"Aku Indonesia,"

Indonesia. Indonesia. Nama yang sama dengan Negara yang saat ini sedang kujajah. Nama dari wanita tercantik yang pernah kutemui. Nama dari wanita cinta pertamaku… ah, Indonesia, nama itu selalu berada di benakku.

Aku berguling di atas kasurku. Masih, sambil memikirkan Indonesia. Kira-kira, sedang apa dia? Apakah—jangan bilang, ia masih bekerja untuk pembuatan proyek Daendels itu. Otomatis, aku panik, dan cepat-cepat berjalan keluar markas, untuk melihat para pekerja. Lagi-lagi, aku melihat pemandangan yang paling tak mengenakkan. Aku berusaha mengabaikan pemandangan itu, dan berusaha mencari-cari dimana Indonesia berada.

Mataku menelusur ke segala arah, namun, tetap saja aku tidak bisa menemukan sosoknya yang mungil itu. Aku terus berjalan, sampai pada akhirnya, aku menemukannya sedang meratakan tanah. Matanya lesu, bibirnya kering, dan terlihat mukanya tirus. Ia menoleh, lalu terbelakak saat melihatku. Aku tersenyum, dan menyapanya. "Hei, Indonesia. Aku hanya memantaumu, lho. Aku tidak bermaksud yang lain,"

Dia membuang pandangannya dariku. "Sudah kubilang, kau, kompeni, tidak usah menemuiku lagi," katanya ketus. Aku hanya bisa menghela nafas dan tersenyum simple.

"Kalau membantumu, boleh?" tanyaku, yang rupanya mengejutkannya. Dia membuka mulutnya untuk menjawab, namun menutupnya lagi. Sepertinya ia ragu kali ini. "Baiklah, kalau begitu aku akan mengambil peralatanku sebentar, tunggu di sini ya!"

Aku berlari kembali ke markas, untuk mengambil beberapa peralatan seperti cangkul dan lain-lain. Aku juga mengambil satu termos air minum dan bekal makanan—makanannya kuambil dari makananku, kumasukkan dengan asal—dan tentu saja, itu semua untuk Indonesia. Aku berlari kembali ke tempat Indonesia lagi.

Aku tahu aku ini egois, karena hanya memikirkan Indonesia saja. Namun… mau apa lagi. Aku kan, tidak bisa memberikan makananku kepada seluruh pekerja yang jumlahnya saja lebih banyak dari tentaraku.

Aku melambaikan tanganku ke Indonesia yang ternyata masih berdiri di tempatnya semula. Ia memperhatikanku dengan tatapan apa-apaan-sih-orang-ini. Saat aku sampai ke tempatnya, aku langsung menyodorkannya termos minum yang tadi kubawa. "Minumlah, kau sudah lama tidak minum kan?"

Seakan-akan termos itu adalah setumpuk emas, ia memperhatikan termosku dengan mata yang berbinar-binar, dan dengan segera menyambarnya, lalu meneguknya sekaligus sampai habis. Aku hanya bisa tertawa kecil melihat perilakunya yang seperti anak kecil. Saat melihatku tertawa, ia berhenti minum dan membentakku. "A- Apa sih? K-Kau kan, tidak tahu perasaan kami yang sudah berbulan-bulan tidak minum! Kami semua mati karena itu!"

Ah, iya. Kalau dipikir-pikir, pasti semua orang yang masih bekerja ini, pasti orang-orang baru. Tidak mungkin kan, kalau mereka semua tahan tidak minum dan tidak makan, ditambah kerja berat selama berbulan-bulan?

"Hei, Indonesia, kau baru ya, bekerja disini?" aku bertanya padanya, membuatnya mengerutkan alisnya.

"Tidak. Aku sudah lama berada disini, kira-kira saat pertama kali mereka menyuruh kami bekerja seperti ini,"

Aku terbelakak dan mengerutkan alisku, bingung. Bagaimana mungkin, seorang wanita, manusia—

Tunggu.

Kalau dia benar-benar manusia, bahkan seorang wanita—bisa tahan berbulan-bulan di proyek seperti ini?

Indonesia.

Tiba-tiba suatu pikiran muncul di benakku. Aku memperhatikan Indonesia yang sedang mencabuti rumput-rumput liar. Dia bisa menarik perhatianku—yang seorang personifikasi Negara—sedangkan yang bisa menarik perhatian seorang personifikasi hanyalah personifikasi Negara lainnya.

Jangan bilang…

"Indonesia, kau itu—bukan manusia, kan?" tanyaku, membuatnya menoleh, dan mengerutkan alisnya. "Maksudku, kau ini personifikasi… kan?"

Dia membelakak, dan merendahkan kepalanya sedikit. Ah, jadi itu benar. Dia ini personifikasi Negara ini. Pantas saja dia sangat membenciku—dan pantas saja dia terlihat sangat kesakitan. Setelah hening yang cukup lama, ia membuka mulutnya.

"Rakyatku menderita karena kau. Mana bisa aku diam saja sementara rakyat-rakyatku mengerang kesakitan," katanya dengan mata yang lurus dan tegas.

"Tapi, yang paling kesakitan itu sebenarnya kau, Indonesia… kau seharusnya tidak usah bekerja berat disini," aku memegang lengannya, dan ia segera mengelak dan menepis tanganku.

"Kau tidak akan pernah mengerti perasaanku, kompeni. Kau ini orang yang menjajah rakyatku, tentu kau tidak akan pernah mengerti," deliknya. Ah, tatapan itu lagi. Tatapan benci dan amarah yang membara. Aku menunduk sedikit.

"Tapi…" aku meliriknya sebentar, lalu tertunduk lagi. "Aku pun tidak mau ini terjadi, Indonesia. Aku tidak pernah menginginkan ini. Pimpinankulah yang memulai semua ini…"

Dia mendengus dan melanjutkan pekerjaannya. "Siapapun yang memulainya, mereka semua adalah bagian dari negaramu,"

Aku memutar bola mataku. "Dan Francis, ingat itu," tambahku.


"Tuan Nether," sapa Daendels sambil menghormat. Aku menoleh padanya, dan ia segera bertanya. "Tadi siang sepertinya anda tidak ada di markas, anda dimana?"

Aku berpikir sebentar. Apakah aku akan bilang dengan jujur kalau aku membantu seorang pekerja? Tidak, aku tidak sebodoh itu. Aku bukan Alfred, kan? Ah, dia juga tidak sebodoh itu.

"Aku melihat kinerja para pekerja," ucapku tegas. "Kenapa?"

"Ti- tidak apa-apa," jawabnya. "Hanya bertanya,"

Aku bersumpah, saat ia berkata begitu, aku melihatnya menyeringai. Aku mengangkat alisku, dan bertanya padanya. "Hei, bicara tentang itu. Kenapa, kau tidak menggaji, bahkan memberi makan dan minum kepada para pekerja?

"Soal itu," katanya. "Kalau kami membayarnya, memberi mereka makan, bukankah kita sendiri yang akan rugi? Bukankah tujuan kita disini adalah mencari keuntungan, Tuan?"

Aku berpikir sejenak. Dia benar. Namun—apa tidak ada cara lain? Aku mendengus keras.

"Baiklah, tinggalkan ruangan ini sekarang. Aku ingin istirahat," ujarku seraya menyenderkan punggungku ke sandaran bangku. Dia menghormat, lalu meninggalkan ruanganku.


"Pagi, Nesia~" sapaku kepada gadis yang sekarang sedang menebang pohon dengan kapak. Ia melirik, dan mendengus.

"Tinggalkan aku," ujarnya ketus. Aku memanyunkan bibirku.

"Kenapa? Aku kan mau membantumu, nih aku bawa peralatan dan makanan untukmu lagi," aku menunjukkan cangkul yang ada di tangan kananku dan sekotak makanan di tangan kiri. Ia memutar bola matanya.

"Terserah kau, lah. Sudah enak kau jadi boss yang memimpin pasukan penghancur diriku,"

Aku mengangkat alisku. "Aku tidak pernah berniat untuk menghancurkan dirimu,"

Ia merampas kotak makan dariku dan membukanya. "Kau tidak, tapi pimpinanmu?" ia mendongak agar bisa melihatku. "Pimpinanmu yang menginginkan semua ini,"

Aku menghela napas dalam, lalu tersenyum. "Tapi aku janji, Nesia. Aku tidak akan pernah melukaimu, apalagi menghancurkanmu. Bahkan kalau bisa, aku ingin melindungimu,"

Tiba-tiba aku melihat mukanya sedikit memerah. Yah, walaupun tidak terlalu terlihat, karena mukanya sudah sangat dekil dan kusut. Aku jadi tersipu sendiri.

"Kubilang, terserahmu," ia mengambil sepotong roti dan menggigitnya sedikit demi sedikit. Aku tertawa lalu mengelus kepalanya.

…dan dia tersenyum.


TOK TOK

Seseorang mengetuk pintu kamarku. Siapa sih, pagi-pagi begini. Aku mengulet sebentar, turun dari tempat tidurku, lalu berjalan gontai ke arah pintu. Aku memutar kenop, dan menemukan satu dari pengawalku berdiri di depan pintu.

"Tuan Nether," ia menghormat. "Saya menyampaikan amanat dari Tuan Daendels. Ia bilang, ia akan menunggu anda di hall jam 8 pagi nanti,"

Aku mengangkat sebelah alisku. "Ada apa?"

Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu, Tuan. Tapi kata Tuan Daendels, itu hal penting,"

Aku mengelus daguku. Jam 8 pagi? Biasanya aku akan pergi membantu Nesia. Ah, soal itu, aku sudah 5 bulan lebih membantu Nesia melakukan pekerjaannya, lho.

"Baiklah, kau boleh pergi," perintahku. Ia mengangguk, lalu meninggalkanku.


Aku berjalan menelusuri koridor, dan akhirnya sampai di hall. Disana, sudah menunggu seorang Daendels. Ketika melihatku, ia berdiri. "Maaf, Tuan Nether. Mengganggu pengawasanmu,"

Aku memperhatikannya dengan tatapan bingung sebentar, lalu duduk di kursi di depanku. "To the point saja," perintahku.

"Baiklah," ia menggosokan kedua telapak tangannya, lalu menepukkannya sekali. Ia lalu mengambil sepucuk kertas yang tergeletak di samping cangkir tehnya di atas meja, lalu menyodorkannya kepadaku.

Aku memelototi surat itu, lalu Daendels. "Apa ini?"

"Baca saja, Tuan,"

Kubuka amplop yang membungkus surat itu, lalu membukanya. Aku mengambil surat itu, dan mulai membacanya.

Aku membaca paragraph demi paragraph….

Dan tiba-tiba mataku membelakak. "A—Apa?"

"Saya tidak tahu, Tuan," katanya sambil menyeringai. "Memang, apa isinya?" tanyanya dengan nad mengejek. Aku memberikan tatapan kematianku padanya. Aku bersumpah, pasti dia dalang di balik semua ini.

Pasti.

Aku membaca surat itu sekali lagi, berusaha untuk mencerna. Mungkin, aku salah baca. Namun isinya tetap sama;

Netherlands.

Kembali ke negaramu sekarang juga. Jangan membuang waktu, berangkatlah segera setelah membaca surat ini. Pimpinanku—pimpinanmu ingin berbicara denganmu.

Francis Bonnefoy

"Kembali ke Netherlands?" aku tertawa pahit. "Kau bercanda? Dari Asia ke Eropa itu butuh waktu 3 bulan!"

"Mungkin anda harus secepatnya mematuhi perintah di surat itu, Tuan," ia kembali mengejekku. Aku menggebrak meja dan berdiri.

"Aku bersumpah saat aku kembali ke sini, kau adalah orang pertama yang akan aku hajar. Ingat itu." Ujarku dengan nada yang sangat rendah dan kelam sambil menunjuknya. Ia menelan ludah, namun kembali menyeringai.

"Saya tidak tahu apa yang anda bicarakan, Tuan,"

Aku meremas surat itu dan melemparkannya ke wajah Daendels, lalu berjalan kembali ke kamar dengan penuh amarah.


wakakakak~ padahal yang sebelumnya pendek bgt, sekarang malah jadi manjang (?) gini. lah?

oke, maafkan atas kegajean chapter (sebenarnya, cerita) ini. kritik, saran, pujian *plak* diterima dalam bentuk review~ xD