Uchiha Fugaku menghela nafas berat. Belum sampai seminggu ia melihat jasad mantan gurunya yang kehabisan darah, sekarang ia harus melihat jasad mantan adik kelasnya yang punya ciri serupa. Ia benar-benar tidak paham, mengapa seperti ada yang memeras dan menyedot habis darah pada kedua orang itu?
"Yang berbeda hanyalah kondisi kulit korban," ujar Sakura. "Keduanya memang tidak punya luka apa pun yang mungkin disebabkan oleh kekerasan, tetapi kami melihat lebih dari sepasang gigitan ular di kulitnya."
"Tidak ada ular di Konoha," gumam Fugaku, tanpa bermaksud menyalahkan pernyataan Sang Dokter.
Sakura mengangguk. "Saya tahu. Tapi kami belum tahu pasti sepasang lubang bekas tusukan sebesar jarum yang ada di pundak korban itu disebabkan oleh apa, jadi kami memutuskan, untuk sementara, menyebutnya gigitan ular."
"Ah," Kepala Kepolisian Konoha mengangguk paham. "Dan bekas gigitan serupa ternyata ada pada kulit Kades Sarutobi?"
"Tepat. Tapi hanya ada satu, dan agak lebih besar dibanding tiap gigitan pada pundak dan leher putranya."
"Kenapa jumlah gigitan pada Paman Asuma bisa lebih banyak?" tanya Sasuke keheranan.
Sakura melempar senyum miris pada putra bungsu Fugaku. "Itu, bukankah jawabannya harus dicari oleh kalian, para polisi?"
Cuping telinga Sasuke memanas. "Ah, iya, benar, maaf."
"Dokter Sakura, tolong terus beritahu kami kabar terbaru tentang apa yang kalian temukan pada tubuh korban," pinta Fugaku. "Saya sungguh prihatin pada Konohamaru dan Kurenai."
.
.
Disclaimer: Naruto adalah milik Masashi Kishimoto, fanfiksi ini terinspirasi dari permainan 'Werewolf' (atau 'Mafia') yang diperkenalkan oleh Dmitry Davidoff pada tahun 1986. Author tidak mengambil keuntungan.
Warning: AU, OOC, typo(s).
.
The Vampire Game
2 Korban dalam 2 Malam
by Fei Mei
.
.
Konohamaru masih tidak mengikuti kegiatan pembelajaran. Memang kemarin-kemarin anak itu sudah mulai mau keluar bermain dengan Udon dan Moegi, tetapi mungkin otaknya belum siap untuk menerima pelajaran apa pun yang diberikan Iruka. Sang Guru jadi merasa tidak enak juga karena kegiatan belajar-mengajar kelasnya jadi tidak efektif sepeninggal Kades Ketiga.
Murid Iruka tahun ini totalnya hanya tujuh anak: empat berumur tiga belas, tiganya lagi anak umur empat belas. Sejak Konohamaru kehilangan kakeknya, Udon dan Moegi yang menjadi teman sekelas anak itu hanya pernah masuk pembelajaran sekali saja, selebihnya bolos untuk membujuk Konohamaru keluar rumah. Iruka sangat paham dan membiarkan saja, dengan harapan mungkin minggu depan cucu tunggal Kades Sarutobi itu bisa ikut belajar lagi. Tetapi tidak, karena pagi ini kabar meninggalnya paman dari Konohamaru telah tersiar ke penjuru desa. Hati Iruka mencelos—ia pikir, apakah muridnya itu akan histeris? Atau pingsan lagi? Kasihan anak itu.
"Pak Guru, keluarga Kak Konohamaru katanya kena kutukan, ya?" tanya satu-satunya murid Iruka yang hadir pagi itu—dan sang guru menebak bahwa muridnya yang lain membolos untuk melihat ke kediaman Sarutobi.
"Ap—apa? Kenapa tanya begitu? Siapa yang memberitahumu hal begitu, Hanabi?" tanya Iruka, menarik kursi untuk duduk di hadapan gadis cilik itu.
"Dalam perjalanan kemari, aku mendengar desas-desusnya," aku Hanabi. "Seperti, katanya Bibi Kurenai sedang hamil."
"A—ah, pasti dari gosip ibu-ibu, ya?" Iruka berdeham kecil. "Kutukan itu tidak ada, Hanabi."
"Lalu, kenapa Kakek Sarutobi dan Paman Asuma bisa kehabisan darah?"
"Itu, eh, para dokter dan polisi sedang kerja sama untuk mencaritahu jawabannya, kan? Sebagai warga biasa, kita harus menyemangati mereka saja, Hanabi."
"Tapi kalau pelakunya tidak jelas, mungkin akan ada yang meninggal lagi, kan?"
"A-anu, Hanabi, jangan berpikir negatif—"
"Tapi benar, kan?" desak Hanabi. "Jangan-jangan perkataan Kak Udon benar."
Iruka menyerngit. Kenapa anak ini tiba-tiba sebut nama itu? "Udon?"
"Kak Udon bilang, ada vampir di Desa Konoha!"
.
.
"—Vampir itu tokoh fiksi, Nak," ujar Paman Fugaku sabar.
"Tapi, menurut buku yang kubaca, Vampir memang menyedot habis darah manusia!" balas Udon.
"Itu fiksi, Udon, kita semua sedang hidup di dunia nyata, dimana Vampir tidak ada," kata Kak Sakura.
Moegi cemberut. "Kalau begitu, bagaimana kalian akan menjelaskan tentang bekas gigitan itu?!"
"Kami masih mencaritahu," kata Kak Itachi datar. "Sekarang kalian berdua mundur dulu, coba duduk sama Konohamaru."
Udon adalah anak yang tenang dan sopan—lebih dari anak-anak yang lain. Jadi Moegi agak terkejut tadi ketika temannya itu agak memaksakan tentang Vampir—yang mana ia setuju dengan teorinya. Dan gadis ini kembali dikejutkan, ketika polisi itu meminta mereka menyingkir, Udon malah berdecih pelan—walau akhirnya menurut juga.
Teman Konohamaru yang berkacamata itu tidak menggunakan kacamatanya sebagai mode, tetapi memang itu adalah bukti kecintaannya pada membaca sejak kecil. Ia tidak tertarik pada vampir, tidak begitu, tetapi bekas gigitan dan fakta bahwa sudah ada dua korban yang kehabisan darah itu sudah cukup memberi bukti ada vampir di desa ini.
"Menurutmu vampir itu ada?" tanya Konohamaru pelan pada kedua temannya. Anak ini tampaknya sudah selesai menangis.
"Pasti ada." Udon mengangguk mantap. "Mengerikan, sih, tapi memang apa lagi penyebabnya?"
Moegi setuju. "Jadi, pria bernama Sasori itu jadi tersangka utama, kan?"
"Pak Fugaku tadi bilang bahwa sepertinya Si Sasori itu sudah tidak ada di Konoha. Jadi mungkin pelakunya orang lain," lapor Konohamaru pelan. "Tapi semalam, aku tidak mendengar suara apa pun dalam rumah."
Udon memijit dagunya. "Berarti bibimu mencurigakan, kan?"
"Hah?"
"Bibi Kurenai," tegas Udon, "Kalau tidak ada yang keluar dan masuk rumah semalam, berarti yang punya kesempatan untuk membunuh Paman Asuma adalah Bibi Kurenai, kan?"
"Jangan ngaco!" hardik suara perempuan tiba-tiba.
Ketiga anak berumur empat belas tahun itu langsung kaget, melihat ternyata Dokter Ino sudah ada di depan mereka.
"Bu Kurenai tidak mungkin membunuh suaminya, mereka itu sangat saling mencintai, tahu!" sahut Kak Ino.
"Yaaah, kan tidak ada yang tahu kalau ternyata terjadi sesuatu di antara mereka ketika hanya berduaan," kata Udon.
"Memang, tapi Bu Kurenai sedang mengandung anak mereka, jadi tidak mungkin beliau membunuh Pak Asuma!" bela Kak Ino lagi.
"Me—mengandung?" ulang Moegi pelan, melirik pada Konohamaru.
Anak yang dilirik mengangguk. "Iya, kemarin saat makan malam, Bibi Kurenai memberitahuku dan Paman Asuma bahwa ia positif hamil. Saat itu ... pertama kali sejak Kakek meninggal ... kami merasa bahagia lagi ..."
Dokter Ino memandang sendu anak yang baru kehilangan pamannya itu, lalu meremas pelan pundak anak tersebut. "Aku benar-benar menyesal atas kehilanganmu. Pak Asuma adalah orang yang baik."
Konohamaru tersenyum kecil pada sang dokter sebelum perempuan itu kembali pada rekannya.
.
.
Agaknya Fugaku mulai curiga bahwa mungkin ada pembunuhan berantai di Desa Konoha. Pertanyaan adalah: siapa?
Berhari-hari sejak Kades Ketiga meninggal, polisi dan dokter belum menemukan sesuatu yang lain yang berarti untuk penyelidikan, lalu Asuma meninggal dengan cara yang sama. Belum lewat dari 24 jam, seorang yang lain meninggal kehabisan darah juga. Jika baru Kades Sarutobi dan putranya, Fugaku dan para dokter bisa ambil hipotesa sementara bahwa ini semacam penyakit turunan. Tetapi korban ketiga ini bukan dari keluarga Sarutobi. Ia adalah salah satu mantan murid Sang Kades, yakni Orochimaru.
Dokter Sakura dan Dokter Ino langsung datang ke rumah pria itu, mengecek tubuh korban. Kali ini Sasuke-lah yang membentangkan garis kuning, agar ayah dan kakaknya langsung memeriksa rumah kecil itu tanpa gangguan warga yang seenak jidat masuk dan mengganggu penyelidikan.
"Daripada tubuh Pak Asuma, kondisi tubuh Pak Orochimaru lebih mirip dengan milik Kades Sarutobi," lapor Sakura.
"Apa maksudmu?" tanya Fugaku tidak paham.
"Ketiga korban—Kades, Pak Asuma, dan Pak Orochimaru, semua tidak ada bekas kekerasan sama sekali. Hal lain yang sama diantara ketiganya adalah bekas gigitan. Namun, bekas gigitan Pak Asuma berkali lipat lebih banyak dari dua yang lain. Hanya ada sepasang bekas gigitan pada Kades Sarutobi, dan pada tubuh Pak Orochimaru ini kami hanya menemukan dua pasang gigitan ular," jelas Sakura.
Sasuke mendengus. "Itu tidak bisa dibilang kondisinya mirip Kades, kan? Jumlah bekas gigitannya beda sepasang."
Dengusan Sasuke dibalas decakan sang dokter. "Kubilang mirip, bukan sama, dasar Pantat Ayam."
"Baiklah." Fugaku buru-buru melerai putra bungsunya dengan Sakura. Ia tahu kedua anak ini memang kurang akur sejak zaman masih kecil. "Terimakasih atas laporannya, Dokter, tolong beritahu kami lagi jika menemukan hal lain."
Sakura mengangguk, lalu menyerngit melihat cucu tunggal Kades Ketiga sedang melihat jasad Pak Orochimaru bersama kedua temannya.
"Hei! Kalian tidak boleh disana!" seru Sakura, berjalan cepat menghampiri rekan kerjanya sekaligus ketiga anak itu.
"Itulah yang kuberitahu mereka daritadi," cibir Ino, "Mereka tidak mau dengar."
"Vampir! Pasti vampir!" sahut Moegi. Gadis itu berdiri di belakang tubuh Konohamaru, tapi wajahnya masih menunjukkan rasa penasaran akan apa yang sebenarnya dilarang untuk dilihat anak-anak.
"Aduuuhh, anak-anak ini ... " lenguh Ino, kali ini sambil berkacakpinggang. "Kemarin Udon, sekarang Moegi. Kuberitahu, ya, vampir itu tidak ada! Aku tidak mau lagi kalau setelah ini Konohamaru ikut-ikutan bicara tentang vampir!"
"Tapi ada bekas gigitan itu, kan?" tantang Udon. "Itu pasti gigitan vampir!"
Sakura menghela. "Dengar, ya, adik-adik, iya, mungkin vampir, tapi mungkin juga sesuatu yang lain, kan? Jika kalian terus-terusan bilang ini vampir, yang ada nanti penyebab yang sebenarnya malah tidak ketahuan karena semua terfokus untuk mencari vampir. Jadi biarkan kami bekerja mencaritahu kebenarannya, ya?"
Moegi manyun, disusul dengusan Udon. Konohamaru malah menghela, bukan karena teman-temannya, tapi agaknya ia pun sudah mulai percaya tentang vampir. Bagaimana pun, sudah ada tiga korban dengan tanda gigitan, dan ini terlalu kebetulan, kan?
.
.
Senja mulai tiba. Fugaku beserta Itachi memohon dengan sangat agar warga kembali ke rumah masing-masing. Biasanya jalanan akan baru sepi ketika menjelang tengah malam. Tetapi karena ada dua korban pada dua malam berurut-urut, Kepala Kepolisian Konoha memutuskan agar tidak ada yang berkeliaran saat mulai gelap, setidaknya sampai mereka mendapatkan jawaban pasti tentang apa yang terjadi di desa belakangan ini.
"Itachi, Sasuke, dengarkan aku," ucap Fugaku, ketika seluruh warga meninggalkan kediaman Orochimaru, termasuk Sakura dan Ino. "Kita tidak tahu apakah ini penyakit atau ada macam psikopat, atau, yah, mungkin hewan ganas. Tapi penyelidikan kita tidak ada kemajuan hanya dengan memelototi jasad orang. Kita harus berkeliling desa mulai sekarang."
Itachi mengangguk setuju, tetapi adiknya menunjukkan raut ragu. "Bagaimana kalau malah kita yang diserang tengah jalan?"
Fugaku tersenyum miris. "Pertama, ketiga korban meninggal di rumah masing-masing. Kalau ini adalah tindak kriminal, maka TKP-nya adalah di rumah masing-masing korban. Jika kita berkeliling desa, kita bisa jadi menemukan tindak mencurigakan dari seseorang atau sesuatu.
"Dan kedua, jika ini adalah semacam penyakit, yang telah membuat orang kehabisan darah pada malam hari, mungkin—mungkin saja, yah, kita akan tahu saat berkeliling, dan orang tersebut mungkin masih bisa terselamatkan. Aku tidak tahu. Tapi, yah, ini lebih baik daripada hanya memeriksa mayat, kan?"
Sekali lagi sang putra sulung mengangguk setuju, lalu menoleh pada adiknya. "Kalau kau sebegitu cemasnya, kau bisa jaga di batas desa seperti biasa, biar aku dan ayah yang berkeliling."
"Itu bagus juga." Fugaku mengangguk. "Untuk memastikan bahwa, jika ini adalah perbuatan seseorang, maka orang itu masih ada di dalam desa." Sasuke mengangkat sebelah bahu dengan agak berat. "Setuju, ya? Itachi, kau mengawasi di sekitar tengah desa saja, biar aku yang lebih berkeliling."
.
.
Tetapi, pada malam itu juga, tidak hanya Fugaku dan Itachi saja yang berkeliaran. Konohamaru bersama Udon dan Moegi, tiga anak yang percaya akan adanya vampir di desa tersebut, mereka juga ikut mengendap-endap pergi.
Korban kedua dan ketiga ini bisa ditarik hubungannya dengan Kades Ketiga. Walau, yah, sebenarnya karena warga desa tidak banyak, pasti bisa saja ada hubungan sendiri dengan Kades Sarutobi. Tapi kedua korban setelah Kades ini benar-benar berhubungan langsung—Asuma adalah sang putra, Orochimaru adalah sang murid. Jadi Udon punya ide untuk melihat-lihat ke sekitar rumah orang-orang yang berhubungan langsung dengan kakek sahabatnya. Seperti, yah, ada Tsunade, Shizune, dan Kurenai.
Moegi yang paling ketakutan untuk menjalani misi kecil ini sebenarnya, tapi ia penasaran. Gadis cilik yang mulai beranjak remaja itu percaya pada teori vampir yang dikemukakan teman baiknya, tapi ia juga ingin melihat bukti nyata dengan matanya sendiri. Padahal Konohamaru, yang sebenarnya yang paling tidak begitu yakin tentang vampir, sudah memintanya untuk tetap di rumah biar kedua anak lelaki ini saja yang pergi, tapi Moegi tetap bersikukuh.
Tapi, begini ... rasa penasaran itu bisa membunuh seekor kucing, bukan?
.
'K-Konohamaru! Kau lihat i-itu?!'
'Ssst! Jangan keras-keras, kita bisa ketahuan!'
'Bukankah sebelah sana itu rumah Dokter Ino?'
'Moegi, jangan cengkeram bajuku begitu, sobek nanti!'
'I—itu—!'
'A-ah, kacamataku! Jangan diinjak—'
'Ssstt!'
...
...
'AAAAAAAAA!'
.
.
Little Girl: diperbolehkan untuk mengintip saat manusia serigala memakan korban tiap malam. Jika ketahuan (oleh manusia serigala), maka Gadis Kecil akan tewas karena ketakutan.
.
Bersambung
.
.
A/N: Selain tentang peran vampir, peran Little Girl itu yang paling pertama Fei tentuin, mungkin karena di serial Naruto itu Moegi gadis paling kecil yang (agak) sering muncul? Dan tentang Fugaku, sepertinya dia malah jadi tokoh utama disini ya, padahal di rancangan plot Fei itu gak nulis dan kepikiran nama Fugaku sama sekali, eeeehh malah dia jadi seakan tokoh sentral. Mungkin takdir /bukan.
Review?
