Hai! Terima kasih buat kalian semua yang udah membaca fanfic saya ini.
maaf, kalau ceritanya kurang membuat kalian terhibur. kalau kalian memang tidak menyukai fanfic ini, silahkan tutup tab-nya, hehehe.
Chapter 2
"Sepertinya kau tidak perlu berpura-pura tidur lagi Hermione," ujar Luna setelah Harry pergi memasuki kamarnya. "Bagaimana kau tau aku berpura-pura tidur?" tanya Hermione masih dengan mata tertutup. "Aku selalu tau," jawab Luna dengan tenang, ia menghempaskan tubuhnya di samping Hermione.
Hermione membuka matanya dan terduduk di sofanya, melilitkan selimut itu ke menutupi tubuhnya. Udara semakin beku dan dingin, apalagi mereka berada di menara tertinggi. Hermione meraih cokelat panasnya yang masih mengepul di atas meja.
"Senang di cium Harry, Hermione?" Luna bertanya dengan polosnya, membuat Hermione menyemburkan cokelat panas di mulutnya. "Kau—" Hermione melotot tidak percaya lalu menarik nafas beberapa kali, menenangkan dirinya "—kau lihat?"
Luna mengangguk tenang. "Memangnya sejak kapan kau keluar kamar mandi?" suara Hermione terdengar jengkel, wajahnya bersemu merah. "Well, sejak Harry mengelus pipimu, kemudian dia menciummu, kemudian—"
"Oke Luna, cukup. Kau sudah melihat semuanya," potong Hermione. Hening menghinggapi mereka.
"Kau menyukai Harry?"tanya Luna lagi seraya menoleh dan menatap Hermione lurus. Hermione tersentak kaget dengan pertanyaan Luna, "Te-tentu saja aku menyukainya. Dia—dia sahabatku," Hermione berusaha tersenyum, senyumnya malah terlihat aneh. Luna nyengir, "Kurasa rasa sukamu lebih dari itu," wajah Hermione kembali bersemu.
"Aku menyukai Ron, Luna," kata Hermione akhirnya.
"Tapi itu tidak sebesar rasa sukamu pada Harry. Akui itu Hermione,"
Hermione terdiam. Memang ia sering merasa lebih memikirkan Harry ketimbang Ron, bahkan ketika ia sedang berduaan dengan Ron, saat Ron menciumnya, Harry selalu muncul di benaknya. Sosok Harry Potter yang selalu melindunginya, tidak pernah lepas dari benaknya. Itu membuat Hermione merasa bersalah pada Ron.
"Aku benar kan," kata Luna lagi. Hermione meliriknya tanpa ekspresi. Luna memang selalu mengatakan apapun yang ada di pikirannya tanpa di sensor, tapi Hermione mengakui kepekaannya yang luar biasa. "Kalaupun aku menyukai Harry, tapi dia kan sudah memiliki Ginny," gumam Hermione.
Luna mendeliknya, "Kurasa kau sendiri tau—semua orang tau. Bahkan Ginny sendiri juga sadar, Ginny sama sekali bukan sainganmu Hermione. Kau lebih mengenal Harry dibanding Ginny,"
"Tapi Ginny temanku. Aku tidak bisa menyakiti temanku sendiri,"
"Dalam hal cinta, pasti ada pihak yang merasa di sakiti. Tidak peduli apapun status orang itu dalam hidupmu. Tapi itu tidak akan berlangsung lama kok, cinta memang egois dan penuh dengan konsekuensi,"
Luna menguap. Hari memang sudah malam, hampir lewat tengah malam malah. "Aku mengantuk," Luna naik ke atas sofa dan berbaring. "Selamat tidur," ucapnya sebelum terlelap.
Hermione menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menyelimuti Luna dengan selimutnya. Cokelat panas di gelasnya sudah habis dan ia pun pergi membuatnya lagi. Hermione mengulang kata-kata Luna di benaknya. Ia tertawa pelan. Mungkin Luna ada benarnya, pikirnya.
0oooo0oooo0
Hermione membawa Luna ke dekat hutan terlarang, ia terlihat gusar, sementara Luna terlihat santai dan menikmati pemandangan hutan menjelang malam. Warna langit yang seakan terbakar terlihat sangat indah, danau terlihat berkilauan. Matahari hampir mencapai cakrawala.
"Ada apa Hermione?" tanya Luna. Hermione mondar-mandir, memilah kata yang akan di ucapkannya. "Pembicaraan kita tempo hari—" ucapannya terputus.
"—well, percakapan kita tempo hari. Menurutmu—" Hermione menggigit bibir.
"—menurutmu bagaimana perasaan Harry padaku?" tanya Hermione akhirnya. Luna terlihat sedang asyik melihat langit yang mulai gelap.
"Sudah kuduga kau akan memikirkan kata-kataku tempo hari," Luna menatap Hermione sambil tersenyum, wajah Hermione bersemu. "Aku hanya berangan-angan Luna. Bagaimana menurutmu?"
"Menurutku, kau harus menjawab pertanyaan itu sendiri Hermione," jawab Luna akhirnya. Dahi Hermione mengkerut, "Maksudmu?"
"Ya. Kau harus mencari tau sendiri Hermione. Kurasa kau akan tau sendiri, sebenarnya pertanyaanmu tidak terlalu sulit," Hermione memijat-mijat keningnya.
"Kalau memang tidak sulit, kenapa kau tidak mau mengatakannya padaku?"
Luna hanya mengangkat bahu, "Sudah kubilang, kau harus mencari tau sendiri Hermione. Kau akan menyadarinya, cepat atau lambat,"
Hermione terdiam, pikirannya berkecamuk. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang melintas di pikirannya, seperti, Harry hanya memanfaatkan dirinya. Untuk yang satu ini Hermione tau itu sangat tidak mungkin. "Kau sedih Ron menikah?" tanya Luna.
Hermione terhenyak. "Tentu saja..." bisiknya.
"Kau akan lebih sedih jika Harry dan Ginny menikah."
"Apa itu pertanyaan?"
Luna menggeleng, "Bukan,"
Hermione semakin keras memijit keningnya. "Luna..aku bingung sekali.."
"Aku tau Hermione. Tapi hanya kamu dan Harry yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Aku hanya orang luar yang kebetulan tau,"
"Kau bukan orang luar, kau temanku—dan teman Harry,"
"Aku tau. Tapi aku bukan kalian. Kalian yang merasakan semua hal itu, bukan aku,"
Hermione sadar, sepertinya percuma menanyakan hal ini pada Luna. Seperti kata Luna tadi, ia bukan Hermione atau Harry, ia tidak bisa merasakan apa yang Harry atau Hermione rasakan. Well, itu benar. "Ah, sepertinya mistletoe sudah mulai bermunculan besok," gumam Luna.
"Bagaimana kau tau?"
Luna hanya tersenyum, "Aku selalu tau," Hermione mengangkat tangannya, ia menyerah.
0oooo0oooo0
Sekali lagi, benar kata Luna.
Mistletoe sudah mulai di pasang dan sudah mulai merajalela di mana-mana. Ini adalah saat dimana orang-orang—terutama para siswi—menggila. Mitos tentang mistletoe memang bisa melekat pada semua orang, termasuk pada Hermione sendiri sebenarnya.
Dari pagi, Hermione sudah melihat lebih dari sepuluh pasangan berciuman di bawah mistletoe dan ada seorang siswa kelas enam dari Revenclaw yang mencoba menjebak Hermione ke bawah mistletoe. Untunglah, Hermione terlalu pintar untuk di kelabui.
Di saat seperti ini dia mengkhawatirkan Harry. Anak itu semakin lama semakin banyak penggemarnya, bahkan beberapa penggemarnya sangat mengerikan. Ada yang mengirimnya cokelat berisi ramuan cinta—yang terdeteksi oleh Hermione dan langsung dibuang—ada yang berusaha memantrai Harry tapi malah terkena pada siswa lain dan ada yang terang-terangan nembak Harry—yang ini langsung didamprat Ginny. Apalagi dengan mistletoe di mana-mana, bahaya itu semakin mengancam karena fansnya akan semakin menggila dan semakin nekat demi mendapatkan ciuman dari Harry.
Hermione baru selesai mengikuti kelas Arithmatchy tingkat lanjutnya ketika melihat Harry menyebrangi halaman—dengan Ginny menempel di sampingnya. Sepertinya Ginny juga jadi lebih waspada di saat-saat seperti ini. Wajahnya terlihat lebih sangar dari biasanya. Hermione bisa melihat kerumunan gadis yang langsung mundur begitu melihat wajah Ginny. Hermione terkekeh pelan, ia pun urung memanggil Harry, merasa dia sudah aman.
"Hermione?"
Hermione menoleh dan ia langsung mengerang ketika melihat siapa yang mendekatinya. Cormac McLaghen.
Ia baru berbalik, ketika Cormac menahan tangannya yang tidak memegang buku. "Lepaskan Cormac!" Hermione berusaha melepaskan tanganya. Cormac malah mempererat genggamanannya, "Sebentar Hermione, sebentar saja,"
Hermione sudah tau apa niat Cormac. Yah tidak sulit untuk menebak isi kepala Cormac yang sepertinya transparan—menciumnya di bawah mistletoe. Kini Hermione harus berusaha keras melepasnya sebelum mistletoe muncul di atas kepala mereka. "Lepaskan aku Cormac! Atau—"
"Atau apa Hermione? Kau bahkan tidak memegang tongkat," ejek Cormac yang merasa posisinya sangat menguntungkan saat ini.
"Lepaskan aku! atau—"
"Atau aku akan meledakkan kepalamu, Cormac," desisan itu berasal dari Harry yang tengah mengacungkan tongkatnya ke kepala Cormac—yang langsung melepaskan tangan Hermione dan menatap Harry ngeri. "Okay.." katanya sambil berjalan mundur. Harry menarik kerah jubah Cormac, mengacungkan tongkatnya tepat di hidung Cormac.
"Jangan pernah mencoba mendekati Hermione lagi, mengerti?" bisik Harry yang menatap Cormac dingin. Cormac mengangguk-angguk dengan cepat, "Ah ya. Potong sepuluh poin dari Hufflepuff karena menyerang ketua murid," kata Harry sebelum Cormac pergi tergesa-gesa dari mereka.
"Terima kasih Harry," Hermione bisa bernafas lega sekaligus heran kenapa Harry bisa berada di dekatnya padahal sebelumnya ia berada di sisi lain lapangan. "Anytime Hermione," Harry nyengir dan mengenyimpan kembali tongkatnya di balik jubahnya.
Mereka berjalan beriringan di lorong. "Mana Ginny?" tanya Hermione ketika menyadari bahwa mereka hanya berdua. "Dia ada kelas herbologi, tadi aku hanya mengantarnya,"
"Kau sudah tidak sedih soal Ron?" tanya Harry dengan hati-hati. Hermione mengangkat bahu, "Aku jelas kecewa. Tapi entah kenapa, hal ini tidak terlalu membuatku sedih. Hanya saja aku kecewa, benar-benar kecewa," tutur Hermione dengan jujur. "Kau tidak sedih? Bagaimana bisa?" Harry terdengar sedikit bingung.
Karena sepertinya aku menyukaimu, bukan sebagai sahabat, bukan sebagai saudara, tapi sebagai seorang wanita yang menyukai seorang lelaki, batin Hermione. "Entahlah," jawab Hermione singkat.
"Apa mungkin kau menyukai orang lain?" pertanyaan Harry itu membuat Hermione berhenti melangkah. Harry berhenti dan berbalik pada Hermione yang berada dua langkah di belakangnya, "Mione?"
"Aku—"
"Mr Potter! Miss Granger!" Professor McGonagall berdiri di belakang mereka. Harry dan Hermione berbalik, melihat Minerva McGonagall berjalan menuju mereka dengan—wajah berseri-seri?
"Ada apa professor?" Hermione angkat bicara. "Ikut aku," McGonagall menjawab singkat sambil tersenyum. Nada bicaranya seakan menambahkan "Jangan banyak tanya. Diam saja!"
Harry dan Hermione mengikuti McGonagall ke ruang kepala sekolah. Sepanjang penglihatan Harry ruangan ini tidak banyak berubah sejak kematian Dumbledore. Pedang Gryffindor berada di rak paling atas, di atas topi seleksi yang tengah tertidur. Foto-foto kepala sekolah Hogwarts terdahulu memenuhi dindingnya, peralatan perak Dumbledore masih pada tempatnya. Hanya saja tidak ada Fawkes, yang ada adalah burung hantu milik McGonagall.
"Ah, Minerva. Tumben kau membawa Harry dan miss Granger," Harry dan Hermione menoleh ke asal suara. "Ada yang harus kubicarakan dengan mereka Albus," jawab McGonagall pada lukisan Albus Dumbledore.
"Hai professor," ujar Hermione. "Lama tidak jumpa eh miss Granger," ujar lukisan Dumbledore. Hermione tersenyum lebar.
"Kapan kau mau menyisir rambutmu Potter," Harry menoleh dan mendapati lukisan Severus Snape manatapnya jengkel. "Rambutku seperti ini sejak dulu professor, kau tau itu," ujar Harry dengan ringan, sambil nyengir. Snape menggerutu. "Diamlah Severus," tegur McGonagall, lukisan Snape tetap menggerutu. "Tipikal Potter, tidak mau diatur, seenaknya sendiri," Harry hanya nyengir mendengarnya.
Hermione mengalihkan pandangannya pada McGonagall. "Ada apa sebenarnya professor?" Minerva yang sedang asyik membaca suratnya mendongak, "Pokoknya ada sesuatu miss Granger, duduklah atau kalian boleh berkeliling jika kalian mau," jawabnya kemudian kembali menyeleksi surat-suratnya.
Harry asyik dengan burung hantu milik Minerva dan barang-barang yang dulunya milik Dumbledore, tidak menghiraukan Snape yang terus menggerutu dan mengkritik Harry. Hermione sendiri terpana dengan koleksi buku Minerva yang sangat banyak, ia mengambil satu dan mulai membacanya. Minerva melirik kedua anak itu sesekali, sambil tersenyum.
"Ah mereka sudah datang," Minerva tidak bisa menyembunyikan nada girangnya dari suaranya. Api di perapiannya berubah warna, dua orang dengan penampilan muggle keluar dari perapian, terlihat takjub dengan ruang kepala sekolah yang memang terdapat banyak banyak benda 'aneh'.
"Mum, Dad..." desis Hermione, Harry menoleh, ternyata itu orangtua Hermione. Ini pertama kalinya Harry melihat muggle—sekaligus orangtua Hermione—di area penyihir. Hermione berlari menghambur ke pelukan orangtuanya yang langsung menyambutnya hangat.
bertubuh tinggi dengan rambut cokelat yang sama seperti Hermione, ia memeluk putrinya erat-erat. berambut cokelat—cokelat yang berbeda dengan rambut Hermione—ikal dan lebat, ia mirip sekali dengan Hermione. Harry kini tau darimana Hermione mewarisi mata coklat hangatnya itu.
Harry teringat kalau Hermione sudah setahun lebih tidak bertemu orangtuanya. Sejak ia ikut bersama Harry dalam pencarian Horcrux. Terbesit rasa bersalah di hatinya, karena dirinyalah Hermione terpaksa meninggalkan orangtuanya, membiarkan mereka tidak mengingat putrinya sendiri. Hermione menangis dalam pelukan ayah dan ibunya, Minerva terlihat terharu.
Api itu berubah warna lagi. Kali ini segerombolan penyihir berambut merah keluar dari perapian, "Harry!" Ron langsung memeluk Harry yang masih melongo tidak percaya melihat kedatangan mereka. Harry merasakan dua hal ketika Ron memeluknya.
yang pertama, tentu saja, rasa rindu setelah sekian lama tidak berjumpa dengan Ron.
dan yang kedua, perasaan ingin menonjok Ron. Apalagi ketika melihat tatapan Hermione dari balik punggung Ron.
"Hai Harry, terkejut melihat kami eh?" tanya George yang lalu mengacak-acak rambut Harry yang memang selalu berantakan. Lalu setelah George ada , Bill dan Charlie.
"Ada apa sebenarnya ini?" Harry terlihat bingung. "Ah, Minerva belum memberitahumu? Para anggota orde akan menghabiskan natal di Hogwarts," angkat bicara sambil membersihkan debu dari jubahnya. "Lalu—" Harry melirik orangtua Hermione.
"Ah, itu ide Mr Weasley—eh—Ronald. Mengingat Hermione sudah lama tidak bertemu orangtuanya," tutur Minerva yang sepertinya bisa menebak isi pikiran Harry.
"Lalu, dimana kalian akan tidur?" tanya Harry lagi melihat banyaknya tamu yang datang, belum lagi anggota orde yang katanya akan menghabiskan natal di Hogwarts. "Apa gunanya Kamar Kebutuhan eh Harry?" George nyengir, ah tentu kamar kebutuhan sama sekali tidak terlintas di pikiran Harry.
"Mrs Weasley tidak ikut? Lalu Kingsley dan lainnya?"
"Molly akan datang para gadis lainnya besok sepertinya. Mereka tidak mau menggunakan Floo, terlalu beresiko jika membawa bayi dan wanita hamil. Sedangkan Kingsley dan anggota orde yang lain akan datang, mungkin pada malam natal," jawab Mr Weasley.
"Kami tertarik melihat pertandingan quidditch. Apa hari ini ada pertandingan Harry?" tanya Charlie, Harry mengangguk, "Beauxbatons melawan Akademi Penyihir Irlandia,"
"Kalian kemarin menang kan melawan Dumstrang? Waw!" Ron terlihat antusias. "Wah Beauxbatons. Apa ada pemain mereka yang cantik Harry?" tanya George sambil nyengir yang langsung di pukul oleh Bill, "Kulaporkan Angelina loh!" ancamnya.
"Ah tentu, chaser mereka ada satu yang bernama Mileur, oh kau lihat dia. Dia sangat cantik dan juga sek—aw!" Harry mengaduh, ia menoleh dan mendapati Hermione memelototinya. "Wah aku harus melihatnya—aw!" George di pukul lagi.
Minerva membawa mereka keluar dari ruang kepala sekolah yang mulai sesak dengan kehadiran banyak orang itu. Mereka menyita perhatian para siswa yang ada di lorong-lorong yang mereka lewati, kehadiran penyihir dewasa—apalagi yang berambut merah—jarang sekali terlihat di Hogwarts, kecuali pada hari kelulusan. "Ah sekolahmu ternyata luas sekali Hermione," gumam Mr Granger pada putrinya.
Sebuah pintu muncul dan mereka pun memasukinya. Kamar kebutuhan telah di desain seperti yang mereka inginkan, terdapat dapur, ruang tengah, kamar mandi dan beberapa kamar yang terletak di lantai satu dan dua. Kamar kebutuhan terlihat lebih besar dari kali terakhir Harry lihat—yah, mengingat fakta bahwa kamar kebutuhan akan menyesuaikan dengan keinginan kita.
"Mana Ginny?" tanya Bill, "Dia sedang ada kelas Herbologi—ah!" Harry seakan teringat sesuatu. "Tadi menyebut bayi dan perempuan hamil, memang siapa lagi yang akan datang?"
"Andromeda dan putra baptismu—Teddy. Juga Fleur dan Lavender," jawab Bill riang. Ah jadi anak baptis Harry akan datang, Lavender juga. "Fleur hamil?" Bill mengangguk, matanya berbinar bahagia. "Wah selamat Bill!" Harry memeluk Bill, menepuk punggungnya. "Yeah, selamat untuk Ron juga, dia bisa mengalahkan Charlie, Percy dan George sekaligus,"
"Ah ya, Ron,"
"Harry!" Harry menoleh, Hermione mendekatinya, "Bill, tidak keberatan kan kupinjam Harry?" gurau Hermione. Bill terbahak, "Tentu, bawalah dia tidak perlu di kembalikan," balasnya, lalu ia pun ikut mengobrol bersama ayahnya dan Minerva. Sementara George dan Ron bermain dengan—entahlah, salah satu dari sihir sakti Weasley sepertinya, dan Charlie menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Apa Hermione? Kulihat kau belum berbicara pada Ron—"
"Lupakan Ron, aku ingin mengenalkanmu pada orangtuaku," potong Hermione tidak sabar. Harry langsung agak panik, "Orangtuamu? Hermione! Aku sedang berantakan!"
"Kau memang selalu berantakan Harry!" tukas Hermione. Harry mendengus, "Ya setidaknya aku harus tampil rapi di depan orangtuamu, Mione,"
Hermione tersenyum geli, "Harry, kau seperti di hadapkan pada calon mertua saja—" Hermione terhenyak dengan kata-katanya sendiri, mengenalkan Harry pada orangtuanya? Apa maksud Hermione sebenarnya mengenalkan Harry pada orangtuanya?
"Err—Mum, Dad. Ini Harry—err—temanku," ucap Hermione sedikit terbata-bata. Harry tampak agak salah tingkah, "Harry Potter, senang bertemu dengan anda—err—sir—mr. Granger. Mrs Granger," sapa Harry pada kedua orangtua Hermione kemudian menjabat tangan mereka. "Harry? Hermione sering bercerita tentangmu dan—siapa satu lagi sayang?" tanya Mrs Granger pada putrinya. "Ron Mum, Ron Weasley,"
"Ah ya, lelaki berambut merah itu. Dia anak yang lucu sekali, ayahnya juga. Tadi bertanya apa kegunaan dari spons. Bukankah itu lucu?" kata pada Harry, yah mungkin baginya—bagi Harry dan Hermione juga—itu pertanyaan konyol, tapi bagi penyihir, itu sama sekali hal yang baru.
Mereka bercakap-cakap sebentar sebelum akhirnya Mr Weasley datang menghampiri mereka dan mengobrol seru dengan kedua orangtua Hermione—menanyakan hal-hal seputar Muggle tentunya.
"Kau cocok juga dengan orangtuaku," gumam Hermione. "Yah, mungkin karena aku dibesarkan sebagai muggle sepertimu dan kedua orangtuamu. Jadi banyak hal yang bisa kita bicarakan," kata Harry. "Mungkin juga,"
"Harry, Hermione," Mereka menoleh. Ron berdiri di belakang mereka, terlihat agak gelisah dibandingkan saat baru datang tadi. Mereka bertiga saling berpandangan dalam diam, tidak ada yang angkat bicara. Hanya diam dan saling berpandangan. Hermione menatap Ron tajam.
"Mau jalan-jalan keliling Hogwarts?" tanya Ron akhirnya, hampir berbisik. Harry dan Hermione berpandangan sebentar sebelum akhirnya mengangguk.
next chapter!
Harry memandang Ginny dengan tatapan nanar, "Ginny, aku menyayangimu," ucap Harry. Ginny tersenyum, ia mengulurkan tangannya dan memeluk Harry. Hati Ginny terluka, tapi ia tau inilah yang terbaik untuk dirinya dan Harry—juga Hermione. "Aku juga menyayangimu. Tapi aku tau kau mencintai Hermione," bisik Ginny sambil melepas pelukannya.
