(Ting Tong Ting Tong)
*Ckelk* Hai! Setelah berbulan- bulan gak update fic Airin yang nista ini, Airin memutuskan untuk melanjutkan fic berdebu ini. Yah... Untuk memenuhi janji, karena Natsu-Chan dah bikin fic lagi,aku jadi update deh! Ini fic yang Airin kebut ngetik plus publish selama 2 jam berkutat di warnet. Jadi mungkin hasilnya jelek. Semoga kalian suka dengan chappy ini!
Desclaimer: Kurapika dan kawan- kawan tuh punya aku! #ditendang Yoshihiro Togashi.
Warning: Kata- kata tak beraturan, Typo(s), kata yang berbelit- belit, AU, OOC tingkat dewa, N KuroFemKura.
Happy Reading^_^
Apartemen yang bising. Bagaimana bisa pagi- pagi begini sudah menimbulkan suara bising. Padahal jam dinding baru menunjukkan pukul 5 pagi.
"Prang!", suara panci yang jatuh dari lemari.
"Aduh…", ringis seorang gadis yang memegang kepalanya. Rupanya Kurapika berusaha mengambil panci yang akhirnya menjatuhinya. Nampaknya, ia sibuk membuat makanan bekal untuknya untuknya juga kekasihnya. Beruntunglah ia membeli buku panduan praktis membuat bekal.
'Yah… Setidaknya aku harus belajar memasak.', Pikir Kurapika yang masih memotong sayuran.
Skip Time aja yah!
"Na… Nana…Na…", senandung Kurapika. Dia senang sekali akan berlibur dengan kekasihnya. Wajahnya berseri- seri sejak pagi hari. Tentu saja ia sudah selesai dengan barang bawaannya. Ia mengenakan kaos putih dan sweeter merah. Bawahannya dengan celana ketat hitam selutut dan sepatu kets coklat. Ia cukup nyaman dengan pakaiannya.
Kurapika duduk di pinggir kasurnya. Kini ia tak memakai lensa kontak dan kacamatanya. Mata birunya bersinar cerah. Tiba- tiba ponselnya berdering. Ia mengangkatnya dengan wajah ceria.
"Moshi- moshi!", sapa Kurapika senang.
"Moshi- moshi! Kau sudah siap? Aku sudah di bawah.", kata Kuroro yang menelepon Kurapika.
"Ah… I-Iya!", jawab Kurapika segera mengambil tasa punggungnya dan menutup telepon.
Kurapika melihat Kuroro sudah berdiri di depan pagar apartemen Kurapika. Ia tersenyum manis pada Kurapika. Kurapika segera menghampirinya. Kurapika berusaha menutupi kesenangannya yang berlebihan itu.
"Kuroro, sudah lama menungguku?", Tanya Kurapika sedikit gugup.
Ia menatap Kuroro yang mengenakan kaos putih dan jaket hitam. Tidak lupa celana hitam dan sepatu hitamnya.
'Terlihat lebih tampan dan keren.', puji Kurapika dalam hati sambil berblushing ria.
"Ah, tidak terlalu lama. Ayo berangkat!", ajak Kuroro merangkul pinggang Kurapika.
Kurapika makin tersipu. Ia belum pernah jalan bedua di depan umum seperti ini. Apalagi kencan terang- terang begini. Sepertinya ia terlalu gugup. Kuroro yang menyadari sikap Kurapika yang aneh, mempererat pelukannya.
"Tenang saja! Kita harus bersenang- senang.", bisik Kuroro.
"Baiklah…", sahut Kurapika yang mulai rileks.
"Ayo naik!", ajak Kuroro lembut. Merekapun naik bus menuju gunung.
XXxxXX
Dalam perjalanan, Kurapikalah yang paling banyak bicara. Dia terlalu senang menikmati perjalanan. Namun, entah kenapa Kuroro jadi pemurung.
'Tidak seperti biasanya… Kuroro kenapa, ya?', Tanya Kurapika dalam hati.
"Kuroro, nanti kita naik sampai puncak gunung ya!", ajak Kurapika ceria.
Kuroro mengangguk dan tersenyum tipis.
'Kuroro, sebenarnya ada apa denganmu?', pikir Kurapika khawatir.
'Apa yang harus kulakukan? Aku tak mungkin membunuh kekasihku sendiri!', seru Kuroro dalam hati.
Kurapika masih saja enggan menanyakan keadaan Kuroro. Ia begitu bingung harus berbuat apa. Kurapika hanya bisa berharap kencannya tidak hancur berantakan. Sementara Kuroro terlihat berpikir keras. Ia jadi teringat jati dirinya. Dia adalah anggota organisasi pembunuh. Kelompoknya ditugaskan memusnahkan keluarga Kuruta. Tentu saja ia harus menahan perasaannya sejak 10 tahun lalu. Ia berbohong pada kelompoknya kalau Kurapika melarikan diri. Padahal ia sengaja melepaskan Kurapika. Selama 10 tahun kelompoknya memburu Kurapika. Namun Kuroro selalu meloloskan Kurapika.
Kuroro merasa beruntung. Karena ide gilanya mendekati Kurapika, ia berhasil mendapatkan gadis itu. Ia merasa bahagia telah bertemu Putri Kuruta ini. Ia tahu perasaannya ini tak dibutuhkan oleh seorang pembunuh sepertinya. Tapi saat ia terjebak dalam lubang cinta, ia tak bisa lari dari perasaan tersebut.
"Kuroro, kau tidak apa- apa?", Tanya Kurapika cemas.
"Tidak. Aku tidak apa- apa, Kurapika. Mungkin agak sedikit mengantuk.", jawab Kuroro sambil mengelus rambut Kurapika lembut.
Kurapika tersenyum kecil. Ia menyenderkan kepala Kuroro ke bahunya.
"Kalau begitu, tidurlah sebentar. Masih ada waktu sampai bus ini tiba.", kata Kurapika.
"Terima kasih.", sahut Kuroro singkat. Iapun meutup matanya berusaha menenangkan hatinya.
'Aku beruntung Kurapika hanya melihat tanda di dahiku saat itu. Apa sekarang aku harus membuka perbanku dan menunjukkan jati diriku?', Tanya Kuroro dalam hati.
Kuroro merasa bersalah telah membohongi Kurapika. Ia hanya punya 2 pilihan. Peratama, ia harus berhenti mencintai Kurapika dan membunuhnya. Kedua, ia akan melindungi Kurapika dan menjadi pengkhianat.
"Kuroro , kita sudah sampai…", bisik Kurapika.
Kuroro terbangun dan tersenyum lemah. Mereka turun dari bus dan bergandeng tangan menuju puncak gunung.
Skip time
"Wah! Indahnya!", seru Kurapika begitu mereka sampai di puncak gunung. Ia dapat melihat alam sekitar di bawahnya. Begitu banyak pohon- pohonan hijau.
Kuroro menatap Kurapika dengan senyum merekah.
"Aku sudah bilang kau akan menyukainya.", kata Kuroro sambil memeluk Kurapika dari belakang. Kuroro membenamkan wajahnya ke leher Kurapika.
Mereka berdiri di puncak gunung yang indah. Angin berhembus, menyapu wajah cantik Kurapika. Ia menutup matanya. Menikmati segarnya udara pegunungan, sapuan angin, dan hangatnya pelukan sang kekasih. Ia menggenggam erat kedua tangan yang melingkar di pinggangnya. Ia ingin waktu berhenti sejenak. Membiarkan suasana nyaman yang ia sukai tak cepat berlalu.
'Tuhan… Jangan biarkan kami berpisah. Apapun yang terjadi, aku tetap mencintai Kuroro.', bisik Kurapika dalam hati.
"Kuroro, kau akan tetap di sampingku 'kan?", kata Kurapika tetap menutup matanya. Ada nada kekhawatiran dalam perkataanya. Ia berharap Kuroro menjawabnya dengan jawaban yang ia harapkan. Namun, Kuroro tak kunjung angkat bicara.
"Kuroro…", panggil Kurapika pelan dan dan membuka matanya.
Tiba- tiba Kuroro menciumi leher Kurapika menuju menggigit kecil telinga Kurapika tanpa sepatah kata apapun.
"Ah….", desah Kurapika.
"Aku akan melindungimu, Kurapika.", bisik Kuroro.
"Aku tahu…", desah Kurapika. Kuroro melepaskan pelukannya.
"Sebaiknya kau nikmati pemandangan ini.", kata Kuroro dengan senyum tipis.
Kurapika tahu. Senyuman itu bukan senyum bahagia, melainkan senyum kesedihan. Kurapika menatap sedih pada Kuroro yang duduk di bawah sebuah pohon rindang.
'Kuroro…', bisik Kurapika dalam hati.
Iapun menghampiri Kuroro dan duduk di sebelahnya. Kurapika bingung harus melakukan apa. Akhirnya ia memeluk Kuroro dari samping.
"Ada yang membuat sedih, Kuroro? Bilang saja padaku. Aku ingin membantumu.", kata Kurapika cemas.
"Kurapika… Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.", kata Kuroro datar sambil menghela napas.
"Katakan saja.", ucap Kurapika lembut.
Kurapika meletakkan dagunya ke bahu Kuroro.
'Apa aku harus jujur padanya sekarang?', batin Kuroro.
"Kurapika, aku…", kata Kuroro sambil menoleh ke arah Kurapika. Namun mereka terkejut karena jarak wajah mereka yang dekat hingga hidung mereka bersentuhan. Pipi Kurapika bersemu merah. Mereka saling menatap satu sama lain. Mata onyx Kuroro bertemu dengan mata aqua milik Kurapika.
'Apa aku harus melukai hatimu, Kurapika. Mata seindah ini. Wajah secantik ini. Dia malaikat jatuh yang harus kulindungi.', batin Kuroro.
Tiba- tiba Kuroro mendorong Kurapika ke arah pohon dan mencium bibir Kurapika. Kurapika hanya menutup mata dan menikmati ciuman Kuroro. Bukan ciuman penuh hasrat yang biasa diberikan Kuroro pada Kurapika. Kurapika merasakan itu. Ini adalah ciuman penuh kasih saying dan cinta yang tulus dari seorang Lucifer. Bukan Kuroro yang penuh emosi yang ada di hadapan Kurapika saat ini. Tapi hanya ada Kuroro yang mempersembahkan hatinya untuk Kurapika seorang. Kurapika bahagia menerima semua ini dari Kuroro. Seakan tak ingin melepas Kuroro, Kurapika memeluk Kuroro dengan erat. Ia tak ingin melewatkan detik demi detik ciuman Kuroro yang jarang ia dapatkan.
Setelah merasa kalau Kurapika kehabisan napas, ia melepaskan Kurapika. Kuroro mendekatkan wajahnya ke wajah Kurapika. Tangan kirinya memegang pipi halus Kurapika dan tangan kananya membelai rambut pirang Kurapika.
"Aku sangat mencintaimu, Kurapika.", ucap Kuroro tulus.
"Aku juga mencintaimu, Kuroro", jawab Kurapika tersenyum bahagia. Ia menghambur ke pelukan Kuroro. Membenamkan wajahnya dalam- dalam ke dada Kuroro. Kuroro tersenyum lega dan memeluk Kurapika.
'Maafkan aku, Kurapika. Bukannya aku ingin menutupi kejahatanku. Aku belum siap untuk kehilanganmu. Apapun yang terjadi, aku tetap melindungimu.', bisik Kuroro dalam hati.
Skip time
Setelah makan bento buatan Kurapika, mereka berjalan menuruni gunung.
"Kuroro, ambilkan bunga itu untukku.", kata Kurapaika yang menunjuk bunga berwarna merah indah di puncak sebuah pohon besar.
"Hah? Itu 'kan tinggi sekali! Aku harus memanjat pohon setinggi ini?", seru Kuroro tak percaya.
"Kau 'kan laki- laki. Masa' tidak bisa memanjat pohon?", kata Kurapika sebal.
"Hei! Aku bisa memanjat! Tapi kalau pohonnya setinggi ini, mana bisa?", elak Kuroro menatap puncak pohon itu.
"Pokoknya aku mau bunga itu! Kalau tidak, aku akan pulang sendiri!", kata Kurapika ngambek sambil melangkah menjauh.
"Baik- baik. Akan kuambilkan.", kata Kuroro menyerah.
Kurapika menatap Kuroro sedang memanjat pohon dengan mata berbinar- binar. Padahal Kuroro sedang memanjat pohon itu dengan napas terengah- engah.
"Hore!", sorak Kurapika saat Kuroro turun dari pohon besar dengan bunga merah tadi di tangannya.
"Ini untukmu, Tuan Putriku yang cantik.", kata Kuroro sambil menyelipkan bunga merah tadi ke telinga Kurapika. Kurapika tersenyum malu.
"Ayo kita pulang!", ajak Kurapika sambil merangkul lengan Kuroro dengan manja. Senyum ceria menghiasi wajah cantik Kurapika.
Merekapun pulang dengan bunga merah yang menghiasi rambut pirang Kurapika.
TBC
Airin: "Yay! Akhirnya update juga!" #lompat- lompat kegirangan.
Kirara: "Hei… Jangan senang dulu donk, Nee-Chan! Kan belum selesai ficnya."
Airin: "Ah… Udah update aja Alhamdulillah. Oh, ya! Terima kasih sudah membaca chap fic nista ini! Kenalkan, ini Kirara, OC ku."
Kirara: "Hai! Reader sekalian, maafkan Nee-Chanku yang nista ini karena telah mengotori fandom Hunter X Hunter ini."
Airin: "Kirara! Kau tidak boleh bilang begitu tentang Nee-Chanmu!" #Njitak Kirara.
Airin: "Abaikan, Kirara yang aneh ini. Dalam chappy ini, jangan protes atas keOOC-an 360o Kurapika dan Kuroro. OOC adalah tradisi Airin demi kelancaran cerita ini."
Kirara: "Terus…."
Airin: "Lalu, gak boleh protes tentang jalan cerita yang ancur ini. Kalo protes, Airin ngambek nih!" #Dilemparin tomat sama reader.
Kirara: "Oh,ya! Kalau reviewnya sudah mencapai 10 lebih, Nee-Chan bakal update fic ini. Jadi, semakin cepat review, semakin cepat update!"
Airin: "Kirara!" #ngebungkam mulut Kirara.
Airin: "Daripada banyak cincong, mending kita minta review."
Airin&Kirara: "Review, please…."
