Author : Nam Rae-in
Cast : Do Kyungsoo (D.O), Kim Jongin (Kai), KaiDo
Support Cast : Cari sendiri :p wkwkwk(s)
Genre : Romance, AU, Fluff, Yaoi, Sad, Angst, Tragedy. Author bingung :D
Length : Masih gelap, hahaha.
Ratting : T = Terserah :D wkwk
N.A : Author rusuh kembali permisa.. siapa lagi kalau bukan Raein.. *Moong.. wkwkwk ini adalah ff pertama YANG SAYA AKUI bener-bener gaje bin abal (?) jadi nih ff itu ceritanya gimana yaa? Author sendiri juga bingung ahahaha :D pokoknya nih ff nista banget deh,:D wkwkwkwk, ini ff entah mau di buat sequel atau enggak, tergantung mood author seeh hahahaha :D baiklah baiklah, intinya ini ff nistaa permisaa.. *iyeh thor, bawel lu ah~! Hohohoho langsung aja deh, happy reading readers.. ;)
N.A Tambahan : Whatever what do you want to be. I just wanna say, please don't be PLAGIAT and SIDER~! 100% dijamin asli dari otak criminal Raein..
Don't Like?
Just Leave~!
NamRaein_1106
—oo—OO—oo—
"Katakan pada Chanyeol, di mana Baekhyun sekarang."
Kyungsoo hanya terdiam dan tidak berusaha menjawab perintah kategori wajar dari Jongin.
Kyungsoo hanya terdiam ketika Jongin dengan panik mengatakan itu, dan hal ini semakin membuat Jongin yakin, tidak hanya pikirannya saja yang menganggap bahwa dunia nyata boleh tidak masuk akal, tetapi dunia fiksi harus masuk akal. Lalu sekarang mereka sedang berada di dunia mana? Fiksi—bawah alam sadar—atau mereka sedang berada di dalam dunia nyata? Lalu bagaimana jika semua yang terjadi di bawah alam sadar terjadi di dunia nyata?
Sesuatu memang benar sedang terjadi terjadi…
Terawang di dunia fiksi dan benar-benar terjadi di dunia nyata.
—In The Middle Real and Fiction—
"Kita harus pergi ke apartemen Luhan sekarang juga." Ujar Jongin dingin seraya menarik tangan Kyungsoo menuju mobil Lexus hitamnya yang ia parkirkan di parkiran sekolah.
Kyungsoo hanya bisa menyeret langkah beratnya ketika Jongin membawanya masuk ke dalam mobil. Perasaan Kyungsoo serasa kebas, benar-benar kebas malah. Seperti halnya mimpi, otak Kyungsoo dan Jongin masih bekerja, tetapi situasi yang mengendalikan.
"Jongin, apa yang harus kita lakukan?" ujar Kyungsoo lirih di sela-sela langkahnya menuju mobil Jongin.
Jongin hanya menghela napas dengan terus melanjutkan langkahnya. "Aku juga tidak tahu." Jawabnya dengan nada putus asa. "Aku harap mimpi itu salah." lanjutnya dengan nada lirih.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan Luhan? Hanya pikiran itu yang terus berputar di kepala Kyungsoo ketika ia dan Jongin sudah masuk ke dalam mobil, dan ia yakin Jongin mempunyai berpikiran yang sama dengannya.
Awalnya, Luhan hanya tidak mengahadiri kelas selama 3 hari berturut-turut. Luhan bukanlah seorang yang tertutup, dia cenderung terbuka kepada siapa saja. Bahkan hal sekecil apapun, Luhan akan menceritakannya.
Pada awalnya hal ini berjalan sewajarnya, tetapi semakin tidak wajar ketika hari ketiga Luhan tidak masuk, Kyungsoo sudah berusaha menghubunginya tetapi ponselnya selalu dalam keadaan tidak aktif, begitu juga dengan Baekhyun ketika berusaha menghubungi Luhan.
Kyungsoo dan Baekhyun, adalah teman yang terbilang cukup akrab dengan Luhan, walaupun dari segi pandang Baekhyunlah yang lebih mengenal Luhan, karena yah, Baekhyun dan Luhan sudah dekat semenjak mereka kecil, sementara Kyungsoo baru akrab dengan Luhan ketika mereka memasuki sekolah menengah atas.
Walaupun begitu, tidak ada masalahnya kan jika Kyungsoo ikut khawatir dengan Luhan?
Kyungsoo terus-menerus menerawang pikirannya. Hingga ia berhasil mendapatkan sesuatu yang terus mengganjal pikirannya. Benar. Mimpi, itulah yang membuat pikirannya tidak tenang selama beberapa waktu akhir ini.
Sebuah mimpi yang menuntunya pada lorong gelap dan berujung pada sebuah ruangan, di mana ia menemukan sekujur tubuh yang ia yakini sudah tidak bernyawa. Di sana—di alam mimpi—Kyungsoo berdiri di pojok ruangan, sementara ia melihat dirinya sendiri berjalan mendekat ke arah mayat itu.
Seperti membeku, Kyungsoo hanya bisa melihat replika dirinya berjongkok di sebelah mayat itu dengan sebelah tangan menutup mulut. Kyungsoo tahu replika dirinya sedang menahan rasa terkejutannya, tetapi sesaat kemudian ia melihat replika dirinya mengulurkan sebelah tangan dengan gemetar kemudian menyibak rambut yang menutupi wajah mayat tersebut.
Dengan jantung yang serasa hampir saja lepas dari tempatnya Kyungsoo terus memperhatikan pristiwa itu tanpa bisa bergerak sedikitpun. Ini di alam mimpi, dan kenapa aku tidak bisa bergerak. Pikirnya pada saat itu.
Secara tiba-tiba, Kyungsoo melihat replika dirinya jatuh terduduk tepat di sebelah mayat itu, Kyungsoo tidak tahu kenapa replika dirinya tiba-tiba menangis, menangis dengan histeris. Dan ketika replika dirinya di alam mimpi menangis, pendengaran Kyungsoo masih terlalu tabu untuk mendengar isakan ini, isakan yang membuat tubuhnya lebih terasa kebas dan beku.
"Lu.. Luhan, bangun.."
Kyungsoo mendengar itu, seketika badanya terasa remuk. Jadi mayat itu Luhan? Luhan? Benarkah? Pikirnya kacau. Ini mimpiku, jadi aku mohon, biarkan aku mendekati mayat itu untuk memastikan bahwa itu bukan Luhan, tidak mungkin Luhan sudah meninggal. Teriak Kyungsoo entah kepada siapa ketika mendengar replika dirinya terus mengucapkan nama Luhan.
Ingatan Kyungsoo cukup kuat, ia terus berusaha mereka ulang kejadian setelahnya.
Arah pandang Kyungsoo kembali fokus ketika melihat replika dirinya sedang berdiri seraya mengeluarkan ponsel yang ditaruh di dalam sakunya. Bayangan seseorang mulai muncul dari balik pintu di belakang replika dirinya.
Ruangan ini gelap, dan hanya ada cahaya bulan yang menyinari. Bayangan itu membentuk sosok tinggi, dengan lengan yang kokoh, bahkan Kyungsoo yakini tingginya hanya sebatas bahu sosok itu. Bayangan itu terlihat sangat jelas mana kala ia berada tepat di belakang replika Kyungsoo tetapi cahaya bulan yang remang hanya sanggup menyinari setengah badan dari sosok itu. Sekuat yang ia bisa, Kyungsoo berusaha berteriak tetapi yang ada dirinya hanya terdiam.
Dan, napas Kyungsoo tercekat ketika ia melihat dengan mata kepalanya sediri bayangan itu membungkam mulut dan menarik rambut replika dirinya kebelakang dengan kasar, tepat pada saat itu Kyungsoo merasakan sakit seperti yang dirasakan replika dirinya di alam mimpi. Semua terjadi begitu nyata, termasuk rasa sakitnya.
Pendengaran Kyungsoo mendengar teriakan yang memanggil nama Jongin, ia tahu replika dirinya lah yang memanggil nama itu, tapi di mana Jongin? Dirinya hampir mati sekarang, dan tepat pada teriakan ketiga, sosok itu mulai memukul tengkuknya dan pada saat itu juga Kyungsoo melihat dirinya merosot jatuh kemudian tubuhnya serasa kebas, sesaat kemudian pandangannya kabur.
Sebelum pandangannya lenyap, ia sempat melihat sosok itu menoleh ke arahnya dengan senyum tipis berujung pada seringai dan tatapan datar yang serasa menusuk. Sesudahnya Kyungsoo terbangun dari mimpi. Sebuah mimpi buruk, sangat-sangat buruk.
"Lu.. Luhan." Kyungsoo bergumam dengan nada lirih.
Kedua manik Kyungsoo tetap terpejam, karena ia masih menyelami pikirannya, ia harus ingat dengan wajah itu, walaupun mimpi itu sudah terjadi tiga hari yang lalu, Kyungsoo tetap mengingatnya dengan detail, kecuali tatapan dan senyum tipis berujung pada seringai itu.
Secara perlahan manik Kyungsoo terbuka, memperlihatkan bola mata milik dirinya yang hitam dan menatap lurus ke arah depan. Pandangannya tidak tajam, hanya seperti menerawang. Lagi-lagi menerawang. Tidak ada hal lain yang bisa Kyungsoo lakukan saat ini.
"Bagaimana jika semua mimpi itu benar?"
Jongin yang sedang menyetir tiba-tiba mengernyitkan dahinya ketika mendengar pertanyaan Kyungsoo.
"Apa katamu? Tidak mungkin," jawab Jongin keras kepala. Walaupun Jongin tahu, dirinya juga mendapat mimpi yang sama dengan Kyungsoo, tetapi ia tidak suka membuat kesimpulan negative sebelum mendapat kenyataan yang real.
"Aku hanya tidak yakin." Ujar Kyungsoo dengan nada lebih lirih.
Jongin menghela napas dan menginjak pedal rem mobil setelah lampu merah menyala. Ditatapnya wajah Kyungsoo yang sedang menunduk seraya memainkan jari-jarinya. Jongin tahu, walaupun mimpi yang mereka dapat selalu sama, tatapi Jongin lebih tenang jika dibanding dengan Kyungsoo. Jongin hanya berusaha bersikap tenang, karena itu jalan satu-satunya untuk membuat keadaan tidak semakin buruk.
Tangan Jongin yang semula berada di kemudi kini berpindah menyentuh jemari Kyungsoo yang sudah memerah karena terus-menerus ditekan oleh Kyungsoo. Kemudian ia mendekatkan dirinya pada Kyungsoo dan mengecup pipinya.
"Tenang, aku mohon tenang Kyungsoo chagi-ya." ujarnya lirih.
—oo—OO—oo—
Kyungsoo membuka pintu mobil dengan gerakan cepat, kemudian ia mulai berlari ke arah kerumunan di depan gedung apartemen Luhan, tanpa memperdulikan Jongin yang terus meneriakkan namanya dari belakang.
Kyungsoo membuka pintu lobi gedung apartemen kemudian menghampiri Baekhyun yang sedang menangis tersedu di samping Chanyeol. Jadi benar. Pikir Kyungsoo kalut dalam hati. Sesaat kemudian Jongin datang dengan keringat dingin yang sudah bercucuran di kening dan tengkuknya. Pandangannya tidak jauh dari apa yang dilihat Kyungsoo.
Kyungsoo menghapus kilat air matanya kemudian menyentuh pundak Baekhyun. "Baek—Baekhyun, apa yang terjadi?" tanyanya. Hal ini sebetulnya tidak perlu ditanyakan, karena Kyungsoo sudah tahu akan jawabannya.
Baekhyun mendongak dan menatap Kyungsoo, walaupun pandangannya buram karena air mata. "Lu—Luhan meninggal." Jawabnya.
Tepat pada saat itu Kyungsoo memejamkan matanya membiarkan air mata mengalir begitu saja. Dugaannya benar, dan mimpi buruk itu benar. Kemudian badanya merosok, ia serasa tidak memiliki tenaga lagi.
Jongin dengan sigap menahan bahu Kyungsoo dan membawanya duduk di kursi lobi apartemen.
Pandangan Kyungsoo masih menjelajahi setiap sudut lobi. Di sana, di depan lift terlihat Kris—salah satu teman Luhan dan dirinya—sedang berbicara serius dengan beberapa orang polisi yang sepertinya meminta keterangan.
Kemudian pandangannya berganti ke arah tepat di depannya. Baekhyun dan Chanyeol. Baekhyun terlihat menangis tak henti-hentinya di samping Chanyeol. Kemudian ia menatap tepat pada mata Chanyeol.
Seketika badanya menjadi menegang.
"Chagi-ya? Kau tidak apa-apa?" tanya Jongin ketika mendapati perubahan pada diri Kyungsoo. Kyungsoo mengabaikan Jongin dan tetap fokus pada kedua mata Chanyeol.
.
.
Pandangan itu.. Benarkah? Chanyeol?
.
.
…
—oo—To Be Continue—oo—
…
Uyeaaaah~! Bisakah kalian menebak siapa pembunuh Luhan?
Last word
REVIEW PLEASE~! :D
