Summary: Alasan Sakura mendekati Sasuke—seorang siswa tertampan di sekolahnya, namun terkenal dengan sifat cueknya—karena membantu Ino untuk mendapatkan hati pemuda itu. Namun, kesalahan Sakura adalah dia bahkan tidak pernah bertanya siapa orang yang selama ini berada di hati pemuda itu/ "Sakura, pilih Sasuke atau sahabatmu Ino?"/AU. RnR?
TING TONG..
Bel kediaman keluarga Uchiha itu sudah berbunyi berulang kali, namun pemilik rumah sama sekali belum menampilkan batang hidungnya. Sakura berpikir mungkin mereka sekeluarga sedang tidak berada di rumah, namun Sasuke menyuruhnya datang ke rumahnya hari ini dan di jam segini. Apa Sasuke-kun lupa ya kalau punya jadwal bersamaku?, pikir Sakura. Karena sudah terlalu lama menunggu, akhirnya Sakura memutuskan untuk pulang.
Tetapi, langkahnya terhentikan saat seseorang membukakan pintu rumahnya—ternyata wanita. "Dengan siapa? Mau mencari siapa?" tanya wanita tersebut, sambil tersenyum manis.
Sakura segera membungkukan badannya, "Sumimasen. Watashi wa Haruno Sakura desu. Saya temannya Sasuke, apa dia ada di sini?"
"Pacarnya Sasu-kun? Kamu cantik sekali, Sakura-chan! Sasuke tidak salah pilih." tanya wanita itu sambil mengembangkan senyumnya.
"Ti-tidak, kok. Kami cuma berteman, kebetulan saya ingin belajar bersama dengan Sasuke." Jawab Sakura, "Maaf, anda siapa ya?"
"Ah, ya, kenalkan aku Uchiha Mikoto, ibu dari Sasuke." Jawab Mikoto sambil tersenyum ramah, Sakura membalas senyuman nan ramah itu karena kemiripan Sasuke dengan ibunya cukup signifikan, seharusnya dia tadi tidak perlu menanyakan siapa wanita ini karena ia sudah tahu jawabannya, "Ehm, Sakura-chan silahkan masuk dulu! Maaf ya tadi kami membuka pintunya cukup lama, karena aku harus mengurus cucuku dulu."
Sakura terkejut. Pertama, Ibu Sasuke yang masih terlihat cukup muda sudah memiliki cucu; kedua, kemungkinan Sasuke sudah memiliki anak. Tapi, Sakura cukup tidak yakin dengan pernyataan kedua. Sasuke masih SMA, tidak mungkin kan dia sudah punya anak, kecuali...
"Pelabuhan Hati"
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warning: OOC, typo, alurnya tidak jelas, AU. DLDR, RnR
Chapter 2: Glory of Love
"Menghamili anak orang."
"Ada apa, Saku-chan? Sepertinya aku mendengarmu berbicara sesuatu." tanya Mikoto, memastikan bahwa Sakura telah mengatakan sesuatu.
"Maaf, aku hanya sedikit tidak percaya bibi sudah mempunyai cucu, karena bibi terlihat masih nampak muda dan cantik, menurutku."
"Hahaha, bisa saja kamu, Saku-chan." Kata ibu Sasuke, terlihat ia membawa secangkir teh dan menaruhnya di meja tamu untuk Sakura. Sakura segera mengucapkan terima kasih. "Anak pertamaku memang menikah muda dan istrinya baru saja melahirkan putra sulungnya sebulan yang lalu. Kini, mereka sudah sibuk dengan kegiatan mereka seperti biasa. Jadinya, cucuku aku yang merawatnya."
"Apa...apa anak itu anaknya Sasuke?" tanya Sakura, dengan polosnya—lebih tepat dengan bodohnya. Ia agak menyesal bertanya dengan pertanyaan macam itu, terlebih lagi di hadapan sang ibu. Seolah pertanyaan Sakura adalah, "Apa Sasuke menghamili gadis remaja lain menyebabkan gadis itu hamil, namun Sasuke tidak mau bertanggung jawab dan akhirnya gadis itu bunuh diri dengan pesan terakhir agar anaknya dirawat oleh Sasuke?"
"Eh? Tentu saja bukan Saku-chan. Hahaha" tawa sang Ibu, "Aku mempunyai dua anak lelaki. Sasuke, anak kedua. Aku hanya tidak menyangka saja bahwa Onii-chan sudah menikah dan memiliki anak sekarang. Aku mengenang masa-masa saat Sasuke dan Itachi masih kecil, mereka sering berebutan mainan, tapi aku selalu menginginkan anak perempuan, jadi aku senang sekali saat Onii-chan menikah dengan Konan-chan. Aku merasa memiliki seorang anak perempuan!"
Sakura tersenyum manis, sambil bingung juga karena tujuan dia kemari kan untuk belajar dengan Sasuke, bukan mendengar curahan hati ibu Sasuke. Yah, Sasuke belum menampakkan dirinya juga, jadi tak apalah dia mendengar sedikit curahan hati ibu Sasuke, toh mereka sesama perempuan ini, pasti ibu Sasuke merasa lebih senang menceritakan segalanya kepada anak perempuan, dibanding anak lelakinya. "Ne, itu kenapa aku senang sekali Sasu-kun akhirnya mengajak seorang perempuan ke rumah kami. Biasanya temannya yang selalu ke rumah ini adalah Naruto dan semua temannya yang laki-laki terus. Aku takutnya Sasuke itu memiliki kelainan, tapi aku rasa dia tidak, karena kamu datang kemari. Aku sungguh bersyukur."
Sakura hanya tertawa renyah—tidak mengerti apa topik pembicaraan ini. Ia ingin bertanya dimanakah Sasuke, namun ia merasa sepertinya bibi Mikoto sedang menginginkan dirinya menjadi teman curahan hatinya, jadi ia merasa tidak enak hati untuk memotong pembicaraan.
"Sudah selesai percakapannya?" tanya Sasuke, tiba-tiba ia sudah berdiri di pojokan dan bersandar di dinding rumahnya.
"Eh, Sasu-kun sudah turun!" seru bibi Mikoto, "Ini Sakura-chan sudah datang menunggumu. Kau lama sekali sih!"
"Hn," balas Sasuke, asal-asalan, "Ayo ke kamarku!" ajaknya. Wajah Sakura merona mendengar ajakan Sasuke itu dan berpikir apa yang akan terjadi nanti seperti di film-film romantis. Mikirin apa sih aku? Kok pikiranku jadi menjijikan seperti ini, inner Sakura.
"Ne, Sasuke-kun dan Sakura-chan belajar saja di kamarnya Sasuke. Aku akan segera membuatkan kue dan teh untuk kalian," kata ibunya, "Selamat belajar!"
Sasuke dan Sakura segera menuju ke kamar Sasuke. Sakura tidak pernah berpikir akan menjadi seperti kisahnya. Ia mendekati Sasuke kan untuk membantu Ino mencari informasi tentang kehidupan pribadi pemuda yang berada di depannya ini. Kenapa sekarang ia malah menginjakkan kakinya di rumah Sasuke? Tidak bisa dipercayai. Kini, mereka memasuki kamar Sasuke yang cukup rapi untuk seorang laki-laki. Sasuke segera menutup pintu kamarnya.
"Apa yang ingin kamu pelajari?" tanya Sasuke, memberhentikan langkah Sakura.
"A-ano, uhm, trigonometri!" jawab Sakura, spontan dari bibir mungilnya, "Ya, aku agak kesulitan di bagian itu..." padahal trigonometri pelajaran matematika yang paling aku paham banget sampai sekarang, ringis Sakura dalam hati, yah ngga apa-apa deh biar keliatan pinter dan cepet ngerti depan Sasuke, sekalian biar cepetan selesai.
"Hn," Sasuke segera duduk mengambil kursi dari meja belajarnya. Sakura bingung dia harus duduk dimana, jadi dia memutuskan untuk berdiri saja, berharap Sasuke peka. Sasuke memandang bola mata emerald itu. "Duduklah." Sasuke memberikan kursinya pada Sakura, sementara Sasuke keluar dari kamarnya. Sakura terdiam di kamar Sasuke, tidak tahu harus berbuat apa. Beberapa menit kemudian, Sasuke kembali ke kamarnya membawa satu kursi baru dan meletakkannya di samping kursi Sakura. Ia segera duduk di sampingnya.
Deg.
"Buka halaman 80."
Sakura segera menuruti perintah dari Sasuke. Sasuke menerangkan cukup mudah untuk dimengerti, terlebih karena ia memberikan rumus yang lebih mudah daripada yang diterangkan oleh gurunya di sekolah. Sehingga, banyak contoh soal yang Sasuke berikan padanya dan dapat ia kerjakan dengan baik. Tak jarang pula, ibu Sasuke datang membawa beberapa cemilan dan minuman hangat untuk menemani mereka belajar.
Tak terasa sudah jam 8 malam, Sakura berjanji kepada ibunya akan pulang jam 9. Masih ada satu jam untuk beristirahat dari pemikirannya yang penat dengan rumus dan angka. Ia melirik Sasuke yang tengah membereskan buku-bukunya untuk besok sekolah. "Sudah selesai, Sasuke-kun." Ucap Sakura, senang. Ia segera menutup buku tulisnya dan memasukkannya ke dalam tasnya.
"Hn," jawab Sasuke.
"Sasuke-kun, bolehkan aku bertanya sesuatu pada kamu?" tanya Sakura, dengan suaranya yang agak ia pelankan, namun masih bisa terdengar.
"Hn?"
"Apa yang membuatmu ingin mengajariku? Aku sendiri bingung tiba-tiba kamu bilang kamu akan mengajariku. Setahuku, kamu bahkan tidak ingin berbicara pada orang lain, kecuali kalau kamu butuh, tapi kayaknya semua yang kamu inginkan sudah terpenuhi, jadi nggak butuh orang lain. Aku rasa."
Sasuke memandangi bola mata emerald itu dengan seksama, "Baka."
"Nani?!" tanya Sakura, tidak suka dengan ucapan Sasuke, mengatainya bodoh, memang segitu bodohnya kah pernyataan Sakura barusan tadi.
"Aku masih belum tahu apa yang kurang dari hidupku, karena aku merasa semuanya sudah ada di depanku. Namun, Kakashi-sensei bilang padaku, akan ada saatnya aku merasa aku membutuhkan orang lain, agar hidupku tidak semembosankan seperti ini. Aku hanya butuh waktu untuk menemukannya." Sakura agak tertegun, seorang Sasuke berbicara panjang lebar seperti ini, karena yang ia tahu pangeran dingin ini irit sekali kalau berbicara. Sasuke juga mulai menceritakan kisah hidupnya padanya. Apakah Sasuke sudah menganggapnya seorang teman?
"Aku rasa ada satu hal yang kurang dari hidupmu, Sasuke-kun."
"Kamu tahu apa itu? Kutanyakan hal ini pada si dobe, tapi ia takkan pernah tahu jawabannya."
"Aku tidak pernah bosan dengan hidupku dan aku selalu merasa hidupku punya ceritanya tersendiri dari hari ke harinya."
Sasuke memandang gadis itu, penasaran. Ia kenal gadis ini semenjak hari pertama masuk sekolah. Siapa yang tidak kenal gadis ini? Pemilik rambut berwarna merah muda satu-satunya, terkenal akan keceriannya, banyak lelaki juga yang ingin mendapatkannya, namun Sasuke tidak pernah berpikir akan berbicara padanya, sampai malam ini. "Apa itu?" tanyanya.
"Hidup ini penuh perjuangan, Sasuke-kun. Hidupmu tidak akan berarti kalau kamu tidak melakukan suatu perjuangan apapun untuk mencapai sesuatu. Kamu harus mempunyai tujuan dalam hidupmu dan untuk mendapatkannya, kamu harus berjuang. Rasanya seperti mencari harta karun dalam hidupmu."
Sasuke terdiam.
"Selain itu, kamu juga harus bisa merasakan rasa cinta. Dengan cinta, kamu bisa tahu bagaimana rasanya jantungmu berdetak kencang saat bersama orang yang kamu cintai, betapa sakitnya hatimu melihat orang yang kamu cinta terluka, rasa takut akan kehilangan, dan sebagainya. Kamu berjuang untuk cinta. Kalau menurutku sih seperti itu."
"Bisa kamu berikan aku suatu kesimpulan?" Sasuke tahu apa kesimpulannya, namun ia ingin Sakura yang memberikannya, sehingga Sasuke akan terus menyimpan kata-katanya di otaknya.
"Kamu tidak tahu cara berjuang untuk mendapatkan sesuatu, kekurangan rasa cinta, tidak mengerti rasanya kehilangan, dan belum pernah merasakan rasa takut. Dengan semua perasaaan itu, kamu akan merasakan hidupmu tidak membosankan dan punya petualangannya sendiri."
"Lalu, bagaimana caraku untuk bisa mendapatkan semua rasa yang belum pernah aku rasakan itu?"
"Belajarlah mencintai." Sakura menghela nafasnya.
"Hn?" Sasuke masih agak bingung.
Sakura menepuk pundak Sasuke. Bola mata onyx itu bertemu dengan emerald. "Biarkan hatimu berjuang untuk mencari pelabuhan mana yang hendak ia tuju. Kalau hatimu sudah menemukan tempat berlabuh yang tepat, layarkanlah hatimu ke sana."
"Di mana rasa takutnya, heh?"
"Kita kan tidak akan pernah tahu ada gelombang besar atau cuaca yang tidak baik yang bisa menghunuskan kapal hatimu, seolah menghancurkan hatimu. Itu rasa takutnya, Sasuke-kun." Sasuke tetap diam. Apakah Sasuke terkesima dengan ucapannya? Atau ia sama sekali tidak peduli dengan pemikiran Sakura yang terlalu berlebihan? Pikiran Sakura terus melayang mengenai tidak adanya respon dari Sasuke setelah itu, sampai...
"Sakura." panggilnya.
"Iya, Sasuke-kun?"
"Maaf, aku tidak mempunyai alasan mengapa aku ingin mengajarimu matematika, karena saat itu mulutku spontan mengatakannya. Tidak ada perintah yang logis dari otakku, hatiku yang menyuruhnya."
TBC
a/n: yey! Chapter 2 udh jadi nih. Oya aku lupa bilang, ini fic punya aku, namaku Ellen. Aku kan gapunya akun nih jadinya aku pake akun saudaraku yang sudah terbengkalai kayaknya. Nama pennamenya dulu NerdMe, terus dia kasih ke aku aja, jadi aku ganti pennamenya xD aku ga berani ngapus fic-fic dia yang masih ada._. aku berniat ngelanjutin tapi itu haknya dia, ya kalo dia mau lanjutin, nanti bisa aku yang publish. Yaudah segitu aja ya readers, see you in next chapter! RnR?:)
Balas review dulu yaaah:d
sak: udah lanjut ya! Semoga suka:3 RnR lagi ya
GaemSJ: nih udah update:3 semoga suka Rnr lagi:3
Hayashi Hana-chan: nanti aku jelasin kok alasan Sasuke mau ngajarin Sakura kenapa tapi bukan di chap ini huahaha...bakalan ada satu chapter khusus Sasuke's POV :3 RnR lagi yah
fa vanadium: Terima kasih sudah mau membaca ficku:) semoga suka dengan chapter yang ini. RnR yah:3
