.

.

.

Kazuma House Production present…

Yuán

® 2014

.

.

.

"Kau kenapa?" tanya Shi Xun melihat Yixing termenung dengan mata menerawang.

"Ng?" Yixing segera merapikan posisi duduknya. "Tidak. Aku tidak apa-apa."

"Benar, kah?" Shi Xun masih terlihat tidak percaya, tapi ia tidak lagi mempermasalahkannya. "Ayo pulang. Sudah jam lima." Ia menunjuk jam tangannya. "Chen pasti menunggumu di rumah. Kasihan dia." Tangan Shi Xun sudah meraih tangan Yixing.

Yixing teringat dengan bisik-bisik gosip yang beredar belakangan ini. Mereka bilang Yixing sengaja mendekati Shi Xun agar jabatannya dipromosikan menjadi GM baru menggantikan GM Song yang dipindahkan ke perusahaan baru. Sebagian lagi malah mengatakan Yixing terlalu gatal ingin menikahi orang kaya karena bercerai dari suaminya yang miskin.

Sekalipun Yixing ingin sekali mengabaikan mereka—hell, siapa bilang mantan suaminya miskin?—tapi dia tidak bisa. Pikirannya tetap memikirkan hal itu hingga rasanya sakit.

"Mau aku antar pulang?" tawa Shi Xun melihat gelagat aneh atasannya.

Yixing menggeleng. "Tidak, terima kasih. Aku bawa mobil sendiri." Ia segera membereskan bawaannya dan mencangklekan tas LV miliknya ke pundak. "Dan Shi Xun," matanya memandang mata Shi Xun. "Bisakah seminggu ke depan kau tidak datang ke rumah?"

"Kenapa?"

Yixing tidak menjawab, hanya menggeleng. "Aku pergi duluan, ya?"

.

.

.

.

.

"UWAAAAA!" Chen berseru senang ketika badannya digendong sang ayah yang baru sampai di depan rumah. "Ya! Appa! Aku sudah besar!"

"Tapi kau senang, kan?" goda lelaki berusia 32 tahun itu sambil menggelitiki perut putranya. "Hayo!"

"Appa!"

Yixing tidak bisa tidak tersenyum melihat tawa Chen mengudara begitu ringannya. Sudah lama Chen tidak tertawa selebar itu. Sebagai anak, tentu saja ia pasti merindukan kehadiran ayahnya yang sejak dulu memang jarang pulang.

"Ayo masuk. Kalian bisa terserang flu bila terus-terusan di luar," kata Yixing.

Chen terlebih dulu masuk, menyisahkan dua orang dewasa itu saling tatap di ambang pintu. Junmyeon harus akui, mantan istrinya tetap cantik seperti dulu. Kulitnya masih putih mulus terawat, begitu pula rambut kecoklatannya yang bergelung di bagian bawah. Yixing benar-benar tipe ideal Junmyeon dari dulu hingga sekarang.

Yixing memecah kecanggungan itu. "Ayo masuk. Kau tidak berniat berdiri di luar semalam, kan?" Ia setengah bercanda.

Junmyeon mendengus geli. Ia merogoh kantung mantelnya lalu menyodorkan sebuah kotak hitam berpita ungu pada Yixing. "Happy failed 10th anniversary," katanya malah mengundang tawa Yixing lebih keras.

"Harus dirayakan?" tanyanya sambil menerima kotak itu. "Apa ini?"

"Appa! Mama! Cepat masuk! Aku ingin segera makan!" seru Chen dari dalam. Bocah lelaki itu sudah duduk di kursi meja makan dengan wajah sebal karena orang tuanya tidak kunjung masuk. Memangnya apa yang mereka lakukan di sana?

"Ya, sayang!" jawab Yixing. Ia menutup pintu mahoni tersebut.

Chen memperhatikan Appa-nya yang menyeret koper hitamnya menuju sebuah kamar di lantai satu. "Appa," panggilnya, "kenapa Appa masuk ke sana? Itu kan kamar tamu. Memangnya apa yang mau Appa lakukan di sana? Kamar Appa, kan di atas."

Junmyeon akui ia sangat bangga melihat putranya ternyata tumbuh menjadi seorang anak yang kritis. Tapi dalam beberapa kasus tertentu—seperti sekarang contohnya—ia tidak suka dengan sikap anaknya yang satu ini.

Otak cerdas Junmyeon dengan cepat merangkai alasan. "Mama bilang ada yang rusak di sana, jadi Appa mau mengeceknya."

"Tidak bisa nanti saja, ya?" tanya Chen dengan wajah masih di tekuk.

Diam-diam Junmyeon melirik Yixing yang mengangguk sekilas padanya. "Ya sudah. Kau dan Mama makan duluan, ne? Appa akan bersih-bersih dulu."

.

.

.

.

.

Malam itu berlalu dengan canggung. Tidur bersama di kamar itu terasa sangat janggal bagi Yixing dan Junmyeon yang memang sudah lama tidak saling berhubungan sejak palu hakim diketuk tiga kali, meresmikan perceraian mereka. Mereka sudah berjanji, apapun yang terjadi tidak akan memberitahu hal ini pada Chen sebelum usianya 21 tahun.

Junmyeon duduk bersandar pada kepala tempat tidur dengan tablet di depan wajah. Ia mengecek beberapa email baru. Matanya sesekali melirik Yixing yang terlihat serius bekerja di depan laptopnya.

"Menulis lagi?" tanya Junmyeon. Tidak mungkin ia melupakan impian kecil istrinya yang ingin sekali menerbitkan novel.

Yixing menoleh dari tempatnya bekerja. Ia tersenyum kecil. "Bukan. Ini presentasi untuk meeting besok."

Alis Junmyeon naik. Ia berjalan mendekat menuju punggung Yixing. Lengannya ia gunakan untuk bersandar pada pinggir meja, membuang Yixing terkukung diantara tubuhnya dan meja. Ia tidak tahu kalau Yixing sedang menahan napasnya.

"Kau… bekerja?" tanya Junmyeon. Napasnya yang seharum mint bisa tercium oleh Yixing. "Uang yang kuberi tidak cukup? Kau bisa bilang."

Lagi-lagi masalah uang. Yixing tidak pernah menyukai Junmyeon yang seperti ini. "Bukan. Uang darimu sudah lebih dari cukup untukku dan Chen. Aku hanya mau cari pengalaman. Sejak menikah denganmu, aku tidak kauijinkan bekerja, kan?"

Katanya jadi ibu rumah tangga lebih enak daripada bekerja kantoran. Tapi Yixing tidak pernah merasa demikian. Ia bosan hidup sebagai nyonya besar yang tidak melakukan apa-apa di rumah. Hanya bolak-balik ke salon dan butik sama sekali bukan gayanya.

"Sorry," bisik Junmyeon seraya menegakkan tubuhnya. "Omong-omong, kau sudah punya pacar baru?"

"Mwo?"

Junmyeon mengangguk. "Ya. Pacar baru. Kata Chen ada laki-laki yang sering ke sini. Apa dia pacar barumu?"

"Kau bercanda?" Yixing mulai paham arah pembicaraan ini. "Dia hanya temanku, oke? Lagi pula akan jadi apa kami nanti, memangnya kau peduli? Atau…" Yixing menggantung kalimatnya. "Kau cemburu?"

"Kalau iya bagaimana?"

Yixing tertawa keras. "Ayolah Junmyeon. Kau bisa menemukan perempuan lain yang lebih cantik dariku di luar sana." Yixing mematikan laptopnya lalu melangkah naik ke kasur. Junmyeong mengikuti dan ikut merebahkan diri di sisi lain kasur.

"Tapi tidak ada yang sebaik kau," katanya tanpa mengalihkan pandangan dari Yixing.

Yixing menyampingkan tubuhnya, menghadap tubuh mantan suaminya. "Kau pasti menemukannya nanti. Sekertarismu yang waktu itu juga lumayan. Namanya Kyungsoo, kan? Dia kelihatannya baik."

"Dan dingin," imbuh Junmyeon. "Kau harus melihat wajahnya saat kami interview pertama kali. Matanya yang bulat seperti mau keluar." Junmyeon mencoba memperagakannya dengan mata sipitnya.

"Mendapat banyak hiburan di tempat kerja, Tuan Kim?" tanya Yixing geli.

"Lumayan. Tapi masih lebih banyak tugas-tugasku," cerita Junmyeon. "Kepalaku hampir pecah memikirkan masalah sengketa lahan di Gwangju. Belum lagi korupsi yang dilakukan CEO Im di Asia Tenggara."

Yixing mendengarkan semua cerita Junmyeon dengan sabar. Sekalipun terlihat ramah dan supel, sebenarnya Junmyeon cukup tertutup untuk masalah-masalah pribadinya. Ia hanya akan berbagi pada orang-orang yang sungguh-sungguh ia percaya.

.

.

.

.

.

Pagi ini Junmyeon terbangun dan tidak mendapati sosok ramping itu berada di sampingnya seperti semalam. Ia memutuskan untuk keluar dan berkeliling rumah yang sejak dulu memang jarang mereka tempati. Rumah besar itu hanya sekali-sekali mereka pakai untuk berlibur. Dan sebenarnya, rumah besar itu hadiah ulang tahun untuk Yixing dari Junmyeon.

Ia berhenti di depan gym. Yixing sedang berlari di atas sebuah treadmill. Junmyeon memutuskan masuk dan mendekat ke arahnya.

"Rajin sekali," kata Junmyeon.

Yixing segera menghentikan laju roda-roda treadmill tersebut. Ia bersandar pada pegangan. "Kenapa? Kau harus melakukannya kalau mau tetap sehat di tengah kesibukanmu," katanya setengah menyindir kebiasaan Junmyeon yang tidak punya waktu untuk olah raga.

"Aku makan vitamin. Tenang saja," kata Junmyeon mudah.

"Kau tetap butuh olah raga, Junmian," kata Yixing memanggil nama China mantan suaminya. Yixing turun dari treadmill. "Kau bekerja hari ini?"

Junmyeon menggeleng. "Tidak. Aku akan menghabiskan hari ini dengan Chen. Sekalian aku berlibur."

"Dan istirahat," imbuh Yixing. "Suaramu bindeng." Sekecil apapun perubahan pada Junmyeon, Yixing akan selalu menyadarinya. "Kalau begitu aku ke dapur dulu, ne? Chen harus makan tiap pagi. Kalau tidak dia akan marah-marah."

Junmyeon terkekeh. Setelah Yixing melangkah ke dapur, ia pergi ke lantai dua menuju kamar putranya yang menghadap depan. Pintu kamar yang dicat putih ditempeli oleh tulisan "Jong Dae-eui Bang". Putranya itu memang Yixing biasakan untuk bicara bahasa Korea kalau di rumah. Bagiamanapun juga Chen berdarah Korea.

"Ireona, Jong Dae-ya!" panggil Junmyeon sambil ikut naik ke kasur putranya. "Jong Dae-ya!"

"Eung… lima menit lagi, Ma…" dengung Chen dengan mata masih tertutup.

"Tidak ada nanti-nanti, Jagoan." Junmyeon menggelitiki pinggang Chen membuat bocah itu belingsatan seperti cacing kepanasan. "Appa akan menggelitikimu sampai kau bangun."

"Hahahahaaa… geli, Appa!" seru Chen. "Aku bangun. Aku bangun!"

Junmyeon menarik Chen agar putranya duduk tegak. "Hari ini kau libur, kan?" Chen mengangguk. "Bagus. Karena Appa akan membawamu keliling Beijing seharian ini." Junmyeon bisa melihat raut wajah tidak percaya itu di wajah Chen.

"Serius?"

Junmyeon mengangguk. "Makanya. Sekarang cepat mandi lalu makan supaya kita bisa pergi lebih pagi." Junmyeon menggiring putranya ke kamar mandi yang ada di kamar itu. "Appa tunggu lima belas menit lagi di bawah."

.

.

.

.

.

"Buru-buru sekali," komentar Shi Xun manakala ia melihat Yixing memakai mantel warna khaki yang sejak pagi tersampir di punggung kursi. Shi Xun bersandar pada sekat meja.

Yixing tersenyum. "Aku ada janji dengan Chen malam ini. Kau tahu sendiri, dia tidak suka orang yang ingkar janji." Shi Xun mengangguk mengiyakan. "Aku pergi duluan, ya. Jangan lupa siapkan mentalmu untuk bertemu dengan client besok."

Sore tadi Junmyeon mengirimkan pesan singkat padanya untuk datang ke restoran bebek peking yang dulu menjadi tempat favorit mereka—sampai sekarang pun masih, tapi Yixing memilih menghindari tempat itu sejak perceraian mereka.

"Sayang," Yixing langsung mengecup pipi tembam Chen. "Sudah lama?" Ia mendudukkan diri di samping Chen.

"Tidak juga," jawab Suho bertolak belakang dengan jawaban Chen.

"Sangat lama, Mama!" Chen cemberut. "Appa tidak memperbolehkanku makan sebelum Mama datang. Kejam sekali, kan? Padahal Appa tahu aku sedang dalam masa pertumbuhan. Itu artinya aku butuh makanan lebih!"

Junmyeon tertawa melihat tingkah anaknya. Ia mengacak rambut hitam bocah itu. "Kau ini!"

Mereka mulai makan diselingi celoteh Chen tetang kegiatan seharian yang ia lalui bersama Junmyeon. Berulang kali ia hampir tersedak saking antusiasnya. Yixing maklum, Chen dan Junmyeon memang jarang sekali melewatkan waktu bersama layaknya ayah dan anak lain.

"Ya ampun, perutku rasanya ingin meledak," ujar Chen di mobil.

Junmyeon melirik putranya dari spion. Mata Chen mulai terpejam. Suara cemprengnya perlahan menghilang. Bocah itu tertidur dengan kepala bersandar pada kaca pintu. Kekenyangan membuantnya ngantuk.

"Kalian kemana saja?" tanya Yixing ingin tahu.

"Hm?" Junmyeon tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan. Jemarinya menggenggam roda kemudi. "Kau tidak akan mau tahu hal ini. Masalah laki-laki."

Wanita itu tidak lagi bertanya lebih jauh. Tangannya menarik karet yang mengikat rambutnya menjadi cepolan rapi. Rambutnya jatuh dengan lembut ke punggung. Ia pun menyandarkan kepalanya. Matanya melirik hujan yang mengguyur di luar. Hujan di musim gugur.

"Seperti dulu, eoh?" tanya Junmyeon memecah keheningan.

"Iya, seperti dulu," jawab Yixing lirih.

Sepuluh tahun lalu, di tanggal 11 November, Junmyeon melamarnya. Bukan lamaran mewah. Lamaran sederhana dengan cincin yang harganya juga tidak fantastis untuk ukuran seorang anak pengusaha. Tapi yang namanya diajak menikah, pasti menyenangkan, bukan?

Junmyeon dan Yixing tidak dapat memungkiri perasaan bahagia mereka saat itu. Apalagi dengan adanya lampu hijau dari kedua keluarga. Tapi tidak ada yang menduga semua kebahagiaan itu akan sirna setelah delapan tahun.

.

.

.

.

.

"Jie, tidak bisakah kau menemaniku?" pinta Shi Xun. "Bagaimana kalau aku salah berucap? Gege bisa memotong gajiku bulan ini."

Yixing memegang kedua pundak Shi Xun yang lebih tinggi darinya. "Wu Shi Xun, dengarkan aku. Kau bisa. Kau pasti bisa. Kau hanya perlu berkata seperti yang sudah kau siapkan. Presentasi di depan klien tidak seburuk itu."

"Tapi ini aku akan bicara dengan seorang big boss!" Shi Xun semakin panik.

"Lalu?" Alis Yixing naik. "Bukannya sama saja dengan bicara pada ayahmu?"

Jam sepuluh nanti Shi Xun harus berpresentasi di depan pemilik Perusahaan Xing dan kakaknya. Biasanya Yixing akan mendampinginya. Namun kali ini seperti sudah direncanakan kakaknya, Yixing diminta menangani klien di perusahaan lain.

Shi Xun menaik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan ketika melihat pintu bertuliskan "Presiden Direktur Wu". Ia tidak sadar sedang diperhatikan gadis mungil yang menjadi sekretaris kakaknya. "Kau gugup?"

Shi Xun menoleh. Ia tersenyum lirih pada Luhan. "Ya begitulah."

"Big boss Perusahaan Xing sudah di dalam. Dia terlihat ramah. Jangan tegang seperti itu," nasihat Luhan. "Shi Xun, ciayo!" Gadis manis itu mengepalkan tangan ke atas, memberi semangat pada Shi Xun.

Shi Xun menghembuskan napas dan mengangguk. Ia mendorong pintu kaca itu hingga terbuka. Di dalam sudah ada Yifan dan seorang laki-laki berwajah asia duduk di sofa sambil bertukar tawa. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.

"Eoh, kau sudah datang," kata Yifan sembari membenarkan posisi duduknya. "Junmyeon, perkenalkan. Ini salah satu staff marketing-ku yang mengurusi proyek Perusahaan Xing."

Kalau dulu tidak diakui sebagai adik mungkin Shi Xun akan langsung ngamuk pada kakaknya. Tapi setahun bekerja di sini membuatnya sadar dan akhirnya bisa menerima status mereka yang bagaikan langit dan bumi. Seperti majikan dan pelayan.

"Wo shi Wu Shi Xun. Nin hao," kata Shi Xun. Ia menjabat tangan Junmyeon. Seperti kata Luhan, orang bernama Junmyeon—namanya sulit sekali sih dilafalkan—tidak semenakutkan kakaknya. "Bisa kita mulai sekarang?"

Shi Xun mulai menjelaskan rencananya satu per satu. Mulai dari rute jaringan sampai proses pemasangan dan pemakaian. Hal itu cukup membuat Yifan menganggukkan kepala dan tidak memelototinya.

"Sebenarnya tanpa kau menjelaskannya aku sudah paham," kata Junmyeon dengan senyum di wajah. Bahasa mandarinnya sangat lancar, sayang saja namanya tidak terdengar seperti orang China kebanyakan. "Proposalmu sudah sangat rinci."

"Terima kasih." Shi Xun mengulum senyum.

"Berapa umurmu?" tanya Junmyeon lagi.

"Dua puluh tiga tahun." Alis tebal Shi Xun naik. Untuk apa orang ini menanyakan umurnya?

Orang itu saling melempar pandang dengan Yifan seolah mereka bisa telepati. "Kurasa dia sudah bisa kau pindahkan ke anak perusahaanmu. Penyampaiannya sudah sangat baik. Kau harus membiarkannya mandiri," kata Junmyeon dalam bahasa Korea.

Dalam hati Shi Xun menyesal tidak menuruti apa kata orang tuanya untuk belajar bahasa Korea. Kalau dia bisa bahasa Korea, mungkin ia sudah seperti kakaknya yang menguasai banyak bahasa dan mengerti apa yang baru saja pria itu katakan.

Yifan tersenyum tipis. "Kau bisa kembali, Shi Xun."

.

.

.

.

.

Sejak ayahnya pensiun dan memilih untuk menetap di Kanada, rumah besar itu sukses dikuasai oleh kakaknya. Bukannya iri. Shi Xun tidak pernah sekalipun iri pada kakaknya. Ia tahu, ia dan kakaknya memiliki bagian mereka masing-masing.

Hanya saja, Shi Xun paling sebal pada kakaknya kalau sudah umbar kemesraan di rumah. Tao, teman kuliahnya yang sebulan lalu resmi menyandang status sebagai kakak iparnya, memang manja. Anehnya, kakaknya yang dingin itu mau saja menuruti si Bocah Panda.

Shi Xun memutar mata melihat Tao duduk bersandar pada Yifan sambil main Cookie Run dari ponselnya. Tangan Yifan terlihat santai mengelus rambut hitam legam Tao yang dibiarkan terurai. Ia memilih meneruskan langkahnya menuju tangga.

"Shi Xun!" panggil Yifan dengan suara serak khasnya.

"Shenme?" Shi Xun bersandar pada railing. Ia lelah setelah tadi harus adu urat dengan pihak Jin Corp yang banyak maunya. Ia ingin segera tidur. "Kalau kau hanya mau aku menonton kalian ber-lovey dovey-ria, lebih baik kau membiarkanku angkat kaki dari sini sekarang."

Tao tertawa. "Sensi sekali. Iri, ya?" Ia mengeratkan pelukannya pada lengan Yifan.

"Aku sudah puas dipeluk olehnya selama belasan tahun," kata Shi Xun sekenanya. Tapi benar, waktu masih kecil dulu Yifan senang sekali memeluk Shi Xun. Katanya Shi Xun cantik.

"Sini kupeluk lagi," canda Yifan diikuti tawa Tao yang semakin nyaring. "Oke, oke, aku hanya mau memberikanmu ini." Yifan menyodorkan sebuah amplop putih.

Shi Xun penasaran. Ia melangkah mendekat pada ruang tengah dan mengambil ampop tersebut. Tanpa bertanya, ia membuka isinya, menemukan selembar surat di sana. "Kau bercanda…" ia berdesis. Ia berulang kali membaca hanzi di sana. "Kau bohong, Ge!"

"Kapan aku main-main soal pekerjaan?" Yifan senang melihat adiknya kini tersenyum lebar.

Tanpa peduli akan kehadiran Tao, Shi Xun langsung memeluk kakaknya erat sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali. Dari luar Shi Xun mungkin sudah tumbuh menjadi remaja dewasa. Tapi bagi Yifan, Shi Xun tetaplah Shi Xun, adiknya yang manis.

.

.

.

.

.

To Be Continue…

2.511 words

Uwaaa… makasi banget buat responnya^^ Dan bener, di sini SuLay nya emang udah cerai. Tapi di chap selanjutnya, aka chap terakhir, bakal dijelasin kok kenapa SuLay cerai ^^

Thanks to : kodok terbang, exindira, selvian .summer, 71088wolf, Ami KeyByun, chenma, Park Oh InFa FaRo, lulu-shi, BabyMoonLay, oomgirang, wasastudent, nur991fah, HealersXing, the-dancing-petals, AbigailWoo, bubblechanbaek, jinahyoo, huhuh, Snowglow, Clover, aquamarine, Icha834, dan semua yang nyempetin baca, fave, dan alert. Muach~ :*

Sign,

Uchiha Kazuma Big Tomat

Finished at :

April 15, 2014

06.47 P.M.

Published at :

April 25, 2014

10.31 P.M.

Yuán © Kazuma House Production ® 2014