita singkat saja sampai tim 7.

"Tim 7: Inuzuka Kiba, Haruno Sakura, dan Uchiha Sasuke. Pembimbing kalian adalah aku sendiri, Hatake Kakashi."

"APA!? Kenapa aku harus satu tim dengan perempuan cerewet dan laki-laki antisosial Sensei!" Kiba protes mendengar keputusan itu.

"Sudah ditentukan dari sananya, Kiba." Jawab Kakashi santai.

"Cih, sialnya aku." Kiba menggerutu.

"YATTA! Cinta sejatilah yang menang. Rasakan itu Ino!" Sakura berteriak dengan penuh semangat ketika mendengar keputusan tersebut.

"Berisik kau Sakura!" Ino yang iri hanya membalas omongan Sakura dengan singkat.

"Tim 8: Aburame Shino,Hyuuga Hinata, dan cadangan: Uzumaki Naruto. Pembimbing kalian adalah Yuuhi Kurenai."

"Karena Tim 9 masih aktif, akan aku lanjutkan." Kakashi lalu mulai meneruskan bacaannya.

"Tim 10: Nara Shikamaru, Akamichi Chouji, dan Yamanaka Ino. Pembimbing kalian adalah Sarutobi Asuma."

"Tim 11: Uzumaki Naruto. Pembimbingmu masih belum diketahui. Jika ada pertanyaan, silakan tanyakan."

Naruto yang mendengar keputusan itu hanya menghela nafas. Dia tahu kalau dia akan kesulitan punya tim. Namun dia masih kebingungan. Kenapa dia masuk ke dalam tim 11 kalau dia merupakan cadangan di tim 8?

Suasana menjadi hening. Murid-murid kebingungan begitu mendengar Naruto tidak mempunyai teman satu tim dan pembimbing yang tidak dikenal.

Tiba-tiba ada satu tangan yang terangkat dari sebuah meja. Tangan itu berasal dari wanita cantik dan pemalu, Hyuuga Hinata.

"Ano, Sensei, kenapa Naruto-kun masuk ke tim 11 kalau dia merupakan anggota tim 8?" Hinata bertanya pada Kakashi.

"Oh itu karena Naruto akan dilatih privat oleh pembimbing lain selama 3 bulan. Mengingat kemampuan Naruto termasuk kedalam kelas E, dia harus dilatih ulang untuk menaikkan kelasnya minimal kelas C. setelah 3 bulan latihan, baru dia akan bergabung menjadi anggota tim 8."

"Jadi, setelah latihan 3 bulan, Naruto-kun akan menjadi anggota tim 8?" Hinata bertanya dengan penuh harap.

"Ya, itu betul Hinata-san." Jawab Kakashi santai.

"Syukurlah."

Hinata lega mendengar hal itu. Akhirnya dia bisa lebih dekat dengan orang yang disukainya. Dia hanya perlu menunggu 3 bulan. Dia sudah menunggu 1 tahun agar Naruto menyadari perasaan Hinata pada Naruto. apa artinya menunggu 3 bulan lagi?

"Sensei, aku ingin bertanya." Naruto mengangkat tangannya dan bertanya pada Kakashi.

"Apa pertanyaanmu, Naruto?" tanya Kakashi.

"Kira-kira siapa pembimbingku? Kenapa bisa ada pembimbing yang tidak diketahui di sekolah ini?" tanya Naruto, penasaran dengan apa jawaban yang akan keluar dari mulut Kakashi.

"Sejujurnya aku tidak tahu. 1 bulan yang lalu, ada seorang laki-laki yang datang ke KMF untuk menjadi guru sementara karena membutuhkan uang. Setelah kami uji, dia bisa dibilang termasuk ke katagori kelas A. Karena itu dia lulus menjadi salah satu pembimbing. Laki-laki ini menawarkan diri untuk melatihmu karena yakin bisa membuat dirimu naik kelas menjadi kelas C. dan sebagai info tambahan, laki-laki ini mengatakan dia kenal denganmu makanya dia menawarkan diri untuk menjadi pembimbingmu."

Ketika jawaban tersebut keluar dari mulut Kakashi, Naruto tiba-tiba memiliki firasat buruk.

'Pembimbing ini kenal denganku? hanya sedikit orang yang mengenalku selain dari data-data di kertas...Jangan-jangan!?"

Bagaikan seperti di munculkan dari pikiran Naruto, tiba-tiba pintu kelas terbuka dan seorang laki-laki berambut merah masuk kedalam kelas. Perhatian murid-murid di kelas tertuju ada laki-laki itu.

"Selamat siang! Aku kemari untuk mencari calon muridku, Uzumaki Naruto. Apakah dia ada sekarang?" Laki-laki itu berkata dengan riang.

BRAK!

Suara keras tersebut mengalihkan perhatian murid-murid di kelas ke arah sumber suara, Uzumaki Naruto. Naruto terlihat sedang menanamkan mukanya ke meja tulisnya. Setelah suasana hening beberapa saat, Naruto mengangkat kepalanya dan berkata kepada laki-laki tersebut dengan nada tak percaya.

"Dari seluruh daftar orang yang berkemungkinan menjadi pembimbingku, tak kusangka kau yang akan menjadi pembimbingku, Kurama-san."

"Hehe, kau terkejut kan Naruto? aku sedang butuh uang jadi aku mendaftar sebagai guru sementara disini. Tak kusangka aku akan bertemu denganmu lagi. Karena melihat kelasmu yang sangat rendah itu, aku memutuskan untuk melatihmu. Harusnya kau senang, Naruto!" Kurama tersenyum lebar.

"Aku justru malah khawatir kalau kau yang melatihku, Kurama-san." Naruto berkata datar.

"Alah, kau terlalu paranoid. Jadi, kau Kakashi kan? Boleh kubawa muridku keluar sekarang?" Tanya Kurama pada Kakashi.

"Silakan saja." Kakashi berkata dengan malas.

"Baiklah kalau begitu. Naruto ayo kita pergi!"

Naruto hanya menghela nafas, mengambil tasnya dan pergi bersama Kurama. Sebelum pergi, Hinata berkata dengan suara yang rendah dan lembut.

"Se-semoga beruntung dengan latihanmu, Naruto-kun."

"Kau juga, Hinata." Naruto membalas perkataan Hinata dengan lembut lalu pergi bersama Kurama.


Di Atap Sekolah

"Oi Kurama-Sensei, apa maksudnya ini!? kenapa kau malah bergabung dengan KMF!?" Naruto berteriak kepada Kurama.

"Tenang saja, aku hanya berniat bergabung untuk sementara. Lagian, aku benar-benar butuh uang sekarang." Jawab Kurama santai.

"Bukan itu masalahnya! Kalau identitasmu ketahuan bagaimana?" tanya Naruto kepada Kurama.

"Ya, aku tinggal menghilang lagi. Apa susahnya?" Kurama menjawab pertanyaan Naruto dengan riang.

Naruto menepuk jidatnya dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Kau terlalu santai dalam hal ini, Sensei."

"Kalau aku terlalu banyak berpikir, bisa sakit kepala aku setiap hari."

Naruto hanya bisa menghela nafas melihat tingkah gurunya itu.

"Jadi? Apa alasanmu bergabung dengan KMF, Sensei?" Nada Naruto berubah menjadi serius.

"Hoo? Jadi kau sudah menduga kalau aku bergabung ke KMF karena suatu alasan? Syukurlah selama 2 tahun ini kau tidak menumpul, Naruto. Alasan kenapa aku bergabung adalah ini." Kurama lalu menyerahkan amplop besar. Naruto membuka amplop besar tersebut dan mengeluarkan sebuah file arsip dan melihat sebuah nama yang menarik perhatiannya.

"Uchiha Itachi?"

"Ya. Uchiha Itachi. Coba kau baca file tesebut." Kurama berkata pada Naruto.

Naruto mengangguk dan mulai membaca file tersebut.

"Uchiha Itachi. Laki-laki berbakat dalam keluarga Uchiha. Lulus KMF pada umur 8 tahun dan menjadi agen spesial KMF saat umur 13 tahun. Umur 17 tahun, tanpa alasan yang jelas dia membantai seluruh orang dalam keluarga Uchiha kecuali adiknya sendiri. Dia sekarang termasuk buronan rahasia KMF kelas S dan termasuk ke dalam anggota Akatsuki. I-Ini berarti!?"

"Sepertinya kau bisa membaca pikiranku Naruto. Apa yang terpikir olehmu?" Kurama bertanya. Ingin melihat apakah Naruto memiliki pikiran yang sama.

Naruto melihat ke arah Kurama dan berkata.

"Kita bisa menggunakan Uchiha Sasuke sebagai umpan untuk memancing Itachi. Ketika kita berhasil menangkap Itachi, kita berkemungkinan untuk mendapatkan informasi lebih jauh mengenai anggota-anggota dan tujuan dari organisasi Akatsuki. Kau meminta kepada KMF untuk melatihku secara pribadi karena dengan cara itu, kita berdua bisa bergerak secara leluasa. Iya kan Sensei?" Naruto berkata dengan nada serius.

"Ya betul. Namun aku bergabung ke KMF bukan karena itu saja. aku akan melatihmu dengan metode yang kuberikan beberapa tahun yang lalu. Lawan kita kali ini adalah anggota buronan kelas S. Ada kemungkinan kau bisa tertangkap atau terbunuh. Karena itu selama 5 bulan ini kau akan kulatih secara pribadi. Dan kau tahu sendiri cara latihanku. Kalau kau tak serius dalam latihanku, kau bisa terbunuh. Apakah kau sudah siap, Naruto? Apakah kau siap kembali lagi menjadi prajurit kelas S seperti dahulu, Naruto?" Kurama menatap tajam mata Naruto.

Naruto memejamkan mata sejenak dan mencoba berpikir secara matang. Jika dia tidak kembali menjadi prajurit kelas S dan menghancurkan Akatsuki, perang bisa terjadi dan Naruto akan kehilangan orang-orang yang dia sayangi, sama seperti dia kehilangan Shiori 2 tahun yang lalu. Darah akan bertumpahan, api akan berkobaran, dan tragedi 12 tahun yang lalu akan terulang kembali. Akhirnya Naruto sudah membuat keputusan. Naruto lalu membuka kacamatanya dan menatap tajam mata Kurama dan berkata dengan tegas.

"Aku siap."

Jawaban Naruto membuat Kurama puas.

"Baiklah kalau begitu. Besok kau sudah bisa mengambil misi pertamamu. Jadi hari ini kita akan latihan agar kemampuanmu lebih meningkat dari 2 tahun yang lalu. Apa kau siap?"

"Tentu saja." jawab Naruto.

Kalau begitu, ikut aku ke suatu tempat hari ini. aku tahu tempat yang cocok untuk melatihmu kembali tanpa menarik perhatian. Mulai hari ini dan seterusnya kau akan kulatih dengan keras sampai kau berharap ingin mati Naruto!" Kurama berkata dengan senyum lebar di mukanya.

Naruto hanya membalas senyum Kurama dan berkata.

"Jangan bermimpi. Sekeras apapun latihannya, aku tidak akan menyerah begitu saja, Kurama-sensei!"

"Kita lihat apa kau bisa membuktikan kalimatmu itu. Ayo kita pergi sekarang, Naruto!"

"Siap!"

Lalu Naruto dan Kurama pergi ke suatu tempat untuk berlatih.


Malam itu...

SLASH!

"GYAA!" suara keras melengking keluar dari gedung itu. Seorang laki-laki telah menyusup ke dalam suatu perusahaan. Dan pria itu sudah membantai 17 bodyguard yang menjaga gedung itu.

"SIALAN KAU!"

DOR DOR DOR DOR DOR!

5 orang bodyguard yang tersisa menembakkan peluru ke arah laki-laki tersebut. Namun laki-laki itu hanya tertawa keras dan mengayunkan pedang besarnya ke arah peluru.

CLANG!

Sekumpulan timah panas itu terpental ke arah lain.

"DI-DIA MONSTER!"

"AYO CEPAT LARI DARI SINI!"

"KITA AKAN MATI DISINI!"

5 orang bodyguard itu mulai melarikan diri. Rasa takut yang amat besar mencengkram ke dalam hati kelima bodyguard itu.

"Oi,oi aku baru saja bersenang-senang...HIBUR AKU LEBIH LAMA LAGI!"

laki-laki yang membawa pedang besar itu lalu lari mengejar kelima bodyguard yang mencoba melarikan diri. Laki-laki itu lalu mengayunkan pedang besarnya dan memotong kedua kaki 2 orang bodyguard tersebut.

SLASH!

Darah merembes keluar dari kaki kedua orang bodyguard tersebut.

"AAAAAHHHH!"

"GYAAA!"

Kedua laki-laki itu berteriak kesakitan. Mereka memegangi kedua kaki mereka yang sudah tidak ada pada tempatnya. Warna putih pada tulang kaki mereka mulai terlihat. Dan darah yang keluar bagaikan pancuran air yang deras.

"TO-TOLONG AMPUNI KAMI!"

"AKU MASIH BELUM MAU MATI!"

Namun kedua orang bodyguard tersebut tidak sempat meneruskan ucapannya karena laki-laki itu sudah menebas kepala mereka berdua. Di kepala mereka berdua masih terukir ekspresi terror yang mereka rasakan sebelum mati. Darah mulai menyebar ke lantai ruangan.

Sedangkan 3 orang bodyguard yang tersisa hanya menatap mayat kedua temannya dengan rasa takut.

TAP TAP TAP TAP.

Laki-laki yang membawa pedang besar tersebut berjalan perlahan kearah mereka. Senyum laki-laki itu melebar dan berkata dengan riang.

"Laring, jantung, ulu hati, ginjal, hati, paru-paru, kepala, dan tulang belakang. Kalian ingin aku tebas yang mana?" kata laki-laki itu dengan nada yang sangat menyeramkan.

"PERSETAN DENGANMU!"

Lalu para bodyguard itu menembak seluruh peluru mereka ke arah laki-laki yang membawa pedang besar itu.

"JADI TERSERAH PADAKU YA!? MATILAH KALIAN SEMUA DISINI!" lalu laki-laki itu menebas tubuh, kepala, dan ginjal mereka.

CRAT!

Darah membucar mewarnai tembok putih tersebut. Keadaan di ruangan itu bagaikan neraka berdarah.

Laki-laki itu sampai ke ruang pemilik perusahaan tersebut.

Ketika masuk ke dalam, laki-laki yang sudah berlumuran darah tersebut melihat sang pemilik perusahaan mundur ke pojok ruangan dengan ekspresi muka yang sangat ketakutan. Di mukanya dapat terliht air mata dan ingus yang merembes keluar.

"HII! JANGAN BUNUH AKU! AKU AKAN MEMBAYARMU SEBANYAK YANG KAU MAU! YANG PASTI TOLONG JANGAN BUNUH AKU!" sang pemilik perusahaan itu bersujud agar nyawanya diampuni.

"Membayar sebanyak yang kumau ya...dimana kau menyimpan uangmu!?" tanya laki-laki itu kepada sang pemilik perusahaan.

"DI BRANKAS BESI DISANA! KODENYA ADALAH 5643!"

Laki-laki yang berlumuran darah itu lalu pergi ke brankas besi yang ada di samping kanan meja dan membuka brankas tersebut dengan kode yang diberikan. Didalamnya terdapat berjuta-juta uang yen.

"BWAHAHA! Aku untung besar hari ini. cepat ambil uangnya, partner."

Tiba-tiba sebuah sosok yang ramping dan mengenakan topeng muncul di sebelah laki-laki itu dan mulai mengambil uangnya.

Laki-laki yang membawa pedang besar itu lalu berjalan ke arah pemilik perusahaan.

"AKU SUDAH MEMBERIKAN UANGKU, SEKARANG BIARKAN AKU HIDUP!" sang pemilik perusahaan memelas.

"Maaf. Tapi seseorang memintaku untuk membunuhmu." Jawab laki-laki itu santai.

"TAPI AKU SUDAH MEMBERIKAN SEMUA UANGKU! AMPUNILAH AKU!" sang pemilik perusahaan semakin menangis dan bersujud. Tubuhnya bergetar karena rasa takut yang amat sangat.

"Maaf, tapi itu bukan masalahku." Laki-laki itu lalu mengangkat pedang besarnya dan membuat gerakan seakan ingin menusuk orang didepannya.

"TIDAK, TIDAK, JANGAN BUNUH AKU! TIDAK!"

"Selamat tinggal."

JRASH!

Pedang besar itu menusuk tepat ke arah lehernya. Membuat kepalanya lepas dari badan dan jatuh ke lantai, bergelinding sampai akhirnya berhenti. Darah yang keluar dari leher muncrat bagaikan pipa air yang bocor.

Laki-laki itu lalu bertanya kepada partnernya.

"Apa kau sudah membawa semua uangnya?"

"Sudah."

"Kalau begitu ayo kita pergi. Aku tidak ingin berlama-lama disini." Laki-laki itu lalu membalikkan badan dan berjalan keluar ruangan.

"Hai, Zabuza-sama."

Lalu sosok manusia itu pergi keluar bersama Zabuza.

Chapter 2 End.


Akhirnya chapter 2 selesai! Maaf kalau sudah lama menunggu dan maaf kalau pendeskripsian adegan pembantaiannya jelek. Aku masih butuh berlatih dalam hal ini. tolong berikan kritik dan saran jika chapter ini masih banyak kekurangan. Dan Kai-senpai, tolong berikan kritik dan saran jika chapter ini masih kurang baik atau belum ada perubahan dari chapter sebelumnya. Terima kasih kepada pembaca yang sudah bersedia membaca fic ini. Jika kalian suka fic ini, silakan cek fic-ku yang satu lagi, Ketika Senja Tiba. Terima kasih atas perhatiannya.

Kazehaya Arashi.