BLUE : Kali ini Blue akan membahas tentang masa lalu Soviana dari kecil sampe masuk ke Akatsuki... Kalau nggak suka sama doi silahkan skip oke?
DARK : Yeah. Empat chap kedepan juga akan membahas masa lalu Hime No Akatsuki yang lain.
BLUE : Uhm! Nah sekarang saatnya kita bales review!
DARK : Yang pertama dari Seigi No Kami; Arigatou atas pujiannya, dan pasti akan kami lanjut.
BLUE : Terus yang kedua dari DevilishGrinJoker; Duuh... Joker-san jangan panggil Blue kak dong, Blue kan baru dua belas tahun, hehehehehe. Btw soal kalimat Hime No Akatsuki itu sebenernya Blue juga gak tahu pasti *Glodak!* tapi arti dari kata kata itu sih sebenarnya Putri dari fajar atau putri dari Akatsuki, dan kata putri disini bukan berarti anak, melainkan putri kerajaan. Jadi Blue urutin aja dari kata 'Hime' yang berarti 'putri', 'No' bisa diartikan jadi 'dari' dan 'Akatsuki' yang berarti 'fajar' atau karena mereka ada di Akatsuki. Yah pokoknya sekitar itulah! *PLAAK!*
DARK : *Sigh* aku rasa ia tidak akan mengerti apa yang kau bicarakan, Imotou...
BLUE : Iya, jangankan dia; Blue sendiri juga gak begitu ngerti sih...
DARK : Dasar bodoh...
BLUE : Trus dari Si Aneh Mayuyu Bukan AKB48; Ahahaha. Arigatou. Udah update kok ^u^ pokokke tunggu aja, walaupun telat tapi pasti blue update ko.
DARK : Btw dengan ini kami ucapkan
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading minna
BLUE : Ngomong – ngomong maksud Onee – chan 'dasar bodoh' itu apaaan?
DARK : *Sigh* Kau pasti tau apa maksudku...
All Chara di Naruto Milik Masashi Kishimoto. Sementara OC nya milik kami.
The OC turn (Book One) : A/N; Soviana past (Part 1)
Warning : OC, OCC, little AU, Shonen – ai and typo's ( maybe ? ) and little gore and semi canon.
THE OC TURN OPENING (A/N : Diambil dari opening Strike The Blood yang pertama) : Kishida Kyodan – Strike the Blood *Intro* ( Terlihat dilayar seluruh anggota Akatsuki berjejer membentuk lingkaran, Scene berputar kemudian kamera masuk ke tengah lingkaran itu memperlihatkan para Hime no Akatsuki sedang membentuk prisma dengan simbol bintang dibawah kaki mereka. Kelimanya menundukkan kepala)
Ikichigau Genjitsu To Shinjitsu
Ketsuryuu Ga Hashiru Gin'iro No Kiseki
(Perlahan lahan kepala Soviana terangat, menatap langit dengan mata Mangekyo Sharinggan yang menyala. Seketika itu layar sekitarnya menjadi hitam nan gelap, kemudian di layar sedikit buram. Setelah benar Soviana telah berubah, ia tak menggunakan jubah Akatsuki seperti semula, melainkan menggunakan pakaian dengan lambang Uchiha dan Hitai – ate konohanya telah tercoret, ditangannya ada sebilah pedang yang berlumuran darah.
Kemudian suasana mulai terang, menampakkan sebuah ruangan yang juga bercipratan darah. Dihadapan Soviana telah terbaring dua mayat; Fugaku dan Mikoto)
Chotto Tokubetsusei No Unmei Na Nda Tte
Shuusokuten Ni Muke Hashiru Fukakutei Settei
(Kemudian Namika mulai mengadah, Mata Byakugan dan Rirenggan miliknya menatap langit. Kemudian tanah sedikit berguncang, kemarahan dan kebencian nampak jelas dimata Namika)
Genshi No Chiri Made Netsuryou Ni Shiteshimae
Ryuusenkei No Genjitsu To Sono Chi Ni Kizamu Myakudou O
(Sofifi juga melakukan hal yang sama, Iris birunya memandang langit dan membuat pusaran angin kencang disekitarnya. Mata miiknya juga bersinar penuh kebencian dan bibirnya menorehkan serigaian jahat)
Fuzaketa Ketsuron O Yurusu Hitsuyousei Ga Nai
Seiron To Ka Rifujin To Ka Anmari Kankeinai Ne
( Kemudian Fuka menatap langit, dengan serigaian jahat. Perlahan layar berubah menjadi putih dan setelah cahaya itu mereda terlihat dunia hitam putih, Fuka telah memegan sabit miliknya yang berlumuran darah, dihadapannya sang ayah telah tewas terpenggal. Kemudian ia mengambil Hitai – ate milik ayahnya dan mengikatnya di keningnya)
Kotae Dattara Koko Ni Aru Ze
Tatta Hitotsu No Ronriteki Kiketsu Sa Toku Areba Ii
(Terakhir Sophia yang menatap langit, berbeda dengan teman temannya yang menatap dengan penuh kebencian; ia justru menatap rindu saat matanya menatap langit. Ternyata di atas langit tempat mereka berdiri ada lambang desa Konoha, Suna dan Kumo.)
*Intro*
(Ketiga lambang itu nampak memudar sebelum akhirnya layar menjadi putih dan mucul sebuah tulisan tegak berwarna merah yang bertuliskan 'The OC Turn')
Soviana side
Seorang gadis dengan rambut raven berdiri tegak di depan sebuah gua besar di hutan Amegakure. Sebuah jubah dengan corak awan merah tepasang di tubuh mungilnya pun berkibar seiring dengan hembusan angin. Ia adalah Uchiha Soviana, gadis terakhir dari klan Uchiha. Mata Onyx miliknya menerawang jauh ke langit senja, mengingat saat ia dulu masih berada di Konoha, sebagai seorang Uchiha yang terhormat.
Flashback
Di taman bermain Konoha, terlihat banyak sekali anak kecil yang bermain disana. Baik laki – laki maupun perempuan dengan gembira bermain main di sana. Namun dari kejauhan kita dapat melihat seorang gadis berumur sekitar empat tahun tengah berjalan diluar taman bermain, mata Onyx miliknya nampak lurus kedepan sambil sesekali menoleh, memperhatikan anak anak seusiannya bermain dengan gembira.
"SOVIANA~"
Soviana-gadis tadi- langsung menengok ke arah suara yang memanggil namannya, didalam taman bermain terlihat seorang gadis dengan rambut cokelat dan tatto segitiga merah terbalik di pipinya sedang melambaikan tangan. Ia adalah Inuzuka Hana, teman sekelas sekaligus sebangku kakaknya di Akademi ninja dulu.
"Hana – san? Ada apa?" Tanyanya
"Kau mau kemana?"
"Aku mau ke hutan, berlatih bersama Otou – sama dan Aniki"
"Hah? Latihan lagi? Apa kau tidak lelah?" Tanya Hana. Soviana hanya menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Kalau itu bisa membanggakan klan, aku tidak akan pernah lelah..."
"Haah... kau itu sudah mencetak rekor sebagai murid akademi yang termuda Soviana! Kurang apa lagi?"
"Masih banyak yang harus aku pelajari, Hana. Yaah, ini memang sudah menjadi resiko jika kau dilahirkan di klan besar sebagai seorang perempuan"
"Ya ya ya, terserah kau saja deh. Tapi ingat; terlalu banyak latihan juga tidak bagus untuk kesehatanmu Soviana..." Hana menatap Soviana dengan tatapan khawatir. Dari klan manapun dia dan sekuat apapun ia, Soviana tetap saja seorang gadis berumur empat tahun yang rapuh dan perlu istirahat yag cukup.
"Arigatou. Akan ku ingat itu Hana, sekarang aku pergi dulu. Jaa!" Soviana pun pergi meninggalkan area taman bermain dan pergi ke hutan Uchiha.
Soviana mendegus pelan mengingat memori itu, antara dengusan geli dan menghina yang ia tunjukkan kepada dirinya sendiri. Hana adalah orang pertama di akademi yang menghargainnya, ingin bermain dengannya dan mau duduk dengannya ketika anak – anak lain mengejek atau menghindarinya.
'Aku ingin tahu apa yang kau pikirkan terhadapku sekarang, Hana...' Batinnya, kemudian membuka matanya. Mengingat kembali memori memori lama saat ia masih di Konoha
"Eh itu dia..."
"Maksudmu Uchiha Soviana? Gadis berumur lima tahun yang berhasil naik ke kelas enam tahun ini?"
"Bagaimana mungkin. Pasti ayahnya menyogok agar ia bisa naik ke sini, kan ayahnya adalah salah satu orang paling penting di Konoha"
"Iya, mungkin juga"
Soviana hanya bisa terdiam mendengar bisik – bisik dari teman sekelasnya yang baru. Yah, bulan ini ia resmi naik ke kelas 6 akademi Konoha. Setelah menjalani serangkaian proses pengetesan untuk naik ke kelas enam mengingat usianya yang baru menginjak lima tahun, ia akhirnya lolos dengan menunjukkan tekhnik henge no jutsu dihadapan para tetua desa.
"Anakmu sangat berbakat, Fugaku." Itulah yang dikatakan para tetua ketika ia selesai.
Ia ingat saat ayahnya tersenyum saat itu, walaupun sangat tipis tapi baginya itu sudah cukup sebagai penghargaan atas semua latihannya selama ini.
"Hoy bocah Uchiha!"
Soviana terhenti sejenak ketika mendengar suara anak laki – laki memanggilnya, namun tak beberapa lama ia kembali berjalan; berniat tak perduli dan mendiamkan para geng bully yang ada di sini.
'Ck, ini terlalu awal...' Batinnya
"Hey! Aku tidak berbicara pada tembok ya!" Ulangnya lagi
Soviana menghela nafas sebelum akhirnya menoleh ke arah belakang, benar dugaannya itu adalah geng bully di Akademi kelas enam. Terdiri dari empat orang anak laki – laki yang mungkin berumur dua belas tahun.
"Ada apa?" Tanyanya. Namun bukannya mendapat balasan, ia malah mendapat tinjuan dari salah satu anggota yang berambut coklat muda, membuatnya terpental dan menabrak dinding.
"Kau si bocah Uchiha yang di bicarakan orang – orang itu? Ternyata Cuma anak perempuan yang lemah!" Ejeknya.
"Kau benar Hiroshi! Apanya yang hebat dari cewek lemah sepertinya! Dia Cuma menggunakan marga Uchiha untuk naik ke kelas enam ini! HAHAHAHAHA!" Sambar yang satu lagi. Ia memiliki rambut marun yang panjang seperti Itachi dan mata ruby, dari penampilannya ia sepertinya adalah ketua geng ini.
Soviana berdiri, menyeka darah di sudut bibirnya akibat tinjuan tadi. Mata Onyx miliknya menatap dingin kepada lima orang dihadapannya.
'Apa tadi mereka bilang? Hanya menggunakan marga? Akan ku tunjukkan kepada mereka kenapa aku disini!' Batin Soviana sambil mengepalkan tangan.
"Whoa! Ada yang marah rupanya! Lihat itu Hisha! Sepertinya dia kesal padamu!"
"Benarkah itu Kishida? Kalau begitu ayo kita lihat apa yang bisa ia lakukan!"
Soviana berdiri; hendak menyerang lima orang di depannya ini, namun tiba – tiba ia teringat kata – kata sang ayah.
'Jaga kehormatanmu sebagai Uchiha, Soviana. Jangan lakukan tindakan bodoh yang akan mencoreng nama baik klan kita'
Soviana berbalik, mencoba meredam amarah yang ingin ia lampiaskan segera. Tapi ayahnya memang benar, ia tidak boleh membuang kehormatannya sebagai Uchiha hanya untuk meladeni orang – orang bodoh seperti mereka.
"Ada apa? Kau takut bocah Uchiha?!" Anak laki – laki terakhir pun ikut mencemooh dirinya, ia memiliki mata lavender khas Hyuuga dan rambut hitam. Soviana mengenalnya. Ia adalah Hyuuga Hikaze, ayahnya adalah salah satu tetua klan Hyuuga yang dikenal oleh ayahnya.
Soviana berbalik sedikit, ekspresinya masih dingin dan tenang namun membuat intensitas udara turun drastis disana.
"Takut? Aku tidak dan tidak akan pernah takut pada kalian. Aku hanya tidak ingin mencoreng nama baik klanku hanya untuk meladeni orang – orang bodoh seperti kalian" Ujarnya
"Apa kau bilang?!" Hikaze menggeram marah sambil menatap nyalang pada Soviana yang kelihatannya tidak takut sama sekali
"Ternyata tak hanya bodoh, kau juga tuli..."
"Kurang ajar kau Uchiha!" Hikaze langsung melayangkan pukulannya ke arah Soviana.
SET...
Soviana dengan mudah menghidar, membuat tinju Hikaze menghantam tembok.
"Arrgh!" Hikaze mengerang kesakitan ketika tangannya bertemu dengan tembok yang keras, cairan merah kental nampak keluar dari tangannya.
"Hikaze! Daijoubu ka?" Hisha menatap khawatir pada teman se gengnya itu.
"Hmph, kalian sudah puas? Sekarang aku mau pergi" Soviana nampak tidak perduli dan meninggalkan geng itu, namun sebuah kunai yang nyaris menghunus kepalanya membuat ia terhenti. Kemudian menoleh ke arah geng bully itu, terlihat Hisha tengah mencengkram lima buah kunai yang siap dilempar dengan penuh kemarahan.
"Beraninya kau melukai Hikaze! Akan kubalas kau!"
"Aku tidak melukainya, ia sendiri yang menghantamkan tangannya ke tembok kan?"
"Tapi itu karena kau menghindar!"
"Heh, orang bodoh macam apa yang akan menerima sebuah pukulan?"
Hisha terdiam, sadar akan kebodohan yang dikatakannya barusan. Tubuhnya bergetar, ia dengan cepat melempar kunai – kunai yang sendari tadi ke arah Soviana.
"MATI KAU BOCAH UCHIHAA!" Teriaknya
Soviana yang melihat hal itu hanya sedikit memincingkan matanya sebelum akhirnya menghindar, melihat hal itu Hisha terus mengeluarkan senjata yang ada di kantung ninjanya.
"MATI KAU! MATI MATI MATI!"
Soviana melirik sekilas pada Hisha yang sekarang melemparkan senjata kepadanya seperti orang kesurupan. Ekor matanya melirik ke arah senjata – senjata yang terarah ke padanya
'Satu, dua, tiga...' Soviana nampak menghitung senjata yang terarah kepadanya.
'Tiga puluh lima!'
Tubuh Soviana nampak menghindari senjata itu satu persatu dengan cepat, namun sebuah kunai yang tak terduga nampak melesat ke arahnya.
'Gawat! Tidak akan sempat!' .
TRANGG
Sebuah suara kunai beradu terdengar jelas di telinga Soviana, didepannya ada seorang anak perempuan berumur dua belas tahunan menangkis kunai itu dari depan matanya. Ia memiliki mata Onyx yang sama dengannya, kulit puih dan rambut hitam mengkilat, ia menggunakan pakaian berwarna hitam dengan celana abu – abu.
"Kau... siapa?" Tanya Soviana.
"Uchiha Yukiko. Fugaku-san memintaku untuk menjagamu selama di akademi".
Soviana terdiam sejenak sebelum berkata
"Baiklah. Kita harus selesaikan ini dulu sebelum aku berhenti"
Yukiko mengganguk, di rogohnya kantung senjata yang ada di pahanya kemudian mengambil sebuah kunai.
"Ayo kita selesaikan masalah ini..."
Soviana dan Yukiko nampak berdiri tegak di depan kelas 6 akademi ninja konoha; di sekitar mereka nampak puluhan kunai berserakan, sementara Hisha hanya berdiri dengan nafas terengah – engah, mata ruby miliknya menatap tajam ke dua Uchiha yang ada di hadapannya.
"Kuharap dengan ini kau menyerah, Hisha-kun..." Soviana menatap pemuda berambut maroon itu dengan tatapan iba. Sebenarnya Soviana kasihan juga melihat ia bertarung sendiri dan mereka berdua, tapi maaf saja ia tidak berminat untuk mengalah. Hisha harus ingat bahwa musuhnya kali ini memiliki harga diri setinggi gunung himalaya.
"Aku masih belum menyerah!"
"Yakabashi. Aku sudah tidak tertarik pada pertarungan ini..." Soviana membalik tubuhnya untuk yang kedua kali, dan untuk KEDUA kalinya sebuah kunai kembali 'nyaris' menghunus kepalanya.
"Jangan remehkan aku, Uchiha! Kan sudah kubilang aku belum menyerah!" Hisha sambil mengambil sebuah kunai dan berlari ke arah Soviana. Namun tiba – tiba Soviana menghilang dari tempatnya
"Apa yang-?!"
Soviana muncul di belakang Hisha, mata Onyx miliknya kian dingin dan menusuk.
DHUAKH...
Tangan Soviana berhasil memukul tengkuk Hisha dengan telak, membuatnya pingsan dan jatuh ke tanah.
"Sudah kubilang aku sudah tidak tertarik dengan pertarungan ini" Soviana berujar dingin sambil berbalik ke arah kelas.
Soviana tersenyum. Sejauh yang bisa ia ingat, Yukiko adalah orang yang baik, dan penuh belas kasihan. Itulah yang membedakannya dengan anggota klan Uchiha lain yang ia kenal. Dan ia menyukai Yukiko sebagai sahabat. Tapi sayangnya ia tidak berada di tim yang sama dengannya saat lulus di akademi. Namun berita bagusnya ketua dan wakil dari geng bully yang dulu memusuhinya jadi berteman dengannya.
Soviana hanya diam saat di kelasnya. Hari ini adalah pembagian tim. Mata Onyx miliknya nampak menerawang untuk mencari teman yang ia bisa harapkan untuk menjadi teman se timnya
"Ah. Itu Iruka sensei!" Teriak salah satu murid yang membuat pandangan Soviana berpaling dan menatap fokus pada sang sensei
"Baiklah. Saya ucapkan selamat karena kalian telah menjadi genin. Tapi ini hanyalah tahap awal menjadi seorang ninja, masih ada pangkat yang lebih tinggi yaitu Chuūnin dan Jōunin. Hari ini saya akan membagikan tim kalian. Sebuah tim berisi 3 orang genin dan 1 orang Jōunin." Iruka sensei menjelaskan dengan panjang. Beberapa murid menjadi tegang dan menunggu hasil pengumuman tim mereka.
"Baiklah team 3; Kishida Pāpuru, Yukiko Uchiha, Hiroshi Kyuugo"
Soviana mendesah pasrah. Ia hanya bisa berharap sahabatnya itu masih hidup setidaknya sampai merekea lulus ujian Chuūnin
"Team 4; Kakugyo Oriki, Hana Umashi, Nakato Utushi"
'Kakugyo adalah pemilik taijutsu yang baik, Hana memiliki genjutsu yang cukup kuat dan Nakato memiliki ninjutsu berelemen tanah. Mereka saling melengkapi' Batin Soviana.
"Team 5; Yakame Ayamaka, Yukoto Hitachi, Matha Rikusa"
'Kurasa kurang tepat memasangkan Yakame dan Yukoto. Mereka kan sama – sama menyukai Matha...' Batin Soviana sweatdrop saat melihat Yakame dan Yukoto telah memancarkan kilatan listrik tak kasat mata.
"Team 6; Hisha Hikken, Soviana Uchiha, Hikaze Hyuuga"
Soviana menghela nafas 'Hebat, aku pasti mati.' Batinnya parah. Sementara Hisha dan Hikaze hanya memasang Evilgrin.
Soviana nampak menunggu di ruang 9. Ia sengaja datang lebih awal, menghindari kemungkinan untuk bertarung dengan kedua 'teman' se timnya yang pastinya masih memilik dendam kesumat padanya setelah ia menghajarnya bersama Yukiko pada hari pertama di kelas enam.
"Tch. Apa yang ada dalam pikiran Iruka – sensei saat membagi kelompok?"Gumamnya sebal. Tak lama kemudian Hisha dan Hikaze masuk ke kelas dibarengi dengan sang sensei. Ia memiliki rambut Hitam keabu abuan dan mata Ruby.
"Baiklah, semuannya kita ke atap sekarang." Perintahnya.
Kini keempat orang itu nampak berkumpul di atap akademi konoha. Hikari dan Hisha berada di kanan dan kiri, sementara Soviana berdiri di tengah tengah.
"Baiklah, perkenalkan namaku adalah Ayakasa Azuka. Panggil aku dengan sebutan Azuka sensei. Hobiku adalah membaca buku dan berlatih. Aku benci pada ketidak displinan. Aku disini adalah Jōunin pembimbing kalian. Sekarang giliran kalian, perkenalkan diri kalian masing masing."
"Namaku Hisha Hikken. Hobiku adalah berlatih dan melindungi teman. Dan hal yang tidak kusukai adalah orang yang sok kuat." Ucap Hisha melirik Soviana.
"Namaku Hikaze Hyuuga. Hobiku berlatih dan menaati peraturan Hyuuga. Hal yang tidak kusukai adalah klan Uchiha" Hikaze juga ikut melirik ke arah Soviana. Soviana menghela nafas.
"Namaku Soviana Uchiha. Hobiku berlatih dan memasak. Hal yang tidak kusukai adalah hal hal yang bertele tele dan tidak penting." Dan Soviana pun mengakhiri sesi perkenalan hari ini.
"Baiklah. Besok. Jam 5. Training ground 8. Jangan terlambat atau kalian akan dapat masalah."
Keesokan harinya~
Soviana melirik arlojinya. 04.30 adalah angka yang ditunjukkan di arloji hitam milikknya. Lebih cepat ½ jam dari perjanjian adalah kebiasaannya, lebih tepatnya kebiasaan dari klannya.
"Haah... Bosan." Keluhnya.
"Hoy Uchiha!"
'Kumohon kami – sama,. Kenapa harus mereka?' Batin Soviana miris saat melihat Hisha dan Hikaze datang. Namun wajah datar khas Uchiha masih terpasang di wajahnya.
"Nani?"
"Hari ini akan kubalas perbuatanmu!" Teriak Hisha, sementara Hikaze haanya menatap tajam Soviana dan tersenyum mengejek.
"Kita lihat saja nanti." Balas Soviana datar.
Setelah menunggu kira – kira ½ jam, akhirnya Azuka – sensei datang. Sebuah senyum merekah dibibir sang sensei ketika melihat tidak ada anak didiknya yang terlambat unutk mengikuti tes hari ini.
"Baiklah. Karena semuannya sudah berkumpul aku akan menjelaskan tes hari ini."
Ketiganya mengganguk paham sebelum memasang telinga mereka baik baik.
"Ini adalah tes untuk menguji kemampuan kalian dalam misi sebenarnya. Kalian harus mengambil gulungan ini..." Azuka sensei nampak memperlihatkan 3 sebuah gulungan bertuliskan 'YON' 'GO' dan 'ROKU' kehadapan ketiga murid bimbingannya
"Dan menaruhnya di wadah itu..." lanjutnya kemudian menunjuk sebuah kotak besar "Mengerti?" Ketiga muridnya mengangguk paham.
"Sensei. Jika ada salah satu dari kami yang gagal, apa yang akan terjadi?" Tanya Hikaze.
"Kalian bertiga akan dikembalikan ke akademi"
JGEER...
Seakan ada petir lewat. Ketiga murid itu nampak membelakkan mata mereka. Kembali lagi ke akademi? Itu sama saja menjatuhkan harga diri mereka!
'Apapun yang terjadi, aku harus mendapatkan gulungan itu.' Batin mereka semua.
"Kalau semuannya mengerti, ayo mulai!" Teriak Azuka sensei.
Soviana bersembunyi di belakang sebuah batu besar di dekat tempat Azuka sensei. Iris Onyx miliknya nampak melirik ke luar, mengawasi Jōunin beriris ruby yang pasti sedang menunggunya di sana.
'Tch. Mana mungkin kami yang baru saja lulus dari akademi dapat melawan seorang Jōunin seperti ini?' batinnya kesal sambil terus mencari akal.
"HEAAAH!"
Soviana nyaris saja terlonjak ketika mendengar suara teriakan yang tak lain dan tak bukan berasal dari Hisha. Ketika mata Onyx miliknya menangkap pemuda beriris Ruby itu, saat itu juga ia mengerti maksud dari tes ini. Dengan cepat ia mengambil sebuah bom asap dan melemparkannya ke tempat Azuka sensei.
"Hisha! Kemari!" Teriaknya. Namun ketika menyadari bahwa pemuda itu tidak mungkin menurutinnya, ia pun langsung turun ke arena dan menyeretnya pergi dari sana.
"Apa apaan ka- ummmph... UMMPPFF" Ronta Hisha saat mulutnya dibekap oleh Soviana.
"Diamlah, aku sudah mengerti cara kita bisa mendapatkan gulungan gulungan itu." Mendengar hal it. Hisha pun berhenti meronta, membiarkan gadis itu menjelaskan rencananya .Melihat 'buruannya' sudah tenang, ia akhirnya melepas kain yang daritadi ia gunakan untuk membeka Hisha.
"Jadi bagaimana caranya bocah?" tanya Hisha to the point.
"Kita berdua harus bekerja sama..."
"Berdua? Maksudmu meninggalkan Hikaze?!" Hisha nampak mencengkram kerah baju Soviana.
"Tidak. Kita bertiga harus bekerja sama, karena jika Hikaze gagal artinya kita juga gagal. Gagal sebagai ninja dan sebagai team"
"Baiklah. Untuk kali ini akan ku turuti rencanamu. Tapi jangan harap aku akan melakukannya lagi" Ucap Hisha.
Dan serigaian pun muncul di bibir Soviana.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
BLUE : Fyuuh, panjang juga ni chap. Untung Blue bagi dua.
DARK : Yeah. Tumben kau bisa mengetik sampai 3000 kata lebih. Biasannya paling mentok 2100 kata.
BLUE : Nggak kenapa napa sih. Tapi blue ngetik ini udah ada pemikiran (nghayal) selama berabad abad. So jadi agak lebih lancar idenya.
DARK : Dan bagi para reader yang sudah menunggu fic ini, arigatou. Tapi kalau ada yang punya OC silahkan daftar dengan catatan bahwa OC nya harus lengkap data datannya. Seperti nama, umur, sifat, penampilan, asal desa (missing nin juga harus disebutkan dari desa mana) kemampuan, jurus – jurusnya, kekkei genkai (jika ada) dan gaya bertarung.
BLUE : Dan untuk keterlambatan Update (masalah dari sejak kapan tau) harap dimaklumi ya minna. Soalnya blue udah mau naik kelas 9 yang artinya harus menghadapi perang dunia alias UN.
DARK : Dasar banyak alasan.
BLUE : Onee – chan mah enak, udah kuliah. Jadinya gak perlu takut sama UN lagi.
DARK : Kau belum tahu saja rasannya Imotou. Materinnya jauh lebih ribet daripada di sekolah tau...
BLUE : Tapi-
DARK : Udah, kalau diteruskan bisa panjang. Lebih baik kau tutup aja chap ini.
BLUE : Iya – iya *Manyun*
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Thank you very much to read this chapter,
Hope you like it. ^v^
