I LOVE SENPAI'S SISTER

CHAPTER 2

Disclaimer: still belongs Fujumaki Tadatoshi

YOU CAN READ AND REVIEW IF YOU WANT ;-)

ENJOY READING GUYS!

.

.

.

Yoshi's POV

Pagi ini aku benar-benar sial. Alarm yang mati, rantai sepeda yang putus, setelah itu apa? Karena alarm yang mati, aku jadi tiba di sekolah lima menit sebelum bel. Mungkin menurut kalian aku kurang sopan karena mengeluh didepan muka kalian, padahal kalian samasekali tidak kenal aku. Di SMA Kaijou mereka semua, termasuk para sensei, memanggilku Yoshi. Karena nama itu sangat populer, mereka semua bahkan sudah lupa siapa nama lengkapku. Gosip beredar kalau aku memiliki kekuatan supranatural karena aku selalu datang paling cepat dan pulang paling lama karena harus mengusir roh jahat. Alasan lain kenapa mereka mengatakan itu adalah karena kucing hitam yang katanya selalu mengikutiku. Tentu saja itu semua bohong. Aku hanya gadis penyendiri biasa. alasan kenapa aku datang paling cepat dan pulang paling lama karena aku tidak suka keramaian. Lebih tepatnya tidak bisa. Jika kalian bertanya-tanya kenapa aku tidak bisa berada dikeramaian, tanyakan saja pada kakakku yang akan kalian temui nanti. Soal kucing hitam, aku juga tidak tahu. Entah mengapa semua kucing selalu mengikutiku. Terkadang mereka menggelitik kakiku dengan rambut halus mereka. Mungkin karena mereka tahu aku penyuka binatang atau semacamnya. Entahlah. Jujur saja, sebanarnya aku bukan benar-benar gadis penyendiri. Aku punya alasan pribadi kenapa aku menjadi seperti sekarang. Haah~ tiap kali aku memikirkan 'alasan' itu, bulu tengkukku meremang. Karena itu adalah masalah paling berat yang pernah aku alami. Sekaligus mengerikan.

Kembali ke topik awal. Begitu aku sampai di sekolah, aku langsung menuju loker sepatu dan menggantinya dengan uwabaki. Inilah satu hal yang membuatku kesal. Tatapan mereka. Karena gosip murahan itu, mereka semua sangat takut denganku. Katanya, takut kena sial. Benar-benar. Aku berusaha mengacuhkan mereka dan pergi ke kelas. Tapi, ada sesuatu tepatnya seseorang, yang menghambatku. Dengan cengiran yang tidak asing, rambut blonde yang sangat mencolok, dan mata berwarna madu yang sangat menyilaukan mataku. Dialah Kise Ryouta. Model remaja paling terkenal dan tampan. Idola semua remaja di Jepang, terutama remaja perempuan. Sangat bertolak belakang denganku yang seorang penyendiri. Aku menatap model yang katanya tampan itu. Memberikan isyarat agar dia menyingkir dari jalanku. Tapi dia tidak bergeming. Manik matanya terus menatapku, sampai aku sangat risih. Akhirnya, aku mengalah. Aku berjalan ke jalan yang tidak dihalanginya. Tapi dia, Kise Ryouta, malah menghalangi jalanku, lagi.

"Ohayou, Yoshicchi" ia tersenyum padaku. Aku mengedipkan mataku beberapa kali. Menoleh kekiri, kekanan, dan belakang. Mengira dia memanggil oranglain. Tapi nihil. Mereka semua tidak ada yang merespon sapaan Kise. Mereka malah menatapku dengan takjub. Atau mungkin horor. Bayangkan saja, aku, seorang gadis penyendiri yang digosipkan memilki kekuatan supranatural, yang paling ditakuti semua murid bahkan sensei. Disapa oleh orang.. yang bertolak belakang denganku. Orang paling populer, tampan, memiliki banyak teman dan fans. Can you believed it? Karena aku tidak merespon sapaannya, dia menatapku heran dan mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Bahkan hidung kami nyaris bersentuhan kalau aku tidak memundurkan kepalaku.

"Jika ada seseorang yang menyapa, seharusnya kau membalasnya, bukan menatapnya seperti itu ssu. Apa kau terlalu terpesona padaku, Yoshicchi?" Awalnya aku ingin membalas sapaannya. Tapi, aku urungkan karena kenarsisannya itu. Aku tidak terlalu suka orang yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang overdosis seperti itu. Karena bagiku, itu merepotkan. Aku berusaha mengacuhkan dan pergi meninggalkannya. Entah mengapa, saat aku berjalan dikoridor, aku merasa aura dingin yang menusuk punggungku. Aku tidak tahu itu apa. Tapi yang pasti, itu adalah pertanda buruk bagiku.

.

.

.

Normal's POV

Masa-masa neraka bagi semua murid telah usai. Saat jam istirahat kantin dan koridor penuh dari lalu-lalang siswa. Yoshi lebih memilih didalam kelas untuk memakan roti yang didampingi sekotak susu sambil mendengarkan lagu. Saki sedang memakan bentonya dan duduk tepat didepan Yoshi. Ia terus mencuri pandang kearah Yoshi. Yoshi yang sedang dipandangi hanya acuh dan terus memakan rotinya.

"Aku tidak suka keramaian. Dan aku tidak memiliki kekuatan supranatural apapun Saki-chan. Aku sudah menjelaskannya berulang kali padamu."

"Uhuuk...uhukk...bagaimana..uhukk..kau tahu? Aku bahkan bahkan belum menanyakan apapun padamu."

"Kepalamu terlalu transparan. Tanpa kau tanyapun, aku sudah tahu jawabannya." Jawab Yoshi acuh

"Tapi.. ada gosip terbaru lagi tentangmu yang beredar. Mereka bilang kau mengikat kontrak dengan iblis agar Kise-kun tertarik padamu. Memangnya itu benar?"

Yoshi yang sedang meminum susunya saat Saki sedang bercerita, langsung menyemburkan lagi minumannya. Syok mendengar berita yang didengarnya.

"Nani? Iblis? Mengikat kontrak? Memangnya mereka kira sekarang masih zaman Edo? Benar-benar.." Yoshi mengunyah sadis tiga buah roti yang dibelinya. Saki yang duduk didepannya memandang dengan iba.

"Yu-chan benar-benar gadis malang. Hidupmu berubah sangat drastis sejak insiden itu. Kau ingat, dulu kau bahkan tidak kalah populer dengan Kise-kun sebagai mod... Hmmphh..Hmppp!" Saki meronta-ronta nyaris kehilangan nafas karena dibekap Yoshi dengan tangannya. Yoshi kemudian melepaskan tangannya dari Saki.

"Sudah kukatakan jangan pernah mengungkit masalah itu lagi. Itu adalah masa lalu. Jangan membahasnya lagi."

"Jangan membahas tentang apa, ssu?" Yoshi dan Saki nyaris terjungkal dari kursi mereka. Kise Ryouta yang berjongkok sambil menopang dagu dengan kedua tangannya di jendela koridor kelas 1-C. "Kalian kenapa, ssu? Sepertinya kalian sedang membahas hal yang menarik. Aku juga mau dengar ssu~" mata Kise Ryouta berbinar-binar memandang mereka. Tepatnya Yoshi.

"Astaga... Kau. Sejak kapan kau disitu?" Yoshi memandang Kise dengan tatapan syok.

"Sebenarnya aku ingin mengajak Yoshicchi makan siang bersama ssu. Tapi aku sedikit terlambat karena harus mengobrol dengan fans ssu. Bagaimana? Mau makan siang bersama, Yoshicchi?" Yoshi menatap model berambut blonde itu sejenak. Ia kemudian mengambil satu roti yang ada didalam lacinya.

"Ambillah. Tidak usah repot-repot mengajakku makan bersama. Aku sudah makan." Yoshi kemudian bangkit dari kursi dan meninggalkan Saki dan Kise.

.

.

.

Yoshi's POV

Jam sekolah telah berakhir. Langit telah berubah warna menjadi jingga. SMA Kaijou sudah mulai sepi karena sebagian kegiatan klub telah usai. Namun di parkiran sepeda aku sedang berjongkok disamping sepedaku. Aku sangat frustasi. Seperti yang telah kalian baca diatas sebelumnya, rantai sepedaku putus dan karena itu aku berubah menjadi montir sepeda dadakan seperti sekarang. Wajah dan tanganku kotor penuh oli. Tidak mungkin aku meninggalkan sepedaku disini. Bagaimana aku pulang? Aku sama sekali tidak berniat untuk menaiki kendaraan umum. Karena, yah kalian sudah tahu, aku tidak bisa dikeramaian. Aku pengidap agoraphobia. Semakin gelap langit, tingkat kefrustasianku semakin tinggi. Kalian bisa bayangkan jika diposisiku sekarang. Sendirian, malam hari, pengidap agoraphobia, dan jarak rumah yang cukup jauh jika ditempuh dengan jalan kaki. Saat kefrustasianku semakin meningkat, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.

"Yoshicchi? Sedang apa disini ssu?" aku mendongak melihat Kise yang sedang berdiri didepanku. Ia masih menggunakan jersey klub basketnya.

"Menurutmu apa? Menungggu roh penunggu sekolah datang kemari?"

"Jadi rumor itu benar? Yoshicchi memiliki kekuatan supranatural?" Tanya laki-laki itu takjub

"Astaga... kau itu bodoh atau apa? Tidak bisa baca situasi? Tidak lihat aku sedang memperbaiki sepeda?" Kise menatap sepeda dan wajahku bergantian. Kemudian dia menertawakanku. Sepertinya dia minta dihajar.

"Bagaimana kalau Yoshicchi pulang bersamaku dengan kereta ssu?"

"Tidak terima kasih. Aku lebih memilih memperbaiki sepedaku daripada harus naik kereta." aku berbalik dan kembali memperbaiki rantai sepedaku. Kise kemudian berjongkok didepanku dan memperhatikanku.

Kise's POV

Aku sibuk menatap gadis yang ada didepanku. Dengan wajah dan tangan yang kotor karena oli, ia terus memperbaiki sepedanya. Entah karena mataku yang sudah mulai rusak atau bagaimana, Yoshi tetap terlihat sangat manis walau wajahnya terkena oli. Tunggu. Apa yang baru saja aku katakan? Manis? Ini pertama kalinya aku benar-benar memuji seorang gadis. Aku memang sering mengatakan 'cantik' pada setiap gadis, tapi itu hanya untuk keramah tamahanku saja. Tapi ini memang benar. Mau dari sudut manapun aku melihat, Yoshi sangat manis. Sangat berbeda dengan semua gadis yang sering aku temui. Entah aku kerasukan apa, tiba-tiba aku memegang tangan gadis itu. Ia menghentikan aktifitasnya dan menatapku.

"Mau sampai kapan kau memegang tanganku?" Aku terkesiap dan kemudian dengan enggan, aku melepaskan tanganku dari tangannya yang halus itu.

"Biar aku saja ssu. Kau duduk saja biar aku yang memperbaiki sepedamu." Gadis itu menurut dan duduk disebelahku. Aku kemudian merogoh tas dan mengambil sebuah handuk yang masih bersih. "Sebaiknya kau bersihkan wajahmu dulu ssu. Ini masih bersih kok." Dengan enggan Yoshi menerima handukku. Ia kemudian bangkit dari tempatnya duduk.

"Aku akan membersihkan wajahku dulu." Aku mengangguk dan mulai memperbaiki sepedanya.

"Kise-san." Panggil Yoshi

"Ya Yoshicchi?" Ia sedikit gugup, aku terus menatapnya.

"Arigatou." ia mengucapkan satu kata dengan wajah yang sangat datar. Tapi, tetap saja hatiku berdesir mendengarnya. Aku melanjutkan memeperbaiki sepedanya untuk menghilangkan kegugupanku.

Tidak beberapa lama kemudian, Yoshi kembali duduk disebelahku. Tidak ada satu katapun keluar dari mulutnya. suasana saat ini sangat canggung. Aku sempat melirik ke arah Yoshi. Tahu apa yang sedang dia lakukan? Dia menatapku! Aku benar-benar grogi sekarang. Manik matanya yang mengkilat-kilat terus saja menatap kearahku. Dengan segala cara aku berusaha menghilngkan kegugupanku. Walaupun itu tidak ada gunannya.

"Apa kau lelah Kise-san?"

"Tentu tidak ssu. Ini tidak lebih melelahkan dari latihan rutin di klub."

"Ano.. bukan itu maksudku. Apa kau tidak lelah setiap saat selalu diikuti oleh para fansmu?" Aku terdiam. Berfikir sejenak. dari sekian ribu orang yang kukenal, kenapa Yoshi yang menanyakan hal itu padaku? Jika hanya wartawan yang menanyakan itu, aku bisa saja memberikan seribu alasan andalanku sambil menebar senyum terbaikku. Kalau Yoshi? Aku tidak sanggup membohonginya. Dia terus menatapku. Menunggu jawaban.

"Tentu saja. Manusia mana yang tidak lelah diikuti terus-menerus? Bahkan saat kau dikamar ganti. Tidak bisa melakukan apapun yang aku sukai, harus melakukan apa yang mereka sukai karena bagi mereka, tidak melakukan yang mereka sukai sama saja dengan menunjukkan sifat burukku didepan semua orang." Ujarku jujur

"Tapi, pernah kau bertanya pada mereka. Berapa banyak hal hal yang mereka lewatkan hanya untuk mengikutimu? Hanya untuk mengikuti hasrat mereka saja? Bisa saja saat mereka berada disekitarmu mereka melewatkan waktu belajar atau berkumpul dengan keluarga mereka. Ehm..bukan bermaksud menyakiti hatimu atau semacamnya. Tapi tentu saja ini menguntungkanmu bukan? Jika mereka sadar apa yang mereka lakukan salah, kau tidak harus repot setiap harinya."

"Lalu, kenapa Yoshicchi memberitahukan hal ini padaku ssu? Apa kau cemburu karena tidak bisa berada didekatku?" gadis itu kemudian menjentikkan jari lentiknya ke keningku.

"Kau terlalu narsis. Aku tidak akan cemburu dengan hal semacam itu karena aku tidak menyukaimu." Kata-kata itu entah mengapa menghujam tepat di ulu hatiku

"Bagaimana denganmu? Kau bilang tidak memiliki kekuatan supranatural atau semacamnya. Tapi mengapa kau selalu menjauhi orang-orang? Kau bahkan hanya memiliki satu teman ssu."

"Satu teman yang setia padamu lebih berarti daripada seribu teman yang ada hanya saat kau senang. Aku tidak ada bermaksud untuk menjauhi orang-orang. Aku hanya tidak bisa berada diantara orang-orang."

"Nande?" Tanyaku.

"Dulu, aku juga sepertimu. Tapi sejak aku mengidap agoraphobia, aku berubah menjadi seperti sekarang."

"Ago..apa ssu? Apa maksudnya?"

"Aku phobia pada keramaian. Itu berawal saat aku berumur tujuh tahun. Kakakku mengajakku untuk membeli senar gitar. Ditengah keramaian, tiba-tiba kami terpisah. Aku langsung saja menangis. Aku sangat ketakutan. Dengan tubuh yabg kecil, aku berada ditengah keramaian. Hingga sekarang, ketakutan itu tidak pernah hilang. Terus membayangiku. Karena itulah aku seperti sekarang." Yoshi kemudian bangkit dari tempat duduknya. "Sudah semakin gelap, aku harus pulang sekarang."

Gadis itu lalu menggiring sepedanya hingga didepan gerbang. Aku bertatapan. Dia kemudian merogoh sakunya dan memberikan sebuah saputangan. "Untuk membersihkan wajahmu. Arigatou. Kise-san." Untuk pertama kalinya, aku melihatnya tersenyum.

"Doitashimasite. Kise-kun saja cukup."

"Jaa, Kise-kun" ia tersenyum lagi padaku. Dia berbalik dan mengayuh sepedanya. Aku masih ditempat. Menatap punggungnya yang mulai menjauh. Kepalaku memutar ulang kejadian saat dia tersenyum. Senyum yang begitu manis. Begitu manis hingga membuat jantungku berdetak tidak menentu dan membuat wajahku panas. Di saat itulah aku menyadarinya. Aku, Kise Ryouta, seorang model yang digemari diseluruh negeri, telah jatuh cinta. Walaupun dia bilang kalau dia tidak menyukaiku, akan aku pastikan. Bagaimanapun caranya, akan aku buat dia menyukaiku.

TBC