Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba untuk melihat senyuman iblis yang ditujukan padanya. Seharusnya, sejak awal ia sudah menyadari apa yang sedang dilakukan lelaki itu di tempat tidur bersamanya. Tapi ia tidak. Kenapa?

Hal itu hanya ia yang tahu.

Mendorong lelaki itu menjauhi dirinya, Hibari Kyoya memberungut kepadanya sebelum bersandar untuk mencium lelaki itu di dahi, satu-satunya wujud kasih sayang yang ia tujukan. Tidak mempedulikan tubuhnya yang penuh dengan luka dan memar, sang Cloud Guardian beranjak dari tempat tidur, tidak menyadari sepasang mata tajam yang mengikutinya saat ia berjalan menuju kamar mandi.

Dia tidak gemetar begitu merasakan sepasang tangan yang posesif melingkar dengan erat di tubuhnya, dia tidak bergerak begitu ia merasakan kulit yang tidak berbusana menyentuk kulit yang tidak berbusana miliknya, dia tidak mengatakan sepatah kata pun saat Mukuro mendorongnya ke bawah, membawanya untuk berbaring dan mengekspos punggungnya. Tetapi matanya melebar saat ia merasakan sepasang bibir yang hanyat menyentuh miliknya, sebelum tergantikan dengan sentuhan gigi tajam di bibir. Dan perlahan, darah menetes ke bawah dagunya.

Bukankah seharusnya dia yang mengigit?

Harusnya. Pikirnya. Bukan karena dia sedang bersikap tunduk, bukan karena dia sedang menjadi lemah melawan lelaki seperti itu, atau fakta yang mengatakan kalau dia menikmati perhatian yang diberikan illusionist itu kepadanya. Bukan tentang semua itu, pikirnya—saat lelaki yang ada di atasnya dengan sadis memasuki dirinya perlahan. Dia berpikir di antara desahannya, erangannya dan dengusannya, bahwa dia melakukan ini semua karena ia mengizinkan dirinya untuk mengalah kepada Mist Guardian itu.

Sebenarnya ada banyak hal yang dapat ia lakukan. Tetapi dia tidak melakukannya. Jadi kenapa, kenapa dia memperbolehkan dirinya untuk didominasi, untuk dikuasai oleh Rokudo Mukuro?

Pada saat ia merasakan bahwa klimaksnya datang mendekat, dia bergetar, kukunya meninggalkan banyak cakaran di punggung Mukuro, menikmati friksi di antara mereka. Suaranya diredam pada saat ia menggigit pengguna ilusi itu dan menumpahkan seluruh hasratnya, yakin bahwa pertanyaan pribadi seperti itu, sebuah pertanyaan yang membawa kekacauan di dalam dirinya seharunya tidak dipertanyakan. Dan dengan demikian ia pun menghilangkan pertanyaan tersebut; pertanyaan kenapa ia memperbolehkan dirinya untuk didominasi orang itu.

Dan itulah yang ia putuskan begitu ia mengerang dengan keras ketika merasakan sesuatu mengisi dirinya, sebuah perhatian yang diberikan kepadanya, hanya oleh satu orang itu.


- Chapter 2 : Question Not Asked -


Original Story by CitrusSunscreen

Translated by hibalicious and Rokudo Renna

Disclaimer KHR (c) Amano Akira. Let Me Leave Three Words Behind (c) CitrusSunscreen

Beware of OOC, Yaoi, M-Preg, OCs, Chara Death, Implicit Lemon


Ruangan itu hening. Tidak ada yang mengatakan apapun setelah Mukuro berbicara. Hanyalah kesunyian yang menjawabnya. Dan lelaki itu tampak masih berseri dengan lekuk senyumnya. Rokudo Mukuro tidak merendahkan dirinya untuk menyatakan permintaan sekali lagi.

Sawada Tsunayoshi menaikkan kepalanya ke atas sedikit, memandang pada Mist Guardian-nya.

"Jadi, permintaanmu..." Sang Decimo memulai, tanpa keraguan dan ketidakpercayaan di nada suaranya.

Dan Guardian lain yakin dengan sepenuh hati, apapun yang lelaki ilusionis itu akan katakan, hal itu tidak bagus. Perasaan tidak enak terasa di antara para Guardian ketika Mukuro memulai, suaranya terdengar semangat.

"Sederhana saja, aku ingin kau mengizinkanku menemui anak itu. Kau tidak pernah tahu, aku bisa kapan saja menyuruhnya patuh pada perintahmu. Tapi tentu saja, ia akan lebih menurut di bawahku. Kufufu..."

"APA yang kau KATAKAN pada JUUDAIME!" seru Gokudera ketika mendengar hal yang menurutnya tidak sopan itu terlontar dari bibir Mukuro. Dinamitnya sudah di tangan, siap untuk dilemparkan pada Mist Guardian yang tidak sopan itu.

Memutuskan mengambil tindakan, Yamamoto melangkah maju, dan dengan gerakan cepat, ia mengiris rapi ujung dari dinamit milik Gokudera dengan pedangnya.

"Peraturan nomor satu..." Dengan cekatan, Yamamoto menaruh pedangnya lagi ke dalam sarungnya. "Tidak ada pertengkaran di antara Guardian."

"Itu benar; kita harus mendengarkan apa yang dia—" Ryohei meninju udara ke arah Mukuro. "—katakan to the EXTREME!"

Mendecak, Gokudera mundur kembali ke belakang, meminta maaf pelan dengan setengah hati. Tsuna memperhatikan hal itu, dan diam-diam memikirkan sesuatu di benaknya.

- oOo -

Akhirnya sampai ke atap sekolah, anak muda itu menyadari bahwa ia sebenarnya merasa takut. Hawa dingin yang dirasakan di tulang belakangnya tetap menjalar sampai ke bawah. Instingnya berkata untuk tidak datang ke atap sekolah. Tapi ia sudah terlanjur berada di sana, dan tidak ada siapapun di depan mata. Sampai—

"Tidak ada siapa-siapa di pandangan, anakku?"

—sebuah suara berhembus di telinga pemuda itu.

Memutar untuk memandang sekitar, ia tersandung dan jatuh dengan punggungnya mengenai tanah. Tidak ada siapapun di belakangnya. Ia menaikkan alis seraya berdiri perlahan, mengelus bagian yang sakit. Kemudian ia mendongak, dan tidak ada siapapun juga di sana. Bingung, ia memandang ke bawah.

—Teratai.

Seolah dunia dan jantungnya berhenti—ia tidak bisa memikirkan tentang apapun kecuali teratai itu. Sesuatu berdering di telinganya. Bayangan wajah ayahnya, darah, dan teratai melintasi pikirannya. Jatuh berlutut, pemuda itu memegangi kepalanya, matanya melebar. Pupilnya, keringatnya, air matanya, dan wajahnya yang penuh derita, menyiratkan sebuah rasa sakit yang tak dapat dielakkan.

Semua itu disebabkan hanya karena sebuah teratai saja.

Ia berteriak seraya membenamkan kepala di lututnya, menyembunyikan kedua mata biru kelabunya dari teratai itu—sebuah bunga teratai yang mekar. Mata oniksnya menangkap sekilas sepasang mata berwarna ganjil sebelum kehilangan kesadaran. Aliran ingatan tersiar sekilas sebelum ia dapat menahannya. Sebuah perasaan yang berlebihan telah membebaninya.

- oOo -

Hari sudah sore ketika pemuda itu terbangun di tempat tidur ruang kesehatan. Teriakkannya menimbulkan keributan di sekolah. Padahal, biasanya orang-orang di sekolah selalu mengabaikan pemuda yang ingin diabaikan itu. Tentu saja, karena jika sesuatu benar-benar terjadi pada pemuda yang berteriak kesakitan di atap sekolah itu, apakah hal tersebut tidak berpengaruh buruk pada reputasi sekolah?

Terhuyung-huyung, pemuda itu bangkit dari posisi tidur, menggosok matanya yang lelah. Ia sepertinya tidak begitu sadar tengah berada di sana—sampai ia merasakan tangan di pundaknya.

Mata melebar, tangan masih di depan mata, pemuda itu menoleh. Memandangi wajah seseorang yang meletakkan tangan di pundaknya.

- oOo -

"Juudaime, apa itu benar tidak apa-apa membiarkannya pergi seperti itu?"

Tsuna memandang ke atas, kedewasaannya terlihat jelas di raut wajah; sebuah senyum hangat dan lembut menyemarakkan sosoknya. "Tenang saja, ia pilihan yang tepat di antara kita semua, kau tahu?"

Tertawa lepas, Yamamoto menepuk punggung Gokudera. "Tenang saja. Kau tukang khawatiran. Bisa-bisa kerutanmu akan bertambah—" ia menunjuk pada dahi Storm Guardian itu. "—di sini."

Bangkit dari posisi duduknya, Ryohei membetulkan dasi, membisikkan beberapa kata pada Tsuna sebelum keluar dari ruangan minim penerangan itu. Dan satu demi satu, Chrome, Yamamoto, Gokudera meninggalkan ruangan, pergi melakukan pekerjaan masing-masing, yang biasanya, berpatroli di daerah masing-masing.

Setelah semua guardiannya meninggalkan ruangan, Tsuna menikmati ramennya—yang beberapa saat lalu diantarkan oleh I-Pin—sambil membaca manga. Lagipula, apa lagi yang harus ia lakukan? Pekerjaannya sebagai bos begitu damai selama beberapa dekade ini.

Mengubah posisi duduk di kursi yang terlalu nyamannya, Tsuna mulai merasa gelisah. Darahnya mengalir deras, rambutnya sedikit berdiri. Penasaran, Tsuna meninggalkan mangkuk ramen yang belum selesai di atas meja kopi, meraih mantelnya sebelum melangkah keluar ruangan sendiri, meninggalkan catatan kecil di bawah mangkuk.

Lupakan belanjaannya.

- oOo -

Menatap mata berwarna aneh, pemuda itu menyadari dirinya tidak bisa menatap ke arah lain. Mata merah itu menakutkannya. Itu berbeda. Kau akan menyadarinya jika melihat dari dekat ke mata orang itu. Kau dapat melihat sebuah angka enam 六 terukir di pupil, jika diamati dari dekat tentunya.

Tertarik, pemuda itu tanpa sadar memandang lebih dekat, ingin melihat lebih jelas ke mata tersebut. Ia terpancing.

Tertawa kecil, Mukuro mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan, menyentuh wajah pemuda itu sebelum ia membungkuk untuk mengecup dahinya.

Dan air mata mengalir di wajah anak itu saat ia memandang miris lelaki lebih tua yang menciumnya lembut di dahi itu. Kaget dan penasaran, Mukuro ragu-ragu, tidak yakin apa yang harus dilakukan. Dan hanya sebuah pertanyaan sederhanalah yang keluar dari mulutnya.

"Apakah itu salah?"

Masih memandang pada pemilik rambut biru tersebut, air mata mengalir dengan bebas. Anak itu berbisik lembut, seperti ia sedang kebingungan.

"Sudah sepuluh tahun."

Menyadari nada yang tak asing di bisikannya, Rokudo Mukuro menghapus lembut air mata dari wajah anak itu, masih mendengarkan bisikkannya, mengenang masa lalunya, memorinya.

"Ayahku, ia pernah memelukku erat." bisik pemuda itu sambil menggenggam erat bahunya, sebelum membiarkan satu tangan miliknya menunjuk ke dahinya sendiri. "Dan ia selalu menciumku di sini setiap pagi." Matanya terpejam, menyembunyikan mata beriris biru kelabu, air mata mengalir di wajah pucatnya, dan bibirnya bergetar. Ia membenamkan wajah di telapak tangan, terisak-isak.

Merangkul pemuda di tangannya, Mukuro mengelus rambut hitam pekat anak itu, rambut yang sangat familiar. Senyumnya pudar ketika mengingat kenangan lama yang seharusnya tidak diingat lagi. Berpegang pada anak itu, sang ilusionis merendahkan kepalanya, tidak bisa menahan air mata yang keluar dan membiarkan anak itu menangisi apa yang ia tangisi.

Bagaimanapun ia masih kekanakan, baik ia maupun pemuda di pelukannya.

.

.

.

.

Balas dendam.

Sebuah kata yang terpikir di kepala Mist Guardian itu. Matanya menajam, mengetahui bahwa pemuda di rangkulanya pasti menginginkan balas dendam.

Masalahnya adalah; kepada siapa.

Pertanyaan yang seharusnya sudah tidak perlu ditanyakan lagi.

Menggeser posisinya, Rokudo Mukuro berbisik pelan di telinga anak lelaki itu, bukan pertanyaan, tapi sebuah pernyataan, sebuah tawaran.

.

.

.

"Bergabunglah dengan Vongola."


- Tsuzuku -


...=A=

Perasaan ada yang bilang bakal apdet cepet :-" *tabok diri sendiri*

Aaahh.. Gomen orz;; Saya emang procrastinator level tinggi orz

Sebenernya udah selesai, tapi saya ngulur waktu terus, males proof-reading, jadinya lama deh. Review juga belum saya bales, gomen ne orz;; Tapi makasih yang udah ripiw chap kemarin X'D

Dan mulai chapter ini, terjemahannya ga bakal ikutin asli kayak aslinya. Thanks sarannya, ELLE HANA :3

Maaf banget orz; Entah masih ada yang ngikutin ato kaga *KRIK*

Jaakalau masih ada, mind to review, milady? XD

Semoga chapter depan akan lebih cepat u_ud