[ warning : long ass ride with 12k+ words ]


where i am, it's always winter

in august, it's like december


Merah.

Guanlin jatuh secara mental.

Ketika pintu apartemennya terbuka mengintip secuil, lampu yang mati kini benderang. Ada sandal santai yang dilepas asal-asalan dekat rak sepatu, ditempat semestinya. Guanlin tidak pernah merasa sehidup ini, bibirnya sakit ketika senyumnya mencapai mata.

(Diantara langkah pasti, diantara nafas terburu-buru, diantara debaran yang meronta-ronta Guanlin merasa linglung ketika genangan pekat diruang tamu menghentaknya tersadar.)

Itu darah. Merah. Saat ada titik-titik pekat besar ataupun kecil berjalan menuju kamar tidur.

Guanlin mengambil pistolnya dibalik mantel, hanya pistol standar yang dibawa polisi dalam sabuk pinggang mereka. Dadanya menyempit nyeri, harap-harap itu bukan apa yang dipikirkannya.

Merah. Pandangan Guanlin sesaat. Merah.

Rambut serenyah kukis itu, hoodie Nike putih dengan contreng hitam besar. Kaos kaki strip yang masih dikenalnya. Berbaring terlampau nyaman ditempat tidurnya, bergelung seperti bayi raksasa. Miliknya, miliknya manis sekali.

"Sayang." Guanlin menggoyangkan bahu Seonho. Sedikit kebingungan ketika Seonho dengan mudah telentang dengan satu tarikan ringan bahunya.

Merah. Dingin. Berasal dari Seonho. Bunga mekar di dadanya, cantik sekaligus pekat menodai putihnya hoodie. Bibir Seonho pucat menakutkan dengan kulit kehilangan warna, tidak ada derak nafas naik-turun dari dadanya, dahi mengkerut tidak senang ketika merasa terganggu ataupun bulu mata yang jatuh bergerak hampir menyentuh pipi.

Tidak ada Seonho yang seperti itu dihadapannya.

Guanlin merasakan dingin kejam menyentuh setiap ujung jemarinya, indra perabanya tidak pernah salah dan begitu juga konklusinya. Itu sudah menjadi diluar nalaritasnya mengetahui apa yang terjadi pada Seonho tapi, emosinya selalu lebih unggul sehingga mengaburkan kebenarannya.

"Sayang."

Seonho dingin, Guanlin.

"Seonho."

Seonho tidak bergerak, Guanlin.

"Sweetheart."

Seonho sudah mati.

Guanlin terkesiap sampai dadanya sakit minta keperluan untuk melanjutkan respirasi ketika bunyi klakson dibelakang berkali-kali ditekan dengan gerutuan yang sudah sering didengarnya saat pekerjaan lapangan. Ia menekan gas sedikit pelan, takut terlalu banyak meraup sehingga jemarinya mengalami tremor bahkan untuk berbelok menuju gedung kaca terbuka fast food.

(Itu adalah salah satu sebagian mimpi terjahat yang pernah dirasakannya. Matanya mungkin tidak bengkak namun pipinya lembab dan Guanlin akan meneruskan tangisnya dalam keadaan sadar.

Kadang dirinya harus rusak mendadak ketika menonton series kesukaannya saat kepalanya jatuh begitu saja dilengan sofa, bukan bahu Seonho.)

"Mundur sedikit lagi." Guanlin memperhatikan layar diatas pendingin mobilnya waspada, bunyi 'beep' masih terdengar pelan sebelum berentetan dengan cepat dan Guanlin mengembalikan gigi perseneling, mengatur rem tangannya, memutar kunci sehingga mesin mobil berbunyi ringan itu mati.

Jam tangan berdetak yang terdengar berat ditangannya. Pukul 09.31 pagi, awal Oktober dengan gerimis tidak terasa.

Guanlin lelah. Otot-ototnya merengek minta istirahat tapi, perutnya ingin makan dan mimpi seburuk itu benar-benar menghamtam dirinya untuk terus awas, menyusun pemikiran-pemikiran agar dapat keluar dengan masuk akal dari tingginya besi penghalang Ketua.

Menekan tombol kunci hingga lampu sein mobilnya berkedip sejenak sebelum berjalan menuju pintu kaca. Pintu terbuka sukarela, mengucapkan salam dengan suara rekaman cerah 'Selamat datang di Ways' dan Guanlin hanya menguap terkantuk-kantuk.

"Jinyoung hyeong?" Guanlin berucap tidak yakin, terakhir kali bertemu Jinyoung itu lima belas hari lalu dan rambutnya segelap cokelat tanah sekarang malah naik kekelabunya mendung langit. Dilihat dari sweatshirt juga celana jins hitam dan Vansabu-abu, bisa dipastikan Jinyoung.

Orang didepan antriannya berbalik. Ah~ memang Jinyoung.

"Eo? Guanlin?"

"Yeah. Ini aku."

"Ada tugas?" Jinyoung menyugar rambutnya menawan sehingga dahinya terlihat, menyesuaikan gel rambutnya yang berbau maskulin; itu kebiasaan. Guanlin meregangkan lehernya yang kaku sehabis tidur dengan teler diatas sofa.

Beberapa orang mulai memperhatikan mereka. Katakan saja dua orang berwajah menarik; yang satu punya mata doe sekaligus senyum gusi manis dan yang lain punya wajah kecil juga mata ikut tersenyum. Tapi perawakan memikat mereka demi apa, baju yang mengerat pas dibagian dada dan bahu.

Sialan. Bajingan penarik hati sekaligus mata. Sialan.

"Tidak. Habis ketiduran, kau tahulah aku tidur jam empat dini hari, hyeong. Laporan langsung kubantas habis semalaman." Guanlin melirik dengan sudut matanya, disalah satu meja ujung beberapa perempuancekikikan. Bibirnya berkedut tidak suka sebelum melanjutkan, "Omong-omong, rambutmu itu menyebalkan sekali. Semua orang jadi memperhatikanmu. Hyeong terkena demam artis, huh?"

Karena demi apa, mana ada orang normal yang memakai rambut kelabu?

"Aku akan ke Fukuoka, Jepang. Baru setengah bulan lalu aku ke Dubai dan sekarang dipaket lagi. Heol." Jinyoung mendecak sebal tepat setelahnya kasir bertanya tentang apa yang ingin dimakan, takeout atau disini. Jinyoung menyebut apapun yang membuat seleranya tuntas dan Guanlin menambahkan dengan keinginannya.

(Jinyoung menendang kaki Guanlin keras tanpa ada toleransi, "Aku tidak mau membayar pesananmu, bocah!"

Berakhir dengan mendramatisir karena Guanlin meringis kesakitan, "Hyeong, ini pasti biru! Tendanganmu itu tidak ada yang bisa menahannya, brengsek!")

Guanlin membawa nampannya ogah-ogahan, tidak mau duduk dengan Jinyoung jikalau tidak penuh dimana-mana. Ia masih bisa merasakan hentakan menyakitkan ditungkainya dan memberikan desisan sinis, "Pekerjaan diluar lagi? Kusumpahi hyeong dikeluarkan Ketua dari headquarters."

"Heejin melakukan lebih banyak perjalan luar daripada aku. Dia sudah delapan tahun disini, belum ada tanda Ketua menendangnya."

"Dia wanita, hyeong." Guanlin mendengus terganggu, "Damn, aku juga ingin perjalanan luar. Korea Selatan membuatku mual."

"Kau bisa ajukan proposal untuk Ketua."

"Ide yang luar biasa dan selanjutnya aku akan dilempar ke sudut kota terpencil di Amerika Latin."

Biasanya target untuk Lai Guanlin adalah seorang peneliti, dokter dengan dedikasi tinggi mungkin juga seorang relawan sosial. Guanlin selalu diberi tugas semacam itu jika ia pergi keluar dan itu salah satu didikan kejam Ketua.

Eksekusi orang-orang tidak bersalah, dingin kejam adalah sindiran untuk Guanlin dan Ketua lebih buruk dari manusia manapun atas perintah absolutnya. Bunuh siapapun, biarkan dia mati, tidak ada bukti konkrit dan buang segala rasa kasihanmu.

Jinyoung tertawa mengejek sebelum melihat satu cup jelly cokelat yang ditumpahi susu dan cup lainnya dengan es krim menggairahkan merah muda, mengernyit keheranan, "Kupikir kau bukan penyuka jelly ataupun es krim, Lai? Kemana sisi-sisi menyebalkan selera orang dewasamu?"

"Ini bukan untukku. Nanti ada—" Guanlin menarik nafasnya cepat, menimbulkan bunyi tercekik besar mengingat cepat, "—damn."

Nyatanya tidak ada Seonho yang datang begitu lama akibat lembur dikantor ataupun Seonho yang akan bersemangat bangun dari wajah lelahnya begitu Guanlin membawakan beberapa sweets maupun junk foods di waktu-waktu subuh.

Juga pekikan bahagia dengan suara melengkingnya saat Guanlin pulang (sangat lebih) terlalu malam dan sekotak pan pizza dengan topping nanas plus jagung manis sekaligus minuman bersoda ditangannya.

Tidak ada.

Tidak ada Seonho yang seperti itu.

Berapa banyak es krim yang tertutupi bunga es freezer juga puding kenyal dipintu dikulkasnya?

Berapa banyak permen manis?

Rentetan cokelat batangan?

Kudapan manis lainnya yang selalu berakhir tidak ada yang memakannya?

Berapa banyak?

"Kau bisa mengambilnya." Guanlin memutuskan, ia mendorong tidak selera dua cup dihadapannya, "Berikan pada informan penyuka merah muda yang sering hyeong goda itu."

Jinyoung menghamburkan karbondioksida dari mulutnya maklum, meletakkan roti isi sayur banyak daging (dia maniak daging, jangan tanya) sisa setengah diatas piring, menyelesaikan kunyahannya dengan tangan memegang tisu untuk menyingkirkan remah-remah disudut bibirnya.

"Masalahmu tentang Seonho ya?"

Seluruh perhatian Guanlin teralihkan dari ponsel digenggaman jemarinya, bagaimana? Bagaimana Jinyoung bisa tahu namanya? Jinyoung mengendikkan bahunya malas, meneguk seperempat minuman sehat dengan pandangan berarak menerawang kebawah.

"Aku juga akan melakukan apapun untuknya. Yoo Seonho, kan? Waktu itu kau diberi tugas langsung dari Bos, aku membaca filemu. File K-Dua. Aku sudah memperingatimu Guanlin, beberapa kali, kontak apapun dengannya tidak diperbolehkan." Jinyoung tersenyum ringkas, menggoyangkan minumannya hingga timbul buih-buih kecil, "Karena Seonho masih sama, dia memang suka menarik siapapun, membuat mereka mengikutinya terus, terus dan terus. Dia semacam kau tahulah, social butterfly, semua orang ingin menjadi temannya."

"Kau mengenalnya." Guanlin tergugu, tangannya yang memegang ponsel goyah sedikit lagi menjatuhkannya, "Kau mengenal Seonho."

Deguk tawa Jinyoung terdengar nyaring tapi, semua orang disana tidak peduli, "Tentu saja, buddy. Kami selalu melakukan hal-hal gila bersama. Dia seorang adik dari tempat aku les piano beberapa tahun lalu. Lalu aku pergi saat kelulusan. Kami berjanji untuk masuk universitas yang sama, tapi aku pergi terlebih dahulu."

"Sekarang bagaimana?" Guanlin menggaruk meja dengan kuku-kukunya yang belum dipotong, menimbulkan derit pelan dimeja besi tersebut. Sekarang bagaimana hubunganmu dengan Seonho? Seperti apa hubunganmu dengan Seonho?

"Hah? Bagaiamana apanya? Terakhir kali bertemu sekitar tujuh atau delapan tahun lalu. Tidak ada kontak apapun. Kau tahulah. Terlalu banyak pemikiran untuk tidak membiarkannya tahu apapun tentang pekerjaanku, kehidupanku atau apalah itu." Jinyoung menaikkan kedua pundaknya sekilas.

Pekerjaannya jahat berbahaya. Siapapun tidak ingin Jinyoung seret ke dunia menyedihkan ini.

Jinyoung mengambil nafasnya banyak sebelum mengeluarkannya sedikit bergetar, ini tentang masa lalunya, "Dengar Guanlin, seminggu lagi aku kembali dan kita harus pergi setelah membuat rencana yang spektakuler untuk menghindari informan, terutama yang galak itu. Bos sepertinya mengetahui kebenarannya. Semua yang terjadi beberapa bulan lalu. Rencanamu, bunuh diri dan aku dengar ada beberapa orang yang ingin mengejarnya lagi."

Kenyataan yang Guanlin simpan, mengambil cara membunuh dirinya sendiri dengan menyamar sebagai Seonho adalah hal terbaik yang dilakukan. Jatuh dari teras apartemen.

Guanlin yakin ada beberapa suruhan Ketua mengawasi apartemen mereka dibalik gedung-gedung puluhan lantai.

Bunuh diri untuk mengeluarkan Seonho dari kegilaan yang Guanlin buat.

Itu berhasil. Rencananya benar-benar tertata tanpa cela dan dua bulan berlalu buruk (Guanlin kehilangan separo jiwanya, direnteteti buruknya mimpi setiap menutup matanya barang sedikit) kecuali kenyataan seperti ini.

Ketua tahu.

Guanlin bergerak gusar dalam duduknya, mengacaukan rambutnya sendiri ketika pusing-pusing menyebalkan meringsek pikirannya, "Bedebah gila. Kupikir rencanaku berhasil mengalihkannya."

Jika Ketua mengetahuinya, kenapa Guanlin belum dikeluarkan? Belum dibunuh secara diam-diam atau terbuka? Seharusnya orang tidak loyal sepertinya akan menyeret lutut untuk meminta ampunan atas hukuman tanpa batas Ketua, tapi kenapa Guanlin tidak diambil langkah lebih?

"Aku tidak tahu kenapa Ketua masih membiarkanmu berkeliaran seleluasa ini, Lai. Ketua punya rencana dan aku yakin dia menyuruh yang lain untuk mencarinya."

Nya. Seonhonya Guanlin. Pandangan Guanlin melurus kearah Jinyoung, "Kenapa hyeong memberitahuku?"

"Eii, kau kan adik kesayanganku, jadi membantu dirimu bukanlah hal sulit. Lagipula, aku ingin bertemu Seonho."

"Aku tidak perlu bantuanmu, kakak kesayangan."

"Heol. Bocah tengik menjengkelkan."


This is a crime that I've committed

Even if this whole life is just the price that I'll pay.


"Aku tidak menyangka. Dua orang terbaik disini sedang melakukan pelarian."

Guanlin mendecih tidak senang, "Wink."

Wink. Salah satu informan terbaik disini, memiliki info-info tidak terjangkau dan sering menjatuhkan siapa saja yang ingin kabur, berhenti, pergi dari kegilaan tugas-tugas yang Ketua berikan. Ia bisa membuat siapapun mengemis jatuh dengan lutut hanya ucapan beberapa kata; mulutnya adalah hal yang paling ingin kau hindari.

Tembakan miliknya berkualitas tinggi, tepat, selalu sigap tak pernah goyah. Catatan nomer satu dalam organisasi. Sekali tandas.

Ia memperhatikan Jinyoung dan Guanlin, tidak ada yang menyimpang, tidak ada koper, tidak ada tas ransel. Hanya penampilan normal, rokok disela jemari mereka, masih terbakar oranye dengan bubuk kelabu. Sama sekali tidak ada penyamaran.

Tapi, ia tahu lebih banyak, sore ini, sekarang jam lima dua puluh lima dan melakukan pelarian, "Dua minggu, kalian merencanakannya selama dua minggu. Pendengaranku lebih tahu apa yang kalian diskusikan."

Jinyoung mengais nikotin dari rokok dan mengeluarkan asap putih dari mulutnya, tersenyum meremehkan, "Mungkin dirimu harus mundur, hei-kau-yang-tahu-segalanya. Setidaknya kau akan peduli bila terjadi patah tulang, well, mati? Kau tahu, aku tidak pernah bercanda, Jihoon hyeong."

Jihoon berjengit. Nama yang ditinggalkannya, nama yang dihilangkannya sekaligus nama yang usang tidak pernah dipakai lagi selama beberapa masa. Park Jihoon. Lebih memilih nama Wink dan menghapus segala memori tentang nama terdahulunya. Ia mendecih, menarik salah satu sudut bibirnya, senyum sinis jengkel, "Fuck. Kau selalu melakukan ini padaku. Katakan. Inikah namanya pengkhianatan, Bae Jinyoung?"

(Karena Jinyoung selalu melakukan hal-hal yang menyebalkan bagi Jihoon—tolong jangan tanya tentang kurir yang memberi paket sebuket cokelat dengan beberapa kupon makan ayam pedas manis gratis disalah satu gerai mall. Diantar saat waktu kurang memungkinkan. Rapat besar, mungkin?)

Jinyoung tergelak, "Aku belajar banyak dari Kepala HR sepertimu Jihoon hyeong. Menyenangkan juga bisa tahu tentang orang lain."

Apa-apaan dengan Kepala HR? Dia yang merekrut kami? Seorang informan sekaligus Kepala HR? Bercandanya tolong diminimalkan. Guanlin mundur sedikit, Jihoon adalah Kepala Human Resource disini dan jelas mengetahui potensi lebih banyak daripada dirinya.

"Aku mungkin bisa menembak kalian diam-diam sekali tandas ditengah-tengah dahi kalian, meredam seluruh fungsi otak atau dada kiri, dimana akan mati perlahan akibat kekurangan regulasi darah. Tapi, sayang sekali, aku terkesan. Kemampuan kalian berkembang terlalu banyak, terus meningkat dan aku tekankan lagi. Aku terkesan."

Jihoon mengendikkan bahunya tidak peduli dan memalingkan wajahnya tidak menatap mereka, "Kalian cukup. Kalian benar-benar cukup. Jadi, aku ikut."

Jinyoung menggeram 'fuck' didepannya, membuang batangan rokok kelantai, mematikannya dengan ujung sepatu. Guanlin harus menggeleng tuntas tidak terima. Seseorang seperti Jihoon yang bahkan motifnya belum diketahui ingin ikut.

Dikira ini sebuah acara akhir tahun untuk jalan-jalan apa?

"Ulangi lagi." Jinyoung melangkah. Satu, dua. Jemarinya menarik ujung dagu Jihoon untuk berani menatapnya, mengais kulit lembut Jihoon dengan ujung kukunya hingga kulit terang itu memerah. Jinyoung berbisik tertahan, "Ulangi lagi ucapanmu."

Jihoon mendengus mengejek, "Aku ikut dengan kalian. Bertemu dengan K-Dua atau apalah itu." kemudian mendesis ketika kuku-kuku Jinyoung semakin mengerat, menarik dagunya penuh tuntutan dan Jihoon hanya menarik pipi Jinyoung untuk mendekat, "Rendahan sekali kau, Jin. Menggunakan kemampuanmu terhadapku."

"Berhentilah main-main." Jinyoung menghamburkan nafasnya sebelum menyimpulkan sudut bibir kanannya keji, "Apapun rencanamu, apapun keinginanmu, apapun yang Ketua inginkan darimu. Aku akan merusak mulut licikmu, kepercayaan dirimu, semuanya. Aku akan membuatmu berada dalam genggamanku tak bisa melepas, Jihoon."

Jemari Jihoon yang berada dibahu Jinyoung tidak lagi bergerak main-main ketika pinggangnya diremas terdorong mendekat.

"Shut up, you dumbass. Aku masih tidak terima dengan namaku dipanggil olehmu." ucapan Jihoon sedikit bergetar saat bibir lembab Jinyoung datang, meliar dipelipisnya turun keujung mata kirinya semakin kebawah menggigit tulang pipi Jihoon basah. Bae-fucking-Jinyoung!

(Apa Guanlin baru saja melihat sexual tension disini?

Lupakan.)

Jinyoung tersenyum jenaka, "Bukankah itu manis? Park Jihoon. So fucking pretty." lalu mengecup sudut bibir Jihoon tidak tahan. Bagaimanapun Jinyoung seperti melihat awan kapas merah muda halus yang terjebak dilautan susu lembut. Semuanya. Semuanya yang berada di Jihoon, too beautiful to resist.

(Apa Guanlin baru saja melihat Jihoon memerah?

Serius, lupakan.)

Jihoon memberenggut, jemarinya membentuk pistol dan mengucapkan 'bang' pelan ditengah-tengah dahi Jinyoung, "Aku akan menembakmu."

Jinyoung menahan gemas setengah mati, kelakuan kekanakan Jihoon adalah salah satu kelemahan yang membuatnya meluber layaknya cokelat kental panas dituang cepat diatas dessert; siapapun tidak akan menolak dengan keindahannya. Ia menekan-nekan bibir bawah Jihoon tanpa malu menggunakan telunjuk dan berucap santai, "Shoot me down with your lips, sugar."

"Aku benar-benar menembakmu. Tunggu sampai aku mengambil temanku." telunjuk Jihoon berada di dada kiri Jinyoung ;jantung, disana jantung berdetak. Jihoon selalu tepat titik-titik fatal yang mampu merubuhkan nyawa seseorang. Menekan terlampau keras diantara rusuk dan Jinyoung tidak sukarela melepas lengannya.

"Guanlin." Guanlin menoleh pada Jinyoung setelah Jihoon berjalan cepat dan hilang diujung lorong, menaiki lift dengan wajah bosan, mungkin dia menunggu dibawah. Jinyoung tersenyum gila, matanya bersinar seperti sehabis bertemu idol favoritnya, "Bakar semuanya."

"Tunggu rokok milikku habis, hyeong."

Jinyoung mengendikkan bahunya ringan, mengambil ponsel hitamnya dikantong jaket bomber pas badan, bibirnya menyudut mengeluarkan seringaian begitu menatap layar ponselnya, "Kamera sudah aman. Sugar meminjamkan bantuannya sedikit. Sedikit lama dari yang kuperkirakan. Lempar milikmu dan kita pergi."

"Jangan memberi perintah kepadaku, hyeong."

"Tidak peduli."

Ujungnya Guanlin membiarkan rokoknya tidak habis, melemparkan sumbu oranye itu dengan santai kearah tumpukan koran didepan pintu. Teriakan membabi buta dari dalam gedung sekaligus alarm yang memekik terdengar begitu menaiki mobil Ranger di kursi depan dan Jinyoung memegang kemudi. Jihoon sibuk dengan ponselnya dibelakang omong-omong.


Perlu satu bulan, untuk mereka bertiga saling berpisah sekedar mendekam diri dalam pengasingan dan berkumpul lagi ditempat janjian lalu baru bisa melakukan aksi mencari seseorang bermarga Yoo.

Jihoon harus membuat jaringan baru, menambah beberapa pengalihan informasi agar Ketua sibuk dengan tugas-tugas berat lain sebelum mengetahui kalau mereka bertiga sedang melakukan pelarian. Dan setelah perjuangan penuh dengan beberapa sistem ordinal, Jihoon berhasil membuat penyamaran bagus. Langsung memberi tahu Jinyoung maupun Guanlin kalau tugasnya sudah berhasil.

"Kau yakin, hyeong? Mau ikut dengan kami? Ini sudah cukup jauh dan kau tidak mau kembali ke headquarters? Ketua akan memberi ampunan jika kau memberi tahu kalau kami sedang dalam pelarian." Jinyoung bertanya khawatir pada Jihoon. Matanya tak pernah abai dan begitu mawas kepada jalanan tol dihadapannya, menggerakkan kemudi lihai dengan sebelah tangan walaupun kecepatan berada diatas rata-rata.

Guanlin kadang heran. Minggu kemarin Jinyoung mengancam Jihoon dengan jahatnya atau Jihoon yang tidak diketahui bagaimana kepribadian aslinya bisa saja menembak mereka dengn riffle kesayangannya itu. Lihat sekarang, terpampang nyata sekali kalau mereka memiliki hubungan terselubung. Hubungan aneh yang bisa disimpulkan mereka sendiri.

"Tidak." Jihoon menggeleng hingga poninya ikut bergoyang seiring gerakan kepalanya yang singkat. Mencondongkan tubuhnya kedepan dan menggesek pipinya ke bahu Jinyoung manja sebelum menumpu dahi disana. Bergumam dengan suara teredam lucu, "Aku tidak mau, tidak akan dan tidak mau."

Jinyoung menepuk-nepuk kepala Jihoon yang masih nyaman dibahunya lalu mengelusnya penuh afeksi dan kekehan banyak, "Beri aku alasan. Satu atau lebih, aku akan mendengarkan. Akan kupertimbangkan apakah kau harus ikut atau tidak."

(Guanlin langsung berteriak dipikirannya kuat, 'Tolong siapa saja! Jauhkan aku dari pasangan super aneh menakutkan ini!'

Guanlin memang tidak pernah berbaur dengan Jihoon terlalu lama, hanya bersama Seungwoo, Daniel, Woojin ataupun Jinyoung. Oh! Daehwi yang suka nyerocos iya juga. Jadi, ia sedikit takut untuk menggapai pertemanan bersama Jihoon. Walaupun dirinya mengagumi keberhasilan misi tingkat tinggi yang dijalani Jihoon begitu mudah dan cekatan.)

Jihoon menaikkan wajahnya, "Aku jatuh cinta. Menyukai bagaimana manusia berkembang, bergerak menghempas realitas, mencari solusi diruang sempit hanya dengan kualitas menakjukan pemikiran sekaligus emosi." Jihoon mundur dan bersender pada kursi penumpang, ia ingat jelas laporan dari beberapa rekan kerja tentang 'resiko yang diambil' mengenai Jinyoung atau 'tertata ringkas' mengenai Guanlin.

Kegagalan mungkin ada tapi, dengan cepat dipangkas oleh performa mengejutkan di tugas berikutnya. Mereka berada ditingkat atas dari semua agen. Jihoon enggan mengakui tapi, memang benar apa adanya.

"Aku belum cukup, sudah mencoba beberapa hal saat terdesak. Diriku tetap sama." Jihoon pernah terjebak dalam beberapa keadaan memusingkan, hampir kehilangan jati dirinya, sekarat, dikhianati teman dan jatuh cinta. Semuanya sama, terus berputar pada ketidakmampuan evolusi pikirannya, tidak ada keinginan lebih untuk mengembangkan diri bagi Jihoon, "Kalian lebih dari cukup untuk sumber pengamatanku."

Guanlin menoleh kebelakang, sedikit ragu namun tetap melanjutkan apa yang dipikirkannya, "Hyeong, tahu tentangku?"

Jihoon mengangguk malas, "Pan. Lai Guanlin. All-arounder. Rata-rata dalam segala hal; pertarungan tangan atau hand-to-hand combat, juga penggunaan senjata tembak jauh maupun dekat juga senjata tangan. Kemampuanmu hebat, itu luar biasa tapi, emosimu. Emosimu itu, buruk sekali jika dengan K-Dua. Dan sialan, kau berkembang terlalu banyak setelah melakukan kontak langsung dengan K-Dua, oke, Seonho."

Sensitif sekali Lai saat seorang sasaran dengan kode K-Dua disebut. Berani sekali matanya menajam pada hyeong yang lebih tua ini. Ada sedikit dingin menakutkan dibalik hitamnya pupil mata Guanlin.

"Hyeong harusnya juga bercerita tentangku." Jinyoung berucap dengan nada ceria dibuat-buat. Jihoon langsung menarik rambut Jinyoung sampai pria itu meringis terkejut dan tidak sengaja menginjak pedal lebih dalam. Guanlin bahkan terkesiap, mengeluarkan serapah dalam bahasa ibu karena kecepatan berubah tiba-tiba.

"Jangan bersikap ceria begitu. Terlihat sekali palsunya." decak Jihoon dengan tatapan tidak tertarik sebelum melanjutkan, "Deep. Bae Jinyoung. Pertarungan tangan sekaligus penggunaan senjata tangan berada dalam level menyebalkan."

"Say it, Sugar. Aku ingin mendengarnya."

Jihoon mendelik, mulutnya mengantup tidak ingin membuka tapi, hatinya selalu berbeda. Pria yang memegang kemudi ini tidak bisa ditolak maupun dibantah. Hanya memutar malas matanya Jihoon berujar ogah-ogahan, "Bae Jinyoung, terbaik dalam lapangan."

Jinyoung mengerling kearahnya lewat kaca yang menggantung diatas, "Luv ya, Sugar."

"Tapi, lemah dalam menggunakan senjata api. Tembakan terbaikmu hanya berjarak dua meter."

"Aku melakukan semampuku."

"Aku bingung kenapa Ketua masih mempekerjakan dirimu. Kau adalah agen terburuk dalam menembak dari semuanya."

Guanlin lagi-lagi harus menghamburkan nafasnya maklum karena sekarang mereka melakukan cekcok tidak penting. Jikalau bukan pelarian dalam mencari Seonho, Guanlin sudah turun secara paksa daritadi. Lagipula hanya Jinyoung yang mengetahui lokasi dituju, entah dapat dari siapa, karena Jihoon tadi menanyakan akan kemana dan mengatakan kalau lokasi Seonho terakhir berada di Ilsan. Lost contact berikutnya.

"Lupakan tentang yang terburuk. Apa yang kau tahu tentang Ketua?" Jinyoung menekan klakson keras begitu ada mobil berhenti tiba-tiba untuk meminggir. Ia menyumpah dalam desisan tidak suka.

Jihoon mengendikkan bahunya, "Ketua? Tidak banyak. Mungkin tidak ada. Aku hanya tahu kalau organisasi muncul sekitar delapan-sembilan tahun yang lalu dan seluruh agen disana sudah kuselidiki. Tidak ada yang tahu dengan Ketua. Bertatapan atau mendengar satu bait suara. Hanya pesan dan instruksi."

"Mungkin Ketua mempunyai wajah jelek. Kudengar umurnya sudah tiga puluh lebih tapi, masih bisa menjalankan tingkat S. Bukankah itu hebat?" Jinyoung berucap konyol, sedikit terkekeh mengucapkan isi pemikirannya atas dotkrin gosip-gosip yang di dengar dari wanita headquarters.

Guanlin memutar bola matanya jengah, "Hyeong, kau selalu saja nongkrong dengan wanita-wanita di headquarter, bergosip dan mengajaknya kencan setiap malam. Tidak ingat apa. Kau sudah punya Jihoon hyeong."

"Aku tidak dapat dimiliki siapapun, Lai." sergah Jihoon cepat, "Jangan coba-coba menjodohkanku dengan seorang Bae berpredikat agen terburuk."

"Sugar, selama ini kau menganggapku apa? Kukira kau pacarku." Jinyoung berucap tidak senang, bibirnya dimajukan membentuk pout lucu dan Jihoon langsung menamparkan telapak tangannya dimulut Jinyoung sekilas, "Diamlah dan setir dengan benar, Bae Jinyoung-ssi."

Ada keadaan mereka harus diam, membiarkan musik yang dicolok dari kabel aux menuju ponsel pintar Jinyoung agar membunuh waktu selama beberapa jam untuk melewati jalanan dipenuhi kendaraan lainnya.

Jinyoung menghentikan keadaan hening dengan berbicara, "Sebentar lagi sampai. Sekitar lima belas menit mendatang."

"Busan. Kita berada di Busan. Tepatnya Buk-gu, Deokcheonil-dong." Jihoon langsung meneliti daerah yang dijalani mereka, sudah memasuki perkotaan dengan gedung yang tidak setinggi Seoul dan berhenti dilampu merah sebentar, ia kembali memandang kedepan, "Siapa yang kita temui?"

"Hwang Minhyun. Dokter anak disalah satu rumah sakit terkenal disini, Bumin Busan Hospital." jelas Jinyoung, menyalakan lampu sein untuk menyebrang ke sisi kiri jalan dan menelusuri lebih dalam, jalan semakin menyempit terus menyempit. Hanya ada jalanan kompleks apa adanya.

"Kenalanmu?"

"Bukan. Aku tahu pacarnya." Jinyoung langsung menarik rem tangan begitu melihat rumah satu lantai dengan pagar besi menjulang sepinggang. Ada beberapa pot tanaman hias dihalaman sampai teras. Jinyoung mematikan mesin mobil berbunyi halus tersebut hingga tidak berderak lagi, "Kita sampai."

Guanlin paling tangkas keluar mobil, menggeser pagar tergesa membuat Jinyoung maupun Jihoon kewalahn mengimbangi beberapa langkah cepat pria Taiwan itu. Disamping pintu tepat diatas tombol password, ada bel dan Guanlin langsung menekan penuh berkali-kali tidak sabaran.

Satu menit belum habis tapi, pintu sudah dibuka. Ada pria menawan dengan kulit halus sensitif, mengenakan hoodie putih longgar dan celana training nyaman. Guanlin sudah membuka mulut namun, Jihoon mengangkat tangannya supaya tidak mengeluarkan satu dua kalimat tidak penting.

(Mereka perlu mencegah hal-hal tidak memungkinkan, apalagi Lai Guanlin bisa menakuti masyarakat sipil dengan sikap membabi-buta ingin tahu.)

Jinyoung sedikit membungkuk untuk bersikap sopan, tersenyum tulus menyembuhkan agar terlihat meyakinkan, "Aku Bae Jinyoung; kenalan pacarmu, yang bekerja sebagai Chief Executive itu. Kukira dia sudah memberitahu tentang kedatangan kami."

"Hwang Minhyun-ssi, apa Seonho ada disini? Yoo Seonho?" Guanlin tidak tahan menyerocos kalut, sangat harap-harap cemas. Ada ruai kecil saat bola matanya bergerak mengais esensi Seonho.

Jinyoung menepuk dahinya sendiri. Sia-sia bersikap seminim mungkin mencegah kecurigaan kalau Guanlin mengacaukannya.

Jihoon menghela nafas sarkatis, "Calm down, brat. Kau seperti maniak."

"Okay, okay. Kau pasti Lai Guanlin yang lahir dua puluh tiga September dari Taiwan." Minhyun terlihat maklum bahkan sangat terlampau tenang dalam bertutur kata, ia membuka lebih banyak pintunya, "Kalian bisa masuk dan menunggu. Seonho masih bekerja."

Yoo Seonho sepertinya sudah bercerita terlalu jauh.


The world is spinning madly as I look for you in everyone.


Seonho mengetuk-ngetuk tombol lembut disamping pintu terlalu bersemangat, tangan kirinya menenteng paper bag lucu dengan gambar sekumpulan kartun binatang. Bunyi klik dari mesin kunci berbunyi.

Seonho mendorong pintu sepenuh hati, menendang sepatunya ke arah rak asal-asalan, "Hyeong! Tadi, ada seorang anak memberiku hadiah. Kau seharusnya mengantarku pagi tadi, hyeong tidak dapat melihat ekspersi malu-malu dia. Ah~ menggemaskan sekali."

Minhyun itu dokter, pekerjaannya selalu mengambil waktu, kadang harus stand by beberapa hari dirumah sakit dan Seonho yakin sekali kalau Minhyun sedang mengambil cuti (yang terlalu sering diambil) dengan alasan menikmati waktu mudanya; minum teh hambar dengan iPad ditangan membaca berita terbaru atau melakukan video call dengan pacar yang keseringan diluar negeri.

(Muda apanya, umur sudah hampir tiga puluh begitu, cibir Seonho)

Dan untuk mengeksekusi waktunya juga, Seonho memilih untuk bekerja sebagai sukarelawan rumah sakit (walaupun bukan yang sama dengan Minhyun tapi, itu sudah cukup). Entahlah. Ia merasa tidak ada yang perlu dipikirkan. Seseorang yang mengikutinya beberapa minggu lalu bahkan hilang tidak berada dalam peredaran lagi.

"Minhyun hyeong?" Seonho bertanya-tanya, Minhyun biasanya akan datang menanyakan terlalu banyak pertanyan, serentetan mulai dari kabar, bagaimana rumah sakit tempat menghabiskan waktu, ataupun apakah Seonho terjatuh, terluka mungkin kehilangan arah. Seonho pernah protes kalau Minhyun terlalu melindunginya.

Berakhir dengan dokter tersebut tidak pulang beberapa hari tanpa meninggalkan masakan apapun dan Seonho harus merengek (hampir menangis) menelpon Minhyun kalau dirinya tidak ingin makan makanan instan lagi. Serius, Seonho tidak akan menanyakan lagi tentang banyaknya afeksi Minhyun sebagai kakak.

"Minhyun—" bukan rambut kelabu, bukan Minhyun "—hyeong?"

Pria yang punggungnya menghadap Seonho berbalik lugas dengan tangan menyibak rambutnya dengan sisiran tangan; kebiasaaan yang dikenal Seonho baik, senyum lembut penuh nostalgia, mata melengkung menarik, juga sapaan ragu-ragu penuh kecanggungan, "Hei."

Sial.

Seonho mundur tersentak, paper bag melorot dari tangannya. Seonho tidak pernah ingin merasakan masa-masa ini. Jika berpisah dengan ayah-ibunya bukanlah hal yang paling sulit atau beradaptasi dengan kepadatan kota yang menyesakkan namun membuatnya ketagihan.

Bukan, bukan itu yang menyulitkannya, ditangisinya dan yang dirindukannya.

Jinyoung.

Bae Jinyoung.

Melihat Jinyoung rasanya mencekik, tarikan nafasnya tidak terkendali.

Temannya, sahabatnya, keluarganya, pasangan sejiwanya, cinta pertamanya.

"Sugarplum." sudah berapa lama panggilan itu, astaga. Seonho sedikit terganggu ketika Jinyoung menarik satu garis kebawah kemudian keatas, menilainya keseluruhan sebelum mendengus tertarik, "Kau gemukan."

Seonho sudah menyumpah beberapa kata dalam pikirannya sebelum terbatuk mencoba menahan panas-panas menyebalkan, "Masih saja tidak sopan, hyeong."

Mereka berdua tertawa bebas selanjutnya hingga bibir mereka sakit terlalu lebarnya deguk tawa yang mereka keluarkan. Seonho membuka lengannya, meminta pelukan dan Jinyoung menggerakkan kepalanya singkat; secara tidak langsung menyuruh Seonho untuk segera menghampirinya.

Pelukan bone crush Seonho yang sibuk mendumel dengan beberapa serapah jelek dan Jinyoung senang hati terkikik begitu ujung rambut Seonho bergoresan dengan tulang pipinya, ia membalas mudah, membiarkan Seonho duduk nyaman dipahanya, "Seonho, astaga, kau tidak tahu segila apa aku merindukanmu."

"Kau yang tidak tahu." jemari Seonho mencengkram erat kemeja Jinyoung hampir mencekiknya, "Tidak tahu bagaimana tololnya aku mencarimu seluruh Seoul, Daegu, Busan bahkan seluruh Korea Selatan. Aku meminta siapapun, polisi, detektif swasta, siapapun. Tetap saja. Aku tidak menemukanmu dan menunggumu seperti anjing setia selama empat tahun. Bedebah! Kau bahkan tidak meninggalkan apapun."

"Kau terlalu banyak omong, Sugarplum. Makanya aku tidak memberitahu pengacau sepertimu."

"Heol. Kau saja yang menyimpan banyak rahasia, hyeong. Aku tersanjung jika penyebabnya adalah aku. Cih." Seonho mendecih tidak senang.

Kenapa semua orang selalu menyembunyikan beberapa hal darinya? Termasuk… Guanlin?

Seonho itu bila sudah manja, dia tidak mau melepas siapapun. Yang pertama kali diradarnya, siap-siap saja untuk ditempeli. He's the spoiled and clingy one. Jinyoung tahu, Seonho sedang dalam masa seperti itu. Menggulung diri, duduk menyamping nyaman dipaha Jinyoung dengan tangan yang sibuk oleh ponsel.

"Kita seperti pasangan yang sudah menikah." ujar Jinyoung membuka pembicaraan, tidak bisa melakukan apapun selain mendekap pinggang Seonho. Mana ponsel juga masih dicharger dan tak bisa kemana-mana karena orang dalam pangkuannya ini kepala batu.

Seonho masih main game offline, menyenderkan kepalanya pada bahu Jinyoung, sama sekali menyamankan diri dan tidak ingin beranjak, "Aku sudah punya pacar, hyeong."

"Aku juga punya orang yang disukai. Tolong pahami, itu bukan dirimu, Seon. Jangan percaya diri terlebih dahulu." Jinyoung mengerutkan hidungnya, mencoba untuk tidak mengendusi lebih banyak harum Seonho; seperti campuran tajam mint dan rambutnya, damn, permen karet.

"Jinyoung hyeong, aku memang percaya diri tapi, tidak serendah itu juga menyukai dirimu."

"Yoo Seonho, mulutmu itu." Jinyoung memekik tidak setuju. Ia pantas kok jadi pasangan siapapun. Jinyoung sehat, menawan sekaligus mempunyai studio musik disela pekerjaan gilanya. Apa saja yang berada di dirinya itu melimpah, "Siapa dulu minta jemput-antar karena tidak mau dikencani orang lain."

Seonho panik seketika, itu memori usang yang memalukan ketika remaja, "Pembohong ulung, kau tidak tahu—" Jinyoung mengernyit begitu Seonho berhenti berbicara, malah mengerjap bingung menatap orang dibelakang Jinyoung dengan mulut bergumam lirih, "—Guanlin?"

Oh. LaiGuanlin sudah muncul. Jinyoung tertawa jahat dipikirannya sebelum mengeratkan lengannya dipinggang Seonho, menariknya lebih jauh untuk berada dipelukannya dan berbisik halus, "Sugarplum, sepertinya pacarmu datang."

"Seonho, tidak ingin memelukku?" Guanlin memberenggut melihat Seonho yang bibirnya mengerucut dan sepertinya tidak mau melepas pelukan Jinyoung yang juga terlalu mendekatkan diri. Seonho bahkan harus mengerutkan dahinya tidak mengerti. Ini anak lucu tapi menyebalkan sekali ya?

"Hah? Kau memintaku untuk pergi melupakanmu dan sekarang kau meminta dipeluk. Aku tidak mau."

Guanlin semakin dalam cemberutnya, berucap dengan nada merengek, "Tapi, aku merindukanmu Seonho-ya."

Menurut Jinyoung, itu aneh. Melihat Guanlin yang manja, mengeluarkan apapun yang ada dipikirannya, berbicara jujur sesuai kehendak. Empat tahun mengenal Guanlin yang kaku, arogansi menyebalkan dan ucapan tak terdidik, and boom, berpacaran dengan everybody's lovely flower macam Seonho. Ini perlu dipertanyakan.

Ini mulai semakin aneh.

Ia tidak mau juga mempertahankan Seonho lebih lama. Bisa terjadi hand-to-hand tidak menyenangkan. Hanya membuang energi yang disimpan. Juga pahanya sudah keram terlalu banyak beban.

Jinyoung menaikkan alisnya tidak peduli, lagipula itu kisah percintaan sahabatnya, lebih baik tidak usah ikut macam-macam, "Sudahlah, aku mau mencari Jihoon hyeong." Ia menunjuk Seonho yang (masih saja) betah dipangkuannya, "Ambil paketmu, Lai."

"Kau mengenal Guanlin!" Seonho berucap nyaring, tubuhnya bergerak heboh, "Jinyoung, ini pengkhiatan. Kau dulu tidak pernah lepas dariku, sekarang—" Seonho berjengit begitu lengan lain menarik pinggangnya, mendelik layaknya kucing marah dan menggeram, "—Lai Guanlin!"

Seonho hanya bisa diam, jika Guanlin sudah memakai tenaga hanya menyerah yang harus dilakukan Yoo, karena percuma saja mengeluh ataupun mencoba kabur. Sebagaimana kau mencoba hilang dari pandangannya, menjauh dari esensinya maka Guanlin akan semakin menangkar Seonho, menjebaknya hingga runtuh mendasar.

Seonho tidak mengeluh saat perutnya diapit lengan Guanlin, yang menggendongnya hanya dengan sebelah lengan tanpa hambatan. Manhandling adalah kelemahan Seonho dan Guanlin dapat mendedikasikan itu dengan baik.

Guanlin tidak berbicara atau nyerocos mengatakan beberapa kata rindu. Membuka sembarang pintu dan menguncinya cekatan sebelum menaruh memutar ringan tubuh Seonho dan menaruhnya kehati-hatian diatas tempat tidur. Seonho selalu suka ketika seseorang mengangkatnya, membawanya dalam sapuan singkat hingga beratnya tertahan lengan kuat. Its the hottest things. Kepalanya pening sebentar ketika panas mulai terasa dimana-mana.

"Lin, sial, kepalaku pening." keluh Seonho dengan badan bergerak gusar gelisah namun, Guanlin menghentikannya, dalam sikunya menaungi Seonho yang terdiam detik berikutnya. Memandangi wajah memikat hati dari pacarnya yang terlalu dekat hingga saling berbagi udara kemudian menutup mata membiarkan Guanlin berbuat apapun.

Guanlin meringsek kedepan, ingin menjatuhi ciuman tapi berhenti sangat dekat hampir sampai tinggal satu dorongan kecil, hanya berbisik dengan udara panas menggoda menimpa permukaan bibir Seonho, "Sweetheart."

Bibir Seonho terbuka bergetar parah meminta permohonan kacau, "Guanlin." Hanya terucap nama, sebuah nama yang selalu diingatnya. Kepalanya kosong tidak dapat memikir apapun. Hanya ingin Guanlin. Seonho menginginkannya. Ingin lagi suara yang berbisik halus ditelinganya, tangan yang besar mengcengkram lembut pahanya, ciuman ringan diperut and Seonho wants to be good for Guanlin.

"Guanlin." Seonho terus memanggil Guanlin. Pikirannya benar-benar kacau, memusingkan mulai mengaburkan nalaritas. Tidak sabaran menarik leher Guanlin agar saling menyapa belahan bibir satu sama lain hingga gigi bertabrakan kasar.

Guanlin menggeram rendah, memberikan lumatan tidak main-main dan gigitan liar tidak berbelas kasih. Seonho mengeratkan pelukannya pada leher Guanlin, kakinya mengait pada paha pria yang menindihnya menekan lebih banyak agar berbagi hangat tubuh.

Seonho tersengal hebat, mencari udara ketika Guanlin melepas tautannya. Kemudian, menarik tubuh mereka sampai Seonho terduduk lemas diatas paha Guanlin. Tangan pria yang lebih muda terkulai diatas pundak lebar sang pacar, membiarkan Guanlin bermain dengan wajahnya melakukan butterfly kiss lalu gigitan basah dipipi karena gemas.

Panas. Seonho merasa panas menyenangkan. Sudah berapa lama tidak merasakan dekapan sayang dari Guanlin?

Guanlin berlirih manis, "Seonho."

Seonho ingin menangis, suaranya tercekat ingin mengeluarkan degukan. Kelumpuhan nyata menyerang dirinya ketika Guanlin menggesekkan ujung hidungnya dileher dengan tarikan nafas rakus sebelum mengambil kecupan melayang hampir tidak terasa.

Seonho runtuh, "Please, Guanlin. Aku— tolong— panas sekali—"

Satu gigitan menakjubkan. Seonho merengek dengan luruhan air mata saat Guanlin meremas pinggangnya halus sekaligus gigitan menimbulkan bekas dilehernya terus berjatuhan; punggung rapuhnya melengkung dadakan akibat gairah panas dimana-mana.

"Aku merindukanmu, Seonho." Guanlin bergumam rapuh, menaruh kecupan dalam dipelipis Seonho manis.

Seonho jatuh dalam tangisan berdeguk, tangannya mengecengkeram penuh tremor permukaan baju kaos milik Guanlin kencang dan menumpukan dahinya pada bahu pria Taiwan itu, "Aku juga merindukanmu. Jangan pergi lagi." bulu matanya jatuh pasrah, "Jangan pergi jauh lagi, Puddin."

Guanlin sangat mencintai bagaimana Seonho kehilangan dirinya sendiri, bagiamana Seonho merengek karena perlu dirinya, bukan orang lain atau bagaimana Seonho melirihkan panggilan namanya karena tidak sanggup lagi; walaupun 'Puddin' sangat disukai juga karena Seonho sering mengucapkannya dengan cara menggemaskan.

Ah~ tidak ada yang lebih baik dari Seonho begitu mengais afeksinya.


"Namaku Lai Guanlin. Dua puluh empat tahun. Lahir dua puluh tiga September di Taiwan. Bekerja sebagai eksekutor bayaran mahal. Keluargaku mati, dibunuh dengan kejam dihadapanku. Lai Guanlin, sayangmu, cintamu, your Puddin."

Secara rinci Guanlin menjelaskan sebisanya, tidak bisa mengungkapkan lebih banyak karena kenyataan kalau ada beberapa masalah nyawa dibahas sekaligus ia harap Seonho tidak takut dengan pekerjaannya yang asli. Pekerjaan yang disembunyikannya. Pekerjaan yang digelutinya beberapa tahun kebelakang.

Sebelum bertemu pemuda sehiper Seonho; yang mempunyai sosialitas luar biasa, yang mempunyai selera makan menjadi-jadi, yang mempunyai senyuman memikat setiap menekan tuts piano selembut bulu, yang mampu membuat dada Guanlin berderak setiap kali mengingat cara merajuknya tidak mau berbicara dengan siapapun selama beberapa menit.

"Eksekutor bayaran mahal? Sejenis pembunuh bayaran?" Seonho bertanya, kepalanya bersandar disisi kiri bahu Guanlin nyaman, punggung terbukanya bersinggungan panas dengan dada pria Taiwan dibelakangnya.

Hangat air dari bathtub ikut mengepul membuat suasana makin nyaman. Setelah melakukan kegiatan seks yang merindu, sungguh menyenangkan untuk sekedar rileks dengan balutan air panas membuat kelelahan tubuh terangkat.

"Tidak juga." Guanlin berucap tanpa nada-nada tertarik, "Aku bekerja untuk instansi—bukan milik pemerintah. Namanya Dawntide. Mereka memberikan misi yang sesuai kemampuan agen; kemampuan kami. Entah itu eksekusi orang, sekedar mengambil file penting ataupun undercover untuk mengais rahasia. Sangat beragam."

Seonho mengangguk-angguk paham, menekan-nekan halus sekaligus ringan riak air seolah memainkan partitur piano karya seorang yang terkenal, begitu lancarnya mengajukan pertanyaan, "Tidak apa-apa menggunakan nama asli?" menambahi dengan gumaman instrumental sembarangan.

Guanlin menggeleng, walaupun tahu bahwa pria di depannya tidak bisa melihat aksinya, "Kami menggunakan code name saat berada dilapangan dan percuma untuk memakai nama lain di headquarters. Ada beberapa orang yang bisa mencari informasi sebaik mungkin, jadi sekali lagi, percuma menggunakan nama samaran bila sudah berbaur sesama agen."

"Lalu, kenapa kau mengusirku, Guanlin? Apatermen juga terbakar. Semua itu ulahmu, bukan?"

Pertanyaan itu.

Guanlin selalu antisipatif dengan pertanyaan itu. Mempunyai beberapa jawaban yang tertata tanpa ragu tapi, entah kenapa Guanlin merasakan nyeri merambat tanpa pilah-pilah dari dada ke leher, hingga rasanya mencekik sakit membuatnya enggan untuk mengatakan dusta.

"Aku tidak ingin kau berurusan denganku lagi. Ini pekerjaan berbahaya dan selalu ada nyawa sebagai timbangannya. Aku hanya tidak ingin dirimu hilang, mati, terluka ataupun itu karenaku." Guanlin memberikan sedikit kebohongan manis sebelum melanjutkan, "Ya. Aku membakar semuanya karena ingin kabur darisana, dari Dawntide."

"Maafkan aku telah membuat kenangan kita ikut habis bersama api. Aku ingin membiarkannya tapi, resiko terlalu banyak. Aku— maaf— sayang." ia memberi gesekan manja ditengkuk Seonho, mengendusi aroma tubuh yang berbaur bagus dengan bathbom cokelat yang dicelupkan sebelum mereka berendam.

"Tidak apa." Seonho mengeluarkan kikikan geli, tubuhnya bergerak terlalu banyak hingga air sebatas dada juga ikut-ikutan bergerak liar tidak menentu dan ia langsung menaruh jemarinya diatas tangan Guanlin begitu nyaman mengusap perut sedikit gembung (akibat terlalu banyak makan ayam), "Kita bisa membuat kenangan lebih banyak, Guanlin. Jangan pergi kemana-mana lagi."

"Tentu saja, sweetheart." Guanlin terkekeh lucu, memberikan ciuman hampir tidak terasa pada bahu Seonho dalam dekapannya sebelum menambahkan gigitan sakit pada tempat tertentu agar memiliki bekas, "Karena Puddin cokelat tidak bisa ada tanpa seorang Yoo Seonho."

Seonho meringis tertahan, ada denyutan berdentum-dentum dititik Guanlin menggigit. Ia menoleh kebelakang dan sudah punya sekian omelan yang dikeluarkan namun, Guanlin lebih tahu dirinya daripada apapun. Pria lebih tua itu memberikan ciuman lembut menyenangkan, membuat tensi semakin berlarut-larut.

Guanlin harap sekarang dosanya ikut hancur melebur jika kembali bersama dengan yang terkasih.

Hanya bisa…

Hanya bisa berharap.

Untuk saat ini.


Ask you to forgive me for my sins, oh would you please?


"Linlin~" Seonho menaruh duselan penuh kemanjaan pada lengan pria disampingnya, kadang naik ke bahu bahkan menuju tulang selangka; sangat menyaingi kucing menggerung manja yang sering Daniel bawa ke headquarter.

Guanlin selalu menyukai hal itu; ia selalu sigap menggaruk tengkuk kucing milik Daniel. Sekarang Seonho disini dengan segala sikap gemas menyegarkan dan Guanlin tertawa manis dengan jemari disela rambut pria yang dipuja dan mengusapnya tak tertahan, "Seon~"

Tidak tahu saja. Park Jihoon sebenarnya tidak peduli, tidak ingin memperhatikan malah. Tapi ini terlampau jelas dihadapannya, dua orang baru terpisah sekitaran tiga bulan ini sungguh seperti tahunan tidak bertemu. Sungguh informasi nyata kalau mereka adalah budak cinta.

Jihoon membuka mulut, mengeluarkan protesan kesal, mana ayam pedas kesukaannya sudah habis sedari tadi, "Kepalaku pusing mendengar mereka terus-terusan seperti itu." ia memberengut begitu melirik piring yang tersisa lukisan sambal merah, "Berhenti bersikap seperti adegan murahan kalian berdua. Aku bisa mati overdosis gula."

"Mau pindah meja, Jihoon hyeong?" Jinyoung menawarkan hal bagus, benar-benar ide sempurna jikalau tidak dengan wajah mencemoohnya itu, kecuali—

"Pindah kemana lagi. Ini sudah penuh semua."

—Jihoon berucap tidak suka, bibirnya membingkai tipis dengan kerutan dahi dalam kegelisahan. Kenyataan awal pria marga Park itu memiliki ketidaknyamanan melihat romantisme padahal pekerjaan mereka yang diajukan tahunan lalu tidak memiliki belas kasih, hanya sindiran nyelekit dan pembicaraan serius tensi tinggi sekaligus darah. Hanya darah. Darah dimana-mana.

"Kalau begitu tahan saja. Mau aku bersikap romantis juga? Bagaimana kalau kucium punggung tanganmu sekarang, hyeong?"

So damn smooth, Bae Jinyoung-ssi.

Park Jihoon tidak tahan untuk memberikan jitakan super sakit pada Jinyoung yang mengambil satu tarikan pada gelas cider menggunakan sedotan langsung mengaduh tidak tertolong. Ia mendelik tidak setuju dan berbicara nyaring, "Astaga, Jihoon hyeong! Itu sakit sekali!"

Jihoon menarik sudut bibirnya dengan jahat lalu berdiri dengan senyum menjengkelkan, "Ayamku habis, Jinyeong-ie. Lebih baik keluar daripada memakan keju rasa romantis. Aku lebih suka ngemil saus keju kemasan dengan keripik kentang." memilih untuk keluar rumah makan dan Jinyoung mengejarnya penuh dendam diikuti Guanlin bersama Seonho dibelakang. Berjalan santai mengikuti pola trotoar menuju rumah Minhyun.

Guanlin menoleh sebentar, ke jalan raya lalu kebelakang. Lampu-lampu jalan terang menyilaukan karena malam telah jatuh. Ada yang aneh, intuisi yang dianutnya selama beberapa tahun terakhir selalu pas, tidak mampu meleset jauh. Ia menatap kedepan, mendapati Jinyoung dan Jihoon dengan mata awas mereka semakin fokus tinggi.

Benar.

Ada yang salah dengan keadaan ini. Walaupun orang lalu-lalang sibuk dengan kegiatan masing-masing tak berhenti melewati bahu mereka. Hal menyimpang yang hanya mereka bertiga ketahui.

"Jihoon hyeong, bagaimana kalau kau dan Seonho mencari cemilan? Aku bersama Guanlin harus menemui seseorang."

"Kalian memang berguna disaat seperti ini." Jihoon tertawa kesenangan dan menarik lengan Seonho agar mengikutinya, mengerling mempesona pemikat hati kearah Jinyong, "Jangan sampai pulang dalam keadaan cacat, Sweetheart. Aku akan merayakan dipecatnya dirimu jika pulang dalam keadaan buruk."

Jinyoung tertawa tipis, "Siap laksanakan, Your Highness."

Jihoon dan Seonho sudah berjalan jauh di depan berkutnya, mungkin mengambil perjalan ke halte. Jinyoung menajamkan segalanya, matanya menajam sekaligus pendengarannya memilah keadaan sekitar dengan gumaman, "Dimana? Siapa?"

Guanlin tidak menyahut, mendongak keatas seolah tahu siapapun berada dibalik kaca gedung pertokoan diseberang jalan. Bayangan. Riffle. Laras panjang. Dibalik tirai lantai tiga café. Kepala Guanlin memiring angkuh, mata kosong menakutkan dan bibirnya bergerak, menyimpulkan suatu seringaian dan menyuarakan hal-hal yang tidak terdengar, "Turun. Turun sekarang dan temui aku."

Tirai itu bergerak sekilas, lalu bayangan cepat sekali berlalu.

Guanlin sigap memegang lengan Jinyoung kuat, menyeret dengan langkah tergesa saat lampu penyeberangan berubah hijau, "Hyeong, café seberang, lantai tiga. Aku lewat depan, hyeong kebelakang."

Mereka berpisah drastis tepat di depan café. Beberapa menit mengelilingi segala ujung ruangan, dari atas ke bawah Guanlin tidak mampu mengais orang yang dicarinya. Dagunya mengetat dengan gigi saling bergesekan kesal. Ada tatapan penasaran dari para pengunjung sepanjang dirinya kalang kabut.

Bangsat! Rasanya ingin membakar satu kompleks gedung disini!

Dering ponsel. Panggilan. Baejin Hyeong. Geser ikon warna hijau.

"Gedung yang tidak selesai, paling belakang dan kau membawa pistol, bukan? Peluruku habis." Jinyoung mendengus, "Cepat juga. Si brengsek ini hampir kehabisan darah."


"Kita harus pergi." Jihoon memberikan suatu ungkapan tandas ketika Jinyoung dan Guanlin datang; ada sedikit titik-titik kental yang menghitam tidak mampu hilang dibagian depan baju mereka. Seonho tidak memungkinkan untuk bertanya lagi, jelas, sangat jelas kalau itu darah. Kemungkinan utama dari muncratan orang yang mereka berdua hadapi —eksekusi mungkin.

"Sekarang atau kediaman Minhyun hyeong dijadikan sasaran. Aku tidak ingin membawa kekacauan ini bersama masyarakat juga polisi." nada-nada Jihoon terlalu menyantaikan keadaan, seolah ini adalah hal biasa yang terjadi, tidak ada kepanikan menyerang, "Semua peralatan sudah kuamankan di mobil. Kita langsung jalan."

"Seonho, kau di depan. Guanlin pegang setir." Jihoon memberi arahan agar mereka bergerak lebih cekatan, menatap Seonho yang tangannya tidak sanggup menggapai kenop pintu mobil, "Kau bisa mengucapkan salam perpisahan dengan Minhyun-ssi lewat pesan. Tidak ada panggilan. Aku sudah cukup baik membuat nomermu untuk tidak terlacak dan jangan menyusahkan."

Seonho kira perjalanan tidak menyenangkannya akan berkahir disini. Menikmati Busan dengan segala ikan segarnya, lucunya anak-anak dirumah sakit tempat Seonho mengabdi maupun menyukai makanan rumahan dengan segala jenis kebersihan dari Minhyun.

—berurusan dengan Lai Guanlin membuatnya jungkir-balik dalam kondisi maupun emosi.

Guanlin mengambil langkah cepat seketika menyetir lihai dan terus menaikkan laju mobil, jalanan awam memang sepi karena ini adalah pilihan alternatif terbagus. Menimalisir keadaan buruk apabila melewati jalan ramai sekaligus besar.

"Ada tiga mobil SUV dibelakang. Hitam. Mengejar dengan kecepatan stabil. Masing-masing empat orang per mobil." Jinyoung menoleh belasan detik sebelum mendikte analisis keakuratannya. Ia menyigar rambutnya dengan frustrasi menumpuk, "Dan sialnya, kaca mereka anti peluru. Sungguh menantang sekali."

Jihoon mendecih menarik safety lever pistol tangannya; tidak berguna menggunakan riffle manisnya jikalau perlu tumpuan maupun fokus tinggi untuk menaruh satu tembakan. Membuka kaca mobil sebelum mengeluarkan kepalanya, menyeringai jahat sebelum menembak repetitif.

Sialnya tembakan itu hanya berguna sedikit, membuat yang mengejar sedikit mengerem terkejut.

Sisanya masih sama.

Jinyoung bahkan hanya membantu seadanya yang mampu; tembakan jarak jauh kepunyaannya memang ada dalam nilai nol dan meleset dimana-mana. Benar-benar seperti idiot ceroboh dan tidak bisa diajak berkerja sama kalau masalah bidikan.

"Guanlin, belok kiri ditikungan selanjutnya." Jihoon menoleh kedepan sebentar untuk sekedar memberitahu arah, tangannya tak henti sibuk mengganti magazine yang tandas habis dengan yang baru agar dapat membubuhkan tembakan beruntunnya lagi.

Guanlin memperhatikan GPS mobil patuh sebelum protes kesal diajukan, "Tidak ada tikungan dijalan ini, hyeong!"

"Aku tahu semua hal disini, Lai. Aku punya beberapa puluh cara untuk menghindari keadaan seperti ini disetiap rute." matanya mempunyai fokus tajam menakjubkan, ia bahkan bisa melihat jelas tanpa hambatan walaupun sudah malam. Jihoon meringis begitu puluhan peluru datang dan berteriak, "Semuanya merunduk!"

Suara kaca pecah, logam karat saling menabrak, desing menyakiti telinga. Seonho kira ini persis seperti adegan film-film laga yang sering ditontonnya pada waktu luang. Kecuali dengan bahu Jinyoung yang terluka, Jihoon kewalahan mengimbangi dan Guanlin yang terus mengumpat.

(Ini lebih buruk dari take manapun)

Satu tembakan pasti dan ban mobil yang mengejar mereka pecah, membuatnya tidak terkendali tidak mampu mengimbangi, menghalangi mobil lain. Jihoon menoleh, menaikkan alisnya bertanya karena itu jelas bukan dari selongsongnya. Hanya mendapati Jinyoung tersenyum kekanakan, menaikkan sebelah tangannya yang memegang pistol, "Lucky."

"Tembakan payahmu benar-benar menyebalkan." Jihoon cemberut, karena, demi apa, menembak dalam keadaan bergerak itu cukup menyusahkan apalagi jika sampai mengenai ban. Jinyoung benar-benar mempunyai keberuntungan bagus.

Setelah Guanlin berbelok ditikungan super misterius yang hampir dilewatinya karena semak menjulang menghalangi, belasan simpangan dilalui atas suruhan Jihoon. Guanlin menekan gas semakin perlahan begitu sampai di depan rumah secerah warna torquise, entah ditempat mana, daerah atau distrik berapa.

"Punyamu hyeong?" tanya Guanlin.

Jihoon mengendik setuju, "Bagian dari kenangan lama, tidak ada yang tahu tentang ini."

Seonho membantu Jinyoung untuk masuk, mengarahkannya untuk duduk disofa. Panik begitu masih dapat menangkap merah yang terus menyebar memekati baju Jinyoung. Seonho menoleh, "Guanlin, bawakan ransel milikku." kemudian menatap Jihoon, "Hyeong bisa bawakan aku air minum."

"Apa yang kau lakukan, Seon?" Guanlin sedikit meringis begitu Seonho merobek kemeja Jinyoung begitu ringannya, itu keluaran River Island terbaru, seri musim gugur terbatas.

Seonho mengabaikannya, memberi Jinyoung tatapan menilai, "Jinyoung hyeong, aku akan mengambil benda dibahumu kemudian menjahit lukanya, oke?"

"Kau terdengar lebih tangguh daripada beberapa tahun lalu. Kemana Seonhoyang hobinya berimajinasi, selalu menagih hal-hal diluar nalar." Jinyoung memekik terkejut begitu Seonho menumpah alkohol murni tanpa basa-basi dilukanya, "Seonho, peringatan adalah cara bagus untuk menghindari jantungku berhenti tiba-tiba dan bisa beri aku sesuatu untuk menahannya?"

"Aku tidak punya apapun." Seonho berucap tanpa main-main, kemudian pisau bedahnya yang steril menghamburkan cahaya tersentuh lampu bergerak dengan lihai setiap putaran lengannya, pin untuk mengambil peluru dan menjahit cekatan luka terbuka tersebut rapi menambahkannya dengan balutan rapat perban.

Seonho melakukannya tanpa ragu-ragu, memukul telak dengan kepercayaan diri mengudara dengan kuat. Jinyoung merasa pusing mendadak, hanya mampu menyender menutup mata, giginya mengerat dengan dagu tegang mencoba menahan kebas-kebas dibahunya. Sialan Seonho dengan kebengisannya.

"Sweetheart, kau baik?" Guanlin mengusap kepala Seonho, pemuda yang sibuk membersihkan peralatannya mendongak, berucap cepat begitu kebingungan, "Minhyun hyeong marah setiap kali aku ceroboh, kelimpungan melihat diriku terluka. Aku sering menertawakan kepanikannya, tidak mendengarkan peringatannya, sering menggerutu saat Minhyun hyeong memaksaku untuk belajar menutupi luka. Menjelaskan secara hati-hati cara menjahit luka terbuka. Aku terdengar buruk sekali."

"Tapi aku melihat Jinyoung hyeong. Terluka. Berdarah. Aku sakit sekali melihatnya, Lin." Seonho meringis, matanya makin berkerlip dengan selapis bening yang mencoba jatuh. Guanlin duduk disampingnya, merangkul bahu Seonho seolah itu kebiasaannya sebelum mengambil kecupan ringan diujung pelipis Seonho, "Rasanya bahuku cedera padahal aku baik."

Bunyi lembut klik terdengar.

Bunyi yang menjadi pemisah antara dirinya dan Guanlin.

Nafas Seonho tidak stabil.

"Hyeong, turunkan pistolmu." Jinyoung mendesis, menyusahkan sekali melihat Jihoon menggenggam pistol disela jemarinya. Hanya untuk satu tujuan, Seonho.

Mereka baru saja kabur dengan baik dari kejaran penuh ketengangan Ketua sekarang Jihoon mulai berubah hati. Ini sudah menjadi ekspektasi tapi, tidak serendah itu untuk menodong seorang masyarakat tanpa senjata seperti Seonho.

"Hyeong, terlalu cepat untuk membahas ini. Turunkan spekulasi meracun dikepalamu. Seonho bukan dari bagian yang sama dengan kita." Guanlin bergerak cepat, membawa Seonho ke belakang punggungnya.

"Apa itu ayahmu, Seonho? Pamanmu? Apa yang kau rahasiakan? Apa yang kau ketahui? Apa yang kau pegang, Seonho! Katakan padaku!" Jihoon mempunyai pengendalian emosi lebih baik dari siapapun, selalu tenang tidak peduli tapi, Jinyoung terluka. Terlihat lemah dan butuh bantuan. Jihoon tidak suka melihatnya, "Seonho. Siapa kau?"

Jihoon mengulang, "Siapa dirimu?"

Hanya untuk Yoo Seonho, Jihoon harus ikut dalam beberapa pengalaman tidak menyenangkan. Seharusnya abaikan saja Bae Jinyoung, brengsek, Jinyoung benar-benar meraupnya dalam genggaman dan tidak ada yang bisa lepas.

"Namaku Yoo Seonho. Dua puluh dua tahun. Pekerjaanku hanya pegawai kantoran biasa."

Jihoon mendelik begitu mendengar jawaban tidak penting, dirinya sudah mengetahui tentang itu, memiringkan kepalanya santai, "Berbohonglah sesukamu. Nyawa Lai adalah bagian dari opsi disini."

Jinyoung terlihat lebih berkuasa dengan mata yang menantang, menatapnya rendah, "Jihoon hyeong, ini peringatan kedua. Turunkan pistolmu."

"Diam, Jinyoung!" Jihoon menyentak, tangannya tidak pernah menjatuhkan senjata, "Ini tidak adil! Kita kesini hanya untuk menemuinya, seseorang-yang-oh-sangat-inosen. Aku perlu informasi, sesuatu yang penting. Dawntide akan melakukan apapun untuk mendapatkannya dengan alasan tidak diketahui. Aku hanya perlu mengetahuinya agar aku tetap berada disampingnya atau tidak."

"Kalian bisa meninggalkanku." Seonho berucap, matanya kuat memandang tidak takut, "Ini keputusannya, aku akan tinggal dan kalian pergi. Ketua kalian menginginkanku, bukan? Keputusan yang terlihat sinting, terlalu mendramatisir tapi, aku akan tinggal jika kalian mau."

Keputusannya berada ditangannya.

Jihoon menurunkan pistolnya, terkekeh menemukan beberapa alasan yang diketahuinya kemudian tersenyum tipis, "Setidaknya berhentilah bergetar sebelum mengatakan itu, brat. Tanganmu transparan sekali." ia berbalik tidak peduli, "Aku mau tidur. Ada dua kamar tersisa dibagian lain."

"Seonho kau curang! Aku perlu beberapa bulan untuk membuatnya tersenyum seperti itu, hell, dia bahkan belum mengenalmu seminggu."

Keluhan Jinyoung, wajah bingung Guanlin, cengiran senang dari Seonho adalah hal yang Jihoon dapatkan sebelum menutup pintu.

Ini akan jadi perjalanan yang tidak terdefinisi.


"Kau mengenal Jinyoung hyeong." Guanlin terus mengetuk telunjuknya ke minuman kaleng berkarbonat yang sudah habis setengah dalam genggaman jemari rapatnya. Ia meneguknya sekali tandas dan melempar kaleng itu ketempat sampah.

"Aku memang mengenal Jinyoung hyeong." Seonho menjawab tanpa menoleh, dirinya sibuk membuka plastik tipis ketat yang membungkus daging kemudian merendam daging-daging tipis kemerahan itu kedalam air bersih.

Melakukan barbeque saat malam hari itu bukan hal lumrah bagi mereka, setidaknya harus ada acara tertentu atau peringatan tertentu. Mungkin akibat merayakan setengah bulan lebih mereka tak terdeteksi terdengar menyenangkan. Begitu tenang damai dirumah pelosok dengan rumput tinggi menyaingi pinggang dan pohon-pohon ramah hijau menjulang tanpa batas disekeliling.

"Kau terlampau dekat dengannya." Guanlin cemberut, "Kau harus tahu tentang masalah kompleksnya. Dia punya hubungan aneh dengan Jihoon hyeong. Gila saja. Mereka saling ingin membunuh tapi, kadang melakukan seks tanpa tahu tempat."

Guanlin bergidik dibuat-buat. Ia ingat beberapa hari menempat disini, mendengar keributan samar berupa geraman tertahan di bagian dapur. Guanlin menyesal berikutnya untuk menengok penasaran. Jelas sekali seorang Bae Jinyoung dan Park Jihoon melakukan seks dikonter dapur. Belum lagi hari berikutnya, berikutnya dan berikutnya.

Matanya yang sudah ternoda semakin kotor menjadi-jadi.

"Aku juga mendengarnya, Puddin." Seonho sengaja memperpanjang manja panggilannya terhadap Guanlin, "Mereka gila. Kita juga. Kau juga mengajakku melakukan seks setelah mendengar mereka, Lin."

Setidaknya di halaman belakang ini hanya ada mereka berdua, Guanlin maupun Seonho tidak akan protes. Mereka berdua yang termuda diantara berempat jadi, berujung dengan aman dan tentram tanpa debat ketika disuruh sibuk menyalakan bara api, memanggang maupun menata meja.

Guanlin senang juga bisa berduaan dengan Seonho; manja-manja manis begitu.

"Well, yeah, benar juga." Guanlin mengingat-ingat, dirinya memang tidak tahan dengan gairah membumbung apalagi melihat secara langsung adegan dewasa, "Tapi, setidaknya kita tidak melakukannya disemua tempat dan setiap waktu.

"Jangan dekat-dekat dengan Jinyoung hyeong lagi. Hyeong satu itu memang perayu menjengkelkan. Semua wanita di headquarters pada digodanya. Tidak tahu apa kalau sudah punya Jihoon hyeong." Guanlin meletakkan tangannya mengambang diatas alat panggangan, mengkur suhu panas disana dengan telapak tangannya. Ia berucap, "Kau jangan sampai termakan rayuan murahan miliknya, Sunshine."

"Jinyoung hyeong itu cinta pertamaku jika kau ingin tahu." tangan Seonho bergetar, matanya, bahkan tubuhnya mengikuti getaran itu, "Jinyoung hyeong tinggal bersama neneknya. Di kota sebesar Seoul, harus bekerja paruh waktu padahal sekolah sudah membuatmu jenuh. Kami bertemu ditempat les piano. Mentor disana sangat menyukai Jinyoung hyeong. Dia berbakat, sopan, perhatian dan benar. Mulutnya manis. Perlakuannya memanjakan diriku karena dia hidup sendiri tanpa kakak atau adik. Aku jatuh hati dalam kesempatan itu."

Helaan nafas gamang.

Seonho mengambil daging merah muda mentah dengan penjepit dan menaruhnya dengan kehati-hatian diatas panggangan. Bunyi desisan minyak dan air beradu dengan panas membara menimbulkan harum daging terbakar.

"Lalu, hilang. Jinyoung hyeong hilang saat kelulusannya. Tidak ada dimanapun. Aku marah, sangat marah. Dia datang begitu cepat dan pergi sama mudahnya. Aku menyesal tidak mengatakan apapun. Bertemu dengannya sekarang, setelah delapan tahun lamanya, seperti mimpi. Mimpi yang aku sendiri tidak yakin kebenarannya."

Kenapa dirinya terdengar jahat sekali? Menceritakan masa lalu cintanya terhadap masa depannya?

Guanlin diam; mendengarkan setiap bait kata begitu teliti.

Jihoon datang dari dalam rumah dengan makanan pelengkap tanpa banyak tingkah. Ia baru saja menyelesaikan tatanan daun selada, daun perilla, beberapa saus diatas piring dan setidaknya semangkuk besar kimchi yang berwarna jingga terang terlihat begitu menantang. Lagipula selain samgyeopsal, mereka juga membeli tiga kotak ayam goreng juga botol-botol besar soda.

—dan Jihoon berlalu mudah tanpa kecurigaan, kembali kedalam rumah dengan siulan tenang.

"Sekarang, aku bertemu denganmu." lanjut Seonho mengambil selembar daging yang masak sempurna dan memotongnya dengan gunting, "Lai Guanlin. Pria Taiwan yang memiliki memori fotografi. Yang menyelipkan kartu pengenalnya halus dibalik telingaku. Lai Guanlin, begitu kaku dan canggung."

"Seonho!" Guanlin menolehkan wajahnya, mata besarnya melotot tidak terima. Menatap dengan tajam, pupilnya terlihat gelap memantulkan wajah Seonho jelas.

Seonho menggeleng maklum diiringi senyum lebar memukau membuat gemas siapapun, "Tapi, Lai Guanlin adalah pria yang kucintai. Pria manja dengan senyum gusi lucu. Aku mencintainya. Benar-benar tidak tertolong."

Seonho sudah ditarik dalam pelukan hangat Guanlin juga dijatuhi kecupan singkat diujung hidungnya manis. Basah dan hangat. Terlihat begitu manis dengan senyum mengalihkan milik Guanlin dengan dahi saling bersentuhan. Penjepit aluminium ditangan Seonho terjatuh dramatis dan menimbulkan bunyi 'tang' keras.

Seonho menjilat bibirnya, membasahi kekeringan tidak nyaman disana ketika Guanlin terus menyoroti belahan lembut miliknya. Pria Yoo itu berucap pelan, "Guanlin."

"Jantungku benar-benar tidak tahan, Seonho. Berderak gila dan terus mengikat sampai rasanya mau meledak." Guanlin bergumam, hembusan nafasnya bahkan jatuh mengenai permukaan halus wajah Seonho. Guanlin terkekeh mendebarkan, "Aku sayang sekali padamu. Banyak. Banyak. Terlalu banyak."

Mereka berdua terdiam berikutnya. Seonho selalu terasa terlalu nyaman, terlalu familiar, seperti rumah bagi Guanlin. Sebaliknya juga begitu. Ketergantungan adalah hal biasa antara mereka

"Jangan sampai dagingku hangus." suara itu menghentikan tensi nyaman ini.

Guanlin sudah mencibir atas sindiran tidak berkualitas milik Jihoon itu. Demi apa, daging itu bahkan masih berdesis menggoda, masih memiliki warna pucat mentah dan belum memiliki harum enak!

"Jihoon hyeong, kau menyebalkan sekali. Aku bahkan tidak mengganggu kegiatan seks kalian yang liar itu. Dan sekarang hyeong menghentikan ciuman romantis kami!" Guanlin melepas pelukan tak pernah rela. Sedangkan Seonho hanya menyibukkan diri dengan panggangan daging menggugah. Ia hanya cengengesan manis menanggapi ucapan Jihoon hyeong.

"Aku kan hanya memberitahu." Jihoon mencibir dengan bibir mengerucut, "Beli daging itu jauh dan aku tidak ingin kehilangan satu lembar hanya demi kalian berciuman."

Guanlin mendesah gusar,"Kalau begitu hyeong pergi saja, hush, jangan menggangguku memasak."

"Woah, woah, ada apa dengan keributan ini?" Jinyoung datang dengan sudut bibir tertarik lebar dan bahu yang jatuh santai. Ia merangkul leher Jihoon, tidak mencekik namun cukup erat membuat Jihoon menyikut perut Jinyoung main-main. Bagaimana tangan mereka bergerak dengan leluasa layaknya sudah terbiasa akan hal seperti ini. Sungguh domestik.

Belum sempat ada yang menyahut, Jihoon menyerobot dengan telapak tangan mendorong kuat dahi Jinyoung membuat tangan dilehernya habis terlepas, "Jangan merangkul sesukamu, bajingan. Leherku tercekik."

"Kenapa kau selalu sejahat ini padaku, Ji. Aku tersakiti, ah, jantungku." tangan kiri Jinyoung memegang bagian dada kaosnya berlebihan, meremas seolah ada sakit nyata disana.

Jihoon berujar tidak peduli, "Anak drama." berjalan santai pergi membawa sepiring daging masak menggoda yang sudah menumpuk jadi; mungkin menaruhnya ke atas meja makan.

Jinyoung mendecak sebelum menekuk tulang-tulang jemari tangannya rileks hingga berbunyi kikuk, "Guanlin, bantu aku membawa kursi."

"Tapi, masih ada Jihoon hyeong! Lagipula kami belum selesai memanggang!" Guanlin masih suka bergelayut pada lengan Seonho penuh puja dengan kepalanya mendusel kekanakan di bahu Seonho layaknya kucing rumahan minta perhatian.

Jinyoung mendesis, "Jihoon hyeong dalam mode malas. Lihat dia bahkan mencuri sepotong ayam dan tidak peduli punya kursi atau tidak." jemarinya tergerak menunjuk Jihoon yang sigap berdiri disamping meja sembari memakan ayam dengan gigitan besar.

Ah~ si penggila ayam itu.

Seonho mengambil satu ciuman dipipi Guanlin kemudian melepas lengan yang melingkupinya, "Biar aku yang mengurus dagingnya, lagipula ini potongan terakhir."

Waktu Guanlin seolah berhenti sebentar, benar-benar bengong dan otak kapasitas tinggi miliknya itu mengelola lambat. Ia menggelengkan kepalanya cepat dan mengerjap sebelum lari mengikuti langkah Jinyoung kedalam rumah dengan linglung, "Oh. Oke"

Tangan Seonho masih serius dalam memanggang daging, membolak-baliknya hingga matang sempurna. Ia memotong daging-dagingnya sembari bernyanyi pelan, meletakkannya dalam priring plastik yang sudah dipenuhi daging masak lain. Seonho mematikan panggangan dan merapikan beberapa peralatan sebelum berjalan menuju meja makan.

"Jinyoung hyeong hentikan! Ya! Hentikan!"

"Bangsat. Layar ponselku retak. Kita sedang tidak dalam keadaan memungkinkan dan kau merusaknya! Bangsat!"

"Seonho! Tolong aku!"

Yang Seonho lihat ketika membawa satu piring daging memikat adalah Guanlin duduk disamping Jinyoung dengan tangan bebal mencekik leher Guanlin kuat dengan wajah kesal. Jihoon masih dengan ayam dijemarinya hingga bumbu merah menempel di kuku mengatakan dengan semangat 'bagus Jinyoung. Cekik sampai mati saja, Lai Guanlin!'

Semuanya terasa melambat, waktu terasa sedikit lebih lama, ketika mereka bertiga tertawa lepas hangat dengan cahaya rembulan merambat keseluruhannya juga guguran bunga ceri merah muda seperti sebuah foto tercantik yang pernah Seonho lihat. Ia ingin menjadi bagian dari mereka. Ikut tertawa manis.

Seonho menyadari sepenuhnya kalau dirinya juga senang, senang selimpahnya, bahagia seutuhnya karena mereka bertiga.

—karena Lai Guanlin, Bae Jinyoung dan Park Jihoon.


our memories are there

laughters, smiles, everything's still there


Guanlin terbangun dari tidurnya dengan mata setengah mengantuk sembari mengecek ponsel miliknya yang ditaruh serampangan disampingnya tertidur. Ada pesan dari Seonho tiga puluh menit lalu, menyatakan hati-hati kalau dirinya sedang jalan dengan Jinyoung hyeong dan tidak terjadi apapun; Seonho bahkan membubuhi pesan tambahan,

'Psst! Jangan cemburu, Lin. Aku hanya mencintaimu.'

Mana tega Guanlin menelpon kasar dan menyetaknya agar cepat pulang. Dirinya tidak cemburu— mana mungkin cemburu dengan pria tua berkepala kecil semacam Bae Jinyoung. Intinya dirinya hanyalah bagian dari masa lalu lama yang tak patut untuk diurusi lagi.

Guanlin tampan, eh, Jinyoung juga.

Keren.

Menawan.

Perayu meluluhkan.

Kemampuan hand-to-hand terbaik.

"Sial! Makin dipikirkan, Jinyoung hyeong terasa lebih baik dariku." ketus Guanlin putus asa sembari naik dari tempat tidur. Sedikit pusing dadakan terlalu lama bergelung bersama selimut lembut apalagi memeluk guling hidup macam Seonho. Seharian juga Guanlin lewati tanpa kewalahan.

Guanlin menyeret kaki-kakinya masih terkantuk-kantuk, mengambil sebotol air minum dingin segar dan menghabiskan setengah sebelum sadar total dan melangkah menuju ruang tengah, "Hyeong, bagaimana file milikku dan Seonho?"

Hanya Jihoon bermain gadget;laptop besar cekatan. Ia berkaca mata bulat menggemaskan sekaligus jepitan kuning sederhana penghalau poni tapi, duduk tidak manis-manisnya, celana sepak bola merah nyentik lambang klub sepakbola Manchester terkenal turun sangat banyak ketika sebelah kakinya menekuk lutut keatas dan yang lain selonjoran bertumpu diatas meja, "Ada banyak hal tentang kalian. Aku perlu banyak usaha untuk menghapusnya."

"Berapa lama?" Guanlin melongok hanya untuk mencari informasi berkepentingan dari laptop yang dipangku Jihoon; terlalu banyak angka, terlalu banyak bar, terlalu banyak tab yang Guanlin tak bisa ketahui maksudnya. Hanya dapat sejumput namanya atau Seonho kadang terlihat.

Dan luar biasa, ketikan Jihoon berada dalam taraf hebat seolah hafal dengan menutup mata letak satu persatu huruf keyboard. Kecepatan ketiknya bahkan tidak normal.

Guanlin meringis menyadari bahwa jemari itu jugalah pemilik tembakan jauh super akurat kebanggaan headquarters. Fokusnya jadi salah melihat kaos hitam longgar Jihoon sehingga selangka mencuat apalagi merah-merah hampir ungu; ada yang biru malah. Demi apa, kasar sekali Bae Jinyoung!

Oke, benar juga, Guanlin pernah kena tendangan bajanya. Biru kekuningan berkedut satu minggu penuh; sampai hilang memar masih berdenyut luar biasa.

"Tiga puluh menit untuk masuk server, beberapa jam membuat jaringan baru agar tidak terdeteksi, file kalian akan terhapus dalam satu jam." Jihoon mengambil santai keripik kentang dalam bungkusan besar plastik disampingnya dan menjepitnya dimulut sebelum kembali mengetik, seolah sedikit saja tertinggal buyar habis usahanya selama ini.

Semudah itu? Buat apa semua kegilaan ini jikalau menghapus file semudah itu?

Bulan-bulan ditemui tanpa perasaan tenang, hanyut dalam kekalutan mendalam hingga rasanya kematian hanyalah akhir dari segala kegagalan buta arah ini.

Guanlin merasa giginya bergesekan menahan amarah, "Buat apa? Semuanya sampai kesini buat? Kenapa tidak kemarin-kemarin, hyeong?! Kita tidak perlu kabur dari kegilaan menyedihkan ini! Dikejar dengan ketakutan!" alisnya menukik tajam dengan dahi mengkerut sakit, "Ini melelahkan, hyeong!"

Jihoon berhenti dalam ketikannya, mengunyah kampungan sisa keripik dimulutnya sebelum menoleh maksimal dan menggerutu, "Ah! Diam bangsat! Aku harus membuat jaringan terbaik! Aku harus membuat fake account yang sempurna! Tidak kena virus, tidak kena block, tidak ketahuan. Kau pikir pertahanan sebesar Dawntide seperti apa? Enam minggu ini kepalaku pusing hanya untuk ini, bangsat. Kau kira membuat fake account semudah membuat email?"

Oh.

Guanlin menyingkap poninya sebelum menggaruk bagian belakang kepalanya bersalah, "Astaga, seharusnya hyeong bilang daritadi."

"Kau menyalahkanku? Setelah kegiatanmu hanya mencari Seonho dengan barbar seperti beruang kehilangan santapannya." mata Jihoon menyorot bosan sebelum aura lega keluar dari perangainya, bahu sudah turun nyaman, "File kalian dalam masa penghapusan. Tidak sia-sia tiga jam penuh bekerja dan sekarang habis tandas."

"Oke." jawab Guanlin jelas ekspresi santai, "Hyeong juga menghapus file milik Jinyoung hyeong dan milik hyeong sendiri, bukan?"

"Tentu saja." sahut Jihoon tidak sabaran sebelum memberengut, "Kami sudah pergi sejauh ini membiarkan file masih tersimpan manis di database. Bisa-bisa diburu seolah mangsa menyenangkan. Tidak tenang akan menjadi nama tengah nantinya." Jihoon terkekeh terang, "Aku dan Jinyoung memang seperti ini tapi, kami sudah memiliki komitmen bersama."

Jihoon mengambil youghurt original kotak yang sudah ditandas setengah, menyedotnya renyah hingga asam datang memenuhi mulutnya sebelum terbatuk karena ingin bersuara namun masih tertahan dengan minuman yang proses terteguk. Intinya Jihoon tersedak.

Guanlin menepuk-nepuk punggung Jihoon hyeong dan sigap mengambil botol air putih dingin diatas meja, "Kenapa sih, hyeong? Sampai tersedak begitu."

Jihoon meneguk air putih cepat hingga tegukan rakusnya terdengar. Mengusap kacau dengan punggung tangannya tetesan air disekitaran mulutnya sebelum tersenyum kesetanan dan mata hidup seperti kilauan glitter, "Aku selalu mengawasi jalur komunikasi di headquarters. Setidaknya coba-coba untuk mencari tahu siapa Ketua dan sekarang berhasil! Sepertinya penghalang Ketua sempat melemah beberapa saat, aku berhasil meretas keberadaannya."

Kuku buku jari Guanlin kaku, mengepal hingga urat mencuat kuat dari ujung jari sampai lengannya, emosi terkumpul mudah menyelimuti ubun-ubun,"Jadi, dimana si-bajingan-itu? Dia telah membuat kita seperti ini, terus berlari dalam ketakutan."

"Tunggu sebentar." Jihoon menjilat bibirnya terasa kering, jemarinya melakukan tarian dalam keyboard, menekan tombol enter sangat mantap dan berucap dengan binaran mata, "Oke."

Hentakan mendasar.

Kejatuhan nyata.

Guanlin merasa dingin, kepalanya berputar lucu dan dirinya ingin tertawa karena bagaimanapun yang berada dilayar laptop bukanlah keinginannya. Guanlin tahu, Jihoon sedang berdebat, sedang menahan apapun yang ingin dikeluarkannya.

Mata Jihoon beku, kehilangan konstelasi terbaiknya sehingga mati redup meresahkan, "Guanlin, tunggu aku mengambil temanku dan kita akan kesana."

Guanlin mengangguk, tidak dapat mengulas beberapa kata, terasa seperti kerusakan menyesakkan setelahnya diam tentram menyedihkan begitu Jihoon pergi mengambil ranselnya diruangan lain dan kembali dengan tas terlampir dibahunya lunglai. Tidak semangat menjadi bagian hidupnya kali ini.

"Hyeong, ini benar?" Guanlin bertanya saat gemuruh tidak tenang dalam jiwa menyongsong keatas.

Titik berkedip, bersinar merah menyakitkan secara pasti disebuah alamat. Rumah yang dikenal mereka secara baik ketika liburan disekitar pantai. Lebih berasa kekeluargaan, bersama Woojin (Jihoon kadang ikut sebagai netralisir, apabila Jinyoung, Guanlin dan Woojin sudah bersatu, mereka gila).

Rumah Bae Jinyoung.


"We are what we pretend to be,

so we must be careful about what we pretend to be."


Rasanya diambang batas saat motif sudah terlihat. Meradang tidak bagus dan itu berlaku untuk Jihoon. Guanlin hampir terkantuk dasboard tidak etis (padahal seatbelt memeluknya pas) saat Jihoon menyetir mobil keluaran lama dari garasi dengan ugal-ugalan sembari dahi mengerut terus-terusan. Menekan rem hingga karatnya berdecit mencemari pendengaran.

Pantai itu masih biru. Harum angin laut masih familiar. Rumah itu masih memiliki cat putih kusam. Sukulen imut berjejer dengan ragam banyak diteras. Masih sama. Like old times.

Bunyi bedebam pintu mobil. Jihoon membuka bagasi dan mengambil senjata tangannya; menyelipkan lugas disaku belakang celana. Tidak perlu muluk untuk menghabisi satu orang brengsek bernama Bae Jinyoung —pria percaya diri mempunyai hand-to-hand terbagus perbandingan akurat sebelas per sepuluh. Cukup tembak dan mati.

Tapi, Lai Guanlin punya emosi kemurkaan tak tertahankan.

Menendang marah pintu rumah. Hanya mendapati kekehan Jinyoung dan cemberut Seonho yang duduk menghadap pintu. Pria Yoo itu mengerjap teratur beberapa kali saat berbagi pandangan bersama Guanlin dengan HK VP9 menggantung ditangan kirinya.

Urat leher Guanlin mencuat begitu berteriak, "Bae Jinyoung, itu kau, Keparat!"

Jinyoung berdiri, berbalik terlampau ringan dengan jemari menyugar rambut menawan yang lainnya tersimpan apik disaku celana, "Tidak ada cara yang lebih manis lagi untuk menyapa Ketua, Guanlin?"

Jihoon datang lebih dahulu. Tenang mampu menahan diri.

Derai menakjubkan tawa Jinyoung keluar, "Dan aku selalu terkesan dengan kemampuanmu, Jihoon. Kau bisa melacak lebih cepat dari perkiraanku."

"Itu selalu dirimu. Target sasaranku, rekayasa bunuh diriku, rencanamu, kau tahu dimana Seonho, mengulur waktu dan mendramatisir dengan terluka. Kau sengaja melakukannya. Itu semua adalah kau, Jinyoung hyessi?" Guanlin mencoba untuk tidak goyah, hampir memanggil Jinyoung dengan akrab lagi. Menyedihkan.

"Kenapa? Semua ini terdengar palsu. Kata cinta, rayuan bodoh, dan komitmen menjanjikan. Ini menjijikan sekali, Jinyoung." Jihoon rasanya ingin menaburkan kekehan ironi tapi, hanya ucapan rata kaku, "Atau mungkin Ketua Bae? Sekali lagi aku bertanya, kenapa Ketua?"

"Woah! Kau memanggilku 'Ketua' dengan manis, Jihoon." Jinyoung mengedipkan sebelah matanya main-main sebelum menambahkan begitu lempeng, "Sudah bosan. Permainan yang kubuat sudah mulai membosankan. Jadi, bagaimana kalau kalian kuberi kejutan kecil? Siapa itu Ketua? Pertanyaan paling mendasar yang ingin kalian ketahui jawabannya. Dan lihat! Keberhasilan yang luar biasa."

"Guanlin, aku yang membuat ini semua terjadi." Seonho memulai segalanya, "Jinyoung hyeong pergi tanpa menoleh kebelakang karena permintaanku. Uang bukanlah hal yang mudah didapat. Dia bahkan les piano dengan gratis karena kemampuannya luar biasa. Dua puluh tujuh Februari, delapan tahun lalu, Jinyoung hyeong tidak bisa memberiku apapun tapi ia akan mengabulkan permintaanku."

Jinyoung sedikit khawatir, keadaan ini masih mengguncang, "Seonho, berhentilah jika ingin. Kau tidak perlu berbicara jika itu memberatkanmu."

"Aku menyukai teaterikal, pertunjukan dengan diriku sebagai bintang utama dan Jinyoung hyeong sebagai antagonis jahat. Entah plot seperti apapun itu, aku hanya ingin bermain peran di dalamnya. Awal maret Jinyoung hyeong menghilang, tidak ada yang tahu, lenyap tidak ada apapun."

Sungguh luar biasa, Jinyoung hyeong menghilang setelah ulang tahunku. Pencapaian yang bagus.

Seonho mengusap lengannya sendiri, tanda pertahanan diri agar lebih tenang, "Aku tidak mengerti, tidak tahu yang terjadi jika Jinyoung hyeong tidak membawaku kesini, membagi apa yang dirasakannya delapan tahun terakhir. Tentang keinginanku yang dikabulkannya. Sudah kubilang seharusnya pertunjukan tidak berakhir seperti ini dan Jinyoung hyeong selalu melakukan sesuai kehendaknya. Dia mengubah keseluruhan akhir cerita."

Hening menyakitkan.

"Jadi, kau membangun semuanya, headquarters, untuk Seonho?" Jihoon tidak sampai hati jika seperti ini, "Naif sekali dirimu, Ketua Bae."

"Kupikir sebagian dari perkataanmu benar. Adakalanya aku menjadi pembunuh bayaran dan Seonho adalah target tunggalku. Oh! Itu belum cukup luas. Aku perlu peran besar begitu juga Seonho. Dan demi apa, menjadi orang penting sekaligus tahu segalanya terdengar membosankan. Kenapa tidak mengambil peran saja? Aku perlu rencana dan membutuhkan waktu banyak."

Kenapa Park Jihoon bisa jatuh ringsek mengemis penuh kecintaan terhadap pria mengagumkan sekaligus bangsat seperti Bae Jinyoung?

Jihoon rasa ada kesalahan dalam dirinya, lalai begitu menjaga takhta agung miliknya dan memberi mudah padahal memiliki kemampuan analisis keadaan apalagi kepribadian terbaik. Hanya saja, Jinyoung terlalu lihai dalam perannya. Terlalu larut namun, dapat kembali selekas mungkin.

Jihoon bertanya halus, "Selama delapan tahun?"

Jinyoung rasanya ingin sekali menepuk kepala Jihoon agar merasa tidak tersakiti. Tidak dilakukan. Ia hanya menetapkan diri, hidup dalam pijakan kuat dan berbicara, "Tahun-tahun pertama adalah waktu yang buruk. Disitulah aku mulai mencintai pekerjaanku, mencintai kesendirianku sekaligus kesepianku. Kau masuk Dawntide tiga tahun setelahnya, Guanlin ditahun berikutnya. Pemeran bagus sudah muncul! Teaterikal karyaku dimulai!"

Todongan tak dapat dihindari. Guanlin dibubuhi kebengisan mengarahkan tidak sabaran begitu tepat moncong pistol berpengalamannya kearah otak merah muda Jinyoung.

"Lai Guanlin!" Seonho menyentak gusar, dirinya memberikan badannya agar Jinyoung tidak berada dalam jangkauan sasaran tuju.

"Seonho datanglah padaku." Guanlin mencoba menggapai serpihan dirinya, ini sudah mulai tidak teratur. Ia berjalan mendekati Seonho yang malah mundur hingga kebelakang bahu Jinyoung. Memelas tidak setuju, "Seonho, kumohon."

Guanlin mendecih tidak senang, "Kau memilihnya? Kau memilih bajingan yang memburu seperti orang gila? Kemana akal sehatmu, Yoo Seonho?"

"Aku selalu memilihmu, Guanlin." Seonho mengucapkan dengan hembusan nafas runyam, begitu goyah, "Tapi, tolong. Aku tidak mau ada yang mati lagi. Egois memang. Mau seperti apa lagi? Jadi, sudah cukup sampai disini. Aku hanya ingin kedamaian akhir yang baik dan bahagia."

"Kau gila, Jinyoung hyeong." Guanlin memberikan tawa pedihnya, luruhan rinai jatuh tak mampu dikendalikan, "Benar-benar psiko gila."

Jinyoung mendecak setuju, "Guanlin, kau tidak tahu panggung sehebat apa yang kubuat? Kau juga salah satu peran arahanku, bagaimana bisa menarik pelatuk untuk orang yang kau kagumi? Kau pikir aku tidak melakukan apapun padamu? Pada Jihoon hyeong?"

Benar. Jinyoung sudah menaruh presensi dalam Guanlin dan Jihoon, membuat mereka percaya sepenuhnya, menganggap teman-saudara-keluarga-apalah-itu, bertekuk lutut pada pria bermarga Bae tersebut (mungkin akan berlaku sama pada teman yang lain).

Menyebalkan!

Menyebalkan!

Lai Guanlin bahkan tidak mampu hanya untuk mengambil satu tarikan pelatuk secara pasti. Tidak bisa. Bae Jinyoung yang dikenalnya sejak datang ke Dawntide, dia adalah mentor yang paling diseganinya selain Park Jihoon, dia adalah hyeong yang sering diejeknya bersama Woojin hyeong, dia adalah teman pertamanya di headquartes.

Ah~ menyedihkan sekali dirimu, Lai Guanlin.

Tapi, desing nyaring melebihi pemikiran Guanlin, menembus ribuan partikel udara yang menyebar disekeliling ruangan, asap padat mesiu tercium pekat tapi baunya sudah terbiasa.

Guanlin menoleh.

Seonho terkesiap tanpa suara.

Jinyoung jatuh dalam lututnya dengan tawa bahagia, menekan dadanya sendiri sebelum terbatuk memuntahkan pekat marun hingga meluruh mengakibatkan kotornya lantai. Wajahnya mendongak tersenyum manis tanpa beban berucap hampir tidak mampu, "Karena inilah— aku— aku menyukaimu — aku— mencintai kematian— darimu, Park Jihoon."

Itu. Park Jihoon dengan tangan gagah tanpa keraguan mengarahkan pistolnya, ujung matanya basah menahan segala emosi dengan kemerahan menyebar di tulang pipi atau bibir digigit untuk tidak mengeluarkan tangis getir.

Ya Tuhan, apa baru saja Park Jihoon menembak Bae Jinyoung?

Sirene menghamburkan keheningan ini. Polisi. Sial! Apa Bae Jinyoung menelpon polisi? Pemikiran bodoh yang mengerikan, maksudnya menjebloskan mereka bertiga dalam penjara? Berbaur adalah hal bahagia menjemukan. Namun, mendekam mati sengsara dalam lantai dingin seumur hidup? Pikiran konyol penuh kenaifan.

"Pergi." suara Jihoon terdengar parau, tidak mempunyai kejelasan, senjata berapi diantara jemari gemetarnya menghantam lantai terdengar berat, menutup sebelah matanya dengan telapak tangan lemah. Jihoon berteriak kali ini hampir terisak dengan luruhan air mata dipipinya, "Pergi! Lai Guanlin! Yoo Seonho!"

Guanlin sigap, sangat cekatan menarik lengan Seonho yang terlihat pucat, melakukan pelarian melalui pintu belakang sebelum menoleh sekali lagi; untuk melihat presensi seorang Jihoon yang jatuh dalam lututnya, menaruh Jinyoung dalam dekapannya erat dan penuh kehati-hatian. Menangis sembari meletakkan kecupan tipis dikepala pria dipelukannya juga lirihan maaf tak berakhir.

Guanlin pikir,

Jatuh cinta bisa sesakit itu, sebodoh itu, seterikat itu…

tapi tidak ada salahnya, bukan?

untuk jatuh cinta, walaupun dengan kesalahan terbesarmu.


The dust that circles the earth, it flies through the air.


Guanlin meraup nafas untuk memenuhi kebutuhan paru-parunya, setelah lari beberapa blok dengan tangan saling berkaitan bersama Seonho tak pernah lepas. Guanlin menoleh, khawatir tidak mendapati Seonho yang nyerocos tanpa batas hanya berdiam diri tanpa menarik satu bait kata.

"Seonho, kita harus pergi. Beberapa jam dari sekarang a—"

"Lin, kita hentikan saja." mata Seonho nampak linglung, ada kabut kekalutan dalam bulir matanya yang bergerak tidak menentu, seluruh tubuhnya pucat tak sekira dan ia mencoba menarik diri dari Guanlin; tidak bisa. Pria Taiwan itu bahkan saling menautkan telapak tangan Seonho yang nampak kecil dalam genggaman Guanlin begitu lembut, tapi kenapa Seonho tidak bisa melepasnya?

"—ho?" Guanlin mengatur nafasnya, mencoba untuk tidak bergetar, tetap saja, "Seonho? Apa yang kau bicarakan?"

Ini yang paling ditakutkan Guanlin. Yoo Seonho menyerah. Lelah mengambil langkah bersama dirinya.

"Aku mengatakannya dengan jelas, Guanlin. Kita berhenti. Disini, ya?" Seonho mendekap lengannya sendiri, "Aku lelah berlari. Semuanya terasa menyakitkan. Aku hanya perlu ketenangan. Kepalaku pusing tidak menentu dan keadaan disini kacau. Dawntide— polisi— kematian— lari dan menghindar." Seonho meracau setengah gila, kepalanya pening memikirkan beberapa kemungkinan yang terjadi.

Dawntide entah masih memburunya atau tidak dan penegak keadilan macam polisi ikut campur. Ending yang tidak diharapkan oleh seluruh pemilik jiwa di dunia ini.

Wajar. Guanlin bisa mengatakan itu wajar. Yoo Seonho yang dua puluh dua tahun hidupnya terlampau bisa, tidak pernah tergoncang suatu kriminalitas harus memiliki pacar eksekutor yang menodongnya pistol agar kabur menjauh dan sekarang bertemu dengan cinta pertamanya yang ingin membunuhnya demi teaterikal besar.

Guanlin terlalu memahami Seonho.

Tapi, seburuk apapun keadaan sekarang, Lai Guanlin harus egois dan menarik Seonho dalam genggamannya, tidak dapat dikompromi, walaupun pria lucu itu menolaknya, "Seonho! Jangan katakan lagi!"

"Aku lelah, Guanlin."

"Jangan itu, jangan seperti ini, Seonho."

"Aku lelah dan ingin semua ini berakhir, Guanlin." Seonho meringis begitu denyutan kepalanya menjadi-jadi, sedikit tergugu tidak fokus, "Sudah cukup berlarinya. Selesai sampai disini."

"Seonho. Dengarkan aku. Bae Jinyoung keparat itu sudah tidak akan memainkan peran lagi. Dia akan diurus Jihoon hyeong dan yang lain." Guanlin melemah dan jemari besarnya yang bebas mengusap halus ujung tulang pipi Seonho memuja, "Kita akan pergi sekarang. Keluar dari semua kegilaan ini. Jihoon sudah menghapus file milikku dan juga punyamu. Kita bebas. Aman. Jadi, kau mau kemana? Switzerland? Finlandia? Jerman? Atau mungkin Argentina?"

"Kau yakin?" Seonho sudah menangis, terisak-isak hingga hidungnya memerah layaknya tomat masak menyegarkan begitu Guanlin mengangguk sangat percaya diri hingga tangannya turun dari pipi untuk menarik punggung Seonho agar bergantung padanya, memeluknya tak ingin menjauh apalagi terlepas entah untuk hal lain, "Aku yakin seribu persen. Jihoon hyeong adalah pemegang teguh omongannya dan tolong sekali, jangan jauh lagi, jangan menyerah lagi, jangan mengelak lagi dariku."

Seonho mengusap wajahnya penuh air mata dibahu Guanlin, berkata dengan sesegukan lucu menggemaskan, "Kemanapun kita pergi, aku percaya padamu, Guanlin. Aku akan selalu percaya padamu."

Karena, pertemuan mereka adalah awal, perpisahan mereka adalah awal.

Awal mulanya mereka akan berjalan dari sini.


even if this path is far and dangerous,

will you walk with me, seonho?

even if we fall and get hurt at times,

will you walk with me, seonho?

.

.

.

.

.

always,

guanlin,

always be with you.

.

.

.

.

.

Even if we're covered in scars.

We can smile if we're together.

.

.

.

.

.


Awal mulanya terlalu biasa, klise dan selalu menyebalkan. Pertengahan adalah menyenangkan, penggugah, putar-balik, pemeras emosi. Akhir akan menjadi penutup ataupun awal mula kembali, rentan, mudah diprediksi juga tidak.

Karena Guanlin dan Seonho tidak pernah ingin membenarkan atas 'jika ada pertemuan maka ada perpisahan'.

Karena Guanlin dan Seonho selalu menganggap semuanya adalah tanaman tanpa nama, tumbuh liar juga sendirian.

Awal mula akan tetap menjadi awal mula.


[ .end. ]


sowry for late update fellas~

muehehehe part dua ternyata datang lebih panjang, im not expected this part will be 12k+ lebih lmao, dan keknya ini alurnya kecepetan ya :') intinya plot ini udah rampung sejak lama, baru berhasil realisasi sekarang (MAAP KALO WINKDEEPNYA BANYAK MUNCUL) dan ENDINGNYA GA BAGUS IH :(

adakah yang minta epilog —abt how winkdeep's going after all the mess dan pelarian guanho?

Some readers nagih di wp and maybe— just maybe— perlukah aku juga publish ini di wp? tolong jatuhkan di kolom review atas pendapatnya~ :3

kurang ngerti? kuy drop at my inbox or yell at me delighthyuns at twttr (im srsly ga gigit :3)

thanks sangat banyak buat chuu97, Guest, KimAnita, hyaaat, flareeon dan Zahra0206, huhu, i luv y'all :*

See ya in my other adventures!


[ banjarbaru, sepuluh oktober ]