CHEONGDAMDONG ADVENTURE (part 2)
Sepertinya wanita itu bukan salah satu artis dari FNC Entertainment, apa mungkin itu kekasih Hong Ki oppa. Sepertinya mereka berdua sedang beradu mulut. Sebenarnya apa yang mereka berdua perdebatkan, membuat rasa ingin tahuku semakin besar. Tetapi tiba-tiba Jong Hoon oppa muncul dibelakangku, dan itu membuatku benar-benar terkejut.
"Apa yang sedang kamu lihat?"
"Aaa... oppa! Kamu mengejutkanku saja. Tidak, Aku tidak melihat apa-apa. Hanya melihat panasnya cuaca hari ini. Kalau tahu akan sepanas ini, Aku pasti membawa topi sebelum ke sini."
"Bukankah kamu tadi juga hampir telat datang kemari?"
"Hehehe... ternyata oppa masih ingat. Iya juga, Aku terburu-buru kemari karena takut terlambat."
"Ya sudah, Aku akan mengantarmu pulang, kebetulan urusanku juga sudah selesai. Ayo cepat masuk mobil!"
"Apa tidak apa-apa? Aku tadi pagi sudah merepotkanmu."
"Sudahlah, cepat masuk mobil sebelum aku berubah pikiran."
"Baiklah..."
"Kemana panggilan oppamu itu? Aku menyukainya"
"...oppa" tambahku sambil tertunduk malu
Kami kemudian kembali berada dalam satu mobil dalam perjalanan menuju rumahku. Kami banyak berbincang satu sama lain, atau lebih tepatnya aku menjawab pertanyaan yang Jong Hoon oppa berikan padaku. Jong Hoon oppa yang lebih banyak berbicara, aku lebih memilih diam karena tidak tahu apa yang harus aku tanyakan. Wajah Jong Hoon oppa yang pendiam, sepertinya tidak sesuai dengan apa yang terlihat.
"Sebenarnya, apa yang kamu lakukan di kantor agensi tadi?"
"Ahh~ aku menjadi salah seorang trainee baru di FNC Entertainment."
"Hmm... trainee baru? Tidak biasanya mereka mengambil seorang trainee baru pada saat seperti ini. Biasanya disaat seperti ini, mereka akan lebih memilih fokus untuk mendebutkan idola baru ataupun membuat album comeback bagi artis yang sudah debut."
"Entahlah oppa, aku juga tidak tahu. Beberapa waktu lalu tanpa sengaja aku bertemu direktur Kim ketika aku sedang mengamen di jalan karena baru saja di pecat dari tempatku bekerja paruh waktu. Dan beliau mengatakan ingin aku menjadi salah satu trainee di FNC."
"Direktur Kim kami itu? Aku tidak yakin kamu sebagus itu. Tetapi jika itu Direktur Kim, pasti ada potensi di dalam dirimu."
"Potensi? Ah, jangan terlalu berlebihan oppa aku hanya biasa saja."
"Aku jadi ingin tahu bagaimana suaramu, apakah seindah itu? Bisakah kamu menyanyikan sebuah lagu?"
"Lagu apa oppa?"
"Terserah saja, tetapi bagaimana jika lagu yang kamu nyanyikan ketika bertemu Direktur Kim?"
"Baiklah," aku lalu menarik nafas dalam-dalam "Youuu raaiiisseee...mee...Up...!"
-brrraaakkkk-
"Kenapa berhenti mendadak oppa?"
"Eee...tidak apa-apa. Apa kamu yakin kamu dipilih karena menyanyi? Jujur saja suaramu begitu... tidak merdu."
"Apakah suaraku seburuk itu?"
"Emm... memang tidak seburuk itu. Hanya saja terlalu buruk untuk bisa masuk menjadi trainee agensi kami. Mungkin ada bakatmu yang lain yang menjadi nilai lebih bagi Direktur Kim."
"Molla oppa. Yang aku tahu, direktur dan aku bertemu ketika aku sedang mengamen." Suasana mobil menjadi hening sejenak "Oppa, turunkan aku di perempatan di depan. Aku harus membeli sesuatu. Lagipula rumahku sudah dekat dengan jalan itu."
Akhirnya, Jong Hoon oppa menurunkanku di sebuah perempatan. Setelah itu kami berpisah. Di salah satu sudut jalan ada sebuah mini market. Mungkin hanya dua kali dalam satu tahun aku mau memasuki mini market di sudut jalan itu. Barang yang aku beli selalu sama, sebungkus permen coklat, sebungkus ramyun, dan sebotol soju. Hal yang aku lakukan setelah membeli barang itu juga sama tiap tahunnya. Aku pergi ke ujung jalan duduk, diam, dan melamun. Kemudian dengan perlahan aku melangkah pulang.
"Eomma, kapan kita pergi ke makam?"
"Hari ini eomma ada urusan, kamu pergi saja sendiri seperti biasa."
"Eomma..."
"Emm..."
"Apakah eomma benar-benar melupakan appa dan oppa?"
"Sudahlah, jika kamu ingin pergi, pergi saja sendiri. Eomma ada urusan, eomma akan pulang malam. Kamu pasti sudah membeli ramyun seperti biasa kan?"
"Ne..."
"Ya sudah eomma pergi dulu."
Tak lama setelah eomma pergi, aku pun pergi untuk berziarah ke makam appa dan oppa. Makam mereka berdua terletak berdekatan di atas sebuah bukit tak begitu jauh dari rumahku. Aku pergi dengan berjalan kaki, karena kendaraan yang kami miliki hanya sebuah motor yang digunakan ibuku untuk urusannya. Mungkin akan lebih cepat jika menggunakan bus, hanya saja itu akan membutuhkan biaya. Hanya membuang uang untuk hal seperti itu bukanlah hal yang bijaksana untuk dilakukan bila melihat keadaan keluargaku saat ini.
"Annyeong...oppa, appa. Hari ini untuk kesekian kalinya aku mengunjungi kalian berdua hanya sendiri. Mianhae appa, kali ini aku juga tidak berhasil membujuk eomma untuk datang kemari. Tetapi jangan sedih, kali ini aku juga membawa makanan kesukaan kalian berdua. Sebungkus permen coklat untuk oppa dan sebotol soju untuk appa."
Lalu aku menuangkan soju kedalam sebuah gelas dan meletakkan permen coklat disebuah piring kecil.
"Kalian nikmati saja, aku tadi sudah makan ramyun kesukaanku sebelum kemari, jadi nikmati saja. Appa hari ini aku tidak bisa terlalu lama karena aku harus bersiap untuk ke camp besok, mianhae aku harus pulang sekarang dan mungkin aku tidak akan bisa datang ke sini untuk beberapa waktu, tolong sabar menungguku ya oppa, appa."
Kutinggalkan makam kedua orang yang paling kusayangi dengan berat hati. Perlahan, selangkah demi selangkah meninggalkan oppa dan appa jauh di belakang. Jika boleh memilih, dulu aku akan ikut pergi bersama mereka. Tetapi sekarang tidak. Aku harus hidup dan membuat mereka bangga karena pernah memberiku kesempatan untuk hidup.
