Rasa adalah apa yang memenuhi diri manusia. Anak kecil atau pun orang dewasa. Begitu pula denganmu. Kamu, Haruno Sakura. Gadis remaja yang selalu saja mencintainya. Meski kondisi dan atensinya hanya untuk atas janji masa kecilmu dengannya. Bukan untukmu―dalam artian tidak menganggapmu lebih dari teman sejak kecil. Namun, kamu selalu tahu, bagaimana pun dia bertindak dalam hidupnya, kamu akan tetap mencintainya.
MELEPASMU
Naruto is not mine
Kishimoto Masashi
Melepasmu is purely mine!
Kurousa Hime
Why by Secondhand Serenade
Warnings: AU, OOC, gaje, aneh
Silahkan membaca!
"Aku tidak menyuruhmu untuk melupakannya, Sakura! Hanya saja, aku ingin mengingatkanmu untuk melihat sekelilingmu. Demi dirinya, kau bahkan rela menulikan telinga dan membutakan matamu dari dunia,"
Ucapan Ino dikala sore hari tepat sebelum dua hari Sasuke memintanya untuk menemuinya―Sakura tidak mau mengakuinya dengan hari diputuskannya dirinya―selalu terngiang sepanjang waktu. Seakan kalimat itu seperti bayangan dirinya yang akan memahat dengan indahnya di posisi tertentu.
Karena ucapan Yamanaka Ino―sahabat perempuan satu-satunya di sekolah putri―Sakura rela melepaskan Sasuke yang selalu diiming-imingi oleh janji saat mereka masih kecil. Beri applause untuk Nona Blonde tersebut karena sudah menuntun Sakura menuju keputusan yang harusnya sudah Ia lakukan sejak dahulu.
Sungguh Sakura memang telah berbuat keterlaluan sebelumnya. Dengan memonopoli Sasuke―yang pada kenyataannya Sasuke tidak pernah akan menganggapnya perempuan hanya sebatas teman sejak kecil.
Hanya karena keegoisannya Sakura mengabaikan sekelilingnya bahkan sekeliling Sasuke―yang akhirnya jatuh cinta untuk pertama kalinya pada seorang anak perempuan cantik dan manis dan lagi lembut bagai seorang Ibu.
Sakura menutup mata bahwa Sasuke tengah tertarik pada Hyuuga Hinata.
Sakura menutup telinganya bahwa Hyuuga Hinata telah terang-terangan menyukai Sasuke dan Sakura meminta Hinata untuk menjauhi Sasuke.
Ya beri semua perkataan tadi sebagai penekanan untuk dirinya. Agar dirinya merasa tertampar dan sadar.
Sungguh egois dirinya dahulu. Tapi itu dahulu karena pada hari ini, Sasuke sudah menyampaikan keinginannya yang dirasa sudah terpendam sejak lama. Sakura sadar, Sasuke bukan hanya akan menjadi miliknya. Pasti suatu hari nanti Sasuke akan pergi menjauhi dirinya walau ada sebuah 'janji' yang terus mengiringi Uchiha bungsu tersebut.
Dan malam itu juga Sakura menangis untuk ketiga kalinya setelah di café.
.
.
.
Pagi hari menjelang begitu tanpa terasa.
Sakura yang tertidur pulas setelah menangis semalaman, terbangun dengan perasaan yang cukup melegakan walau kedua matanya dilingkari oleh warna hitam. Ini adalah sebuah jawaban yang baik untuk memulai kehidupan cintanya. Pikirnya ketika dia melihat mentari sudah sedikit tinggi.
Tubuh rampingnya yang terbalut piyama bermotif kelinci berjalan dengan lunglai dan menggapai kain putih tebal yang menutupi kedua jendelannya. Disibaknya tirai tersebut hingga matahari menerobos langsung pada kamarnya.
Matanya menyipit, senyumnya terkembang riang.
"Ini adalah awal yang baru!" teriaknya gembira. "Semoga Sasuke bisa 'menembak' Hinata dengan benar!"
.
.
.
Demi orang yang dicinta kita pasti akan berdoa untuk kebahagiaannya. Tak perduli bagaimana pedihnya hatimu saat berdo'a. Tak perduli bagaimana hancurnya hatimu jika kebahagiaan orang yang kita cintai bukan untuk kita. Tak perduli bahwasannya kamu hanya berdo'a untuk kebahagiaannya semata.
.
.
.
"Pagi! Aku baru saja dari toko bunga bersama dengan Shikamaru. Lihat bunga ini. Bagaimana menurutmu akan bunga ini?" tanya seorang gadis seumuran Sakura yang secara tiba-tiba menyodorkan sebuket bunga ke hidung Sakura. Sakura melihat ke arah bawah seraya melambaikan tangannya ke arahShikamaru―seorang pemuda dengan rambut seperti nanas seumuran dengannya―dan dibalas oleh uapan besarnya.
Ino―sang sahabat satu-satunya Sakura yang sangat cantik dan fashionable―masih mengulum senyum menunggu reaksi sahabat merah mudanya itu.
"Hm, harum. Bunga apa itu?"
Gadis berwajah putih dengan rambut bermodel blonde poni tail tersenyum lebar. Shikamaru yang sudah tertidur nyenyak di sofa ruang tamu Sakura hanya terdengar suara hembusan napas teratur. "Daffodil. Cantik kan?"
"Aku tidak terlalu mengerti akan bunga tapi menurutku... cantik. Sepertinya kau lengang hari ini. Tidak ekskul?" tanya Sakura seraya meraih bunga Daffodil dan memainkannya dengan memutar-mutarkannya.
"Tidak. Aku malas." Jawabnya acuh yang kemudian meninggalkan Sakura di ruang tamu dengan kepala menggeleng. "Aku ingin membantumu membereskan semua barangmu. Aku pasti akan merindukanmu!"
Sakura tersenyum bahagia, matanya sudah mulai berkaca-kaca lalu ditubrukannyalah tubuhnya dengan tubuh Ino sebagai rasa pelukan kasih sayang. "Aku juga pasti akan merindukanmu. Baiklah mari kita bereskan barangku!" ucapnya semangat.
"Baguslah kau sudah semangat!" Ino mengacak-acak rambut merah muda yang kemudian disusul oleh teriakan tidak suka oleh Sakura.
.
.
.
"Saku, apa kau sudah bilang tentang pemindahanmu ini kepada Sasuke?"
Kini mereka berdua sedang berselonjor sejenak setelah memasukan beberapa barang yang dikepak ke dalam kardus besar di pojok ruangan. Sudah hampir semuanya Sakura kemasi mengingat keberangkatannya ke Suna dua hari lagi. Hanya ada beberapa barang saja yang kemungkinan akan Sakura tinggal seperti peralatan elektronik yang besar, sofa, meja, lemari dan sebuah Grand piano berwarna putih peninggalan mendiang orangtuanya.
Sakura menggeleng sebagai aksi jawaban dari pertanyaan Ino. "Kurasa aku akan mengatakannya saat tiba di Suna."
"Kenapa begitu?" Ino menyeruput orange juice yang sebelumnya telah dibuat olehnya.
"Karena… Kalau aku memberitahukannya sekarang kemungkinan Sasuke tidak akan menembak Hinata. Atau kemungkinan terburuknya bagiku adalah aku yang tidak bisa meninggalkannya. Aku harus move on, Ino."
Ino hanya memandang Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan. Rasanya pedih, kasihan, namun dia salut pada sahabatnya yang akhirnya melupakan egoisnya sendiri dan menjadi pribadi yang baru.
"Berjuanglah Saku. Aku tahu kau bisa melewatinya, sama seperti kamu melewati hidup ini tanpa kedua orangtuamu di sisimu." Ino memeluk bahu Sakura yang sejurus kemudian keduanya menangis pilu.
Tak berapa lama setelah mereka menangis, keduanya saling berhadapan. Menatap saling penuh arti sambil menahan senyum yang kemudian ledakan tawa keras keluar sehingga membangunkan Shikamaru yang menggerutu pelan kemudian melanjutkan tidurnya kembali.
Suara bel rumahan yang biasa terdengung di penjuru apartemen Sakura yang mulai kosong. Sontak keduanya berhenti tertawa dan menghapus bulir air mata yang menggantung di pelupuk mata. Ino beriniatif untuk membukakan pintu.
"Loh?!" Ino memekik cukup keras saat tahu siapa tamu yang berada dibalik pintu.
Didapatinyalah sosok yang lebih tinggi darinya, berambut pirang jagrik bak model duren dan guratan seperti kucing halus di kedua pipinya. Warna kulitnya yang tan serta cengiran yang menjadi cirri khas miliknya, dengan mata yang menyipit menyembunyikan iris seindah langit biru.
"INO!" teriaknya nyaring membuat gadis dihadapannya menutup kedua telinganya.
"Baka! Berisik tahu!" Ino memukul lengan Naruto dengan keras hingga Naruto memekik kesakitan. "Masuklah!"
Keduanyapun lalu memasuki apartemen Sakura yang sudah cukup kosong akan perabotan-perabotan.
Naruto langsung menghampiri Sakura yang sudah duduk di kursi piano kesayangannya. Ino yang melihat punggung Naruto hanya memberikan senyum penuh arti. Menghela napas sejenak dan menghilang menuju dapur untuk membuatkan minuman.
Naruto mengelus pundak kanan Sakura pelan. Sakura tidak kaget dengan kehadirannya. Justru kehangatan usapan yang mengalir dari tangan Naruto ke pundaknya itu membuatnya terasa nyaman.
"Benar kau akan pindah?" ekspresi Naruto berubah menjadi murung.
Sakura yang melihatnya―dengan ekor matanyanya―hanya tersenyum simpul kemudian Ia menaruh kedua telapak tangannya di atas punggung telapak tangan naruto. Membawa tangan Naruto menuju dada kirinya―dimana itu adalah kebiasaan Sakura untuk menenangkan perasaan teman-temannya―lalu Ia terpejam.
"Aku sungguh-sungguh akan pindah Naruto," ucap Sakura yakin. Naruto hanya diam terpaku menatap kepala Sakura tertunduk. "Dan aku sungguh akan melupakan Sasuke walau kenyataannya tidak dapat kulupakan." Lalu dia menengadahkan kepalanya. Mata viridian itu bertemu dengan mata sky blue. Berusaha menyakinkan, meneguhkan, dan member rasa nyaman tanpa ada kekhawatiran belaka melalui percikan-percikan isyarat.
"Aku mengerti, Saku," Naruto melepas genggaman tangan Sakura kemudian mengelus pucuk kepala Sakura dengan sayang. "Kau adalah orang kedua yang paling aku sayang setelah Kaa-san ."
"Ehem!" deheman Ino yang cukup keras mengagetkan mereka berdua. "Kalian romantis sekali." Tawa Ino membahana membuat Sakura cemberut sedang Naruto hanya tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Lebih romantis dibandingkan aku dengan Saku. Aku heran persahabatan kalian itu intim sekali." Ino menyodorkan segelas orange juice kepada Naruto.
"Haha… kau cemburu, ya Ino?" Naruto tertawa meledak-ledak. Ledekan Naruto membuat wajah Ino merah menahan malu dan sejurus kemudian Naruto mendapatkan jitakan yang cukup kencang dari Ino.
.
.
.
"Kau masih di sini rupanya," kata Sakura kepada pemuda bermata menyejukan itu yang tengah membaca sebuah tiket pesawat di sebuah sofa tunggal tidak jauh dari tempat Sakura berdiri.
"Hn," jawabnya pendek.
Menghiraukan jawaban singkat pemuda itu, Sakura mengalihkan pandangannya ke arah luar beranda kamarnya. Terlihat siluet langit yang berwarna jingga keunguan menggantung di langit. Ino sudah pulang bersama Shikamaru sekitar sejam yang lalu. Baru saja Sakura selesai mandi.
Rambutnya masih basah. Tetes-tetesan air masih mengalir di ujung rambut merah muda yang agak memudar. Naruto berjalan menuju Sakura. Mengambil handuk yang tersampir di pundak Sakura dan mengeringkan rambut Sakura dengan menggunakan handuk tersebut.
Sakura hanya diam mendapat perhatian dari sahabatnya itu.
"Kau tahu dulu aku mencintaimu, Saku." Bisik Naruto tepat di telinga Sakura. Sakura merasa dadanya berdebar. "Tapi aku tahu kau hanya mencintai Sasuke."
Sakura menempelkan kedua telapak tangannya pada kaca polos dan melihat perlahan-lahan sang surya mulai menurun terlelap keperaduannya. Naruto masih setia menggosok-goskan rambut Sakura hingga kering.
"Tapi," lanjut Naruto. "Sejak bertemu dengan Hinata, aku mulai menyukainya. Sayangnya lagi, hati perempuan yang kusukai selalu saja menuju Sasuke."
Sakura membalikan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Naruto. Ekspresi wajah Naruto yang kusut membuatnya prihatin. Kedua telapak tangannya refleks menaruh di kedua pipi Naruto. Naruto memejamkan matanya barang sejenak.
"Berjuanglah Naruto. Aku tahu kau pasti lebih hebat dibanding Sasuke. Aku tahu itu." Ucapan Sakura memberikan rasa hangat tiba-tiba di hatinya. "Dapatkan Hinata, jangan mau kalah oleh Sasuke. Cinta bukan berarti kau juga harus merelakannya untuk orang lain."
Naruto mengangguk pasti dalam keheningannya. Sakura lalu melepaskan kedua tangannya. Naruto tersenyum hangat, dikecupnya pipi mulus putih Sakura.
"Terima kasih."
"Itulah gunanya sahabat!"
.
.
.
Sasuke melempar sembarang tas sekolahnya. Kamarnya yang masih gelap tak ada keinginan untuk menyalakan penerangan. Kemudian Ia berbaring di kasurnya yang empuk sembari melonggarkan ikatan dasi sekolahnya.
Hari ini kegiatannya sungguh lelah. Seharian Hinata masih menjauhinya karena perihal dipergokinya dirinya tengah bersama Hinata oleh Sakura. Hinata sepertinya ketakutan dipergoki oleh Sakura dan sejak saat itu Hinata berusaha menjauhinya. Ck, padahal tinggal selangkah lagi untuk dia mengucapkan kata suka kepada Hinata.
Lalu selain Hinata, Sasuke juga tidak bertemu pandang dengan Naruto. Memang mereka sekelas tapi Naruto selalu tertidur dan saat istirahat dia sudah menghilang bermain basket bersama anak-anak lainnya. Lalu saat pulang si rubah itu sudah menghilang juga.
Ck, rasanya hari ini menyebalkan sekali untuk Sasuke.
Pandangannya mengarah ke langit-langit kamarnya yang gelap. Pikirannya kosong dan sejurus kemudian dia teringat akan gadis berambut merah jambu. Kemarin Sasuke tidak menghubunginya kembali. Dilain sisi Sasuke juga cemas dengan keadaan Sakura yang sudah dia putuskan. Sasuke setidaknya tahu bagaimana perasaan Sakura saat ini tapi, ada sesuatu yang menahannya untuk tidak menguhubungi gadis tersebut. Namun akhirnya gentar juga usahanya.
Diraihnya ponsel flip berwarna hitam yang berada di saku celana kirinya kemudian mendial nomor ponsel Sakura. Terdengar bunyi panggilan di detik ke lima sambungan itu terhubung oleh Sakura.
"Moshi moshi?" ucap suara di seberang bernada ringan yang sudah sering didengar oleh telinga Sasuke. Sasuke sejenak merasa lega.
"Sakura bagaimana keadaanmu?" tanya Sasuke langsung.
Sambungan di sana hening sebentar, "Tentu aku baik saja, Sasuke." Sakura tersenyum simpul namun tentu tidak dapat dilihat oleh Sasuke.
"Sedang apa―" pertanyaan Sasuke terhenti ketika di sambungannya terdengar suara lelaki yang dikenal oleh Sasuke. Naruto. Naruto berada berasama Sakura. Sedang apa dia? "Itu… Naruto?"
"Ah, iya. Dia sedang membantuku merapikan sesuatu." Lalu tawa garing muncul pada sambungan tersebut. Sasuke merasa ada yang mengganjal.
"Merapikan apa?" nadanya sudah mulai terdengar curiga.
"Ah, itu… Um," Sakura tampak bertele-tele mencari alasan yang tepat untuk Sasuke. "Naruto membantuku merapikan buku-buku bekas yang akan kuberikan pada anak-anak di panti asuhan hari minggu ini." Ucap Sakura berbohong. Telapak tangannya sudah mulai berkeringat.
Sasuke yang masih curiga hanya diam, memikirkan apakah Sakura bohong atau tidak. "Aku akan membantumu kalau begitu. Sekarang aku akan ke sana."
Sakura cepat-cepat menggeleng kepalanya. "Tidak-tidak-tidak Sasuke! Kami sudah selesai merapihkannya. Kau tidak usah datang kemari."
Sasuke semakin curiga. Suara Sakura di seberang terdengar gugup. Ada sesuatu yang disembunyikannya, pikir Sasuke. "Baikalah."
Sakura menghela napas lega. Naruto yang sibuk memindahkan kardus-kardus yang berat milik Sakura melirik sahabatnya yang sedang menelepon namun ekspresi wajahnya tampak gugup.
"Baiklah Sasuke. Kurasa aku harus mandi, badanku terasa bau sekali." Sakura tertawa seperti dipaksakan.
Sasuke mengerutkan alisnya tidak suka. "Hn." Dan sejurus kemudian sambungan telepon itu terputus begitu saja.
Sasuke menatap layar ponselnya sebal. Sebelumnya Sakura tidak pernah seperti itu, ada hal aneh yang disembunyikan olehnya. Sasuke penasaran namun rasa penasarannya tergantikan ketika dia mendapatkan e-mail dari Hinata.
.
.
.
"Kenapa?" tanya Naruto heran.
"Hampir saja Sasuke akan kemari!" teriak histeris Sakura sembari meremas rambutnya bak orang frustasi. "Bisa ketahuan!"
"Kenapa sih kau tidak memberitahu saja kepadanya kalau kau akan pindah?"
Sakura menggeleng pelan. "Tidak akan sebelum aku sampai di Suna. Aku tidak mau Sasuke menghentikan langkahku untuk move on darinya."
Naruto hanya menghela napas pendek. "Terserah kaulah." Kemudian ia menaruh kepalanya di atas piano.
"Naruto aku akan menyanyikan satu lagu untuk perpisahan kita ini." Ucap Sakura seraya duduk di dekat piano dan membuka penutup tuts-tutsnya.
Naruto tampak berbinar. Dia sangat suka saat Sakura dan Sasuke bermain piano. Permainan mereka berdua sungguh sangat indah bagai pemain professional. Naruto langsung duduk bersila di lantai, menatap Sakura dengan berbinar dan mendengarkan tuts piano di tekan perlahan.
Lalu Sakura menarik napas panjang dan mulai melincahkan jemari lentiknya di atas tuts piano hitam-putih. Ketika intro sudah berasa selesai dia membuka mulutnya. Suara merdu milik Haruno Sakura keluar.
The buttons on my phone are worn thin
I don't think that I knew the chaos I was getting in.
But I've broken all my promises to you
I've broken all my promises to you.
Sakura melirik ke arah Naruto. Naruto sedang memejamkan matanya menikmati alunan piano juga suara miliknya. Sakura tersenyum puas.
Why do you do this to me?
Why do you do this so easily?
You make it hard to smile because
You make it hard to breathe
Why do you do this to me?
Naruto mulai mengikuti lirik lagu yang tengah dinyanyikan Sakura. Lagu ini dulu pernah sekali diputar oleh Sakura dan Naruto adalah pendengar yang baik karena hanya sekali dengar, dia bisa mengikuti dengan benar lirik lagu ini.
A phrasing that's a single tear,
Is harder than I ever feared
And you were left feeling so alone.
Because these days aren't easy
Like they have been once before
These days aren't easy anymore.
Lagu lamat-lamat kemudia suara Naruto ikut mendominasi permainan Sakura. Suara Naruto tidaklah jelek. Suaranya bahkan lebih bagus melebih Sasuke yang sedikit fals dan berat. Suara Naruto adalah sopran cowok. Dan itu cocok dengan suara Sakura.
I should have known this wasn't real
And fought it off and fought to feel
What matters most? Everything
That you feel while listening to every word that I sing.
I promise you I will bring you home
I will bring you home.
Why do you do this to me?
Why do you do this so easily?
You make it hard to smile because
You make it hard to breathe
Why do you do this to me?
Permainan piano dan lagu selesai. Dengan jemari lincah Sakura, dia menambahkan intro terakhir dengan baik dan sungguh mengena. Naruto masih menelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dia sangat menghayati betul nyanyian tersebut.
"Naruto," Sakura memanggilnya dengan suara pelan. Naruto mendengarnya namun tetap memejamkan matanya karena permainan piano Sakura belum berakhir. "Berjuanglah mendapatkan Hinata, dan aku pun akan berjuang melupakan Sasuke."
Tsudzuku
Arena Bacotan Ceria
Haha, ish parah banget deh aku bikin fic kok kayak begini -_-"
Gomen un! Menjelang UTS begini, nih jadi galau dan semakin hancur membuat fic-nya. Maaf ya un!
Terima kasih atas respon teman FFn yang mau baca fic Melepasmu ini. Saya senang dengan adanya berbagai peringatan yang dikirim melalui email saya :D
Oh, iya mengenai lagu tersebut adakah yang tahu lagu apa itu?
Itu adalah lagu why yang dinyanyikan oleh Secondhand Serenade. Lagunya sedih dan aku sedikit bisa memainkannya di piano dan voila bagus banget loh! Coba kalian mainkan juga ya!
Udahan ah bacotannya, ga mutu banget -_-"
Sampai jumpa kembali di chapter 3! Chapter ini hanya diisi oleh NaruSaku ya!
Buhbey! :*
