Chapter 2: At Alois Ball Room

Esoknya, (Penasarankan sama tugas Ciel kemaren? Udah selese kok.. 1/3 dibantuin Sebastian sih) Ciel menjemput Elizabeth di rumah ato istananya

"Lady Elizabeth, kau siap untuk pergi?" Tanya Ciel "Sebentar lagi.. Yak aku siap" Kata Elizabeth yang keluar dari kamarnya lalu menaiki kereta kuda Ciel

"Ciel keren!" Kata Elizabeth di kereta yang melihat Ciel berpakaian jas hitam dan kaos hijau dengan dasi hitam, topi hitam dengan pita hijau, dan celana hitam dengan sepatu hijau "Kau juga cantik" Kata Ciel tersenyum sedikit, Elizabeth memakai baju Hijau dengan pita dan renda putih, pita di leher putih dan topi hutih dengan pita hijau, lalu sepatu hijau (Cocok dengan Ciel)

"Hehe.. Terima kasih" Kata Elizaeth tersipu. Kereta berhenti dan Sebastian membukakan pintu. Ciel dan Elizabeth turun

"Hai.. Phantomhive" KAta Alois yang sudah menunggu di depan pintu ball room "Hai.. Tarcy" Senyum Ciel (Senyum palsu Ciel maksudnya)

"Psstt.. Itukan keluarga Phantomhive.." Kata salah seorang di situ "Iya iya.. Itu tunangannya" Kata Salah seorang lagi. PLOK..PLOK..PLOK.. Alois mengambil perhatian "Karena keluarga Phantomhive sudah di sini.. Mari kita mulai acara dansanya!" Kata Alois, musik mengalun

"May I Dance With You?" Tanya Ciel sambil membungkuk kepada Elizabeth "I would be owner" Katanya sambil mengambil tangan Ciel. Lagu pertama adalah Gavotte (Lagunya dibuat slow, kan biasanya energetic lagunya), Ciel dan Elizabeth berdansa dengan tenang dan romantis, Ciel mengelus kepala Elizabeth. Elizabeth blushing. Di akhir lagu, Elizabeth berkata

"Sst.. Ciel, aku ke kamar mandi dulu ya" Kata Elizabeth, Ciel mengangguk. Alois dari jauh tersenyum licik dan pergi. Sekitar 25 minet kemudian "Elizabeth ke mana sih? Aku susul saja" Kata Ciel lalu keluar dari ball room diikuti Sebastian.

Di depan pintu kamar mandi perempuan, Ciel teriak "Oi.. Elizabeth.." Tak ada yang menjawab "bolehkah saya masuk bocchan?" Tanya Sebastian untuk memastikan apakah Elizabeth ada di dalam. Ciel mengangguk

Sebastian masuk, dibukanya satu persatu kamar mandi. Di ruang terakhir, "Bocchan! Saya menemukan selembar kertas" Kata Sebastian dari dalam. Ciel langsung berlari ke dalam dan menghampiri Sebastian karena khawatir langsung mengambil kertas itu

Ciel membacanya, matanya berkaca-kaca.. Perlahan, air mata keluar dengan muka marahnya lalu bersiku perlahan sambil menangis "E-li-za-beth.. Si-a-lan k-k-kau.. T-tra-cy" Kata Ciel ter isak-isak

"Ada apa bocchan?" Tanya Sebastian tenang. "Elizabeth dia diculik Alois, katanya, kalo lo mau tunanganmu kembali serahkan dirimu untuk jadi tahananku" Kata Ciel menerangkan

"Kau tidak boleh menyerahkan dirimu dan nyonya Elizabeth juga tidak boleh tertangkap.. Hn.." Sebastian berpikir

"Ayo, kau tahukan dimana ruang teh Tracy? Di situ dia menungguku" Kata Ciel mulai berjalan dan menghapus air matanya "Ya aku tahu" Jawab Sebastian "Antar aku ke sana" Kata Ciel sambil melirik Sebastian "If it make you happy. Yes, My Lord.." Kata Sebastian mulai berjalan

Mereka sampai di tangga rahasia Alois, "ini dia" Kata Sebastian" Ciel mendahului Sebastian dan turun ke bawah (Tentu butlernya yang keren itu mengikuti)

"Hah.. Akhirnya kamu sampai juga, lama sekali.. Ada hambatan?" Tanya Alois yang bangkit dari mejanya dengan Elizabeth yang disekapnya di sampingnya

"Lepaskan dia!" Suruh Ciel "Serahkan dirimu dulu" Kata Alois dengan senyum licik "Bocchan, terlalu berbahaya di sini, berlindunglah di belakangku" Kata Sebastian yang berpindah posisi menjadi di depan Ciel

"Huh.. Sok kuat, Claude.. can you help this trash?" kata Alois kepada Claude, butlernya "If you want. Yes, your highness" Claude maju ke depan. "Bocchan, may I kill this guy?" Tanya Sebastian "If it for Elizabeth.. Yes you may" Kata Ciel. Sebastian mengeluarkan garpu perak dari jasnya, sedangkan Claude mengeluarkan garpu emas

To Be Continued

Next Chapter: Saving Elizabeth!