II
"Boss, keluarga korban sudah datang", Hoseok melingukkan kepalanya dari dalam sarang, Seokjin segera berpaling kepada pria yang tengah menikmati hamburger. "Jungkook, ikut denganku". Jungkook tersenyum lapar, bangkit dan mengikuti atasannya yang berjalan menuju ruangan saksi. Anak perempuan Kim Mina meringkuk dengan tatapan kosong.
"Ia masih trauma dengan pembunuhan keluarganya. Jadi‒", Seokjin menghembuskan napas panjang. "Go easy on her". "Tentu saja", Jungkook mendorong pelan pintu ruangan, mendudukkan dirinya di samping gadis yang gemetaran kecil.
"Hai", Seokjin menyapa lembut. "Namaku Kim Seokjin, ini Dokter Jeon, rekan kerjaku". Seokjin mengamati perempuan yang memeluk lutut, menunduk sembari merintih kecil, berusaha berbicara namun isak tangisnya memburu.
"Hei, tenangkan dirimu", Seokjin mengusap jemari gadis yang balik meremasnya kencang.
Jungkook berdeham, "Namamu‒Kim Hong Joo‒ssi?". "N‒Ne". "Hong Joo‒ssi", Jungkook meneliti gadis yang tidak berani menatapnya, ia mendekat perlahan. "Apa kau melihat pelaku ketika kedua orangtuamu terbunuh?". Hong Joo tercekik, Seokjin memelototi koleganya yang tersenyum tenang. "Apa kau melihatnya?".
"T‒Tidak".
"Kalau begitu, apa kau mendengar suara pelaku?".
"T‒Tidak, ruangan terlalu gelap. A‒Aku hanya melihat‒a‒aku tidak ingat".
Jungkook mengetukkan dagunya, menyilangkan kaki dengan tidak sabar. "Kami mencoba menangkap pembunuh orangtuamu. Jadi, coba untuk mengingat lagi". Hong Joo memejamkan mata namun rasa sakit hanya menyambutnya semakin keras. "T‒Tidak bisa, m‒maafkan aku. Aku tidak bisa mengingat apa apa"
"Try harder".
"T‒Tidak. Aku tidak mau mengingatnya".
"Hong Joo‒ssi, kami tidak bisa membantumu kalau kau tidak berusaha lebih baik". "P‒Please!".
"Jungkook‒".
"Apa kau melihat pembunuh orangtuamu?", Jungkook menatap tajam, gadis itu bergetar hebat, terisak isak. "Please! Aku tidak mau memikirkannya lagi!". "Apa yang dapat kau ingat akan kematian orangtuamu, Hong Joo‒ssi?".
"Tidak ada! T‒Tidak bisa!".
"Kau tidak berusaha mengingatnya!".
"Please!".
"Jeon, keluar sekarang atau kau kukeluarkan dari kasus!", Seokjin bangkit dengan geram, mendelik kepada koleganya yang sedikit terguncang. Jungkook memejamkan mata sekilas sebelum tertawa geli, "Aku hanya memotivasinya, Boss".
"Jangan bercanda", Seokjin mendesis tajam. "Kedua orangtuanya baru saja meninggal".
"Aku rasa sebuah mayat tidak masalah aku menginterogasi anaknya?".
Seokjin melebarkan bola mata ketika Hong Joo menangis histeris, berteriak ngeri ketika mengingat tubuh kedua orangtuanya yang berlumuran darah. Seokjin menyeret lengan koleganya dengan kasar sebelum Jungkook menepis tangannya. "Aku bisa berjalan sendiri, Boss. Terimakasih", Jungkook menyeringai kecil sebelum melangkah keluar ruang interogasi.
"Oh, Seokjin‒hyung?".
Seokjin menoleh marah.
"Gadis malang itu bisa pulang sekarang, aku sudah mendapatkan informasi". "Apa?", Seokjin memberi remasan kecil pada pundak perempuan yang meringkuk sebelum mengikuti rekan kerjanya keluar. "Dia trauma hebat, akan sulit untuk membujuknya. Tapi‒".
Jungkook menyodorkan foto kepada Seokjin, "Kau ingat? Gambar tersenyum ini dilukis di dinding, setelah kau menemukan mayat korban. Benar?".
"Ne".
"Dan pelaku memindahkan mayat dari lokasi pembunuhan", Jungkook menyilangkan tangan di depan dada. "Red John ingin kita melihat gambar tersebut sebelum menemukan mayatnya. Ia tidak akan mengubah metode pembunuhan".
"Apa yang ingin kau katakan, Jungkook?".
Jeon Jungkook mengamati atasannya sebelum menyeringai nakal, "Bukankah sudah jelas?".
Seokjin memutar mata malas, "Berhenti bersikap seperti bajingan, aku sudah merasa cukup bodoh". Jungkook tergelak sembari mendekati atasannya.
"Ini bukan Red John", ia tertawa geli. "Ini seorang copycat".
•
•
•
"Seorang copycat, huh?", Yoongi menyandarkan kepalanya di sofa, memejamkan mata dengan posisi menelungkup. "Beri kami penjelasan, Dokter Jeon". Jungkook berdiri di tengah markas, berdeham dengan seringai kecilnya. "Ya, kalian mengerti Red John menginginkan kita merasa takut, kan?". Jungkook melukiskan simbol tersenyum mengerikan di papan tulis markas.
"Jadi, kita akan menemukan gambar ini ketika awal mendatangi lokasi kejadian. Setelah itu, baru kita akan menemukan mayat korban, tak bernyawa. Selalu seperti itu", Jungkook mengutarakan dengan yakin, membuat Yoongi menguap malas. "Tapi, copycat kita justru melakukan yang sebaliknya".
Seokjin mengamati penjelasan Jungkook sebelum tersenyum pahit, "Sepertinya kemarin kau sangat yakin Red John pelakunya, Jungkook?". Jungkook tertawa keras, mengacak rambut brunetnya berulang kali. "Bahkan aku bisa salah, ne?".
"Mengapa aku tidak terkejut?", Yoongi bangkit, meregangkan kedua lengan. "Temukan tersangka, aku akan menginterogasinya. Itu saja". "Sejak kapan kau memberikan perintah?", Seokjin mendecih jengkel, mengundang kekehan renyah dari Namjoon.
"Boss, aku menerima emergency call!", Hoseok seketika menyeru lantang dari dalam sarangnya, memecah percakapan mereka berempat. Seokjin segera berjalan menuju telepon pusat headquarters. "Federal Beurau of Investigation. Apa emergency Anda?".
"J‒Jungkook".
"Halo?".
"J‒Jungkook!".
Jungkook berputar dari meja kerjanya, "The hell?". Seokjin melebarkan bola mata sebelum berpaling kepada Hoseok, "Lacak lokasinya, sekarang!". Jung Hoseok mengoperasikan komputernya dengan cepat, "Jangan sampai sambungan telepon terputus!".
Jeon Jungkook bangkit dan meraih gagang telpon, "Ma'am, Tolong beritahu kami lokasi Anda". "J‒Jungkook! Jungkook!". "Ma'am?", Jungkook menoleh bingung kepada Seokjin yang menggertakkan gigi.
"Lima, empat, tiga‒Got it! Akan kukirimkan kepada kalian sekarang juga".
Seokjin mengeluarkan ponselnya ketika bunyi beep terdengar dan lokasi penelpon mereka ditemukan. "Ayo!", Jungkook berlari dengan cepat, diikuti Seokjin yang mengomando polisi terdekat untuk memindai lokasi. "Namjoon dan Yoongi, tetap di markas".
Jungkook melesakkan tubuhnya ke kursi penumpang, Seokjin menyetir dengan cepat, matanya terfokus kepada jalan raya. "Oh, ya ampun", Jungkook menyodorkan ponselnya kepada Seokjin ketika nomor tidak dikenal menghubungi lagi.
"Jeon Jungkook", Jungkook mematung ketika seorang perempuan menjerit di ujung telepon. "J‒Jungkook! Please!". "Jin, percepat mobilnya". "Jungkook!". Kim Seokjin menginjak gas dengan kuat, berbelok pada ujung jalan, melirik GPS yang berkedip kedip merah.
"Tetap di belakangku!", Seokjin menghentikan mobilnya setelah tiba di sebuah rumah kecil. Ia mengeluarkan pistol, Jungkook menendang pintu rumah sampai terbanting membuka. "FBI!", Seokjin berteriak lantang, memindai sekeliling, sebelum bergerak tanpa suara.
Jungkook mengecek bagian kiri rumah, tidak melihat tanda tanda pelaku dimana pun. "Clear!", ia menyeru keras, disambut oleh teriakan serupa Seokjin yang tidak menemukan siapa pun.
"J‒Jungkook". "Jungkook!".
Jungkook menelan ludah, menodongkan pistolnya ketika rintihan kecil menguar dari dalam kamar mandi. Ia berjalan dengan berhati hati, sebelum menyentak pintu kamar mandi terbuka dan menemukan perempuan yang terikat di dalam bathub.
"Jungkook".
"Aku Jeon Jungkook. Aku‒", Jungkook mematung, merasakan tangan Seokjin yang langsung mendorongnya keluar. Seokjin melepas ikatan wanita yang melolong pedih, ia pun ambruk pada pundak Seokjin, terisak isak.
"Jungkook. P‒Please".
Jungkook memalingkan wajahnya, melihat tulisan 'Jungkook' yang diukir dengan pisau di dada perempuan yang menangis keras. "Dia dicuci otak", Jungkook mengepalkan tangan kuat kuat setelah mengamati pandangan wanita yang kosong.
"Jeon‒".
Jungkook melangkah keluar rumah, mengabaikan Seokjin yang menegurnya di belakang. Jungkook memejamkan mata, merasakan mual di dasar perutnya. Siapa pun yang melakukan ini, ia berhubungan dengan Red John.
Dan dia adalah ahli manipulasi.[]
•
•
•
"Ahli manipulasi? Salah", Hoseok terkekeh, menampilkan layar yang menyakup informasi akan tersangka utama mereka. "Park Boyoung, seorang hypnosist ternama". "Well, that's quite easy", Jungkook mengangkat alis. "Yang berarti, bukan dia pelakunya". Seokjin memutar mata, diikuti dengan dengusan malas Yoongi.
"Bisakah kalian berhenti melakukan sugesti?".
"Oh, ini bukan sugesti", Hoseok bangkit dengan senyum cerah, menyerahkan sebuah dokumen pencarian kepada Seokjin. "Dua malam sebelum menghilang, Kim Mina dan Han Jungri mendatangi acara Tuan Boyoung. Setelah itu, mereka ditemukan‒yah, kalian sudah tahu kelanjutannya".
"Apa kau berpikir Boyoung adalah copycat kita?", Seokjin membalas.
"Bisa jadi begitu", Hoseok mengangkat bahu enteng.
"Mungkin‒", Jungkook mengetukkan dagunya dengan jari sebelum menyeringai lebar. "Mungkinkah anak perempuan Mina tidak melupakan kejadian karena trauma tapi ia berada dalam pengaruh trance6?".
6 Trance : kondisi penurunan gelombang otak dan kita lebih mudah menerima suatu sugesti yang diberikan kepada kita
"Bingo!", Hoseok menjentikkan jemarinya, mengundang erangan dari Yoongi yang memegangi kepalanya jengkel. "Baiklah, anggap sugesti kalian benar", Seokjin menyilangkan tangan di depan kedua pria yang tampak bersemangat. "Siapa yang akan mengunjungi Boyoung?".
Hoseok dan Jungkook mengangkat tangan serempak.
"Tentu saja", Namjoon menghela napas.
"Baiklah. Hoseok, aku mempercayakan Jungkook kepadamu", Seokjin meremas pundak koleganya. "Kalau ia bersikap kurang ajar, hubungi aku. Mengerti?".
"Yes, Sir!".
•
•
•
"Pejamkan mata kalian".
Hoseok terkekeh geli, menyandar di samping Jungkook yang menyilangkan tangan sembari mendecak remeh. Tepuk tangan terdengar membahana, cahaya menyoroti pria gempal yang mengangkat kedua tangan di atas panggung. "Kau tahu mereka hanya penipu, kan?", Jungkook berbisik ditelinga Hoseok, menyeringai lebar. "He's just a fraud".
"A genius fraud?", Hoseok balas berbisik.
"A dumb one", Jungkook tersenyum geli ketika matanya kembali mengamati Boyoung. "Aku telah membawa Junki‒ssi ke alam bawah sadarnya", Boyoung mengarahkan tangan kepada sukarelawan yang tersembunyi di belakang panggung.
"Sebuah sugesti yang akan membuatnya melihat sesuatu secara berbeda. Dapat membantu kalian mengatasi trauma, phobia‒". Jungkook mendengus, mendapat sikutan Hoseok pada rusuknya. Jungkook menopangkan dagu dengan bosan, melihat ke ujung podium tempat seorang pria tampan tengah berdiri tegap.
Asisten Boyoung pun tersenyum kepada Jungkook.
"Hei, dia cukup seksi", Jungkook berkomentar sembari mendesah kecil. Hoseok memukul kepalanya, "YA. Kasus. Oke? Kasus". "Terserahlah", Jungkook memutar mata.
Boyoung mengomando asistennya untuk mengangkat tirai yang menyembunyikan Junki di belakang korden merah. "Mari kupersembahkan kepada kalian‒". "Kentang! Kentang yang sangat berat!", Junki berteriak dengan histeris, menyeret karung di belakang kakinya.
"Bekerja keras! Demi membawa kentang kentang ini!".
Semua orang pun terkesiap. Junki tengah menyeret karung dengan aliran darah yang mengucur di belakangnya, sebuah tangan mencuat dari lubang di karung. Penonton menjerit penuh teror, berlari kocar kacir keluar ruang pertunjukan.
"Ya, Tuhan", Jungkook terengah tidak percaya.
"FBI, diam ditempat!", Hoseok bangkit sembari menodongkan pistol.
"Hoseok, tangkap Boyoung!". Hoseok langsung berlari dan mengejar Park Boyoung yang terbirit birit keluar ruangan. Jungkook pun mendekati Junki yang menyeka peluh, "Sir, lepaskan karung Anda!".
"Apa?! Ada masalah apa? Aku hanya ingin mengantarkan kentang kentang ini!".
"Lepaskan sekarang, Sir!". Jungkook berjalan dengan pistol teracung, membuka karung yang berisi mayat seorang laki laki. Ia mengernyit, sebelum menatap Junki yang tersenyum lebar kepadanya, "Kau lihat, Opsir?! Kau lihat kerja kerasku, ne?!".
"Dokter", Jungkook mengoreksi sembari menutup hidugnya. "Dan kau baru saja membunuh seseorang".
•
•
•
"Aku bersumpah bukan aku pelakunya!", Boyoung menggertakkan gigi di ruang interogasi, dihadapkan dengan Min Yoongi yang menatap dingin. "Itu pertunjukanmu, volunteer yang kau pilih, kau yang menghipnotisnya", Yoongi mendengus. "‒Dan kau masih berkata bukan kau pelakunya, Boyoung‒ssi?".
Park Boyoung menyeka keringat di dahi, menggeleng kuat. "Kau harus percaya kepadaku, Detektif!". Jeon Jungkook mengetuk pintu ruang interogasi, mendudukkan dirinya di samping Yoongi yang mendecak jengkel. "Hey, Boyoung‒ssi?", Jungkook melambai kecil.
"Apa aku boleh meminta nomor telepon asistenmu?".
Boyoung mengernyit bingung ketika Yoongi menggeram marah. "Keluar Jeon. Sekarang".
"Yah, aku hanya tertarik untuk bertemu dengannya. Kalau kau memberikanku nomornya‒", Jungkook menyeringai nakal. "Kau akan bebas, Boyoung‒ssi?".
"MA!", Yoongi membentak lantang, membuat Boyoung berjengit ketakutan di tempat. "K‒Kau dapat menemuinya kapan saja, n‒ne, detektif? L‒Lepaskan saya!". Jungkook melepas borgol yang menahan tangan Boyoung dengan enteng, Yoongi bangkit dengan geram.
"Detektif Min, tenanglah", Jungkook membuka pintu ruangan ketika Yoongi nyaris menyeretnya balik. "Aku yang akan menangani ini, okay?". Min Yoongi mendelik garang ketika pria itu berjalan keluar, diikuti dengan Boyoung yang menunduk takut.
Yoongi mendesis dingin, "Bajingan kecil".
•
•
•
Jungkook mendatangi kantor Park Boyoung dengan Seokjin yang mendampingi. Pria itu mendapatkan laporan dari Yoongi akan kekurang ajaran Jungkook yang membebaskan suspect mereka tanpa persetujuan resmi. Seokjin menghela napas panjang, "Jangan mencari masalah, Jungkook. Aku tahu kau‒".
Seokjin memutar mata, "‒Pintar. Tapi bersikaplah yang sopan". Jungkook berpaling kepada Seokjin, tertawa kecil, "Pintar? Apa itu pernah menjadi masalahku?", ia mengetuk ruang kantor Boyoung yang terbuat dari kaca.
Boyoung bangkit dengan gugup ketika melihat Jungkook melambai kepadanya. Ia mendekati mereka, "A‒Ah, detektif. Ada yang bisa saya bantu?". Jungkook menyeringai kecil, "Asisten Anda, Sir?". Seokjin memaksakan senyum kecut ketika Boyoung tersenyum bungah.
"Ah, Ne! Ne! Kebetulan sekali‒", Boyoung menyodorkan tangan ke arah pria tampan berkacamata yang tengah memindai dokumen. "Hey, ada yang ingin bertemu dengamu. Detektif Jeon namanya".
"Aku bukan detektif", Jungkook tersenyum kepada pria yang membungkuk sopan. Jungkook meraih tangan lelaki yang terdiam di tempat, mengusap pergelangan tangannya. Seokjin berdeham, "Jungkook".
"Kau benar benar cantik, ne?", Jungkook meraba tangan pria yang bergerak tidak nyaman. "M‒Maaf?". "Apa kau sudah lama bekerja dengan Boyoung?". "N‒Ne", ia menjawab gugup. "Apa kau juga tidak mengetahui akan hipnotis Junki‒ssi?".
"Saya hanya asisten, Detektif", pria itu menarik lepas tangannya ketika Jungkook mencengkeram kuat. Lelaki itu terkesiap kecil ketika Jungkook menyeringai dingin, "Liar".
Pria itu berteriak ketika Jungkook membanting tubuhnya ke meja, Seokjin menyeru lantang, berusaha menarik lepas koleganya yang memborgol asisten Boyoung. "Denyut nadimu meningkat, aku dapat melihat kebohonganmu".
"Jungkook, apa apaan?!".
"Ia pelakunya, Boss", Jungkook menekan kepala pria itu keras. "Dia dalang dibalik semua ini. Dia copycat kita". Seokjin terengah kaget ketika lelaki itu tertawa keras, tersenyum kepada Jungkook, "Bagaimana bisa kau tahu…Detektif?".
"I see it right through you, Kim Taehyung", Jungkook menarik leher Taehyung dengan kasar, membuat pria itu tertawa meremehkan. Boyoung melebarkan bola matanya tak percaya, "T‒Taehyung‒ssi?! Kau yang melakukan ini?!".
"Jangan sakit hati, Boyoung‒nim".
Jungkook menyeret pria yang menyeringai lebar. "Tell me, Detective…", Taehyung berbisik rendah. "Apa kau akan menggunakan borgol itu untuk menangkapku?", ia tersenyum seduktif.
"…tidak untuk hal yang lain?".
"Very funny, Kim Taehyung", Jungkook mendorong kepala Taehyung dengan kasar, diikuti oleh Seokjin yang terguncang di belakangnya. "Apa kau akan memenjarakanku Detektif?", Taehyung berpaling kepada Jungkook yang menatap tajam.
"Tidakkah kau ingin mendengar tentang…Red John?".
Jungkook menggeram, Seokjin segera mengambil alih tangan Taehyung yang terpiting di belakang punggung. "Jungkook, kembali ke markas, sekarang". Jeon Jungkook menatap Taehyung yang menyeringai lebar.
"Kau tidak pernah berpikir, Jeon Jungkook‒". Taehyung memaksa mendekati pria yang menatap garang. "…bisa jadi, aku menghipnotismu untuk menangkapku, ne…sayang?".
Jungkook mencengkeram wajah Taehyung yang tertawa puas, mengabaikan sumpah serapah Seokjin yang menegurnya lantang. "Aku tidak akan memenjarakanmu, 'sayang'", Jungkook meremas makin kuat, mendengar keretakan tulang yang memilukan di telinganya.
"…aku hanya akan memecah belah otakmu sampai kau memberikanku sebuah jawaban".
"Jungkook, cukup!", Jin mendorongnya kasar. "Kembali. Ke markas. Sekarang!", Seokjin bernapas pendek pendek. "Namjoon yang akan menginterogasinya".
Taehyung tersenyum dingin ketika Seokjin menggeretnya keluar, Ia mengamati pria yang mematung diam, terseret kembali ke dalam trauma pembunuhan kedua orangtuanya.
"…I'll see you soon, Detective".[]
