Generation of Miracles

Dislaimer : Fujimaki Tadatoshi-sensei

Warning : typo(s), alur cepat, gaje, abal-abal, minim humor

Di sini bahasanya kurang baku ya!

.

.

.

Enjoy it!

.

.

Basecamp GoM.

Markas besar mereka yang terletak di Teiko Gakuen. Bukan markas utama, karena markas utama terletak di rumah besar milik sang leader, Akashi Seijuuro. Jarang-jarang mereka ngumpul di basecamp sampai sore seperti ini. Mungkin mereka enggan pulang.

Lima kepala beraneka warna, merah, kuning, hijau, biru muda dan ungu tengah mengerumuni sesuatu. Apa itu? Sebuah surat misterius yang Midorima temukan saat menyapu di basecamp. (Author : Shin-chan rajin~ / Midorima : I-itu tidak berarti aku peduli terhadap basecamp ini nanodayo.)

"He~ Surat apa ini, Aka-chin?"

"Aku belum tahu, Atsushi."

"Ne~ Aominecchi dan Kagamicchi belum kesini juga-ssu?"

"Apa yang sedang mereka lakukan di toilet nanodayo?" (Hayoo readers mikir apa~)

BRAKK

"Heh heh heh... Cape juga!"

"Aominecchi! Eh? Kagamicchi mana-ssu?"

Aomine hanya geleng-geleng kepala dan merebahkan diri di sofa. Cowok satu ini terlihat lelah sekali. Tiga orang diantara mereka, Kise, Midorima dan Murasakibara mulai berpikir nista. Aomine yang lelah, Kagami yang belum kembali.

BRAKK

"Heh heh heh... Tubuhku lemas." (Readers mikir apa hayoo)

Kagami, yang tiba-tiba datang dengan heboh dan tidak melihat keadaan sekitar, merebahkan diri di atas tubuh Aomine. Kise, Midorima dan Murasakibara mulai merasa yakin dengan apa yang mereka pikirkan. Tunggu... Midorima memiliki pikiran seperti itu?

"Midorimacchi, kau berpikiran yang sama denganku tidak-ssu?"

"Jujur saja iya nanodayo."

"Aku juga, Kise-chin." Murasakibara ikut menimpali.

Aomine yang tersadar kalau Kagami tidur di atas badannya mendorong badan besar milik Kagami itu agar menyingkir darinya. Aomine pun ikut duduk di bawah dan perempatan imaginer muncul di sudut keningnya.

"Kau tadi mendorongku ke dinding terlalu keras, Bakagami!"

"He?! Kau yang membuatku mendorongmu ke dinding, Ahomine!"

Aho dan Baka terus saling menyalahkan satu sama lain. Tapi, kata-kata yang mereka pakai terasa ambigu bagi Kise, Midorima dan Murasakibara. Akashi dan Kuroko hanya diam menatap Aomine dan Kagami.

"A-ano.." Kise berusaha menyela "perkelahian" Kagami dan Aomine.

"HAH?!" Keduanya menatap Kise dengan mata merah menyala.

"Sebenarnya apa yang kalian lakukan-ssu? Kok ambigu banget ya?"

"Hm hm, betul kata Kise-chin."

Kagami dan Aomine berpandangan. Mereka mengingat kembali percakapan panjang mereka. Seketika itu juga mereka saling menjauhkan diri satu sama lain. Mungkin mereka sadar kalau kata-kata yang mereka pilih itu terlalu susah untuk dimengerti Kise yang lemot (#ditimpukKise)

"O-oi! Jangan bilang lu mikir gue sama Bakagami melakukan "itu"?!"

"Tapi memang ambigu nanodayo."

"S-stooop! Kita tadi lomba lari dari gerbang sekolah sampai sini. Aku tidak sengaja ngedorong dia ke dinding karena si Aho narik baju aku. Makanya kita cape dan lemes kaya begini. Pikiran kalian nista sih." Kagami sweatdrop.

Akashi dan Kuroko mulai mengerti dengan arah pembicaraan mereka berlima. Mereka ikut nimbrung bersama yang lain walaupun masih banyak diam.

"Oh begitu.. Syukurlah yang aku pikirkan tidak terjadi-ssu!" Kise ngelus-ngelus dada.

Hening sesaat.

"Ehem." Suara deheman Akashi menggema ke seluruh ruangan membuat enam cowok lain menatap dirinya. Akashi menunjukkan amplop surat yang sedari tadi mereka acuhkan.

"Ini, Shintaro menemukan ini." Akashi menaruh surat itu tepat di tengah mereka.

Aomine yang kepo, mengambil surat itu dan membukanya dengan perlahan. Satu detik kemudian, ia melemparnya kepada Kise.

"Aku males baca. Kau saja yang baca." Aomine melirik Kise.

"Sini, biar aku saja yang baca." Kagami meminta.

"Tidak, aku saja. Ini bukan berarti aku penasaran nanodayo." Midorima mengeluarkan tsunderenya.

"Biar aku saja yang baca." Kuroko yang manis dan imut menyela mereka dan seketika itu juga mereka dengan senang hati memberikan surat itu pada Kuroko.

From : Mau tau aja apa mau tau banget?

Halo, Generation of Miracles. Lo pada gak tau kan gue siapa, sama gue juga. To the point aja, gue bisa ngeramal adanya benih-benih keretakan diantara lo bertujuh. Bener gak? Kalo gue bener, gue hebat kan? Gue gitu. Lagian gue muak banget ngeliat murid-murid cewek selalu neriakin nama kalian. Padahal lo semua biasa aja. Gak ada hebat-hebatnya. Lo semua hanya ikut nebeng famous dari keberadaan-keberadaan orangtua. Emang sih kalian jago basket dan lumayan ganteng lah, tapi gak sebanding gue gantengnya Tapi itu semua gak cukup untuk bisa menarik perhatian para cewek. Ya udah gitu aja. Gue tunggu keretakan kalian ya, GoM.

Salam kece keren unyu ganteng, dari gue.

Hening.

"K-Kurokocchi/Kuroko/Tetsu/Tetsuya/Kuro-chin?!"

"Ya?"

Tidak bisa dibayangkan seorang Kuroko membaca surat super alay itu dengan penuh penghayatan. Ekspresi tetap datar, tapi intonasi kealayannya sangat pas. Gak aneh kan kalau mereka semua bingung dan kaget, termasuk Akashi.

"Ya sudah, lupakan Tetsuya. Jadi, keretakan apa yang dia maksud?"

"He? Kau menganggap itu serius, Akashi?" Aomine menguap pelan.

"Si alay itu kepedean sekali ya-ssu." Kise manggut-manggut.

"Ngaku ganteng lagi. Siapa ya dia?" Kagami menimpali. Kagami merasa tak rela ada orang yang mengaku lebih ganteng darinya. (#jiah)

"Dia merasa dirinya peramal nanodayo. Tapi, OhaAsa tetap ramalan yang terpercaya." Midorima mengangkat kacamatanya kembali ke posisinya.

"Hm, maiubo ini jadi tidak enak karena surat tadi." Murasakibara menghela nafas pelan. Baru pertama kali dia bilang maiubo tidak enak.

"Menurutmu bagaimana, Tetsu?"

"Hm.. Sebaiknya saat ini kita pulang dulu saja. Besok kan hari libur, bagaimana kalau kumpul di rumah Akashi-kun?"

"Setuju." GoM menjawab serempak, minus Akashi.

"Baiklah." Akashi mulai bangkit berdiri dan merapikan seragamnya yang sedikit terlipat.

Mereka pun berjalan beriringan menuju gerbang sekolah dan mulai berpamitan dan berpisah sesuai dengan arah jalan pulang.

oOo

Akashi's POV

Aku berjalan perlahan menuju mobil berwarna hitam yang sudah menungguku di dekat gerbang sekolah. Setelah membuka pintu, aku masuk ke dalam mobil. (#yaiyalah) Jujur saja, aku menjadi sedikit khawatir kalau surat tadi itu ada benarnya. Keretakan GoM. Bahkan aku pun tidak sanggup membayangkannya.

Awalnya, aku pun merasa aneh, mengapa aku bisa berada di tengah-tengah mereka semua. Bisa bergaul dengan mereka. Masuk akal jika dilihat dari orangtua-orangtua kami, kemampuan kami. Tapi, aku? Aku termasuk orang yang dingin. Dan aku bisa bergaul dengan Ryouta yang cerewet, Daiki dan Taiga yang tak bisa diam, dan yang lainnya.

Dari hatiku yang paling dalam,

Aku tidak ingin berpisah dengan mereka.

Akashi's POV end

oOo

Aomine's POV

Apa-apaan surat itu?! Ada-ada saja. Jelas GoM itu baik-baik saja, tidak ada masalah apapun. Tapi, kenapa aku sedikit khawatir juga ya? Aku melirik ke samping kananku, dimana Kise dan Kagami berjalan di sampingku. Arah pulang kami sama, jadi bareng-bareng aja.

Jujur, dari hati yang paling dalam (#ceilah) aku gak bisa bayangin GoM retak, GoM hancur, GoM bubar. Tidak, itu mimpi buruk. Sejak masuk Teiko Gakuen, aku baru bisa menemukan teman-teman yang pas denganku. Ada yang bisa diajak berantem, ada yang kalem, ada yang galak, ada yang bisa dijadiin tempat ehemnyontekehem tugas sekolah, dan masih banyak lagi.

Gak terbayangkan kalau di sini tidak ada mereka.

Aku tidak mau GoM bubar.

Tidak dan tidak akan pernah.

Aomine's POV end

oOo

Kagami's POV

Surat aneh. Aneh sekali. Bahkan bagiku itu mimpi buruk. Ayolah, aku tidak mau GoM bubar! Mereka adalah teman-teman pertamaku di Jepang karena aku pindahan dari Negeri Paman Sam. Mereka yang membuat hari-hari di sekolahku berwarna (#jiah).

Akashi, Kuroko, Kise, Ahomine, Murasakibara, Midorima. Mereka semua teman-teman yang sangat

berarti. Aku melihat Aomine yang tengah menghela nafas dan sepertinya sedang memikirkan sesuatu juga. Begitu pula Kise yang berada di samping kananku.

Hei, hei. Surat itu hanya menunjukkan perasaan iri si pengirim yang kepedean itu kan?

Justru dia yang mencoba membuat kami retak.

Kami tidak akan pernah hancur. Never.

Kagami's POV end

oOo

Kise's POV

Sejak keluar dari basecamp, jujur aku sedikit waswas. Surat macam apa itu? Sudah kepedean, sok sok peramal, bahkan meramal yang jelek terhadap kami pula. GoM retak? GoM bubar? Yang benar saja-ssu.

Ah, mataku berkaca-kaca. Aku memang tidak bisa menahan kekhawatiranku dan bayangan-bayangan jika hal itu benar. Mereka sahabat terbaikku-ssu. Kulirik Aominecchi dan Kagamicchi yang tengah termenung juga. Mungkin memikirkan hal yang sama.

Aku membantah semua kata-kata yang ada di surat itu.

Itu tidak akan pernah terjadi. Aku yakin-ssu.

Kise's POV end

oOo

Kuroko's POV

Saat aku membaca surat itu, aku merasa kaget. Aku tidak percaya ada orang seperti itu di sekolah kami. Rasa iri nya kepada kami seperti sudah sangat tinggi dan ia tidak tahan untuk memuntahkannya dari dalam hatinya.

Khawatir. Waswas. Aku takut kehilangan enam teman baikku itu. Walau mereka selalu berisik dan menganggu ketenanganku, tapi itulah yang membuatku bisa berada di dekat mereka. Mereka selalu menyadari aku berada di sana, walau hawa keberadaanku lemah.

Generation of Miracles adalah rumah keduaku, keluargaku. Aku tak akan pernah membiarkan tempat itu hancur.

Kuroko's POV end

oOo

Murasakibara's POV

Ne~ Baru kali ini maiubo terasa tidak enak. Setelah mendengar kata-kata menyebalkan yang keluar dari bibir Kuro-chin tadi, aku jadi tidak nafsu makan. (Author: Yang bener Mukkun? Sabar ya~) Aku berjalan gontai menuju stasiun kereta agar bisa sampai ke rumah tepat waktu.

Duduk termenung dan mencerna kata-kata dari surat tadi sedikit membuatku takut juga. GoM ya. Mereka yang terbaik. Mereka selalu menemaniku makan maiubo. Mereka selalu membawa snack untukku jika sedang kumpul-kumpul. Aku tidak ingin kehilangan itu semuanya.

Ah, kereta sudah datang.

Murasakibara's POV end

oOo

Midorima's POV

Aku tau aku tsundere. Tapi, itu tidak menutup rasa sayangku kepada enam teman terbaikku nanodayo. Surat sok sok peramal itu sangat mengganggu. Kacamataku sampai merosot ketika Kuroko membaca surat itu.

Akashi, Aomine, Kise, Kuroko, Murasakibara, Kagami.

Mereka memang aneh menurutku. Tapi, itu yang membuat mereka menjadi teman baikku. Kami memang geng, tapi, apakah seburuk itukah pandangan murid laki-laki lain terhadap kami? Apa sejelek itu kah? Seingatku, kami tidak suka membuat onar.

Aku meyakinkan satu hal di dalam hatiku.

GoM baik-baik saja, GoM tidak akan bubar.

Midorima's POV end

oOo

Pikiran-pikiran mereka yang seharusnya tidak dihampiri hal-hal buruk nan alay dari surat tadi sampai sekarang belum bisa mengusir bayang-bayang kenyataan apabila hal-hal di surat itu memang harus terjadi.

Tidak, mereka percaya surat itu hanya karena merasa iri saja.

Namun, kekhawatiran tak bisa dipungkiri lagi.

Satu kalimat tidak enak kembali terlintas di benak mereka.

"Akankah GoM bubar? Apa yang akan terjadi pada mereka?"

TBC

Halo! Ini hanya sebuah fanfic gaje yang terlintas di kepala saya saat Try Out XD Bagaimana, bagaimana? Lanjut atau delete saja? Mohon review-nya! Review adalah penyemangat terbesar saya :3

Mind to review?