Tittle : "Hidden Room"

Chapter : 2/?

Author : Otpexperience98

Genre : YAOI,Boys Love, Mistery,Romance,School Life,Hurt,Lil Bit Angst.

Rate : M (sesuai alur/plot)

Cast : Xi Luhan,Oh Sehun,Byun Baekhyun,Park Chanyeol,Lao Gao a.k.a Cobby,Zhang Yixing a.k.a Lay,etc,.

Pair : HUNHAN,LUGAO,CHANBAEK,etc,.

Backsound : The Call by Regina Spektor, A Narnia Lullaby,Fox Rain by Lee Sun Hee.

Disclaimer : Plot,setting dan hal lainnya dalam fanfic ini murni hasil imajinasi saya. Cast tentunya milik tuhan,bangsa,negara,dan para fansnya(?)

Summary : "Tentang Luhan ,sebuah pintu misterius,kejadian – kejadian aneh,dan seorang pemuda tampan bernama Sehun di sebuah rumah tua bergaya klasik abad pertengahan. Semua berkaitan dengan masa lalunya,lalu bagaimana nasib percintaannya?sementara ia sudah memiliki kekasih di China sana."

WARNING FOR TYPOs

SILAHKAN MEMBACA AUTHOR'S NOTE DI AKHIR CERITA YA!

.

.

.

Enjoy,

.

.

.

Otpexperience98

Previous Chapter

Ia ada dibelakang. Ia yakin itu. Tak jauh dari tempatnya saat ini berdiri. Luhan langsung membalikkan tubuhnya,

Kau?

Mata Luhan membola terkejut, Bukan hanya karena seseorang yang ia lihat,namun juga ruangan ini..dan,semuanya.

Semuanya berubah. Ruangan ini,dinding ini,barang – barang yang tadi ia lihat. Dinding yang barusan ia lihat berwarna aneh,hitam lusuh karena terbakar kini berubah warna. Menjadi cerah,bercat putih bersih. Lentera yang barusan hanya ia temukan di sudut ruangan,kini berada disetiap sisi ruangan. Membuat ruangan ini bercaya terang. Lantai kayu yang berderit,tidak lagi seperti itu.

Meski demikian,mata Luhan tak terlalu sibuk memperhatikan perubahannya. Itu semua karena seseorang didepannya. Ia berekspresi sama terkejutnya. Ia seperti tak percaya keberedaannya disini. Tak salah lagi,barusan suaranya. Ia yang memanggilnya.

Tapi...yang lain muncul dari belakangnya. Ia..tak sendiri?dan,mereka? Mengapa bisa,mereka berada disini?

.

.

.

Kesadaran Luhan kembali dengan terbukanya sepasang selaput pelindung mata itu. Sedikit melenguh,dan memfokuskan pandangan berkaburan. Melirik kesamping,jarum pendek jam beker di nakas menunjuk angka 9. Udara terasa lebih hangat,cahaya matahari pun terlihat menembus jendela kamarnya,ia memastikan saat ini sudah pukul 9 pagi.

Saat hendak bangkit,rasanya sedikit sulit. Tubuhnya tidak selincah seperti biasanya. Yang bisa ia lakukan hanya mencoba duduk dengan perlahan. Kain berbahan handuk jatuh ke punggung tangannya,ia sepertinya benar – benar tak sehat sekarang. Handuk kompresan itu buktinya.

Sakit bukanlah sebuah tuntutan bagi seseorang untuk hanya berdiam di ranjang lalu terlelap hingga sembuh. Harus ada usaha lain seperti mengonsumsi obat dan makan dengan teratur –dan mungkin anjuran lainnya. Luhan tau betul hal tersebut. Untuk itu,ia memutuskan untuk menuju lantai bawah.

.

Kaki itu melangkah perlahan saat menuruni tangga beralas kayu kecoklatan. Suasana lantai bawah di rumah Luhan bisa dibilang cukup sunyi. Orang – orang sedang sibuk bekerja. Ia bisa melihat beberapa maid sedang menggunting tanaman dan memangkas rumput di kebun depan rumahnya.

Tiba di ruang makan,ia menemukan sebuah kertas tertempel di lemari pendingin. Itu dari kedua orangtuanya. "Lu,beristirahatlah. Kau sakit. Apa kau begadang semalam?Maaf kami tak bisa menemanimu,jadwal baru sungguh padat." Selesai membaca,matanya kembali melihat kertas serupa tertempel di permukaan botol kaca yang tertutup rapat.

Itu dari ayahnya. Ia menyuruh Luhan untuk meminum isi dari botol tersebut. Itu adalah ramuan herbal untuknya yang sengaja dibuat leh Bibi Yoon. Patuh,Luhan langsung meneguk ramuan tersebut. Oh,dan tentang Bibi Yoon,lain waktu ia berjanji untuk mengucapkan setidaknya 'terima kasih'. Ramuan itu ternyata cukup cepat meredakan rasa kurang enak dari tubuhnya.

.

.

Terhitung setengah jam Luhan hanya berdiam di tempat yang sama walau posisi sewaktu – waktu tetap berubah. Ia sungguh bosan. Lain kali Luhan berjanji untuk tetap bangun pagi dan pergi ke sekolah sesakit apapun kondisi tubuhnya. Bosan terasa lebih tidak-mengenakan daripada demam,pikirnya.

Ia bangkit,memutuskan untuk pergi berkeliling rumah. Mungkin berakhir di ruang baca lantai 2 sana. Itu kebiasaannya saat sedang bosan. Yeah,walau sebenarnya membaca adalah sebagian dari hobi Luhan.

Dan tentang ruang baca. Sejak dulu memang keluarga Luhan selalu menyisakan satu ruangan dalam rumah untuk dijadikan tempat membaca. Semacam perpustakaan,lengkap dengan berbagai buku. ( Buku edisi lama lebih mendominasi). Ia sendiri juga sudah mulai berpartisipasi dalam memperbanyak koleksi buku di perpustakaan mini keluarga terebut. Terhitung sudah 5 Tahun. Walau buku favoritnya masih ia simpan di rak dalam kamarnya.

Luhan mendudukan tubuh di sebuah sofa berpegangan kayu. Rasanya dingin sekejap lalu menghangat setelah beberapa menit ia berdiam disitu. Di bagian timur ruangan terdapat jendela yang menghadap langsung ke halaman depan rumah. Jendela ini sama seperti jendela – jendela lainnya. Kacanya berwarna – warni,bergambar. Kuno,namun artistik.

Perpustakaan mini ini terlihat lebih padat daripada sebelumnya. Ada dua sampai tiga rak yang baru Luhan liat. Isinya bukan buku – buku terbitan baru. Mungkin peninggalan pemilik rumah sebelumnya. Entah keluarga dari sanak saudaranya (Keluarga bibi Hwang),entah yang lebih sebelumnya lagi.

Sebuah buku berisi biografi tokoh – tokoh legenda dunia menjadi pilihan bacaan Luhan. Tak lama memilih,hanya langsung mengambil dari rak kedua dari dekatnya. Saat melewati Jendela,matanya masih dapat melihat beberapa maid yang bekerja menata Kebun halam depan. Mereka begitu bekerja keras,katanya dalam hati. Setelah itu ia kembali duduk di sofa semula,dan larut dalam bacaan.

Sambil membaca,pikirannya melayang – layang bersama dengan imajinasi. Sampai otaknya memunculkan sebuah ingatan. Yaitu kejadian semalam. Sebelum akhirnya ia terbangun dengan kondisi kurang sehat pagi tadi. Kejadian itu,saat ia berhasil membuka pintu terkunci dalam kamarnya,lalu berakhir di ruangan misterius.

FLASHBACK

Luhan heran,mengapa ada dia disini. Maksud Luhan dia dan kedua temannya. Ketiga orang yag sempat beberapa kali Luhan lihat disekolah. Sampai hal yang memalukan itu terjadi. Saat Luhan dipergoki sedang memandangi salah seorang diantara mereka.

Lain dengan Luhan,Ketiga orang itu justru terlihat sangat terkejut dengan kehadiran Luhan. Keterkejutan itu hanya sebentar,setelahnya mimik wajah senang terlihat. Yang bertubuh paling pendek maju dan menawarkan sebuah jabatan tangan. Ia mengajak Luhan berkenalan.

Namanya Baekhyun. Saat tersenyum,matanya seakan menghilang. Luhan bisa langsung memastikan Baekhyun adalah seseorang yang paling gampang bergaul diantara dua yang lain. Sesudahnya yang paling tinggipun memperkenalkan dirinya sebagai Chanyeol. Telinganya seperti telinga peri,dengan senyum lebar yag ia milki. Itu sangat khas.

Sisa satu. Ia yang paling membuat Luhan um,salah tingkah. Entah mengapa. Mungkin karena mata milik si pemuda terakhir yang terus mentap kearahnya tanpa henti. Ia seperti terpaku. Apa dirinya terlalu..-ah sudahlah (Luhan sempat akan berpikiran narsis).

"Namaku Sehun. Oh Sehun." Akhirnya.

Akhirnya Luhan tau namanya. Oh Sehun,Luhan akan ingat itu. Oh dan tentu saja Baekhyun dan,Chan..siapa tadi?

Seharusnya giliran Luhan yang memperkenalkan diri. Namun saat hendak mengatakan namanya,Baekhyun dan Chanyeol memotong dengan mengatakan mereka bertiga sudah tau siapa nama Luhan. Luhan merasa sedikit aneh. Kapan Luhan pernah memberi tau namanya?

Chanyeol yang seperti tau pikiran Luhan menjawab dengan canggung. "Kau cukup populer di sekolah." Ah,Luhan hanya mengangguk sedikit canggung.

Ada yang aneh. Yaitu ruangan itu. Semuanya berubah dari apa yang Luhan pertama kali. Cat di dindingnya,lantai yang ia pijak,dan hal – hal lainnya. Tak ada lagi noda kehitaman pada dinding dan lusuh pada lantai. Cahaya juga tiba – tiba menjadi terang. Ada lentera di setiap sisi ruangan. Itu membuat Luhan linglung.

Namun yang menyenangkan adalah,perasaan yang dapat Luhan rasakan. Seperti perasaan lapang,bahagia,hatinya terasa ringan. Tanpa Luhan sadari,kakinya melangkah mengelilingi ruangan,meninggalkan ketiga orang yang sama – sama meperhatikan pergerakannya dalam diam.

Mata Luhan terpejam. Hidungnya menghirup udara sekitar dengan khidmat. Terasa melegakan,entah tak tau apa penyebab munculnya perasaan semenenangkan ini. Apa karena seseorang yang bernama Sehun itu? Luhan menggeleng. Bukan,mungkin iya. Mungkin memang bukan,bukan hanya karena dia. Ada sesuatu yang lain.

Tangannya meraba permukaan dinding perlahan. Terus berkeliling,melihat seisi ruangan. Seperti menemukan sesuatu yang lama telah hilang. Kursi yang saat pertama kali Luhan lihat sudah dalam keadaan seperti habis terbakar kini kembali kokoh.

Namun tidak dengan foto itu. Foto ketiga orang anak laki – laki yang sedang bermain. Dengan salah satu diantaranya terlihat memandang sebuah objek didepan. Entah apa,bagian yang itu menghilang dan tidak kembali utuh seperti hal lainnya di ruangan ini. Luhan mengambil foto itu dan memasukkannya kedalam saku piyama. Entah atas dorongan apa.

Kakinya kembali bergerak. Ia bangkit dan berjalan ke arah tangga. Tangga yang membawanya ke bawah sini. Tadi tangga itu sungguh menyeramkan,kini tidak lagi. Sama. Kembali seperti baru dibangun. Bahkan aroma kayu pijakannyapun masih bisa tercium oleh Luhan. Ini semua benar – benar aneh dan lagi – lagi berhasil membuatnya sedikit linglung. Matanya berkedip – kedip heran.

Sebuah tepukan di bahu menyadarkan Luhan dari semua pemikirannya. Baekhyun pelakunya. Ia tersenyum,awalnya senyum itu terlihat sedikit aneh. Seperti menyeringai,tapi Luhan segera menggelengkan kepalanya. Fiuh,bukan. Baekhyun malah sedang tersenyum dengan ramah padanya.

"Apa..kau baik – baik saja,lu?" Baekhyun bertanya. Luhan membalas dengan sebuah anggukan singkat.

.

Kini Luhan,Sehun,Chanyeol,dan Baekhyun sedang menduduki lantai membentuk setengah lingkaran. Dekat perapian tanpa api dan kursi yang sempat ia lihat perubahan anehnya tadi. Sehun yang duduk paling dekat dengan perapian,Chanyeol,Baekhyun,dan yang terakhir Luhan. Posisi Sehun dan Luhan bisa dibilang saling berhadapan.

Suasana awalnya sangat canggung. Bahkan ChanBaek yang sebelumnya paling berbicarapun hanya diam sambil memainkan jari masing – masing. Apalagi dengan Luhan,ia tak tau harus berbicara apa. Sampai sebuah pertanyaan muncul.

"Lu,apa kami sangat berisik hingga kau bisa datang kemari?" Luhan bepikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk ragu. Yang mengajukan pertanyaan menggaruk tengkuknya canggung.

Lalu Chanyol bertanya,apa mereka benar – benar seberisik itu?Ekspresinya menyampaikan rasa bersalah. Luhan jadi merasa tak enak. Seharusnya tadi ia menggeleng saja.

Disebelah Chanyeol,Sehun menyikut pelan lengan Chanyeol. Bibirnya mengatakan sesuatu seperti berbisik. Walaupun demikian,Luhan masih bisa mendengarnya. Ia jika tak salah mengatakan sesuatu seperti 'Apa kubilang!kita terlalu berisik dan mengganggunya.' Chanyeol hanya tersenyum merasa bersalah.

Bukannya merasa semakin tak enak,Luhan malah merasa sedikit terhibur sekaligus heran. Terhibur karena melihat tingkah lucu Sehun saat mengomeli teman tingginya,dan heran karena dengan Sehun yang berkata seperti itu,itu berarti sudah lama ketiganya berada diruangan ini.

"Lu,maafkan kami telah membuat kegaduhan." Sehun berbicara padanya!Oh. Luhan tergagap. Apa – apaan reaksi seperti ini,Lu? Baekhyun menggoda Sehun karena perbuatannya itu. Apaagi ketika Sehun mengatakannya dengan suara –lembut? Ow,Lihat siapa yag berbicara dengan begitu lembut. Itu yang Baekhyun katakan. ChanBaek kemudian tertawa.

Sehun dan Luhan ikut tertawa,juga sama – sama memerah. Oh.

"Tapi..mngapa kalian bisa ada diruangan ini?" Pertanyaan Luhan memecah suasana lucu. Yang diberi pertanyaan langsung terdiam,seperti bingung akan menjawab apa. Mereka saling melempar tatapan pada satu sama lain. Itu membuat Luhan lagi – lagi heran.

FLASHBACK OFF

.

.

Itu lah ingatan terakhir Luhan sebelum akhirnya semua hilang. Yang bisa ia simpulkan Sehun dan ChanBaek belum sempat menjawab pertanyaannya. Dan,apa semua itu mimpi?ataukah nyata?Dengan ingatannya yang membuntu,Luhan kembali bimbang akan realita peristiwa semalam.

Menghembuskan nafas,setelah itu Luhan memutuskan untuk kembali memilih buku lain. Kakinya melangkah ke arah rak baru. Ia ingin melihat buku apa saja yang ada didalamnya.

Berdiri,membungkuk,hingga berjongkok Luhan lakukan untuk melihat apa saja buku yang ada dalam rak baru. Ini rak ke-3 yang Luhan lihat. Semua buku rata – rata diterbitkan pada era 80'an. Kertasnya sudah menguning,namun sangat nyaman saat digenggam tangan. Ada juga buku era 90'an,kondisinya kurang lebih sama.

Buku terbaru di rak ini adalah terbitan tahun 2007. Luhan jadi membayangkan mungkin di tahun itu umurnya masih 9. Waktu berlalu dengan cepat. Bumi berputar mengelilingi matahari terasa sangat singkat.

Luhan sampai pada bagian paling ujung rak baru. Hening,tak ada suara apapun dalam ruangan ini. Buku berjudul 'Rule Of Law' berbahasa Inggris Luhan bisa membacanya. Dan yang terakhir,buku bersampul tebal dengan warna hitam. Disisinya ada huruf - huruf artistik yang terangkai.

'Sagreto' Sebuah kata unik,yang mungkin baru Luhan lihat pertama kali. Tertarik,ia mengambil buku itu. Aroma lembab langsung menguar indra penciumannya saat buku usang tersebut berhasil ia ambil. Siapa sangka gambar pada sampul buku itu membuat Luhan menyerngitkan kepalanya. Sungguh terasa familiar. Biar ia coba ingat.

...Bukankah itu adalah lukisan rumahnya?ya. Itu memang benar lukisan rumahnya,rumah ini. Luhan tak mungkin salah melihat,ia penghuninya,ingat? Cerobong asap,kaca jendela berwarna seperti pada gereja,dan pohon beringin dengan daun berguruan disekitarnya. Ya,tentu saja ini adalah rumah ini. Lagipula saat Luhan tak segaja memperhatikan,di kompleks ini,walau bergaya sama,hanya rumah inilah yang memakai cerobong asap dan kaca jendela berwarna warni.

Ini buku berbahasa italia. Luhan menebaknya dari kata 'Sagreto'. Seperti jurnal,dan seseorang bernama Manuel de Diaz penulisnya. Nama itu tertera di halaman awal buku. Mungkin spesifik buku ini adalah jurnal arsitektur. Saat Luhan membuka halaman secara acak,ada beberapa gambar rancangan rumah dengan pengukuran dan garis rumit. Phi,Lamda,sudut dalam istilah trigonometri,sinus,cosecan,dan lain – lain.

Luhan bisa menyimpulkan buku ini adalah buku jurnal arsitektur rumah yang ia tempati. Ada beberapa gambar bagian dari sebuah rumah yang sangat familiar dilihatnya. Itu bagian dari rumahnya saat ini,ada komposisi batuan,diameter kayu,dan hal lain yang menjadi bahan dasar pembangunan rumah ini. Sangat hebat,mereka (yang terdahulu) sungguh detail.

Luhan sangat ingin membaca isi setiap bagian dalam buku itu. Namun bahasa menjadi kendala terbesarnya. Luhan terus membuka setiap halaman secara acak. Sampai di bab terakhir. Berjudul sama seperti pada sampul,'sagreto'.

Hanya judul yang sama. Tidak dengan gambar ilustrasinya. Api,garis acak yang membentuk sebuah api yang menyala – nyala,bara yang meletup ke udara. Menyeramkan,itu kesannya. Di balik gambar api yang menyala – nyala itu,ada bagian dari rumahnya yang paling menjulang tinggi. Itu cerobong asap rumahnya,tak salah lagi.

Jemari itu hampir saja berhasil membuka halaman pertama bab 'Sagreto' sebelum akhirnya tubuhnya sedikit terdorong kedepan. Dari arah belakang,ia jelas merasa sesutu yang menabraknya walau tak terlalu keras.

"Hahaha" Itu anak – anak yang tertawa. Luhan berbalik dan benar saja,ada 2 orang anak yang sedang berlarian. Darimana mereka berasal?Ia tak memiliki siapapun sekecil itu (sanak saudara). Luhan menyerngitkan dahinya. Ia mengikuti kedua orang anak tersebut. Mereka baru saja menghilang,berbelok je jajaran rak buku sebelah.

Sepasang kaki itu terus mengikuti,namun –mereka tak ada disana,tak ada dimanapun. Setelah jelas – jelas Luhan melihatnya sendiri dengan jelas kemana mereka. Suara tawa itu kembali terdengar,membuatnya berbalik dengan cepat,mereka ada dibelakangnya,masih berlari berlawanan arah dengan tempatnya berdiri.

Luhan kembali mengikuti. Kali ini dengan kecepatan yang meningkat,ia harus melihat siapa kedua anak itu. Satu anak tepat didepannya. Ya,akhirnya. Luhan tanpa banyak berpikir mengulurkan tangannya,hendak menyentuh anak tersebut. –dan gagal.

Entah ia berhalusinasi,atau apa. Anak itu menghilang,bersamaan dengan munculnya kembali suara tawa sama seperti sebelumnya. Luhan seperti bingung,yang sedikit lebih banyak dari porsi sebelumnya. Ia berbalik,berlari menyursuri lorong dengan rak – rak buku di sisi kanan dan kirinya. Terus seperti tadi,terus menerus.

2 orang anak itu tak pernah berhasil Luhan lihat lebih dari 10 detik. Luhan mulai merasa keanehan,ini tidak normal. Ada sesuatu yang salah,yang tidak biasa Luhan rasakan. Luhan belum ingin menyerah,ia terus berjalan mengikuti kemana kedua anak tadi pergi. Suara tawa terus terdengar dan ia sadari itu mulai mengganggunya.

Mereka seperti ada di belakang saat Luhan menghadap kedepan. Seperti berada di sisi kanannya saat ia menghadap kekiri. Luhan merasa paranoid,keringat dingin membasahi pelipisnya. Entah ini efek dari kondisi tubuhnya,atau apa. Yang jelas ini adalah saat paling tidak enak selama 17 tahun ia tinggal. Kedua tangannya menutupi telinganya. Matanya terpejam paksa. Suara tawa anak – anak itu terdengar semakin aneh seiring berjalannya waktu.

Luhan berjongkok. Tangannya yang satu menyentuh lantai menahan beban tubuh. Ruangan terasa sedikit berputar. Warna kulitnya memucat. Didepan sana,Luhan melihat sepasang sepatu berukuran kecil dibalik tirai,anak – anak itu pasti bersembunyi disitu. Dengan perlahan ia mendekat dan menyibak kain besar tersebut.

Luhan terkejut. Anak itu benar ada disana. Ia menghadapnya,tersenyum. Bola matanya kecoklatan terkena sinar matahari,begitupun dengan rambutnya.

PUK'

Luhan kembali terkejut saat merasakan sesuatu menyentuh bahunya. Ia berbalik dengan cepat,dan-

.

.

.

Sepasang tangan lain menggenggam bahu Luhan. saat ini ia sedang berjalan di lorong rumah,menuju ke kamar untuk beristirahat. Udara terasa sangat dingin,membuat Luhan harus menggigit bibir bawahnya menahan gemelutuk gigi.

"Sebaiknya anda cepat beristirahat,Tuan muda." Suara wanita paruh baya terdengar. Datar,tak berirama. Luhan mengangguk canggung.

Beliau adalah Bibi Yoon. Orang yang menepuk pundaknya di perpusatakaan tadi. Hal yang sukses membuat jantungnya serasa akan copot. Wajah putih pucat,sorot datar matanya,dan suara dingin Bibi Yoon menjadi penyebabnya. Untung ia langsung memperkenalkan diri,Luhan jadi teringat note yang Ayahnya berikan. Tentang ramuan herbal yang Bibi Yoon buat.

Ia sama seperti maid yang lain. Sama – sama berseragam resmi. Itu juga membuat Luhan akhirnya dapat menghembuskan nafas lega. Yeah,hari ini terlalu banyak orang asing yang membuatnya paranoid.

Dan tentang keterkejutannya saat melihat bibi Yoon,Luhan jadi merasa tidak enak. Beliau sepertinya langsung merasakan ketidak-nyaman-an. Luhan dapat merakanannya secara pribadi.

...

"Ada apa Tuan muda?Anda terlihat gelisah." Tanyanya simpati. Walau ekspresi dan suaranya tidak merefleksikan ia sedang simpati.

"Tidak. Saya sedang tidak sehat. Jadi.." Luhan tadinya akan menceritakan apa yang barusan baru saja ia alami. Namun,sepertinya tidak. Itu kejadian yang terlalu aneh,Luhan takut Bibi Yoon malah berpikiran aneh tentang dirinya.

"Jadi?"

"Ah,ti-tidak. Mungkin saya hanya berhalusinasi tadi."

...

Luhan dan Bibi Yoon sudah sampa di kamar. Wanita paruh baya itu membantu Luhan berbaring,ia menaikan selimut sampai dada tuan mudanya. Ia sempat memeriksa suhu tubuh Luhan dengan cara menyentuh keningnya. Ia terdiam,seperti menemukan sesuatu yang salah. Tak berlama – lama disana,ia pamit untuk kembali bekerja,Luhan berterimakasih.

Saat pintu kamarnya kembali tertutup. Luhan menghela nafas lega. Jujur,berada dekat - dekat dengan Bibi Yoon membuatnya sedikit kurang nyaman,apalagi dengan ekspresi dan suaranya yang aneh. Luhan jadi sedikit takut. Terelepas dari kebaikannya membuatkan Luhan ramuan herbal mujarab.

Keadaan sudah lebih tenang. Begitupun dengan tubuhnya. Paranoid dan perasaan takut saat tadi di perpustakaan sudah mereda. Digantikan dengan bayangan akan pertemuannya dengan Sehun semalam. Di ruang bawah tanah,dibalik pintu misterius yang kini berada tepat didepannya. Luhan memandangi pintu itu sendu.

Dilema akan kebenaran peristiwa semalam,Luhan berharap itu semua adalah kenyataan. Beretemu Sehun,secara langsung. Ia berada didekatnya. Berharap kapanpun ia ingin bertemu dengannya,ia hanya perlu membuka pintu tersebut dan pergi kebawah. Namun,jika memang itu hanyalah mimpi,Luhan harap mimpi itu datang lagi dalam tidurnya kali ini.

Luhan tersenyum mengingat tingkah malu – malu Sehun saat pertama ia berbicara. Semua itu membuat Luhan semakin tenang,dan semakin mengantuk. Tubuhnya tidak sehat,ia butuh istirahat. Ia hampir saja memasuki dunia bawah sadarnya. Dalam ambang sadar dan tidak,ia merasa disampingnya ada Sehun yang sedang memandanginya lembut. Luhan tersenyum.

Sehun membuatnya gila dalam waktu secepat ini. Bahkan sekarang ia bisa melihat tangan besar itu mengusap – usap surainya perlahan. Seolah mengantarnya jatuh semakin dalam,mengantuk,dan tidur dengan tenang. Jantungnya berdetak lebih cepat,kupu – kupu diperutnya terasa menggelitik. Sentuhan itu luar biasa nyaman. Satu kalimat yang ia sempat katakan,

Halusinasiku terasa sangat nyata.

.

Disisi lain,Bibi Yoon yang baru saja keluar dari kamar tuan mudanya tidaklah langsung meneruskan pekerjaan seperti yang dirinya katakan tadi. Ia menuju ke kebun belakang rumah,dan mengambil sesuatu dari saku pakaiannya,Itu dupa. Dibakarnya dupa tersebut lalu diletakannya di wadah pinggiran sebuah pintu. Sebelum apinya membesar,ia meniup api tersebut. Hingga munculah kepulan asap tipis beraroma khas.

"Dia..baik – baik saja." Seolah sedang menyampaikan informasi kepada seseorang sambil membungkukan tubuhnya 90 derajat. Beberapa detik,lalu kembali masuk kedalam rumah.

.

.

.

TIN TIN

Suara klakson berbunyi didepan gerbang utama rumah. Itu Mrs Xi yang baru saja pulang. Menunggu sebentar,gerbangpun terbuka. Bibi Yoon yang membukanya. Sudah pukul 6 sore,maid lain sudah pulang,hanya bibi Yoon yang tersisa.

Mrs Xi tersenyum ramah saat bertemu pandang dengan Bibi Yoon. Sebaliknya,yang disenyumi hanya berekspresi datar. Seperti biasa.

Penerangan sedikit temaram. Mengandalkan lampu taman yang tak terlalu terang di beberapa sudut. Suhu udara menurun,Mrs Xi ingin segera masuk kedalam rumah.

Ah,dan tentang Bibi Yoon,ia adalah satu – satunya maid yang memilih tinggal. Menurut kabar,ia staff dapur paling senior di kediaman ini. Mengetahui hal itu,Keluarga Xi membebaskan keinginan Bibi Yoon dalam memilih tempat tinggal.

"Selamat datang,Nyonya." Bibi Yoon dengan khasnya. Mrs Xi membalas sapaan tersebut dan dengan segera memasuki rumah.

"Ah,Bibi Yoon. Apa keadaan Luhan sudah membaik?" Menghentikan langkahnya untuk bertanya.

"Saya belum memeriksanya lagi. Hanya saja tadi sore saya sempat mengantarnya untuk beristirahat." Mrs Xi mengangguk mengerti. Ia juga menyempatkan diri untuk berterimakasih. Sampai di tangga,Mrs Xi kembali mengingat sesuatu.

"Dan..apa Luhan sudah meminum ramuan herbal yang Bibi Yoon buat?" Ia berbicara dengan arah pandang kebawah. Tempat bibi Yoon berdiri. Yang lebih tua hanya mengangguk dingin.

Itu membuat Mrs Xi kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga yang sempat terhenti. Tubuh bagian belakangnya mendadak terasa dingin. Sepertinya Bibi Yoon masih mengawasi dirinnya dari bawah sana. Ia merasakan itu.

.

.

Ruangan yang pertama kali dituju Mrs Xi tak lain adalah kamar putranya,Luhan. Ia lagi – lagi merasa bersalah karena tidak bisa menemani anak satu – satunya yang sedang sakit hari ini.

Bisa ia lihat,Luhan sedang tertidur dengan tenang. Wajah itu teduh sekali,sepertinya kondisi kesehatanya membaik. Tak ada lagi bibir pucat seperti tadi pagi saat pertama kali ia menemukan Luhan. Sebaliknya,kali ini bibir itu menyunggingkan senyum dalam tidurnya.

Dan,akhirnya pula ia tau apa penyebab Luhan demam. Mrs Xi tau betul satu – satunya hal yang dapat membuat Luhan jatuh demam adalah begadang. Dan ternyata memang benar,semalam putra berhidung bangirnya itu tidur sangat larut.

Masalah dengan Cobby,membuat Luhan begadang dan akhirnya demam. Tadi pagi,ia cepat – cepat memberi Cobby kabar tentang kondisi Luhan. dan Reaksi Cobby tentu saja terkejut khawatir,bahkan bisa dikatakan panik.

Cobby meminta maaf karena merasa dirinyalah yang membuat Luhan tidur larut sampai akhirnya demam. Ia menceritakan peristiwa semalam,saat ia tak mengangkat telfon dan membalas pesan yang Luhan kirimkan. Mrs Xi hanya dapat memaklumi,ia sadar hal sepeti itu memanglah wajar dalam sebuah hubungan. Ia juga menenangkan Cobby,dan menyuruhnya untuk tidak terlalu merasa bersalah.

"Ini mungkin karena kepindahan kami yang mendadak. Dan Luhanpun pastinya sedang sibuk beradaptasi di lingkungan baru hingga tak sadar mengabaikanmu. Maafkan Kami,Cobby. Telah membuat kalian jauh."

Mrs Xi terkekeh. Bisa jadi tadi Cobby telah menghubungi putranya dan merekapun akhirnya berbaikan. Pantas saja Luhan tersenyum seperti itu dalam tidurnya.

Yeah,sekiranya begituah asumsi Mrs Xi. Ia tak tau mimpi – mimpi anaknya selama ini,ia tak tau peristiwa aneh yang anaknya alami dirumah ini,dan tentu saja ia juga tak tau akan ketiga orang yang baru saja bertemu dengan anaknya diruangan bawah tanah sana secara misterius. Apalagi satu diantara mereka berhasil membuat perasaan putranya bimbang.

Ibunya tah tau.

Mrs mendekat dan duduk di pinggiran ranjang. Ia menaikan selimut Luhan sampai ke dada. Mengusap keningnya,dari situlah ia tau bahwa kondisi Luhan tak sebaik yang ia kira.

Panas. Demam Luhan sangat tinggi. Itu terbukti saat telapak tangannya menyentuh kening Luhan. well,semua orang yang melihat Luhan yang sedang berbaring pasti mengira demamnya suah turun. Mana mungkin orang yang sedang demam menyunggingkan senyum dalam tidur dan berwajah cerah?

Mrs Lu bergegas menuju lantai bawah. Ia berniat mencari Bibi Yoon dan meminta agar beliau membuat ramuan herbal lagi,selagi ia menghubungi Mr Xi.

.

.

BRAK

Pintu yang membatasi ruangan lain dengan dapur itupun terbuka dengan kasar. Mrs Xi pelakunya,saat ini ia sangat panik. Demam putranya benar – benar tinggi.

"Bibi Yoon! Bibi Yoon!" Terus berteriak mengharapan kehadiran seseorang yang sangat ia butuhkan. Nihil,tak ada siapapun di ruangan ini.

Dapur di rumah ini memang berukuran besar,sama seperti ruangan lainnya. Biasanya ramai saat siang hari,dimana memang para maid sedang sibuk bekerja.

Mrs Xi berlari menyusuri seluruh sisi ruangan. Bibi Yoon tidak ada dimanapun,terbukti teriakan paniknya tak membuat orang itu datang. Akhirnya dengan segala pertimbangan ia memutuskan untuk menghubungi suami dan dokter terlebih dahulu.

Pintu dapur kembali terbuka, "yah!"

Dan lagi – lagi untuk kesekian kalinya Mrs Xi terkejut. Kali ini Mrs Xi bahkan berteriak. Bibi Yoon secara mendadak telah berdiri dihadapannya. Berseragam maid,berekspresi dingin. Tak ada raut wajah yang menunjukan perasaan bersalah (Ia tak datang saat majikannya membutuhkan). Kedua tangannya menggenggam satu pot kecil berisi tanaman kaktus.

Satu lagi,pandangannya menyorotkan kekosongan.

"Bi-bi Yoon.." Mrs Xi mengatur nafasnya yang berantakan.

"Anda baik – baik saja,Nyonya?" Pertanyaan akan kekhawatiran. Namun tidak dengan nada dan ekspresinya.

"Ya..hosh...Bisakah kau membuat ramuan herbal lagi?" Dibalas anggukan singkat. Bibi Yoon berjalan kedalam dapur,melewati Mrs Xi yang masih mencoba membuat nafasnya kembali stabil.

Mrs Xi mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.

"Ha-halo!Suamiku,bisakah kau hubungi dokter dan segera pulang?"

"Bukan aku. Luhan –putra kita,demamnya semakin tinggi. Cepatlah,aku sangat khawatir." Nada suaranya terdengar frustasi. Mungkin Mr Xi disebrang telefon sanapun sama paniknya,sambungan telefon berakhir.

Tak jauh dari Mrs Xi yang sedang bertelfon,Bibi Yoon menghentikan kegiatannya yang sedang mengekstrak ramuan. Indra pendengarnya menangkap bahwa demam tuan mudanya kembali tinggi. Ia diam,menatap lurus kedepan. Seperti ada sesuatu yang salah,entah apa itu.

Ia menampilkan raut wajah curiga.

.

.

Luhan masih belum siuman saat dokter selesai memeriksa. Dia masih tak sadarkan diri,dengan keringat dingin di sepasang pelipisnya. Dokter,Mr dan Mrs Xi berada di ruang tamu. Mr Xi langsung membatalkan jadwal makan malam dengan salah satu koleganya saat mengetahui kondisi Luhan semakin parah.

"Sejauh ini,tidak ada yang salah pada tubuh putra anda." Dokter Cho berbicara setelah menyimpan secangkir tehnya di meja.

"Lalu..bagaimana demamnya bisa setinggi itu,Dokter?" Mr Xi syarat akan kekhawatiran.

"Jika secara medis tidak ada yang salah,kemungkinan besar demam tinggi itu diakibatkan oleh kondisi mental putra anda sendiri. Entah itu stress ataupun trauma."

Mr Xi mengusap tangan istrinya,mencoba menguatkan. Bagaimanapun,merekalah yang menyebabkan Luhan seperti itu. Asumsi keduanya sama,ini karena kepindahannya. Luhan yang malang,sekeras apa ia beradaptasi di lingkungan baru?

"Maafkan kami,Lu."

...

Sementara itu,tanpa Mr dan Mrs Xi sadari,Bibi Yoon mendengarkan seluruh percakapan yang mereka lakukan dengan Dokter Cho. Tangannya meremas seragam maidnya,seakan – akan melawan kegugupan.

"Benarkah hanya disebabkan oleh kondisi mental?"

.

.

.

Luhan akhirnya siuman. Ia sadar saat jam sudah menunjukan pukul 12.23 AM. Melenguh pelan karena merasa sedikit pening. Berapa lama ia tertidur? Di nakas ada satu botol berisikan ramuan herbal. Pasti Bibi Yoon yang membuat. Luhan segera meminumnya.

Masalah baru muncul. Ini sudah lewat tengah malam,dan ia bingung harus melakukan apa.

Mengambil ponsel,sudah ada banyak notifikasi yang datang dari Cobby. Pesan,panggilan tak terjawab,dan lain sebagainya. Itu membuat Luhan sedikit takut. Apa kekasihnya akan semakin marah?

Isi pesan Cobby membuat pikiran negatif Luhan menghilang. Sebaliknya,ia malah merasa tenang. Ibunya pasti memberitau tentang kondisi kesehatannya,Cobby banyak mengirimkan kalimat kekhawatiran. Ia juga meminta maaf karena telah bersikap egois dengan mengabaikan Luhan semalam. (Itu membuat Luhan terharu)

Luhan meneguhkan diri untuk tidak lagi lari dari masalah. Bagaimanapun,masalah harus tetap diselesaikan. Apalagi sekarang keadaan sudah jauh lebih membaik (Hubungannya dengan Cobby). Untuk itu Luhan berinisiatif menelfon Cobby. China dan Korea hanya berbeda 1 jam. Mungkin sekarang masih pukul 11.30,ia berharap keasihnya itu masih terjaga.

Tetap tidak ada jawaban. Luhan sudah menunggu beberapa lama. Luhan berusaha lagi dengan mengirikan pesan singkat.

"Cobby,kau sudah tertidur?" Terkekeh atas pertanyaan bodohnya. Yeah setidaknya ia tetap berusaha. Luhan terus menerus mencoba menghubungi Cobby.

Pukul 12.38,

Pukul 12.40,

Pukul 12.43,penantian yang um –lumayan panjang. "halo?" Itu Cobby! Luhan tersenyum senang akhirnya. Ia bangkit dan duduk di tepi ranjang.

Luhan baru saja akan menjawab Cobby jika saja pemandangan didepannya tak pernah ada. Bukan suara asing atau hantaman pintu. Gagang pintu itu bergerak,seakan ada seseorang yang berusaha masuk dibaliknya.

Jantung Luhan berdebar. Apa itu dia?

Ponsel yang semula berada disamping telinga,kini berpindah tempat. Tergeletak di kasur tak jauh dari tempatnya duduk. Jemarinya meremas ujung piyama. Jantungnya semakin berdebar,entah apa yang ia inginkan. Dia atau Bukan.

Di sebrang sambungan sana Cobby masih menyahuti panggilan Luhan. Memanggil nama kekasihnya yang sedari tadi mencoba terus menghubunginya. Nihil,tidak akan ada jawaban yang Luhan berikan. Seseorang dibalik pintu,yang Luhan harap Dia menyita seluruh perhatian dan fokusnya.

Luhan berdiri,mendekati pintu yang dianggapnya misterius. Gagangnya masih bergerak – gerak,menarik lalu menghembuskan nafas dan akhirnya,-

CKLEK

Asap putih bertiup menyapu surai halusnya. Ia memejamkan matanya,menikmati. Di luar sana,tak Luhan sadari dedaunan juga ranting bergesekan,menimbulkan suara seperti gemuruh. Saat membuka mata,ia sudah ada disana. Dihadapannya.

Rambutnya keabuan,kulitnya putih pucat,bibirnya memerah. Seperti biasa,ia tampak luar biasa.

"hai –um." Hey,dia menyapa dengan gugup. Kini mereka berdua merasa hawa sekitar sangatlah canggung. Luhan tersenyum,kini ia yakin peristiwa semalam bukanlah hanya mimpi. Kehadirannya saat ini cukup menjadi bukti yang kuat.

"Jadi...itu semua nyata." Kalimat itu keluar tanpa mampu Luhan hindari. Seperti berbisik,namun seseorang didepannya masih bisa mendengar. Menunduk,memainkan jari. Luhan gugup dan senang sekaligus.

"kau- belum tidur?" perhatian. Luhan menjawab dengan gelengan.

"Kalau begitu,tidurlah. Aku berjanji untuk tetap tenang dibawah." Sehun hendak pergi meninggalkan Luhan. Tapi yang lebih kecil mengintrupsi.

"Bolehkah aku ikut kebawah? –um.."

"bersamamu?" Sehun diam. Ia meneliti wajah didepannya,pucat.

"Tidak. Kau sedang demam,tidurlah.."

"oh?bagaimana..kau bisa tau aku sedang demam?" Itu membuat Sehun bungkam. Oh Tidak.

"a-aku.." Luhan masih menunggu jawaban.

"Baiklah. Kau boleh ikut denganku kebawah sana." Apa Sehun sedang mengalihkan pebicaraan?

Pintu misterius itupun tertutup dengan Sehun dan Luhan yang masuk kedalamnya.

Posnel Luhan masih tergeletak di kasur. Cobby masih memanggil – manggilnya. Dan berhenti,Cobby berbicara degan seseorang.

"Luhan..mengapa kau hanya diam?"

...

"Oh..teman?teman siapa?"

...

"kenapa larut sekali?baiklah kalau begitu,cepatlah sembuh."

...

"Bye,aku akan menghubungi lagi nanti."

...

BIP.

Beberapa kali Cobby menyebut nama Luhan seolah – olah sedang berbicara dengannya. Padahal beberapa menit yang lalu Luhan memasuki ruang bawah tanah bersama Sehun.

.

.

Luhan sudah sampai di ruang bawah tanah. Keadaan ruangan itu sama seperti yang terakhir kali Luhan lihat. Tidak ada yang salah,mungkin memang benar yang kemrin itu halusinasinya saja. (ruangan tak terurus dengan noda hitam di dindingnya).

Ternyata bukan hanya mereka yang ada disini. Ada dua lainnya,ChanBaek si ceria. Sapaan ramah langsug Luhan dapat sejak pertama mereka melihatnya. Luhan jadi ikut ceria, ChanBaek benar – benar moodboster.

Duduk melingkar,dan menyaksikan Chanyeol yang sedang menggoda Baekhyun. Itu menyenangkan. Yang lebih sipit akan langsung mempout-kan bibirnya jika sudah merasa kesal. Imut,pantas saja Chanyeol selalu memancingnya dengan menggoda.

Sehun,ia hanya senyum. Tak pernah tertawa lepas seperti ChanBaek. Tak apa,memang watak lahiriah mungkin seperti itu.

"hey, um- bagaimana dengan harimu?" Sehun mengajaknya berbincang,ah.

Luhan berhenti tertawa,menggeser posisi duduknya agar bisa lebih jelas mendengar suara Sehun. Jarak mereka semakin dekat.

Obrolan semakin panjang dan seru. ChanBaek seperti diabaikan,sebelum mereka sendiri sadar. Sehun dan Luhan malah asik berdua,terkadang Luhan tertawa. Entah apa yang lucu, hey mereka bahkan duuduk berhadapan.

"Ouw..lihat siapa yan mengabaikan kita dan asyik berdua?" Baekhyun mengejek. Sehun dan Luhan mendengar,mereka manampilkan raut wajah polos tanpa dosa. Belum mengerti.

"Yeol,ayo kita pindah. Dan beri pasangan lain keleluasaan." Mereka beranjak,Luhan sadar akan ditingalkan. Itu tidak boleh,suasana antara dirinya dan Sehun pasti akan kembali canggung. Luhan benci itu.

Baekhyun menolak ajakan Luhan untuk tetap tinggal. Ia malah dengan sengaja menyeret Chanyeol ke ruang sebelah. Luhan merutuki itu,kini benar – benar hanya ada dirinya dan Sehun disini. Sial,apa kubilang. Lagi – lagi canggung.

Kembali duduk,mencoba untuk tetap tenang. Belum ada satupun yang memulai percakapan. Luhan baru merasakan ini. Ia ingat saat pertama kali hubungannya dengan Cobby berubah,maksudnya saat dirinya dan Cobby memiliki ketertarikan suasana tak secanggung ini.

Lalu siapa disini yang tertarik pada siapa,Luhan? Benar juga.

Tapi syukurlah suasana aneh ini tidak berlangsung lama. Sehun kembali memulai percakapan,ia menanyakan bagaimana perasaannya di sekolah,apa ada yang membuatnya terganggu,ada atau tidak yang membully-nya dihari pertama sekolah. Dan Luhan rasa itu cukup. Cukup bagi seseorang yang mencoba perhatian padanya.

Cuaca ikut menghangat,sama seperti perasaan Luhan.

Sehun tak sekaku yang Luhan kira. Sebaliknya,ia malah bisa membuat lingkungan sekitarnya menjadi hangat. Tak peduli sedingi apa sebelumnya. Percakapan mereka kembali berlanjut. Bersambung,menyambung,semakin panjang,semakin membuat kedua orang pelakunya terhanyut.

"Sehun,aku ingat ada satu pertanyaanku yang belum sempat kau jawab." Sehun diam,mencoba mendengar sekali lagi pertanyaan Luhan.

"apa itu?"

"tentang bagaimana kau- maksudku kalian bertiga bisa ada disini?" Luhan penasaran. Sehun seketika diam. Ekspresinya berubah dan kembali kesemula,dingin. Luhan diam – diam merutuki mulutnya,pasti itu karena pertanyaannya. Tapi apa salahnya?hey ini rumahnya,dan resmi.

"..." Belum ada sepatah katapun yang Sehun katakan sebagai jawaban. Luhan masih saja penasaran walau sempat menyesal.

"a-apa kau akan pergi jika aku mengataka yang sebenarnya?" Sehun mendekat padanya. Itu terdengar syarat akan ketakutan. Luhan menyergitkan alisnya,tentu saja tidak! Ini hanya pertanyaan sederhana,dua sampai tiga kalimat dari Sehunpun sudah cukup baginya. Mengapa Sehun malah berlebihan sekarang?

"Sehun,kurasa ada kesalah pahaman disini. Aku hanya penasaran,dan mencoba bertanya. Kau tau,ini rumahku saat ini." Ia tersenyum meyakinkan. Sehun menunduk.

Sebelumnya Luhan sudah meneguhkan pendirian,untuk tetap tenang saat mendengar jawaban Sehun. Setidaknya apa intuisimu saat ada tiga anak remaja bermalam di salah satu bagian rumahmu tanpa izin? Anak nakal,gengster,preman,apa lagi? Namun bahkan tidak satupun dari mereka yang bertampang seperti itu.

Yang perlu Sehun lakukan menurut Luhan hanyalah tetap tenang dan jawab jika memang ia ingin. Sekarang Luhan bahkan dengan gamblang mengakui pada dirinya sendiri,kehadiran Sehun terasa sangat menyenangkan. Seolah Tuhan sengaja mendekatkan keduanya,agar Luhan tak lagi penasaran. Biarkan pemikiran ini Luhan ingat,sebelum Cobby menyadarkannya.

Luhan mundur menjauhi Sehun "Kau tidak perlu menjawabnya jika memang ta-"

"Kami menjadikan ruang bawah tanahmu se-sebagai Basecamp" Sehun mencegah Luhan menjauh. Ia maju dan mendekatkan jarak kembali. Matanya akhirnya menatap Luhan dengan serius.

Luhan mengedipkan matanya beberapa kali. Itu membuatnya kaget dan sedikit gugup. (tatapan dan jaraknya dengan Sehun)

Keduanya masih bertatapan. Yang satu dengan sorot yang begitu serius,sementara yag satunya lagi berkedip gugup. Memang benar,Sehun sedikit berlebihan malam ini. Ia seperti seornag anak lima tahun yang takut ditinggal orangtuanya. Luhan aneh dengan itu.

Namun cukup. Luhan sudah merasa cukup dengan jawaban Sehun yang berikan. Tanpa berniat mencari kebenaran ataupun kebohongan ataupun hal lain yang coba Sehun sembunyikan. Ia konsisten pada pendiriannya di awal. Yang penting Sehun disini,dekat dengannya,dan bisa ia temui dengan sering.

.

.

Suasana sudah kembali seperti semula. Tidak ada Sehun yang ketakutan karena pertanyaan yang Luhan berikan,juga tidak ada lagi Luhan yang berkedip – kedip gugup.

Luhan tak mengerti Sehun yang beberapa menit lalu terlihat seperti balita yang takut ditinggal mamanya kini malah sempat – sempatnya mengajak dirinya untuk bermain bola. Itu imut sekali,Sehun benar – benar tak sedingin yang ia kira.

Namun walau demikian Luhan tetap mengangguk setuju. Sepak bola memang olah raga favoritnya. Satu lagi,apa ruangan sekecil ini cocok untuk dijadikan tempat bermain sepak bola? Sehun menjawab dengan sebuah anggukan. Ia bahkan bertanya balik pada Luhan tentang apa yang membuatnya turun keruangan bawah tanah ini untuk pertama kali?

Bola yang ditendang hingga menghantam pintu. Kata Sehun.

Bukan sepak bola seperti biasanya,hanya sekedar menendang dan meg-over. Luhan juga usul untuk mengajak ChanBaek diruang sebelah,semakin ramai semakin seru. Padahal ini sudah lewat tengah malam. Sedikit terdengar aneh.

Luhan pergi ke ruangan sebelah,Gelap. Tak ada penerangan sedikitpun. Satu – satunya sumber cahaya yang bisa diandalkan hanyalah pancaran lentera dari ruang sebelah,ruang yag didiaminya bersama Sehun sedari tadi. ChanBak tak ada dimanapun,apa mereka sengaja bersembunyi?

Luhan berniat kemblai pada Sehun dan mengatakan ChanBaek tak ada diruangan ini. Namun kedua orang itu malah secara tiba – tiba ada bersama Sehun. Mengobrol dan tertawa. Luhan mersa keanehan. Kapan mereka berdua kesini?jelas – jelas Luhan pergi ke ruang sebelah untuk mencari mereka.

"Mengapa kalian ada disini?" Suara Luhan membuat ChanBaek yang sedang membelakanginya berbalik.

"hm?" Baekhyun bertanya heran.

"tentu saja kami kesini karena kau mengajak untuk ikut bermain bola." Baekhyun menjawab.

"Hey apa maksudmu kau membatalkan ajakan itu?"

"kau hanya ingin bermain berdua dengan Sehun?" Pertanyaan usil Chanyeol membuat Luhan menggeleng sedikit heboh. Tentu saja bukan seperti itu maksud Luhan. Ia hanya merasa aneh,jelas –jelas ruang sebelah kosong,gelap,dan tak ada mereka berdua didalamnya. Namun saat ia kembali mereka secara tiba – tiba berada disini dengan Sehun.

"Bukan seperti itu –a"

"kalau begitu ayo mulai permainannya." Sehun memotong. Mau tak mau Luhan hanya mengagguk dan mencoba untuk melupakan peristiwa yag baru ia alami itu.

.

.

Bola bergerak dengan cepat berganti arah. Tendangan Keempat anak remajalah penyebabnya. Canda tawa mnegiringi permainan,Chanyeol dan Baekhyun yang saling menggoda sukses membuat Sehun dan Luhan kut tertawa – tawa.

"Kaki pendekmu sebaiknya jangan kau gunakan untuk menendang bola,Baek."

"Hey!" seperti itu diantanranya. Luhan dan Sehun kembali tertawa.

Giliran Luhan menendang,karena disertai tawa tendangan itu terlalu keras,menyebabkan bola melambung keluar melalui celah jendela. Luhan terkejut akan kesalahannya,ups. Memandang anak lain meminta maaf dan malah dibalas dengan tawa. Luhan jadi ikut tertawa.

"Kalian tunggulah disini. Aku akan coba mengambilnya." Iapun pergi kearah jendela.

"Okay!" Baekhyun mengacungkan ibu jarinya dengan gaya imut.

Luhan melihat ke luar jendela. Tenyata ruangan ini berbatasan dengan kebun belakang rumahnya. Bola itu dapat Luhan temukan dekat tanaman pagar. Namun bagaimana bisa ia mengambil bola itu?pintu ruang bawah tanah ini terkunci. Luhan tak mungkin mendobraknya walau pintu ini hanya terbuat dari kayu yang sudah tua. Ia tidak sekuat itu.

Aish.

Matanya melihat ada seseorang didekat kolam ikan sana. Itu Bibi Yoon,ia mengenakan seragam maid dan membuat Luhan dapat dengan langsung mengenalinya. Beruntung sekali dirimu Luhan.

"Bibi Yoon!'" Luhan mecoba memanggil dengan suara yag tak terlalu besar. Itu tak membuat Bibi Yoon sadar akan kehadirannya yang sedang membutuhan bantuan.

"Bibi Yoon!" Sekali lagi,dan berhasil. Bibi Yoon yang sadar drinya dipanggil membelalak terkejut. Luhan tak merasa aneh dengan hal tersebut.

ini sudah lewat tengah malam,dan ia ada diruangan yang tak terduga. Tentu saja itu membuat Bibi Yoon terkejut. Seperti itulah kira – kira perkiraan Luhan.

"Bibi Yoon,bisakah kau menolongku?" Bibi Yoon disana diam menunggu kalimat yang akan Luhan katakan selanjutnya.

"Tolong ambilkan bola didekat tanaman pagar itu." Luhan tersenyum canggung. Tangannya menyentuh tengkuk. Bibi Yoon sempat terdiam sejenak dan mengangguk. Luhan senang,masalah kecil dapat teratasi. Ia menunggu Bibi Yoon mengantarkan bolanya,sedikit lama.

Bibi Yoon terlihat masih berjongkok didekat tanaman pagar tempat bolanya terlambung. Luhan masih menunggu. Ia akhirnya mencoba bertanya. "Bibi Yoon,kau..baik – baik saja?" Wanita paruh baya berkpribadian dingin itupun akhirnya berdiri dan berjalan kearahnya dengan ragu.

Sampai didepan jendela bercelah ruang bawah tanah tempat Luhan berada. Ia memberikan bolanya tanpa mengucapkan apa – apa.

"Bibi Yoon,mengapa kau masih bekerja?ini sudah sangat larut." Luhan bertanya.

Bibi Yoon sepertinya tidak menyimak pertanyaan yang Luhan berikan. Matanya malah serius menatap kedalam ruang bawah tanah,menyelidik. Luhan memanggilnya sekali lagi,ia akhirnya sadar tuan mudanya sedang bertanya.

"itu..saya sedang mengurus tanaman hias yang saya miliki." Ia menjawab dengan gaya khasnya.

"tanaman hias?"

"Hm. Kaktus" Luhan mengangguk mengerti. Ia berniat menyudahi percakapan dengan menyampaikan rasa terimakasih. Namun suara Sehun terdengar dari dalam,memanggil Luhan dan bertanya apa ia berhasil mengambil bolanya.

Luhan tersenyum,Sehunpun datang.

"Sehun,kenalkan. Ini bibi Yoon." Sehun melihat kearah bibi Yoon berada. Ia tersenyum tanpa rasa canggung lalu membungkukkan tubuhnya beberapa detik.

"Selamat malam,saya Sehun. Oh Sehun." Bibi Yoon masih terdiam dan menatap Luhan dan Sehun dengan sorot aneh. Itu membuat hawa sekitar menjadi sedikit tidak enak menurut Luhan. Untung cepat berlalu,Bibi Yoon akhirnya balas membungkukkan badannya singkat.

Luhan mengapit lengan Sehun ntuk membawanya masuk kedalam setelah mengucapkan terimakasih pada Bibi Yoon. Ia mendorong pelan Sehun agar pemuda bersurai keabuan itu masuk kedalam mendahuuinya.

Saat Sehun masuk,ia dengan cepat kembali menghampiri Bibi Yoon yang masih berdiri didepan jendela ruang bawah tanah itu.

"Bibi Yoon,tolong rahasiakan ini dari ayah dan ibu." Ia mengatakan itu sebagai permohonan sekaligus perintah terselubung. Tak berniat menerima penolakan,Luhan langsung masuk kedalam menyusul Sehun yang sudah telebih dahulu masuk.

.

.

.

Tadinya Luhan,Sehun,dan Chanyeol akan kembali melanjutkan permianan yang sempat tertunda. Namun Baekhyun terlebih dahulu bertanya pada Luhan tentang permainan yang dimana yang mendapat giliran harus memilih antara melakukan sesuatu atau mengatakan sebuah kejujuran. Pemuda bermata sipit itu menyebutnya 'permainan masa sekarang'. Itu memberi kesan kuno menurut Luhan,ia terkekeh.

"apa yang kau maksud permainan Truth Or Dare?" Baekhyun mengangkat bahunya tak yakin. Tapi ia juga mengatakan mengapa mereka tidak mencoba dulu saja permainan yang Luhan katakan. Saat Luhan menjelaskan cara bermain Baekhyun mengangguk senang,itu memang permainan yang ia maksud.

Dua orang sisanya,Sehun dan Chanyeol menyetujui ajakan Baekhyun untuk bermain Truth Or Dare. Mereka sudah duduk membentuk lingkaran,Chanyeol mendapat giliran pertama berkat tunjukan Luhan.

Laki – laki tertinggi itu memilih dare,Luhan menyuruhnya untuk melakukan sebuah tarian aneh. Chanyeolpun dengan percaya diri melakukannya dengan konyol. Itu membuat Luhan dan dua orang lainnya tertawa terbahak – bahak. Baekhyun bahkan meledeknya dengan mengatakan betapa menggelikannya tarian aneh yang Chanyeol miliki.

Selanjutnya Chanyeol menunjuk Sehun dengan yakin. Sehun menunjuk dirinya sendiri meyakinkan. Chanyeol mengangguk dan menyeringai. Sehun memilih Truth,itu membuat Chanyeol semakin menyeringai. Mereka terlalu sibuk memikirkan pertanyaan apa kira – kira yang akan diberikan,tak sadar Luhan sedang diam menunggu dengan tak sabar.

"Sehun-ah,bagaimana perasaanmu saat ini padanya?" Perntanyaan Chanyeol menggantung. Itu membuat Sehun bertanya siapa yang Chanyeol maksud.

"yeah. Padanya,cinta pertamamu." Sehun diam. Seperti tidak menyangka akan mendapat pertanyaan tersebut dari Chanyeol. Luhan diam,menatap serius Sehun yang terlihat sedang memikirkan jawabannya.

Untuk Luhan,pertanyaan Chanyeol pada Sehun membuatnya penasaran dan merasa...oh.. Sehun ternyata sudah memiliki seseorang dari masa lalu yang sampai saat ini menempati tempat spesial dihatinya. Suasana mendadak hening,seolah – olah yang merasa penasaran disini bukan hanya Luhan seorang.

Sehun menatap Chanyeol sebagai penanya dengan tatapan yakin. Itu membuat Luhan berebar,apa yang Sehun rasakan pada cinta pertamanya?siapa sebenarnya cinta pertama Sehun yang Chanyeol maksud?

"Aku..."

DEG DEG

Luhan sendiri bahkan tak mengerti mengapa ia sampai bisa merasakan sesuatu seperti ini hanya karena pertanyaan yang Chanyeol berikan pada Sehun.

"aku mencintainya,aku menunggunya sedari dulu. Sejak ia pergi,aku terus menunggu dengan sabar,sampai rasanya aku ingin mati."

"ia tak pernah kembali. Aku sempat ingin pergi,dan merelakannya."

"Aku berniat untuk menyerah,ia begitu lama. Aku bahkan tak yakin ia masih mengingatku disini. Pertemuan kami begitu singkat,akupun menyadari disini aku yang terlalu berlebihan untuk mengklaim perasaanku padanya adalah sebuah cinta."

"seiring berjalannya waktu,aku beranjak dewasa,aku kini tak lagi ragu dengan perasaanku. Ini memang benar sebuah perasaan sayang,perasaan cinta. Aku mencintainya."

"semakin aku menyadarinya,rasanya semakin sakit. Aku tak bisa sekalipun melihatnya,melindunginya,apalagi memeluknya."

"Namun Tuhan sepertinya mengasihaniku. Ia akhirnya kembali,aku bisa melihatnya kembali setelah sekian lama. Aku tak mau meminta apa – apa lagi,aku merasa ini semua sudah lebih cukup. Ya,hanya ini yang aku inginkan selama ini,aku hanya ingin ia kembali walau tak mengingatku sedikitpun."

"Tetapi masalah baru muncul,keindahannya yang semakin bertambah setiap aku melihatnya membuatku ingin tetap tinggal disni walau aku tak berhak lagi. Walau ini seharusnya bukan tempatku lagi. Keindahannya membuat keserakahanku timbul dan bertambah banyak."

"Ini membuatku kembali bingung. Mana yang harus aku pilih?pergi atau tinggal?bolehkah aku serakah lebih banyak lagi?"

Sehun mengakhiri ucapannya dengan lirih. Matanya memancarkan kesdihan,ia terlihat semakin pucat. Ia masih memandang Chanyeol dengan serius,seperti lelah.

Lain dengan Luhan,yang sedari tadi meremas piyama tidurnya erat. Apa yang Sehun katakan tadi sangat indah dan menyakitkan secara bersamaan. Betapa beruntungnya cinta pertama yang Sehun tunggu itu,betapa sempurnanya cinta pertama Sehun yang akhirnya dapat dilihatnya kembali itu.

Cukup disini,Ini sudah saatnya Luhan berpikir lebih jernih dan menjalaninya hidupnya kembali. Dengan Cobby,dan orang terdekatnya yang lain,juga teman baru yang sangat menyenangkan. Sebelum ia semakin sakit,ia ternyata salah sangka selama ini,ia berharap terlalu lebih pada Sehun.

Padahal pemuda bersurai keabuan itu memiliki seseorang yang masih diharapkannya.

Luhan tak ingin lagi mengetahu siapa cinta pertama yang begitu Sehun cintai itu. Cukup,dengan hanya mendengar Sehun mengatakan hal seperti tadi saja sudah membuatnya...

Ah sudahlah.

Padahal ia tahu,segala sesuatu harus dituntaskan. Ia melewatkan satu langkah untuk sampai ke garis finish,yaitu bertanya siapa cinta pertama yang Sehun maksud.

.

.

.

ToBeContinue

Selamat datang September! Sepertinya saya masih harus menunggu untuk beberapa hari lagi sampai nantinya bisa merayakan ulang tahun pertama di FFN. Yeay! Tak terasa,waktu berjalan begitu cepat. /terharu/ (padahal 'Ambitious Love' masih belum beres juga. Hm)

Dan tidak lupa juga,terimakasih banyak untuk semua yang sudah me-review,fav,follow,dan baca 'Hidden Room' ini. AW,THANKS A LOT! Mohon maaf juga karena telat update. Saya harap chapter ini tidak mengecewakan kalian,Amin.

Dan...kalian harus tau betapa rindunya saya pada HUNHAN TT. Apa kalian juga merasakan hal yang sama? Jangan menyerah! Mari saling menguatkan apapun yang terjadi. Walau sebenarnya isu dan rumor yang beredar tidak menggoyahkan kecintaan saya pada mereka. /YOLO/

Sehun semakin manly,dan Luhan semakin manis di China sana. Menggemaskan!

Terakhir,jika sempat silahkan review untuk menyampaikan saran dan kritik membangun,pertanyaan,atau apapun yang mungkin ingin kalian sampaikan kpd saya. KKK.

Sampai jumpa di Chapter selanjutnya!~

P.S baca juga ff chaptered saya yang lain 'Ambitious Love' dan ff oneshoot 'If I Never Knew You' barangkali kalian berminat. LOL