Organisasi Hunter Seirin, pukul dua dini hari.
Asosiasi hunter ini merupakan yang terbesar dan tertua di Jepang. Asosiasi yang telah banyak melahirkan hunter-hunter berbakat dan telah melenyapkan ratusan eksistensi vampire darah pengkhianat. Bagi manusia dan sesama hunter, organisasi ini adalah penyelamat dunia mereka. Tapi, bagi para vampir, baik darah murni, campuran ataupun vampire biasa organisasi ini bagaikan pedang bermata dua.
Memberi mereka dua efek, menguntungkan dan merugikan.
Organisasi ini menguntungkan bagi para vampir darah murni karena jika para pemburu memburu para darah pengkhianat, itu akan mengurangi tugas mereka dan memberi kedamaian. Sedikit.
Organisasi ini merugikan bagi para vampir darah murni, karena dengan mereka melenyapkan para darah pengkhianat itu, catatan rekor yang akan diwariskan turun terumun akan bertambah. Dan sayangnya, di catatan itu tidak ada informasi yang sangat detail. Mereka hanya memberi detail seputaran nama, di mana ditemukan, hunter yang berkorban memburunya dan cara membunuh.
Detail yang sangat sedikit itu akan menyebabkan keturunan pemburu di masa mendatang akan membenci vampir tanpa pandang bulu. Bahkan ada seorang pemburu muda yang ingin melenyapkan dan mengalahkan Yunouna Kyuketsuki no Sedai…
Yunouna Kyuketsuki no Sedai
Kuroko no Basuke by Tadatoshi Fujimaki
Rate: T
Warning: AU, Vampire! KiseDai,Fem!Kuroko, maybe a little blood scene, OOC tapi diusahakan se-IC mungkin, SMA Teiko.
Enjoy-ssu!
.
Chapter 2 : The Hunter, Kagami Taiga.
.
BRAK!
Suasana di markas utama Seirin sedang panas. Terdengar suara meja digebrak dengan kasar. Di ruang utama markas tersebut terlihat seorang perempuan muda sedang berdiri dari balik mejanya dan memandang pemuda di depannya dengan gusar.
"APA KAU GILA?! KAU? AKAN MENGALAHKAN AKASHI SEIJUUROU SI VAMPIR DARAH MURNI PEWARIS KLAN AKASHI ITU?! OH DEMI ROH LELUHUR KITA KAU PEMBURU PALING BODOH YANG PERNAH KUTEMUI!"
Perempuan bernama Aida Riko itu berteriak kepada pemuda di depannya. Pemuda yang mengaku seorang hunter dari Amerika, Kagami Taiga.
"Aku tidak gila dan aku seratus persen sadar akan ucapanku. Aku-akan-mengalahkan-Akashi-Seijuurou, Ketua." Kagami mengeja dan menekankan tiap kata di kalimat terakhir. Untuk seorang anggota baru, ia bisa dikategorikan cukup tenang dalam hal menghadapi Riko yang sedang emosi.
Riko nyaris meledak lagi kalau saja sebuah tangan dingin milik Hyuuga Junpei menepuk pundaknya dan mengisyaratkan 'biar aku yang urus ini.'
Riko yang mengerti isyarat itu langsung mendelikkan matanya ke arah Hyuuga. Namun ia tidak melawan dan segera keluar dari ruangan itu sambil menggebrak pintu, dengan alasan ia butuh udara segar.
Hyuuga berdeham sebentar sebelum memulai introgasi.
"Kenapa kau ingin mengalahkan Akashi Seijuurou, Kagami-kun?" Interogasi dimulai, ditonton oleh beberapa pemburu lain yang ada di ruangan itu. Izuki Shun, Kiyoshi Teppei, Koganei Shinji dan Mitobe Ryuunosuke yang semula gemetaran melihat pemimpin mereka marah besar pun penasaran dengan jawaban Kagami.
"Alasan yang simpel. Karena dia itu vampir."
Jika ini Riko, mungkin ia akan menatap Kagami dengan pandangan menghina, namun Hyuuga Junpei masih bisa mengontrol emosinya lebih baik daripada ketua perempuan mereka.
"Kenapa mesti Akashi Seijuurou?"
"Karena dia itu darah murni. Pemimpin dari segala vampir yang ada. " Hyuuga menghela nafas mendengar jawaban Kagami. Sedangkan Riko yang ternyata selama ini berada di balik pintu ingin sekali mendobrak masuk dan menghajar Kagami saat itu juga.
"Kenapa harus Akashi? Darah murni itu ada yang lain kan."
"Aku tau dia itu sangat ditakuti oleh vampir dibawahnya. Kecuali vampir darah pengkhianat. Tapi aku, sebagai seorang hunter, ingin mengalahkannya. Ingin membuktikan bahwa vampir darah murni Akashi Seijuurou tidak sekuat yang ditafsir orang-orang selama ini. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa mengalahkan Akashi— kalau perlu, aku akan menghapuskan eksistensinya dan anjing-anjing setianya, Yunouna Kyuketsuki no Sedai." Kagami berkata dengan tegas tanpa keraguan sedikit pun.
'Bagus. Kita baru saja kedatangan orang tidak waras," batin Hyuuga dan yang lainnya.
Saat itu, Riko langsung memasuki ruangan dan bertanya dengan nada menantang pada Kagami.
"Baiklah kalau kau ingin mengalahkan Akashi dan kawanannya. Aku tidak memaksa dan tidak peduli. Tapi sekarang pertanyaanku adalah, bagaimana?"
Riko berpikir Kagami hanya sesumbar di mulut ingin mengalahkan Akashi dan lain-lain. Berpegang kukuh pada kepercayaan dirinya, ia yakin kalau Kagami tidak mengetahui pergerakan Akashi.
Tapi sayangnya ia salah. Kagami pun langsung menjawab pertanyaan Riko dengan lantang.
"Aku akan ke Bulgaria pagi ini juga. Karena di sana seorang vampir darah murni yang berkhianat pada Akashi bangkit dari kuburnya, dan menyerang sebuah desa disana dengan pengikut darah lumpurnya. Dari sumber yang kudengar, mereka sudah menggigiti seratus orang lebih dalam semalam."
Riko cengo mendengar berita ini dari Kagami. Ia sendiri tidak mengetahui tentang kasus ini. Tepatnya, Seirin belum menerima laporan dari kantor cabang yang berada di Bulgaria. Ada apa ini?
"Bangkit, dari kubur?" Hyuuga membelak kaget.
Kagami tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi kedua petinggi Seirin. "Ya, beberapa tahun silam, Madame Renata sudah dikalahkan oleh Akashi Masaomi, ayah dari Akashi Seijuurou. Tapi entah kenapa ia sekarang bangkit lagi dari kuburnya setelah diberi darah oleh para pengikutnya. Dan aku yakin berita ini sudah sampai ke telinga Akashi dan ia pasti tengah mengirimkan beberapa orang dari bawahannya itu untuk menyelesaikan kasus ini. Maka dari itu, inilah kesempatanku untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkan mereka."
Riko dan Hyuuga pun akhirnya pasrah setelah mendengar kasus ini dari Kagami. Demi apapun yang ada di dunia ini, selama mereka menjadi pemburu mereka tidak pernah menemukan kasus ini di catatan manapun dan baru mendengarnya sekarang.
"Baiklah! Aku akan mengijinkanmu menyelesaikan kasus ini sendirian. Kemaskan barang-barangmu dan pergilah ke bandara sekarang juga. Berikan aku laporan yang bagus mengenai kasus ini, Kagami-kun!"
Akhirnya Riko mengijinkan Kagami pergi. Hitung-hitung memintanya untuk menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya karena tidak ada lagi pemburu yang bisa ia gunakan dalam hal ini. Semuanya tengah sibuk dengan misi masing-masing.
Kagami mengangguk sambil tersenyum senang. Di matanya sekarang terlihat kilatan haus akan memburu.
"Terima kasih, Ketua." Ia segera pamit pada Riko dan Hyuuga lalu berjalan keluar ruangan.
Riko menghempaskan dirinya pada kursi kebesarannya sambil memijit keningnya pelan. Kejadian hari ini sungguh membuatnya lelah. Pertama, ketika ia tengah dalam kondisi suntuk akibat tidak tidur selama tiga hari belakangan, kemudian ia menerima tamu seorang pemuda yang mengaku seorang pemburu dari Amerika ingin bergabung dengan asosiasi mereka, Riko menyanggupinya. Dan, tidak ada satu jam ia berada di depan Riko, Kagami langsung mendeklarasikan padanya bahwa ia akan mengalahkan Akashi Seijuurou.
"Kuharap kau tidak memperburuk hubungan asosiasi ini dengan Akashi Sejuurou, Kagami-kun."
-x-
Kise, Aomine, dan Murasakibara sedang berada di bandara. Menunggu pesawat mereka yang sedang delay. Terkutuklah Akashi yang mencarikan mereka tiket pesawat pada dini hari sehingga mereka harus semalaman di bandara. Kise nyaris saja tertidur kalau saja Aomine tidak menjitak kepalanya.
"Ittai, sakit Ahominecchi! Jangan jitak aku seperti itu!"
"Makanya kau jangan tertidur Kise bodoh! Kau harusnya tetap bangun dan aku yang tidur."
Muncul perempatan di kening Kise begitu mendengar ucapan Aomine yang menurutnya sangat egois.
"Masih ada Murasakibaracchi yang bisa mendengarkan pengumuman pesawat itu, Ahominecchi! Eh.. tunggu … Kemana Murasakibaracchi?" Kise celingukan mencari teman raksasanya itu.
"Dia dari tadi memang bolak-balik dari sini ke kafetaria untuk membeli snack. Dan itu membuatku pusing. Oh ayolah kapan pesawat ini akan terbang!" Aomine berteriak frustasi karena sudah empat jam lebih pesawat yang ia, Kise dan Murasakibara tumpangi delay.
Walau Aomine pada aslinya adalah makhluk separuh titisan neraka dan manusia biasa, adakalanya Dewi Fortuna berpihak padanya, karena beberapa detik setelah ia berteriak seperti itu, pengumuman terdengar.
"Bagi penumpang maskapai XXX Airlines dengan nomor XX-XXX jurusan Bulgaria, diharapkan untuk segera ke pintu nomor X karena pesawat akan segera berangkat."
Kise berteriak kegirangan karena setelah penantian panjang, pesawatnya datang juga. Ia dan Aomine langsung merapikan barang-barang bawaan mereka, bertepatan dengan Murasakibara yang baru saja kembali dari kafetaria.
Setelah melewati berbagai pemeriksaan dan tiba di pesawat, Aomine langsung mencari tepat duduk mereka. Tapi sayangnya dengan kondisi mengantuk atau memang ia malas, ia hanya mencari nomor yang mendekati tempat duduknya. Kise yang sedang tidak selamat karena begitu ia masuk pesawat ia langsung dikerubungi fans-fans perempuannya hanya melemparkan pandangan minta tolong untuk dicarikan tempat duduk pada Aomine.
Aomine akhirnya berinisiatif untuk bertanya pada seorang pemuda yang ia asumsikan duduk di dekat tempat duduknya.
"Uhm, permisi, Tuan. Kalau boleh bertanya nomor kursi Anda berapa?" Si Tuan mendongak kearah Aomine dan menyebutkan nomor kursinya. Lalu ia tidak sengaja melihat nomor kursi Aomine di tiket dan berkata kalau kursi itu tepat di belakangnya. Aomine pun berterima kasih pada tuan bertopi koboi itu dan segera mengirim isyarat pada Kise kalau ia sudah menemukan tempat duduk mereka. Kise bersyukur akhirnya ia dapat lepas dari serbuan fans-fansnya dengan alasan 'lelah ingin segera ke tempat duduk.'
DEG!
Dalam perjalanan menuju tempat duduknya, Kise merasakan sesuatu yang aneh. Dan mata beriris emasnya mendadak berubah menjadi merah darah, seperti iris Akashi. Kise langsung melihat sekelilingnya dengan wajah tegang.
'Tidak mungkin!' Batin Kise dalam hati. Ia pun cepat-cepat menuju tempat duduknya dan duduk dengan wajah tegang.
Murasakibara yang melihat wajah tegang Kise bertanya, "Ada apa Kisechin?"
"Menurutku—kita sekarang sedang berada satu pesawat dengan seorang pemburu." Mata Kise masih tetap berwarna merah darah yang menandakan ia—mereka sedang berada di dekat seorang pemburu. Aomine dan Murasakibara membelak kaget mendengar bisikan Kise.
"Baru saja Akachin membahas hal ini, dan sekarang sudah langsung ketemu. Jangan-jangan karena Akachin membahasnya makanya kita tidak sengaja terjebak dalam situasi macam ini."
"Teori macam apa itu, Murasakibara."
Sedangkan—
Si Tuan yang tadi ditanyai soal tempat duduk oleh Aomine hanya diam, tidak sengaja mendengar bisikan Kise. Perlahan sebuah senyuman sinis terukir di wajah si Tuan.
"Akhirnya aku bertemu kalian!" sorak si 'tuan bertopi koboi'—tidak, Kagami Taiga dalam hati.
-x-
Sehari setelah kepergian ketiga rekannya.
Akashi yang mendiamkan dirinya untuk menetap di Tokyo merasakan sesuatu yang janggal. Ia merasa akan ada sesuatu yang menghambat misi ini. Secara tiba-tiba, ia berhenti dari kesibukannya meneliti proposal-proposal dan langsung menyuruh Momoi yang kebetulan tengah mengorganisir data-data yang tersimpan di komputer khusus di ruang OSIS untuk men-jailbreak kamera keamanan Seirin.
"Untuk apa, Akashi?"
Tidak menghiraukan pertanyaan Momoi, ia juga menyuruh Kuroko untuk mengambil data mengenai anggota-anggota Seirin secepatnya. Kuroko hanya menaikkan sebelah alis begitu meminta permintaan aneh Akashi.
"Akashi-kun kita sedang ada di sekolah. Jangan mimpi. Dokumen itu ada dirumahmu semua."
"Aku sempat membawa beberapa ke sini. Cari saja di lemari pojok itu."
Kuroko merasa tersinggung, data-data yang ia kumpulan dengan seenak jidat dicuri Akashi—diketagorikan mencuri karena tidak meminta ijin kepadanya, dan dibawa ke sekolah, tempat yang sama sekali tidak aman untuk dokumen penting tersebut.
Midorima yang keheranan melihat tingkah tiba-tiba Akashi ingin bertanya. Tapi ia gengsi, nanti dikatakan suka mencampuri urusan orang.
"Shintarou tolong lanjutkan periksa proposal-proposal ini. Aku merasakan sesuatu yang aneh dan berkaitan dengan Seirin."
Oke. Pertanyaan Midorima terjawab tanpa ia harus bertanya. Sang Wakil Ketua I OSIS ini langsung melaksanakan titah dari Akashi, memeriksa proposal yang masih ditinggalkan terbuka di atas meja Akashi yang berada di sebelah mejanya.
"Oh ya, kalau ada yang aneh proposalnya tanya saja padaku, jangan tsundere."
Omongan Akashi yang ini sukses menohok jantung Midorima. Dikatakan tsundere secara terang-terangan. Momoi menahan tawa melihat ekspresi Midorima.
Setengah jam berlalu dan Momoi masih sibuk di depan layar komputer—yang merangkap sebagai salah satu media bekerjanya sebagai sekretaris, berusaha untuk menjebol sistem keamanan Seirin yang ternyata lebih ketat dari ia kira. Akashi masih tetap mengawasi Momoi dari belakang.
Lima belas menit kemudian-
"Yak! Akashi-kun aku berhasil menjebolnya. Kau ingin rekaman yang pukul berapa?" pertanyaan Momoi tidak langsung digubris Akashi karena pada saat bersamaan, Kuroko datang tergopoh-gopoh dengan setumpuk kertas yang bisa dibilang tidak sedikit di tangannya. Akashi membantu Kuroko membawa kertas-kertas itu.
"Sebanyak ini… Tetsura?"
"Siapa sih yang membawanya ke sini. Harusnya kau tanyakan hal itu pada dirimu sendiri Akashi-kun. Aku hanya ingat jumlah yang aku tinggalkan di lemari ruang kerjamu kemarin."
"Akashi, rekaman yang mana?" Momoi berusaha mengalihkan perhatian Akashi yang masih beradu tatap dengan Tetsura sembari mengambil beberapa dokumen mengenai organisasi tersebut.
Kuroko langsung menarik sebuah kursi yang tersembunyi di meja panjang yang berada di tengah-tengah Ruang OSIS, dan menyeretnya untuk duduk di sebelah Momoi.
"Rekaman CCTV tengah malam dan pagi ini coba Momoi-san."
Momoi menyanggupi permintaan Kuroko dan kembali berkutat dengan laptopnya. Lima menit kemudian, ia berhasil mengunduh rekaman CCTV markas utama Seirin pada tengah malam dan pagi. Momoi mulai memutar rekaman itu.
Menit demi menit berlalu, mereka tidak menemukan sesuatu yang menarik dari rekaman itu.
Sudah dua jam mereka menonton rekaman itu, dan Momoi mulai bosan. Ia pun langsung meng-skip beberapa bagian, dan saat ia ingin menghabiskannya sampai selesai, suara Akashi yang bersender di meja panjang di belakangnya mengagetkannya.
"Bagian itu jangan di-skip Satsuki."
Dan benar saja. Beberapa detik setelah itu suara teriakan Riko terhadap Kagami berkumandang keras di ruangan itu. Akashi dan Midorima langsung mendekati Momoi dan Kuroko lalu berdiri di belakang kursi mereka. Mereka melihat rekaman di mana Riko meneriaki Kagami dengan ide bodohnya ingin mengalahkan Akashi.
Midorima menaikkan satu alisnya, Momoi melongo, Kuroko tetap tidak berekspresi, dan Akashi tersenyum kecil. Terkesan dengan Kagami. Baru kali ini pergerakannya diketahui oleh hunter, terlebih ia belum masuk Seirin saat mengetahuinya.
Akashi langsung mengambil dokumen tentang Kagami di meja dan membacanya dengan serius.
"Sepertinya Akashi-kun sudah menemukan mangsa baru," celetuk Kuroko membuat Momoi dan Midorima menoleh kearah Akashi. Menemukan mata heterochrome Akashi sudah menjadi gelap—warnanya menjadi emas dan merah darah, berbeda dari kolaborasi warna yang biasanya, menandakan insting pembunuh Akashi mulai muncul ketika melihat Kagami.
"Satsuki, Tetsura, Shintarou. Ayo kita susul mereka dan menampakan diri didepan Kagami-kun ini. Seirin akan menyesal jika berani mencari masalah lagi dengan kita."
-x-
Kise, Aomine dan Murasakibara akhirnya tiba di Bandara Sofia, Bandar udara terbesar di Bulgaria. Penerbangan yang memakan waktu selama dua belas jam dari Jepang menuju Bulgaria membuat pinggang Kise pegal, pasalnya ia tidak bisa beristirahat dengan tenang karena matanya yang masih berwarna merah darah setiap saat. Belum lagi insting pembunuh vampirnya yang agak sensitif dengan pemburu menguasainya sehingga ia harus betul-betul menahan diri tadi di pesawat agar tidak langsung menerkam dan mengkuliti ras yang menurutnya menyebalkan itu.
Mereka tiba di Bulgaria ketika matahari sudah mulai bersembunyi di ufuk barat. Mereka langsung menuju hotel yang telah Akashi pesankan. Tanpa basa-basi lagi dengan resepsionis di lantai bawah yang nampaknya ingin menggoda mereka ketika mengkonfirmasi check in, kedua langsung melempar barang-barang dan menghempaskan dirinya di kasur yang ada di kamar itu, memilih untuk beristirahat. Murasakibara tidak ambil pusing dengan tingkah kedua temannya ini dan langsung menuju kafetaria, lagi. Kise bersyukur tubuhnya tidak merasakan eksistensi pemburu yang menjadi musuh alami mereka sehingga akhirnya ia bisa beristirahat dengan tenang—
Sebelum pada akhirnya Kagami Taiga tiba dan menginjakkan kakinya di bawah atap yang sama dengan Kise, Aomine, dan Murasakibara dalam hal menginap.
-x-
Kise terbangun setelah beberapa jam beristirahat. Ia terbangun dan langsung menuju cermin, mendapati irisnya yang seharusnya berwarna madu berubah menjadi merah darah karena kehadiran Kagami, yang saat itu belum ia ketahui. Kise melirik arlojinya. 'Sudah pukul delapan malam. Mungkin sebaiknya aku mandi dulu.'
Ia pun beranjak dari kasur, meninggalkan Aomine yang masih tertidur lalu menuju ke kamar mandi.
Kembali menampakkan dirinya yang sudah tidak terbalut atasan di depan cermin kamar mandi. Ia mendesah kecil ketika melihat irisnya belum juga kembali normal. Oh, Kise kadang menyesali dirinya yang terlahir di keluarga yang memiliki kemampuan mata khusus, bisa mendeteksi hunter, sehingga ia terkadang harus siap sedia dengan lensa kontak yang memiliki warna sesuai dengan iris aslinya. Antisipasi jika dalam suatu acara yang melibatkan orang banyak ternyata ia tidak sengaja bertemu dengan seorang pemburu. Manusia tidak bisa dibodohi dengan alasan sakit mata jika iris merah darah Kise seandainya terpergok.
Kise pun mempercepat acara membersihkan badannya lalu kembali ke kamar dan menemukan Aomine yang sudah terduduk di kasur. Murasakibara sepertinya sudah membersihkan badannya saat Kise tertidur tadi jadi ia sekarang sedang mempersiapkan sekotak ramuan antidote dari Midorima.
"Cepatlah Kise. Aku mau mandi dan bersiap untuk memulai perburuan kita. Kalau perlu, sekalian menghabisi hunter yang mengikuti kita."
Kise menghela nafas begitu melihat Aomine telah memasuki tabitat aslinya.
"Ahominecchi sabar dulu. Dan Akashicchi sudah melarang kita untuk tidak berurusan dengan hunter. Aku tidak ingin pulang-pulang kita diterkam Akashicchi."
Murasakibara hanya diam mendengar percakapan kedua temannya ini. Ia lalu menoleh ke layar handphone-nya dan melihat sebuah email masuk.
"Aku dan yang lain akan segera menyusul kesana. Jangan beritahu Ryouta dan Daiki, Atsushi."
"Hoo… Akachin ternyata merubah pikirannya. Ini akan menarik," gumam Murasakibara lalu lanjut memakan maiubo miliknya.
Di lain tempat, tepatnya beberapa kamar setelah kamar mereka terlihat seorang pemburu sedang bersiap-siap. Ia memasukan berbagai senjatanya dan merapikan dirinya. Ia terlihat sangat bersemangat.
Kagami Taiga menggebu-gebu, agak rancu penyebab yang membuatnya seperti itu.
Entah karena ia akan mendapat kesempatan untuk menghabisi predator tak berotak yang belum bisa mengendalikan instingnya, atau ia mendapat kesempatan untuk berhadapan dengan predator berotak cerdas yang sering dielu-elukan sebagai jenius dan berbakat. Terkuat di abad ini.
"Akhirnya kita akan berhadapan… Yunouna Kyuketsuki no Sedai!"
.
.
.
T
B
C
.
.
.
Hyahahaha akhirnya Seirin keluar semua! Walau Cuma sekilas sih *Dicekek*
Hum… INI KAGAMI NGGAK BAKAL JADI ANTAGONIS KOK SUMVEH SUMVEH! NGGAK BAKAL JANGAN SALAHIN AKU HUHUHU.
Terus~ Kuroko aku buat jadigenderbenderkarena suatu alasan kedepan ^^
Btw… ADA YANG NYADAR NGGAK AOMINE KISE ITU BOBOK(?)NYA SEKASUR?!
Jadi.. Bagaimana?:3
Oh ya! Sebelum itu terima kasih pada alyazala, yuzuru, dan Gemini-chan untuk review penyemangatnya yang log-in sudah dibalas lewat pm yah! Makasi juga yang sudah nge-fave dan nge follow fic abal-abal ini.
Untuk yang bertanya kenapa Akashi minum darah kuroko di chapter satu~ pertanyaan ini nantinya akan terjawab seiring berjalannya cerita fic ini kok
-shizuka miyuki-
