.:.
enjoy the story
-CHAP 2-
Sai menghela nafas kasar.
Arggh..! kenapa aku ragu?!
Frustasi..ia mengacak rambutnya kesal.
Dia sudah disini. Nalurinya menuntunnya kesini.
Bagaimanapun juga ia harus kesini bukan? Kalau tidak maka bagaimana nanti menjawab pertanyaan- pertanyaan bebal yang nanti terlontar.
' kau kenapa tidak datang kemarin?
Memangnya kau ada acara apa?
Bukankah kau sudah berjanji untuk datang?- ' duganya.#duganya lho..
Ia juga harus membuktikan pada sakura bahwa ia sudah tidak memiliki apapun untuk sakura.
Itu dilakukannya untuk melancarkan semuanya, agar seakan- akan tidak pernah ada apapun yang terjad diantara mereka. Sai akui memang tidak apa- apa diantara mereka, obsesinya saja yang menuntun egonya.
.
.
.
.
Sai turun dari ford hitamnya dengan malas.
tinggal beberapa langkah lagi
Ia akan memasuki dunia yang terasa asing baginya. Hiruk pikuk dan keramaian dari acara ini pasti akan dirasakannya secara langsung.
Juga menyaksikan kepahitan di depan matanya sendiri.
Mengingat waktu itu saja sudah membuat dendam di hatinya semakin pekat melebihi kepekatan apapun.
.:.
SAI POV
.:.
Ternyata tamu undangannya tidak sedikit juga.
Kupikir ini akan dirahasiakan dari publik mengingat uciha sering menjadi sorotan kamera dan jadi bahan perbincangan yang hangat. Ah..tapi kan ini pertunangan yang resmi, dan pada akhirnya akan terjadi pernikahan yang resmi pula. Bagaimana mungkin tidak disebarkan pada publik tentang hal bahagia ini…
Nyuut..bahagiakah aku? Ataukah sebaliknya?
Terbuyarlah lamunanku dikarenakan suara nyaring mengintrupsiku.
" hei sai! " teriaknya sambil melambaikan tangannya.
Ah kalau sudah seperti ini artinya ia harus kesana.
" hai juga "
" kemana saja kau selama ini tebbayo? "
" aku sedang banyak urusan "
Jujur kali ini aku sedang malas bersapa apalagi berbincang dengan orang lain.
" SPdM sekali ucapanmu.. "
" memang apa itu SPdM? "
" Singkat, Padat, dan Menjurus."
" … "
"ah kau tidak asyik sai. Kau jadi dingin seperti si teme itu "
" oh ya? "
" jangan sampai kau sama dengan si teme itu…kalau teme dan kau sama- sama lalu bagaimana aku? Memiliki satu teman yang dingin saja sudah membuatku mau mati, apalagi dua. Coba kau bayangkan dan kau resapi " ucapnya panjang kali lebar dengan pelengkap bonus suara nyaring 4 oktaf.
" aku tidak bermaksud begitu naruto…" –kenapa aku malah seperti sedang merajuk anak kecil yang minta segenggam lollipop?.
terpaksa kupasang senyum palsuku supaya ia cepat- cepat pergi dan mencari teman bicara lain. Aku tidak ingin diganggu sekarang.
" kenapa kau datang terlambat? Kau tahu acara penyematan cincin sudah berakhir dari tadi. Sayanag sekali kau tidak melihatnya. Sewaktu mereka menyematkan cincin itu terlihat romantis sekali " dapat kulihat matanya berbinar menceritakannya.
" oh ya..dengan siapa kau kesini, sai? " tambah naruto
Naruto sialan. Ini adalah pertanyaan yang kuhindari saat ini. Aku memang benar- benar sedang diuji sekarang.
Apa yang harus kujawab sekarang.
" na- naruto- kun.. " suara lirih itu menyelamatkanku. Tapi siapa dia. Kualihkan pandanganku pada naruto. Oh hinata..
Untungnya istrinya segera datang kalau tidak aku akan menjawab
Aku kesini sendiri-
Dan pada akhirnya akan banyak rentetan pertanyaan yang timbul setelah itu. Dan aku terpaksa menjawab pertanyaan sialan yang mungkin-coret-akan-coret-pasti dilontarkan naruto.
Mengingat tabiatnya kalau sudah penasaran..mulutnya akan seperti ibu- ibu arisan.
.:.
End Sai's POV
.:.
" oh hinata- chan..ada apa? " suara naruto melembut saat berbicara pada istrinya
huh!?—sai mulai jengah, ataukah sai cemburu? Karena yang lain sudah berpasangan sedangkan dirinya? #janganditanya
" a- anu.. maaf me- mengganggu pembicaraan kalian. Tsu- tsunade sama dan lainnya mencarimu. Mungkin mereka mengajamu minum- minum, tidak enak rasanya jika menolak. "
" souka? "
" uhm.. "
" kalau begitu tunggu sebentar ya hinata- chan.. "
Hinta hanya membalas dengan anggukan
" apa kau mau ikut sai? "
" tidak "
" kau yakin tidak mau ikut denganku dan hinata- chan, disana kita akan bergabung dengan semuanya lho.. "
" iya aku yakin "
" ano..la- lama tak berjumpa sai- san "
" lama tak berjumpa juga. Bukannya bermaksud mengusir, cepatlah kesana..kurasa mereka menunggumu "
" yare- yare, baiklah. Ayo hinata-chan "
" uhm.. " bagai kerbau yang dicocok hidungnya hinata mengangguk dan menurut saja apa yang dikatakan suaminya.
Timbul semyum masam dari sai saat melihat naruto merangkul pinggang hinata mesra.
Kurasa aku harus segera pulang dari sini—
.
.
.
.
Ino merengut kesal.
Kakinya saja dihentakkan secara tidak beraturan ke lantai.
Dimana dia berdiri?
Tadi saat mengiringi sakura ia sama sekali tidak melihat sai.
Tunggu..pipinya bersemu merah menyadari kalau ia merindukan, bahkan mencari sai.
Ia benar- benar bosan
Apa jangan- jangan sai tidak datang? Paniknya.
Ino menggelengakan kepalanya keras.
Tidak.. tidak mana mungkin sai tidak datang. Sangkalnya pada dugaan- dugaan sialannya.
Ia mengedarkan pandangan ke semua penjuru.
Siapa tahu ada sesuatu yang dapat menghilangkan kebosanannya.
Tiba- tiba retinanya menangkap siluet yang membuat hatinya gembira. Ah.. kulit pucat dan rambut hitam eboni itu, tidak salah lagi itu sai.
Ino berjalan mengendap- endap berharap sai tidak sadar akan kehadirannya.
Satu.. dua.. ti -
"ino? "
Muncul perempatan di dahi ino
, yang berencana mengagetkannya kan aku. Kenapa malah dia sudah sadar akan kehadiranku. Mana tampangnya seperti anak tak berdosa!
" eh i- iya..hai " sapa ino
" …hai juga "
" em.. aku tidak melihatmu sedari tadi "
" aku datang terlambat "
"oh" –pantas saja aku tidak melihatnya tadi..
" kau mau? " tawar sai seraya menyodorkan segelas sake ringan itu.
" ya terima kasih "
" kurasa suasananya canggung "
" iya.. kurasa juga begitu "
" kalau begitu sepertinya kita keluar saja "
" hah? Kemana"
" tadi kulihat di dekat sini ada danau dan taman yang indah "
" tapi kan pestanya belum selesai "
" kurasa keluar 10 menit saja tak terlau bermasalah "
" tapi tunggulah sebentar aku ijin kepada sakura dulu "
" memang sakura itu siapamu hingga kau perlu ijin hanya untuk keluar 10 menit "
" aku hanya tidak ingin dia cemas "
" baiklah "
.
- SKIP TIME -
.
" ne forehead "
" kau darimana saja pig? "
" hehe..maaf "
" jangan seperti jalangkung datang tak dijemput pulang tak diantar "
" ya..ya, aku mau ijin keluar sebentar dulu "
"he? Mau apa kau keluar? "
" um… mencari angin "
" angin kok dicari, lagipula kau akan kedinginan kau tidak sadar kau menggunakan gaun lho.. "
" hanya 10 menit, ya..ya. lagipula ada atau tidaknya aku tidak akan bermasalahkan dalam pestamu. "
" terserah "
" dah..forehead "
.
.
.
" ayo sai "
" hm "
Sai menggandeng tangan ino, betapa terkejutnya dia. Wajahnya memerah
Tangan sai besar,kasar, tapi hangat. Benar- benar tangan seorang pria.. batin ino
Mereka menembus keramaian dengan santainya-coret-lebih tepatnya sai yang santai,
Sedangkan ino gugup setengah mati. Sering memang, ia digandeng tapi baru kali ini ia merasakan betapa gugupnya digandeng sai..
Sai memang tidak setampan sasuke,
Sai memang tidak sedingin gaara,
Sai memang tidak seramah naruto,
Sai memang tidak se- menyebalkan shikamaru,
Sai hanyalah seorang pemuda berkulit pucat, matanya hitam legam, rambutnya eboni, dan disertai senyumannya.
Ia hanyalah orang biasa, bagi ino
Tapi entah mengapa sai memiliki daya pikat tersendiri untuk ino…
" kenapa kau terus memandangiku ino- chan? " Tanya sai dengan alis sebelah terangkat
" em, kata siapa aku terus memandangimu, jangan terlalu percaya diri "
" yah mungkin aku yang ke-PD-an "
" … "
" … "
" … "
" kita sudah sampai "
" wah..indahnya, aku tak menyangka pantulan bulan purnama akan seindah ini saat kulihat di tempat yang sungguh gelap "
" yah pantulannya memang indah " sai tersenyum kecut – tapi walau bagaimanapun juga ini hanyalah sebuah bulan, hanyalah si pemantul cahaya, dimana cahaya aslinya hanya dimiliki oleh matahari.
" sai bagaimana kau bisa mengetahui tempat seindah ini? "
" aku hanya tak sengaja melihat "
" oh "
" ya "
" sai kalau dipikir- pikir bulan hanyalah sebuah pemantul cahaya ya? "
" yah hanyalah sebuah pemantul cahaya "
" tapi aku tetap bersyukur dan berterima kasih pada tuhan karena tuhan telah memberikan bulan, kalau tidak maka malam di bumi ini hanyalah gelap gulita "
" begitukah? Tapi bagamana pendapatmu tentang bayi kecil yang biasanya ditimang dan dikatakan seperti bulan? Bukankah itu hanyalah pemantul cahaya "
" yah kau benar, tapi bukankah kau juga tertolong dengan adanya bulan? "
" semua diciptakan oleh tuhan hanya karena kehendaknya dan dengan peranannya sendiri- sendiri "
" kenapa kau jadi bijak seperti ini ino- chan? "
" entahlah "
" … "
" … "
" bukankah kita kesini untuk menghilangkan canggung? "
" iya ya "
" tapi kenapa malah tambah canggung? "
" em..mungkin berbagi cerita bisa mengurangi canggung "
" jadi "
" jadi, maukah kau berbagi cerita "
" kau dulu saja, ladies first "
" apa ya, aku tidak punya cerita menarik. Aku hanya seseorang yang payah, cerewet, banyak tingkah, dan aku tidak sepandai sakura. Kau tahu..kadang aku iri padanya, tapi setelah kupikir- pikir menjadi diriku sendiri itu lebih baik "
Sai tersenyum kecut, kemana pun ia pergi selalu dan selalu saja ia memikirkan wanita bubble gum itu.
" apakah kau selau membandingkan dirimu dengan sakura? "
" tidak juga, hanya terkadang.. "
" jangan kau bandingkan dirimu dengan orang lain, bisa saja kau jauh lebih unggul ketimbang orang yang menjadi bahan perbandinganmu "
" yah, kau ada benarnya…tapi kembali lagi aku tidak selalu membandingkan diriku dengannya, hanya ter- ka- dang. "
" ha'i ha'i oujou sama "
" kau sendiri? "
" apanya? "
" bagaimana dengan kisahmu? "
" oh giliranku ya.. "
" kau baru sadar? Huh, payah sekali daya ingatmu itu.."
" aku sadar sedari tadi ino, ini hanya agar mencairkan kecanggungan- "
Ino memerah, setidaknya…ada benarnya juga ya
" – sekarang terbukti kan tidak terlalau canggung " sombongnya
" tidak juga, masih sama seperti tadi "
" sudah sedikit mencair ya… "
" masih sama "
" oke—" betapa kagetnya mereka karena mereka berucap bersamaan
" kau duluan "
" kau saja yang duluan "
" ladies first "
" oke, kita hentikan aku tidak mau ini berakhir perdebatan. Lebih baik kau ceritakan apa yang ingin kau ceritakan "
" hidupku monoton saja "
" semonoton- monotonnya hidupmu kau pasti memiliki kisah yang may be, menggetarkan hatimu "
" tidak ada seorang pun yang bisa menggetarkan ataupun menggoyahkan hatiku, nona "
Ucapannya berubah drastis, menjadi dingin. Apakah ino salah bicara?
" aku salah bicara ya? "
" tidak, hanya saja lidahmu yang tidak bisa dihentikan "
" maaf.."
" aku bercanda "
" huh..kau tahu, kau mengerikan saat raut mukamu berubah jadi dingin "
" benarkah? Lalu seperti apa diriku saat itu. Devil kah, demon, ataukah drakula? "
" tidak ketiganya tuan…lebih buruk dari itu "
" seburuk itukah diriku? Tapi sebut saja diriku ini iblis, dan pikirkan kejam manakah iblis dengan malaikat? "
" sejak kapan kau suka berteka- teki tuan kulit pucat? "
" jawab saja "
" aku tidak tahu, jangan menanyaiku hal seperti itu, aku takut "
Sai terkekeh..
" kau tahu..bahakan malaikat itu lebih kejam ketimbang iblis.."
" bagaimana bisa? Jangan asal membuat opini tuan"
" yah itu opini ku, tapi opiniku benar "
" tapi bagaimana kau menghakimi bahwa opinimu itu benar? "
" karena ada beberapa fakta yang dapat membuktikan perkataanku "
" ya..ya tuan keras kepala "
.
.
.
.
Baru ino sadari bahwa ia kedinginan, teringat pada masa kecilnya dulu kalau ia mudah terserang flu karena angin malam
Ayah akan mengomeliku habis- habisan kalau sampai besok aku flu
Sai yang melihat gelagat ino pun sadar, yah sepertinya ia kedinginan..seperti lelaki gentleman pada umumnya ia melepaskan jasnya dan memakaikannya pada ino.
" untukmu saja "
" ah tidak, "
" menurutlah saja, kau bahkan sudah kedinginan tetap saja mengelak "
" tapi bagaimana dengamu? "
" fisikku jauh lebih kuat daripada dirimu, dan juga aku yang mengajakmu kesini jadi kalau terjadi apa- apa denganmu aku yang harus bertanggung jawab "
" Maaf merepotkanmu sai.. "
" tidak masalah, aku yang memulainya jadi kau sama sekali tidak merepotkanku "
" … "
Mereka terlarut dalam keheningan malam, dibawah sinar sang rembulan dengan kesaksian rumput ilalang dan binatang malam. sekali lagi, mereka terlarut dalam keheningan.
Saling sibuk dengan pikiran mereka sendiri tanpa mereka sadari ini sudah 1 jam lebih setelah acara selesai. #betah amat,author bingung sendiri malahan
.
.
.
.
" ya ampun ino pig kemana sih? "
Gerutu sakura, seingatnya tadi sahabatnya pamit mencari angin hanya 10 menit, tapi apa ini?
Ini bahkan sudah lebih dari 1 jam acara selesai.
" sudahlah sakura, mungkin ino pulang kerumahnya "
Tapi barang- barangnya masih dirumah kita kan bu, mana mungkin ino pulang tanpa membawa barang- barangnya.. "
" mungkin ia merindukan ayahnya, mengingat ayahnya hanya tinggal sendiri dirumah. Lagipula barang- barang ino disini kan hanya sedikit, hamper setiap 2 minggu sekali ino meninap disini kalau tidak kau yang menginap disana. Mungkin pikir ino daripada bolak- baik membawa barang lebih baik ditinggalkan "
" Ibu gemar sekali sih, membuat opini ibu sendiri "
" yah.. pada intinya kau tak perlu mencemaskannya. Dia juga sudah kuaanggap anakku sendiri dan aku tahu sifatnya yang labil…hihihi "
" hush..ino tidak lebih labil daripada ibu, lagipula apa ibu tidak lelah berbicara panjang lebar tanpa inti seperti itu? "
" maklum saja, bawaan ibu- ibu gosip "
" ya..ya "
" nah sekarang lebih baik kau beristirahat nak, apa kau tidak lelah berdiri dan bersalaman dengan banyak orang hampir 2 jam.. "
" maklum lah bu, sauke kan punya banyak patner "
" ya…dan kurasa kau sangat bahagia, pipimu bersemu merah saat kau sebut namanya "
" ah ibu, jangan menggodaku "
" hahaha, tapi kalian tidak boleh melakukannya sebelum kalian sah loh ya.. "
" tidak akan, dan ibu usil sekali sih "
" … "
" ibu! mengapa meninggalkanku di luar rumah sendirian "
" ibu! "
" hahaha kuberitahukan hal ini pada 'sasuke- kun', ah…"
" ibu berhenti menggodaku "
.
.
.
.
HA-HA…HATSI!
Sai mengerjapkan matanya, ia melirik arlojinya
Ya tuhan aku ketiduran
Ia menyadari bahwa pundaknya berat dan saat ia melirik ia terkejut ternyata ia ketiduran disini dengan ino.
Ini bahkan sudah tengah malam lebih, kenapa aku tidak menyadarinya, kalau ia tertidur disini, dan bodohnya aku yang malah juga ikut tertidur
Dengan perlahan sai menggendong ino berharap tidak membuat empunya terusik. Ala bridal style ia membawa ino kedalam mobilnya.
Sai bingung haruskah ia membawa ino ke apartmentnya atau kerumahnya.
Kalau ia membawa ino ke apartmentnya, ia bisa mengantar ino kerumahnya besok pagi.
Kalau ia membawa ino kerumahnya ia akan dianggap pria yang gentlemen #hadeh, tapi apakah sopan mengunjungi rumah orang lain padahal waktu sudah melebihi tengah malam?
Lebih baik kubawa ia ke apartmentku, dan paginya kuantar ia kerumahnya.
Saat sai mau memakaikan safety beltnya ino, ia dapat merasakan hembusan nafas ino di tengkuknya. Sai menegang dibuatnya.
Tidak- tidak..
Sai berusaha mengenyahkan pikiran buruknya. Dengan hati- hati sai memakaikan safety belt ino.
Ia membawa putri yamanaka itu ke apartmentnya.
.
.
.
.
.
Mentari pagi mengusik tidur sang putri yamanaka itu. Dalam kesadaran yang masih tumpul ia mengeryit heran. Terasa ada yang janggal pada tempatnya tidur
Tunggu..
Tidur?
Sejak kapan aku tidur?
" sudah bangun ya.. kau tidurnya lama sekali.. "
" s- sai?! "
" ya "
"huwa… jauhkan dirimu dariku "
BUGH!
" aww " pemuda eboni itu merintih kesakitan, sebab putrid yamanaka itu sudah menyakiti permata kehidupannya itu.
" apa yang kau lakukan di kamarku? "
" hei ini kamarku, bukan kamarmu "
" a- apa? "
Apa yang sebenarnya terjadi padaku semalam?
.
.
.
.
.
Terlihat lelaki setengah baya sedang merawat bibit bunganya dengan telaten di kebun belakang rumah. Sembari bersenandung lirih menikmati pagi menjelang siang. Tentu sang mentari sudah menyembul dari beberapa jam yang lalu, tetapi mentari tersebut belum berada tepat di atas kepala. Dalam hening ia merawat bibit maupun bunga- bunga seperti anaknya sendiri. Ahh…tersemat senyum kecil saat mengingat putri semata wayangnya itu. Baru ia sadari ia masih memperlakukan putrinya seperti anak balita. Anaknya sealu merengut kesal saat ayahnya, apa itu namanya..overprotective?¸ yeah..katakan saja begitu. Kadag ia lupa kalau putri kecilnya sidah beranjak dewasa. Mafhum lah
Suara ketukan pintu menghapus lamunannya
Tok..tok..tok
" iya sebentar "
Cklek… #maafgaktaubunyinyagimana, sayataunyagitu XD
" oh sakura, masuklah "
" terima kasih paman "
" duduklah..paman ambilkan minum dulu "
" tidak usah paman, maaf merepotkan "
" kau yakin? "
" iya, aku hanya mau bertanya "
" oh..apa? tapi kenapa sepertinya formal sekali ya? "
" hehe..sopan santun anak muda paman "
" jadi..apa yang mau kau tanyakan? "
" ino ada? "
" bukankah dia di rumahmu "
" tapi semalam dia tidak dirumahku "
" lalu kemana dia? " inoichi menaikkan sebelah alisnya
" aku tidak tahu paman. Aku sudah mencoba menghubunginya tapi tidak aktif. Mengingat paman dirumah sendirian jadi kupikir ino pulang kesini.. "
" dari kemarin dia belum pulang kesini, ya tuhan kemana dia sebenarnya? "
" tenang paman, tenang "
" tapi dia putri semata wa - "
Tok..tok..tok
" ya sebentar, tamuku yang pertama saja belum pulang sudah datang tamu lain."
Cklek..
" ino? "
" masuklah sai "
" kau darimana saja nak?! Kata sakura semalam kau tidak pulang kerumahnya, dan saat kau pulang kerumah ayah kau malah bersama lelaki asing… apa yang terjadi padamu?"
Ino mendengus kesal. Kenapa semalam sai tidak langsung mengatar kerumahnya?
Itu bahkan sudah lebih dari tengah malam, pakai otakmu sedikit. Mungkinkah jam 01.00 dini hari aku bertamu? Orang- orang pasti akan mempertanyakan kesopananku.
Kesopanan huh?! Alasan macam apa itu?
Kalau begini ia harus menjelaskan panjang lebar pada ayahnya.
Berusaha membuat ayahnya percaya dan bersiap menerima omelan atau lebih tepatnya ceramah panjang lebar dari sahabat karibnya.
Ah..merepotkan!
.
.
.
.
.
.
.
TBC
(Tetiba Bangsai Curcol)
A/ N:
Oke, chap 1 dan 2 adalah chap revisi, so guys.. tulisanku emang sangat buruk, tapi aku berusaha biar jadi enak dibacanya. Yang mengikuti YOU dari brojol pasti sadar akan perubahannya. Aku harap perubahannya tetap membuat kalian nyaman
terima kasih untuk yang sudah review dan memberi dukungan pada fic ini.
Berkenanlah menyematkan review kepadaku ^.*
