Tittle: Kita Berbeda, Sasuke
Rated : T / T+
Disclaimer : Semuanya punya Masashi Kishimoto, kecuali jalan cerita ini asli punya Khio.
Genre : Romance, Friendship untuk saat ini
Author : Khioneizys
Cast : Sasuke Uchiha, FEM! Naruto Uzumaki, Itachi Uchiha, Human! Kyuubi, and many more.
Summary : Ramen dan Tomat/ Blonde dan Raven/ Sapphire dan Onyx/ Ceria dan Pendiam/ Hangat dan Dingin. Semua itu perbedaan yang kami miliki. Ada satu kesamaan di antara kami. Ialah kasih sayang orang tua. Kami sama-sama haus kasih sayang.
WARNING : FEM! Naruto, cerita suka-suka author, EYD pecah-pecah, Typo yang disebar, OOC, mata ngantuk, dan lain-lainnya... Kritik dan Saran sangat diterima
Don't Like Don't Read
Happy Reading, Minna-san
Chapter 2 : Blonde and Raven? Why?
Naruto's POV
Banyak yang bilang bahwa aku berasal dari luar negeri. Eropa, Amerika, Australia, tebak mereka. Namun, mereka semua salah. Aku orang asli Jepang, hanya saja warna rambutku ini pirang sehingga mereka men-jugde-ku bukan asli Jepang.
Rambut pirang warisan Ayah. Rambutku sedikit ikal seperti Ibu. Membicarakan mereka, aku jadi kangen dengan orangtuaku. Dulu, lama sekali sekitar 14 sampai 15 tahun yang lalu, aku masih bahagia karena orangtuaku masih berada disisiku. Bercanda tawa denganku, menemaniku bermain di taman, mengantarku ke sekolah, memasakkan aku ramen, memberikan ku kecupansebelum tidur dan mereka masih memberikanku senyuman yang mampu membuatku semangat kembali.
Tapi sekarang, tak ada yang pernah melakukan hal semacam itu lagi padaku. Orang-orang menganggapku hanya sampah yang ditinggal pemiliknya ke alam lain. Tak ada yang mau menerimaku, entah karena apa.
Hidup dipinggir jalan sejak kecil, mengajariku banyak hal. Satu-satunya yang kuingat hanya "bertahan hidup di jalanan akan sangat susah jika kau melakukannya dengan tidak senang hati, karena hidup di jalanan sangat keras, lebih keras daripada hidup dihutan yang banyak binatang buasnya". Dari situlah aku belajar, bahwa pekerjaan apapun yang kujalani harus aku sukai walau sebenarnya aku tidak menyukainya.
End of Naruto's POV
Sasuke's POV
Raven, artinya gagak bisa juga hitam. Yup, kalian benar rambutku ini seperti burung gagak, hitam kelam. Bentuknyapun unik, mencuat keatas. Memang, seluruh anggota keluargaku memiliki warna sepertiku. Kakak, Ibu dan Ayah. Kenapa? Akupun tak tau, kurasa gen di keluarga Uchiha memeang seperti itu... atau semua ini sudah digariskan oleh Tuhan.
Dan Tuhan selalu adil kepada setiap hamba-Nya. Aku bersyukur diberikan kakak seperti Aniki. Tapi Tuhan membiarkanku tak mengenal rasanya kasih sayang orang tua. Tuhan mungkin sengaja membiarkan Ayah dan Ibu sibuk dengan pekerjaannya di berbagai kota di banyak negara di dunia ini. Sepertinya, Tuhan memiliki caranya tersendiri untuk membahagiakan hamba-Nya yang taat suatu saat nanti. Entah itu kapan?
Dan aku berdoa kepada Tuhan, agar gadis pirang penuh semangat itulah yang bisa memberiku sebuah kasih sayang yang tak pernah kurasakan dari orangtuaku. Mungkin, hanya Aniki saja yang mau merawatku, bahkan sejak usiaku baru menginjak 1,5 tahun.
Hfft, tak sabar aku menunggu matahari bersinar. Ketika mentari menyinari langit Konoha, disaat itulah aku bisa bertemu matahari keduaku yang sangat cantik di Pasar Konoha nanti, berkedok membeli tomat dan makan ramen tomat, tidak buruk juga. Pikitku sambil menyeringai, tak sabaran.
End of Sasuke's POV
Malam harinya...
Dengan Sasuke...
"Tadaima" ucapku saat memasuki kembali kediamanku yang super sepi. Tak ada balasan, berarti Aniki belum pulang, ya? Tanyaku dalam hati.
"Okaeri, Sasuke.. sini, aku di dapur.. bantulah aku, ya.." ternyata Aniki sudah pulang. Langsung meluncur ke TKP. Aku bantu kau Aniki. Tenang saja, demi Aniki apa sih yang enggak?
Mulailah kubantu Aniki, dari memotong-motong tomat merah yang nyaris membuat air liurku menetes. Membereskan meja makan, menyusun segala disana. Hingga siap untuk disantap. Mantap... masakan Aniki jauh lebih enak dari koki manapun di dunia ini.
Setelah makan, kami membereskan meja. Lalu mencuci piring bersama. Disaat seperti ini terkadang Aniki ku yang isengnya keterlaluan keluar. Seperti mengoleskan sabun cuci ke lengan atasku. Hei, Aniki itu sabun cuci piring bukan sabun mandi, apa kau sudah lupa? Lalu kubalas dengan yang lebih ekstrim, kuambil busa yang menyelimuti telapak tanganku, kucolek dagu Aniki dengan gaya seperti banci yang mangkal di taman lawang.
Sudah lebih dari 20 menit kami mencuci piring. Kenapa lama? Jawabanya karena kami mengerjakannya sambil bercanda dan tertawa. Kapan lagi kami bisa sama-sama melepaskan penat yang menjadi beban di pundak kami. Aku dengan Tugas Akhirku dan Aniki dengan segala dokumen yang menggunung di mejanya dan rapat yang mengantri untuk di laksanakan.
"Kau berjanji menceritakan gadis yang menarik perhatianmu tadi. Mana? Ayo, ceritakan, masa kau hanya memberikan sedikit ciri-cirinya" tiba-tiba Aniki menanyakan tentang Dobe.
"Namanya Naruto, aku memanggilnya dengan sebutan 'Dobe' karena dia memang benar-benar Dobe" jawab ku.
"Terus seperti apa perawakannya?" tanya Aniki lagi. Raut mukanya semakin penasaran... memberiku ide jahil untuk mengerjai Aniki.
"Aniki ingin tau?" tanyaku balik
"Iya, seperti apa? Kau membuatku penasaran, Otouto" katanya. Hehehe, lihat saja nanti.
"Wani piro?" kataku error.
"Ini serius, Otouto" katanya sedikit naik darah.
"Hn, dia seorang gadis" kataku gantung.
"Aku tau dia gadis, masa laki-laki? Kau maho? lalu warna rambutnya apa? Matanya? Senyumnya seperti apa? Jelaskan secara rinci" kata Aniki semakin penasaran terlihat dari nadanya yang terdengar ditelingaku.
"Hn, kau mau tau saja, Aniki" kataku acuh tak acuh.
"Huh, aku ini kakakmu... jadi, boleh kan aku tau siapa yang membuat otouto ku yang dinginya kayak kutub utara menjadi tropis seketika" bela Aniki.
"Hn, rahasia~" kataku lagi. Menghancurkan harapannya.
"Aish, otouto.. aku kan selalu menceritakan segalanya padamu, masa kau tak mau menceritakannya padaku. Adik maca apa kau ini, Sasuke?" kata kesal. Hehehe, berhasil juga membuat Aniki kesal. Sesekali Aniki harus kujahili, khukhukhu.
"Ada syaratnya" putus ku, memberinya sebuah syarat.
"Hn?" katanya singkat, padat, dan gak jelas. Tapi, aku tau apa artinya.
"Aniki akan tau nanti. Janji ya?" kataku
"Hn, iya" jawabnya.
Lalu kujelaskan segalanya tentang Naruto. Mulai dari aku bertemu dengannya saat membeli tomat. Dia yang tersenyum cerah, rambut blondenya yang indah saat di gulung keatas, matanya yang secerah langit dan yang aku suka adalah sifatnya yang ceria dan penuh semangat. Berkebalikan dengan sifatku dan aku suka itu.
Reaksi Aniki? Dia menjadi pendengar yang baik. Sesekali dia memotong perkataanku tentang kenapa kau bisa bertemu dua kali denganya di tempat yang berbeda? Dan lain-lain.
Banyak sekali yang kuceritakan padanya, hingga kantuk menyerang kami. Kami memilih beristirahat untuk hari yang akan datang.
Dengan Naruto...
Hfft, lelahnya hari ini, banyak sekali pengunjug yang datang ke Ichiraku Ramen. Kurebahkan tubuhku diatas kasur yang empuk (sedikit empuk) aku menginap di rumah Paman Iruka, satu satunya orang yang mau menerimaku selain Paman Teuchi.
"Naru? Kau sudah tidur?" terdengar suara paman Iruka memanggilku dari luar kamar.
"Belum, Paman. Memangnya kenapa?" jawabku sambil bertanya.
"Besok bantu Paman lagi, ya?' pintanya
"Ok deh, asal ada Naru, paman pasti untung... tenang saja, Paman" kataku riang
"Ya sudah.. kalau begitu, kamu istirahat saja, Naru. Persiapkan tenaga untuk esok hari ya... Oyasuminasai" katanya lalu pergi meninggalkanku.
"Oyasumi, Paman" setidaknya masih ada yang memberikanku ucapan selamat tidur walau bukan Ayah dan Ibu tetapi aku bahagia, karena Paman Iruka mau menerimaku apa adanya. Memberiku kasih sayang layaknya seorang Ayah dan Ibu.
Kutarik selembar selimut tipis yang dihiasi lubang-lubang sebagai penghangatku di malam yang gelap dan dingin ini. Kupejamkan mataku, mencoba menyelami alam mimpi. Yang kutunggu mimpi bukan bayangan seorang laki-laki berambut raven, aku tidak tau kenapa malah muka si raven yang dengan seenak jidatnya membuat menu baru di Ichiraku Ramen tadi.
Hfft, siapa namanya tadi? Sasoke? Susake? Sesaku? Argh! Pusing memikirkannya.. lebih baik tidur..
Tapi kan aku tidak bisa tidur.. ini semua salahnya tuh orang... hfft, kukutuk kau karena menggangu tidur cantikku/?
Awas saja, kau! Kalau sampai menggangu tidurku yang sangat mahal.
Seberapa mahal? Melebihi nyawamu, mungkin.
Oyasumi, minna-san..
Pasar Konoha, pagi harinya...
Seperti pagi yang biasanya, matahari datang tepat waktu. Memamerkan cahaya kemerahannya kepada seluruh penghuni alam ini. Burung-burung menyanyikan lagu kebangsaan mereka. Pagi yang indah.
Memang indah, seindah suasana hari salah satu pemaran utama fic ini. Seorang pemuda berambut raven tengah berjalan dengan riangnya walaupun wajahnya menampilkan mimik datar, sedatar papan tulis dikelas Anda. Bagaimana author tau kalau dia sedang bahagia padahal ekspresinya datar? Jawabannya, karena fic ini author yang nulis jadi suka-suka author, khukhukhu...
'Tuhan, kuharap aku dapat bertemu lagi dengan 'dia'" do'a sosok raven itu dalam hati. Pemuda raven itu meneruskan langkahnya hingga kaki jenjang porselennya mencapai sebuah stand sayur sederhana yang dijaga oleh seorang gadis manis berambut blonde cerah dan beririskan sapphire.
"Pagi, Dobe" sapa si Pemuda raven.
"Pagi juga, eh- Anda siapa, ya?" spontan menjawab sapaan pemuda raven yang ia tak tau namanya siapa.
"Kau melupakanku, eh?" tanya pemuda raven itu dengan nada yang disedih-sedihkan.
"Hm" gadis blonde itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Sebentar ya.. aku harus mengambil beberapa sayur dan buah dari belakang" kata gadis itu, berlalu meninggalkan pemuda raven itu sendirian. Sebenarnya tidak sendiri, karena ini pasar pastinya banyak sekali orang yang berjualan dan berlalu-lalang.
'dia memang benar-benar Dobe. Masa, namaku saja sampai lupa, Huh..' frustasi dalam batin si pemuda raven 'udah gitu ditinggal pergi lagi, aku kan belum beli tomat' batin pemuda raven itu makin frustasi.
Lumayan lama pemuda raven itu berdiri dipinggir stand sayur dan buah untuk menunggu si gadis blonde. Sesekali pemuda raven itu memilah tomat, sayur dan buah lainnya, sebelum si gadis blonde penjaga stand itu datang dan melayaninya.
"Tomat ½ kg, jeruk ¼ kg, bayam 2 ikat, daun bawang seikat, telur 1 kg. Semuanya jadi 350 yen, ada lagi, Tuan?" tanya si gadis blonde itu.
"Ada" kata si raven
"Apa, Tuan?"
"Jangan panggil aku 'Tuan', aku bukan majikanmu. Panggil aku Sasuke. Ingat itu Dobe" kata Sasuke si pemuda raven itu sambil menjentikkan jari porselennya di dahi tan si gadis blonde.
"Ih, Teme. Namaku Na. Ru. To bukan Dobe. Atas hak apa kau memanggilku Dobe, huh?" balas si gadis blonde yang bernama Naruto dengan penekanan penuh di namanya.
"Iya, iya, hehe.. jangan ngambek dong nanti wajah manismu hilang. Lebih cantik jika kamu tersenyum" ucap Sasuke pelan, tapi masih bisa didengar oleh Naruto.
Blush
Sepasang rona merah bertengger manis dipipi tan Naruto, mendengar pernyataan dari orang asing yang baru dikenalnya kemarin. Sasuke hanya memalingkan wajah untuk menyembunyikan rona yang tak kalah merahnya dari Naruto.
'Keceplosan aku.. gimana, nih? Aish, mulut tak tau diuntung!' batin Sasuke yang merutuki mulutnya sendiri.
"Hn, a-aku pe-pergi dulu. Besok aku kesini lagi" ucap Sasuke terbatu-bata (bosan terbata-bata melulu) sebelum meninggalkan Naruto yang masih mempromosikan diri sebagai pajangan layaknya patung pancoran.
"Hoi, Naru! Jangan bengong.. nanti kerasukan, lho" Iruka mengagetkan Naruto dengan cara menepuk kedua pundak Naruto. Hal ini lebih dari cukup untuk mengembalikan Naruto ke dunia nyata.
"Ada apa, Paman?" tanya Naruto setelah balik ke dunia nyata.
"Hm, bagaimana dengan hari ini?" tanya Iruka seperti biasa jika Naruto bekerja membantunya setiap pagi.
"Seperti biasa, Paman, kalau ada Naru, Paman tenang saja, ya..." dan seperti biasa juga, naruto akan menjawabnya seperti itu.
"Kalau begitu, nanti kau tidur di rumah paman saja, ya.. aku tak mau kau kedinginan lalu sakit" tawar Iruka seperti biasa. Tak enak dengan kerja keras anak ini.
"Tidak usah, Paman. Naru bisa tidur di tempat yang lain. Pasti Paman kerepotan harus menampung Naru" tolak Naruto halus dengan mata sedikit berbeling-beling (berkaca-kaca udah mainstrom)
"Begitu.." kata Iruka lirih. "Tapi, Naru.. kau kan perempuan, lebih baik jika tidur di rumah paman, setidaknya kau terlindungi" tambahnya khawatir jika memikirkan kemungkinan-kemungkinan negatif yang lebih besar ketimbang kemungkinan positifnya.
"Baiklah, Paman.. jika paman memaksa, apa boleh buat.. Naru akan tidur di rumah, Paman deh..." lelah beradu argumentasi dengan Iruka, akhirnya Naruto mengalah. Lagi. Namun, hatinya tak suka jika megharapkan belas kasihan orang kepadanya.
"Begitu, dong. Nah, istirahatlah" kata Iruka sambil mengusap-usap pucuk blonde Naruto penuh kasih. Kasih seorang Ayah yang tak pernah dirasakan lagi oleh Naruto setelah sekian lama. 'Inikah, usapan kasih seorang Ayah?' tanya Naruto dalam hati.
"Hm, sayangnya Naru tidak bisa istirahat. Karena Ichiraku Ramen telah menunggu Naru, Jaa, Paman~" kata Naruto sebelum melangkahkan kaki jenjang tan nya ke arah ichiraku Ramen di depan pasar Konoha.
Ichiraku Ramen, sejam kemudian...
Seperti biasa, Ichiraku Ramen yang sangat terkenal karena kelezatan sajiannya dan pelayanan yang sangat memuaskan bagi pelangannya ini sangat sangat ramai walau kedai ini baru buka setengah jam yang lalu. Mereka, para pelangannya dengan sabar menanti giliran mereka untuk menikmati semangkuk ramen yang masih mengepul dengan kuahnya yang kental.
Naruto, yang saat ini sedang mencuci mangkuk-mangkuk di belakang tampak riang. Dia menikmati segala pekerjaan yang menghasilkan semangkuk ramen. Baginya, dihargai beberapa ratus yen dan semangkuk ramen sudah cukup membuat sudut-sudut bibirnya tertarik keatas, membentuk sebuah senyuman yang lebar, biasanya disebut dengan cengiran.
"Naru-chan, tolong bantu Aku melayani pembeli. Biarkan saja dulu cuciannya" suara seorang gadis berambut coklat panjang bernama Ayame, meminta Naruto meninggalkan pekerjaannya sesaat untuk membantunya.
"Baiklah, sebentar" jawab Naruto, memamerkan gigi-gigi putihnya. Mencuci tangan dengan air bersih, melapnya supaya kering dan berjalan menyusul Ayame.
"Aku bantu apa, Ayame-nee?" tanya Naruto setelah kaki jenjang tannya tiba di sebelah tubuh Ayame.
"Hm, karena banyak pelanggan. Aku akan membantu Ayah, membuatkan ramen. Kamu, melayani mereka, Ok?"
"Ok, deh. Aku ambil note dan pulpen dulu ya... dan sebaiknya, Ayame-nee cepat ke tempat Paman Teuchi, sepertinya disana butuh bantuan" kata Naruto.
Dengan gesit, Naruto menanyakan pesanan-pesanan pelanggannya. Hingga dia bertemu dengan seseorang yang pernah dia lihat tadi pagi, di stand sayur Paman Iruka.
TBC...
Udah lama Khio gak maen ke Fanfiction. Maaf ya... yang udah nunggu fic ini lama bgt. Khio abis berantem sama soal UTS setelah lelah berantem Khio hibernasi sebentar. Menemukan situs bernama wattpad, lalu membuat akun disana dan keasyikan membaca novel Sherlock Holmes dan Agatha Christie disana. Maaf kan Khio ya...
Selain keasyikan di wattpad, Khio kena penyakit. Penyakit Mager nulis, mager publish, mager ngapa-ngapain, hehehe... sebagai permintaan maaf, Khio usahain update kilat. Ok!
Sesi balas riview, sudah ada yg Khio bales lewat PM. Sebagiannya lagi belum, hehehe... inilah yang belum Khio bales, Maaf juga balesnya kelamaan...
Arum Junnie
ini sudah di lanjut, thanks udah baca dan repot2 riview. s'moga suka.. maaf kalo lama, hehe
ini sudah next nya, thanks udah baca dan riview. semoga suka. maaf kalo lama banget, hehe
Aiko Michishige
ini kelanjutannya, maaf lama banget, ya ? thanks udah baca dan riview. s'moga suka...
borutosatan
ini udah di tambah. gak janji bisa nambah yang banyak. maaf kalo lama, thanks udah baca dan riview.
SNlop
thanks udah baca dan riview, maaf kalo lama nunggunya, hehe
angst, ya? gini aja deh. author tanya ke semuanya pada mau ada angst nya atau nggak? atau bisa ngasih saran apa aja, kok. silahkan...
yg laennya udh khio bales lewat PM. thanks juga buat para silent readers. semoga suka, dan maaf udah kelaamaan gak update-update.
...Read and Riview Please...
