Hay minaa~
I'm coming again.
Wah, Greeny masih Syok ternyata ada juga yang Review fic ini.
Beneran deh, gak nyangka *peluk-peluk reviewers*
Okey, karna hari minggu Greeny jadinya punya waktu buat Update kilat.
Satu harian digunakan buat nangkring didepan kompi dengan cengiran aneh.
Dan jadilah CHAPTER DUA *prok..prok..prok*
Chapter duanya cuman flashback aja buat ngejawab para reviewers yang penasaran kenapa Ichi sama Ruki bisa 'ehem-ehem'.
Yasudah selamat menikmati.
Maaf kalau tulisannya jelek.
Greeny masih amatiran sih =.= *nangis bombai*
Disclaimer:
BLEACH © TITE KUBO
its start from an unintentionally © Greengroophy
Main Pair: IchiRuki
Rate : T (teens only)
Aku mencoba merebahkan tubuhku kembali di ranjang berseprei putih polos itu. Masih mencoba menemukan jawaban dari pertanyaan yang dari tadi berkutat di kepalaku.
'Bagaimana ini semua bisa terjadi'
Aku terus memikirkannya, berusaha mengingat kembali kejadian kemarin.
Dan-
Ahh, pasti itu penyebab dari semua ini.
Sialan !
Flashback~
Rukia POV.
Aku masih duduk diayunan yang sejak sore tadi sudah menjadi teman bermainku. Aku mengayunkanya perlahan, hal ini sedikit menggoyangkan rambut hitam pendekku apalagi ditambah dengan hembusan angin malam yang tidak begitu kuat.
Mataku masih basah dengan air mata, aku menarik nafas panjang berusaha untuk menghapus rasa gelisah yang dari tadi berkecamuk di dalam diriku.
Bekas air mata yang melintas diantara kedua pipiku sudah mulai mengering, tapi tidak untuk hatiku. Beberapa jam yang lalu, Shiba Kaien sukses membuat hatiku remuk hanya dengan 6 kata yang keluar begitu lantang darinya. Seolah tidak menyiratkan sedikitpun penyeselan darinya. Tapi aku masih melihat segumpal rasa menyesal yang begitu jelas diekspos oleh kedua matanya, meskipun dia sudah menutupinya dengan senyumnya seolah menghina keterpurukanku. Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudnya.
'Aku sudah muak dengan mu.',
Hanya dengan kata itu dia berhasil membuatku jatuh. Aku tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti. Aku dan Kaien sudah sekitar setahun belakangan ini berpacaran. Pertengkaran kecil memang sering terjadi, tapi Kaien selalu mengalah untuk ku, dia bersikap begitu dewasa dalam menyikapai hubungan diantara kami. Aku bahagia bisa mempunyai seseorang seperti dia, orang yang bisa mengerti diriku. Aku bersyukur sekali bisa menjadi kekasihnya, kau tahu bagaimana rasanya berpacaran dengan seorang pria yang selalu jadi bahan pembicaraan setiap perempuan? Pasti bangga, itulah yang kurasakan.
Aku tersenyum kecil ketika memori menyenangkan bersamanya dulu bermain kembali dalam pikiranku. Saat pertama kali dia mengatakan cinta padaku, saat pertama kali dia menggenggam hangat tanganku, saat pertama kali dia mengecup lembut bibirku, saat pertama kali kami beradu argumen, saat pertama kali dia melihat air mataku.
Dalam kurun waktu setahun, dia sudah banyak merubah hidupku. Memang beberapa bulan terakhir aku sedikit mengalami konflik dengan kedua orang tuanya. Hubungan kami yang sembunyi-sembunyi diketahui oleh orang tuanya yang kurang begitu suka melihat ku karena aku ini bagian dari keluarga Kuchiki, yang sudah lama terkenal sebagai lawan sengit keluarga Shiba dalam dunia bisnis. Mungkin kalian berfikir kalau kisah cinta ku ini mirip sekali dengan sintron-sinetron murahan yang sering tayang di televisi, aku juga berfikir begitu. Mungkin kalau ini adalah sinetron-sinetron itu, akhirnya akan bahagia. Kedua bintang utamanya akan tetap saling mencintai walau ditentang keluarga mereka, tapi tidak untuk yang ini. Kaien mundur sebelum kami memulai untuk berperang. Pengecut, pantaskah itu disebut cinta?
Hatiku semakin perih memikirkan ini semua.
Kau tau bagaimana sakitnya dicampakkan oleh orang yang begitu berarti bagimu?
Sakit, kurasa tidak ada yang bisa menggambarkannya selain kata 'SAKIT'
PENGECUT ! Aku juga pengecut, sama halnya seperti Kaien. Aku hanya bisa menangis tanpa bisa mencegah semuanya.
"Adik manis? Apa yang kau lakukan malam-malam begini disini. Sendirian pula. Mau bermain dengan kami?"
Ichigo POV –still on Flashback-
Drrt..drttt..drrt
Kurasakan Handphone ku bergetar dari dalam saku celanaku. Aku memang sengaja tidak menyalakan bunyinya. Kulihat layar benda kecil itu. Tertera tulisan new message disana.
From : baka oya-jii
My lovely son, sepertinya ayah, Karin dan Yuzu tidak bisa pulang malam ini, kami ketinggalan kereta terakhir, karna insiden kecil yang ku perbuat. Mungkin kami akan sampai besok siang di sana. From your lovely dady
Hah? Sudah kuduga pasti si baka oya-jii berulah yang tidak-tidak disana sampai mereka ketinggalan kereta terakhirnya.
Mereka sedang mengunjungi makam Ibu, lalu menginap di rumah orang tua Ibu disana, karna Yuzu dan Karin sedang dalam masa liburan. Aku tidak bisa menemani mereka karna belakangan ini jadwal ujian disekolahku semakin padat. Jadi aku lebih memutuskan untuk tinggal dirumah saja.
Kulirik jam yang yang tertera pada handphone ku. Sudah jam sembilan malam lewat, dan aku belum makan apapun dari tadi. Pantas saja penghuni perutku sudah berteriak kelaparan. Aku memutuskan untuk membeli makanan diluar saja, Karna Yuzu tidak ada dirumah yang berarti tidak ada yang memasak.
Sebenarnya aku bisa memasak, hanya saja aku ini terlalu malas untuk melakukan itu.
Aku meraih jaket putihku yang tergeletak disebelah sofa panjang tempat yang aku duduki sekarang. Lalu segera menyambar dompetku yang ku letakan begitu saja diatas meja kecil didepan sofa.
Aku sesegara mungkin meninggalkan rumah karna sudah tidak tahan lagi dengan rasa lapar yang luar biasa menyerangku.
langkahku terhenti ketika melihat 3 orang laki-laki bertato sedang berdiri mengerubuni salah satu ayunan di taman itu. Sepertinya mereka sedang mengganggu seseorang wanita disana.
Sebenarnya aku berniat mengacuhkannya saja dan tetap melanjutkan jalanku. Tapi aku ini laki-laki baik, mana mungkin aku akan membiarkan mereka melukai seorang wanita. Pengecut !
Aku berjalan mendekat kearah mereka dengan kedua tangan kumasukan kedalam kantung celana panjangku.
"Ada apa ini?" Tanya ku sedatar mungkin. Mereka semua memutar bola matanya menghadapku, dan- Rukia?
Ternyata wanita yang di ganggu mereka itu Rukia. Sedang apa si cebol itu malam-malam begini?
"Apa urusanmu mahluk orens?" Tanya salah seorang dari mereka yang langsung memasang tampang tidak suka dengan kehadiranku disitu.
"Memang sebenarnya ini bukan urusanku, tapi akan jadi urusanku jika kalian berbuat macam-macam pada wanita tepat dihadapanku." Jawabku, aku masih memasang wajah dingin terhadap mereka bertiga.
Kulihat Rukia hanya menatapku dengan tatapan kosong, sepertinya dia sehabis menangis karna dapat kulihat bekas air matanya yang sudah mengering, mata kecilnya juga terlihat sembab. Apa dia menangis karna ketiga laki-laki ini?
Rasanya tidak mungkin sekali. Sepanjang sepengetahuanku, si cebol sadis itu gadis yang tegar, aku jarang sekali melihatnya menangis.
"Kalau begitu kau pergilah, dan kau tidak akan melihat semuanya. Jadi ini tidak akan menjadi urusan mu lagi." Sambung teman-temannya.
"Aku rasa aku ini tidak akan pantas disebut sebagai lelaki lagi kalau bisa-bisanya meninggalkan seorang wanita yang sedang dikroyok oleh tiga orang pengecut seperti kalian." Jawabku mantab sambil menyunggingkan senyum kecil mengejek mereka.
"Apa kau bilang? Cari mati kau!" Salah seorang dari mereka mulai melayangkan pukulannya kearah wajahku. Aku memang sengaja tidak menghindarinya, untuk merasakan seberapa keras pukulannya itu.
Aku mundur beberapa langkah karna pukulannya itu yang tepat pada pipi kiriku.
Dapat kurasakan darah segar mulai mengalir dari dalam mulutku.
'cuuuih' aku meludahkan darah itu keluar dari mulutku.
"Ternyata hanya begini." Jawabku sambil menyeka darah yang sudah melumuri permukaan bibirku. Untuk memancing emosi mereka.
"Sombong sekali kau bocah." Mereka mulai terpancing amarah, lalu menyerangku secara brutal. Aku tidak akan tinggal diam sekarang.
Aku mulai membalas setiap pukulun ataupun tendangan mereka.
Aku memang sudah terbiasa berkelahi dari kecil, karna banyak orang yang merasa tersingung dengan caraku memandang mereka. Dan aku tidak peduli akan semua itu.
Mudah sekali mengalahkan ketiga keparat ini, hanya dalam kurun waktu 15 menit mereka sudah babak belur dihadapanku. Dengan wajah yang hancur lebam mereka segera berlari menjauh dengan teriakan dan caci maki mereka.
Cih, pengecut!.
Kualihkan pandanganku pada Rukia yang dari tadi hanya menyaksikan saja dari ayunanya dengan wajah tanpa ekspresi. Aku berjalan perlahan mendekatinya, tanganku kembali ku masukan kedalam saku celanaku.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" Tanya ku cepat. Aku berdiri tepat dihadapannya.
"Bukan urusanmu, pulang saja sana." Dia mengusirku tajam namun tetap tidak merubah ekspresi wajahnya, dia hanya mendongakkan wajahnya keatas untuk melihat langsung kedua bola mataku. Aku dapat melihat dengan jelas rasa sakit yang dipancarkan oleh kedua matanya. Sebenarnya dia ini kenapa?
"Memang bukan urusanku, tapi telah menjadi urusanku sekarang." Jawabku sekenanya. Dia hanya diam tak menanggapi perkataanku barusan.
"Kau habis menangis ya?" Aku kembali membuka pembicaraan setelah lama kami terdiam. Namun dia tetap saja tidak mengubris ku, bikin kesal saja. Aku paling tidak suka diacuhkan begini.
Cukup lama kami terdiam, bahkan kami tidak bergerak dari posisi semula. Aku masih tetap berdiri dihadapannya, sedangkan dia mengayunkan ayunannya pelan.
"Yasudah kalau tidak mau jawab, aku pergi dulu." Aku lelah menanti jawabannya. Memang itu bukan urusanku, jadi aku tidak perlu repot-repot untuk memikirkannya. Walaupun ku akui aku betul-betul penasaran dengan apa yang terjadi dengannya.
Aku membalikkan badanku, lalu bergerak menjauh.
"Ichigo-" Ku dengar ia memanggilku pelan, ku balikkan tubuhku untuk menghadapnya, untuk mendengar kelanjutan dari kalimatnya.
"Bisa temani aku sebentar?" Tanya nya ragu. Aku heran, bias-bisanya dia memintaku menemaninya, padahal dia sendiri yang bilang kalau dia itu sangat alergi jika aku sudah berada dalam jarak 5 meter darinya.
Sepertinya dia betul-betul tertimpa masalah yang berat sekarang.
Aku mengangkat kedua bahuku keatas "tak masalah."
Normal POV –still on flashback-
"Hey cebol, kau jangan terlalu banyak minum. Nanti kau bisa mabuk" Ichigo langsung menarik gelas yang sudah berisi segelas red wine penuh dari tangan Rukia. Dia sudah menghabiskan beberapa botol minuman keras itu, sehingga membuat Ichigo sedikit khawatir dengannya. Suara bar yang terlalu bising juga sangat menggangunya. Ichigo sama sekali benci keributan.
"Jangan ganggu aku Ichi, aku mau mi-num. ayo minum sama-sama." nada bicara rukia mulai ngelantur, kentara sekali kalau di sudah mabuk berat sekarang.
Rukia meminta Ichigo menemaninya kesalah satu bar di kawasan Karakura, dan langsung memesan beberapa botol Red Wine untuknya dan Ichigo. Tapi karna Ichigo tidak bisa meminum minuman keras itu, dia hanya menemani Rukia saja.
Ichigo sempat bingung, bagaimana wanita baik-baik dari klan Kuchiki itu bisa bersikap seperti sekarang. Minum-minuman keras sampai mabuk begitu. Rukia yang dikenal Ichigo ialah Rukia yang keras kepala serta polos. Sangat tidak mungkin melakukan semua ini, pasti Rukia benar-benar tertimpa masalah yang berat sekarang.
"Hey, kau sudah mabuk. Hentikan kegiatanmu itu." Ichigo kembali menyambar gelas yang yang sedang diminum Rukia saat dia tengah kebingungan dengan aksi gadis didepannya itu. Hal itu membuat minuman keras yang diminum Rukia tumpah mengenai dress ungu selututnya.
"Ichigo, kau ini apa-apaan sih?" Protes Rukia marah dengan nada khas orang mabuknya.
"Kau sudah mabuk, jangan minum lagi. Ayo kuantar kau pulang." Bentak Ichigo sedikit kuat, berharap Rukia akan sedikit takut dengannya. Tapi Rukia malah tertawa kecil melihat aksinya itu.
"Ka..kau kenapa tertawa, ada yang lucu?" Ichigo mulai salah tingkah ditertawakan seperti itu oleh rukia.
Rukia memegang kedua sisi wajah Ichigo dengan kedua tangan kecilnya, membawa mata musim gugur itu terlena oleh violetnya. Hal ini sedikit membuat Ichigo gugup dan salah tingkah. "kau bodoh Ichi, otousan akan sangat marah kalau melihat putri tungalnya pulang dalam keadaan mabuk begini" jawab Rukia masih dengan nada khas orang mabuknya.
Ichigo membenarkan perkataan Rukia, bahkan saat Rukia mabuk pun ia masih bisa berpikir lebih jauh dari pada Ichigo. Payah!.
"Yasudahlah, jadi kau mau kemana sekarang?" Tanya Ichigo bingung, tapi yang ditanya malah tertidur pulas disebelahnya. Orang mabuk memang gampang sekali tidur.
"Hey cebol, bangun. Kau jangan tidur ditempat yang seperti ini." Ichigo menggoyang-goyangkan bahu rukia, mencoba membangunkannya.
Namun tampaknya cara itu sama sekali tidak membuahkan hasil baginya, Rukia masih tertidur.
Ichigo tampak berpikir keras, dia binggung apa yang harus dia lakukan sekarang. Akhirnya dia menyimpulkan dia kesimpulan diotak kecilnya*plak*
Pertama bawa Rukia pulang kerumahnya yang jelas-jelas akan membuat Otousan Rukia marah besar pada putrinya itu karna mabuk-mabukan. atau kedua tinggalkan Rukia dan biarkan dia tidur di bar itu yang dengan jelas-jelas akan membuka kesempatan pada para lelaki hidung belang untuk mengoda wanita mabuk sepertinya. Keduanya sama jahatnya.
"Argght." Ichigo mengacak rambutnya, hal yang akan selalu dia lakukan ketika sedang kebingungan. "kurasa aku memilih pilihan ketiga, membawamu kerumahku."
Ichigo POV –still on Flashback-
Si cebol ini ternyata berat juga. Aku harus repot-repot menggendongnya dari Bar itu sampai rumahku karna dia tertidur pulas. Merepotkan sekali !.
Kriieek
Kubuka pintu kamarku masih dengan menggendongnya.
Lalu kututup kembali pintu itu. Aku lalu berjalan mendekati ranjangku dan membaringkan si cebol yang berat itu diatasnya.
Wajahnya memerah karna mabuk. Wajahnya juga tampak gelisah. Ia masih menggengam salah satu botol minuman keras di salah satu tangannya, aku tidak tahu kalau dia ternyata membawanya. Aku mengambil botol yang sekarang hanya berisi ¾ cairan didalamnya, lalu meletakannya di meja kecil sebelah ranjangku.
Aku kembali mengalihkan pandanganku pada Rukia.
Aku benar-benar penasaran apa yang membuatnya menjadi begini.
Mungkin aku bias menanyakan padanya besok.
Kutarik selimut putihku untuk menutupi tubuhnya, sepertinya dia kedinginan karna sekarang memang jepang sedang memasuki musim dingin.
Kuperhatikan sekali lagi wajahnya yang sedang terlelap itu, dia manis kalau sedang diam begini, wajahnya lebih tenang. Ku singkirkan rambut-rambut halusnya yang menutupi wajahnya. Sebenarnya aku lelah dengan hubungan kami yang tidak kunjung membaik. Selalu berkelahi untuk hal yang sama sekali tidak penting. Sebenarnya aku ingin sekali akrab dengannya, menurutku dia cewek yang lumayan menarik walau sifatnya yang keras kepala dan tidak mau kalah itu terkadang menyebalkan. Entah sejak kapan, ku rasa aku mulai tertarik dengannya.
Aku menggelengkan kepalaku cepat, membuang jauh apa yang barusan kupikirkan. Bodohnya aku, bisa-bisanya jatuh cinta padanya. Dia itu kekasih Shiba Kaien, ketua osis yang bisa dibilang sempurna. Aku sudah tau kalau mereka sudah lama menjalin hubungan meskipun sembunyi-sembunyi, aku juga tidak mengerti mengapa mereka melakukan itu semua. Tapi yang namanya bibir perempuan itu memang sangat canggih, hal tersebut tetap saja bocor.
Segeraku ambil botol minuman yang berada di meja kecil dan langsung ku teguk cepat. sekedar untuk kembali menjernihkan pikiranku dari si midget merepotkan ini.
"Yackk!" Rasanya tidak enak. Apasih namanya minuman ini.
Kulihat merek botol itu, astaga . inikan botol minuman yang dibawa Rukia tadi. Kenapa aku bodoh sekali meminumnya?
Aku terlalu sensitive dengan minuman ini, minum seteguk saja dan aku akan langsung mabuk berat, seperti kejadian beberapa tahun lalu saat merayakan pernikahan Matsumoto rangiku dan Ichimaru gin. Rangiku yang begitu mencintai sake, memaksa keras semua tamunya untuk minum bersamanya, tidak terkecuali aku, Dia memaksaku habis-habisan. Dan yang terjadi aku malah mabuk berat sehingga kehilangan kendali dan sukses besar mengacaukan pesta pernikahannya. Padahal aku hanya meminumnya beberapa teguk. Tubuhku ini benar-benar lemah terhadap alkohol.
Dan sekarang sepertinya efek buruk dari minuman sialan itu sudah mulai beraksi. Kepala ku jadi terasa berat dan berputar-putar. Lebih baik aku mengistirahatkan diriku di kamar Karin dan Yuzu.
Aku baru saja bersiap akan pergi meninggalkannya dikamarku, tapi tangan kecilnya lebih cepat menarik tangan kekarku.
"Jangan tinggalkan aku juga Ichigo." Gumannya pelan, matanya sedikit terbuka, sepertinya dia sudah bangun sekarang.
"Jangan tinggalkan aku juga sepertinya." Sambungnya pelan.
Aku tidak mengerti apa yang sedang dibicarakannya sekarang. Ditinggalkan siapa maksudnya?
"Maksudmu apa Rukia?" Tanya ku penasaran. Sepertinya aku sudah mulai mengerti hal apa yang membuat Rukia menjadi seperti sekarang ini. Aku tetap mempertahankan diriku dalam keadaan sadar untuk mendengar jawabannya.
Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku, malah menarikku kearahnya, aku yang memang sedang tidak siap dengan tarikan mendadaknya, ditambah lagi dengan keadaan ku yang baru saja berhubungan dengan alkohol, harus rela tertarik kearahnya, hampir saja aku menimpanya dengan tubuh besarku kalau saja aku tidak segera menahannya dengan kedua sikuku di kanan dan kiri tubuhnya.
Apasih mau si pendek ini, aku baru saja akan meneriakinya atas perbuatannya ini, tapi begitu melihat mata violetnya berair ku buang jauh niat ku itu.
"Janji kau tidak akan meninggalkan aku juga kan?" Tanya memastikan. Ku tatap violet indahnya, seperti meminta jawab 'iya' dari ku. Arrgh, ini semua makin membuatku frustasi, sebenarnya ada apa dengannya?
"Rukia… aku-"
"Kumohon Ichigo, aku benci ditinggalkan." Potongnya cepat. Kurasa karna mabuk dia jadi tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Karna Rukia yang kukenal bukan yang lemah dan cengeng seperti ini.
"kumohon Ichi-hmmmp" Aku segera membungkam bibirnya dengan bibirku. Jujur saja aku tidak suka melihatnya begini. Tapi hal ini malah membuatku yang lepas kendali, aku tidak bisa menghentikan aksi ciumanku di bibir Rukia, apalagi ciuman itu makin lama makin ganas dan berubah menjadi lumatan-lumatan panas karna ternyata Rukia membalas ciuman ku itu. Kami baru menghentikannya ketika paru-paru ku sudah menjerit minta di isi oksigen. Nafas ku terengah-engah karna ciuman barusan. Kulihat dia juga sama sepertiku, wajahnya semakin merah dan itu membuatku semakin lepas kendali.
"Aku janji tidak akan meninggalkanmu, Rukia." Bisikku tepat ditelingannya, membuatnya sedikit mendesah karna nafasku yang menyapu telinganya, membuatku semakin gila karna desahannya itu. dia tersenyum puas mendengar jawabanku untuknya. aku melanjutkan lagi aksi gilaku terhadapnya. Akal sehatku dikalahkan oleh nafsu. Aku bahkan samapai melakukan hal yang seharusnya tidak ku lakukan padanya.
End of Flashback~
TBC~
Akhirnya setelah berjuang dengan segenap jiwa dan raga, Chapter duanya selesai juga.
Kilat lagi *bangga sama diri sendiri*
Nah sekarang semua uda pada taukan kenapa?
ternyata Ichi-nii itu PERVERT .
bias-bisanya memanfaatkan situasi pas Ruki-nee pas lagi mabuk.
Ayo tanggung jawab *nodongin silet ke Ichi*
Haha, sebenernya Greeny mau ngasih adegan Lemonnya. Cuman kala mengingat ini rate T dan Greeny yang uada keburu nosebleed parah deluan sebelum ngetiknya, dengan sangat terpaksa Greeny urukan niatnya.
Jadi buat para readers silahkan bayangin sendiri bagaimana kira-kira adegan panas mereka berdua, yang jelas masih sama-sama dengan keadaan mabuk yah *nosebleed lagi ngebayanginnya* *nyumpel idung pakek kapak–plak- maksud Greeny tissu*
Oke sekarang waktunya balas REVIEW~
Kegiatan paling paporit buat Greeny X3
Chappystobery
Makasih sudah mau repiu~
Emang sengaja Greeny buat ngegantung, tapi sekarang udah tahukan kenapa?
Ichi-nii PERVERT *dibankai Ichi*
Ini sudah update kilat.
Repiu lagi ya~
Ruki Yagami
Wah, jadi GR ficnya ditungguin sama Ruki-chan X3
Greeny betul-betul fav banget sama semua fic Ruki-chan. Apalagi yang 'Prince of the hell or the heaven'-nya
Haha, makasih sudah sempat-sempatin ngerepiu fic gaje ini Ruki-chan.
Ini sudah update, kilatkan. Greeny gituloh *muji dirisendiri*
Ditunggu ya reviewnya lagi~
Ojou-chan
Greeny juga gak tahu kenapa, mereka berdua memang mesum dari sananya *ditendang om tite karna menghina karakternya*
Iya, Greeny juga gak mauu Ichi pacaran sama Senna, mending sama Greeny *ditendang om tite –lagi-*
IcHiki Aoi
Ahh, jadi malu ceritanya dipuji-puji kayak gitu *dirajam karna sok punya malu*
Uda tahu kan kenapa mereka bisa berbuat kayak begitu. Ichi-nii benar2 pervert!
Ini sudah diupdate, review lagi~
Cherrysakusasu
Salam kenal jugaa~ *asik ada yang nagjak kenalan*
Greeny juga masih bingung, ntar bagusnya Ruki-nee dibuat hamil gak ya?
Menurut Cherry-can *boleh yah, Greeny panggil kayak gitu?* gimana? Bagusnya dibuat hamil gak?
Di fav? Makasii Cherry-chan *peluk-peluk* gak nyangka ada yang sudi juga buat nge-fav.
Ini sudah update, review lagi yah cherry-chan XD
Qren
Udah tau kan kenapa IchiRuki bisa berbuat gak senonoh kayak begitu *ditampar Ichiruki*
Greeny masih bingung, Ruki-nee dibuat hamil gak ya?
Kasih pendapat.
Tenang saja, inikan pairnya IchiRuki jadi pasti IchiRuki, kalau IchiSenna pasti bukan Greeny deh yang nulis ficnya.
So-chand cii Mio imutZ
Makasih sudah mampir merepiu~
Sekarang uda tahukan kenapa bisa begitu? Bagaimana pendapatnya?
Ini sudah update, repiu lagi~
SoraHinase
Makasih sudah mampir merepiu~
Ichi-nii yang ngelakuin itu pada Ruki-nee, tapi Ruki-nee mau-mau aja.
Kita laporkan saja pada Byakuya, biar cepat dikawinkan dua mahluk bejad ini *digebuk IchiRuki FC*
Ini sudah update, repiu lagi ya Sora-chan~
Rio-Lucario
Aiih, Rio-kun sok POLOS ! masa gak tau lagi ngapain *ditendang kebulan sama Rio-kun*
Maaf, typo emang gak pernah lepas dari fic Greeny, makasih sudah ngingetin. Greeny bakal lebih teliti.
Ini sudah update, repiu yaa~
Mio 'ichirugiran' kyo
Kyaaa jadi tersipu malu dikatain ficnya keren*plak*
Makasiih *peluk-peluk*
Di fav lagi? *cengo*
Kyaa, senangnya. Tralala trilili.
Karna dikatain ficnya keren, Greeny jadi semangat updatenya. Ini udah update, kasih repiu lagi yaa~
Kikoyoe aoi hinamori
Makasih yoe chan udah mau dating merepiu fic abal-abal Greeny.
Ohyaa, wah memang yang namanya typo itu bikin RIBET. Okey, Greeny bakal lebih teliti lagi.
Greeny gak nyangka kalo Ichi bakal kalut gitu pas denger Yoe-chan mau bikin HitsuRuki rate M.
Hahaha Ichi itu ternyta beneran bodoh, menang rambut orens doing *digetok Ichi pakai kapak-oh noo!-*
Ini sudah update kilat kan? Haha karna banyak yang repiu, semangat ngetik jadi mencuat walaupun punggung pegal seharian di depan kompi.
Repiu lagii~
Ochibi4me
SERATUS rupiah buat kamu !
Iya, ceritanya sih begitu. Mereka berdua sama-sama mabuk.
Kenapa?
Sekarang udah tahukan kenapa?
Apakah masih P.E.N.A.S.A.R.A.N ?
Haha
Ini sudah update, repiuu lagi yaa *kedip-kedip*
De'as Marshal
Benarkah keren? Sukurdeh kalau ada yang suka *berlimpahan air mata*
Iya, Ichi harus tanggung jawab, atau Greeny lapor Byakuya ntar, biar di bankai sama mas byakuya.
Sekarang de'as uda tahu kan kenapa bisa begitu~
Bagaimana? Bagaimana?
Ini sudah update kilat, oleh karna itu kasih repiu lagi ya de'as-chan *sok akrab*
Jee-ya Zettyra
Iya, perbuatan mereka betul-betul tidak patut dicontoh.
Tapi sebenernya Ichi itu emang suka sama ruki kok, tapi gak mau ngaku aja gitu.
Greenya gak tau, apakah chapter ini sudah lebih seru atau tidak.
Semoga bisa memuaskan *loh?*
Kasih repiu lagi yaa~
Yuri
Wah, senang ada yang penasaran juga sama kelanjutannya~
Ini sudah update, jadi wajib kasih komentar lagi yaa~
Ruki ruu mikan head
Makasih ruu, udah dating merepiuu~
Iya, Greeny juga nangis darah baca chap 423 nya.
Sadis banget !
Akang TITE tak berperasaan, memisahkan IchiRuki seenak jidatnya *ditendang bang TITE*
Tapi itu bukan Chap terakhir kan?
Ahh, fic ini adakan berkat adanya bang TITE yang buat komik BLEACH .
Jadi fic Greeny belum ada apa-apanya loh ruu.
Chap ini kasih repiuu juga yah ruu~
Kurosaki Kuchiki
Makasih sudah dating mereview~
Apakah penasarannya sudah hilang di libas chap kedua ini?
Greeny harap begitu.
Kalau soal Ichi yang pacaran sama Senna mungkin akan kita bahas di Chap selanjutnya. Soalnya Greeny gak mungkin akan membuat fic dengan pair selain IchiRuki.
Ini sudah update, kasih repiu lagi yaa~
Fiuuhhh~
Selesai jugaa akhirnya.
Oiya, banyak yang Tanya apakah Ruki bakal hamil atau enggak.
Greeny juga masih bingung jawabannya apa.
Kalau menurut readers bagusnya bagaimana?
Yasudaah, kalau begitu kita sudahi aja fic yang satu ini.
Maaf kalau misalnya masih fic Greeny masih jelek dan abal-abal.
Tapi kalau moleh, kasih Review lagi yah.
Biar ada penyemangat ngetik chap selanjutnya gituu.
Haha.
See you at the next chap.
"REVIEW PLEASEE"
