Tato YinYang yang kini timbul itulah awal dari segalanya. Sebuah oligoton dari hidup mereka, di mana mereka akan menempuh hidup penuh liku dengan cabang persimpangan di depan sana—yang telah menanti mereka berdua.


NARUTO © Masashi Kishimoto

(I don't take credit for the original content)

.

Uchiha Sasuke & Hyuuga Hinata

.

ɤMission of The Romantic YinYang

[ The New Path ]


Dua hayati itu menebas rerumputan dengan dua pasang kaki mereka. Membelah hembusan pawana, dan membuat alunan suara dari geraknya. Sepasang oniks masih tetap mendatar dengan kestabilan luarbiasa yang terpancar tanpa gubahan, sementara lavender yang berada tak jauh di belakangnya sedari tadi dengan tak henti menyimbur kekalutan. Rasa kalut tak dapat ia redam sedemikian rupa karena saat ini ia tengah dibawa seorang kriminal beranjak entah ke mana. Jemari-jemari terlatih nan kekar milik sang perewa yang tampan mengerat di pergelangan tangannya, mengedarkan rasa nyeri yang membuatnya meringis. Namun, perlakuan yang diterimanya kini jauh lebih baik dibanding beberapa saat lalu di mana sang Uchiha menerkam surai indigo-nya dengan keji, tanpa ada setitik saja asa berbelas kasih. Pasca Hyuuga souke memekik, sang penerus klan muda tunggal Uchiha itu memutuskan untuk membawa sang pedusi dengan cara yang lebih layak.


Sementara di lain ajang, medan laga tengah berkobar dengan empat pelakon beraksenkan luka di raga mereka. Pemilik safir lebih beruntung karena ia masih sanggup bergerak, berbeda dengan rekannya sang generasi baru Aburame yang kini terkapar tiada daya. Naruto mencoba menolong, namun berkali itu pula siasatnya dikandaskan oleh serangan Suigetsu yang begitu sulit ia hadang. Namun, Shino—begitu nama kecil sang Aburame—masih tak terjamah oleh mara-bahaya. Tatkala pukulan Juugo yang telah meliar mencoba meremukkan tulang fisiknya, beribu-ribu serangga membentuk perisai hingga sang pengendali tetap berada di dalam fase terselamatkan. Pertarungan yang sengit di antara empat shinobi itu tak terelakkan. Membuat atmosfir di sekitar mereka panas oleh napsu bertarung yang membuncah-ruah.


TREK …

Sebuah dahan kering terbelah menjadi dua ketika tepat di tengahnya sebuah kaki memijak tanpa ragu. Adam-hawa itu kini berada di antara semak belukar yang penuh dengan getah pepohonan tua. Binatang-binatang melata bergerayang, dan area di mana matahari tak memiliki sedikit celah untuk menampakkan sinarnya. Hutan terselubung, barangkali itulah klasifikasi area di mana mereka berpresensi.

"Di hutan ini tinggal seorang nenek yang dapat kutanyai mengenai masalah tato ini. Ia memiliki informasi yang banyak dengan koneksi di sana-sini."

"B-baik."

Oniks dingin lantas menoleh ke belakang, memerlihatkan betapa kelam pancaran yang tersibak dari dua buah bola mata hitam pekat tersebut. "Ingatkan dirimu sendiri untuk tidak kabur, atau kauakan tahu apa akibat terburuknya."


"Kita hampir sampai," ujar Sang Uchiha ketika keduanya telah menemukan sebuah kediaman mini yang lokasinya terlihat meski begitu kecil di ujung sana.

Keduanya pun kembali mengayuh langkah untuk mencapai kediaman tersebut. Melewati semak-semak yang lembab, ular-ular raksasa yang seketika itu tunduk pada Sasuke, dan gagak-gagak yang mengitari angkasa bertudung dedaunan. Sampai langkah mereka berhenti tatkala menyadari adanya napsu pembunuh dari sisi kanan-kiri mereka. Jemari Sasuke yang bebas memberi isyarat kepada Hinata untuk berhati-hati. Pasca itulah pula cengkeraman jemari sang Uchiha perlahan mengendur dari lengan Hinata hingga terlepas sama-sekali.

Keduanya memijak di titik yang berbeda, yang disambut oleh kemunculan empat orang perkasa berlapiskan armor di tubuh mereka. Empat perompak menghadang langkah dua muda-mudi. Tiga di antaranya bertubuh kekar dengan jurus-jurus mematikan yang mereka lancarkan pada lanang-dara bersilangan itu. Hinata didesak seorang perompak, sementara sisanya menjadikan Sasuke sebagai target mereka. Agresi demi agresi ditangani dengan pelbagai jurus yang menggemakan bebunyian ledakan. Doujutsu dan ninjutsu bergantian mereka segelkan dan bukakan. Bertahan dan menyerang.

Tak berapa menit kemudian, keduanya mulai lelah. Uchiha dan Hyuuga itu menderu napas. Ini kali kedua mereka berada di zona pertarungan setelah siang tadi merekalah yang masing-masing saling menangguh tarung demi perebutan surat gulungan tato YinYang pembawa petaka. Karena itulah, energi mereka kurang lebih telah terkuras hingga nyaris habis. Menyisakan segelintir kekuatan yang bahkan kewalahan untuk menghabisi empat musuh di depan mata. Bukan itu saja kilahnya. Kekuatan musuh mereka yang di atas rata-rata itu pun ikut serta menambah nilai kepelikan Sasuke dan Hinata untuk bisa menang dalam pertarungan ini.

Sang oniks memang masih dapat mengerahkan tenaga sisanya untuk menangkis serang-serangan dari lawan. Namun, apa daya dengan sang Hyuuga? Ia terpojok di antara pepohonan. Jurusnya akan menanggung resiko fatal jika ia lancarkan. Ia bertarung dengan jurus-jurus yang mengandalkan tangan kosong, dan musuhnya benar-benar mengetahui trik untuk melumpuhkannya. Dengan senjata. Sebuah sabit tentu saja akan merobek jangatnya dengan mudah bila mereka berdekatan. Kini, itulah saatnya. Hinata tak mampu lagi menghindar sementara sebuah sabit tengah diayunkan ke arah tubuhnya.

ZRATTT …

Sabit itu menggariskan kelukur merah bersimbah darah.

"UKH!" Hinata tersungkur dengan luka menganga di antara tulang belikatnya. Darah menggenang, mengaran dengan warna ungu di jaket yang ia kenakan.

Entah bagaimana, sang oniks yang tengah berjaya melawan tiga perompak sekaligus seketika menyernyit. Rasa sakit merebak dari ujung ke ujung. Membuat pandangannya berkunang hingga ia tak sanggup lagi berdiri tegap. Ia sadar selepas memandang sosok Hinata yang terluka parah—bahwa rasa sakitnya dikarenakan luka yang diderita oleh sang gadis Hyuuga. Tato itulah yang menyatukan rasa yang dikecap tubuh Hinata hingga dapat dirasakan pula oleh tubuh Uchiha muda. Ya, tato YinYang itulah sebab perkaranya. Mengerti pada situasi yang berbalik menyudutkan mereka, Sasuke melancarkan jurus andalannya. Susano'o. Dengan tak makan waktu, dalam hitungan detik empat perompak telah berubah menjadi mayat yang berserak.

Mata dingin Uchiha itu teralih dari sosok tiga musuh yang kini terbujur kaku pada persona seorang gadis yang kini napasnya memburu akibat kubangan luka yang kian melebar dengan genang-genang darah yang memancar. Langkah Sasuke kian memberat seiring dengan rasa sakit dan tenaga yang telah terkuras habis. Susano'o bukan jurus sembarangan, tumbal dari begitu dahsyat dampak jurus tersebut tak lain adalah kehancuran dari staminanya sendiri. Kini, sembari dihantui efek pemakaian jurusnya, Sasuke harus bergulat dengan rasa sakit yang tak kalah menderanya. Rasa sakit yang ia tahu membuat sosok di hadapannya bercucuran peluh dengan deras.

"Hinata …." Ia memandang beku gadis yang masih tersungkur tanpa kesadaran di dekatnya. Hingga rasa sakit itu kian mendera dan membuat sang pemuda ikut tersungkur di sisi kiri sang Hyuuga.

Kh! Tubuhku! Sasuke mencoba mengutikan bagian tubuhnya. Namun, percuma. Selama sang gadis di sisinya masih merintih menahan rasa sakit, saat itulah pula ia akan merasakan kesakitan yang sama.

Perlahan, kelopak mata sang Uchiha menutup. Melabuh ruang ke dalam kepekatan tanpa kesadaran. Hingga ia sadar, bahwa ia tak boleh kalah di sini. Bahwa ia masih memiliki tujuan yang tak boleh ia singkirkan. Karenanya, dengan berbekal kenekatan, Uchiha kembali berdiri. Otaknya berusaha keras untuk tidak mentransfer rasa sakit pada bagian tubuhnya. Dengan masih kepayahan, lengan sang buronan mengalung di antara pinggang milik Hyuuga. Dipapahnya sosok kesakitan itu menuju sebuah gubuk tua yang letaknya berada cukup jauh di depan sana.


"Lukanya sudah kuobati, sebentar lagi ia akan sadar." Seorang renta bertelinga kucing tersenyum menyapa potret sang lelaki yang bersandar di dinding ruangan milik sang penghuni. "Kausendiri? Bagaimana keadaanmu, Sasuke?"

Pemuda itu memancarkan sirat tak bersahabat. Hanya ada oniks yang tertutup rapat, dan vokalisasi bernada bariton yang menjawab pertanyaan sang nenek. "Aku tak apa. Asalkan gadis itu baik-baik saja, tubuhku pun akan baik-baik saja."

"Begitu. Ya, sudah. Kautunggui gadis itu. Aku akan pergi ke hutan untuk mencari tumbuhan mujarab untuk ramuan obat."

"Hn …."

Sang lansia menoleh ke arah pemuda yang telah ia anggap selayaknya cucu sendiri sebelum ia menghilang ditepis kabut hutan yang memekat menelan siluetnya.


"HINATAAA!" Seorang pirang berteriak memanggil nama salah seorang dari timnya. Seorang gadis indigo yang menghilang semenjak diburu oleh seorang penjahat beralmamater Uchiha. Mereka tak tahu, dan tak ingin tahu jika sesuatu hal buruk menimpa rekan seangkatan mereka.

Sesal mengisi relung kalbu keduanya. Andaikan yang dikejar oleh Sasuke bukanlah Hinata, melainkan salah seorang di antara mereka—problema tak akan menjadi serunyam ini. Sasuke adalah ketua dengan kekuatan mengerikan yang tak bisa terbayangkan. Entah celaka apa yang akan Sasuke berikan kepada sang Hyuuga, itulah yang mereka takutkan.

Serangga Shino mengedar, mencoba mencium jejak sang sahabat karib yang benar-benar telah tak terpantau lagi oleh radar serangga miliknya. Naas, semuanya sia-sia. Sasuke seolah telah menghapuskan residu chakra yang ada, dan melenyapkan hawa keberadaannya beserta Hinata.

Padahal Suigetsu dan Juugo telah dibuat mundur oleh kekuatan Kyuubi milik sang Kurama dalam diri Naruto. Tetapi, segalanya terlambat. Kekuatan penyokong itu baru muncul ketika situasi benar-benar telah menghimpitnya. Merasa tak tahu lagi apa yang harus diperbuat, Shino menyarankan kepada Naruto untuk kembali ke desa. Mereka harus memutuskan suatu rencana bersama para ninja Konoha atas masalah ini dengan segera. Menuntaskan problema dan mengembalikan Hinata, dan itu jelas tak akan terlaksana oleh keduanya dengan luka yang tengah mereka derita—peninggalan pertarungan tadi. Sang pemuda Kyuubi tak mampu berbuat apa pun, hanya ada anggukkan lemah dengan kepalan tangan yang mengetang—mengerat.


Dua lavender yang sedari tenggat lalu terpejam, kini terbuka. Sepasang kelerengnya mengedar meraba panorama asing yang menegur penglihatannya semenjak ia kembali siuman. Atap yang rendah, dinding yang berupa kontruksi kayu, dan kasur yang hanya dibuat oleh susunan bambu dan dedaunan lebar. Hinata mencoba menggerakkan tubuhnya, namun seketika itu pula ia mengaduh oleh rasa sakit di suatu bagian tubuhnya. Teringat kemudian di benaknya memori beberapa saat silam ketika ia diserang oleh seorang perompak yang berhasil menorehkan sabit di raganya. Namun, mengapa ia berhasil lepas dari malapetaka? Siapakah yang melepaskannya dari maut?

Kristal sang Hyuuga tertuju pada figur seorang pemuda yang tengah duduk bersila tak jauh dari tempatnya terlelap. Punggungnya yang berlapiskan jaket putih bersandar pada dinding ruangan, sementara matanya terpejam bersamaan dengan dengkur yang berkumandang perlahan. Tanpa perlu menyelidik, Hinata tahu siapakah pemeran pahlawannya saat tadi. Bukan seorang pemuda pirang yang selama ini kerap menyokong harapannya, melainkan seorang pemuda yang dianggap kebanyakan orang sebagai kebalikan dari sang pahlawan. Sasuke telah melindunginya, itulah sebuah kepastian yang tak ia ragukan. Dengan ragu, Hinata beranjak dari tempat tidur sembari sesekali meringis kesakitan. Ia menarik selembar daun lebar untuk ia jadikan selimut bagi tubuh sang Uchiha yang tengah terpulas.

SREK …

Mendengar suara bising yang mendekat, sontak saja sepasang oniks kembali terbuka. Nyaris saja dilayangkan katana miliknya pada sumber suara andai kata ia tak tahu bahwa itu Hinata.

"Kh!" Hinata mundur teratur dengan rasa kalut yang tersirat dari romannya. "M-maaf. Aku hanya i-ingin me-menyelimutkan daun ini agar kautidak kedinginan, S-sasuke-kun …."

"Urusai," decih Sasuke selagi kembali meletakkan kusanagi-nya dalam obi. "Kauhampir saja kubunuh."

"S-sasuke-kun … apa kauakan m-membunuhku suatu saat nanti?" Tanya sang lavender sembari memberikan daun tersebut kepada sang lawan bicara.

Bisu. Untuk beberapa detik tak ada tanggapan bagi Hinata. Hingga Hinata menyerah dan memutuskan kembali duduk di tempat tidurnya. Akan tetapi, sebelum itu, jawaban atas pertanyaannya terkuak.

"Mungkin … jika tato itu telah berhasil kuenyahkan. Tapi, selama tato itu ada." Uchiha memejamkan matanya, dan melanjutkan dengan, "Aku akan melindungimu. Karena, bagaimanapun … kauadalah asset hidupku."


BRAKKK!

"APA YANG KALIAN KATAKAN? HINATA HILANG? JANGAN BERCANDA!" Sebuah debuman di atas meja hokage melonjakkan beberapa manusia yang mengisi ruangan tersebut. Sebutlah sang pelaku dengan nama Neji. Ialah yang sesaat tadi memberikan tinju pada meja yang dihuni oleh seorang godaime. Ia tak dapat lagi menahan sentimen di hatinya ketika mendapat kabar bahwa sang sepupu raib di antara misi. Lee dan Tenten mencoba menenangkan, tetapi tak bertuah banyak karena sang bounke telah terlebih dahulu dikendalikan amarah. Lekas, kerah jaket Naruto ditariknya. Meminta pembelaan dari yang bersangkutan tatkala sang Jinchuuriki dan Shino tak mampu menjaga seorang kunoichi dari cengkeraman jahat seorang Uchiha.

Naruto tak mampu berbuat banyak. Hanya ada sebuah frasa permohonan maaf yang melontar keluar ketika lavender Neji memberikan tekanan sengit kepadanya.

BRUAGH!

"BRENGSEK! KARENA KECEROBOHAN KALIAN, HINATA HARUS … CIH!" Neji hendak memberikan tendangan ke arah perut Naruto yang jatuh terduduk dan menabrak meja hokage, akan tetapi sebuah tangan mencegahnya.

"Dinginkan kepalamu, Neji!"

Suara berat dan sarat akan wibawa, begitulah pembawaan sang kepala keluarga Hyuuga—Hiashi. Ia datang dengan segera begitu tersiar kabar bahwa sang puteri sulung tak lagi terlihat batang hidungnya selepas melarikan diri dari kejaran sang buronan berdomain Konoha. Sebagai seorang ayah dan seorang pemimpin klan, Hiashi bukannya merasa impresif untuk mengekspresikan kegelisahannya. Ia manusia, dan sudah sewajarnya kehilangan kendali ketika mendengar kabar spontan perihal sang buah hati. Namun, ia tahu—memukul dan melempar tanggungjawab kepada seorang yang tak patut dipersalahkan hanya akan merunyamkan masalah serta memperkeruh suasana. Karenanya, sedapat mungkin ia tetap terlihat tenang, dengan rencana-rencana yang telah ia limpit dalam otaknya. Rencana pengembalian Hinata.


"M-melindungiku?" Pana Hinata. Ia sama-sekali tak menduga barang sesisir pun bahwa kata "melindungi" akan ia dengar dari genahar Uchiha.

"Huh, jangan salah-paham. Aku melindungimu untuk diriku sendiri, bukan demi dirimu, Hyuuga." Persona bersurai gelita itu beranjak, dihampiri olehnya jendela yang berada tepat di sisi kanan tempat tidur sang Hinata. Ia lama termenung di sana, memandang pepohonan lebat dan hutan yang terlihat gelap di balik kusen jendela yang tak berkaca.

Hanya itu ... ya, tidak lebih …


"Ini tumbuhan obat-obatan yang sudah kudapatkan. Sekarang minumlah." Sang nenek yang selalu dikisari kucing-kucing memberikan sebuah botol ramuan obat kepada Hinata yang langsung diteguk sang terluka.

Setelahnya, tiga penghuni ruangan berada dalam bungkam. Tak ada yang bermain kata untuk hanya sekadar bergurau-ria. Hingga sang nenek yang lalu mencetuskan suatu hal, sebuah kelakar.

"Aku sudah dengar maksud kedatangan kalian dari Sasuke. Aku sama-sekali tidak tahu bagaimana cara menghilangkan tato YinYang yang terpahat abadi di punggung tangan kalian beserta kutukannya. Tapi kurasa kalian bisa mencoba ini. Bagaimana … dengan memotong pergelangan tangan?" Nenek itu tertawa dengan bahak setelahnya.

Empat bola mata membelalak. Dua lavender terlihat penuh kekalutan, sementara oniks terlihat memendam suatu rencana ketika mendengar saran tersebut disebutkan sang nenek tetua. Meski hanya sebuah kelakar yang diniatkan menjadi bahan gurauan, tampaknya dua manusia lain tak berpikir serupa dengan sang nenek. Mereka menganggap apa yang renta itu usulkan memang seakan sebuah percobaan untuk menyelesaikan permasalahan tato di tangan mereka. Tak perlu dua kali bagi sang gadis untuk menebak jalan pemikiran sang pemuda di sisi kanannya. Ia merasa, ialah yang akan menjadi pengorbanan. Lengannya. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, namun hal buruk sudah dipastikan sang gadis akan ia alami untuk kali kesekian. Tetapi, bila memang demikian, apakah setelahnya ia akan dibunuh?

Apa upaya melindungi yang sang pemuda katakan hanya sebatas spontanitas tak berdasar?

Sang gadis berpeluh dingin ketika mendapati sebuah seringai kecil terkembang di bibir tipis milik sang pemuda ber-kusanagi. Ia tak dapat kabur, dan tak mungkin kabur.

Haruskah … aku kehilangan segalanya setelah ini, Kami-sama? Kehilangan lenganku … dan hidupku?

Tato YinYang membuka sebuah babak baru bagi hidup dua pelakon utamanya. Antagonis akan berjaya ketika bisikan sesat terngiang di telinga. Menjadikan sang protagonis sebagai budak kekejamannya … untuk sebuah saat di mana tirai keputusan bersiap untuk dibuka …

(To Be Continued)


Maap, kalo chapter ini kurang ini-itu, semoga ke depannya bisa lebih baik. Ane usahain.

Makasih buat yang udah baca, dan ane harap tetep gak bosen mantengin 'ni penpik~

[ Kilasan Kisah Selanjutnya ]

"S-sasuke-kun, a-apa yang akan kaulakukan?"

"Aku tidak bisa kehilangannya!"

"Jangan putus asa! Naruto yang kukenal tidak akan semudah ini mengatakan bahwa ia menyerah!"

"Kautidak mengerti apa pun!"

"Aku … aku tidak ingin kembali melihat tawa mereka. Itu membuatku merasa begitu sesak."

"Jangan memandang sesuatu hanya dari sudut pandangmu …!"


Thanks for reading!

(Grey Cho)

.