RISE UP THE PHANTOM

THE STORY BY ICHA REN

UPLOAD BY MERCE-SAN

GENRE: Mystery, Horror, Sci-Fi

Rate: T

Naruto By Masashi Kishimoto

Warning: Abal-abal, Gajeness, Anehness, and many more

.

.

Enjoy it

Chapter 2: Kaizeka Sea Part 1

"Siapa sih yang kita tunggu!"

Sasuke memutar bola matanya mendengar ocehan kekesalan Naruto. Dosen muda itu berjalan mondar-mandir di pelabuhan Nasional Tokyo dengan wajah cemberut. Sasuke yang melihat tingkah Naruto merasakan kepalanya ikutan pusing. Uchiha muda itu menatap jam tangannya, sudah pukul 09 pagi, lewat dua jam dari rencana keberangkatan awal. Orang yang terlambat itu benar-benar hebat. Sangat hebat membuat emosi Sasuke meluap-luap seperti sekarang.

"Teme!"

"Diam Dobe! Kau pikir aku tidak kesal?!"

"Ano, siapa yang kita tunggu lagi? Bukankah semuanya sudah lengkap?" tanya seorang gadis cantik bersurai merah muda. Sasuke meliriknya tajam.

"Diamlah, kau tidak tahu." Kata Sasuke dingin. Gadis tadi sedikit terkejut dan mata emeraldnya menatap lautan dengan tatapan kecewa.

"Bukankah ini namanya penghambatan sebuah pekerjaan..." kata seorang pemuda dengan tato 'Ai' di dahinya. Surai merahnya tersibak sedikit ditiup angin pelabuhan. Matanya yang dilingkari garis hitam memandang Sasuke dan Naruto secara bergantian.

"Bagaimana?" kata pemuda tadi sambil melirik ke arah seorang pemuda berambut nanas yang menguap tanpa henti. Pemuda itu mengangkat bahunya sambil bergumam membosankan.

"Kapal kita sudah datang kawan," kata Naruto dengan safir tajam. Sasuke melirik ke arah laut dan melihat kapal penyebrangan standar berwarna putih mendekati pelabuhan. Ada tulisan Japan National di lambung kanan dan kirinya. Punya pemerintah Jepang untuk penelitian. Sasuke menghela napasnya perlahan.

"Jika dia tidak datang lima menit lagi, tinggalkan orang aneh ini..." kata Sasuke sambil menatap sebuah kertas tentang data-data orang-orang dari timnya yang akan pergi ke Pulau Okizawa. Sasuke menatap kesal foto seorang pria berumur 30-an dengan masker aneh di wajahnya. Sasuke melirik ke arah nakhoda kapal yang melambaikan tangannya ke arah mereka. Sang nakhoda memiliki pupil tajam dengan tato di kedua pipinya berbentuk segitiga terbalik.

"YO! SEMUA SUDAH SIAP?!" teriak sang nakhoda.

"LIMA MENIT LAGI!" balas Naruto cepat.

"KENAPA?!"

"ADA YANG KAMI TUNGGU!"

"SIAPA?!"

"AKU JUGA BELUM TAHU!"

"KENAPA KAU BELUM TAHU?!"

"KARENA AKU TIDAK MENGENALINYA!"

"LHO? KOK TIDAK KENAL?!"

"BISA TIDAK KAU BERHENTI BERTANYA!" suara teriakan Naruto terdengar lebih keras. Uzumaki muda itu nampaknya kesal. Sasuke menepuk keningnya dan memasang wajah sedih. Penelitian besar dan amanat dari Universitas Tokyo serta pemerintahan Jepang tampak seperti permainan anak-anak di sini.

Sasuke melirik jam tangannya dan melihat pergerakan jarum detik yang berwarna merah.

'Empat menit lagi...'

"Ya ampun, kami bahkan bisa jalan-jalan dengan kapal ini karena perjalanan kita terlambat dua jam," kata seorang wanita bercepol dua sambil merenggangkan badannya dengan wajah tersenyum. Di samping kiri dan kanannya berdiri empat orang yang persis memakai pakaian sama sepertinya. Kaos hitam ketat dengan celana hitam penuh kantong.

"Aku bosan menunggu komandan," kata seorang pria berbadan besar sambil menggigit roti besarnya dengan lahap. Di sampingnya berdiri seseorang dengan gaya rambut bob sambil mengacungkan tangannya ke atas langit.

"TETAP SEMANGAAAT!"

"Kau membuat image-mu dihadapan orang-orang ini aneh, Lee..." kata gadis bercepol dua yang dipanggil komandan tersebut.

"TERIMA KASIH KOMANDAN!" kata pemuda bersurai seperti batok kelapa itu. Dia membungkukkan tubuhnya dengan gerakan cepat.

"Err, apa mereka tim khusus militer Jepang yang menjaga kita, Sasuke?" tanya Naruto terhadap temannya dengan pandangan tidak yakin. Sasuke memandang datar ke atas kapal dan kembali menghela napasnya.

"Aku harap kemampuan mereka tidak sama dengan gaya mereka," kata sang Uchiha singkat sambil melirik jam tangannya.

'Dua menit lagi...'

"Itu dia,"

Sasuke melirik ke arah pemuda bersurai merah tadi dan kemudian menatap ke arah depan. Sesosok pria dengan masker di wajahnya berlari ke arah kelompok tim peneliti itu dengan ekspresi tidak bersalah, memakai senyuman juga.

"Maaf aku terlambat-"

"TIDAK PERLU BASA-BASI!" teriak semuanya dan tentu saja yang paling kuat teriakannya adalah Naruto. Sasuke memandang ke langit.

'Semua sudah siap,' Sasuke membalikkan badannya dan berjalan menuju kapal mereka.

"Perkenalannya pada jam makan siang nanti." Kata sang Uchiha dengan nada dingin.

.

.

.

Naruto menghempaskan tas ranselnya ke atas tempat tidurnya. Dia langsung menjatuhkan badannya di atas ranjang tersebut. Matanya memandang dek dari kamar kapal tersebut. Hebat. Perjalanan yang memakan waktu empat jam ini pasti tidak terasa jika dia tidur dengan pulas.

"Ini tas anda yang lainnya Tuan,"

Naruto memandang sesosok pria paruh baya menaruh tasnya di depan pintu kamarnya. Naruto menganggukkan kepalanya tanda terima kasih. Dia berdiri dan mengambil sesuatu dari kantong celananya. Uang tip.

"Tidak perlu tuan," kata pria tersebut "Perjalanan kita sedang menuju ke arah bahaya."

Mata Naruto terbuka lebar. Bulu lehernya terasa berdiri ketakutan.

"Aku bahkan tidak tahu jika menerima tip-mu masih bisa hidup atau tidak," kata orang tua tersebut. Dia membungkukkan badannya dan pergi dari hadapan Naruto. Jantung Naruto berdegup kencang. Terdengar sayup-sayup teriakan sang nakhoda yang berkata bahwa kapal siap berangkat. Para kru-kru kapal terdengar berlarian di dek kapal dan mempersiapkan keberangkatan. Naruto masih merenung kata-kata orang tua tadi, salah seorang kru kapal ini.

"Dobe"

"SHIT!" Naruto sedikit melompat ke belakang dengan wajah shock. Sasuke menatapnya kebingungan. Naruto memandang kesal Sasuke dan ingin sekali menghajar wajah Uchiha muda itu. Sasuke menaruh tasnya di samping ranjang Naruto dan menghela napasnya lagi. Di kamar ini ada dua ranjang. Nampaknya dia dan Sasuke akan sekamar.

"Kau tampak ketakutan..."

"Cih, perasaanmu. Dan juga karena sapaan mengagetkanmu."

Naruto terdiam sambil mendudukkan dirinya di ranjang tempat tidurnya. Sasuke mengambil sesuatu dari kantong sisi tasnya dan membuka sebuah gulungan. Peta. Sebuah peta. Naruto menaikkan alisnya perlahan.

"Apa yang kau lihat. Kita sudah tahu kan arah Pulau Okizawa?"

"Ya, dan kita harus melewati Laut Kaizeka. Salah satu yang berbahaya selain Segitiga Formosa."

"Itu tidak akan mengganggu kan?"

"Tidak," Sasuke menggulung petanya kembali dan onyx tajamnya menatap intens Naruto "Tapi di sanalah Tetranium berasal..."

Naruto menahan napasnya. Benar kata Sasuke. Di sanalah unsur itu datang. Di dalam laut yang gelap dan...

Naruto merasakan darahnya mendesir, tubuhnya sedikit panas dan bulu tubuhnya meremang.

"Ngg Sasuke,"

"Hn," Sasuke duduk di ranjangnya dan membuka handphonenya.

"Kau bertemu dengan orang tua yang baru keluar dari kamar tadi?"

"Ya, aku melihatnya. Kenapa?"

"Apa dia tidak aneh?"

Sasuke menatap tajam Naruto.

"Dia kru kapal yang berasal dari Pulau Okizawa.

Dan tubuh Naruto bergetar merinding.

.

.

.

Meja makan di ruangan itu begitu besar. Berbentuk segiempat dengan tepinya yang melengkung sehingga sudut-sudutnya menjadi halus. Beberapa makanan yang berasal dari laut dihidangkan secara lezat dan panas. Sepuluh botol minuman alkohol berkadar rendah disiapkan di samping gelas-gelas piala kaca. Saat seorang kru kapal meletakkan puding coklat sebagai penutup makanan nantinya. Sang nakhoda segera mengambil alih dan menepuk kedua tangannya dengan penuh gaya.

"Yak, makanan terakhir telah siap. Pertama-tama aku ucapkan terima kasih kepada para penumpangku untuk hadir di acara makan siang yang begitu mewah ini. Berterima kasihlah pada pemerintahan Jepang yang memfasilitasi kita kapal dan bahan makanan yang wow ini."

Beberapa orang tertawa mendengar kata-kata sang Nakhoda. Seekor anjing menggonggong di dekatnya dan Nakhoda itu mengambil sebuah ham sapi dan menaruhnya di bawah meja. Anjing putih tadi menggonggong senang dan segera memakan pemberian makanan dari Nakhoda itu. Nakhoda tersebut mengelus kepala anjing putih itu dengan gerakan lembut.

"Satu hal lagi, aku penyayang binatang, terutama anjing..." Nakhoda itu mengangkat kepalanya dan menatap semua orang yang ada di meja makan itu dengan sebuah cengiran "...Sebenarnya cita-citaku adalah sebagai pelatih profesional anjing, tetapi takdir menyuruhku menjadi sang kapten kapal."

Beberapa orang tertawa mendengar candaan sang Nakhoda. Nakhoda itu mendehem pelan dan menatap semuanya dengan serius.

"Baiklah, seperti yang dikatakan pemimpin perjalanan kita ini sekaligus sebagai ketua tim penelitian nanti di Pulau Okizawa..." Nakhoda terdiam sejenak. Wajahnya agak berubah ketika mengatakan nama pulau tersebut. "...Tuan Uchiha Sasuke, kita akan memperkenalkan diri di sesi makan siang ini dan sebagai acara pengakraban diri kepada teman-teman di sini,"

Nakhoda itu kembali berdehem pelan. Dia mengangkat topi Nakhodanya dan menaruhnya di atas meja. Terlihat rambut jabrik berwarna kecoklatan yang tadi ditutupi topi putih tersebut.

"Namaku Inuzuka Kiba. Kalian bisa memanggilku dengan Kiba ataupun Pak Nakhoda, pilih yang enaknya. Aku penyayang binatang terutama anjing dan bukan pemabuk laut."

Semua orang tertawa mendengar perkenalan Nakhoda Kiba. Naruto menggaruk kepalanya.

"Ano, Kiba-san. Bisa kita potong dulu dan lanjutkan dengan sesi makan?" tanya Naruto sambil memasang wajah memelas.

"Tidak boleh Dobe..." kata Sasuke dengan nada dingin. Naruto menepuk keningnya perlahan.

"Aku akan memperkenalkan diriku, mungkin kalian sudah tahu siapa diriku karena aku pemimpin tim ini," Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada "Namaku Uchiha Sasuke dan aku benci kegagalan. Tim kita dikirim ke Pulau Okizawa untuk menuntaskan segala masalah di sana, dan bukannya untuk menghilang juga..."

Suasana hening. Terasa mencekam. Kata-kata "menghilang" yang keluar dari mulut Sasuke nampak memberikan kesan horror tersendiri bagi orang-orang di ruangan tersebut.

"Naruto..." gumam Sasuke datar sambil melirik temannya tersebut.

"Eh, iya." Naruto menggaruk belakang kepalanya dan menyengir "Namaku Uzumaki Naruto, aku seorang Dosen di Tokyo University. Aku di sini sebagai dosen pembimbing Sasuke karena dia akan-"

BUAGH!

"Ups, kepeleset." Kata Sasuke datar dengan tangan, maksudnya kepalan tangan yang menempel di pipi Naruto. semuanya jelas-jelas langsung drop.

"Lanjutkan," kata Sasuke datar. Tanpa memperdulikan Naruto yang masih shock dengan gerakan maut Sasuke.

"Emm, namaku Haruno Sakura," kata gadis bersurai pink dengan mata emerald. Dia nampak sedikit gugup "Aku baru lulus dari Sekolah Kedokteran di Amsterdam University. Mo-mohon bantuannya..." gadis itu menutup perkenalannya dengan menghempaskan kepalanya di meja. Yang sepertinya gadis itu maksudkan adalah menundukkan kepala dengan sopan.

'Haruno Sakura. Cum laude dari Amsterdam University dengan nilai sempurna. Dokter muda yang amat sangat berbakat,' Sasuke tersenyum tipis 'Pemerintah telah mempersiapkan orang medis terbaik di tim ini...'

"Namaku Gaara," kata pemuda dengan surai merah dan tato 'Ai' di dahinya "Aku bekerja di Departemen Luar Negeri sebagai kepala koordinir di sana, terima kasih."

'Dia orang pemerintah.' Sasuke menatap tajam pemuda bernama Gaara tersebut '...Dan pakaian yang dia pakai, aku melihat label Resseciant Corp., perusahaan yang mendanai penelitian ini. Heh, menarik...'

"Hoaaam..." pria berambut nanas yang dari tadi menopang wajahnya dengan ekspresi malas kembali menguap. Dia mengedip-ngedipkan matanya sebagai tanda agar dirinya tidak tertidur.

"Namaku Nara Shikamaru, dari Lembaga Penelitian Nasional. Aku kepala bagian bidang penelitian lapangan. Hoaam, ini merepotkan dan salam kenal..." pemuda itu langsung menjatuhkan kepalanya di meja dengan kedua tangannya sebagai bantal.

"Orang ini, ilmuwan?" gumam Naruto dengan alis berkedut kebingungan.

"Ano..."

"Silahkan," kata Sasuke singkat saat orang yang terlambat tadi mengangkat tangannya berusaha memperkenalkan dirinya.

"Namaku Hatake Kakashi. Aku seorang Dosen dari Oxford University dan penulis. Salam kenal semuanya dan maaf aku terlambat karena-"

"CUKUP!" teriak yang lainnya. Kakashi langsung menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum tidak bersalah.

"Orang ini Dosen Oxford," gumam Naruto dengan mata terbuka lebar "Tapi, apa kau benar-benar Dosen?" tanya Naruto sedikit kurang ajar.

"Lalu buku apa yang kau tulis?" tambah Kiba sedikit menusuk hati.

"Iya, aku memang dosen nak," kata Kakashi santai, masih dengan senyumannya "Dan buku-buku yang kutulis adalah ini..."

Kakashi menunjukkan lima buku tebal nan besar, yang dia taruh di atas meja tadi. Semua mata membulat, terutama orang-orang universitas seperti Naruto, Sasuke, bahkan Shikamaru yang setengah tertidur tadi.

"Nama pena-nya adalah Low Jammery, kau penulis terkenal itu yang mengeluarkan lima jilid buku tentang ilmu kimia! Yang secara resmi digunakan sebagai referensi utama di universitas seluruh dunia!" teriak Naruto heboh.

Sasuke tidak dapat berkata apa-apa. Yang masuk ke pikirannya sekarang adalah tentang Itachi. Memori tentang Itachi.

"Lihat Sasuke, Nii-san baru membeli jilid terakhir dari buku karya Low Jammery,"

"Apa bagusnya?" saat itu Sasuke masih SMA dan Itachi mencapai semester 4.

"Buku ini sudah ditetapkan sebagai referensi utama di seluruh universitas lho!" kata Itachi dengan bangga.

"Hn?" gumam Sasuke acuh tak acuh.

"Dan bab terakhir di jilid terakhir ini sangat menarik. Low menuliskan tentang bab khusus alias ekstra. Judulnya adalah Tetranium..."

SSSP! Ingatan Sasuke berputar dan dia kembali ke dunia nyata. Onyxnya memandang sosok gadis bercepol dua yang tadi dipanggil komandan sedang memperkenalkan dirinya.

"Perkenalkan semua, namaku Tenten dan aku adalah Kapten dari satuan khusus 414 Japan Task Force, yang dikenal sebagai Unite Intellegent, terdiri atas 20 orang terpilih dari 414 Japan Task Force. Kami berlima perwakilan dari Unite Intellegent ditugaskan mengawal tim penelitian ini hingga kita mencapai tujuan kita dan pulang dengan selamat."

"YOO! SEMANGAT MASA MUDAAA!" teriak anak buah Tenten yang memiliki rambut bob. Tenten menepuk keningnya perlahan. "Giliranmu Lee..."

"PERKENALKAN MINNA! NAMAKU ROCK LEE DAN AKU ADALAH ANGGOTA REKRUTAN KE- 78 DARI 414 JAPAN TASK FORCE DAN PERINGKAT KE-3 DARI UNITE INTELLEGENT! MOHON BANTUANNYA TEMAN-TEMAN!"

Mata Sasuke melebar. Mereka bukan orang sembarang.

"Aku Akimichi Chouji. Rekrutan ke-89 dari 414 Japan Task Force dan peringkat ke-4 dari Unite Intellegent."

"Namaku Aburame Shino. Aku penggemar serangga dan rekrutan ke-24 dari 414 Japan Task Force, peringkat ke-2 dari Unite Intellegent..."

"Aku Utakata. Rekrutan ke-145 dari 414 Japan Task Force dan peringkat pertama dari Unite Intellegent. Salam kenal..."

"Jadi kalian pengawal-pengawal hebat?" tanya Naruto dengan wajah antusias. Tenten mengedipkan sebelah matanya dan mengacungkan jempolnya dengan semangat. Begitu pula dengan Lee.

"Tentu saja,"

Sasuke tersenyum tipis. Dia menepuk kedua tangannya dan memandang semuanya dengan tajam.

"Baiklah, waktunya makan." Kata sang Uchiha dengan nada datar.

"Uryeee!" teriak Naruto paling heboh. Tangannya langsung mengambil dua buah udang goreng tepung di dekatnya.

Sasuke memandang sup tomatnya. Terlihat sekilas bayangannya dan terlihat sekilas bayangan Itachi di belakangnya. Onyx Sasuke menajam.

'Tim ini pasti baik-baik saja!'

.

.

.

Setelah makan siang pukul 11 tadi, suasana di kapal pemerintahan Jepang itu kembali tenang. Walaupun sudah berkenalan saat sesi sebelum makan, pada saat makan hingga jam 12 lewat 45 menit ini, semuanya masih menjaga jarak dan bersikap sesopan mungkin untuk saling menyapa. Semuanya nampak saling mengawasi satu sama lain.

"Aku tak menyangka kita bertemu orang-orang hebat Teme,"kata Naruto dengan nada antusias. Dia dan Sasuke kini duduk berhadapan dan duduk di masing-masing ranjang.

"Tentu saja Dobe, kau sekarang berada di Tim khusus penelitian ini. Pemerintahan Jepang nampaknya tidak mau gagal lagi." Kata Sasuke dengan nada datar. Onyxnya menatap peta yang sedang dia genggam dengan kedua tangannya.

"Saatnya memasuki Laut Kaizeka..." kata sang Uchiha dengan nada sedikit merenung.

"Ah, masa bodoh. Setelah kenyang rasanya mataku mulai mengantuk." Naruto merebahkan dirinya di atas ranjangnya dan menaruh handphonenya di samping kepalanya. Naruto juga meletakkan kacamatanya di atas sebuah lemari kecil di samping atas ranjangnya. Dia menguap sejenak dan menutup matanya perlahan-lahan. Sasuke masih setia menatap peta tersebut seolah-seolah menunggu sesuatu. Nampak setetes keringat mengalir di pipi putih sang Uchiha.

"Permisi."

Terdengar ketukan pelan di pintu kamar mereka. Sasuke memandang datar ke arah pintu. Naruto membuka sebelah matanya dengan tatapan malas.

"Buka Sasuke,"

"Hn."

Sasuke segera bangkit dan membukakkan pintu kamar mereka. Shikamaru dari Lembaga Penelitian Nasional berdiri sambil menaruh tangan kirinya di kantong celana. Matanya menatap datar Sasuke.

"Hn, ada apa?"

"Aku mau bicara sebentar."

Sasuke dan Shikamaru nampak berjalan meninggalkan kamar. Naruto menutup matanya dan pikirannya yang sekarang bergema di otaknya adalah untuk tidur. Sasuke lupa menutup pintu kamar mereka, tetapi Naruto tidak memperdulikannya.

Terasa terlelap sepuluh menit di alam tidurnya, Naruto, antara sadar dan tidak sadar melihat bayangan seseorang pria tua menatapnya dengan mata menyala. Bayangan itu gelap. Nampaknya penglihatannya masih belum normal. Wajah yang terlihat kabur itu semakin dekat dengan wajahnya dan terdengarlah suara berat yang masih tidak terdengar jelas. Naruto masih merasakan dirinya mengigau.

"Bahaya dimulai..." kata pria itu.

DUKK!

Suatu benturan keras membuat tubuh Naruto berguling ke samping dan jatuh ke bawah. Dosen muda itu segera bangkit sambil memegang punggungnya yang sakit. Naruto menatap dengan cepat handphonenya dan mengambilnya dengan cekatan. Dia memegang wajahnya. Menepuk-nepuk kedua pipinya dan mengambil kacamatanya yang ada di atas sebuah lemari kecil di samping atas tempat tidurnya. Naruto memandang sekelilingnya dan dia rasanya melupakan suatu kejadian.

"Apa ya?" gumam Naruto kebingungan. Safirnya sedikit membulat.

"Oh iya, si Teme itu ke mana lagi dan..."

Tiba-tiba kapal bergoyang seperti diterpa ombak besar. Naruto menahan tubuhnya di tepian ranjang dan berdiri dengan gerakan terhuyung-huyung.

"Sialan! Inilah yang membuat orang-orang mabuk lautan!" Naruto segera berlari dari kamarnya dan berjalan dengan cepat menuju ke arah ruangan Nakhoda di lantai atas. Di lorong lantai bawah dia melihat kamar-kamar yang lainnya tertutup. Satu kamar terbuka. Naruto sejenak melirik kamar terbuka tersebut.

Kosong. Naruto menaikkan alisnya. Di atas sebuah dinding tergantung sebuah tas denga label Lembaga Penelitian Nasional.

'Milik si rambut nanas Shikamaru. Kamar dia kosong.'

Naruto berlari dengan cepat menaiki tangga karena suasana di lorong lantai bawah yang memang agak sedikit remang membuatnya menjadi agak merinding.

'Aku rasa pukul 1 siang tidak segelap ini' batin Naruto kebingungan 'Dan ini lebih gelap dari pukul 12 lewat tadi!'

Naruto menahan napasnya saat kakinya menapaki anak tangga teratas, safirnya dengan cepat berusaha menangkap aura lingkungan di sana.

'Ini sangat gelap, seperti malam!'

Dan langit yang berada di atas kapal sangat amat gelap, diikuti kilatan petir yang mengerikan dan hembusan angin kencang. Naruto tidak bisa berkata apa-apa dan dia merasakan jantungnya tak berhenti berdetak sangat kencang.

"Apakah aku masih bermimpi. Mimpi buruk?" gumam Naruto dengan wajah shock. Dia berlari dengan cepat menuju ruangan Nakhoda dan tubuhnya diterpa angin laut yang kejam.

"SHIT!" Naruto dengan cepat membuka ruangan tersebut saat sampai dan dia melihat Kiba melongo dengan wajah bodoh. Tangan kanannya memegang sebuah botol minuman alkohol.

"Oh Tuhan, apa aku kebanyakan minum? Kenapa langit menjadi seperti itu?" gumam Kiba dengan nada kebingungan.

Naruto meneguk ludahnya. Dia tahu pasti.

Dia sedang tidak bermimpi!

TBC