Jemari panjang itu menyisir anak rambutnya ke belakang. Matanya menatap sekeliling. Sementara irisnya dengan awas memperhatikan sekitar. Matanya yang tajam namun memikat membuatnya terlihat seperti seorang Singa yang sedang mencari mangsa. Tidak dapat diragukan jika wajahnya yang luar biasa tampan itu mempesona. Senyumnya yang memikat serta sikap tubuh dingin nya yang selalu terpancar. Membuatnya terkenal dikalangan remaja. Tidak dapat dihindarkan lagi bahwa kabar yang selalu berhembus setiap minggu adalah Uchiha Sasuke si pria tampan yang selalu mengencani wanita berbeda setiap minggunya. Wanita yang hanya dikencaninya ketika berada di atas ranjang.
Ada seringai tipis yang berkembang pada ujung bibirnya. Kenyataan bahwa ia yang mengencani wanita yang berbeda hanya untuk membuat Yamanaka itu menoleh padanya ternyata sia-sia. Sebegitu bodohnya ia karena meyakini di dalam hati kalau Ino akan cemburu. Nyatanya? Tidak. Gadis Yamanaka itu akan datang padanya seraya mengatakan aku mencintaimu ternyata salah besar. Karena setelah itu Sabaku no Gaara resmi berpacaran dengan Yamanaka Ino.
Meski ia sering berganti-ganti wanita, namun tetap saja—Yamanaka Ino tetap bergandengan tangan dengan Sabaku no Gaara tanpa pernah melirik kearahnya. Meski hati sering kali dongkol dan menggeram marah, namun—apa yang bisa dilakukan, jika pada akhirnya Ino akan tetap bersama dengan Gaara?
Perasaan tidak nyaman menjalar di hatinya. Getaran hati yang menandakan bahwa ia tidak menyukainya. Ino memang jatuh ke tangan nya saat ini, namun—benarkah dalam hatinya dia melupakan Gaara yang notabene kekasihnya sekarang?
Bola mata Onyx itu menatap kearah jam tangan berwarna hitam yang terpasang di pergelangan tangan nya. Decakan sesekali meluncur dari bibirnya yang tipis. Wajahnya tetap datar. Namun hatinya mungkin dongkol luar biasa. Tidak dapat dibilang bahwa moodnya sedang baik kali ini—nyatanya dirinya sedang kesal. Entah berapa lama dirinya menunggu wanita itu diruangan ini. Menunggu adalah hal yang paling ia benci—tidak kecuali untuk menunggu wanita itu kemari.
Cklek
Suara pintu yang terbuka membuat kepalanya spontan menoleh. Menemukan seorang wanita lengkap dengan Blazer dan Rok rampel yang lebih tinggi dari lutut itu. Senyum Inosen di wajahnya yang manis seolah menutupi semua kebusukan yang dia lakukan di belakang dunia. Mata kelabunya yang indah dan menawan membuat parasnya benar-benar terlihat bercahaya. Seperti gadis remaja pada umumnya, padahal dia sudah melewati kepala dua.
Kaki wanita itu yang terbalut Heels hitam melangkah dengan langkah anggun kearah pria Uchiha itu yang duduk dengan raut dingin nya. Parasnya yang tampan terlihat tertekuk. Seolah tidak menyukai wanita yang kini duduk di depan nya dengan menyilangkan kakinya itu. Bukan tanpa alasan dia tidak menyukainya. Waktu adalah segalanya—namun dengan entengnya wanita itu malah duduk di depan nya tanpa rasa bersalah sekalipun.
Mata kelabunya tetap memandang lelaki Uchiha itu dengan tatapan seperti biasanya. Inosen—seolah benar-benar tidak tau apa yang dia lakukan hingga merubah mood Uchiha bungsu itu hingga level terendah.
"Jadi—apa yang kau inginkan dariku Otouto-chan?"
Mata kelabu itu tetap memandang kearah mata Onyx di depan nya dengan pandangan menggoda—sementara bibirnya menyunggingkan senyum manis dan menawan andalan nya yang biasanya mampu membius kaum lelaki. Tangan gadis itu berpangku di atas paha. Tidak menunjukkan adanya gerak lain selain hal itu.
Tidak sebagai menggoda adiknya, hanya saja mempermainkan adik yang selama ini jauh darinya dan memiliki tingkat ego dan keangkuhan yang tinggi membuat dirinya susah di dekati. Wajahnya yang tampan adalah modal utama para wanita meraih lelaki itu—dan yang kedua adalah dompetnya yang selalu tebal.
Seringai Sasuke berkembang. Raut puas pria itu terlihat benar-benar seperti kemenangan yang alami. Tanpa memandang kelicikkan yang dipertaruhkan nya. Dia melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Semua yang benar-benar harus terkabulkan.
"Aku ingin kau membantuku untuk benar-benar menjadikan dia sebagai milikku."
.
.
.
"Sabaku-san."
"Ne?"
"Anou—ada pesta di perusahaan Aburame nanti. Mau datang bersamaku sebagai partner?"
"Bisakah saya menolak?"
"Tidak. Itu adalah jawaban nya."
.
.
.
Senyum seringai wanita berambut gelap itu diam-diam berkembang. Tangan nya mengapit tangan lelaki yang berada di sampingnya. Seringainya terganti dengan senyuman begitu seorang wanita berambut merah muda tiba-tiba berdiri di depan mereka dengan mata membentuk love.
Ada getaran aneh ketika Hinata melihatnya. Gadis yang berasal dari keturunan Haruno itu bisa disebut sebagai mulut dari biang masalah yang terbiasa terjadi. Teman masa sekolahnya dulu—salah satu gadis populer karena kecantikan nya. Matanya yang berwarna zamrud memandang kearah Sabaku bungsu itu dengan pandangan wow sebelum akhirnya mengalihkan pandangan nya kearah Uchiha tengah yang berdiri dengan raut tidak sukanya.
"Aish—dari dulu kau memang selalu menggandeng pria dengan mudah, Hinata-chan."
Dia tertawa. Tawa halus yang membuai di telinga siapapun yang mendengarnya. Hati gadis Uchiha itu merasa mengganjal. Apalagi ketika tatapan kedip yang diarahkan oleh gadis keturunan Haruno itu kepada lelaki yang berada disampingnya.
"Maaf sebelumnya, Sakura-san. Tapi kami akan pergi. Jaa—"
Kakinya kemudian melangkah. Berbalik dengan paksa kearah lain yang menampilkan ruangan yang agak lebih sepi dibandingkan dengan ruangan utama yang hanya diisi oleh segelintir orang berdasi dan berkantong tebal yang hanya bisa membanggakan kekayaan mereka tanpa memandang yang lebih miskin dari diri mereka. Tidak ada yang dapat membicarakan sosok mereka yang sok kaya padahal terkait hutang dimana-mana.
Uchiha itu mendengus. Membuat perhatian dari sang Sabaku bungsu teralihkan. Menatapnya dengan pandangan datar yang dilapisi dengan keheranan di dalam hatinya. Mata berwarna kelabu itu memutar. Memperlihatkan kebosanan nya yang tengah dialaminya sekarang ini. Bergandengan tangan dengan lelaki berwajah tampan dan dikelilingi dengan rubah betina yang siap menerkam pasangan yang sedang digandengan nya kini. Itu menyebalkan.
Senyum seringainya berkembang. Ia tau apa yang harus ia lakukan ketika matanya menatap counter kecil di sudut ruangan yang tengah ramai diduduki oleh kau pemuda dan pemudi. Ada perasaan puas yang menjalar ketika ia merasa ia harus melakukan nya. Satu sisi ia meyakininya bahwa inilah yang terbaik, dan sisi lain meyakinkan nya bahwa ia harus mundur dan berkata kepada adiknya bahwa ia bukanlah wanita yang menjadi robot semata-mata untuk kebahagiaan lelaki itu.
Kepalanya menggeleng. Seberapapun hatinya berkata bahwa ini adalah jalan yang salah, ia akan tetap melakukan nya. Toh, Ibunya sudah mempercayakan padanya untuk membahagiakan pemuda itu apapun yang terjadi, bukan?
.
.
.
"Okaa-sama..."
"Kenapa kau berada disini, Hinata-chan?"
"Kenapa kau tidak pernah bilang padaku bahwa kau mengidap penyakit itu? Kronis—Tsk—kau menyembunyikan fakta bahwa sebentar lagi kau akan mati?"
.
.
.
Kepalanya terangkat. Menunjukkan status tingginya seorang Uchiha di mata siapapun. Tidak terkecuali di depan gadis berambut pirang yang kini sedang melayani beberapa pelanggan wanita yang memilih bunganya. Senyumnya yang memikat serta pandangan matanya yang hangat membuatnya kembali jatuh cinta dalam satu biusan kuat. Uchiha itu merasa kalah. Kalah dengan perasaan nya sendiri yang tidak dapat ia cegah.
Tangan itu kemudian terkepal.
Membayangkan begitu gadis itu kembali lagi pada kekasihnya dengan pelukan hangat dan senyuman menawan—membayangkan kembali bagaimana mereka menikah dan akhirnya memiliki keluarga yang bahagia. Dengan satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Mereka hidup bahagia dan sempurna. Sedangkan dirinya? Hidup sendiri dengan hati dendam dan iri melihat dua orang sejoli itu bermesraan.
Itu tidak akan terjadi.
Tentu saja.
Dengan kakak perempuan yang melakukan apa saja untukmu dan dengan uang yang selalu membuatmu beruntung, kau dapat melakukan apapun—tidak terkecuali dengan bungsu Uchiha yang sekarang tengah menyeringai senang itu. Jika memang sekarang wanita itu sudah memikirkan caranya, dia pasti akan segera melakukan nya.
Karena para Uchiha tidak suka menunggu waktu yang lama untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan nya. Meski ia akan mengorbankan kakaknya untuk mendapatkan gadis itu—ia tidak akan pernah perduli. Apapun akan ia lakukan untuk mendapatkan gadis bermata Aqua cantik itu.
"Uchiha-san—kau melamun. Kopimu sudah mendingin, mau aku hangatkan kembali?"
Gadis itu berdiri. Dengan apron yang menggantung di pundaknya, dan raut lelah yang dihiasi dengan titik bahagia—gadis itu tetap terlihat cantik dengan sendirinya. Tidak perlu make-up tebal, pakaian mahal ataupun lekuk tubuh yang dipertontonkan—gadis itu telah sukses menjadi primadona dan malaikat tersendiri di hatinya. Tanpa ada hal lain yang membuat dirinya jatuh cinta pada gadis bermarga Yamanaka itu—cinta yang sederhana. Tanpa alasan ataupun ucapan.
Cintanya terlalu sederhana. Terkadang ia sering membandingkan—perasaan yang dirasakan nya ini adalah sebuah cinta atau obsesi. Obsesi? Ya. Untuk mendapatkan gadis itu hingga melibatkan campur tangan kakak perempuan nya sendiri. Wanita cantik, pintar akting , namun memikat.
Uchiha Hinata.
Kepala Uchiha bungsu itu memutar. Menyadari keganjilan yang ternyata adalah toko yang sudah tutup. Tidak tersadari olehnya karena ia berdiam diri dengan pikiran nya sendiri tentang gadis itu. Mendapatkan cara untuk gadis itu datang sendiri ke pelukan nya tanpa harus ada hal lain.
Senyum seringai Uchiha itu berkembang. Memandang wanita yang berdiam diri di depan nya dengan pandangan nakal.
"Bagaimana jika tubuhku yang kau hangatkan?"
.
.
.
"Aku tidak perlu hal lain, Hinata. Bahagiakan Sasuke—hanya itu."
"Tsk—bahkan ketika kau sekarat saja permintaanmu masih menyusahkan, eh."
"Jangan terlalu dingin, nanti semua laki-laki kabur."
"Kalau begitu aku tidak akan menikah—jika pada akhirnya hubunganku dengan dia akan seperti hubunganmu dengan Otou-san."
.
.
.
Deru nafas itu terdengar mendengung. Jeritan-jeritan kenikmatan surgawi yang terasa. Begitu nikmat dengan syahdu ketika remasan demi remasan di seprai mewakili semuanya. Menjadi saksi bisu tentang apa yang dilakukan oleh dua orang pemuda dan pemudi itu di atasnya. Tanpa bisa berbicara ataupun sekedar melakukan hal yang mengingatkan mereka bahwa ada saksi di ruangan yang temaram itu.
Tubuh polos—tanpa sehelai benangpun melingkari mereka—beradu di atas ranjang tanpa pengamanan yang membuat mereka mengingat bahwa sesuatu yang mereka lakukan adalah salah. Surai panjang berwarna gelap itu menempel ketika keringat membasahi sekujur tubuhnya. Deru nafasnya kembali tidak beraturan. Merasakan bagaimana surgawi dunia melandanya.
desahan-desahan kecil yang lolos dari bibirnya membuatnya menggigit bibir. Nyeri pada dadanya membuatnya mengakui secara tidak sadar bahwa ini adalah hal yang salah. Namun logikanya kembali merasuk—mengatakan secara lantang, bahwa ia tidak seharusnya menyesal ketika melakukan nya. Berkorban dengan seseorang yang telah dijaganya dengan sepenuh hati.
Gerakan itu kembali beradu. Ranjang yang berdecit dan nafas yang tidak seirama. Keringat yang saling menyatu membuat basah sekujur tubuh. Desahan dan erangan kembali menuai di udara. Membuat suara gaduh tertahan yang lolos dari bibir. Berirama memikat bagi yang mendengar.
Hati kembali menjerit pilu saat matanya yang berwarna kelabu melihat wajah pemuda itu. Warna merah yang menjadi surainya dan mata jade yang bahkan tertutup untuk sekedar melihat siapa orang yang berada di bawahnya. Tanpa perasaan seolah boneka manekin yang sengaja dipahat dengan sempurna oleh sang pencipta. Hanya dua orang seperti robot yang melakukan sesuatu itu dengan tubuh mereka—tanpa hati yang melibatkan semuanya.
Jeritan itu teredam. Cairan hangat membasahi dirinya. Terkulai ambruk dengan perasaan kecewa yang menyelimuti. Nyeri kembali menusuk relung hatinya. Tidak dapat disangkal bahwa hal ini benar-benar membuatnya sakit. Penyesalan dan rasa takut menyelimutinya untuk pertama kali.
Tubuhnya bangun. Mengambil tasnya yang berada disamping nakas, kemudian mengeluarkan suntikan kecil yang sudah ia siapkan. Bibirnya bergetar—tidak siap dengan apa yang ia jalani kini. Terikat janji dengan wanita yang sangat ia sayangi sekaligus wanita yang sangat ia benci.
Menguatkan hati. Lagi-lagi ia akan mengorbankan dirinya sendiri untuk lelaki itu.
.
.
.
"Aku cinta dia."
"Lalu? apakah aku perduli?"
"Dapatkan lelaki Sabaku itu untukmu dan aku akan mendapatkan Yamanaka itu untukku."
"Tsk. Bukan urusanku."
"Menjadi urusanmu. Kau masih terikat janji dengan Okaa-sama."
.
.
.
Surai panjangnya yang berwarna pirang tergerai dengan indah. Tubuhnya polos. Berada di depan cermin besar tanpa ada rasa malu. Meski harus terlihat oleh lelaki bersurai gelap di belakangnya. Ia tidak perduli. Sudah menjadi kesepakatan nya sejak awal. Melunasi hutangnya dengan menjadi pelacur bagi pria itu sampai hutangnya tuntas.
Tanpa ada rasa malu yang menyelimuti dia berbalik. Melangkah dengan rasa percaya diri yang tinggi. Dagu terankat dan sikap angkuh yang muncul meski hati tersenyum pahit. Wanita jalang yang bersedia untuk melakukan apapan demi uang—mencoba melupakan bayangan bahwa hal yang dia lakukan ini adalah salah.
Hatinya kembali menjerit pilu. Ketika ingatan nya merasuk dengan bayangan seorang pria berambut merah yang berstatus sebagai kekasihnya membuatnya lagi-lagi menelan pil pahit. Pengkhianatan yang dilakukan olehnya takkan pernah termaafkan. Kotoran yang menempel di tubuhnya takkan pernah kembali suci.
Desahan-desahan itu teredam. Tangan kokoh dan kasar yang menggerayangi tubuhnya membuatnya menggerang nikmat, sekaligus sakit. Sakit karena penyesalan selalu menggerayanginya ketika ia melakukan ini. Hal yang tidak seharusnya ia lakukan. Meski ini adalah sebagai bayaran, namun tentu saja hal ini salah. Sangat salah.
Walaupun hatinya tau jika ini salah, kenapa tubuhnya tetap tidak sejalan? Kenapa tubuh dan logikanya tetap menuruti Uchiha itu? Kenapa ia tidak memberontak saat pria Uchiha itu mulai memasukinya? Memperdalam dirinya? kembali memasukkan dirinya dalam tubuhnya? Kenapa ia hanya diam?
Menikmati hal yang tidak seharusnya ia lakukan. Hal yang seharusnya membuatnya menangis? Lalu kenapa bibir ini selalu mengerang? Membuatnya lagi dan lagi? Kenapa?
Jeritan seirama ketika cairan itu keluar membuat hatinya lega. Penyesalan tetap merambat di hatinya. Membuatnya serasa ingin menangis. Walaupun cairan asin itu sudah menggembang di matanya. Kenapa tidak menetes? Hal yang paling ia sesali ketika hal ini terjadi.
Pil pahit yang kembali tertelan di tenggorokan nya. Tentang dunia yang begitu kejam dan tidak adil. Membuatnya merasa bahwa dia adalah gadis terbodoh yang paling menyedihkan. Meski begitu—bolehkah ia berharap bahwa ia masih beruntung karena satu-satunya keluarga miliknya telah selamat?
.
.
.
"Ada apa kemari, Hinata-san? Tumben sekali."
"Aku ingin bayi tabung."
"Apa? Kau gila."
"Ini spermanya. Sudah aku tandai yang mana yang perempuan dan yang mana yang laki-laki. Tiga bulan lagi sperma itu harus membentuk telur."
.
.
.
~Masashi Kishimoto~
