a box of chocolate

~a sequel to assortment~

(standard disclaimer and warning from last chapter apply)

.

.

.

Kise Ryouta menemukan sekotak coklat di kotak posnya di suatu pagi, kotak dengan logo familiar setelah menjadi langgananannya selama dua tahun belakangan ini. Matanya tidak dapat tidak berbinar begitu melihat coklat-coklat yang tersusun rapi di dalamnya. Semuanya adalah coklat favoritnya. Semuanya adalah coklat yang menyimpan cerita untuknya.

Namun kepahitan yang dirasanya setelah membaca satu kata yang tertulis di pojok kotak tak bisa dikalahkan, semanis apapun coklat-coklat itu.

"Adieu."

.

Karir Kise Ryouta semakin bersinar. Namun tentu saja, tak ada yang tahu bahwa alasannya mengubur diri dengan pekerjaan adalah untuk melupakan rasa sakit hatinya. Dan, jika ia boleh jujur, adalah suatu bentuk balas dendam bagi ia yang telah meninggalkannya. Karena jika karirnya menembus kancah mancanegara, maka 'orang itu' pun mau tidak mau akan melihat wajahnya dimana-mana, dan mau tidak mau juga akan teringat padanya. Tidak adil jika hanya dia yang terus-terusan teringat pada orang itu kan?

.

Daun-daun berguguran. Lalu berganti salju putih sejauh pandangan. Bunga-bunga bermekaran. Terik matahari pun segera datang. Musim berganti, dan kepopuleran toko coklat kecil di pinggir kota itu semakin meluas. Pemiliknya pun telah mengukuhkan namanya sebagai salah satu chocolatier papan atas di negara asalnya. Dan toko kecil itulah yang menjadi tempat persembunyian. Dari masa lalu yang seakan mimpi belaka. Dari rindu yang menyesakkan dada. Dari rasa ingin lari meninggalkan semua ini dan kembali ke sisinya.
Karena dalam tiap tetes coklat yang diramunya, terbersit bayangan tentang dirinya.

.

"Yukio-nii! Ada tamu!" seru sang bungsu yang baru menyeruak masuk dari pintu depan.

Ibunya langsung mengomelinya, mengatakan bahwa hal itu tidak sopan, sementara si anak tengah hanya menghela napas melihat adegan yang sudah sering terjadi itu. Namun si sulung terpaku menatap sosok yang kini berdiri di tengah tokonya itu, sosok yang ia pikir tak mungkin dapat ditemuinya lagi, yang helain pirangnya lebih menyilaukan daripada matahari musim panas dan sepasang iris sewarna madu.

Ia menjatuhkan peralatannya dengan bunya berkelontang, mengabaikan coklat yang mulai membeku diatas tatakan, dan tanpa sadar kakinya telah melangkah ke arahnya.

"Akhirnya ketemu," ujar pemuda itu dengan bahasa Jepang yang sangat lancar, senyuman yang sama mengembang di wajahnya.

"Ryouta..."

.

Yukio tidak tahu siapa yang memulainya duluan, tapi mereka berdua berakhir berpelukan di tengah tokonya. Dengan tatapan dari semua pelanggannya terarah pada mereka. Jangan lupakan tatapan tajam dari ibunya dan adik-adiknya. Harusnya ia merasa malu, harusnya ia mendorong Ryouta menjauh dan melayangkan tendangan ke arahnya. Namun yang dirasakannya adalah perasaan lega, bahagia. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Ryouta, membiarkan dirinya diselimuti oleh kehangatan si pirang dan aroma lemonnya yang tetap tak berubah bahkan setelah lama terpisah. Sebentar saja tidak apa kan?

.

"Yukio-san jahat sekali, pergi tanpa bilang apa-apa."

"Tapi aku sudah mengirimkan coklat—"

"Apa tidak bisa kalau kau setidaknya menemuiku dulu dan bukannya meninggalkan sekotak coklat di kotak posku?"

"…tidak bisa."

"Kenapa?!"

"…kalau aku menemuimu dulu bisa-bisa tekadku untuk pulang runtuh."

Si model pirang menghela napas berat, meskipun seulas senyum terukir di bibirnya setelah mendengar pengakuan itu.

"Aku baru-baru ini mendengar alasan kenapa Yukio-san mendadak pulang ke Jepang. Sebelumnya aku mengira bahwa kau bosan denganku dan pergi begitu saja," akunya diiringi tawa. kecil.

Yukio mendengus, "Jangan bilang kau depresi karena selama ini tidak pernah dicampakkan kekasihmu?"

"Tentu saja tidak."

"Sudah kuduga. Aku bahkan mengira kau sudah punya kekasih ba—"

"Aku depresi karna Yukio-san yang mencampakkanku."

.

"Yukio-san, hati-hati! Bagaimana kalau isinya pecah?!" protes Ryouta melihat Yukio yang baru saja membanting kardus miliknya.

"Berisik, Ryouta, kardus itu cuma berisi baju kan? Mana mungkin pecah! Dan lagi, kenapa barangmu sebanyak ini hah?"

"Tentu saja karena aku akan pindah kesini kan~"

"Tapi apa itu berarti kau harus membawa semua ini?!" Yukio merentangkan tangannya, mengisyaratkan pada tumpukan-tumpukan kardus yang sudah memenuhi ruang tamu apartemen baru Ryouta.

"Yep, mana mungkin aku meninggalkan isi wardrobeku sementara aku tetap akan bekerja sebagai model disini kan?"

Yukio hanya menggeram, lalu menyibukkan dirinya dengan kardus-kardus itu.

"Yukio-san," Ryouta yang tampaknya alergi dengan suasana hening kembali membuka suara, "Bagaimana kalau kau pindah kesini bersamaku?"

"Ha?"
"Tempat ini terlalu besar."

"Kalau kau sadar tempat ini terlalu besar lalu kenapa kau masih tetap membeli tempat ini hah?!"

"Karena aku ingin tinggal disini bersama Yukio-san."

"…bodoh."

.

"Yukio-san!"

"Apa?"

"Apa kau biasa membuat coklat di rumah juga?"

"Kadang, jika aku sedang tidak ke toko dan bosan di rumah. Kenapa?"

"Tidak apa-apa. Aku hanya membayangkan jika ada banyak coklat di rumah, kita bisa melakukan banyak hal-hal menarik dengannya."

Yukio mengangkat alisnya, tanda agar Ryouta menjelaskan lebih lanjut mengenai maksud ucapannya.

"Kau tau, sesuatu yang melibatkan coklat! Seperti mungkin, melumuri tubuh Yukio-san dengan coklat. Lalu aku akan menjilat coklat-coklat itu dari seluruh jengkal tubuhmu sampai tidak ada yang tersisa. Mm, Yukio-san ditambah coklat terdengar nikmat. Lalu setelah itu—eeeeeeeph—!"

Sebuah buku melayang dengan kecepatan penuh ke arah muka sang model.
"DASAR MESUM!"

.

fin?

.