Disclaimer: Mashashi Kishimoto
Warning:…?
Sebuah dunia yang menjadi tempat tinggal kita. Apakah kita bisa memilih untuk menempati dunia tersebut, atau kita hanya bisa menjalaninya? Kita terlahir sebagai seorang manusia adalah suatu hal yang dipaksakan kepada kita untuk menjalaninya. Kita tidak bisa memillih untuk tidak terlahir. Kita tidak bisa memilih untuk menjadi seorang laki-laki atau perempuan. Yang kita bisa adalah menjalaninya saja. Dengan bersemangat. Karena tanpa semangat kita tidak akan menjadi apa yang orang namakan 'hidup'.
Kita akan terus terkurung dengan semua keluhan akan banyak beban yang kita bawa ke dunia ini. kita lahir bukan tanpa tujuan tapi kita lahir dengan membawa suatu tujuan atau tugas yang dibebenkan untuk kita. Dan tanpa adanya semangat kita tidaak akan menemukan tujua tersebut dan mewujudkannya.
Itu adalah apa yang di sebut 'hidup' oleh seorang pemuda bernama Namikaze-Uzumaki Naruto.
Karena itulah setiap hari yang dijalaninya pasti akan dia lewati dengan semangat membara, mesti tidak separah temen hijaunya Rock Lee.
"ohayou kaa-san, tou-san!" ucap Naruto dengan semangat. Itu adalah kebiasaannya selalu menyapa semua orang yang dia temui, dengan penuh semangat. Dan ternyata semangat itu menular. Apalagi dengan pembawa 'virus'nya, seorang Namikaze-Uzumaki Naruto.
"ohayou Naru", jawab kaa-san dan tou-san nya serempak. Mereka sangat menyukai waktu pagi mereka apalagi dengan hadirnya Naruto. Mereka tidak pernah bosan dengan sikap selalu bersemangat anak mereka itu.
Entah mengapa itu terlihat seperti anugrah yang paling indah bagi mereka, dan itu adalah sesuatu yang tidak boleh disia-siakan.
"bersemangat sekali. Apa yang sangat menantikan hari pertamamu pindah sekolah?" tou-san nya bertanya. Dia tidak ingin kepindahan mereka ini dinilai sangat egois oleh anak mereka. Dia tidak menyangka anaknya bisa sebahagia ini. anaknya adalah segalanya. Namikaze-Uzumaki Naruto adalah sgalanya bagi mereka, dia dan istrinya. Entah mengapa kehidupan ini seperti memberi kesempatan ke dua bagi mereka untuk membahagiakan anak mereka.
"tentu saja tou-san. Entahlah, aku merasa bahwa ini akan menjadi hari yang indah. Aku tidak sabar bertemu dengan seseorang." Jawab Naruto dengan bersemangat. Dia memang merasa seperti itu. Merasa bahwa ini adalah hari yang paling dinantikannya.
"seseorang? Apa kau mempunyai kenalan di Konoha Naruto?" Tanya kaa-san nya. Entah bagimana dia malah merasa ini akan menjadi awal dari kehancuran. Berlebihan ya? Yah, ini akan menjadi sesuatu yang buruk.
"iya kaa-san. Aku punya teman di sini. Dia juga bersekolah di Konoha High School. Dia sangat baik. Dia juga bilang akan mengajakku jalan-jalan di Konoha." Jawab Naruto dengan bersemangat. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan temnnya itu. Dia yakin semuanya pasti berjalan lancar.
"hati-hati memilih teman Naruto!" dengan bijaksana tou-san nya membarikan nasihat. Dia tidak ingin anak kesayangannya ini bergaul dengan orang yang tidak tepat. Dan entah bagaimana dia seperti merasakan apa yang dirasakan istrinya. Ini akan menjadi suatu awal yang buruk.
"bagaimana kamu bisa berkenalan dengan orang Konoha Naruto?" kaa-san nya ikut menimpali. Dia sedikit penasaran dengan teman anaknya ini. dia juga khawatir dengan firasatnya. Yah, firasat seorang ibu patut di percayai. Jangan sampai firasatnya itu menjadi nyata. Apa Naruto harus dipindahkan sekolah? Tapi ini sudah menjadi syarat mereka untuk mengajak Naruto ikut mereka pindah, dengan membeeri kebebasan untuk Naruto memilih sekolah yang akan menjadi tempatnya menuntut ilmu. Dan sekali lagi mereka, dia dan suaminya tidak ingin dianggap egois dan memaksakan kehendak.
"dia teman chattingku kaa-san. Katanya dia sangat menyukai anjing. Aku yakin dia adalah orang yang baik." Naruto menjawab dengan tenang. Dia tidak ingin orang tua nya khawatir. Dia juga sebenarnyan heran, mengapa orang tua nya kelihatan sangat mengkhawatirkannya. Dia berharap dengan jawabannya, orang tua nya bisa tenang.
"yah. Pesan kami, jangan sampai salah memillih teman. Itu saja." Tou-san nya berharap ini dapat mengakhiri pembicaraan mereka. Sudah waktunya mereka menyelesaikan sarapan, dan berangkat ke tempat mereka seharunya berada. Tou-san nya harus segera berangkat kerja, kaa-san nya juga harus kerja, dan Naruto harus segera berangkat sekolah
"aku berangkat kaa-san, tou-san!" pamit Naruto. Dia harus bergegas jika tidak mau terlambat.
"kau tidak minta antar tou-san Naruto?" Tanya kaa-san nya. Dia masih sedikit khawatir dengan apa yang akan menimpa anaknya ini.
"tidak usah aku akan sampai sekolah dengan selamat kaa-san. Jangan khawatir." Jawab Naruto dengan memakai sepatunya. Dan setelah itu dia benar-benar berlari menuju sekolahnya. Sekolahnya tidak terlalu jauh, hanya melewati beberapa blok dengan jalan berkelok-kelok.
"hati-hati" kaa-san nya mendoakan Naruto. Meski perkataan nya tidak dapat didengar oleh Naruto.
"jangan terlalu khawatir Kushina!" Namikaze Minato menasihatinya Namikaze Kushina, istrinya.
"tapi…" kushina mencoba berkata. Tapi sepertinya perkataannya terpotong oleh suaminya.
"dia anak yang kuat. Naruto adalah anak yang kuat." Minato menambahkan. Dia memang khawatir dengan Naruto. Tapi dia berharap istrinya itu tidak terlalu banyak pikiran.
"ya" akhiranya Kushina menyerah. Dia tidak mungkin melawan suaminya. Dan mungkin apa yang dikatakan suaminya benar. Dia tidak perlu khawatir.
"aku juga harus segera berangkat" Minato berkata sambil berdiri dari kursinya. Ini juga sudah saatnya dia untuk berangkat.
"hati-hati" Kusina kembali mengatakannya. Tapi kali ini untuk suaminya tercinta. Dia mengikuti suaminya berjalan menuju mobil mereka.
"ya. Tentu saja." Jawab Minato dan dia segara melajukan mobilnya
.
.
.
'kemana ya?' pikir Naruto sambil terus berjalan. Dia saat ini berada di halaman sekolahnya yang sangat luas. Dia benar-benar tidak punya ide harus melanhkahkan kaki nya ke mana. Dia memang tahu bahwa dia harus ke kantor kepala sekolahnya telebih dahulu. Tapi dia bingung harus menanyakan tempat itu pada siapa. Terlalu banyak orang, dan semua belum dikenalnya.
Orang-orang itu berjalan sangat cepat, padahal masih lima belas menit lagi sampai kelas dimulai. Tiba-tiba dia mendengar seseorang menyebut namanya.
"Naruto! Hei, kau Naruto kan?" orang itu terlihat sangat bersemangat, seperti Naruto. Dan entah mengapa dia juga merasa sangat familiar dengan orang yang suudah memanggilnya tersebut. Daripada dia berusaha keras untuk berfikir, maka dia lebih memilih untuk menanyakannya.
"iya. Aku Naruto. Kamu siapa ya? Maaf jika akku tidak mengenalmu, padahal kau sudah mengenalku." Naruto berusaha agar dia terlihat lebih sopan, dia tidak ingin di cap buruk oleh teman-temannya di hari pertamanya sekolah di tempat baru.
"aku Kiba. Inuzuka Kiba. Kau ingat? Wah, tenyata kau benar-benar pelupa." Akhirnya diketahui juga namanya. Dia mengaku bernama Kiba, Inuzuka Kiba. Dan sepertinya Naruto sedikit mengingat sesuatu mengenai nama itu.
"Kiba? Kau Kiba temanku chatting ya?" Naruto bertanya dengan antusias. Akhirnya dia punya teman untuk diajak bicara, meski hanya seorang saja. Sepertinya dia juga sudah punya teman tempat untuk menanyakan ruang kepala sekolah.
"iya. Wah kau benar-benar pindah ke Konoha, ya? Kukira kau cuma bercanda. Sampai bisa berada satu sekolah lagi. Apa kau sangat ingin bertemu denganku?" kiba bertanya dengan nada bercanda dan sedikit kerlingan mata. Dia sangat suka menggoda sepertinya. Tapi dia terlihat bisa menjadi teman yang baik.
"kau ini! aku pindah karena tou-san ku di pindah tugaskan di Konoha. Ternyata kau benar-benar sangat narsis. Kukira kau begitu hanya pada saat chatting saja." Naruto menjawab dengan malas. Dia sudah lelah dan ingin segera mendaratkan tubuhnya di bangku tempat kelasnya berada.
"ha… ha… ha…" kiba tetawa dengan tidak jelasnya. Sepertinya dia bangga dengan dia yang sekarang. Tidak peduli bahwa itu terlalu narsis.
"oh iya, kau tentu tahu ruang kepala sekolah, kan? Aku harus segera ke sana, bisa kau mengantarkan aku?" Tanya Naruto dengan sopan. Dia ingin meninggalkan kesan baiknya pada arang di depannya ini.
"tentu. Ayo kita harus bergegas. Sudah hampir bel masuk" kiba menjawab sambil menarik tangan Naruto. Mengajaknnya segera bergegas pergi menuju tempat tujuan mereka. Tepatnya Naruto. Ke ruang kepala sekolah. Mereka terlihat sangat bersemangat. Yah, itulah yang seharusnya dilakukan anan muda seperti mereka.
Di suatu tempat yang gelap dan sepi, terlihat beberapa orang sedang menghadap seseorang yang sepertinya adalah pemimpin mereka. Mereka sepertinya membicarakan sesuatu yang penting. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti mereka sangat serius membicarakannya.
"apa yang akan kita lakukan terhadap'nya'? apa kita akan menunggunya sampai 'dia' ingat semuanya? Kurasa itu terlalu lama. Tidak seperti kita 'dia' terlihat sangat menikmati kehidupannya? Seperti 'dia' sendiri yang tidak ingin mengingat semuanya. Apa kita akan memaksanya?" terdengar seseorang yang sepertinya masih muda, mengangkat suatu pembicaraan. Tapi sepertinya mereka semua memang masih muda. Meski terlihat seperti seorang pemalas tapi, dia terlihat sangat khawatir dengan apa yang dibicarakannya. Suatu kecemasan yang juga dirasakan mereka yang berkumpul semua.
"'dia' tidak akan bisa menghindar terus menerus. Hanya 'dia' yang bisa melakukan 'ini'. jika 'dia' tidak mau, maka kita harus memaksanya. Karena itu adalah tugas kita. Sahabat-sahabat'nya'. Orang yang sudah di selamatkan oleh 'dia'." Seseorang yang kelihatannya menjadi pemimpin perkumpulan itu menjawab dengan tegas. Sepertinya tidak ada pilihan lain. Ini adalah yang terbaik. Yah, memang hanya ini yang bisa mereka lakukan. Sebelum semuanya terlambat dan masa lalu kembali terulang.
"kau sangat tidak berperasaan. Apa kau benar-banar tulus dengan ini semua? Atau ini hanya salah satu dari rangkaian rencana jahatmu yang belum terwujud? Aku sangat tidak mengerti dengan kepribadianmu itu. Tapi kupikir kau sangat cocok untuk mendapatkan peran antagonis di sini." Seseorang yang sepertinya sangat tidak menyukai sosok yang berbicara tadi, berusaha untuk menyindir. Dia memang sangat membenci orang di depannya ini. orang yang telah membuat 'dia' sangat menderita dalam kehidupannya yang lalu. Pemuda itu sangat benci orang yang telah membuat sahabat dan juga orang yang telah menolongnya dari kesendirian, sangat menderita. Sahabatnya, 'dia' yang telah menolongnya, 'dia' yang telah menariknya dari jurang kesendirian dan kesepian yang sangat menyakitkan.
"tenanglah! Dia benar. Kita tidak boleh hanya tinggal diam saja, kan? Kita harus segera membuat'nya' ingat. Meski itu akan sangat membuat'nya' sakit" seorang pemuda lain terlihat menenangkan salah satu temannya itu. Dia tidak ingin pembicaraan ini berakhir dengan perkelahian. Dan dia adalah pemuda terakhir di tempat itu, karena mereka ternyata memang hanya berempat. Dan dia juga menyadari bahwa hasil akhir pembicaraan ini memang seperti ini. ini adalah pilihan satu-satunya. Meski dia juga telah ditolong oleh 'dia', 'dia' yang sudah menariknya dari jerat pertalian tardir dalam klannya.
"mendokusai!" pemuda pertama mengomentari dengan singkat. Dia tahu ini akan menjjadi pembicaraan yang rumit, meski semua keputusan sudah ada di depan mata dan tidak bisa di tolak. "sepertinya kita haru segera kembali ke sekolah. Sudah hampir bel masuk dibunyikan." Dia menambahkan. Selain untuk mengakhiri pembicaraan yang semakin tegang ini, sebenarnya mereka memang harus segera kembali. Kembali menjalani kehidupan normal mereka lagi. Kehidupan yang sepertinya tidak akan lama lagi berakhir.
'akhirnya aku bisa bertemu kembali denganmu, Naruto.' Seseorang mengatakan itu dalam hati ketika mereka semua terlihat menghilang dalam satu kepulan asap dengan bersamaan, seperti di komando. Sepertinya dia adalah pemuda yang ke dua.
Apakah yang sebenarnya terjadi? Dan apa yang akan terjadi selanjutnya? Siapakah ke empat orang itu? Dan siapa yang dimaksu dengan 'dia' oleh mereka?
Tbc
Maaf atas kesalahan-kesalahan saya di chap pertama kemarin. Itu adalah fic pertama saya, jadi saya belum mengerti dengan caranya untuk mempublish fic. Maaf. Yang kemarin gak usah diganti gak papa kan, senpai-senpai?
Sekian…
