Ohayou! Konnichiwa! Konbawa!

.

Maaf untuk segala kesalahan di chapter lalu! Hontou ni gomenasai… (_._)

Makasih untuk semua review, anceman/ngingetin update, concrit yang sangat berguna buat Light, juga alert/fave! Arigatou gozaimasu! ^_^

Akan terasa sedikit kejanggalan karena tata bahasa, well—lagi-lagi pake bahasa yang nyaris nggak baku, terus kalimatnya berantakan ala bahasa lisan zaman sekarang!

Dozo, Minna-sama!

Disclaimer:

Masashi Kishimoto

.

Warning:

Alternate Universal, very Out Of Character, a little typo and plotless, full of gajeness and lebayness also gombalisme, POV changing.

.

Italic: flashback

.

Skip time menuju ke perlombaan, sengaja kok sengaja. XDD biar nggak terlalu membosankan.

.

Have a nice read! ^_^

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

#~Last Chapter~#

.

"Kalian tahu? Saingan kita tidaklah mudah… Tapi, setidaknya harus berjuang! Jangan maju bila takut-takut, oke?"

"KITA AKAN BANGGAKAN GURU KAKASHIII! GOOO~ NAKAMAAAA! ALL FOR ONE AND ONE FOR ALL!"

.

#~**~#

Listen to Your Heart

.

Chapter 2

"Mengganggu untuk Mengingatkan"

.

By: Light-Sapphire-Chan

#~**~#

.

Hari ini hari Rabu, tandanya waktu perlombaan sudah dimulai. Setelah mengikuti pengarahan kemarin, di kelas 11-3 saat ini, Hinata sedang mengutak-atik catatan jadwalnya agar bisa melatih teman-temannya, menonton dan mendukung pertandingan teman-temannya, sekaligus supaya jadwal pertandingannya tidak terganggu.

"Hinataaaaaa!"

Seruan yang memanggilnya itu membuat Hinata mengangkat kepalanya, Sakura masuk ke dalam kelas bersamaan dengan Sasuke. Membuat Hinata mengembangkan senyum tipis. "Ada apa, Sakura? Sasuke?"

"Sudah waktunya perlombaan debat, kita diminta memasuki kelas 12-8. Lomba akan diadakan di sana," jawab Sasuke datar.

"Eh? Dikasih tahu topik perdebatannya tidak?" tanya Hinata yang membereskan peralatan tulis dan buku catatannya ke dalam tas ranselnya.

"Nggak." Sakura menggeleng. "OSIS sebegitu pelitnya… Nanti setiap peserta yang bertanding, akan diberitahu sebelum mulai bertanding. Topiknya berbeda-beda!"

"Yang lain pada kemana, Hinata?" tanya Sasuke yang mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas.

"Sudah pada keluar, kan debat pagi ini, bersamaan dengan lomba Akunting dan Sejarah. Yuk, kita pergi…" Hinata memakai tas ranselnya. Bersamaan dengan Sakura, kedua gadis itu mengejar langkah panjang Sasuke yang keluar kelas mendahului mereka.

"Yo, Sasukeee!"

Hinata dan Sakura yang baru keluar kelas tertegun. Lagi-lagi para Penghalang Koridor sudah stand by di 'tempat' mereka. Dan yang buruknya, mereka teman-teman Sasuke.

"Sasukeee~ sama dua cewek cantik! Mau kemana, Bro? 'Jalan' sama dua cewek sekaligus? Maruk banget…" Goda sahabat Sasuke yang sekaligus merupakan rivalnya juga.

Atau, yang Hinata kenal sebagai orang termenyebalkan di koridor kelas 11 unggulan Yup, Naruto Uzumaki.

"Ada angin apa Kau bilang kami cantik?" tanya Sakura curiga.

"Kenapa? Kau lebih suka sebutan yang lain, Nona?" tanya balik Naruto dengan cengiran jahil menyebalkannya—setidaknya itu pendapat Hinata.

"Minggir, Naruto. Kami bertiga akan ikut lomba debat di kelas 12-8. Bukankah Kau juga ikut, Naruto?" Sasuke melirik Hinata dan Sakura yang berdiri di belakangnya.

"Aha~ kalau begitu, kita bareng saja! Aku, Kiba dan Amaru-chan juga akan ikut lomba debat! Wah, kita jadi musuh, ya!" Naruto nyengir lebar. Kiba dan Lee berdiri menghampiri Naruto.

"Huwaaa~ Sas! Tak kusangka Kau akan bersama Sakura-cantik dan Hinata-manis!" seru Lee semangat dengan senyum lebar.

"Ahaa~ Miss Jutek berdahi lebar dan Miss Gagap Pretty Big Fatty—"

Sakura segera menggeser Sasuke ke samping dengan kasar. "Berhenti bicara, Kiba!"

"Tapi yang dikatakan Kiba ada benarnya," kata Naruto seraya mengernyitkan keningnya.

"Tak usah kita ladeni, Sakura," ucap Hinata pelan. Walaupun sebenarnya ia sendiri kesal.

"Hinata… Perlu berapa kali aku beritahu kalau itu perlu diberi 'pelajaran'?" seru Sakura sebal menatap sahabatnya.

Naruto terkekeh-kekeh. "Kau sepertinya tidak bisa berekspresi banyak, ya, Miss Gagap Pretty Big Fatty? Apa jangan-jangan mukamu juga rata seperti hantu dalam buku dongeng? Huuuuu~~" Naruto membuat ekspresi sok menyeramkan sambil melambai-lambaikan tangannya seolah dia menjelma menjadi hantu, ledakan tawa memenuhi koridor. Naruto sendiri ikut terkekeh-kekeh.

Sakura mendengus kesal dan sudah menggulung lengan kemejanya, tapi Sasuke menahannya sambil menggelengkan kepala. Membiarkan Hinata berdiri di depan mereka dengan kepala tertunduk, namun gadis itu akhirnya mendongak, terlihat siswi yang selalu mengenakan jaket itu menyunggingkan senyum manis yang terasa mengancam.

"Ka-kalau mukaku memang rata tidak berekspresi, bu-bukankah seharusnya ka-kalian semua lari dari sini sekarang juga?" tanya Hinata agak terbata-bata, tetap sopan namun tajam.

Naruto menghembuskan napas panjang. "Apa kami sebegitu bodoh dan memalukannya apa sampai takut dengan hantu aneh sepertimu? Oh, kami takut kau nanti gagap kembaliii!" Teman-teman pemuda berambut pirang itu tertawa kembali.

"Aku bukan hantu," kata Hinata pelan. "Bukan juga orang bodoh yang menghalangi jalan dan merugikan orang lain."

Hening menelan suara tawa yang tadi sempat terdengar, seketika koridor terasa sunyi mencekam, semua dikarenakan mata mereka masing-masing tertuju pada Naruto yang menghampiri Hinata dengan air muka yang tidak terbaca, begitu pula Hinata.

Hinata mundur mendekati kedua temannya, namun mata ungu mudanya tak lepas bertatapan lurus dengan mata biru Naruto.

"Apa yang kau katakan tadi?" tanya Naruto tajam.

"Aku tahu dengan sangat jelas kalau kau dan mereka pasti mampu mendengar kata-kataku," jawab Hinata dengan tangan terkepal erat. Berusaha mengusir rasa takut yang menjalari tubuhnya karena tatapan Naruto yang seolah mengintimidasi.

Sakura baru saja mau memberikan sedikit 'pelajaran' pada Naruto yang menjepit sahabatnya. Sasuke menahan Sakura lagi, dengan mengangkat lengannya. "Kau ini jadi cewek garang banget. Sudahlah, talkless do more. Lebih baik kita segera ke kelas 12-8. Kita selesaikan saja di sana."

"Kalau debat kan kebanyakkan bicara, Sasuke! Kau ini bagaimana, sih?" omel Sakura yang menyentak lengannya dari Sasuke.

Sasuke mendekatkan wajahnya pada samping kepala Sakura, dan berbisik tepat di telinga gadis itu. Sakura mengangguk-angguk. Lalu tersenyum lebar. Dan kemudian membisiki Hinata.

"Aku setuju," ucap Hinata pada teman-temannya.

Hinata berjalan maju, dan orang yang sama itu lagi menghalangi koridor. Oh, great. Sudah koridor diduduki anak-anak kelas 11 unggulan, sekarang malah pemimpinnya berdiri menghalangi jalan Hinata. Apa yang mereka inginkan? Pikir Hinata nyaris memasuki tahap kesal.

Hinata memutar kedua bola matanya. Lalu menunduk sopan dan formal. "Permisi, kami ingin lewat."

"Santai saja, Miss Gagap Pretty Big Fatty, kita kan akan bersama-sama pergi ke kelas 12-8," ucap pemuda pirang di hadapannya.

Sepasang mata beriris lavender milik Hinata menyipit. "Aku tidak tahu apa kau bisa sopan terhadap seseorang atau tidak. Kalau begitu, untuk apa kau berdiri di hadapanku? Kalau memang kita akan pergi bersama, biarkan aku lewat, karena aku tidak mau aku dan Sakura juga Sasuke terlambat untuk mengikuti lomba."

Naruto menyeringai—terlihat menyebalkan di matanya. "Tidak usah marah dong~ Miss Gagap Pretty—eh, OIII!"

Hinata yang tidak mau buang-buang energi, memegang lengan kanan Naruto, menariknya ke samping, dan tanpa mengatakan apapun, ia melewati semua anak cowok yang segera menarik kakinya agar Hinata dapat lewat. Raut wajahnya tak terbaca, sungguh tak dapat dipercaya jika dia adalah seorang Hinata yang lemah lembut dan pemalu.

"Duuuh~ tuh cewek aku kira lemah lembut. Ternyata garang bangeeet!" ucap Naruto sembari mengelus-elus lengan kanannya yang ditarik Hinata gadis tadi.

"HINATAAA! Tungguuuu kamiii!" seru Sakura. Gadis itu nyengir senang penuh rasa puas terutama pada Naruto, setelah menjulurkan lidahnya sambil mengedipkan sebelah mata, ia berlari kecil mengejar Hinata.

Sasuke menyeringai tipis. "Dia tidak mudah digodakan, eh, Naruto?"

Naruto mendengus tertawa. "Yeah… Kau benar, Sasuke. Ayo kita ke kelas 12-8 saja! Nanti 'pacar-pacar'-mu yang cantik itu pada marah lagi!"

.

#~**~#

.

Hinata dan Sakura kembali ke tempat duduk mereka setelah melihat bagan jalannya lomba debat, mereka dapat jatah melawan kelas 11-3. Kelas kesayangan para guru. Sasuke tidak ikut dengan mereka, pemuda itu lebih memilih menjagakan tempat duduk kedua gadis tersebut. Bukannya tidak mau ikut, masalahnya, bagan jalannya pertandingan itu ditempel di pintu kelas 12-8. Dan di daerah sekitar pintu, ada banyak cewek-cewek ganas yang dapat 'menyerang'-nya—bukan sombong, namun itu memang kenyataan.

Sakura memutar kedua bola matanya kesal. "Tahu tidak, Hinata? Aku merasa aneh. Grup debat kan biasanya tidak dihampiri cewek-cewek berisik itu! Biasanya tuh mereka pada nongkrong di tempat lomba Konoha Idol, atau dance! Sejak kapan mereka jadi ke sini?"

Hinata terkikik geli. "Maksud Sakura, pasti karena Sasuke, ya?"

Mendengar namanya yang disebut, Sasuke yang duduk dekat dengan jendela di pojok kelas, melirik kedua gadis yang daritadi bersamanya.

"Aha~ pasti gara-gara Sasuke! Cih~ menyebaaalkan!" gerutu Sakura. "Sasuke! Bagaimana kita mau debat kalau berisik begini?"

"Adanya juga kau yang berisik, tutup mulutmu! Ikuti saja jalan debat, pelajari karakter peserta lain, dan siapa tahu saja kita nanti akan tahu cara penilaian misterius para juri," kata Sasuke menenangkan.

Sakura mengerucutkan bibirnya, kata-kata umpatan untuk pemuda yang duduk di sebelah Hinata ini terlontar begitu saja dari sudut mulutnya. Hinata hanya tersenyum geli melihatnya. Sementara Sasuke menyandarkan kepalanya pada jendela, terlihat matanya terpejam, seakan pemuda itu ingin tidur sesaat.

Ruang kelas 12-8 yang tersambung dengan ruang kelas 12-7 dan 12-6, membuat ruang bagi peserta debat itu semakin lebar. Ketiga kelas itu hanya terpisahkan oleh pintu geser. Kelas 12-8 sendiri digunakan untuk acara debat, di tengah kelas tersebut, terdapat meja penjurian. Seperti namanya, di meja inilah para juri yang merupakan guru-guru, duduk menghadap arena debat. Yang dimaksud arena debat, adalah dua meja yang saling berhadapan, dan masing-masing terisi tiga bangku.

Di samping kanan-kiri dari arena debat dan meja penjurian, terdapat bangku beserta mejanya yang digunakan oleh panitia acara dari OSIS. Mereka ada untuk membantu jalannya acara dan penjurian, serta mendokumentasikan kegiatan lomba ini.

Di belakang dan di depan meja penjurian, di situlah para peserta lomba debat ikut. Sebelumnya, para peserta ini membantu menumpuk meja di sudut kelas 12-6 dan 12-7. Lalu menjejerkan bangku-bangku untuk mereka duduki sendiri, menunggu jalannya lomba debat ini.

Ketiga ruang kelas yang menyambung menjadi satu itu semula ramai dengan celoteh riuh siswa-siswi yang mengobrol. Namun, ketika dua juri yang merupakan guru IPS dari kelas 10 dan 11 memasuki ruangan, seisi ruangan bungkam.

Senyum terkembang di bibir Hinata dan Sakura, keduanya saling berpandangan senang. Tak seperti yang mereka takutkan, ternyata bukan guru Tsunade yang menjadi salah satu juri seperti kasak-kusuk gossip yang terdengar di sekitar mereka! Guru Kotetsu dan guru Izumo!

Sasuke membuka mata sesaat, tidak berminat. Ditolehkannya kepalanya ke samping kiri, kedua rekan ceweknya sedang berbisik sambik terkikik geli. Entah apa yang mereka tertawakan.

Sasuke mengedarkan pandangannya, hingga matanya bertemu tatap dengan kedua mata biru sahabatnya yang bersinar riang. Naruto melambai padanya. Sasuke memutar kedua bola matanya. Dan di seberang sana, Naruto mengumpat entah apa. Sasuke menyeringai.

Sasuke sadar sekali, sahabatnya yang aneh itu sedang mengamati gadis yang duduk di sebelahnya. Jangan harap dia bisa mendekati dua orang gadis yang menjadi rekannya sekaligus sahabatnya selama ada dirinya!

Kedua guru itu memberikan tanda pada MC acara debat. Dan sang MC tunggal yang berasal dari OSIS berjalan ke sebelah meja penjurian, di mana terdapat mike yang kini telah berpindah dari meja juri ke genggamannya.

"Selamat siang, teman-teman semua!" sapa pemuda dengan dandanan nyentrik itu. Semua mengenalinya sebagai kakak kedua dari Gaara, adiknya Temari. Dan gemuruh suara merespon sapaan Kankurou.

Tunggu. Penulis lupa memberitahu bahwa tiga Sabaku bersaudara ini merupakan saudara kembar. Dan jeritan tak percaya bergaung di mana-mana. Mereka memang tidak ada mirip-miripnya sama sekali, bukan? Disinyalir mereka adalah tiga bersaudara yang lahir nyaris di waktu yang sama dalam satu, dan hanya satu dari mereka yang merupakan anak kandung orang tuanya, dan dua lainnya hanyalah anak adopsi.

Mungkin kalian masih penasaran sama tiga Sabaku bersaudara ini. Tapi, suatu saat nanti entah kapan, ada saatnya mereka dibahas. Kapan-kapan, ya? Nah, kita kembali ke kelas 12-8, di mana acara telah dimulai.

"Oke, selamat datang di acara lomba debat Konoha Global School!"

Semua bertepuk tangan dengan sendirinya, ada yang tepuk tangan berlebihan, ada pula yang bertepuk tangan seikhlasnya seperti trio dari kelas 11-3.

"Untuk mempersingkat waktu, langsung saja kita mulai lombanya! Sekedar info, kriteria penilaian tidak akan diberitahukan oleh para juri kita—Guru Kotetsu dan Guru Izumo—karena menurut guru-guru dari mata pelajaran sosial ini, seharusnya para peserta termasuk panitia yang pasti pernah diajarkan IPS oleh kedua guru ini dapat bersosilasi dengan baik dan benar, bahkan sekalipun dalam acara debat seperti ini. Dimohon menggunakan bahasa yang baik dan benar serta sopan!" Kankuro tersenyum melihat nyaris seluruh peserta lomba debat mengeluh karena tidak tahu kriteria penilaian.

"Bodoh," gumam Sasuke sambil lalu. "Tentu saja kriterianya mudah ditebak."

Sakura menghela napas panjang. "Tentu saja harus sopan dan santun."

"Tidak marah-marah dan memukul meja, kita cukup santai saja, tenang dan berkepala dingin, serta tidak out of topic," sambung Hinata.

Baik Sakura maupun Sasuke mengangguk menyetujui perkataan Hinata. Well, sepertinya itulah strategi mereka dalam bersikap di arena debat nanti.

Ketiga kelas dua belas itu mulai ramai dengan bisik-bisik antarpeserta. Kankurou berusaha menenangkan mereka.

"Topik diskusi setiap lomba debat antarpara peserta itu berbeda-beda. Kami tidak memakai sistem apapun. Setelah semua peserta lomba berdebat dan penjurian selesai, juri hanya akan memilih empat grup untuk lolos ke semi final. Ingat, tampillah sebaik-baiknya jika ingin masuk ke semi final! Hanya ada satu kesempatan! Dan… Oh iya, kalian tahu kan~ semi final dan final akan dilaksanakan pada hari apa~?" tanya Kankurou dengan nada sok misterius.

Dan tak ada yang menanggapinya. Kankuro tertawa maklum, dia sendiri merasakan aura ketegangan mulai bangkit memenuhi ketiga kelas dua belas yang digabung menjadi satu.

"Debat akan dimulai dari kelas tertinggi terlebih dahulu, dengan lawan yang sudah ditentukan! Silahkan perwakilan grup dari kelas 12-1 dan 12-3 untuk masuk ke arena debat!"

Menirukan instruksi tanpa suara dari Kankurou, semua memberikan tepuk tangan dan siulan untuk mendukung keenam siswa-siswi yang sudah memasuki arena debat.

Guru Kotetsu meraih selembar kertas kecil yang digulung-gulung, bersama dengan kertas-kertas lainnya yang ditaruh di sebuah kotak kardus kecil. Kotak tersebut terisi dengan gulungan-gulungan kertas yang merupakan topik perdebatan. Kankuro menyerahkan mike pada Guru Kotetsu.

"Silahkan kalian suit dulu," kata Guru Kotetsu. "Ketua dari grup. Yang menang suit berarti memilih 'setuju', dan yang kalah memilih 'tidak setuju'. Apapun topik debatnya, apapun pilihan yang kalian dapatkan, pertahankan pendapat kalian tersebut! Oke? Kami memberi waktu untuk kalian selama lima menit untuk mendiskusikan topik debat, dan sepuluh menit untuk masing-masing grup membacakan hasil diskusi serta mendebatkannya. Mengerti?"

Semua mengangguk. Sebenarnya sih masih agak-agak kurang mengerti. Tapi seiring dengan berjalannya perlombaan, mereka akan mengerti.

Ketua grup dari dua kelas dua belas itu saling berdiri dari kursi masing-masing, dan maju untuk suit. Setelah mendapatkan jawaban yang pasti, Guru Izumo membacakan topik perdebatan mereka.

"Setuju tidak kalian mengenai adanya razia kerapihan dan kebersihan seragam?"

"Ada tiga pertandingan, sebelum giliran kita. Berarti masih ada waktu sekitar satu jam lima belas menit untuk berkeliaran," gumam Sasuke yang mulai merasa bosan.

"Hinata, ke kantin, yuk!" ajak Sakura yang ikut merasakan kebosanan Sasuke.

Hinata mengangguk, dia berdiri dan menoleh pada Sasuke yang balas menatapnya dengan pandangan datar. "Mau titip sesuatu, Sasuke?"

Sasuke merogoh saku bajunya, dan menyerahkan lembaran uang pada Hinata. "Tolong belikan aku sebotol air putih yang dingin."

Hinata menerima uang itu, dimasukkannya ke dalam saku kemejanya. Lalu berjalan bersama Sakura meninggalkan ruang debat menuju ke kantin.

Setelah kepergian kedua gadis rekan Sasuke itu, Naruto datang menghampiri Sasuke dan duduk di sebelahnya. "Gimana rasanya berdekatan dengan dua cewek aneh itu, eh, Sasuke?"

"Aneh juga, tapi kau menyukainya, kan?" Sasuke balik bertanya acuh tak acuh.

Naruto nyengir lebar. "Yeah, sejak dulu…"

"Lalu kenapa kau bersikap menyebalkan?"

"Hanya memastikan… apakah dia masih mengingatku atau tidak?" Naruto tersenyum getir, pemuda itu bersidekap dengan pandangan menerawang pada lantai putih tempatnya berpijak. "Seperti yang sudah kau lihat, ternyata tidak. Aku dilupakan."

.

#~**~#

To be continued

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Mohon maaf untuk kesalahan yang luput dari pengamatan Light. Hontou ni gomenasai…(_._)a

.

Nah ini dia! Naruto udah dateeeeng! Light lagi gak berbaik hati kasih spoiler#dijitak, so, silahkan tumpahkan apa yang Kawan pikirkan di review setelah membaca chapter dua! :D

Hahaha! Pendek banget, ya? Yup! Light kudu nyari feel yang pas buat fic ini! Nyahaha~ tenang aja! Fic ini masih terus berlanjut, kok!:D

Untuk Kawan-kawan NHL yang baru di FNI! Salam kenal dari Light!:D Maaf ya belum bisa RnR…(_._) kalau yang bangkotan #dibejek-bejek, UPDATE fic-nya dong, Bro! Sis! Krisis fic NH~ krisis fic NH! ^_~

(dikau sendiri bagaimanaaa, Light? #gigaplak)

Na, jangan cuma baca, yah~ kasih review yang manis juga dong buat Light!:D

Terima kasih sudah menyempatkan membaca! Kritik dan saran yang membangun diharapkan adanya! ^_^

.

Sweet smile,

.

MoonLite Crystal